…..Beberapa Kabupaten (Distrik) yang ada
di Acheh/Sumatera, Data ini hanya menjelaskan secara umum gambaran ekonomi
kabupaten.
Kabupaten Aceh Barat (West Acheh)
KARENA berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, Aceh Barat kerap
dipuji memiliki kawasan pantai terindah di seluruh Aceh. Dulu daerah ini juga
disebut sebagai pantai barat, bahkan sejak abad ke-18 tersohor sebagai
persinggahan kapal pengangkut lada dari Amerika. Dalam buku The Contest for
North Sumatra: Atjeh, the Netherlands and Britain, 1858-1898 (1969),
Anthony Reid mencatat bahwa pada tahun 1820, lada dari beberapa pelabuhan di
Aceh Barat, seperti Pate, Rigas, Calang, Teunom, dan Meulaboh, menjadi
komoditas terkenal di Massachusetts, Amerika Serikat.Kini, semua itu tinggal
kenangan. Bencana alam seperti gelombang pasang, hujan deras plus angin ribut
yang sering menyebabkan banjir, longsor, dan putusnya sarana transportasi dan
komunikasi seolah tak pernah lepas dari daerah ini. Bencana besar yang pernah
tercatat antara lain tahun 1962, 1978, 1992, dan terakhir Agustus 1999.
Kondisi
sarana maupun prasarana umum pun seperti "jatuh bangun", baru
diperbaiki lalu rusak lagi gara-gara diterpa bencana alam. Pemerintah daerah
Aceh Barat pun pernah menyatakan, sebelum tahun 1980 proses pembangunan banyak
mengalami kendala, terutama karena banyak mengalami masalah pada prasarana
transportasi. Yang jelas, komunikasi sampai sekarang masih sering mengalami
masalah, saluran telepon dan jasa pos yang terputus total umpamanya. Selain
itu, konflik sosial politik setempat juga turut memperburuk masalah tersebut.
Memang,
tidak seluruh wajah daerah ini melulu suram. Sah berstatus sebagai kabupaten
melalui Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 1956, Aceh Barat sempat terbagi atas
14 kecamatan dengan luas total 8.775 km2. Melalui Peraturan Daerah (Perda)
Nomor 5 Tahun 2000, jumlahnya melebar menjadi 20 kecamatan, 10.097 km2. Ketika
otonomi daerah dicanangkan lewat UU No 4/2002, bumi Teuku Umar ini pun
dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Jaya dan Nagan Raya.
Walaupun
luasnya "menyusut", secara umum daerah ini boleh dibilang subur.
Iklim tropis dan curah hujan yang tinggi, dengan kawasan yang memiliki tingkat
kemiringan datar yang relatif luas membuat daerah ini punya potensi pertanian,
terutama tanaman pangan. Dengan curah hujan rata-rata 312 mm di tahun 2000,
tanahnya juga dikenal bagus untuk tanaman perkebunan seperti kelapa sawit,
karet, dan kelapa.
Tahun
2000, sumbangan tanaman bahan makanan terhadap kegiatan ekonomi tercatat 25,51
persen. Total kegiatan ekonomi Kabupaten Aceh Barat nilainya Rp 1,150 trilyun.
Dari sembilan kecamatan, produksi padi sebesar 32.933 ton dengan luas panen
8.482 hektar. Kaway XVI, Woyla, dan Samatiga menjadi daerah utama penghasil
padi. Sementara jagung, dari luas panen 285 hektar dihasilkan 566 ton. Di luar
padi dan jagung, kacang tanah bisa menjadi komoditas unggulan. Dari total luas
panen 1.381 hektar tahun 2000, produksi kacang tanah 2.209 ton. Yang terakhir
banyak dihasilkan di Kecamatan Woyla dan Kaway XVI.
Di
samping berbagai komoditas tersebut, rambutan, durian, kelapa hibrida, kelapa
dalam, lada, nilam, cokelat, dan kelapa sawit juga tercatat punya peluang bagus
untuk dikembangkan. Khusus kelapa sawit, sebelum pemekaran, kabupaten ini
menghasilkan 64.292 ton. Hingga tahun 2000, tercatat sekitar 60 perusahaan
perkebunan memanfaatkan tanaman penghasil minyak itu.
Dengan
kontribusi Rp 172,4 milyar terhadap total pertanian Rp 720,9 milyar, peternakan
punya andil dalam perekonomian kabupaten. Tahun 2000, sapi (5.770 ekor), kerbau
(32.730 ekor), kambing (25.780 ekor), dan ayam buras (620.923 ekor) merupakan
ternak yang banyak dihasilkan Kecamatan Kaway XVI, Johan Pahlawan, Woyla, dan
Samatiga.
Di
sisi lain, walaupun belum menunjukkan hasil nyata, bahan tambang atau galian
golongan A, B, dan C juga dianggap potensial. Batu bara, emas, tembaga, perak,
timah hitam, dan andesit banyak tersebar di sembilan kecamatan. Emas sejak
zaman Hindia Belanda diupayakan Belanda melalui Maarsman Algeemene expl. Mij.
