Buleun January 1999.

 

400 TNI Yonif Linud 100/PS Medan dikirim ke Acheh

Dalam suatu pertemuan dengan sejumlah wartawan, tanggal 1 January 1999, Pangdam I/Bukit Barisan, Mayor Genderal TNI Ismed Yuzairi menegaskan,  pihaknya mengerahkan sekitar 4 SSK (400 prajurit) dari Linud 100/PS-Namusirasira Binjai dari Provinsi Sumatera Utara. Yonif Linud 100/PS dikirim ke Aceh untuk mengejar Ahmad Kandang.

 

Tiga Korban penculikan ditemukan di Meunasah Leubok Lhoknibong

 

Sedangkan Asisntel Kodam 1/BB Kol Inf Liliek AS yang baru kembali dari lokasi kejadian menjelaskan, Mayor (Mar) Edyanto Chairuddin (Komandan Satgas Marinir Bireun) dan Serka Syarifuddin anggota Babinsa Koramil 01/Aceh Utara hingga hari Jum'at tanggal 1 January 1999, belum diketahui nasibnya setelah penculikan sehari setelah kasus Lhoknibong, tepatnya Sabtu tanggal 30 Desmember 1998. Tiga orang korban di Lhoknibong pada tanggal 29 Desember 1999,  yaitu Praka R Siagalan, Pratu Mangatas Turnip, dan Prada Marasil Sinaga berhasil ditemukan tim pencari di daerah Aliran Sungai  Desa Meunasah Leubok, Lhoknibong, Aceh Timur, pada tanggal 1 January 1999.

 

Operasi Wibawa TNI 99

 

Setelah Shalat Shubuh warga diminta oleh anggota Pasukan operasi 'Satgas Wibawa 99' untuk berkumpul di mesjid, lalu berangkat ke pendopo dalam suatu barisan rapi, dengan tujuan melakukan delegasi secara damai. Di depan pendopo warga disambut oleh aparat militer yang siap siaga dengan rentetan tembakan, sehingga warga kocar-kacir menyelamatkan diri ke mesjid. Setelah shalat Dhuhur warga diperintahkan oleh satuan tugas TNI keluar dari mesjid, dan beberapa anggota GAM ditangkap. Selanjutnya TNI mendirikan camp didepan mesjid, dan berpindah ke depan vihara dan SD 15 Pusong, yang membuat warga semakin takut. Akibat peristiwa itu, sekitar 23 warga sipil menderita luka-luka, 132 warga ditahan satuan tugas dan 7 lainnya dilaporkan tewas Hamzah (45) warga Desa Pusong Baru, Idris Abdullah (45) warga Desa Blang Mangat, Hamdani (35) warga Lhokseumawe,  ketiga korban ditembak oleh TNI ketika masyarakat yang yang membentuk diri dalam sebuah demontrans menju Kantor Bupati Aceh Utara, diperjalanan demontrans ini ditembaki oleh para-satuan tugas.

 

Adapun lokasi-lokasi yang diserbu dalam operasi 'Satgas Wibawa 99' itu adalah Desa Kandang di Kecamatan Muaradua, Paloh Kecamatan Muaradua, Pusong di Kecamatan Banda Sakti, dan Buloh Blang Ara dan Simpang Kramat di Kecamatan Kuta Makmur.

Satuan tugas TNI juga menembak para Demontrans di Simpang Kramat, yang menewaskan, Daud, Akbar, Hasan ketiganya warga Desa Simpang IV Simpang Kramat dan Hasbi (35) warga Desa Dayah Tuha Keempat korban berasal dari Kecamatan Kutamakmur Kabu[aten Aceh Utara.

Penahanan 12 warga Pusong oleh TNI

Satuan tugas TNI pada hari Senin tanggal 4 January 1999 melakukan operasi di Desa Pusong Kecamatan Bandasakti Aceh Utara, dengan alasan untuk mencari anggota GAM. Selain melakukan operasi di Kota Lhokseumawe,  TNI memblokir jalan-jalan dalam kota. 12 orang yang yang dituduh sebagai anggota GAM ditahan oleh TNI. 

