Majalah Tempo Thoen 1972
HIMBAUAN GUBERNUR
GUBERNUR
ACEH MUZZAKIR WALAD MENGAJAK UNTUK MEMELIHARA & MENGISI SEBIDANG TANAH
UNTUK ACEH DI MINIATUR INDONESIA INDAH. HIMBAUANNYA DIULANG KETIKA NY. TIEN
SOEHARTO, MENUTUP PEKAN KESENIAN. RU PT ED 29/02 TA 720923 HA 20 SU WALAD,
MUZAKIR SS GUBERNUR ACEH
BULAN
Maret yang lalu Gubernur Aceh Muzzakir Walad berpidato di depan DPRD Daista
Aceh untuk pelantikan panitia Pekan Kesenian Aceh II. "Untuk daerah Aceh
telah disediakan sebidang tanah seluas 1 ha di Miniatur Indonesia Indah".
Lantas: "Tanah ini harus kita isi baik bangunan maupun
maintenance-nya". Ketika nyonya Tien Soeharto menutup pekan kesenian
tersebut-awal September kemarin, sekali lagi Gubernur mengingatkan soal ini. Di
depan Ibu MII demikian konon masyarakat Aceh menyebut Tien Soeharto - Muzzakir
berkata: "PKA II adalah menuju kepartisipasi aktif". Dan partisipasi
aktif ini agaknya didukung oleh semangat untuk membuka apa yang disebut ke
terkucilan daerah yang salah-satu usahanya bisa berujud "memamer-mamerkan"
Aceh keluar, alias dalam MII. Dari Tien Soeharto sendiri memang tak ada
tanggapan langsung di muka umum. Apa yang dikatakannya tentang Aceh, setelah 4
tahun tidak dilihatnya: "Saya merasakan suasana Aceh yang lain. Tapi tetap
yang Aceh juga".
ACEH MEMERANGI MESIN
ORANG
PERS DI BANDA ACEH MENUDUH PERCETAKAN NEGARA TELAH MEMBUAT KORAN DAERAH TAK
DAPAT BERSAING DENGAN KORAN JAKARTA DAN MEDAN. MESIN PERCETAKAN YANG DIGUNAKAN
TELAH KETINGGALAN ZAMAN, HASIL JELEK. RU MD ED 28/02 TA 720916 HA 48 SU PERS
DAERAH ;
LAIN
"Mesin celaknya
sudah pantas masuk museum. Hasilnya centang prenang. Pembaca di daerah Aceh
sendiri tak suka membacanya", keluh Jusuf Ubit dari Angkatan Bersendjata
kepada Menteri Penerangan Budiardjo, ketika pejabat ini berkunjung ke Pekan
Kebudayaan Aceh beberapa waktu berselang.
Tentang percetakan itu
sendiri Budiarjo tak sempat melihat dengan mata kepala sendiri, sedangkan
orang-orang pers setempat tak sudi lagi menginjakkan kaki kesana. Sejak
beberapa waktu yang lalu mereka menghentikan penerbitan sebagai protes terhadap
kebijaksanaan pimpinan percetakan yang telah menaikkan ongkos cetak dari Rp 7.500
menjadi Rp 12.500 per 3.000 eksemplar. Agaknya mereka tidak terlalu keberatan
terhadap kenaikan tarif tadi. "Soalnya
Untuk beberapa waktu
lamanya Aceh hidup tanpa koran swasta dari daerahnya sendiri. Yang masih
bertahan di percetakan itu tinggal Duta Pantjatjita milik pemerintah daerah dan
Angkatan Bersendjata. Sedangkan tarif baru dari percetakan itu tak bisa
ditawar-tawar lagi, karena sudah begitu instruksi dari pusat. Karena percetakan
negara tersebut merupakan satu satunya percetakan disana, maka para penerbit
koran adi terpaksa mencari percetakan di Medan Atjeh Post, Mimbar Swadaya,
Berdjuang, Taufan dan Warisan Baru kini sudah hijrah kepercetakan yang jauhnya
lebih kurang 500 km dari induk semangnya yang lama.
Ketika bertemu muka
dengan wartawan-wartawan di Banda Aceh Budiarjo lumayan juga kenyangnya menelan
keluhan-keluhan "Oplahnya 1.500 eksemplar Namanya saja Angkatan
Bersendjata tapi tak pernah mendapat subsidi dari yang mengendalikan"
keluh Jusuf Urbit dari koran Angkatan Belsenjata "Ongkos cetak tetap kami
bayar sekalipun beras untuk anak bini belum kami beli" sambungnya pula
berhiba-hiba. Tetapi Budiarjo tidak menjanjikan apa-apa Malahan dia menyindir
orang-orang pers didaerah. Menurut dia pokok pangkal mengapa pers daerah tak
bisa maju bukan lantaran percetakan yang sudah rongsok. "Tetapi pada cara
memasak koran itu. Buat apa percetakan yang baik kalau berita-beritanya tidak
baik?" Tak seorangpun
Kalau logika Budiarjo ini
diturutkan maka Percetakan Negara Banda Aceh itu akan gulung tikar. Sebab
menurut pengakuan Direkturnya sendiri. Abubakar Adamy kepada Budiarjo, dengan
kenaikan ongkos cetak yang ditimpakan kepada koran-koran tadi, ternyata
percwtakan itu masih tekor.
Kepada wartawan-wartawan
di Aceh untuk kesekian kalinya Budiarjo menganjurkan agar perusahaan pers yang
tak kuat modalnya supaya bergabung saja. "Dengan dcmikian perusahaan lebih
kuat dan karyawannya lebih selektif". Tetapi siapakah yang mau merintis
anjuran itu sebab sampai saat ini orang-orang masih berbalapan untuk
menerbitkan koran atau majalah baru.
MARSOSE-MARSOSE DI BANDA ACEH
DALAM
RANGKA PERINGATAN 100 TAHUN PERANG ACEH-BELANDA AKAN DIPUGAR
KATA
orang: andaikan sekarang ada 10 pejabat tinggi yang punya sifat seperti Sultan
Iskandar Muda, raja Aceh di awal abad 17, keadilan akan berjalan beres. Sang
Raja memiliki dua orang putera. Salah-seorang bernama Meurah Pupak. Seperti
juga Ali Khan yang gemar balapan mobil, si Meurah Pupok gemar pacuan kuda.
Tetapi nasib sial menyerang Meurah nan ganteng. Dia tertangkap basah ketika
sedang begituan dengan seorang isteri rakyat biasa. Yang menangkap sang suami
sendiri, di rumahnya sendiri pula. Sang suami mencabut rencong, ditusukkannya
ke tubuh sang isteri yang serong. Akan Meurah Pupok, si suami melaporkannya
langsung kepada sang ayah. Dan di depan rajanya sang suami kemu
Kuburan kaphe. Tapi
dimana Meurah Pupok dikuburkan? Makamnya terselip di tengah kuburan Belanda di
Banda Aceh. Dan seperti juga kuburan Belanda yang luas itu, makam Sultan
Iskandar Muda sendiri yang terletak di dekat museum Rumoh Aceh, menjelang Pekan
Kesenian Aceh II tempo hari telah dipugar. Dua tahun lalu makam itu dibangun
kembali - setelah diobrak-abrik pihak Belanda. Dan sebagai penghormatan, ketika
makam selesai dipugar berdentumlah 7 kali bunyi meriam.
Pemugaran-pemugaran itu
bukan tak ada hubungannya dengan peringatan 100 tahun Perang Aceh-Belanda, yang
akan dilaksanakan 26 Maret tahun depan. Orang Aceh pernah bilang: "Meunjo
han ek to peuget, bek tak peuhina ureung nyang ka mate" : Artinya: Kalau
tak sanggup memeliharanya, janganlah dihina orang yang sudah mati. Karena
itulah, 2.200 marsose alias tentara kerajaan Belanda yang ditanam di kuburan
kaphe itu (sebutan orang Aceh untuk alias kafir) - juga tidak diganggu atau
digusur. Bahkan di sekitarnya telah pula dijadikan kuburan orang-orang Kristen
dan Katolik sekarang ini.
Ditendang-tendang.
Diluar makam marsose yang letaknya di jalan Teuku Umar itu, ada pula kerkhof -
yang oleh orang Aceh biasa disebut Peucut - berisi beberapa tokoh jenderal
Belanda. "Pekuburan ini barang bukti yang mahal sekali harganya",
kata Wakil Gubernur Marzuki Nyakman. Paling tidak pengunjung makam nanti bisa
melihat betapa banyaknya Belanda yang gugur oleh rencong Aceh.
Jenderal-jenderal seperti Demmeni (t 1886) dan de Moulin (1896) memang tidak
dikubur di Aceh, tapi di
Tapi berbeda dengan Pel
dan Darlang adalah A. Ph. van Aken. Orang ini pernah jadi Gubernur Aceh di
tahun 1938. Biarpun ineninggal di
MENYELUSURI JEJAK LAMA
BADAN
PEMBINA RUMPUN ISKANDAR MUDA BERGERAK DIBIDANG PENGAWETAN BENDA-BENDA
BERSEJARAH. RUMOH ACEH, MUSEUM DI BANDA ACEH MAKIN LENGKAP. SEBUAH BENDERA ALAM
ACEH, TERBUAT PADA ABAD 16 TIBA DARI
ANGGAPAN
bahwa serdadu hanya bisa berperang, tentu saja tak tepat. Tentara AS di
Vietnam, kalau tidak mendapat giliran perang, diwajibkan membangun rumah
penduduk yang hancur akibat bom. Di pulau Jawa beberapa jembatan besi dan jalan
umum adalah hasil buatan Kompi Zeni. Di Kalimantan, tentara yang
ditransmigrasikan bersama keluarganya menukar senapan dengan parang dan
menantang hutan.
Di Aceh demikian juga.
Panglima Kodam I/Iskandar Muda dulu, Mayor Jenderal Teuku Hamzab Bendahara,
membentuk Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda. Disingkat jadi Baperis,
perkumpulan ini antara lain bergerak di bidang pengawetan benda-benda sejarah.
Sibuk keluar-masuk desa, Hamzah melihat peninggalan-peninggalan yang bisa
dipungut dan dipelihara dalam sebuah museum. Rumoh Aceh, museum di Banda Aceh,
makin lengkap isinya. Siapapun yang datang kesana boleh menghibur diri: karena
sementara, museum di daerah lain umumnya -semakin suram dan kosong (barang
museum pada hilang, kemu
Oleh rangsangan Teuku
Hamzah, "kini penduduk kebangkitan demam cari barang antik", kata
Kolonel Abdullah Hanafiah; Dan Rem 011/Lilawangsa. Maka ditemukanlah, misalnya,
kain serban Teuku Chik Di Tiro. Serban yang dibuat seabad lalu itu masih
dipegang salah seorang cicit Chik Di Tiro yaitu A.Wahab Umar Tiro, dan tidak
melanglang keluar tanah Aceh. Dan mudah-mudahan memang tidak akan tedadi
perpindahan barang-barang antik dari Aceh ke daerah lain, seperti yang pernah
terjadi dengan benda-benda Irian dan
Membangkitkan heroisme
memang lebih mudah diusahakan melalui barang-barang yang mengandung bukti
sejarah. Seperti mendandani kembali kuburan Raja-Raja Parse, pembawa Islam ke
Sumatera. Batu nisan Putri Nahrisyah Kutakarang, keturunan kelima Malikul
Saleh, kini telah pula kembali ke tempatnya. Nisan yang dibuat dari batu
mar-mar dari cukup berat ini dahulu diboyong juga oleh Belanda ke negerinya.
"Banyak makam-makam yang dirusak Belanda", kata Ketua Seksi Hukum dan
Pembina Benda Bersejarah, Teuku Mahmud Rusdy. Bukan berdasar sentimen raja. Sebab
kalau benar apa yang diuraikan Hanafiah: "Mereka menyangka kuburan-kuburan
itu ada emasnya".
LAPORAN DARI BANDA ACEH
4
WARTAWAN TEMPO CHAIRUL HARUN, ZAKARIA M. PASSE, BURHAN PILIANG DAN E. BACHRI
SIKUM KE ACEH. MEREKA MELIPUT PEKAN KEBUDAYAAN ACEH II DI BANDA ACEH. SALIM
SAID MELAPORKAN KUNJUNGANNYA KE JEPANG. RU FK ED 33/02 TA 721021 HA 03 SU FOKUS
KITA SS PEKAN KEBUDAYAAN ACEH
LIWAT
pertengahan Agustus yang lalu, koresponden Chairul Harun meninggalkan
Maka melalui satu
diskusi dengan kepala desk Daerah serta para wartawan TEMPO yang pernah
mengunjungi Aceh, diputuskan untuk mengetengahkan Aceh sebagai laporan utama.
Tugas lni diserahkan kepada Syubah Asa, yang meskipun spesialisasinya adalah
pada rubrik Agama, ia pernah mengadakan perjalanan keliling ke daerah Aceh
tahun lalu. Laporan-laporan yang secara beruntun berikut foto-foto yang dikirim
team TEMPO dari Banda Aceh, ternyata memang cukup banyak, akan tetapi sebagai
biasa bahan-bahan itu masih perlu di lengkapi di Jakarta. Untuk itu, maka Yunus
Aditjondro, yang kini berada. dalam team task force redaksi untuk urusan
laporan utama, ditugaskan membantu Syu'bah Asa, terutama dalam mempelajari dan
menulis bagian yang berhubungan dengan masalah ekonomi dan pembangunan Aceh.
Dalam menyusun kerangka laporan utama ini, Syu'bah juga telah menggunakan
kembali catatan-catatan yang dibuatnya ketika mengunjungi Aceh. Banyak dari
bagian-bagian laporan yang dikirim team belurn seluruhnya terpakai dalam
kesempatan ini, pertama bahan-bahan sekitar
MENJELANG keberangkatan
Perdana Menteri Kakuei Tanaka ke Peking-beberapa waktu berselang, TEMPO,
mendapat undangan dari Kementerian Luar Negeri Jepang untuk berkunjung ke
negeri itu, dan kepala desk internasional, Salim Said, ditugaskan memenuhi
undangan tersebut. Dalam perjalanan pulang, Salim juga sempat singgah di
Ralat: Rubrik
Internasional TEMPO minggu lalu, 14 Oktober, terdapat kekeliruan pemasangan
foto. Yaitu foto Presiden Thieu dibawah artikel
KRUENG JREUE YANG DITUNGGU
PROYEK
IRIGASI KRUENG JREUE YANG DITUNGGU MASYARAKAT KINI SEDANG JADI SOROTAN. PROYEK
PUSAT ITU KONON TAK BERES PEMBANGUNANNYA. PROYEK INI SEDANG DITELITI TERMASUK
WARTAWAN
dilarang masuk. Jika diingat betapa Menteri PUTL Sutami begitu sering menekankan
perlunya kerja sama instansi yang dipimpinnya dengan pers, tulisan yang
terpampang di pekarangan proyek irigasi Krueng Jreue Aceh, itu boleh membuat
orang bertanya-tanya. Tapi inilah lebih kurang jawabnya:
Proyek yang mulai
dikerjakan tahun 1969 ini merupakan proyek pusat dengan biaya Rp 1,6 milyard.
Tapi pembangunan proyek ternyata terlalu sering lari dari rencana semula. Tidak
mengherankan bahwa bukan saja pembangunannya tersendat-sendat yang dengan
sendirinya memberi peluang timbulnya kecurigaan masyarakat Aceh terhadap para
pelaksana pembangunan proyek. Dan kecurigaan inipun rupanya bukan tanpa alasan.
Dam induk yang belum lagi selesai dikerjakan sudah mulai retak-reak kembali. PN
Waskita Karya yang di tunjuk pusat sebagai pemborong dicurigai sebagai telah
main-main dalam membuat campuran-campuran semen tidak sebagaimana mestinya.
Order-order jumlah sak semen yang dibuat oleh Ir Mulyana, pimpinan pelaksana di
lapangan, kepada PN Waskita Karya, konon selalu tidak cocok dengan yang di
datangkan. Dan selisihnya kadang terlalu menyolok.
Tentu saja sorotan
masyarakat tertuju pada PN Waskita Karya. Tapi lebih-lebih juga terhadap Ir
Mulyana sendiri. Masalah ini sudah sampai ketangan Kejaksaan Tinggi Aceh,
seperti yang diakui sendiri oleh Jaksa Tinggi Aceh. Baharuddin Lopa SH, kepada
TEMPO awal September kemarin. Ir Mulyana sendiri sedang berada dalam proses
pemeriksaan, dan "kalau cukup bukti-bukti, persoalan ini akan dibawa
kepengadilan", kata Jaksa Tinggi asal
Meskipun demikian
"jika memang telah terjadi penyelewengan-penyelwengan, ini tidak terlepas
dari pengawasan Kepala PU Aceh dan Gubernur, kata Baharuddin Lopa pula. Tapi
Kepada PU Aceh, T. Boestamam rupanya sudah memasang kuda-kuda atas kemungkinan
tuduhan bertanggungjawab dalam masalah ini. Kepada koresponden
Tapi mengapa biaya
proyek ini begitu besar? "Pada mulanya, proyek ini memang kurang
feasible", jawab Boestamam. Perhitungan yang tepat waktu itu menurut
Boestamam sukar dibuat, dan perhitungan hanya didasarkan pada pertimbangan
tehnis. Bagaimanapun, pembangunan proyek telah berjalan hampir tiga tahun dan
menurut Boestamam, sampai sekarang telah menghabiskan biaya Rp 850 juta. Dengan
biaya itu baru akhir tahun ini diharapkan proyek akan selesai 50%, sehingga
dapat mengairi sawah seluas 3.250 hektar dari 10.000 hektar kapasitas irigasi
jika proyek telah selesai. Tapi kapan selesainya, Boestamam belum bisa berkata.
Dewasa ini pengawasan keamanan proyek langsung berada di bawah Kodam. Dan
karena itulah "wartawan tak boleh masuk, kecuali kalau ada
MENJARING MODAL ASING
BANYAK
SUMBER DAYA ALAM DI ACEH YANG BELUM DIMANFAATKAN. ACEH PUN KINI MEMBUKA BAGI
INVESTOR DARI LUAR DAERAHNYA BAHKAN DARI LUAR NEGERI. SEBUAH KONGSI DARI 5
PERUSAHAAN ASING TELAH MENYETUJUI KONTRAK. RU DH ED 33/02 TA 721021 HA 46 SU
ACEH ; INVESTASI SS MODAL ASING ; ACEH (DI)
SETELAH
pemberontakan mereda dengan diterimanya missi Mardi di Aceh, orang mulai
berfikir bagaimana membenahi kembali rumahtangga daerah yang berantakan.
Sebagai pemikat hati para pedagang yang kebanyakan sudah pada hijrah ke
Bukan itu saja. Dari
persentase keuntungan barter yang harus disetor pada Pemda, berhasil dibangun
apa yang sudah lama jadi impian kaum terpelajar di Aceh: sebuah Universitas,
Syiah Kuala namanya. Dan selebihnya, digunakan oleh Otorita yang ditangani oleh
Muzakir Walad untuk memelihara kondisi jalan raya Kuala Simpang-Banda Aceh,
sehingga bis-bis dan truk-truk betah melintasinya dalam 3 hari.
Konfrontasi.