Ketika itu, Krueng Teunom, Ladang Geupah, Woyla, dan Meulaboh diduga memiliki
endapan aluvial yang mengandung emas.
Terlepas
dari potensinya, bukan berarti tak ada masalah sumber daya alam di Aceh Barat.
Dengan pemekaran tersebut, Aceh Barat harus rela "melepaskan"
kecamatan penghasil utama padi, yaitu Seunagan dan Kuala. Pada tahun 2000,
Seunagan menghasilkan padi seba-nyak 26.142 ton dan Kuala 15.428 ton. Artinya,
kabupaten ini harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan produksi padi. Sama
halnya dengan kelapa sawit. Darul Makmur dan Kuala tercatat paling tinggi
produk-sinya, masing-masing 25.810 ton dan 26.471 ton.
Selain
itu, dari anggaran pembangunan, prioritas pembangunan terkait erat dengan
anggaran untuk memantapkan sarana transportasi. Lihat saja Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) 2000, dari total anggaran Rp 122,5 milyar, sebanyak
Rp 26,3 milyar tersedot untuk sektor transportasi. Jika dilihat dari target
APBD 2001, anggaran sektor itu meningkat jadi Rp 45,7 milyar.
Memaksimalkan berbagai masalah yang menyangkut aspek komunikasi tampaknya memang masih jadi prioritas pembangunan kabupaten ini. Setidaknya, agar joke lama tentang Aceh Barat tidak terdengar lagi. Dulu, ketika hubungan Banda Aceh dan Meulaboh masih amat sangat sulit, telepon pernah diplesetkan menjadi "talipohon" alias kawat telepon yang hanya disangkutkan di ranting pohon. (Krishna P Panolih/ Litbang Kompas)
Kabupaten Aceh Tenggara
(Seouth East Acheh)
PARU-paru dunia ada di Kabupaten Aceh Tenggara. Pernyataan ini tidak
berlebihan, karena Aceh Tenggara menjadi salah satu pemilik kawasan Taman
Nasional Gunung Leuser. Kawasan seluas 1.094.692 hektar ini masuk dalam wilayah
beberapa kabupaten, yaitu Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Timur, Aceh Selatan,
Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Langkat (Provinsi Sumatera Utara).
Taman
nasional memiliki keistimewaan keanekaragaman flora dan fauna. Diperkirakan ada
sekitar 3.500 jenis flora termasuk tanaman langka Raflesia atjehensis dan
Johanesteinimania altifrons (pohon payung raksasa) serta Rizanthes
zippelnii yang merupakan bunga terbesar, langka, dan dilindungi, dengan
diameter 1,5 meter. Ada sekitar 130 jenis mamalia dengan hampir tiga
perempatnya termasuk jenis langka.
Untuk
menjaga kelestarian flora dan fauna kawasan taman nasional ini, Masyarakat Uni
Eropa ikut mendukung pelestariannya. Mereka berkepentingan. Ibarat paru-paru
yang sehat, demikian pula kawasan taman nasional dapat menyehatkan dunia.
Sejak
tanggal 10 April 2002 kabupaten ini dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tenggara
dan Kabupaten Gayo Lues berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002. Peluang
menggali potensi pariwisata dari taman nasional lalu mesti dibagi di antara
keduanya. Aceh Tenggara sebagai kabupaten induk tidak terlalu kehilangan
peluang untuk menggali potensi taman nasional ini.
Kutacane
yang menjadi ibu kota kabupaten menjadi salah satu pintu masuk kawasan taman
nasional. Dengan hanya menempuh perjalanan setengah jam, akan dapat ditemui
Ketambe, stasiun penelitian flora dan fauna, di pinggir Sungai Alas. Taman
Wisata Lawe Gurah memiliki panorama alam, sumber air panas, danau, air terjun,
pengamatan satwa dan tumbuhan seperti orang utan, kupu-kupu, dan bunga
rafflesia.
Selain
itu, penggemar olahraga arung jeram dapat menjajal keganasan Sungai Alas yang
mengalir menuju Kabupaten Aceh Selatan. Sambil mengarungi Sungai Alas ini,
penggemar rafting akan disuguhi kesegaran air sungai, panorama keindahan
alam hutan tropis Aceh, dan perkampungan rakyat tradisional.
Namun,
bukan hanya pariwisata yang bisa dijadikan andalan Kabupaten Aceh Teng-gara.
Lapangan usaha pertanian pun masih menjadi andalan. Tahun 2000, sebelum
pemekaran terjadi, Kabupaten Aceh Tenggara mempunyai total kegiatan ekonomi
sekitar setengah trilyun rupiah. Sepertiga lebih disumbang oleh pertanian
tanaman pangan.
Kondisi
geografis Kabupaten Aceh Tenggara landai. Karena itu, pertanian tanaman pangan
cocok dikembangkan. Kenya-taannya setelah pemekaran, 60 persen lahan padi sawah
tetap berada di Aceh Tenggara.