Bersamaan dengan itu pula satuan tugas melakukan penggeledahan terhadap rumah-rumah penduduk di  Desa Pusong, aktifitas kota dihentikan, seluruh warga kota dilarang keluar rumah. Namun aktifitas Ramadhan tetap berlangsung.
Komandan Korem 011/Lilawangsa Kol Inf Jhonny Wahab, bersama Dansatgas Operasi Wibawa '99 Letkol Pol Drs Iskandar Hasan, Rabu tanggal 6 January 1999 sore membebaskan seluruh warga masyarakat yang ditahan sejak minggu lalu karena tidak terbukti terlibat sebagai simpatisan GAM.

Operasi TNI ke Desa Meunasah Blang-Kandang

Pasukan ABRI melakukan operasi di desa-desa Kemukiman Kandang Kecamatan Muaradua Kabupaten Aceh Utara pada Selasa tanggal 5 Januari 1999. Operasi ini dilakukan untuk mencari anggota GAM dan Ahmad Kandang yang kenal sebagai tokoh GAM oleh masyarakat.Operasi ini melibatkan ratusan personil TNI,  dimulai sekitar pukul 09.30 WIB, para-TNI mendatangi rumah penduduk secara door to door (dari pintu ke pintu) dalam upaya mencari Ahmad Kandang. Dalam penyisiran pencarian Ahmad Kandang, seluruh penduduk di Kemukiman Kandang Desa Meunasah Blang  dikumpulkan untuk memudahkan pencarian.

Penggerebekan markas Achmad Kandang mulai dilaksanakan. Jum'at (8/1/99) pagi sekitar pukul 08.00 WIB pasukan ABRI diduga mulai mengepung basis utama pertahan Achmad Kandang yang berlokasi di Meunasah Blang. Sedangkan ditempat lain, di kampung Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Aceh Utara, aparat keamanan masih terus melakukan razia KTP bahkan dilakukan dengan mendatangi rumah-rumah penduduk. Bahkan sampai sabtu (9/1/99) Desa Meunasah Kandang, Kecamatan Muara Dua, Aceh Utara yang menjadi pusat kegiatan GPL-HT dikepung pasukan ABRI dengan dalih untuk membebaskan sandera, Mayor (Mar) Edianto. Penyergapan itu menyebabkan seorang warga sipil tewas tertembak sedangkan 40 lainnya ditahan, termasuk seorang wanita. Rumah Achmad Kandang di Meunasah Blang sekitar pukul 09.15 WIB hangus terbakaroleh TNI. Masyarakat sekitar menyebutkan bahwa yang membakarnya adalah anggota ABRI. Namun hal ini dibantah oleh Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Johny Wahab. Ditengah-tengah suasana tersebut, sekitar pukul 08.45 WIB sekitar 250 massa dari sekitar Kandang melakukan konvoi untuk memasuki kota Lhokseumawe. Namun gerakan tersebut dibendung oleh anggota 'Satgas Wibawa '99' di persimpangan Kuta Blang. Dalam rangkaian peristiwa itu, massa juga memblokir jalan pintas Sumatra dari Desa Meunasah Blang hingga Blang Crum. Kandang dengan drum dan dahan pohon.