Tapi apa daya, sebab
politik yang berkuasa di masa itu tiba-tiba menghembuskan angin beku dalam
kehidupan perdagangan, dengan meletusnya Tritura tahun 1963. Barter
terang-terangan dengan
Segan
Suasana yang relatif
aman sementara teknokrat-teknokrat di Jakarta mulai berikhtiar menekan inflasi,
tidak serta merta memikat usahawan-usahawan berdarah Aceh pulang membangun
daerahnya. Bukan lantaran tidak sayang, tapi modal yang tidak seberapa besar
dan management perusahaan yang masih terbelenggu unsur-unsur suku; agama dan
keluarga sungguh tidak memungkinkan investasi besar-besaran. Dan propinsi yang
lebih luas dari Jawa Barat, miskin penduduk dengan hutan-hutan yang masih
perawan itu, bukan pasaran, yang ideal bagi barang-barang konsumen. Kebun-kebun
karet yang tidak begitu luas sudah habis disadap oleh dua pabrik karet bongkah
(crumb rubber) milik Firma Atjeh Kongsi dan Firma Murni Teguh. Ditambah dengan
sumur-sumur dan kilang-kilang minyak serta beberapa pabrik kaliber teri,
habislah sudah seluruh angkatan kerja terserap di Aceh. Padahal dari
penelitian-penelitian, pendahuluan yang dilakukan oleh Aceh Development Board
dan Universitas Syiah Kuala sempat diketahui, bahwa masih banyak isi perut
bumi, hutan dan perairan Aceh yang belum sempat digarap diluar 16,6 juta barrel
minyak yang ditimba Pertamina dari sumur-sumur bor Aceh setiap tahun. Lantas
apa daya kalau putera-putera Aceh sendiri segan memanfaatkan karunia Tuhan itu?
Itu sebabnya kepala-kapala pemikir yang bercokol dalam Badan Perencana
Pembangunan Aceh itu sampai pada kesimpulan: perlu transfusi modal dun
teknologi dari luar. Kalau perlu dari luar negeri, kalau hanya dengan demikian jurang
keterbelakangan propinsi no. 1 di
Serambi Mekkah
Uluran tangan
Pemerintah, yang berbarengan dengan disyahkannya Undang-undang PMA dan PMDN,
segera dimanfaatkan oleh T.D. Pardede. itu pengusaha kaliber kakap yang gemar menendang
bola. Kali ini usahanya bukan menenun benang menjadi kain, tapi menjaring udang
di perairan Lhokseumawe, mendinginkannya dalam pabrik cold storage lantas
mengekspornya ke Jepang. Dan yang menarik di mata orang Aceh bukan orang Batak
yang berperanan dalam usaha Pardede itu, melainkan saudara senegerinya juga.
Ternyata bahwa dalaln soal mencari pengganjal perut, orang Aceh tidak terlalu
peka terhadap perbedaan agama atau suku, asal kedua soal itu tidak
diungkit-ungkit.
Meskipun modal dan
kemampuan terbatas, bukannya tidak ada hasrat pengusaha Aceh sendiri, membuka
rimba belantara di negerinya: Misalnya Bayban Company, eksportir kopi Aceh yang
sedang mengurus pembentukan kongsi dengan pengusaha dari Jepang. Tapi sementara
pengusaha dua bangsa ini masih asyik mencari konsesi, bulan Juli yang lalu
sudah ditandatangani kontrak kerja-sama antara Pemerintah dengan PT Aceh
Minerals Indonesia, suatu perusahaan multinasional yang melibatkan 5 perusahaan
pertambangan dari Jepang, Australia & Amerika. Kongsi 5 perusahaan asing
ini, berniat menoreh dun membedah kulit bulni Aceh, mencari harta karun yang
masih terpendam. Berapa tinggi nilai harta terpendam itu, dan berapa besar
umpan yang harus disediakan masih belum jelas meskipun nampaknya tidak serumit
proyek Asahan.
MERENTANG NADI EKONOMI
UNTUK
MEMBANGUN LANDASAN EKONOMI DI ACEH, SASARAN PEMBANGUNAN JANGKA PENDEK
DIFOKUSKAN PADA MEMBANGUN PRASARANA. SEJUMLAH JALAN NEGARA DAN JALAN PROPINSI
DIBUAT. PELABUHAN PUN AKAN DIBUAT. RU DH ED 33/02 TA 721021 HA 48 SU ACEH ;
JALAN RAYA SS PEMBANGUNAN JALAN ; ACEH (DI)
SEMENTARA
kereta api sedang jalan, orang bisa melompat turun, kencing sebentar dan
bersuci dengan daun lantar melompat lagi ke atas gerbong meneruskan perjalanan.
Ini bukan isapan jempol, tapi sungguh-sungguh terjadi di Aceh di mana kereta
api hanya mampu merangkak 25 Km per jam. Tidak aneh, sebab seluruh onderdil,
rel, gerbong dan lok yang ada kecuali 8 lok diesel mini sumbangan Frans Seda
dan 10 lok pampasan dari Jepang masih warisan ASM (Atjehs Staatsspoormaatschappij)
se abad yang lalu. Sementara tahun berganti tahun, sudah lama kereta api tidak
menjadi alat angkutan darat yang terpenting di Aceh. Seperti dikatakan Kepala
PNKA Eksploitasi Aceh, M, Djunaed yang hanya mampu mengumpulkan uang karcis 2 juta
rupiah tiap bulan, "sekarang saingan datang dari jalan raya".
Maksudnya: bis, trek dan mobil-mobil lain.
Keriting
Keadaan jalan-jalan raya
dan jalan propinsi juga tidak berbeda banyak seperti ketika ditinggalkan
Belanda, yang membuatnya semata-mata untuk mengangkut serdadu. Begitu juga
jaringan kereta api. Itu sebabnya yang terbaik hanyalah jalur-jalur sepanjang
pesisir Timur, yang menghubungkan Banda Aceh dengan
Empat tahun berlalu,
tapi wajah Aceh tetap belum banyak berubah. Gubernur Aceh sendiri kalau mau
melawat ke Aceh Tenggara, lebih senang terbang dulu ke Polonia, kemu
Djalawe Tersendat-sendat
Dari ratusan kilometer
jalan negara dan jalan propinsi, prioritas pertama diberikan pada jalan poros
Banda Aceh sampai perbatasan Aceh-Sumatera Utara. Namun yang kini sudah licin
betul baru 40 Km dari tapal Batas sampai Sungai Raya, seperti licinnya
jalan-jalan di
Ir Komar, pimpinan
proyek yang kini sudah pindah ke Jawa menyalahkan alam: "Si Djalawe
tersendat-sendat karena daerah ini selalu dilanda banjir".
Kalau atasan itu betul,
lantas bagaimana pengawasan aparatur PU setempat "Proyek Djalawe termasuk
proyek khusus dan urusannya langsung ke-Departemen PUTL", ujar T.
Boestaman, kepala PU Propinsi. Aceh. Pembangunan 10 Km jalan raya antaea Bireun
ke Takengon di Kabupaten Aceh Tengah, juga merupakan proyek Pusat tapi sudah
sia diaspal akhir September kemarin. Sebab lancarnya proyek ini menurut
Boestam, karena "yang mengerjakannya orang daerah sendiri". Kalau ada
kekeliruan, si pemborong langsung bisa dijewer. Yang demikian rupanya tak bisa
dilakukan terhadap Waskita Karya atau Nindia Karya. Di samping itu seperti
kasus retaknya dam induk Proyek Irigasi Kreung Jreue yang beranggaran Rp 1,6
milyard dan kini ada di tangan Kejaksaan Tinggi Aceh - sering ka rencana dibuat
tergopoh-gopoh, baru kemu
Madjid vs Emil
Sementara
pejabat-pejabat daerah masih sibuk mengusut berbagai penyelewengan dan rencana
yang tambal sulam seperti juga pabrik gula Cot Grek yang sampai kini belum
sempat berproduksi, BPPA yang diketuai oleh profesor Madjid Ibrahim sudah
melangkah lebih jauh. Sudah berkali-kali ekonom itu minta pada Bappenas, agar
Aceh diberi biaya pembangunan sebua pelabuhan yang memadai. Usul ini di perkuat
oleh wakil ketua BPPA, lbrahim Hasan MBA yang juga menjadi pimpinan KP4BS
(Komando Pelaksana Pembangunan Proyek, Pe1abuhan Bebas Sabang). "Kalau
Sabang dibiarkan berkembang, terutama daerah-daerah pesisir Barat Sumatera
bagian Utara akan hidup". Bahkan dalam Kongres ISEI angkatan Sarjana
Ekonomi
Emil Salim ternyata
tidak sependahat dengan rekannya, yang juga lulusan FE-UI, Menurut Emil, Aceh
sudah dapat berkembang dengan memanfaatkan pelabuhan Belawan di Sumatera Utara.
Dengan nilai ekspor yang mencapai 170 juta dollar AS tiap tahun di mana hanya 3
juta berasal dari. Aceh potensi pelabuhan Belawan jauh mengungguli ekspor semua
pelabuhan Aceh yang seluruhnya bernilai 13 juta dollar, alias kurang dari 10%
ekspor Sumatera Utara. Karena itu Bappenas memandang biaya pembangunan satu
pelabuhan di Aceh sebagai pemborosan. Dan pendapat Ibrahim Hasan yang
memperkuat usul ketuanya, dibantah pula oleh drs Hariri Hady, kepala Biro
Perencanaan Pembangunan Regional & Daerah Bidang Ekonomi Bappenas.
"Kedudukan pelabuhan Sabang sangat tergantung pada daerah belakang
(hinterland) yang bisa dicakupnya", kata Hariri pada TEMPO. Sekalipun daerah
Sumatera Barat dapat dicakup dalam jaringan ekspornya, seluruhnya baru
berjumlah 25 juta dollar, tetap jauh ketinggalan dari pada Belawan. Belum lagi
keadaan jalan-jalan di pesisir Barat Aceh terus ke Selatan, jauh lebih, jelek
dari pada jalan raya Banda Aceh sampai
BPPA tampaknya memang
belum berputus-asa. Sementara ini sebuah team survey ITB sedang meneliti
kemungkinan pembangunan pelabuhan di pantai Kreung Raya sebelah Timur Ulee
Lheue, di mana penyelundup-penyelundup dari Sabang sering menjual barang.
Tempat itu merupakan teluk yang dalam, dan airnya tenang sepanjang tahun.
Berapa besar biaya pembangunan pelabuhan itu dan dari mana sumbernya, belum
diketahui dengan pasti. Tapi ada kemungkinan, kerja sama seperti yang pernah di
rintis di Ulee Lheue antara KP4BS, Pertamina, Pemda Aceh dan PU akan di ulangi
lagi. Waktu itu, ada niat ke-4 instansi itu untuk memperbaiki dan membangun
pelabuhan Ulee Lheue agar keramaian perdagangan bebas di pelabuhan Sabang dapat
dimanfaatkan. Untuk memperdalam alur pelabuhan Pertamina sudah mendatangkan
kapal keruknya, tapi kemu
Joint Planning
Hasrat membangun
pelabuhan-pelabuhan Aceh seperti tercermin dalam 63% anggaran rutin yang habis
untuk itu, tidak luput dari keinginan menikmati hasil keringat sendiri. Selama
ini, dengan ketergantungan Aceh pada pelabuhan Belawan, keuntungan ekspor itu
terutama tersedot ke kas Pemda Sumut. Kecuali segelintir pajak yang disetor
perusahaan-perusahaan eksportir Aceh yang ada di
Bappenas bukannya tidak
melihat kepentingan yang tersembunyi di balik hasrat Aceh memiliki pelabuhan
yang dapat
REAKSI & ASIMILASI
TENAGA
KERJA DI ACEH SANGAT LANGKA. PERNAH DIDATANGKAN SEJUMLAH TRANSMIGRA DARI
JA-TENG TAPI GAGAL. MASYARAKAT SETEMPAT MENGANGGAP, TRANSMIGRAN ITU MEMBUAT
BASIS KOMUNIS. TRANSMIGRAN LOKAL BERHASIL. RU DH ED 33/02 TA 721021 HA 48 SU
ACEH ; TENAGA KERJA ; TRANSMIGRAN SS ASIMILASI PENDUDUK ; ACEH (DI)
TENAGA
kerja. Bahkan itupun masih kurang di propinsi paling ujung pulau perca.
Sementara modal teknologi dan management modern perlu diimpor dari luar
problema umum di seuruh
Blang Peutek
Persoalan transmigrasi
memang tidak semudah menuang air dalam gelas kosong: Lepas dari biaya dan
sarana untuk menyeberangkan mereka dari Jawa ke pucuk Utara Sumatera, bagaimana
sikap penduduk ash terhadap mereka yang baru datang? Seumpama ada gejala-gejala
kurang enak dari fihak tuan rumah, di mana letak ketidak-cocokan? Tuan rumah
yang kurang ramah, atau para tetamu yang kurang tahu diri? Satu contoh
misalnya.
Tahun 1962 Aceh pernah
menampung sejumlah 99 keluarga di Blang Peutek, atas prakarsa Pemerintah:
Proyek ini boleh dibilang gagal, dan sebabnya tidak sederhana.
Asimilasi
Kendati hal-hal seperti
di atas tidak mustahil terulang kembali, ada juga kisah-kisah sukses
transinigran-transmigran yang sudah menjadikan Aceh kampung halamannya yang
kedua. Misalnya transmigran-transmigran yang dijumpai TEMPO di desa Saree, yang
boleh dibilang sudah berbaur dengan penduduk asli. Soalnya, dengan paspor agama
yang sama dan kesediaan menghormati adat-istiadat penduduk, berhasillah
pemuda-pemuda Jawa yang masih perjaka mempersunting gadis Aceh sebagai
isterinya, dan proses asimilasipun terjadi. Sampai-sampai dalam soal politikpun
sementara keluarga transmigran ini bersedia menempelkan tanda gambar PSII di
dinding rumahnya, menjelang Pemilu tahun lalu. Di samping itu, daerah Saree
yang terletak di kaki gunung Seulawah merupakan daerah pembibitan cengkeh yang
subur yang langsung ditangani Pemda: Daerah safari yang mengepung gunung itu,
kini telah dirubah menjadi daerah peternakan yang subur.
Membabat Hutan
Beberapa kisah sukses
itu entah berapa % dibandingkan dengan yang kurang berjaya membuat Muzakkir
Walad tambah mantap niatnya, mendatangkan 200.000 transmigran ke wilayahnya.
Sebab selama ini, murahnya tenaga kerja selalu menjadi bahan reklame Pemerintah
mengundang penanaman modal dari manca negara: Dan Aceh tidak mau jadi perkecualian.
Calon-calon daerah
penampungan dalam jangka dekat: 12 ribu hektar tanah pertanian di daerah Aceh
Selatan dan Aceh Tenggara, yang memang terkenal sebagai kantong beras. Tahap
berikutnya: dibutuhkan berpuluh-puluh tenaga kerja untuk membabat hutan di
kawasan Aceh Barat dan Aceh Selatan, kalau pemegang-pemegang HPH sudah mulai
beraksi.
RUMAH PEMURAH
MASJID
BAITURRAHMAN DI BANDA ACEH DIDIRIKAN OLEH SULTAN ISKANDAR MUDA. MASJID ITU
PERNAH DIBAKAR OLEH BELANDA KARENA MENJADI MARKAS PERLAWANAN TERHADAP BELANDA.
DIBANGUN KEMBALI OLEH BELANDA TH 1877. RU ILS ED 36/02 TA 721118 HA 28 SU
MASJID SS BANDA ACEH (DI)
SUDAH
melihat-lihat Masjid Raya Baiturrahman? "Pertanyaan seperti itu selalu
terdengar dari mulut para resepsionis kepada tamu-tamu di hotel-hotel Banda
Aceh. Masjid Raya di
Pohon Mahoni.
"Rumah Tuhan yang Pemurah" - itulah arti Baiturrahman -yang menjadi
sebagian kebanggaan 60.000 penduduk Bands Aceh, dulunya" didirikan oleh
Sultan Iskandar Muda pada 1092 Masehi. Sudah barang tentu wajah pertama waktu
ia lahir jauh berbeda dari wajah seorang. Searang ia kelihatan lebih genit,
sungguhpun keagungan sebagai rumah suci tidak turut hilang bersama sirnanya
keaslian sang bentuk: Itu Rumah Tuhan, pada zaman perjuangan Aceh melawan
Belanda pernah dijadikan markas menyusun rencana perlawanan. Akibatnya setelah
Belanda tahu bahwa bukan cuma kegiatan sembahyang terdapat di
Soekarno. Pada mass A.
Ph. van Aken pada 1935, di bawah, pimpinan, pelaksana Ir M.Tahir masjid ini
diperluas lagi. Perluasan ini menghabiskan biaya 135.000, Hasilnya: kubah yang
semula cuma sebuah menjadi tiga buah. Ketika Mayor Jenderal T. Hamzah Bendahara
menjadi Panglima Kodam I Iskandar Muda, dihiaslah Baiturrahman dengan
lampu-lampu neon, mercury serta kolam dengan lampu warna-warni. Tapi dengan
adanya reaksi yang menyebut kelap-kelip masjid itu seakan bersuasana
klab-malam, dengan cepat digunduli kembali itu lampu-lammpu oleh Hamzah - yang
konon mengeluarkan biaya dari kantongnya sendiri. Toh sekarang neon-neon itu
tak urung bermunculan kembali dan menghiasi pagar-tembok yang mengelilingi
masjid. Hanya bedanya, sekarang neon-neon itu tak berwarna-warni. Jadi tentunya
tidak seperti klab-malam, begitu.
Di zaman Ali Hasyrni
masih duduk di kursi Gubernuran, sang kubah yang-bertiga itu sempat pula
bertambah dua hingga limalah, sekarang jumlahnya. Konon kedua kubah yang
berdiri di zaman, Soekarno itu punya hikayat yang lumayan juga. Untuk mendapat
pembiayaan, berkatalah Hasymi kepada Soekarno: "Falsafah negara kita
Pancasila. Tapi kubah Baiturrahman cuma tiga". Dan Soekarno yang memang
tertarik kepada falsafah apalagi kepada Pancasila terkait jugs hatinya. "Cepat
bikin dua kubah lagi", katanya sambil teken cek. Begitu cerita yang
menjalar di luar. Benar atau cuma lelucon, tak begitu penting dikaji-kaji.
MENGAWETKAN ACEH
JUMLAH
KEBUDAYAAN DI ACEH CUKUP BANYAK. USAHA UNTUK UNTUK MELESTARIKAN PERNAH
DILAKUKAN A. HASJMY DALAM PEKAN KEBUDAYAAN ACEH I. USAHA SERUPA AKAN DILAKUKAN
GUBERNUR, DALAM PEKAN KEBUDAYAAN ACEH II. RU DH ED 26/02 TA 720902 HA 21 SU
ACEH ; KEBUDAYAAN SS PEKAN KEBUDAYAAN ACEH KE-2 ; ACEH
KALAU
Gubernur Muzakkir Walad mencemaskan lenyapnya perbendaharaan kebudayaan
daerahnya sendiri seperti diucapkannya pada pelantikan Panitia Pekan Kebudayaan
Aceh ke-II yang berlangsung 20 Agustus-2 September kemarin konon bukan lantaran
rakyat Aceh tak berkehendak mengawetkannya. Tapi, seperti sering disebut: mereka
tak sempat. Orang tahu, penduduk ujung Sumatera itu hampir selamanya berada
dalam perang dan kerusuhan. Maka jangankan mengurus barang seni-menyeni,
pembangunan daerah sendiri masih tercecer.