Sebelum
pemekaran, Kabupaten Aceh Tenggara dikenal sebagai penghasil tembakau. Sampai-sampai
dalam logo kabupaten dicantumkan gambar daun tembakau. Namun, sa-yang,
kebanggaan sebagai penghasil tembakau kini mesti direlakan untuk disandang
Ka-bupaten Gayo Lues. Kecamat-an penghasil tembakau seperti Terangon, Rikit
Gaib, Blang-kejeren kini masuk wilayah Kabupaten Gayo Lues.
Masih
ada produk perkebunan lain yang dapat diandalkan. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS) Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2000, daerah ini memiliki produk
unggulan seperti kopi, kelapa sawit, gambir, cengkeh, pala, cokelat, dan lada.
Walaupun masih kalah jauh oleh produksi kopi Aceh Tengah, daerah ini menyimpan
potensi untuk pengembangan kopi. Pada tahun 2000 produksi kopi, setelah
dikurangi wilayah pemekaran, tercatat 2.600 ton, dengan luas areal 3.011 hektar.
Tanaman kopi sebagian besar berada di Kecamatan Badar, Lawe Sigala-Gala, dan
Lawe Alas. Tujuh puluh persen lahan kopi ada di kabupaten induk.
Sebelum
pemekaran, produksi kemiri Aceh Tenggara yang terbesar di Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) adalah 13.328 ton dengan luas areal 15.322 hektar. Setelah
pemekaran, kekayaan ini harus dibagi dengan Kabupaten Gayo Lues. Hampir 50
persen lebih luas areal perkebunan kemiri kini menjadi milik Kabupaten Gayo
Lues. Produksi karet rakyat masih terkonsentrasi di Kabupaten Aceh Tenggara.
Sebaran kawasan perkebunan karet ini sebagian besar di Kecamatan Badar dan
Darul Hasanah.
Kondisi
topografi Aceh Tenggara yang bergunung-gunung menjadi salah satu penghalang
kelancaran transportasi dan komunikasi. Lokasi yang tidak terjangkau oleh
kendaraan umum bisa ditempuh dengan berkuda. Biasanya bila ingin pergi dari
Banda Aceh ke Kutacane, orang lebih suka lewat Kota Medan-daripada lewat Aceh
Tengah atau Gayo Lues yang kondisi medannya bergunung dan penuh hutan. Sarana
komunikasi seperti telepon pun masih sering terganggu sehingga komunikasi ke
daerah ini mengalami kesulitan.
Jauhnya
lokasi antara pusat pemerintahan Provinsi NAD di Banda Aceh dengan Aceh
Tenggara menimbulkan perasaan bahwa kabupaten ini dianaktirikan. Dari sisi geografis,
lokasi Aceh Tenggara lebih de-kat dengan Kota Medan di Su-matera Utara
dibanding dengan Kota Banda Aceh. Apa-kah pemekaran kabupaten kemudian dapat
menjawab kesenjangan akibat kurang mera-tanya pembangunan, serta dapat
menghilangkan perasaan dianaktirikan oleh pemerintah provinsi? (Yuliana Rini
DY/ Litbang Ko
Kabupaten Aceh Tengah
(Central Acheh)
PANORAMA pegunungan, bukit, serta kondisi alam yang masih asri dan kerap
berselimut kabut, menjadikan pemandangan di dataran tinggi Gayo bak lukisan alam.
Dilihat dari kejauhan saat kabut turun, sebuah kabupaten yang terletak di
sepanjang Bukit Barisan itu seolah menyembul dari awan-awan yang melingkupinya.
Kabupaten Aceh Tengah bagaikan "negeri di atas awan".
Rona
wilayah yang didominasi pegunungan serta suhu udara yang sejuk memberi pesona
tersendiri bagi daerah ini. Sebuah danau yang dikitari gunung-gunung di tepi
Kota Takengon, ibu kota kabupaten, melengkapi keindahan Kabupaten Tanah Gayo
itu. Dari Danau Laut Tawar itu mengalir sebuah Sungai Krueng Peusangan yang
bermuara di Selat Malaka. Danau seluas 5.472 hektar itu selain sebagai obyek
wisata, juga merupakan sumber air minum bagi masyarakat yang ada di Kota
Takengon, serta sebagai sumber air bagi PLTA Peusangan I dan II.
Aceh
Tengah yang dikenal pula dengan sebutan "Negeri Antara" memang
memiliki kekayaan alam yang melimpah. Luas wilayahnya 58,57 persen merupakan
kawasan lindung dan sisanya 41,43 persen menjadi kawasan budi daya. Topografi
yang bergunung-gunung dan tanah yang subur memberi keuntungan bagi usaha
pertanian. Kabupaten ini memang masih menggantungkan ekonominya dari pertanian.
Kontribusinya mencapai Rp 839,91 milyar. Sebesar 32,05 persennya atau senilai
Rp 350,95 milyar disumbang dari perkebunan.