Dalam suasana panik itu, seorang warga sipil dari rombongan massa yang bernama Zulkifli Mahmud (35), warga Meunasah Blang kandang tertembak. Selain yang tertembak, aparat juga menangkap 33 orang lainnya dari rombongan konvoi tersebut. Lalu diamankan ke Gedung KNPI Aceh Utara yang bersebelahan dengan Makorem 011/LW, untuk pemeriksaan. Jam 10.30 WIB, tawanan mulai diperiksa tim penyidik dari Polres Aceh Utara. Pada saat itu dikabarkan sejumlah anggota ABRI dari berbagai kesatuan melakukan pemukulan terhadap tawanan. Namun, tindakan itu berhasil diatasi Provost Korem 011/Lilawangsa yang berjumlah 7 orang. Selanjutnya sekitar pukul 21.00 WIB para tawanan dievakusi ke RSU Lhokseumawe dan mendapat pertolongan medis. Dan sekitar pukul 23.00 WIB, dua orang korban penganiayaan, Saifuddin Ibrahim dan Murthala dilaporkan meningga dunia. Keesokan harinya Minggu (10/1/99) sekitar pukul 03.00 WIB, Danren Kol Inf Drs H Johny Wahab mengadakan musyawarah dengan Muspida di Makorem dan tak lama kemudian sekitar pukul 10.15 WIB, tawanan lainnya, Hamzah Muhammad dan Herman Husen juga meninggal dunia. Dan Aiyub (30), warga Pulo Iboih, Kuta Makmur yang meninggal Senin (18/1/99). Sehingga akibat kejadian tersebut selain 5 korban tewas, juga mengakibatkan 23 lainnya mengalami luka berat sedangkan sekitar 21 orang mengalami luka ringan.


Kerusuhan di kota Lhokseumawe belum berakhir, Sabtu (9/1/99) pagi, dua warga tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dan masuk ke RS Cut Meutia Lhokseumawe setelah aparat melancarkan aksinya di daerah tersebut. Selain itu, sebelas dari 50 anggota ABRI Satgas Wibawa '99 yang terlibat dalam tindak penganiayaan terhadap 40 tawanan yang mengakibatkan 5 sipil tewas dan 23 mengalami luka berat, Senin (11/1/99) resmi ditahan dan diperiksa Denpom I/I Lhokseumawe, selain itu juga pihak Denpom meminta keterangan dari 11 orang tawanan yang menjadi korban penganiyaan tersebut. Dan sampai Selasa (12/1/99) jumlah anggota ABRI Satgas Wibawa '99 yang ditahan telah mencapai 19 orang.

Ratusan mahasiwa yang tergabung dalam Farmidia (Forum Akasi Reformasi Mahasiswa Islam Dista Aceh) melakukan aksi unjuk rasa di markas Kepolisian daerah Istimewa Aceh Selasa (12/1/99), menuntut penghentian Operasi Wibawa '99. Selanjutnya mereka bergerak menuju RRI untuk menyampaikan sejumlah tuntutan selama 30 menit. Aksi unjuk rasa ini kembali dilanjutkan Rabu (14/1/99) yang dilakukan di gedung DPRD Aceh, kali ini mereka menuntut diadakannya sebagai ekses kekecewaan terhadap pusat yang dinilai tidak berhasil mengadili pelakuk pelanggaran HAM di Aceh. Namun dalam aksi ini, mahasiswa juga melakukan pengrusakan dan sempat mengobrak-abrik ruang utama yang dilakukan karena kekecewaan terhadap sambutan kalangan dewan.

 

Enam warga Blang Jruen ditembak oleh anggota Polisi

 

Enam pemuda anggota Roda Dua Bantuan transportasi (RBT) atau tukang ojek di Blang Jruen Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh Utara dibawa ke rumah sakit. Korban ditembak oleh anggota Polsek Tanah Luas pada tanggal 17 Januari 1999.

Para-korban yang mengalami luka tembak masing-masing M. Jafar 28 tahun warga Desa Simpang Rangkaya, Amri 19 tahun warga Desa Alue Blang Jreun, Hendrik  28 tahun warga Alue Blang Jruen Kecamatan Tanah Luas dan tiga lainnya tidak diketahui identitasnya.

 

Posko SMUR di Periksa oleh TNI pos Sp.Kramat

Posko Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) yang berlokasii di Desa Simpang Empat Kemukiman Simpang Kramat Kecamatan Kutamakmur Kabupaten Aceh Utara, digeledah sejumlah aparat militer, Rabu tanggal 20 Januari 1999 jam 23.15 WIB. Tidak dijelaskan berapa kerugian yang diderita pihak SMUR akibat kejadian tersebut.

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1