Setidak-tidaknya sampai
beberapa waktu yang lampau, usaha kebudayaan yang, masih terhitung aktif
hanyalah yang menyangkut segi-segi keagamaan seperti zikir dalam bentuk-bentuk
"yang tidak resmi ibadah" dan hikayat-hikayat. Dalam hubungan itu
perlu pula disebut pengaruh sebagian ulama jang secara tak langsung memberi andil
dalam hal mundurnya seni-menyeni. Terhadap tari Seudati misalnja. Seudati Agam,
yang di masa kemarin secara tradisionil ditarikan semalam suntuk dan yang
melodi maupun geraknya justru lahir dari warisan kebudayaan mistik Islam tak
urung dinyatakan membawa maksiat. Sebab memang benarlah, disamping syair-syair
jang bertemakan pujaan kepada Nabi ala Barzanji dan nasihat-nasihat keagamaan,
biasanya masuk pula tema-tema yang dinilai "romantis". Itu biasa
dilontarkan dalam pertandingan-pertandingan antar grup yang masing-masing
dipimpin seorang Aceh (cara mereka menyebut syekh) lewat teka-teki, yang tak
ayal bisa menjurus kearah "yang itu-itu" - dengan kata lain bisa
mendjadi begitu jorok. Lagi pula anak seudati yang nyanyi solo biasanya pemuda
tampan dan bergigi emas konon tak jarang menyebaban perawan-perawan mabuk
kepayang. Maka diserukan hotbah di banyak tempat: seudati, haram. Itu baru
seudati pria. Belum lagi Seudati Inong, yang dilakukan cewek-cewek di kawasan
Aceh Selatan.
Tak heran bila pada masa
pendudukan Jepang misaInya, walaupun tarian itu dipaksakan juga di pasar malam,
kegiatannya di kampung-kampung dilakukan jauh dari kompleks penduduk jadi
semacam lokalisasi. Ini terutama teijadi di Aceh Besar, di mana Kutaraja
berada. Meski begitu tidak berarti semua unsur kesenian tak sempat lolos. Dabus
misalnya. Permainan memukul gendang dan serunai serta nyanyian ini, dimana sang
pawang menusuk-nusuk dirinya dengan pisau, masih ada sampai sekarang. Sudah
tentu buat keperluan semacam itu digunakan azimat demi azimat, dan konon pula
tak jarang terjadi seorang pawang yang kebal, mengayunkan pisau ke dada dan
tiba-tiba darah muncrat ke mana-mana. Dalam keadaan seperti itu, konon, seorang
pawang lain yang lebih kuat "ilmu"nya sedang membaca jampi-jampi buat
merontokkan seluruh mantera yang sedang menguasai diri pawang yang lagi main.
Itulah sebabnya: Bisa diduga permainan seperti itu seperti juga tari keris di
Kepala gondrong. Syahdan
seorang bernama A. Hasjmy, yang masuk dalam deretan pengarang 20-an, naik tahta
di kursi Gubernur. Buat mempertahankan peninggalan nenek moyang itu Hasjmy
lantas mengadakan Pekan Kebudayaan Aceh I pada 1958 dan mengangkat kembali
banyak bentuk-bentuk kesenian rakyat yang sebagiannya sudah hampir lenyap dari
ingatan. Lantaran orang ini juga seorang kyai (sekarang Dekan Fakultas Da'wah
IAIN), maka secara besar di negeri tengku-tengku itu berhasil juga ala
kadarnya. Dan muncullah beberapa atraksi yang konon oleh sebagian kaum muda
sendiri sudah tak begitu dikenal dan yang oleh kaum tua ternyata tak begitu
ditentang meskipun tidak selengkap hazanah seperti disebut Snouck Hurgronje dalam
De Acheher.
Adapun Pekan Kebudayaan
Aceh II baru-baru ini adalah tanda gugahan kembali dari Gubernur Muzakkir Walad
yang dikenal energetik dan banyak inspirasi. Orang mengingat bahwa awal 1971
tokoh ini mengundang Rendra dan anak buahnya, dan sambil memperkenalkan
kepala-kepala berambut gondrong itu ke beberapa penjuru, mencoba pula menarik
selera kaum yang muda-muda. Setelah jalan-jalan di ibukota propinsi jadi
benderang oleh neonisasi, agaknya lantas difikir sudah tiba waktunya mengulang
kegiatan besar yang sudah berhenti selama 14 tahun itu. Dalam peresmian panitia
bulan Maret dahulu Gubernur tak lupa melontarkan kekuatiran, bahwa
putera-putera daerah dimasa datang tak lagi akan mengenal kebudayaan
nenek-moyang mereka. Hikayat-hikayat misalnya (seperti hikayat perang sabil
yang salah-sebuah kumpulan syairnya diterjemahkan A. Hasjmy baru-baru ini dari
karangan Tengku Panto Kulu) bukan tak mungkin akan lenyap. Patut pula diingat
bahwa produktifitas penduduk daiam barang-barang yang ada hubungannya dengan
seni-menyeni pun makin lama makin menjadi begitu langka. Pertenunan sutera
misalnya dengan motif yang banyak menggunakan warna menyala dan dulu terkenal
ke mana-mana sekarang disebutpun jarang. Bukan pula berita baru bila terdengar
keluhan tentang sukarnya mencari pakaian adat sekarang ini, bila sesuatu
upacara kecil-kecilan akan berlangsung.
Pembesar putih. Tak
dimungkiri, menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan serupa itu bukan tak ada
hubungannya dengan motif lain yang maklumlah membayang dan menjanjikan satu
keuntungan besar, baik kongkrit maupun hayali. Yakni, disamping masalah-masalah
ekonomis lain: promosi pariwisata. Gubernur barangkali tak tahan pula buat
memperkenalkan jalan-jalan yang dahulu bukan saja rusak, tapi pernah hilang
yang sekarang sudah rada lumayan itu. Apalagi bila diingat bahwa panitia telah
pula mencantumkan acara adu sapi yang sudah tentu lebih banyak mengandung unsur
sadisme dibanding seni.
Meski begitu, bukan tak
mungkin rasa memiliki dosa-dosa kebudayaan yang agaknya bersarang pada orang
Aceh generasi ini hendak ditebus dengan kreasi-kreasi ala kadarnya. Adapun rasa
bersalah itu boleh diberi alasan bila orang memandang peninggalan-peninggalan
kesejarahan yang sekarang tidak karuan nasibnya. Gapura-gapura dan
monumen-monumen yang dulu berdiri di beberapa tempat, sekarang entah di mana.
Di satu kuburan Belanda dahulu banyak berdiri patung-patung para pembesar orang
putih yang begitu anggun. Itu barang-barang peninggalan sekarang tak ada lagi:
baik oleh semangat patriotisrne maupun Oleh hukum agama versi para ulama
patung-patung digempur beramai-ramai. Di ruang depan gedung Kodam I Iskandar
Muda di Banda Aceh, terpampang bendera dan panji-panji la-ilaha illal-Lah yang
dulu dipakai Sultan melawan Kompeni. Mengapa tidak ditaruh di museum'?
Saya pak! Tapi keadaan
museum sendiri seperti museum-museum lain di banjak ternpat di
Tapi syukurlah para
pejabat bukan tidak tahu ketimpangan-ketimpangan serupa itu, mereka bahkan bisa
menunjukkan lebih banyak lagi. Mereka juga bisa menceritakan misalnja:
bagaimana dulu Panglima Kohler lari ke Masjid Raya dan menjadikan halaman
masjid sebagai benteng. Tapi seteiah para ulama memutuskan boleh menyerbu
halaman masjid dan membunuh itu "kapir penjajah", gugurlah Jenderal
itu di
ACEH: MEMBUKA WAJAH DAN TUBUH
ACEH
MENYATAKAN MEMBUKA DIRI DENGAN DUNIA LUAR. BANYAK SUMBER DAYA ALAM BELUM
DIMANFAATKAN. INVESTASI ASING DIHARAPKAN. PEMBANGUNAN PRASARANA UNTUK MEMBANGUN
EKONOMI DITITIKBERATKAN. RU DH ED 33/02 TA 721021 HA 44 SU LAPORAN UTAMA SS
ACEH ; DAERAH
TURIS-TURIS
boleh datang ke Aceh. Tidak perlu pakai kain sarung atau kopiah. Percayalah,
penduduk Aceh tidak sejahat dibayangkan orang untuk memeriksa bagian bawah
tubuh para pendatang, apakah mereka ada disunat atau tidak". Ucapan
bergaya sembrono dari Kepala Perwakilan Pemerintah Daerah Istimewa Aceh di
Medan bernama Ibrahim Hadji, boleh mewakili keinginan rata-rata pejabat Aceh
dewasa ini. Semacam undangan ke pada "dunia luar" memang sudah agak
lama diteriakkan. Pekan Kebudayaan Aceh ke-II misalnya, yang berlangsung selama
dua minggu di Banda Aceh sampai awal September kemarin, dibuka dan ditutup oleh
Menteri Budiardjo dan Nyonya Tien Soeharto serta dikunjungi banyak tamu-tamu
luar daerah, dari satu segi bisa pula
Perang & Generasi
Lagi pula para pejabat
bukan tak punya alasan untuk menggunakan biaya Rp 50 juta. Pidato panjang tapi
bijak dari Gubernur Muzakkir Walad sehubungan dengan pesta tersebut boleh di
tolerir di sini untuk mendapat pemberitahuan apa yang menjadi motif.
"Proses akulturasi amat lambat berjalan di daerah Aceh", itulah yang
jelas. "Apa yang baik dari luar sukar merembes ke daerah ini, sedang apa
yang indah dari nilai budaya Aceh tiada dapat di hayati dan diresapi orang
luar". Padahal "suatu nilai budaya yang kurang mendapat sentuhan dari
luar dan kurang menampakkan wajahnya, akan membeku dan makin lama makin sulit,
takut, serta menjadi tabu dijamah orang". Tapi benarkah masalahnya sekedar
masalah kebudayaan dalam arti tontonan-tontonan kesenian? Sebuah seminar
tentang "Faktor Budaya dalam Pembangunan Propinsi Daerah Istimewa
Aceh", diselenggara kan di tengah Pekan Kebudayaan sambil mengisi acara
Dies Natalis ke-XI Universitas Syah Kuala, seperti dinyatakan Prof. Dr.
A.Madjid Ibrahim Rektor Unsyiah dan Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Aceh (BPPA):
harus di hargai sebagai salah-satu cara penting meskipun cukup lumrah
"untuk mengira-ngira apakah target-target pembangunan yang hendak dicapai
sesuai dengan apa yang dihayati masyarakat sendiri. Untuk mengetahui
faktor-faktor apa yang telah mempengaruhi alam fikiran mereka, value system
mana yang dapat memberi arti bagi kehidupan dan kepuasan mereka".
Memang sudah diketahui
bahwa wajah Aceh, seperti diucapkan juga dalam Seminar, adalah wajah Islam.
Tapi wajah Islam bukanlah satu bila diingat bahwa daerah-daerah lain semacam
Sulawesi Selatan atau Jawa Timur misalnya, yang juga dikenal, punya wajah
Islam, toh tidak sama dalam warna. Karena itu pengenalan identitas diri sendiri
sebagai sekelompok penduduk yang sedang di usahakan membukanya, sepantasnya di
lakukan dengan melihat watak yang dipandang menentukan. Siapakah sebenarnya
orang Aceh? Benarkah mereka sekedar sekelompok 2 juta penduduk yang hanya punya
"kebudayaan sunat" dan "kebudayaan perang?" Dan salahsatu
kesimpulan. Seminar lantas bicara tentang de Achehers ini sebagai kelompok
rakyat yang berada dalam satu kebudayaan yang, disamping sudah tentu bersifat
agraris tradisionil dan dikatakan berwatak ksatria, juga punya kecenderungan
seragam, mencari harmoni, bersikap terbuka, dan lamban alias tidak progresif.
Sifat lamban ini tentulah terbayang bisa satu-dua orang tokoh misalnya
mengeluh: "Percuma saja pemerintah berusaha membangun irigasi yang baik,
bila rakyat toh merasa cukup memetik panen sekali setahun dan bukan dua
kali". Adapun sifat-sifat lain, setidak-tidaknya bagi orang yang kelewat
mempercayai kesenian tradisionil sebagai pelahiran watak asli, konon bisa
dilihat dari berbagai tari-tarian tradisionil seperti yang dipertunjukkan
dengan lengkap pada PKA ke-II kemarin: umumnya tari-tarian itu menunjukkan
sifat-sifat riang, perkasa namun santai, dan terbuka berbeda dengan misalnya
tarian tradisionil Jawa yang cenderung kontemplatif dan tertutup, ataupun Bali
yang dinamik dan misterius. Namun, mengapa orang Aceh dikenal dari jauh sebagai
sekumpulan orang fanatik dan liat? Sehingga Badan Perencana Pembangunan Aceh
(BPPA) yang lebih dikenal sebagai Aceh Development Board atau ADB pada waktu
membuat perencanaan Repelita II untuk Propinsi membuat kesimpulan bahwa:
"masyarakat Aceh adalah masyarakat yang hidup dalam kebudayaan
terisolir"? Semua pejahat dan intelektuil di
Ethos Perang & Royan
Revolusi
Dan semua orang tahu hal
itu. Pada masa kejayaan Sultan, Aceh-dikenal sebagai negeri mercusuar ilmu.
Perguruan-perguruan tinggi dan dayah-dayah yakni pesantren-pesantren luhur
merupakan sentra keilmuan yang relevan dengan tuntutan masa itu, dan memberi
aspirasi kemajuan rakyat sehingga kebesaran Aceh menandingi kekuatan Portugis
dan Belanda: Lantas sejarah perang berlangsunglah: sejak, kedatangan Belanda
pada 27 Maret 1873, sampai harus dibilang saat penyerahan Kedaulatan di
pertengahan abad ke-20. Setelah beberapa saat aman, negeri itu lantas dirambah
kembali oleh Perang Cumbok (ulee balang yakni kaum feodal lawan kaum tengku
alias ulama). Ditingkah oleh pemberontakan yang pecah pada September 1953 yakni
setelah negeri itu, yang pada 1950 sudah merupakan satu propinsi, beberapa saat
kemu
Selesai kecamuk perang
yang paling akhir diperhitungkan bahwa penduduk Aceh hanya tinggal tidak sampai
satu juta. Inilah masa yang paling tragis. Janda-janda dan anak-anak yatim
terkurung dalam kehidupan sosial dan ekonomi- yang nestapa. Rel kereta-api
terputas-putus, jalan-jalan bukarr saja hancur tapi nyaris hilang. Kawat-kawat
telepon disentakan dari tiang-tiangnya dan bersamaan dengan ramainya penyelundupan,
dijual ke
Disamping ADB
Tapi royan revolusi,
cepat atau lambat harus surut kemasa lampau. Jika bedil sudah disimpan
(meminjam ungkapan Chairil Anwar) meskipun asap masih berkepul, mulailah usaha
merubah iklim. Panglima Komando Daerah Militer Aceh Letkol (sekarang Brigjen P)
Syammaun Gaharu bersama Pemerintah daerah dibawah Gubernur A.Hasymi (d/h
Hasjmy), melahirkan satu urgensi kerja dikenal sebagai Tri Karya Bhakti yang
antara lain menuntut pemberian otonomi yang luas. Sehingga, setidak-tidaknya
sebagai satu upaya psikologis, menyebabkan pemberian status Daerah Istimewa
untuk Aceh oleh Pemerintah Pusat pada 1959. Usaha pemantapan keamanan di
lanjutkan sampai kira-kira sepuluh tahun kemu
Tak pula bisa dilepaskan
dari usaha psikologis untuk menurut-sertakan aspirasi yang dalam dari rakyat
Aceh adalah dibentuknya Majlis Ulama pada Desember 1965, setelah Musyawarah
Alim Ulama se-Propinsi dengan pengesahan Panglima Ishak Djuarsa menyerahkan
pembentukannya kepada Pemerintah Daerah. Majlis ini, yang boleh dibilang
bertugas menaksir kemajuan kerohanian rakyat disamping merupakan pembimbing
formil mereka, seolah satu jembatan antara pemerintah dan penduduk. A.Hasymi,
Wakil Ketua MU, menyebut salah-satu fungsi Majlis ini sebagai pembina kerukunan
dalam bidang keagamaan dalam bidang mana rakyat sebenarnya secara langsung
berada di bawah wibawa tengku-tengku alias ulama-ulama "merdeka".
Sebagai tangan kanan Pemerintah bisa dilihat kerja MU lebih lambat dan lebih
kerap berhubungan dengan kepekaan dan sentimentalitas keagamaan rakyat
dibanding tangan kanan lain yakni BPPA alias ADB, yang dengan sengaja dibentuk
Pemda pada 1968 untuk memberi pertimbangan dan menyusun perencanaan pembangunan
daerah berikut pembiayaannya. Di bawah bayang-bayang BPPA dan MU itulah,
berdiri dua perguruan tinggi sebagai pencetak kader yang selama itu belum
sempat terfikir: Universitas Negeri Syah Kuala, 1962, dan IAIN Ar-Raniri, 1963.
Keduaduanya, bersama satu-dua sekolah lanjutan, perumahan dosen dan sebuah
pesantren luhur bernama Dayah Tengku Pante Kulu, berada dalam kompleks pelajar
dan mahasiswa Darussalam di Banda Aceh. Dan sekarang, bagaimanakah gambaran
problematik Aceh setelah di buka?
Dari MIN ke Lebai
Kebudayaan Aceh memang
bukan kebudayaan sunat. Di samping prestasi Pemda, lewat BPPA yang dikenal
energetik, satu-dua hasil materi MU misaInya koordinasi zakat untuk seluruh
wilayah lewat pemerintah, yang dinyatakan bare berjalan 50%. Di samping itu
gambaran sikap MU untuk beberapa hal aktuil bisa pula dilihat dari keputusannya
yang menarik tentang kesenian. Menjelang PKA-II, panitia khusus MU menyajikan
satu bahan pertimbangan yang tidak mau mereka sebut Fatwa yang kesimpulannya
antara lain: fungsi kesenian memang untuk kesenangan. Dalam memanfaatkan
kesenangan itu, pria dan wanita berhak sama. Seni itu sendiri adalah sesuatu
yang mubah (boleh-boleh saja), dan, bila ada sesuatu yang haram atau tak
disukai maka itu bdkanlah zat seninya, tapi ekses yang mungkin timbul dari
satu-dua jenis. Pada waktu-waktu tertentu, seperti saat hajat atau perayaan,
hukum mubah itu bahkan bisa baik menjadi mustahab (didorong oleh agama).
Namun, apabila kegiatan
kesenian di katakan bukan lagi merupakan problim, maka problim yang sangat
besar antara lain masalah pendidikan. Hasil survey Unsyiah misalnya,
dilangsungkan atas penugasan Bappenas bagi penyusunan rencana Pelita ke-II
Daerah, mencantumkan masalah ini sebagai problim pertama yang mendesak dalam
program jangka panjang. Ini tidak hanya menyangkut masalah dualisme antara
sistim MIN (Madrasah Islam Negeri) yang punya waktu belajar tujuh tahun dengan
SD yang hanya membutuhkan enam tahun dengan perbedaan kurikulum masing-masing
yang nantinya bisa menimbulkan jurang. Tapi lebih penting adalah kenyataan
bahwa 5070 anak-anak di Aceh memasuki sekolah agama. Yang dikuatirkan sudah
tentu bukan karena memasuki sekolah agama haram hukumnya. Tapi karena masalah
gagal sekolah (dropout) dalam saluran antara MIN dun (AIN jauh lebih mengerikan
di banding antara SD dan Unsyiah.
Not For Muslim Only.
Akan tetapi masih ada
masalah dasar yang mengundang perbedaan pendapat dalam kebijaksanaan pembukaan
daerah yang dinyatakan terisolir itu. Dan inilah masalah sangat populer: sejauh
mana pembukaan daerah dibolehkan mentolerir unsur-unsur yang
Suasana macam itu insya
Allah di anggap ideal untuk orang yang salih. Tapi bagi mereka yang sudah
terbiasa menghirup udara kota-kota nun metropolitan, baik salih maupun tidak,
keadaan itu bisa menimbulkan rasa sumpeg, bak rumah tanpa jendela, tanpa
variasi dun tunggal nada. Ia merupakan ciri-ciri
Falsafah Isolasi
tiasymi.