Kopi
menjadi andalan utamanya. Perkebunan kopi mencapai 73.461 hektar yang tersebar
di seluruh kecamatan dan umumnya merupakan perkebunan milik rakyat. Sebanyak
53.902 keluarga petani kopi terlibat di usaha perkebunan ini. Penanaman kopi
memang sudah dikenal penduduk sejak zaman Belanda. Bahkan, sebagian besar kebun
kopi yang ada merupakan peninggalan perkebunan Belanda. Jenis kopi arabica-lah
yang banyak ditanam di sini.
Selain
karena memang cocok tumbuh di daerah yang berhawa sejuk, harganya pun relatif
lebih tinggi dibanding kopi jenis lain. Tahun 2000, daerah ini bisa
menghasilkan 27.105 ton kopi. Hasil itu sebagian ada yang diekspor ke Amerika,
Jepang, dan Belanda, dan sebagian lainnya dikirim ke Medan kemudian diekspor ke
negara tujuan. Nilai ekspor kopi bisa mencapai 10 juta dollar AS lebih dalam
setahun.
Ketinggian
daerah Aceh Tengah bervariasi, dari 100 meter hingga 2.500 meter di atas
permukaan laut. Di beberapa tempat dimungkinkan untuk ditanami tanaman pangan,
seperti padi, palawija, dan hortikultura. Namun, hampir 79,64 persen lahan di
daerah ini berada pada kemiringan yang hanya cocok untuk usaha perkebunan.
Areal
persawahan cuma ada di lahan tertentu, tetapi itu pun kurang produktif.
TANAMAN
sayur-sayuran seperti kentang, tomat, cabai, dan kubis banyak dibudidayakan
petani, terutama kentang, petani di sini sudah sejak lama mengusahakan
komoditas ini dengan hasil yang cukup memuaskan. Apalagi masa tanam relatif
singkat dan pengolahan lahan juga tidak terlalu sulit.
Tahun
2000 luas areal tanaman kentang 1.930 hektar, menghasilkan 37.617 ton. Produksi
kentang dipasarkan di tingkat lokal ke beberapa kota seperti Medan, Banda Aceh,
bahkan sudah ada yang diekspor ke Malaysia. Komoditas kentang juga sudah mulai
diolah menjadi makanan ringan dalam bentuk keripik oleh beberapa industri rumah
tangga.
Tanaman
palawija yang banyak dibudidayakan antara lain kacang kedelai, kacang tanah,
jagung, dan ubi jalar, sedangkan komoditas buah-buahan yang diusahakan sebagai
kegiatan sampingan adalah tanaman jeruk keprok, jeruk siam, alpokat, nanas, dan
durian. Jeruk keprok menjadi produk unggulan. Sebagian petani sudah menjadikan
tanaman tersebut sebagai tanaman utama, dan hasil produksinya pun sudah mulai
dipasarkan ke beberapa pasar swalayan yang ada di Medan dan Jakarta. Tahun 2000
produksi jeruk keprok mencapai 2.465,9 ton. Komoditas ini tersebar di beberapa
kecamatan seperti Takengon, Bebesen, Silih Nara, Bukit, Bandar, dan Pegasing.
Letak
kabupaten yang berada di tengah-tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan
wilayah yang didominasi pegunungan, menjadikan daerah ini masih terisolir.
Prasarana transportasi menjadi kendala utama. Takengon dan daerah lain di Aceh
Tengah bisa dibilang jauh dari keramaian arus lalu lintas. Jalur ke Takengon
menjadi semacam jalan "buntu". Artinya, angkutan semacam bus dan truk
tidak dapat melanjutkan perjalanan ke daerah lain, sehingga kembali melalui
jalan yang sama.
Akses
menuju ke daerah ini sangat bergantung pada jalan Bireun-Takengon, serta jalan
alternatif Takengon-Blang Kejeren-Kutacane yang kurang representatif. Kondisi
kedua jalan itu sangat tidak kondusif, baik karena rawan longsor maupun
gangguan lainnya seperti gangguan keamanan.
Tak
heran bila di daerah yang bergunung-gunung masih terdapat kawasan yang tidak
memiliki prasarana transportasi seperti kawasan Samarkilang, Karang Ampar,
Pameu, dan Jamat. Kawasan ini masih terisolasi dari berbagai aspek. Sebagian
besar produk pertanian yang dihasilkan hanya digunakan untuk kebutuhan hidup.
Menyadari
persoalan itu, salah satu upaya pemerintah kabupaten (pemkab) untuk
mengatasinya adalah memperbaiki dan membuka ruas jalan baru yang bernilai
ekonomis, baik antarkecamatan maupun antarkabupaten. Terutama jaringan jalan
yang menghubungkan pusat produksi dengan daerah pemasaran.