Maka berkatalah
A.Hasymi, yang tentu saja sejalan dengan para ulama, tentang "falsafah
isolasi": "Kami akan bangga bila kami di Aceh disebut terisolir
karena kami menolak judi, klab malam, mandi uap dan pijit-halus atau
sebangsanya". Sudah tentu ucapan itu dikeluarkan sambil mengingat bahwa
Aceh dari segi ekonomi memang harus dibuka. Masalahnya barangkali bagaimana
caranya melalui ranjau-ranjau, meskipun dengan itu pembukaan ekonomis bisa
dicap sebagai lebih sulit. Dan bila ranjau-ranjau ini tertanam dalam sikap
keagamaan yang menurut Majid Ibrahim dibentuk oleh pendidikan yang
indoktrinatif dun sempit, maka, seperti dikata kannya dalam Seminar Kebudayaan
yang lalu, "diperlukan pengajian kembali ketentuan-ketentuan agama Islam,
agar cara penganutan agama lebih rasionil". Itu memang bukan tidak
dikehendaki Oleh tokoh-tokoh dari Majlis Ulama. Hanya saja belum bisa dijamin
bahwa mereka akan 100% setuju dengan misalnya apa yang diucapkan Pejabat
Walikota Banda Aceh T.Usman Jacoub (baca: Yakoub): bahwa "kemajuan
masyarakat akibat ilmu dan teknologi merupakan air bah yang tidak dapat kita
rintangi. Yang penting adalah bagaimana menganalisirnya". Sebab dengan itu
Usman Jacoub, seperti banyak orang lain, bicara tentang segala fasilitas
kesejahteraan seperti yang
Tapi mimpi atau bukan
mimpi, selama stabilitas keamanan bisa
PAMERAN DI PINTU MEKAH
PADA
PEKAN KESENIAN ACEH DISELENGGARAKAN PEMILIHAN RATU DAN RAJA YANG BERPAKAIAN
ADAT DENGAN BAIK. TERPILIH ISMA DAN ZURAIDA SEBAGAI PEMENANG. SAMBUTAN
MASYARAKAT BAIK. RU ILS ED 29/02 TA 720923 HA 25 SU PAMERAN PAKAIAN SS ACEH
(DI)
BUKAN
latah. Bukan pula untuk mencari calon peserta pemilihan Ratu
Pemuncak. Kemeriahan PKA
II tidak berhenti di situ saja. Puncak acara yang lain, yang konon belum pernah
ada di tanah rencong ini: pameran pakaian. Di Jakarta orang sudah muak pameran
pakaian karena diadakan begitu banyak sebanyak seorang pecandu rokok mengisap
rokok. Tapi tontonan baru di Aceh ini tidak tanggung-tanggung: tiga malam
berturut-turut. Cara penampilannyapun berbeda. Dengan kekhasan daerah itu,
telah keluar 5 macam pakaian. Masing-masing pakaian-pakaian nasional, pesta,
kerja, sekolah agama dan sekolah umum. Nyonya Halimah Ali Bakri, Kordinator
Pelaksana pameran, berkata: "Minat cukup besar. Tapi setelah disebutkan
biaya harus dipikul sendiri, cuma 19 yang turut". Peserta sebagian besar
dari organisasi wanita dan para modiste.
Nyonya Halimah Ali
kiranya perlu menekankan berkali-kali bahwa pameran pakaian ini "bukan
untuk mencari Ratu, tapi hanya mencari pemuncak". Tapi apa sih arti
pemuncak? Konon sama jugalah dengan ratu. Hermintaty, salah seorang peragawati,
bahkan menyatakan lebih senang dipanggil ratu daripada pemuncak meskipun antara
kedua kata konon ada berbeda dalam hal "asosiasi". Sudah tentu
keinginan Hermintaty lumrah. Dalam kontes batik yang diikuti sekian puluh
peragawati di
Di Aceh sudah tentu
orang tak usah berharap bisa bertemu dengan model "pakaian" kulit
kelapa seperti rekaan Andi Nurhayati itu, ataupun model tanpa kutang. Apa yang
keluar sebagai pakaian malam di sini ini--yang sebagian besar memakai bahan
batik atau kain lain yang gemerlapan adalah model yang cukup tertutup di depan,
di punggung maupun bagian tangan. Potongan baju begitu sopan, walaupun satu dua
peragawati sudah ada yang berani melirikkan matanya yang kenes, di samping yang
malu-malupun tak kurang.
Bukan orangnya. Nanny
Farida Daud, dengan pakaian malam yang bernama Putri Malu serta pakaian
nasional telah keluar sebagai pemuncak. Mungkin hanya secara kebetulan, baju
yang dimenangkan Nanny hasil rancangan nyonya Halimah Ali Bakri sendiri.
Bahannya? "Dalam negeri. Jaitu songket Priangan dan tenun
WANITA-WANITA ACEH
PUTRI-PUTRI
ACEH DI LUAR DAERAHNYA BANYAK DISEBUT ORANG. MISALNYA. EARLY BRHAN ALI YANG
JADI RATU
SEMENTARA
rekan-rekannya yang masih jadi penghuni Serambi Mekah tidak razim bergerak
banyak, puteri-puteri Aceh di luar daerah kiranya lebih banyak disebut orang.
Early Burhan Ali walaupun belum pernah menginjak Aceh - telah jadi Ratu
Jakarta. Kini ada lagi Meutia Rachman Agus Hussein. Pandai membawakan bukan
tari Seudati Inong melainkan tari
Kini dia di Damaskus.
Fotonya mulai dimuat di beberapa majalah Arab karena dia mendapat ijazah dari P
& K nya pemerintah
SETELAH SAS-SUS
UNTUNGLAH
keja
Namun demikian bukan tak
ada sassus yang mendahului suasana tenteram begitu. Dan entah apa sebabnya,
Departemen Agama sendiri merahasiakan siapa siapa yang akan dilantik sebagai
Pejabat Rektor dan para Pejabat Pembantu Rektor. Baru ketahuan beberapa jam
sebelum acara, sehingga konon ada juga yang jadi kikuk, kaget karena tak
mengira akan dilantik - pakaian resmi yang tak lain stelan jas tentulah belum
pula di siapkan.
Akta. Sebetulnya Senat
Gurubesar dilingkungan Darussalam itu -- yakni kampus di mana antara lain IAIN
berada - sudah pernah mengadakan pemilihan calon Rektor serta
Pembantu-Pembantunya. Pada rapat bulan Agustus yang lalu seorang calon terpilih
dengan 14 suara di tangan - sedang yang lain hanya memperoleh satu suara. Tapi
entah mengapa hasil itu tak kunjung diwujudkan.
Maka sas-sus yang memang
bisa menimbulkan pertanyaan itu ditambah kellangan kepada peristiwa IAIN Sunan
Kalijaga Yogya yang lalu, telah membuat panitia pelantikan di Banda Aceh
berwaspada - sebelum akhirnya merasa aman. Dan disitulah kemu
SUKO SI PENANTANG
SUKO
BINARTO BERSAMA KAWAN-KAWANNYA BERHASIL MEMBUAT DAM DI SUNGAI KRUENG PASE, ACEH
UTARA. PADAHAL PROYEK ITU PERNAH DITANGANI OLEH SEJUMLAH INSINYUR DENGAN BIAYA
BANYAK TAPI GAGAL. RU DH ED 31/02 TA 721007 HA 19 SU ACEH UTARA ; BENDUNGAN
KRUENG PASE SS KONDISI BENDUNGAN KRUENG PAS ; ACEH UTARA (DI)
SEJAK
tahun 1935, sudah 6 kali proyek pengairan Krueng Pase gagal. Sungai itu
terletak di daerah Lho' Seumawe, Aceh Utara. Lebar dan dalam rata-ratanya
adalah 60 meter dan 1« meter, dan areal tanah sawah yang bakal direndamnya
tidak kurang dari 3.000 hektar. Memang di zaman Belanda dam jang dibuat di
Sampai muncul seorang
bernama Suho. Pangkatnya dalam kesatuan Ziron II/Korem Oll Lilawangsa adalah
kapten dan nama lengkapnya Sukobinarto. Ia bukan insinyur, cuma pernah mendapat
pendidikan zeni bangunan di
56 hari. Dengan beberapa
orang pekerja, berikut Lettu Rudy Rumangit dari Zeni pula--dan Yusuf Rambe,
dari PU propinsi Aceh, Suko bekerja bulan Nopember 1971. "Alat-alatnya
terdiri dari traktor tua 4 buah, disewa dari proyek gula Tjot Girek"
Abdullah Hanafiah meneruskan ceritanya. Dan hanya dalam waktu 56 hari dam
penutup dapat dibendung. "Tetapi yang paling berat adalah pada saat-saat
terakhir" kata Rumangit. Sebab, selama 2« jam dan tepat tengah malam
segala tenaga dan alat harus dikerahkan untuk membendung bagian tengah-tengah
yang paling deras walaupun sempit. Beberapa hari sebelum malam yang menentukan
itu, Suko dan kawan-kawannya telah mendengar kembali suara-suara dan penduduk
sekitar
Dan Sukobinarto bersama
kawan-kawannya berhasil. Jam 1 malam tanggal 1 Desember tahun itu seluruh
sungai telah terbendung. Memang Suko mengejar waktu secepat mungkin, karena dia
harus buru-buru menerima tugas untuk disekolahkan kembali di
Malaysia & Jepang.
Sepeninggal Suko melanjut sekolah, kawan-kawannya masih harus mengerjakan
saluran-saluran air menuju ke persawahan di 6« kecamatan Aceh Utara. Dan untuk
itu, petani di beberapa kecamatan telah menanam padi PB 8 dan C 4 sejak April
lalu. Tetapi sementara itu--di luar proyek bendungan Suko -- sebuah pintu air
dari anak-dam sedang terancam jebol karena tanahnya dilongsorkan banjir. Kepada
koresponden Zakaria M.Passe, seorang penduduk di
AYAHNYA AHLI ISLAM
PENYANYI
IVO NILAKRESHNA BERNAMA ASLI CUT FAUZIAH HANUM. IA ANAK TEUKU USMAN EL MUHAMMADY
PENGARANG BUKU ISLAMOLOGI DARI ACEH. IVO KINI NYANYI DI KLUB MALAM. AYAHNYA
PERNAH DIAJAKNYA KE
YANG
terkenal dari Aceh - selain Cut (baca: Tjut) Nya' Dhien bukan cuma Cut Zahara
Fonna, ibu "bayi ajaib" yang sudah menipu banyak orang. Tapi juga Cut
Fauziah Hanum. Dia ini puteri Teuku Usman el Muhammady, pengarang buku
Islamologi. Belum kenal juga? Yah, namanya yang lebih banyak dipakai ialah Ivo
Nilakrisna, penyanyi yang semenjak dua tahun ini tetap muncul di klab malam El
Ci Ci (baca: El Si Si). Sang penyanyi baru punya anak laki pertama dari suami
yang ketiga, yang diberi kenduri akhir September yang lalu.
Bagaimana seorang anak
perempuan dari penulis Islam asal Aceh bisa terlibat dengan klab malam? Ivo
dilahirkan dan dibesarkan di
KEMBALI KE "KUTARAJA"
IBU
MESKIPUN
sedjak tahun 1963 ibukota Atjeh setjara resmi bernama Banda Atjeh, tapi
achir-achir ini dalam masjarakat disana terlihat gerakan menggunakan namanja
jang lama: Kutaradja. Gerakan "kembali ke Kutaradja" ini tidak hanja
kian biasa dalam pertjakapan sehari-hari, tapi djuga diikuti oleh suratkabar
lokal Angkatan Bersendjata, Api Pantjasila dan Swadaya. Konsekwensi finansiil
jang merupakan buntut penukaran nama setjara sukarela tapi sangat bersemangat
ini, rupanja tidak dihiraukan sama sekali oleh mereka jang gandrung Kutaradja.
Begitu gandrungnja, hingga kalah dikatakan telah terdjadi kekatjauan pemakaian
dua nama sekaligus untuk tempat jang sama, agaknja tidak dilebih-lebihkan.
Malangnja orang tidak
dapat berbuat banjak, bahkan pemerintah daerah djuga tidak. Ini hampir sama
dengan apa jang terdjadi di
Nanti. Tapi mengapa baru
sekarang mereka tolak nama Banda Atjeh, dan mengapa dulu diam-diam sadja
menerima nama baru itu? Adakah dulu paksaan mengganti nama? Dan sekarang,
karena tidak ada sikap tegas pemerintah daerah, dapatkah diartikan pihak
penguasa setjara diam-diam merestui penggantian nama itu? Gubernur Atjeh
Muzakir Wallad, setjara hati-hati menjatakan bahwa baik dalam surat-surat resmi
maupun dalam kegiatan-kegiatan lainnja, pemerintah daerah Atjeh masih tetap
menggunakan nama Banda Atjeh. Dari keterangannja dapat disimpulkan bahwa iapun
menanggapi masalah ini setjara serius. Ia bahkan perlu menanjakan
kebidjaksanaan Pusat hanja mengenai hal jang satu itu. Dan Menteri Amirmachmud
jang ditanjai dengan sangat tenang mendjawab: "Nanti sadja dibitjarakan.
Pada saat ini masih banjak pekerdjaan lain jang harus diselesaikan".
Menteri Amirmachmud tahu
menentukan prioritas. Tapi sudah pasti kekatjauan pemakaian nama akan djalan
terus, disaksikan seluruh Atjeh, termasuk kedalamnja Ali Hasjmy, bekas Gubernur
Atjeh jang punja gagasan mengganti nama Kutaradja mendjadi Banda Atjeh dan
berhasil pula melaksanakannja. Bekas Kepala Daerah jang djuga adalah penjair
dan pengarang angkatan Pudjangga Baru ini, sekarang dekan Fakultas Dakwah
Publisistik IAIN Djamiah Ar Raniry, kembali mengulang pendapatnja bahwa nama
Kutaradja adalah "pemberian kolonial Belanda jang ingin memetjah-belah
rakjat Atjeh dan memupuk feodalisme". Hasjmy djuga dengan lantjar
menjatakan bahwa ibu-negeri Atjeh sebelumnja memang bernama Banda Atjeh, konon
merupakan bandar perdagangan untuk seluruh Atjeh masa itu. Tetika ditanjakan
tanggapannja tentang gerakan kembali ke Kutaradja, Hasjmy dengan singkat
berkata: "Memang ada orang-orang jang tidak senang dengan nama Banda Atjeh
itu". Dan ia kelihatannja tidak bersemangat lagi untuk mengungkit-ungkit
masalah nama Kutaradja.
Lalu bagaimana djadinja:
Sala atau
ZINA & POLISI
TIM
KOMISI III DPR DALAM KUNJUNGANNYA KE ACEH DAN SUMATERA UTARA MELAPORKAN:
ANCAMAN HUKUMAN TERHADAP PERKARA PERZINAHAN TERLALU RINGAN. POLISI TURUT CAMPUR
DALAM MASALAH-MASALAH PERDATA & DIUBAH SEBAGAI PIDANA. RU HK ED 13/02 TA
720603 HA 33 SU DEWAN PERWAKILAN RAKYAT SS KUNJUNGAN
LAIN
Dan meskipun pengaduan
lebih dari itu memang kalau dikadji KUHP jang hanja mengantjam 9 bulan bagi
pelaku delik ini, maka pengaduan kepada djaksa atau polisi itupun masih boleh
ditarik, asalkan belum sampai kemuka hakim. Disini memang djelas bahwa negara,
mengklasifisir kemaksiatan ini sebagai tindakan pidana--artinja jang
bersangkutan dengan kepentingan/ketertiban umum. Tapi pada achirnja toch
soalnja dipulangkan kepada masing-masing fihak, dalam hal ini suami dari isteri
jang berzina atau isteri dari suami jang berzina. Sedangkan dari mereka jang
melakukan zina tentu tak akan ada pengaduan, karena dalam fasal ini sebagai
sjarat adalah adanja sifat suka-samasuka. Sementara kalau mengkadji adjaran
Islam hal ini djelas bertentangan dengan fiqih, jakni perumusan manusia tentang
hukum Tuhan. Djadi biar mau sama-mau, biar tak ada jang malu, hukum Tuhan sudah
diberi malu --dan karenanja harus diradjam Kapolri. Adapun didaerah sematjam
Tapanuli Utara dan Tengah, team mengesankan adanja pengaruh jang kuat dari
agama Kristen dan Adat Batak. Selain soal zina, jang lainnja adalah soal peranan
polisi. Bagaimana sebetulnja? Team melihat bahwa didaerah Kabu paten
Simalungun, bahkan-diibukotanja jang bernama Pematang Siantar, nampak polisi
turut tjampur dalam masalah masalah perdata. Polisi Kabupaten Si malungun,
tanpa maksud untuk meng ingkari larangan Kapolri untuk menangani urusan
perdata, terpaksa melajaninja djuga, terutama dimana peran Peng hulu--Pemangku
Adat kurang terasa. Dan ini karena gara-gara sang polisi, tapi memang rakjat
disana jang meminta demikian. Lagipula orang-orang jang djauh dari
Tapi untunglah, seperti
laporan team, dalam menghadapi hal-hal jang berbeda dengan
PILIHAN SEDA
BAPPENAS
KURANG SETUJU, TAPI 8 BUAH LOKOMOTIF DIESEL TETAP DISERAHKAN DI LANGSA, ACEH.
PERJALANAN PERDANA DITUMPANGI SUMPONO BAYUAJI & IR. SUMALI. REL &
BANTALAN YANG TUA MENGHAMBAT LAJU LOKO TERSEBUT. RU EB ED 06/02 TA 720415 HA 50
SU KERETA API SS ACEH (DI)
BAGI
Frans Seda, sarana kereta api tampaknja tidak ingin
Petjut Bajuadji.
Pertimbangan demikian agak diragukan bakal berhasil menghidupkan sarana
perkereta-apian, mengingat persis disamping djeludjur djaringan K.A. tua jang
menghubungkan Langsa ke
Sudah barang tentu
penumpang merasa lebih njaman untuk duduk diatas kursi djok bis daripada
teregol-egol di kursi-kursi kereta jang terbuat dari kaju. Demikian pula kalau
ditindjau dari segi ketjepatan, maka gerak siput kereta-api paling banjak
terdjadi di Atjeh. Dan ketika perdjalanan perdana jang ditumpangi Dirdjen
Perhubungan Darat Sumpono Bajuadji dan Direktur Utama PNKA Ir Sumali
mentjitjipi lok diesel baru itu, kontan terasa ketimpangan jang menjolok.
Ketjepatan loko mini tersebut tidak bisa melebihi 25 kilometer per djam, karena
rel dan bantalan jang ada merupakan warisan lama. "Kalau tidak bisa lebih
tjepat, mesin akan keliwat panas, dan achirnja rusak", kata Sumali.
Insinjur jang kurus dan setengah beruban itu tampak kuatir kalau loko diesel
itu akan berumur pendek. Ramalan Sumali mungkin sekali terdjadi. Apalagi
penduduk Atjeh jang hanja berdjumlah 2 djuta dengan daerah seluas Djawa Barat,
sulit diharapkan akan sanggup menarik penumpang. Sanggupkah Dirdjen Bajuadji
memetjat kepala eksploitasi PNKA Atjeh untuk meningkatkan penghasilan mendjadi
Rp 5 djuta sebulan? Entahlah. Tapi sebelum 8 lokomotip diesel mini itu
dipasang, konon jan berhasil dikumpulkan tidak melebih Rp 2 djuta sebulan.
MENGAKTIFKAN LOK TUA
ANGGOTA
PERKUMPULAN PENGAGUM KERETA API
WALAUPUN
orang
Apa lagi karena mereka
sudah mafhum duduk perkaranya. Biarpun sudah diusut-usut ceritanya tak seduka
"saudara-saudara"nya di Aceh, kereta Ambarawa ini punya kisah yang
unik pula. Jasanyapun sudah cukup banyak. Terutama dalam mengangkut
pembesar-pembesar Belanda dulu serta serdadu-serdadunya ke Jogya atau kearah
lain. Dan rakyat setempatpun tak sanggup membalas jasa kereta keluaran
Esselingen ini. Rodanya diberi gigi karena menjelajahi lereng gunung Merbabu
dan relnya diberi jalur berlobang untuk ditancapi gigi tadi. Dengan ini,
seperti halnya kereta api di Minangkabau, tenaganya untuk mendorong dan
menghela gerbong bertambah. Namun disamping segala yang istimewa ini nasib
telah mendorongnya kegarasi. Bukan karena pejabat PNKA menganggapnya telah lojo
tapi alat angkutan lain yang berlari sepanjang jalan raya sejajar dengan relnya
lebih disenangi penduduk. Penumpang dan barangpun kini naik truk dan
mobil-mobil. Dan tamatlah riwayat besi tua ini. Tinggal hanya trajek
Ambarawa-Kedungjati dan dua buah lagi yang melayani Magelang-Jogya yang masih
mundar-mandir.
Yang kemarin jalan di
Ambarawa itu adalah berkat datangnya turis-turis tersebut, Karena mereka ingin
menikmati yang aneh ini lok itupun dikeluarkan dari tempatnya. Kunjungan
tersebut rupanya merobah nasib sang kereta. Karena setelah melihat gelagat 40
pelancong Australia itu, Kepala Bagian Lalulintas Inspeksi PNKA Jawa Tengah Sri
Wiranto mengatakan kepada TEMPO: "Ini menimbulkan optimisme untuk PNKA
membuat trajek husus bagi pariwisata". Gagasannya adalah suatu package
tour bagi pelancong yang bertamasya dengan kereta api dari Solo Jogya dan
Megelang, ke Ambarawa melalui Secang dan Gemawang. Dari Ambarawa mereka dapat,
menikmati keindahan alam ditepi Rawa Pening menuju Tuntang dekat Salatiga. Tour
ini dapat dilengkapi dengan berhenti sehari di Bandungan tempatnya berteduh
menghabiskan masa tua. Ia disewa untuk perjalanan antara stasion Bedono dan
Ambarawa, yang jaraknya hanya 10 kilometer dari Wisma PNKA. Maksudnya mereka
dapat menginap di
KUMPUL DI BEDUGUL
PERTEMUAN
PRAMUKA PERPANITRA II DIADAKAN DI BEDUGUL. PESERTA NEGARA LAIN JUGA
KALAU
malam dingin bukan main. Sampai 120oC. Tapi kalau siang panas dan berdebu.
Itulah tempat perkemahan 2.197 pramuka yang tergolong Penegak dan Pandeka (16 -
25 tahun) di tepi danau Beratan, Bedugul,
Memang, kebolehan
pramuka sekarang yang konon jumlahnya 10 juta (di Jepang hanya setengah juta)
konon berbeda dengan pandu tempo dulu. Hal ini tampak dalam Perpanitra II,
(Pertemuan Penegak/Pandeka Putra/Putri) di Bedugul. Bahwa pramuka yang sekarang
bukan pandu-nya Boden Powell yang dulu, "ini yang sedang kami pelajari",
kata seorang pramuka dari
Disamping itu banyak
hal-hal sama yang dilakukan pandu-pandu jaman sekarang. Misalnya seorang tamu
yang memakai tanda
Patpinder. Meski begitu,
agaknya majunya pramuka baru dalam jumlah saja. Karena kini banyak pramuka yang
minum coca cola di pinggir jalan atau, yang naik mobil -- pemandangan yang
tidak terdapat 15 tahun yang lalu. Diakui oleh nyonya Tien Soeharto, Ketua
Kwarnas II: "Soalnya kini ialah kurangnya pembinaan". Mungkin karena
hal inilah, dalam waktu dekat para bupati akan dijadikan Ketua Cabang dan para
lurah jadi gugus depan pramuka dengan status sukarela.
Tidak pula mengejutkan
bahwa perkemahan yang mendatangkan pramuka-pramuka seluruh
ANTARA PANGAN DAN BANJIR
KEBIJAKSANAAN
PEMERINTAH DIBIDANG PENGAIRAN DIDASARKAN ATAS PENDUDUK & PANGAN. PROYEK
IRIGASI DITUJUKAN PADA DAERAH KONSUMSI BERAT. UNTUK MENGAMANKAN DAERAH
PENGAIRAN SUNGAI HUTAN SUPAYA DIPELIHARA. RU NAS ED 35/02 TA 721104 HA 06 SU
IRIGASI SS PROGRAM PELITA I
BERSIAP-SIAPLAH,
musim banjir telah datang datang. Ini agaknya diperingatkan Menteri PUT Sutami
bukan semata untuk penduduk Ibukota, meskipun ucapannya disampaikan tepat pada
saat
Sehubungan dengan itu
garis pokok kebijaksanaan pemerintah mengatur kedua perkara yang saling
berhubungan itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan irigasi yang telah ada di
samping membuat yang baru dan lalu mengamankan tempat-tempat produksi dari
ancaman bencana banjir. Maka dalam Pelita I sekarang, dari direktorat jenderal
pengairan telah disepakati menggarap daerah pengairan seluas ?50 ribu Ha yang
erat hubungannya dengan pengamanan daerah produksi beras dari ancaman air bah.
Daerah yang
dikembangkan. Penentuan tempat pembangunan proyek-proyek irigasi, khususnya
ditujukan pada daerah-daerah "konsumsi beras". Yaitu Medan dan
sekitarnya, Palembang dan sekitarnya termasuk Bangka-Belitung, Jakarta,
Bandung, daerah Semarang, Yogyakarta-Surakarta, daerah Surabaya,Malang, Balikpapan
dan sekitarnya. Di samping itu juga Nusa Tenggara Timur dan Maluku dua, daerah
yang bukan karena penduduknya padat, tetapi karena kebutuhan beras sudah cukup
tinggi narnun belum menghasilkan padi. Lalu daerah-daerah yang bakal
dikembangkan menjadi daerah supply berada antaranya Aceh, Sumatera Barat,
daerah hulu dan sekitar Palembang, Lampung, seluruh pulau Jawa, Bali,
Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
Dari jumlah tanah sawah
seluas 7 juta Ha, sampai-sekarang yang telah memiliki irigasi baru melipnti
3.796.216 Ha. Dari jumlah ini yang telah mempunyai irigasi tehnis baru meliputi
sekitar 1.704.134 Ha dan 60% di antaranya masih memerlukan perbaikan. Dan
khusus untuk mengamankan daerah pengairan sungai dan sekaligus bemanfaat bagi
persawahan serta menghindarkan banjir, maka Direktorat Jenderal Pengairan
Departemen PUT telah meminta perhatian terutama kepada Pemerintah-Pemerintah
Daerah untuk mencegah menebang hutan secara liar. Diminta juga agar hutan-hutan
gundul ditanami kembali, memberi petunjuk cara-cara bercocok-tanam yang baik
serta mengatur dan memanfaatkan kembali tanah-tanah miring dan gundul.
MENEBANG HUTAN KAPUR
SINGKIL
DI ACEH SELATAN MENDAPAT UNTUNG DARI HASIL PENEBANGAN HUTAN YANG DIEKSPOR KE
JEPANG. BURUH-BURUH DARI
SINGKIL
letaknja terpentjil. Persinja dikabupaten Atjeh Selatan, di pantai barat dimana
sungai Simpang Kanan dan Simpang Kiri bermuara. Tidak ada jang istimewa dapat
dikatakan tentang
Djepang. Dalam pada itu
Djepang jang mendjadi penampung utama dari ekspor kaju Singkil belakangan ini
djuga menundjukkan sikap jang tidak meng gembirakan. Pada mulanja
importir-importir Djepang itu tidak banjak tjerewet. Setiap pengiriman kaju
kenegaranja tanpa banjak tjingtjong diterima. Tapi sekarang tidak semudah itu
lagi. Sebagaimana lajaknja para pembeli, mereka mengadjukan beberapa sjarat
Kaju-kaju jang berdiameter kurang dari 60 cm ditolak mereka. Djuga kaju-kaju
jang bermata atau kaju-kaju puntir tidak akan dibeli. Apalagi kaju jang
berlobang-lobang. Sudarmadji direktur PT Singkil Timber kelihatannja agak
ketjewa dengan sikap Djepang itu tapi ia tidak dapat berbuat lain. Semestinja
siapapun dapat menduga bahwa tjepat atau lambat masalah itu bisa timbul, bukan
sadja karena ekspor kaju telah terdjadi setjara besar-besalan sedjak 5 tahun
helakangan ini, tapi djuga karena tidak dibukanja bidang usaha lain sebagai
pelengkap dari kegiatan penebangan kllju. Memang apa jang disebut industri kaju
terlalu muskil untuk bisa ditjapai oleh modal pribumi jang ketjil. Tapi kalau
untuk penebangan sadja mereka sanggup mengundang modal asing dan buruh asing
(dua-duanja dari
Sementara itu
Indoconsult Associates jang membuat feasibility study tentang pelabuhan bebas
Sabang telah mentjatat bahwa modal asing jang dinjatakan akan mengolah hutan di
Atjeh mentjapai djumlah AS $ 4 djuta dan djenis usaha jang akan mereka garap
terbatas hanja pada logging dan penggergadjian. Sebegitu djauh industri kaju djuga
tidak disinggung-singgung. Dan ini tidak hanja terdjadi di Atjeh tapi djuga di
Disiplin. Kelihatannja
pemerintah tidak hirau sangat dengan masalah industri itu seperti halnja mereka
tidak atjuh terhadap buruh-buruh asing jang dimasukkan ke
Mengapa tidak
dipekerdjakan buruh-buruh
MENGATUR REMAJA
UNTUK
MENCEGAH AGAR PEMUDANYA TAK MEBUAT ONAR, WALIKOTA BINJAI, A. MANAN AHMAD
MEMBANGUN SEBUAH GEDUNG OLAH RAGA. GEDUNG DENGAN BIAYA RP 29 JUTA ITU DAPAT
UNTUK BERLATIH BERBAGAI JENIS OLAH RAGA & MUSIK. RU KT ED 30/02 TA 720930
HA 18 SU BINJAI SS PEMBANGUNAN GEDUNG OLAH RAGA
26
tahun yang lalu, penyair Amir Hamzah tertangkap dan dibunuh di sini. Tetapi
tidak hanya itu;
Dari segi itu
DAHULU
BAHASA YANG DIPAKAI KETOPRAK AMAT TINGGI. KINI DIPAKAI BAHASA AWAM. KEMAJUAN
KETOPRAK MATARAM TIDAK HANYA SOAL BAHASA, TAPI JUGA DALAM SOAL CARA PERGELARAN,
CARA BERMAIN, IRINGAN GAMELAN, DSB. RU HB ED 33/02 TA 721021 HA 24 SU HIBURAN ;
KETOPRAK SS KETOPRAK MATARAM
MEMAKAI
baju lurik merah dengan celana pendek, Soemardjono tampak seperti seorang
tukang kapur. RRl studio Nusantara II Jogyakarta seksi ketoprak rupanya tidak
begitu keberatan dengan kostum itu, walaupun orang ini sedang memangku
kehormatan memimpin 40 pegawainya. Tugas Soemardjono: mengumpulkan ketawa
sebanyak-banyaknya dari penonton Teater Terbuka TIM, sambil menyusupkan moral
yang bernilai dinas. Untuk ini Basijo dan Kapuk yang tersohor di daratan Jogya
sebagai badut, telah siap tempur. Sedang Suripto sudah tahu apa yang harus
diucapkannya untuk menokohkan peran Panji yang tampan dan aksi. Suprapti akan
menjadi Anggraeni, dan Wakidah akan memainkan tokoh Sekartaji.
"Kepada dua
panakawan itu Basijo dan Kapuk tidak ada waktu khusus untuk mengocok penonton.
Merekapun tidak diberikan naskah atau tuntunan gerak gerik. Mereka akan
berimprovisasi. Inilah yang modern dari ketoprak kami", kata Soemardjono.
Didampingi Pak Sis yang menjadi "dalang" pergelaran, ditambahkannya
bahwa hal ter sebut tidak berarti "plot" dimusnahkan. Justru hal yang
satu ini sangat dijaga, maklum Soemaidjono banyak berkecimpung dalam dunia
sandiwara. Bahkan dalam dialog-dialog gencar yang membeberkan sikap
masing-masing tokoh, misalnya perdebatan soal cinta antara raja, Jenggala dan
puteranya kedua belah pihak akan diberi kesempatan menunjukkan kebenarannya.
"Akan tampak kedua-duanya benar: Itulah dilema yang universil", kata
Soemardjono.
Rencong Aceh. Ketoprak
RRI Jogya didirikan oleh seorang Raden Tumenggung berasal dari Sala. Sebelum
tahun 1962 berakhir ia telah mencapai puncak di bawah pimpinan seorang
tersohor, almarhum Cokrojio. Lewat daratan dan udara ia menggetarkan hati
keluarga-keluarga di Jogya setiap Rabu malam. Dari pensiunan pegawai negeri
sampai tukang becak menyediakan waktu khusus di malam-malam itu, nongkrong
memamah serial Babad Tanah Jawi, Babad Mataram, cerita Panji, cerita Menak,
cerita khayal seperti Gagak Sala dan Rencong Aceh, dan cerita-cerita Cina
seperti Sie Jin Kwi yang bersambungan sampai puluhan hari. Tiga atau empat
bulan sekali, cerita yang sama diulang kembali tanpa protes-protes bosan dari
pendengar. Ia memang sudah menjadi makanan rutin dan melengket di hati penduduk
bagai penyakit kronis. Meskipun terbetik berita, belakangan ini bahwa
lakon-lakon babad mulai membosankan, namun lakon-lakon Arab riwayat Menak tetap
disuka. Bahkan lakon-lakon Cina yang telah disadur ke dalam kondisi pribumi,
seperti halnya cerita yang bernama Sudiro tetap laris.
Masih kabur kapan
mulainya, tapi tahu-tahu ketoprak sudah hadir saja di sisi hiburan yang bernama
Ronggeng Ketek, Dadung Awuk, Ande-Ande, Lumut. Tiap perkumpulan ketoprak
membawakan cerita-cerita sesuai dengan nama perkumpulannya. Di samping itu ada
juga kumpulan yang tidak punya cerita monopoli. Yang mereka garap
dagelan-dagelan kampungan yang dibeli khalayak pedesaan untuk pesta panen,
sunatan, perkawinan dan sebangsanya. Dalam perjalanan kemu
Cukong. Masa itu bahasa
ketoprak masih sangat halus, nyaris bahasa pedalangan. Akibatnya ia masih agak
terlalu tinggi untuk kalangan penikmat. Inilah yang kemu
Kemajuan ketoprak
Mataram tidak hanya dalam soal bahasa, tapi juga dalam soal cara pergelaran.
Cara bermain, iringan gamelan, penguasaan panggung dan tetek-bengek, sudah
dioper dari kemajuan sandiwara-sandiwara berbahasa
SISA-SISA PESTA AGAMA
JUARA
I & II PADA MTQ NASIONAL V DI SENAYAN DIREBUT SUMATERA, UNTUK PRIA &
KALIMANTAN SELATAN, UNTUK WANITA. HANYA SATU MUNCUL JUARA PERTAMA DARI JAWA
YAITU JAWA TIMUR UNTUK QARI'AH TINGKAT SD. RU AG ED 32/02 TA 721014 HA 41 SU
RATA-RATA
penguujung Istora Senayan, pada MTQ ke-V kemarin, mempunyai tjalon-tjalon
pemenang yang mereka ramalkan akan keluar sebagai juara. Meskipun di situ tidak
diadakan toto atau lotere jenis apapun, tapi banyak orang menebak misalnya
bahwa qari Sumatera Utara yang bernama A. Rochmat Lubis tidak mustahil keluar
sebagai orang pertama. Dan meskipun akhirnya dari yang tampaknya merupakan
favorit hadirin ini hanya menjadi orang kedua, tapi memang tidak sedikit prang
memandang Sumatera Utara sebagai salahsatu- daerah yang dipenuhi qari-qari'ah
yang mencorong - disamping Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Jawa Timor.
Akan tetapi nama-nama pemenang menjadi pasti ketika KH Zaini Miftah, Ketua
Dewan Juri, mengumumkannya lewat suaranya yang sendat-sendat dan banyak salah
pada- malam penutupan di Stadion Utama (lihat box).
Dari situ diketahui
bahwa juara juara I dan II memang berada di pulau Sumatera - untuk pria, din
BOKS
Yang Lahir di Senayan
JUARA DEWASA UMUM
=================
Qari:
1. M. Harun A. Roni, 32
th, Sumatera Selatan
2. HMA Rochmat Lubis, 26
th, Sumatera Utara
3. Tadjuddin Hasan, 27
th, DKI
***
Qari'ah:
1. Nurbani Ramli, 20 th,
2. Rus
3. Nur Ainun, 17 th,
Sumatera Utara
***
JUARA SEKOLAH LANJUTAN
=====================
Qari:
1. M. Nafis Kurtubi, 21
th, DKI
2. Moh. Sjibaweh A.
Dialil, 19 th, Jawa Tengah
3. Chumaidi bin Hambali,
16 th, Jawa Barat
***
Qari'ah:
1. Sjahruni Rahman, 16
th,
2. Istibsjarah, 16 th,
Jawa Timur
3. Zainar Tahir, 18 th,
Sumatera Barat
***
JUARA SEKOLAH DASAR
===================
Qari:
1. Abdul Wadud, 14 th,
DKI
2. Moh. Sjaiful Anwar, 15
th, Jawa Tengah
3. Ubaid Adnan, 15 th,
Jawa Timur
***
Qari'ah:
1. Miftahul Djannah, 13
th, Jawa Timur
2. Khairun Nisa, 13 th,
3. Sjamsiar, 13 th,
Sumatera Berat
SEBUAH DWI MONOLOG
TEAM
KOMISI III DPR MENGUNJUNGI D.I. ACEH & SUM-UT. PIHAK PEMERINTAH &
MAHKAMAH AGUNG DIUNDANG UNTUK MEMBICARAKAN HASIL PENINJAUAN ITU A.L:
DIBICARAKAN WEWENANG POLISI, PERKARA PERDATA, H.I.R. RU HK ED 14/02 TA 720610
HA 22 SU DEWAN PERWAKILAN RAKYAT SS KOMISI III (HUKUM)
DIGUNUNG-GUNUNG
Setjara hukumnja, dengan
mengangkat sistim jang
Tapi tak luput:
praktek-praktek polisi jang "tidak
Polisi & Perdata
"Terus terang
ditjelitakan oleh Kepala Polisi Kabupaten Simalungun, banjaknja persoalan
perdata jang ditjampur polisi". Demikian R.O. Tambunan SH pimpinan team,
ketika Menteri Sen Adji minta supaja persoalan jang sudah disusun dalam laporan
penindjauan itu diperdjelas lagi."Katakan misalnja dalan soal utang
piutang", landjut anggota dari Karya Pembangunan itu. "Disitu
penduduk datang ke polisi dan polisi menerimanja". Tapi Menteri tidak
langsun mendjawab. Hanja ia katakan: karena persoalan itu menjangkut soal
pelaksanaan hukum, sebaiknja dibibarakan djuga dengan instansi-instansi
Kepolisian dan Kedjaksaan. Sedangkan pada pandangan Ketua Mahkamah Agung
Subekti terdjadinja hal demikian -- diakui karena lambannja proses peradilan
perdata. "Djadi sematjam perdamaian di muka polisi atau djaksa",
tegas profesor hukum Perdata itu. Namun kalau perkara itu akan dibawa ke
pengadilan menurut Subekti, hakim harus menolak digolongkannja sebagai tuntutan
pidana.