Anggaran yang disediakan bagi sektor transportasi mencapai Rp 57,25 milyar atau 52,77 persen dari total belanja pembangunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2001 yang sebesar Rp 108,49 milyar. Pembukaan ruas jalan baru bukan saja menguntungkan bagi penduduk, tetapi juga pemkab dapat memetik hasil dari mempromosikan keindahan alam "Negeri Antara" yang dimilikinya. (MG Retno Setyowati/ Litbang Kompas)
Kabupaten Aceh Besar (Big Acheh)
LUPAKAN sejenak kemelut kekerasan yang melanda provinsi paling barat
Indonesia ini. Informasi bernuansa perang dan kekerasan kerap mewarnai
pemberitaannya. Padahal, banyak hal menyejukkan terdapat di tanah Rencong ini.
Tengok saja salah satu kabupatennya, Aceh Besar.
Dari
situs Internet yang bisa diakses untuk mengetahui profil kabupaten ini, tema
pokoknya mudah diketahui. Daerah ini ingin menonjolkan kekayaan alam untuk
mengembangkan potensi pariwisata.
Sejumlah
wisata alam terdapat di kabupaten yang sampai tahun 1986 masih beribu kota
Banda Aceh ini. Air terjun Teuhom dan Peukan Biluy, sumber air panas Ie Seuum,
serta pantai pasir putih Lhoknga dan Lampuuk menjadi paket wisata tersendiri.
Aceh Besar cukup beruntung memiliki pantai indah karena berbatasan langsung
dengan Samudera Hindia di pesisir barat. Taman hutan raya Seulawah seluas 6.220
hektar dan cagar alam Jantho 8.000 hektar turut melengkapi kesejukan dan
kekayaan alamnya.
Sayangnya,
semua itu belum bernilai ekonomi yang besar. Karena, potensi yang ada belum
mampu menggiatkan usaha pariwisata dan merebut pasar wisatawan yang datang ke
Sumatera. Kegiatan perhotelan dan restoran yang mendukung kegiatan pariwisata
baru berperan sekitar 0,55 persen atau senilai Rp 6,4 milyar dalam perekonomian
daerah tahun 2000.
Sesungguhnya,
dari hal-hal yang menyejukkan tadi diharapkan investor asing maupun dalam
negeri terpikat menanamkan modal. Apa daya harapan masih sebatas impian. Faktor
konflik berkepanjangan di Aceh secara makro begitu kuat membelenggu.
Selain
bersuhu udara rata-rata 26 derajat celcius dan jumlah hujan yang turun sekitar
13 hari per bulan, yang juga menyejukkan adalah hamparan padi. Padi sawah di
areal 46.231 hektar tahun 2000 menghasilkan panen 195.189 ton. Produktivitas
terbesar dihasilkan Kecamatan Suka Makmur dan Indrapuri yang menjadikan kedua
wilayah ini sebagai sentra penghasil padi.
Dari
kegiatan bertani inilah struktur ekonomi agraris dibangun. Pertanian selama
satu dasawarsa terakhir menjadi tiang ekonomi daerah. Kontribusinya lebih dari
50 persen terhadap total perekonomian daerah. Dalam kurun tahun 1996-2000,
pertumbuhannya cenderung meningkat rata-rata 4,97 persen per tahun. Selain
padi, produksi pertanian Aceh Besar yang tergolong besar adalah ubi kayu,
jagung, cabai, tomat, dan tanaman kacang-kacangan.
Kegiatan
beternak juga berperan cukup besar. Potensi padang pengembalaan, 40.000 hektar
ditambah kebun rumput 300 hektar milik masyarakat di sepanjang bantaran Krueng
Aceh. Populasi ternak besar, kecil, dan unggas daerah ini tergolong besar di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Untuk ternak, besar pertumbuhan
populasinya 6-7 persen, ternak kecil 5-6 persen, dan unggas 8-9 persen.
Data
Dinas Peternakan tahun 2001 menunjukkan produksi daging sapi hampir 1.000 ton,
daging kerbau 213.650 kilogram, daging kambing sekitar 400.000 kilogram, dan
daging unggas 1,6 juta ton. Sementara, ayam dan itik menghasilkan masing-masing
1,5 juta dan 1,8 juta butir telur.
Pemasaran
hasil ternak dilakukan melalui dua pasar hewan di Kecamatan Suka Mak-mur dan
Seulimeum. Untuk ternak hidup, terutama sapi dan kerbau, dipasarkan ke luar
Aceh Besar seperti Kabupaten Pidie, Aceh Utara, dan Suma-tera Utara. Sementara,
pemasaran dalam bentuk daging lebih ditujukan untuk meme-nuhi seluruh kebutuhan
daging di Kota Banda Aceh.
Kontributor
kedua terbesar sebagai sumber pendapatan penduduk adalah industri pe-ngolahan.
Perannya 19,11 persen dari total kegiatan ekonomi yang jumlahnya Rp 1,18
tril-yun. Total investasi sektor ini tahun 1999 sebesar Rp 433,2 milyar.
Industri yang berkembang masih sebatas industri kecil. Dari 1.685 perusahaan industri,
persentase terbesar, hampir 70 persen industri kecil nonformal. Jenis industri
yang diusahakan adalah bordir, anyaman, kopiah, kerajinan rotan, dan kerajinan
rencong.
Industri
pengolahan yang tergolong besar adalah industri semen yang diproduksi PT Se-men
Andalas Indonesia (SAI). Perusahaan yang beroperasi di Kecamatan Lhoknga ini
me-makai bahan baku jenis lime stone, silt stone, iron sand, dan pozzolan
yang dipenuhi oleh daerahnya sendiri. Kecuali bahan gypsum diimpor dari
Thailand.
Produksinya
tahun 2000 sebesar 570.000 ton semen. Se-banyak 25 persen diserap oleh
kebutuhan lokal dan kabupaten/kota di NAD. Sisanya dipasarkan ke luar provinsi.
Bah-kan ke negeri seberang, Malay-sia, melalui distributor di Su-matera Utara.
Bertolak
belakang dengan sektor pertanian, kegiatan sektor industri mengalami kelesuan.
Dalam periode 1996-2000 rata-rata pertumbuhannya turun 2,2 persen per tahun.
Salah satu contoh produksi semen PT SAI, tahun 2000 turun 38 persen dibanding
tahun sebelumnya.
Sejumlah
sarana dan prasarana pendukung untuk mengembangkan industri sudah tersedia.
Jalur darat yang menghubungkan Aceh Besar dengan kabupaten dan kota lain di NAD
berkategori baik. Apalagi di sini terdapat Pela-buhan Udara Sultan Iskandar
Muda, Pelabuhan Laut Lhoknga, dan Pelabuhan Laut Malahayati di Kecamatan Mesjid
Raya yang mempermudah per-gerakan arus manusia dan ba-rang. Dari segi sumber
daya manusia, padatnya kegiatan industri dan perdagangan akan menyerap lebih
banyak tenaga kerja, terutama bisa memberi lapangan pekerjaan bagi hampir
25.000 pencari kerja.
Sejarah panjang perjuangan kemerdekaan di Aceh mungkin belum sebanding dengan hasil pembangunan yang dinikmati masyarakat Aceh, ter-masuk Aceh Besar. Namun, menggantungkan kemajuan daerah dari sektor pertanian semata hanya akan membuat waktu yang diperlukan semakin panjang. (Gianie/Litbang Kompas)
Kabupaten Aceh Utara (North Acheh)
DALAM
catatan perjalanan Marcopolo, seorang petualang terkenal dunia yang sampai di
Pulau Sumatera tahun 1292 atau abad ke -13 Masehi, wilayah Aceh di ujung utara
Pulau Sumatera, masih terbagi atas beberapa wilayah kerajaan. Beberapa wilayah
yang dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia saat itu adalah
Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Melaka, dan Pidie. Pada awal abad 16, berdiri
Kerajaan Islam Aceh Darussalam berbentuk Kesultanan Aceh dengan raja pertamanya
Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530). Pada abad ini juga, satu persatu wilayah
Aceh ditaklukkan dan masuk ke dalam wilayah Kerajaan Aceh. Kerajaan Samudera
Pasai, salah satu yang ditaklukkan tahun 1524. Kesultanan Aceh mencapai zaman
pemerintahan terkuat saat dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan
diteruskan menantunya Sultan Iskandar Thani (1637-1641).
Sejak dulu, masyarakat Aceh dikenal berkarakter kuat. Mereka tidak
mudah menyerah. Karakter ini terbukti saat Belanda menguasai Nusantara sekitar
abad 16-20. Aceh adalah wila-yah Nusantara yang paling akhir dikuasai Belanda
sekaligus memakan waktu paling lama ditundukkan. Upaya Belan-da menguasai Aceh
berlangsung kurang lebih 40 tahun, sejak maklumat perang Kerajaan Aceh-Belanda
diumumkan resmi tahun 1873, hingga tahun 1913. Meski demikian, sejak tahun
1824, konflik sering terjadi antara Belanda dengan kerajaan Aceh.
Penyebab banyak bangsa Eropa berhasrat menguasai Aceh adalah
karena negeri ini sangat kaya akan rempah-rempah, terutama lada, yang tergolong
komoditas primadona Aceh masa itu. Diperkirakan saat itu, wilayah Pasai di Aceh
Utara sekarang ini, mengekspor lada kira-kira 8.000 sampai 10.000 bahar per tahun.
Selain lada, diekspor pula sutra, kapur barus, bahkan emas.
Untunglah, masa itu bangsa kolonial belum mengetahui bahwa di bumi
Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Utara saat ini, terdapat "harta
karun" luar biasa. Harta karun tersebut berupa kandungan gas alam cair dan
minyak bumi yang melimpah di Lhok Seumawe, Kecamatan Banda Sakti, dan beberapa
wilayah Aceh Utara lainnya. Mungkin, jika saat itu ditemukan ladang gas dan
minyak bumi di Aceh, semakin banyak bangsa asing yang bersaing menguasai
wilayah ini.