Peradilan Pidana &
Hukum Adat
Pada masjarakat Tapanuli
Utara dan Tapanuli Tengah, hukum Adat sangat berpengaruh--sampai-sampai
kepersoalan-persoalan pidana. Masjarakat Batak menganggap putusan Adat dalam
persoalan pidana lebih tinggi daripada putusan Pengadilan Negeri. Sebuah
ilustrasi diberikan oleh Tambunan (notabene: Batak asli) tentang seorang jang
sudah dihukum 15 tahun jang lalu dan setelah keluar masih diharuskan memotong
kerbau untuk bisa diterima kembali dimasjarakat adat setempat. Menanggapi ini
Subekti hanja mengandjurkan supaja lebih meningkatkan pendidikan didaerah
tersebut. Mungkin maksudnja: menanamkan pengertian tentang peran badan-badan
peradilan jang sebenarnja. Sedangkan Hakim Agung Lumbanradja djuga Batak asli
jang duduk dikanan Subekti, atas permintaan Subekti menjatakan bahwa hakim
harus mengembangkan hukum Adat tanpa melanggar ketentuan hukum Pidana jang
berlaku Sementara menteri Kehakiman mendjelaskan adanja projek dibawah Direktor
Djenderal Pembinaan Badan-Badan Peradilan jang bertugas menjelidiki masalah
hukum jang tidak tertulis.
Mahkamah Sjari'ah &
Pengadilan Negeri.
Apa sebetulnja fungsi
Mahkamah Sjari'ah? Menurut PP No.45 tahun 1957 chusus menangani
persoalan-persoalan. Nikah, Talak dan Rudjuk. Tapi di Atjeh team melihat
menjerempetnja wewenang Mahkamah kesoal-soal warisan jang se harusnja dipegang
Pengadilan Negeri. laporkan, tiap fihak jang merasa dikatakan dalam sengketa
waris-mewaris Mahkamah Sjari'ah, membawakan Ia persoalan itu ke Pengadilan
Negeri. bagaimana? Baik Ketua Mahkamah , Agung maupun Menteri Kehakiman
nampaknja tak memberikan djawaban jang Iangsung mengenai kecuali balik
mentjeritakan bagaimana jang seharusnja dan bagaimana jang tidak seharusnja.
Fasal Perzinaan
Masih di Daerah Istimewa
Aceh. Di
Peralatan.
Tahukah pemerintah
"Pengadilan Negeri Langsa selalu botjor kalau hudjan, sedang kamar
ketjilpun tak ada sehingga orang harus menumpang ketempat lain jang djauhnja
200 meter dari situ"-seperti dilaporkan oleh Tambunan? Djuga, umpamanja
bahwa kursi-kursi di Pengadilan Negeri di Daerah Istimewa Atjeh, banjak jang
sudah bolong, tapi toch tetap dipakai karena tak ada gantinja? Atau bahwa
gedung LP Tarutung sudah sangat tua dan tjukup mengchawatirkan ditindjau dari
segi keamanan? Ternjata tidak. Menurut Menteri, belum ada laporan --ketjuali
"laporan dari Langsa jang minta pembangunan untuk perumahan." Lalu
tentang kendaraan untuk mengangkut tahanan: "tanggung djawab siapa?',
tanja Tambunan lagi kealamat Menteri. Dan tanpa ragu-ragu didjawab oleh R.A.
Koesnoen SH, Dirdjen Bina Tuna Warga -- atas permintaan Menteri--"Tanggung
djawab siapa, saja tidak tahu!"
Namun kemu
Peradilan Lambat
Kemelut tentang siapa
jang seharusnja bertanggung-djawab, memang bukan baru lagi--entah bagi anggota
DPR jang baru. Misal lain soal kelambatan perkara karena kurangnja tenaga
hakim. Pengadilan Tinggi Banda Atjeh jang seperti di laporkan team jang punja
102 tunggakan perkara itu, hanja punja 3 Hakim Tinggi termasuk Ketuanja.
Soalnja persis dengan soal kendaraan tahanan: siapa jang bertanggungdjawab
menambah tenaga hakim? Subekti bilang bahwa fihak Mahkamah Agung sudah lama
hendak menangani persoalan ini. Sudah ditjarikan tjalon untuk Hakim Tinggi jang
dipandang memenuhi sjarat-sjarat ketjakapan dan kedjudjuran. Namun belum
makbul, karena tidak ada persetudjuan Departemen Kehakiman hingga sekarang.
Itulah sebabnja agak mengena pertanjaan anggota Sulaiman Tjakrawiguna SH dari
Karya Pembangunan: "Sedjauh mana sebetulnja Mahkamah Agung turut berperan
dalam penempatan seseorang ? Apakah Mahkamah Agung hanja sekedar mengadjukan
permohonan?". Subekti lalu mendjawab begini: "Dulu, 99% usul-usul
Mahkamah Agung di-goal-kan oleh Departemen Kehakiman, tapi - sekarang hanja 70%
sadja." Dan malah dikuncinja sendiri: "Kalau Departemen Kehakiman
tidak setudju, maka persoalan itu didep bertahun- tahun."
Berkaitan djuga adalah
larangan menerima pegawai baru. Karena bak kata Ketua Mahkamah Agung,
kelambatan djuga disebabkan kurangnja tenaga administrasi. Ilustrasi tentang
larangan menerima pegawai: hakim diberi mobil tapi tak dikasi sopir, sehingga
harus tjari sendiri dan membajar dengan gadji sendiri. Dan Subekti, jang sambil
bitjara suka bertopang dagu, mengakui djuga sebab kelambatan jang lain lagi.
jaitu karena malasnja hakim-hakim dan para panitera. Terhadap mereka jang sudah
mendapat "tjiri malas" ini, menurul Subekti disediakan sanksi
administratif berupa pemindahan. Tapi itu tentunja berupa usul djuga, karena
toch haru lewat Departemen Kehakiman, bukan'
Itulah sebabnja
membalik-balik kisah zaman Raad van Jusntie, seperti jang dilakukan Subekti
dimuka lebih 30 wakil rakjat,itu, tampaknja hanja perbuatan nostalgik alias
menghirup kenangan manis masa lampau. Jakni merindukan bahwa dalam djangka
waktu 2 minggu berkas perkara banding sudah harus masuk ke Pengadilan Tinggi -
seperti bunji HIR. Atau bahwa bersamaan dengan diputusnja perkara dimedja
hakim, sudah tersedia surat-surat dan dokumen jang harus diteken. "Hal-hal
seperti itu mulai zaman Djepang sudah mengendor," keluh Subekti, "dan
sekarang tidak streng lagi."
Jang tidak streng adalah
djuga wibawa atasan hakim-hakim. Digunung-gunung boleh kurang hakim, tapi
mungkin di Djawa tidak. Dan Subekti tidak tahu kenapa hakim-hakim tidak mau
dipindahkan atasannja keluar Djawa. "Seperti hakim Sutarno Sudja dulu,
masak di pindah ke Tandjungkarang sadja tidak mau", ditjontohkan oleh
kepala peradilan tertinggi seluruh
H.I.R --Pedoman?
Sebelum masuk bagian
lain, barangkali boleh ditjatat kemadjuan jang dikatakan oleh Ketua Mahkamah Agung:
bahwa penjelesaian perkara dari tingkat bawah hingga kasasi hanja memerlukan 2
tahun, tidak lagi sampai 10 tahun seperti dulu. Tahun 1970 ada 800 perkara
kasasi dan tahun 1971 tertjatat 1300--suatu bukti adanja pentjepatan demikian
Subekti.
Status Hukum Atjara jang
ada bagai mana? Daerah jang ditindjau banjak mempertanjakan kriteria
"pedoman" bagi pelaksanaan HlR jang telah di-Indonet siakan mendjadi
Reglemen Indonesia Jang Dibaharui (RID atau RIB) itu.
Kalau HIR hanja pedoman,
boleh di pakai boleh tidak, demikian kesan hakim-hakim daerah. Lalu: apa
pegangan penegak hukum untuk memperlakukan para penuntut keadilan? Itulah
sebabnja diusulkan supaja fasal 6 Undang-undang Darurat No.1 tahun 1951 jang
menentukan status "pedoman" itu ditjabut sadja -- karena toch Hukum
Atjara Pidana jang baru tidak tahu kapan siapnja. "Misalnja Saudara
Sjamsuddin Abubakar SH Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh menjatakan kepada
kami supaja HIR djangan hanja djadi pedoman", kata Cosmas Batubara
menjokong laporan team.
Namun, menurut Menteri,
hakim-hakim tak perlu gelisah akan soal pedoman atau tidaknja HIR ini. Karena
katanja jurisprudensi tahun 1953 sudah memberikan pengertian tentang apa jang
dimaksudkan dengan "pedoman". Menteri oleh karena itu tak sependapat
untuk mentjabut fasal 6 tersebut sementara RUU Hukum Atjara Pidana jang baru,
katanja, sudah akan dimasukkan ke DPR tahun ini djuga. Akan tetapi lain halnja
dengan Subekti ia lebih setudju lagi kalau DPR sendiri jang menjiapkan sebuah
RUU Hukum Acara Pidana itu. "Ini semacam ultimatum pada Departemen
Kehakiman," tambahnja Mungkin djuga sematjam Alternatif. Sebab, "bila
tahun ini mereka tidak mengadjukan, maka DPR-lah jang menga djukannja" bak
kata Subekti pula.
Tapi DPR-pun, setidaknja
Komisi III jang kelihatan radjin ini, nampaknja hendak memberi ultimatum djuga
kepada fihak pemerintah maupun peradilan: bahwa masalah perbaikan hukum tak
boleh menunggu lagi. Sehingga agaknja tukup disajangkan bahwa dialog-dialog
jang terdjadi dalam banjak hal berpisah antara apa jang dilihat disatu pihak,
dan "bagaimana seharusnja "difihak lain. Bak kata seorang penindjau,
baik fihak Departemen Kehakiman ataupun Mahkamah Agung tampak seolah
menempatkan dan sebagai pengadjar kampus ala menara gading: normatif dan
lengkap dengan studi perbandingan segala. Lain dari itu nampak beberapa problim
jang terlepas mengambang, hanja karena hal-hal tersebut bukan sepenuhnja
kompetensi jang diundang. Itulah sebabnja ada timbul fikiran dikalangan
penindjau untuk, umpamanja, mengadakan suatu rapatkerdja paripurna sekaligus
Komisi III dengan Instansi-instansi jang dibidangnja. "Teoritis bisa
dilakukan," komentar Cosmas Batubara tentang ini kepada TEMPO diluar CR V.
Meski begitu, anggota
Damciwar SH dari Karya Pembangunan merasa tjukup puas dengan rapatkerdja-rapatkerdja
tersebut - jang masih akan dilandjutkan lagi dengan Kedjaksaan Agung -
SEBUAH DWI MONOLOG
TEAM
KOMISI III DPR MENGUNJUNGI D.I. ACEH & SUM-UT. PIHAK PEMERINTAH &
MAHKAMAH AGUNG DIUNDANG UNTUK MEMBICARAKAN HASIL PENINJAUAN ITU A.L:
DIBICARAKAN WEWENANG POLISI, PERKARA PERDATA, H.I.R. RU HK ED 14/02 TA 720610
HA 22 SU HUKUM SS PELAKSANAAN HUKUM
DIGUNUNG-GUNUNG
Setjara hukumnja, dengan
mengangkat sistim jang
Tapi tak luput:
praktek-praktek polisi jang "tidak
Polisi & Perdata
"Terus terang
ditjelitakan oleh Kepala Polisi Kabupaten Simalungun, banjaknja persoalan
perdata jang ditjampur polisi". Demikian R.O. Tambunan SH pimpinan team,
ketika Menteri Sen Adji minta supaja persoalan jang sudah disusun dalam laporan
penindjauan itu diperdjelas lagi."Katakan misalnja dalan soal utang piutang",
landjut anggota dari Karya Pembangunan itu. "Disitu penduduk datang ke
polisi dan polisi menerimanja". Tapi Menteri tidak langsun mendjawab.
Hanja ia katakan: karena persoalan itu menjangkut soal pelaksanaan hukum,
sebaiknja dibibarakan djuga dengan instansi-instansi Kepolisian dan Kedjaksaan.
Sedangkan pada pandangan Ketua Mahkamah Agung Subekti terdjadinja hal demikian
-- diakui karena lambannja proses peradiilan perdata. "Djadi sematjam
perdamaian di muka polisi atau djaksa", tegas profesor hukum Perdata itu.
Namun kalau perkara itu akan dibawa ke pengadilan menurut Subekti, hakim harus
menolak digolongkannja sebagai tuntutan pidana.
Peradilan Pidana &
Hukum Adat
Pada masjarakat Tapanuli
Utara dan Tapanuli Tengah, hukum Adat sangat berpengaruh--sampai-sampai
kepersoalan-persoalan pidana. Masjarakat Batak menganggap putusan Adat dalam
persoalan pidana lebih tinggi daripada putusan Pengadilan Negeri. Sebuah
ilustrasi diberikan oleh Tambunan (notabene: Batak asli) tentang seorang jang
sudah dihukum 15 tahun jang lalu dan setelah keluar masih diharuskan memotong
kerbau untuk bisa diterima kembali dimasjarakat adat setempat. Menanggapi ini
Subekti hanja mengandjurkan supaja lebih meningkatkan pendidikan didaerah
tersebut. Mungkin maksudnja: menanamkan pengertian tentang peran badan-badan
peradilan jang sebenarnja. Sedangkan Hakim Agung Lumbanradja djuga Batak asli
jang duduk dikanan Subekti, atas permintaan Subekti menjatakan bahwa hakim
harus mengembangkan hukum Adat tanpa melanggar ketentuan hukum Pidana jang berlaku
Sementara menteri Kehakiman mendjelaskan adanja projek dibawah Direktor
Djenderal Pembinaan Badan-Badan Peradilan jang bertugas menjelidiki masalah
hukum jang tidak tertulis.
Mahkamah Sjari'ah &
Pengadilan Negeri.
Apa sebetulnja fungsi
Mahkamah Sjari'ah? Menurut PP No.45 tahun 1957 chusus menangani
persoalan-persoalan. Nikah, Talak dan Rudjuk. Tapi di Atjeh team melihat
menjerempetnja wewenang Mahkamah kesoal-soal warisan jang se harusnja dipegang
Pengadilan Negeri. laporkan, tiap fihak jang merasa dikatakan dalam sengketa
waris-mewaris Mahkamah Sjari'ah, membawakan Ia persoalan itu ke Pengadilan
Negeri. bagaimana? Baik Ketua Mahkamah , Agung maupun Menteri Kehakiman
nampaknja tak memberikan djawaban jang Iangsung mengenai kecuali balik
mentjeritakan bagaimana jang seharusnja dan bagaimana jang tidak seharusnja.
Fasal Perzinaan
Masih di Daerah Istimewa
Aceh. Di
Peralatan.
Tahukah pemerintah
"Pengadilan Negeri Langsa selalu botjor kalau hudjan, sedang kamar
ketjilpun tak ada sehingga orang harus menumpang ketempat lain jang djauhnja
200 meter dari situ"-seperti dilaporkan oleh Tambunan? Djuga, umpamanja
bahwa kursi-kursi di Pengadilan Negeri di Daerah Istimewa Atjeh, banjak jang
sudah bolong, tapi toch tetap dipakai karena tak ada gantinja? Atau bahwa
gedung LP Tarutung sudah sangat tua dan tjukup mengchawatirkan ditindjau dari
segi keamanan? Ternjata tidak. Menurut Menteri, belum ada laporan --ketjuali
"laporan dari Langsa jang minta pembangunan untuk perumahan." Lalu
tentang kendaraan untuk mengangkut tahanan: "tanggung djawab siapa?',
tanja Tambunan lagi kealamat Menteri. Dan tanpa ragu-ragu didjawab oleh R.A. Koesnoen
SH, Dirdjen Bina Tuna Warga -- atas permintaan Menteri--"Tanggung djawab
siapa, saja tidak tahu!"
Namun kemu
Peradilan Lambat
Kemelut tentang siapa
jang seharusnja bertanggung-djawab, memang bukan baru lagi--entah bagi anggota
DPR jang baru. Misal lain soal kelambatan perkara karena kurangnja tenaga
hakim. Pengadilan Tinggi Banda Atjeh jang seperti di laporkan team jang punja
102 tunggakan perkara itu, hanja punja 3 Hakim Tinggi termasuk Ketuanja.
Soalnja persis dengan soal kendaraan tahanan: siapa jang bertanggungdjawab
menambah tenaga hakim? Subekti bilang bahwa fihak Mahkamah Agung sudah lama
hendak menangani persoalan ini. Sudah ditjarikan tjalon untuk Hakim Tinggi jang
dipandang memenuhi sjarat-sjarat ketjakapan dan kedjudjuran. Namun belum
makbul, karena tidak ada persetudjuan Departemen Kehakiman hingga sekarang.
Itulah sebabnja agak mengena pertanjaan anggota Sulaiman Tjakrawiguna SH dari
Karya Pembangunan: "Sedjauh mana sebetulnja Mahkamah Agung turut berperan
dalam penempatan seseorang ? Apakah Mahkamah Agung hanja sekedar mengadjukan
permohonan?". Subekti lalu mendjawab begini: "Dulu, 99% usul-usul
Mahkamah Agung di-goal-kan oleh Departemen Kehakiman, tapi - sekarang hanja 70%
sadja." Dan malah dikuncinja sendiri: "Kalau Departemen Kehakiman
tidak setudju, maka persoalan itu didep bertahun- tahun."
Berkaitan djuga adalah
larangan menerima pegawai baru. Karena bak kata Ketua Mahkamah Agung,
kelambatan djuga disebabkan kurangnja tenaga administrasi. Ilustrasi tentang
larangan menerima pegawai: hakim diberi mobil tapi tak dikasi sopir, sehingga
harus tjari sendiri dan membajar dengan gadji sendiri. Dan Subekti, jang sambil
bitjara suka bertopang dagu, mengakui djuga sebab kelambatan jang lain lagi.
jaitu karena malasnja hakim-hakim dan para panitera. Terhadap mereka jang sudah
mendapat "tjiri malas" ini, menurul Subekti disediakan sanksi
administratif berupa pemindahan. Tapi itu tentunja berupa usul djuga, karena
toch haru lewat Departemen Kehakiman, bukan'
Itulah sebabnja
membalik-balik kisah zaman Raad van Jusntie, seperti jang dilakukan Subekti
dimuka lebih 30 wakil rakjat,itu, tampaknja hanja perbuatan nostalgik alias
menghirup kenangan manis masa lampau. Jakni merindukan bahwa dalam djangka
waktu 2 minggu berkas perkara banding sudah harus masuk ke Pengadilan Tinggi -
seperti bunji HIR. Atau bahwa bersamaan dengan diputusnja perkara dimedja
hakim, sudah tersedia surat-surat dan dokumen jang harus diteken. "Hal-hal
seperti itu mulai zaman Djepang sudah mengendor," keluh Subekti, "dan
sekarang tidak streng lagi."