Ladang gas dan minyak ditemukan di Lhok Seumawe, ibu kota Aceh
Utara sekitar tahun 1970-an. Kemudian, Aceh mulai didatangi investor luar
negeri yang tertarik pada sumber daya alamnya yang hebat. Sejak saat itu, gas
alam cair atau LNG (Liquified Natural Gas) yang diolah di kilang PT Arun
Natural Gas Liquifaction (NGL) Co, yang berasal dari instalasi PT ExxonMobil
Oil Indonesia (EMOI) di zona industri Lhokseumawe, menyulap wilayah ini menjadi
kawasan industri pe-trokimia modern.
Sayangnya, kekayaan yang tersimpan dalam perut bumi Aceh Utara itu
tidak dinikmati seluruh penduduknya. Logis-nya, wilayah kaya seharusnya
penduduknya pun kaya. Akan tetapi, hal itu tidak terjadi di daerah ini. Masih
banyak penduduk miskin terpencil di pelosok wilayah kabupaten. Bahkan, pada
Januari 2000, tercatat 59.192 keluarga yang tergolong prasejahtera di Kabupaten
Aceh Utara. Jumlah ini yang tertinggi (data 1999) di antara kabupaten dan kota
di Provinsi DI Aceh. Padahal, di wilayah ini pertama kali ditemukan ladang
migas di Aceh.
HINGGA saat ini, mayoritas masyarakat Aceh Utara bermata
pencaharian petani. Wilayah ini dikenal sebagai penghasil beras utama dan
potensial di Provinsi Aceh. Tahun 2000, produksi padi sekitar 320.000 ton.
Keberhasilan penanaman padi di Aceh Utara juga tampak dari areal panen yang
paling luas di antara komoditas lainnya. Luas panen padi tahun 2000 sekitar
73.000 hektar, dengan produktivitas 4,40 ton per hektar.
Selain padi, Aceh Utara memiliki komoditas pertanian
"emas" lain yaitu kedelai. Demam tanaman kedelai yang melanda petani
di Aceh Utara dimulai sejak tahun 1991. Hingga saat ini, produksi kedelai
menempati tempat kedua setelah padi pada subsektor pertanian bahan pangan. Pada
tahun 2000, dengan luas panen 45.000 hektar lebih, produksi kedelai Aceh Utara
mendekati angka 60.000 ton. Jika dilihat, produktivitasnya cukup rendah, hanya
1,23 ton per hektar. Namun, hal ini tidak menghilangkan status
"primadona" pada komoditas kedelai.
Hasil kegiatan ekonomi Kabupaten Aceh Utara tahun 1999 didominasi sektor
pertambangan sekitar 57 persen, dengan subsektor migas 56,4 persen. Kemakmuran
dengan pemenuhan berbagai fasilitas hanya tampak di sekitar zona industri
tambang.
Di luar itu yang tampak adalah desa miskin dengan fasilitas minim.
Padahal, keuntungan yang diperoleh industri besar tersebut mencapai ratusan
juta dollar AS per bulan. Penyerapan tenaga kerja lokal yang diharapkan
penduduk sekitar juga kurang dipenuhi.
Misalnya, ExxonMobil yang hanya memiliki 600 pekerja tetap yang
berasal dari lokal, di samping 30 pekerja asing dan 1.500 pekerja kontrak.
Jumlah penduduk Aceh Utara saat ini sekitar 650.000 jiwa.
Di Aceh Utara sendiri terdapat tiga industri besar yang bahan
bakunya sepenuhnya disuplai Exxon, yaitu PT Asean Aceh Fertilizer (AAF), PT
Pupuk Iskandar Muda (PIM), dan PT Kertas Kraft Aceh (KKA). (Palupi P Astuti/Litbang
Kompas)
Kota Banda Aceh (Banda Acheh)
"O
God, Ik ben getroffen" (Ya Tuhan, aku kena). Ucapan terakhir itu keluar dari mulut
Jenderal Kohler ketika sebutir peluru menembus dadanya. Sang jenderal itu pun
terkapar dan tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman. Pemerintah Belanda
menyadari kekeliruan Mayor Jenderal JHR Kohler yang menyerbu dan membakar
masjid termegah kebanggaan rakyat Aceh. Serangan ke Masjid Raya itu adalah bumerang
bagi Belanda. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1876 itu meninggalkan bukti
banyaknya korban Perang Aceh di pihak Belanda, di antaranya dapat disaksikan di
Kerkhof, Peucut, Banda Aceh, sekitar satu kilometer di selatan Masjid Raya.
Di sana terkubur 2.200 serdadu Belanda, termasuk Kohler, sang
jenderal itu sendiri.
Masjid Raya yang berdiri megah di tengah-tengah pusat Kota Banda
Aceh itu bukan saja lambang ketaatan rakyat setempat kepada agama Islam, tetapi
juga simbol dan saksi bisu kegigihan masyarakat Tanah Rencong menentang
penjajahan Belanda.
Jauh sebelum terjadi Perang Aceh (1873), rakyat Aceh pernah
mengalami masa jaya. Kala Sultan Iskandar Muda memerintah di Kerajaan Aceh
Darussalam (1607-1636), ia mampu menempatkan kerajaan Islam Aceh di peringkat
kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada Abad XVI. Saat itu Banda
Aceh yang merupakan pusat Kerajaan Aceh menjadi kawasan bandar perniagaan yang
sangat ramai karena hubungan dagang dunia internasional, terutama kawasan
Nusantara di mana Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas pelayaran
kapal-kapal niaga asing untuk mengangkut hasil bumi Asia ke Benua Eropa.
Kota Banda Aceh semula bernama Kutaraja-sejak 28 Desember 1962
namanya diganti menjadi Banda Aceh-merupakan ibu kota Provinsi Daerah Istimewa
Aceh. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat segala kegiatan
ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota yang telah berusia 796 tahun
ini-berdasarkan Perda Aceh Nomor 5/1988, tanggal 22 April 1205 ditetapkan
sebagai tanggal keberadaan kota tersebut-dikenal pula sebagai kota perdagangan.
Karena fungsinya tersebut, sarana transportasi menjadi sangat vital dalam
menunjang sektor perdagangan.
Tersedianya Pelabuhan Ma-lahayati serta Bandar Udara Blang Bintang
yang sejak awal tahun 1995 namanya diganti menjadi Bandara Sultan Iskandar
Muda-meskipun keduanya terletak dalam wilayah Aceh Besar-sangat mendukung kota
ini sebagai pusat perdagangan. Belum lagi jalan darat yang menghubungkan
antarkabupaten maupun provinsi.
Tingginya mobilitas pengangkutan jalan raya ini dapat terlihat
dari besarnya kontribusi sektor tersebut bagi pembentukan kegiatan ekonomi
Banda Aceh. Dari tahun ke tahun, sektor pengangkutan dan komunikasi menjadi
penyumbang terbesar kegiatan ekonomi Banda Aceh. Tahun 1999 sektor ini memberi
kontribusi sebesar 35,22 persen, dan 26,77 persennya atau setara dengan lebih
dari Rp 200 milyar, berasal dari pengangkutan jalan raya (darat).
Kota yang terletak di ujung bagian barat Pulau Sumatera dengan
luas 61,36 kilometer persegi ini dipadati sekitar 220.000 jiwa yang tersebar di
empat kecamatan.
Hingga tahun 1999, jumlah perusahaan yang terdaftar di Kantor
Depperindag Kota Banda Aceh sebanyak 5.125 buah perusahaan. Selain itu,
industri kecil formal dan nonformal juga banyak tumbuh di kota ini. Ta-hun 1999
jumlahnya mencapai 1.384 unit usaha dan menyerap 5.127 tenaga kerja.
Sektor lain yang tak kalah pentingnya adalah pariwisata. Sejak
dulu Banda Aceh terkenal sebagai kota budaya, karena kedudukannya sebagai pusat
Kerajaan Aceh. Sebab itu, kota ini banyak menyimpan khazanah budaya, monumen,
tempat-tempat bersejarah, dan makam raja-raja, seperti makam Sultan Iskandar
Muda dan makam Syekh Abdurrauf Syiah Kuala. Tempat-tempat itu kini menjadi
obyek wisata yang bernilai historis dan spiritual, serta kein-dahan alam.
Fasilitas penunjang wisata seperti penginapan, terutama banyak terdapat di
Kecamatan Baiturrahman dan Kecamatan Kuta Alam.
Namun, krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan
tahun 1997 berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi Kota Banda Aceh. Puncak-nya
pada tahun 1998, laju pertumbuhan ekonomi Banda Aceh negatif 5,51 persen. Tahun
1999, terdapat lima sektor yang mengalami pertumbuhan negatif, yaitu
pertambangan dan penggalian (-47,80 persen); industri pengolahan (-1,05 persen);
bangunan/konstruksi (-8,26 per-sen); perdagangan, hotel dan restoran (-1,04
persen); serta sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya (-11,59 persen).
Namun, tahun 1999 per-ekonomian Kota Banda Aceh mampu bangkit dengan
pertumbuhan 0,87 persen.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun anggaran 1999/ 2000 cuma
sebesar Rp 3,58 milyar, atau hanya sekitar 6,70 persen dari total realisasi
penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanda Daerah (APBD) Kota Banda Aceh yang
besarnya Rp 53,38 milyar. Bisa dibayangkan betapa Banda Aceh yang berstatus ibu
kota Provinsi DI Aceh itu masih jauh dari mampu menghidupi daerahnya sendiri.
Banyak faktor yang menyebabkan tanah kelahiran pahlawan wanita Cut Nyak Dhien
ini jauh tertinggal dari ibu kota provinsi lain di Indonesia. Salah satunya
adalah faktor keamanan. Situasi aman menjadi harapan utama rakyat Aceh untuk
membangun daerahnya. (MG Retno Setyowati/ Litbang Kompas)