Jang tidak streng adalah
djuga wibawa atasan hakim-hakim. Digunung-gunung boleh kurang hakim, tapi
mungkin di Djawa tidak. Dan Subekti tidak tahu kenapa hakim-hakim tidak mau
dipindahkan atasannja keluar Djawa. "Seperti hakim Sutarno Sudja dulu, masak
di pindah ke Tandjungkarang sadja tidak mau", ditjontohkan oleh kepala
peradilan tertinggi seluruh Indonesia itu. Waktu itu Sutarno dikenakan tindakan
administratif. "Kabarnja sekarang dia kerdja di Bank dan di Bank
keadaannja lebih baik," landjut Subekti seolah tiba-tiba mendjadi mafhum
akan asal muasal semua persoalan.
H.I.R --Pedoman?
Sebelum masuk bagian
lain, barangkali boleh ditjatat kemadjuan jang dikatakan oleh Ketua Mahkamah
Agung: bahwa penjelesaian perkara dari tingkat bawah hingga kasasi hanja
memerlukan 2 tahun, tidak lagi sampai 10 tahun seperti dulu. Tahun 1970 ada 800
perkara kasasi dan tahun 1971 tertjatat 1300--suatu bukti adanja pentjepatan
demikian Subekti.
Status Hukum Atjara jang
ada bagai mana? Daerah jang ditindjau banjak mempertanjakan kriteria
"pedoman" bagi pelaksanaan HlR jang telah di-Indonet siakan mendjadi
Reglemen Indonesia Jang Dibaharui (RID atau RIB) itu.
Kalau HIR hanja pedoman,
boleh di pakai boleh tidak, demikian kesan hakim-hakim daerah. Lalu: apa
pegangan penegak hukum untuk memperlakukan para penuntut keadilan? Itulah
sebabnja diusulkan supaja fasal 6 Undang-undang Darurat No.1 tahun 1951 jang
menentukan status "pedoman" itu ditjabut sadja -- karena toch Hukum
Atjara Pidana jang baru tidak tahu kapan siapnja. "Misalnja Saudara
Sjamsuddin Abubakar SH Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh menjatakan kepada
kami supaja HIR djangan hanja djadi pedoman", kata Cosmas Batubara
menjokong laporan team.
Namun, menurut Menteri,
hakim-hakim tak perlu gelisah akan soal pedoman atau tidaknja HIR ini. Karena
katanja jurisprudensi tahun 1953 sudah memberikan pengertian tentang apa jang
dimaksudkan dengan "pedoman". Menteri oleh karena itu tak sependapat
untuk mentjabut fasal 6 tersebut sementara RUU Hukum Atjara Pidana jang baru,
katanja, sudah akan dimasukkan ke DPR tahun ini djuga. Akan tetapi lain halnja
dengan Subekti ia lebih setudju lagi kalau DPR sendiri jang menjiapkan sebuah
RUU Hukum Acara Pidana itu. "Ini semacam ultimatum pada Departemen
Kehakiman," tambahnja Mungkin djuga sematjam Alternatif. Sebab, "bila
tahun ini mereka tidak mengadjukan, maka DPR-lah jang menga djukannja" bak
kata Subekti pula.
Tapi DPR-pun, setidaknja
Komisi III jang kelihatan radjin ini, nampaknja hendak memberi ultimatum djuga
kepada fihak pemerintah maupun peradilan: bahwa masalah perbaikan hukum tak
boleh menunggu lagi. Sehingga agaknja tukup disajangkan bahwa dialog-dialog
jang terdjadi dalam banjak hal berpisah antara apa jang dilihat disatu pihak,
dan "bagaimana seharusnja "difihak lain. Bak kata seorang penindjau,
baik fihak Departemen Kehakiman ataupun Mahkamah Agung tampak seolah
menempatkan dan sebagai pengadjar kampus ala menara gading: normatif dan
lengkap dengan studi perbandingan segala. Lain dari itu nampak beberapa problim
jang terlepas mengambang, hanja karena hal-hal tersebut bukan sepenuhnja
kompetensi jang diundang. Itulah sebabnja ada timbul fikiran dikalangan
penindjau untuk, umpamanja, mengadakan suatu rapatkerdja paripurna sekaligus
Komisi III dengan Instansi-instansi jang dibidangnja. "Teoritis bisa
dilakukan," komentar Cosmas Batubara tentang ini kepada TEMPO diluar CR V.
Meski begitu, anggota
Damciwar SH dari Karya Pembangunan merasa tjukup puas dengan
rapatkerdja-rapatkerdja tersebut - jang masih akan dilandjutkan lagi dengan
Kedjaksaan Agung -
NA'UZUBILLAH DI TENGGARONG
DALAM
MEMPERINGATI HARI JADINYA, DI KABUPATEN TENGGARONG DISELENGGARAKAN PERTUNJUKAN
KESENIAN. ADA TARI PENOLAK BALA. ADA ACARA MENOMBAK KERBAU, ANJING & BABI
SEBELUM HEWAN-HEWAN ITU DISEMBELIH. RU PWS ED 34/02 TA 721028 HA 34 SU KESENIAN
RAKYAT ; TENGGARONG SS TENGGARONG (DI) ; HIBURAN HARI JADI
DI
antara sedikit kota-kota di Indonesia yang gemar memperingati hangtahunnya,
maka Tenggarong termasuk dalam daftar itu. Kota Kabupaten di Kalimantan Timur
itu konon berumur antara 190 dan 192 tahun. Yang pasti di antara 2 angka itu
masih diperdebatkan orang. Walaupun tanggal 22 September yang lalu sang Bupati,
D.rs Ahmad Dahlan, dengan bergetar telah memukul gong, tanda upacara peringatan
dimulai. Maka bergembiralah rakyat menyoraki 100 biji anak acara yang di anggap
itu-itu juga tapi masih asyik untuk ditonton. Konon inilah keramaian diderah
yang ingin dinikmati rakyat sewaktu-waktu kalau pembesar dari pusat tak kunjung
datang.
Maka dihalaman bekas
istana Sultan Kutai yang terkenal itu menari-narilah serombongan seniman alam
yang baru turun dari Ulu Mahakam. Mereka membawakan tari dayak "Penolak
Bala". Karena temanya adalah mengusir setan maka gerak dan langkahnya yang
lincah membuat penonton seakan benar-benar sedang mengikuti gerak-gerik mahluk
halus itu. Penuh dinamika dan ekspresif, kata pembantu TEMPO di sana. Para
penari ini memakai jubah dari daun nipah, topeng dari kulit dan ubul-ubul bulu
burung. Tarian ini di dampingi oleh tarian lainnya yang didukung oleh 10 orang
memakai cawat yang cukup minim sambil menggenggam mandau di tangan kanan dan
perisai di tangan kiri. Konon inilah lambang pertahanan. Dan keramaian begitu
letihnya mengusir musuh bersama itu maka kaum wanita (dalam pakaian lengkap)
dibutuhkan untuk mengipasi para pahlawan ini.
Sadis. Dua acara di atas
itu termasuk yang masih berhasil mengundang kekaguman penduduk. Tapi sejumlah
acara lainnya seperti adu gasing dan adu ayam honon tidak begitu menarik. Tapi
kekurangan ini telah ditutup dengan permainan yang disambut dengan sorak-sorai
walaupun tak kurang sadisnya. Kerbau, anjing dan babi berlari-lari di
tengah-tengah
500 turis. Tetapi
sia-sia pula orang mencari Erau, sejenis upacara peragaan alat-alat kesultanan.
Meskipun bupati dahlan berusaha untuk memperkenalkannya, tetapi tidak kurang
dari gubernur Wahab Syahrani sendiri berkeberatan karena salah-salah "bisa
mengganggu adat Kesultanan Kutai". Menurut A.M.Parikesit, satu-satunya
pewaris terakhir kerajaan itu, di masa nenek-moyangnya dahulu Erau
dilangsungkan dalam pesta 40 hari dan 40 malam. Ketika Parikesit menduduki
tampuk Kesultanan, upacara hanya berlangsnng 7 hari dan 7 malam. Syahdan pada
kesempatan ini segala benda kebesaran seperti Gong Galoh, Tapak Leman, Sangkoh
Piato dan Tali Juita ditampilkan. Malam pertama sampai ketujuh Tapak Leman dan
Gong Galoh muncul untuk diinjak dan disusuri.
Giliran berikutnya
menyisik Lembu Suasa, disertai tari-menari dan upacara membuang 2 ekor
naga-nagaan kesungai Mahakam. "Karena itu saya tidak bertanggungjawab
kalau Erau diadakan" kata Parikesit. Sebab, tata-cara itu khuus untuk
menyertai penobatan para Sultan dan lebih-lebih lagi: benda-benda itu penuh
dengan bobot magis. Meski begitu tidak pula sedikit sangkaan orang, bahwa peniadaan
Erau erat hubungannya dengan tidak hadirnya 500 orang turis asing yang pernah
berjanji kepada Pemda setempat untuk hadir pada HUT Tenggarong. Dan dengan itu
pula, sia-sialah usaha penduduk untuk membenahi rumah-rumah mereka yang semula
dikirakan akan jadi tempat penampungan para turis
HIKAYAT NENEK-MOYANG DI SANGIRAN
PENELITIAN
SKETSA WAJAH NENEK MOYANG DI SANGIRAN SURAKARTA DILAKUKAN OLEH DR. GH CURTIS
DARI CALIFORNIA DAN DR. JACOB DARI UGM. TERJADI PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG
TIADANYA TULANG DASAR TENGKORAK. RU ILT ED 39/02 TA 721209 HA 30 SU ARKEOLOGI ;
PENELITIAN ILMIAH SS PENELITIAN WAJAH ; WAJAH NENEK MOYANG
CUKUP
sulit bagi orang sekarang untuk membayangkan wajah atau bentuk nenek moyangnya,
yang kini disebut manusia purba. Beruntung sekali, hasil-hasil penelitian
paleoanthropologi di Sangiran Surakarta menolong pembuatan sketsa para almarhum
yang menurut seorang sarjana peneliti dari Universi tas California Berkeley,
Dr. GH Curtis hidup pada 400.000 tahun yang lalu. ketsanya begitu sederhana.
Hidungnya besar, kepala berat kemuka dan untuk itu otot tengkuk harus besar,
sedang tulang-tulangnya lebih tebal dari manusia sekarang. Tapi dibanding
manusia mutakhir yang isi tengkoraknya 1500 cc, manusia purba sedikit di bawah:
1100 cc. Mereka tidak memiliki dagu. Keningnya menonjol, otaknya berukuran
kecil dan giginya serba besar--disebabkan makanan yang serba keras, hingga
mulut nampak maju kedepan. Dalam hubungan dengan manusia sekarang Dr. Jcob dari
Universitas Gajah Mada dan Kepala Proyek Penelitian Anthropologi Nasional
menjelaskan: "Kemajuan dalam memasak makanan, sehingga tak terasa keras
lagi, mengakibatkan gigi manusia mengecil, bentuk mulut berobah dan otak
bertambah besar.
Dibolongi. Tapi, yang
masih menggoda pikiran para paleoanthropolog yang menyelidik rangka dan
tengkorak yang ditemukan di Sangiran itu adalah: benarkah manusia purba tadi
memang hidup di daerah Sangiran. Dan betulkah dugaan selama ini, bahwa mereka
punya tradisi mengayau yakni memotong kepala manusia lain dan makan otaknya,
Proyek penelitian ini, yang dipimpin Dr. Jacob dan beriri sejak 27 Oktober
1962, sampai sekarang belum bisa menentukan daerah hidup mereka yang
pasti--walaupun Dr. Jacob yang sekaligus menjabat Kepala Seksi Anthropologi
Ragawi di fakultas Kedokteran UGM itu memberi harapan: "antara 5 sampai 10
tahun lagi tempat yang pasti bakal diketemukan". Masalahnya memang berada
di luar pikiran awam, yang lumrahnya memastikan tempat penemuan tengkorak atau
rangka sebagai tempat jenazah dikubur. Padahal menurut dokter asal Aceh yang
jauh lebih sibuk bergaul denran tengkorak-tengkorak kuno dari pada mengobati
pasien itu, lahar gunung api atau banjir dari sungai-sungai yang terdapat di
sekitar Sangiran bukan tidak mungkin telah membawa tulang-tulang si jenazah dan
mendamparkannya di daerah Sangiran. Pun, kecurigaan terhadap Sangiran sebagai
tempat hidup manusia purba diperkuat oleh kenyataan bahwa sampai
sekarang--dalam proses penggalian bertahun-tahun di Sangiran belum pernah
diketemukan peralatan hidup manusia purba, seperti alat memasak, menyimpan air
atau senjata untuk berburu dan membunuh. Peralatan-peralatan semacam tadi
justru diketemukan di Pacitan, yang sudah termasuk daerah Jawa Timur. Walaupun
begitu, ini tidak berarti bahwa kini bisa segera disimpulkan bahwa Pacitanlah
tempat manusia purba tadi. Sebab, sekali lagi, pemindahan oleh lahar dan banjir
bisa juga telah terjadi pada peralatan-peralatan itu. Dan kini, para anggota
dari proyek penelitian yang hidup dengan anggaran tahunan P & K sebesar Rp
1 juta itu - di samping bantuan beberapa yayasan luar negeri--sedang bekerja
keras memecahkan teka teki ini antara 5--10 tahun mendatang. Demikian mereka
berjanji.
Berbeda dengan masalah
itu, dalam hal ada-tidaknya tradisi mengayau pada manusia purba, terjadi
pertengkaran fikiran antara para aleoanthropolog Amerika dengan Dr. Yacob,
satu-satunya paleoanthropolog orang sini. Ahli-ahli Amerika berpendapat bahwa
manusia purba -- termasuk yang diketemukan di Sangiran--adalah manusia yang
kejam dan kanibalistis. Sebagai alasan: sebagian besar tengkorak yang
diketemukan tidak lagi memiliki tulang-dasarnya. Sekedar gambaran bisa dicatat:
dari 12 penemuan tengkorak dan tulang sejak 1960 di Sangiran, cuma sekali
diketemukan tulang atau kepingan dasar tengkorak. Ini menunjukkan--kata para paleoanthropolog
Amerika--bahwa kepala mereka telah dipecah atau dibolongi melalui bagian tulang
dasarnya, dan otaknya diambil untuk dilahap.
Membikin bom. Tidak
demikian jalan fikiran yang melintas dalam otak Dr. Yacob. Bagi dia, tiadanya
tulang dasar tengkorak tadi disebabkan oleh lemahnya sang tulang - hingga mudah
rusak alias tidak tahan waktu. Ditambahkannya: tidak satupun dari tengkorak
yang diketemukan di Jalan Kopi daerah Roa Malaka Jakarta (TEMPO 28 Oktober)
yang masih memiliki tulang dasar tengkorak. Padahal waktu itu, zaman Kompeni
Belanda, tidak ada tradisi mengayau di
Dan rupanya, Yacob yang
sudah lama bergaul dengan tulang-tulang manusia purba, memang tidak rela orang
menuduh mereka kurang berbudaya atau bersifat kejam dibanding manusia modern.
"Belum tentu", katanya. Setidak-tidaknya - sambil bergurau:
"manusia purba belum pernah memalsukan cek atau membikin bom".
JANDA BERHIAS, BABI TENGKUREP
DI
BALI ROOM HI DIADAKAN KONTES MASAKAN SE-SUMATRA DENGAN KOORDINATOR NELLY ADAM
MALIK. DIIKUTI OLEH PESERTA DAN DIDUKUNG DEWAN PARIWISATA, BERTUJUAN UNTUK
MENGINTERNASIONALKAN MASAKAN TRADISIONAL. RU ILS ED 41/02 TA 721223 HA 34 SU
FESTIVAL MASAK SS HOTEL INDONESIA (DI)
KONTES
masakan se Sumatera berjalan terus, meskipun di beberapa daerah orang-orang
pada antri beras. Itu konon demi PATA, yang jadwalnya semakin dekat. Sebab,
kalau ada kontes kecantikan untuk pariwisata, apa salahnya makanan juga turut
diperlombakan. Diikuti oleh delapan daerah--sedang Sumatera Barat turut dalam
tiga meja lomba, dua di antaranya diwakili restoran Padang di Jakarta--kontes
yang mendapat dukungan Dewan Pariwisata ini dilangsungkan awal-Desember.
Tidak cukup itu saja,
lomba masakan direncanakan nantinya akan diselenggarakan pula di daerah-daerah
lain di seluruh Indonesia, secara giliran. "Kontes bukan saja akan mengemukakan
makanan tradisionil, tapi juga dicoba diinternasionalkan", kata Nelly Adam
Malik yang menjadi Ketua Koordinator. Maksudnya, bukan hanya disesuaikan dengan
lidah orang daerah. Sebab nantinya disuguhkan pula kepada turis luar negeri.
Jadi kalio atau tekwan atau tempoyak itu mesti yang di-belanda-kan. Adapun
penilaian, seperti dikatakan Nursiah Kartakusumah yang jadi wakil Nelly, akan
dititik-beratkan pada tiga syarat. Keserasian dalam menghidangkan makanan,
aroma yang bisa membangkitkan nafsu makan, dan rasa.
Merry widow. Nah,
banjirlah segala macam makanan itu. Aceh, yang rasa makanannya asam manis, ada
menampilkan nasi minyak. Nasi yang dicampur delima dan kismis, konon jadi
makanan kebesaran daerah itu. Di antara sekian banyak macam hidangan terdapat
pula roti cane yang biasanya cuma ditemukan di restoran India. Masakan Sumatera
Barat dengan selera asin pedas tentu tidak asing lagi. Gulai, kalio atau
rendang bisa dibeli biar di Tokyo sekalipun - karena urang awak dalam perkara
perut telah berekspansi di mana-mana. Sumatera Utara menampilkan nasi ulam,
yaitu campuran nasi, telur terubuk, ikan daing dan 15 macam daun-daunan yang
diiris halus.
Selanjutnya, Palembang,
Jambi dan Bangka Biliton mempunyai kesamaan rasa, biarpun masing-masing punya
kekhasan. Daerah pantai yang selalu kaya ikan laut ini condong pada rasa asam
manis. Bengkulu, yang pada kesempatan itu mengeluarkan semua makanan - mulai
dari bahan sarapan sampai makan malam - tidak lupa mengeluarkan lutupe
Bangkahulu-nya yang ternyata tidak seserem seperti dibayangkan bila orang
bicara perkara pukul-memukul. Tidak lebih besar dari ketupat Jakarta. Ada pula
hidangan yang bernama jando berie (janda berhias). Ketika salah-seorang juri --
bangsa asing - menggunakan nama itu makanan, cepat dijawab oleh yang jaga:
"Merry widow cake" Kue ini tidak lain cuma pisang muda direbus,
diberi kelapa dan gula merah.
Gulai anjing. Dari 11
peserta yang memenuhi ruangan Bali Room Hotel Tndonesia, tampaknya cuma
Tapanuli yang paling siap. Dalam segala hal. Disokong banyak backing seperti
karya wan Panggabean (importir mobil Piola). Pardede, Panggabean (jenderal),
makanan yang disajikan cukup terarah dan tidak terlalu banyak. Menu yang sudah
dicetak rapi dan indah, lengkap keterangan dalam bahasa Inggeris, siap dibagikan
kepada siapa saja yang minta. Tidak urung pilihan nomer satu jatuh pada masakan
Tanah Batak ini.
Itulah peserta
satu-satunya yang menghidangkan babi panggang tengkurep. Mungkin pula, di
antara makana yang digelarkan ada pula terselip sak sang, gulai anjing yang
juga digemari orang Manado. Tapi entahlah, saksang tidak terdapat dalam menu.
Ada pula gulai rumput danau Toba yang kalau kena lidah bukan orang Batak seras,
rumput setengah matang saja. Susu kerbau yang dikeraskan, disebut dali horbo na
diarsik, rupanya makanan kehormatan yang bisa dijadikan sop atau lauk lainnya.
Santai saja. Untunglah
juri yang
Mari herfikir sedikit
mewah: akan berhasilkah makanan daerah diinternasionalkan? Sedang dua restoran
di
PANDAN UNGGUL
ANYAMAN
PANDAN DARI RAJA POLAH TASIKMALAYA TERKENAL. DAERAH INI TAK BISA MEMENUHI
PERMINTAAN LUAR NEGERI KARENA KURANGNYA BAHAN. AREAL TANAMAN PANDAN SEMPIT.
BUPATI SETEMPAT TURUN TANGAN MENGATASI. RU ILS ED 33/02 TA 721021 HA 30 SU
PANDAN ; TASIKMALAYA SS TASIKMALAYA (DI) ; ANYAMAN PANDAN ; TANAMAN PANDAN
LANGKAH-LANGKAH
diplomatik yang, dilancarkan RRT akhir-akhir ini rupa-rupanya telah berhasil
mendatangkan rasa cemas bukan saja bagi negara Soviet, tapi juga
penganyam-penganyam pandan di daerah Tasikmalaya. Kecemsan itu timbul karena
tahu bahwa di Benua Naga yang sekarang makin kelihatan manis itu, orang memakai
pula pandan sebagai bahan anyaman, Ban "kami sudah melihat buatan mereka,
mutunya sangat balk", kata Nyonya Ai Sutarmo, Direktris CV Pitaloka
Tasikmalaya.
Imik. Anyam-anyaman
pandan memang sudah menjadi pekerjaan hampir sebagian besar penduduk di sand.
Apalagi sekarang, bukan cuma topi saja yang bisa dibuat dari pandan,
barang-barang seperti map, tas kosmetik, sandal, dompet, hiasan Dinding, sampai
taplak meja, baki serta karpet bisa juga dibuat dari pandas. Dan pembelinyapun
bukan lagi cuma pak Sarmin yang kepanasan menjajakan minyak tanah, tapi
kulit-kulit putih dari berbagai negara tertarik pula dengan barang pandan ini.
Dengan meningkatnya permintaannja. nyaman pandan ini, ributlah para pengusaha
di Tasikmalaya, karena pandas yang ditanam terrnyata sudah tidak bisa mencukupi
kebutuhan-lagi. Banyak pesanan pesanan yang datang dari para importir di
kota-kota seperti St. Louis. Bonn, Madrid, Wellington, Melbourne. Sidney serta
Paris terpaksa tak terpengaruh, kaena langkanya bahan baku. "Bayangkan
saja, ditahun 1971 yang lalu, dari pesanan 150:000 losin-topi, yang terpenuhi
cuma sepersepuluhnya kata nyonya Ai lagi dengan nada kecewa.
Soalnya karena barulah
di Rajapolah dan daerah sekitarnya saja pandas ditanam secara teratur. Arealnya
tidak lebih dari 50 hektar. Dan hasil dari tanah yang sekian itu masih
harus-pula dibagikan ke daerah penganyam seperti Gombong di Jateng dan
Tangerang, yang memang nihil tanaman itu. "Tapi apa memang cuma sekian tok
pandas yang tumbuh di seputar daerah tukang-tukang anyam itu? Intik Suparmo,
yank adalah tokoh dalam hal pertopian pandas di Rajapolah; jelas tidak bisa
membenarkan anggapanmacam, begitu. Sebab sebenarnya, ada ribuan hektar pandan
yang tumbuh seenak perut sendiri di pesisir-pesisir Samudera Indonesia. Kalau
ini bisa dimanfaatkan, maka apa yang dibilang sebagai kekurangan bahan bakarpun
tidak perlu terjadi. Dan, seperti kata Imik pula, "Semua pesanan yang
meliputi nilai tidak kurang dari 77.000 dollar Amerika setiap tahunnya itu
pasti akan bisa terpenuhi".
Terpenuhi atau tidak, yang
jeIas, pohon yang tumbuh semau gue seperti yang terdapat di pantai selatan,
Tasikmalaya dan Ciamis itu keadaannya memang tidak menggembirakan, apalagi bila
dibandingkan dengan pohon pandas Rajapolah yang tumbuh dengan ditimang-timang
penuh kasih sayang. Hingga yang terjadi di daerah dengan penduduk yang sama
sekali tidak tertarik dengan kerja anyam-menganyam ini, adalah, rusaknya
pohon-pohon kelapa, karena tumbuhan pandan yang morat-marit itu telah digunakan
sebagai sarang oleh hewan-hewan perusak kelapa seperti bajing.
Ayaran. Disamping semua
kesuraman itu, menarik pula ikhtiar Bupati Tasik Husein Wangsaatmaja untuk
memanfaatkan tumbuhan pandan yang ada di beberapa tempat seperti Taraju,
Karanguggal, dan Sukaraja. Kalau raja bisa berhasil supaya Bupati ini, maka
seorang penganyam dengan 1 hektar halaman pandan, boleh mulai mengharap
munculnya kekayaan. Sebab diperkirakan dalam tiap 1 ha tanah, dapat ditanami
kurang lebih 10.000 pohon pandan. Sedang pengambilan dan sebagai bahan anyaman
dilakukan 2 bulan sekali masing-masing 6 helai perpohon. Selama 1 tahun dari
tanah seluas itu akan bisa dipetik 360 ribu helai daun. Sedang dari setiap 1000
helai bisa didapat 6 kg "ayaran". Dan bila tiap kg ayaran Rp 80, maka
setahun seorang tukang ayar akan bisa, mengantongi uang sejumlah tidak kurang
dari Rp 172.000. Baru-baru ini Jawatan Perindustrian Aceh, Riau Ban Irian Barat
telah mengirim beberapa orang utusan untuk belajar cara anyam-menganyam ke
Rajapolah, karma di daerah mereka terdapat juga tumbuhan pandan yang subur,
tapi tidak ada tenaga yang bisa memanfaatkannya. Dan kalau di daerah lain orang
mulai terpikat untuk menganyam pandas, kenapa di Tasik sendiri pandan yang
tersedia tidak mau memanfaatkannya.
TENGKORAK-TENGKORAK CINA
PULUHAN
TENGKORAK MANUSIA DITEMUKAN DI JL. KOPI JAKARTA KOTA. DIDUGA ITU ADALAH
TENGKORAK ORANG CINA YANG DIBUNUH PADA TAHUN 1740 OLEH BELANDA YANG DIKENAL
SEBAGAI GEGER PECINAN. KONON 10.000 CINA TERBUNUH. RU ILM ED 34/02 TA 721028 HA
49 SU TENGKORAK SS JAKARTA (DI) ; TENGKORAK CINA
TERSEBUTLAH
dalam riwayat: kira-kira 10.000 orang Cina - tua, muda, perempuan, bayi telah
dibunuh dalam suatu operasi pembantaian di daerah Roa Malakka, Batavia, oleh
fihak Belanda pada 9 Oktober 1740. Peristiwa yang lebih di kenal dengan sebutan
geger pecinan ini terjadi di masa kekuasaan kongsi dagang Belanda atau VOC
dengan Adrian Valckenier sebagai Gubernur Jenderal. Mendadak, 232 tahun kemu
Sementara
kekacauan-kekacauan Cina terus terjadi pada 25 Juli 1740 sidang dewan tertinggi
penguasa Belanda mengeluarkan maklumat yang membikin geger orang-orang Cina di
Batavia. Cina-cina penganggur akan dibuang ke Banda, Srilangka dan Tanjung
Harapan. Afrika. Sedang sebagian lagi, termasuh yang sudah bekerja, bakal
dipulangkan ke tanah leluhur - sementara di sana sendiri sejak 1712 dalam
dinasti Yung Ching berlaku pules satu maklumat larangan kembali ke tanah Cina,
dengan ancaman hukuman mati. Ini kepanikan di kalangan Cina tambah diperpanas
oleh berita-berita burung, bahwa kapal-kapal pengangkut Cina-Cina buangan ini
sengaja ditenggelamkan Belanda di tengah laut atau, kalau tidak, orang-orang
Cina dalam kapal tadi dilempar ke laut.
Sangat edan Tak pelak
lagi, orang-orang Cina jadi murka tak hanya yang di
Seperti itu juga,
sebenarnya belum ada pemastian secara ilmiyah, bahwa yang diketemukan dalam
penggalian-penggalian ini daerah
Dan yang diharapkan
mengadakan penyelidikan seteliti mungkin adalah Dr: Yacob MD, satu-satunya
palaentolog
YANG MEREPET DAN YANG SILAP
RAMLAH,
20, PENDUDUK KAMPUNG SUKARAMAI, TAKENGON, ACEH DIBUNUH ADIK KANDUNGNYA, TS, 14
TAHUN. MAYAT RAMLAN DISEMBUNYIKAN DI KEBUN KOPI. TS MERASA KHILAF KARENA
KAKAKNYA SELALU MEREPET. RU HK ED 12/02 TA 720527 HA 28 SU PEMBUNUHAN SS ADIK
KANDUNG (PELAKU) ; RAMLAH (KORBAN)
DJELASNJA
memang gara-gara sebuah djarum Ts, 14 tahun dari Kampung Sukaramai, Takengon,
Atjeh, pada suatu hari ditahun jang silam memindjam benda tersebut dari Ramlah
(20 tahun), kakaknja. Entah bagaimana, tiba-tiba benda ketjil itu dihilangkan
Ts - dan si kakakpun djadi merepet-repet. Ts masih terus berusaha kesana
kemari, tapi dasar pangkal bala; tak ketemu djuga. Dan untunglah, selang
beberapa hari urusan djarum djahit jang hilang ini mendjadi berselang dingin.
Tapi beberapa hari kemu
Stagen. Begitulah: untuk
mendiamkan mulut kakaknja jang meritjau berkepandjangan, Ts mengambil tjangkul
dan langsung menjerbu kakaknja jang perempuan tadi. Dikamar itu djuga si kakak
menggeletak. Di hantamkannja lagi muka sikorban berkali-kali. Belum djuga puas,
Ts keluar mengambil kaju petai dan menghundjamkannja kedada gadis ini
berkah-kali hingga tak bersuara lagi. Belum djuga luntur kadar pitam anak jang
belum akil balig ini, karena kemu
Dia berlutut mendekati
kakaknja jang telah tak bernafas dan lebih dari itu, menangis sedjadi-djadinja.
Waktu itu menurut Ts, dia takut sekali kepada bapak dan ibunja, djangan-djangan
bapaknja akan memukulnja sebagaimana dia telah memperlakukan kakaknja.
Perasaan jang amat kuat
inilah jang menjebabkan Ts segera mengambil tindakan untuk menjembunjikan majat
kakaknja ini dikebun kopi. Dan karena tak mampu mengangkat majat sendirian, Ts
memakai stagen korban dan begitulah sampai kekebun. Disitu Ts, segera menggali
lobang sedalam 1 meter.
Petai. Temjata tjerita
Ts tak berbeda dengan apa jang diuraikan oleh djaksa A.K. Akil pada
sidang-sidang Pengadilan Negeri di ibukota salah satu Kabupaten di Atjeh itu
tanggal 13 Maret 1972 jang lalu. Disamping itu penuntut umum menambahkan bahwa
menurut pemeriksaan, majat diketemukan pada tanggai 11 Djuni 1971 djam 11 dalam
keadaan jang sudah membusuk. Sebelumnja orangtua Ts bersama orang-orang kampung
telah berusaha djuga mentjari dengan minta bantuan Ts - tapi pada saat itu Ts
hanja menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis tak habis-habisnja, Menurut
orang-orang kampung. mungkin djuga Ts bersedia karena telah kehilangan
kakaknja. Sebab temjata ketika majat ini diketomukan, Ts mendjerit
sedjadi-djadinja dan mengaku bahwa dialah jang telah memukul kakaknja. Djuga,
seperti jang dikatakannja kepada TEMPO: "Saja silap, saja silap," -
dengan nada jang pandjang. "Kakak ini adalah kakak jang sangat saja
tjintai, diapun baik sama saja, tapi entah kenaapa dia sampai hati merepet
hingga saja silap. Saja kepingin pulang untuk djumpa sama ibu dan ajah."
Sampai berita ini
diturunkan belum diketahui nasib lebih landjut dari anak silap karena kakak
merepet ini. Akan tetapi seperti jang dikatakan oleh Musa Sari SH, Kepala
Kedjaksaan Negeri Takengon kasus ini adalah kasus-luar biasa jang pernah
terdjadi di Atjeh Tengah, Dikatakan bahwa dalam tahun 1970-1971 kriminalitas
didaerahnja amal minim, jaitu hanja 34 buah perkara jang terdiri dari
kedjahatan ringan dan pelanggaran, sedangkan pembunuhan barulah jang sekali
ini.
Jang agaknja bisa
diperkirakan, sidang peradilan jang dipimpin oleh hakim ketua Hadi Lubis SH,
betul-betul akan berdjalan sederhana. Terdakwa mengaku terus terang,
saksi-saksi jang tudjuh orang mengaku sebagai penemu majat dan dimedja hakim
terdapat alat-alat bukti tjangkul dan kaju petai.
GUGUR BUNGA
PRODUKSI
KOPI SUMATERA SELATAN MENURUN. POHON KOPI KURANG LEBAT BERBUAH. BANYAK BUNGA
YANG RONTOK DILANDA HUJAN. BANYAK PULA UMUR POHON KOPI YANG SUDAH TUA.
PEMETIKAN BIJI PUN SUATU KESULITAN. RU EB ED 28/02 TA 720916 HA 37 SU KOPI SS
SUMATERA SELATAN (DI)
SEBAGAI
juara penghasil kopi, Sumatera Selatan memiliki persamaan dan perbedaan dengan
daerah Lampung sebagai runner-up". Di kedua daerah itu kebun-kebun kopi
diusahakan, ditanam dan dimiliki seluruhnya oleh rakyat. Sedang perbedaannya
terletak pada areal tanaman kopi yang lebih senang tumbuh di daerah perbukitan
Sumatera Selatan, tapi di Lampung tanaman kopi tersebar di dataran rendah. Dari
kedua propinsi tersebut dihitung-hitung produksi bersama bisa mencapai 77.000
ton. Ini berarti 7.000 ton lebih banyak dari jatah MEK ICO yang tersedia. Jadi
sesungguhnya, minus produksi kopi di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, serta
Sumatera Utara bersama Aceh dan lain-lain daerah kopi kecil, produksi 70.000
ton setahun kalau dikehendaki sudah cukup untuk mencapai sasaran jatah ekspor.
Kini setelah dikurangi
sekitar 30.000 ton konsumsi kopi dalam negeri, Sumatera Selatan ternyata masih
jempolan dalam hal surplus kopinya. Dari data-data yang dikumpulkan, produksi
kopi di Sumatera Selatan mencapai 46.900 ton di tahun 1971. Sedang seluruh
ekspor ke negara-negara kwota dan non kwota ketika itu hanya 20.162 ton
ditambah konsumsi 2.000 ton. Maka jumlah kelebihan 24.373 ton-atau sekitar 80%
dari surplus kopi Indonesia menumpuk di gudang-gudang Sumatera Selatan.
Ajaib. Untuk melemparkan
kelebihan produksi semenyolok itu tidak ada lain jalan tampaknya kecuali
mengarahkan pandangan kedalam negeri. Salah satu cara yang ditempuh para
eksportir adalah perdagangan antar pulau dan antar daerah yang
Tapi musibah harga kopi
di Sumatera Selatan kadang-kadang bisa membawa sedikit keajaiban bagi Lampung
tetangganya. Meskipun di tahun kemarin produksi dan ekspor kopi Lampung boleh
dibilang jatuh pas-pasan saja, ada terjadi semacam "boom" yang
membuat orang geli di tahun 1969. Ketika itu ekspor hopi yang berasal dari
daerah lada itu sampai 40.500 ton. Sedang produksi tidak meliwati 27.000 ton.
Dari mana munculnya 13.500 ton kopi? Tentu saja selisih jumlah itu disedot dari
alam snawi. Dan ketika ketimpangan seperti itu dilaporkan gubernur Sumatera
Selatan 4 tahun lalu liwat Menteri Dalam Negeri Amirmachmud nampaknya keadaan
masih tetap begitu.
Rontok. Sementara itu di
tengah hingar bingarnya surplus kopi, sebuah sumber resmi malah membanggakan
bahwa Sumatera Selatan pernah mencapai rekor produksi kopi 50.000 ton, meskipun
di tahun-tahun kemarin kian susut tinggal 46.900 ton. Mengapa merosot. Sejak
tiga tahun lalu para petani kopi merisaukan pohon-pohon kopi tidak lebat lagi
berbuah. Setiap panen usai dikeluhkan hasilnya semakin berkurang. Di Oku,
daerah kopi nomor satu di
Apa yang menyebabkan
pohon kopi kurang lebat berbuah? Sementara petani menunjuk pada bunga-bunga
kopi yang rontok dilanda hujan, ketika pohon kopi putih berkembang. Tentu saja
ini tidak serupa dengan serangan
BARANG SENI YANG ILAHIAT
MTQ
NASIONAL V DIBUKA DI JAKARTA. JUMLAH HADIRIN TAK ISTIMEWA. BERBAGAI JENIS LAGU
PUNYA LATAR BELAKANG TRADISI YANG BERBEDA. SEMUANYA MENUNJUKKAN KEKAYAAN SENI
BACA QUR'AN. RU AG ED 30/02 TA 720930 HA 30 SU MTQ NASIONAL V SS PEMBUKAAN
TIDAK
sukar untuk menebak, mu'jizat apa yang telah menarik bondongan kaum muslimm
yang memenuhi Istana Olah Raga Senayan. Sejak Musabaqah Tilawatil Qur'an
Nasional ke-V dibuka Sri-Sultan Hamengku Buwono IX (dan bukan Presiden
Soeharto), sampai seluruh acara berakhir hari SeIasa kemarin, Stadion Utama dan
Istora penuh hadirin. Seratus buah perahu layar dari Bugis, masing-masing sarat
penumpang, berpayah-payah menyeberangi Laut Jawa ketempat ini. Dari Sumatera
Utara dun dari daerah-daerah lainpun kaum muslimin tumpah di ibukota. Maka
syi'ar yang ditimbulkan acara ini cukup menggelombang dalam udara metropolitan
walaupun untuk ukuran kota seperti Jakarta jumlah hadirin sebenarnya tidak
terlalu istimewa, tidak seperti MTQ-MTQ yang lalu di kota-kota diluar Jawa
dimana spontanitas penduduk dan jumlah hadirin berlipat-lipat lebih banyak dari
penghuni kota itu sendiri. Di Banjarmasin misalnya tempat MTQ III dua tahun
lampau didapat cerita bahwa saking gembiranya umat disana, banyak tukang cukur
dun tukang beca menyediakan layanan cuma-cuma untuk para tamu. Dengan menolak
ongkos, penduduk bemiat melakukan ibadah dan mengharap pahala. Itu diceritakan
dalam buku kenang-kenangan MTQ. Disamping sumbangan bahan makanah, konon sejak
jauh sebelum musabaqah berlangsung di ibukota Kalsel itu, para tukang copet
sampai-sampai membuat proklamasi mengistirahatkan kegiatan selama MTQ. Benar
atau bergurau, itulah cerita seorang kepala polisi di sana. Semua itu hanya
berarti bahwa lagu-lagu Qur'an merepakan satu-satunya barang seni yang paling
berharga bagi puluhan juta penduduk.
Kontemporer & Soul.
Dan barang seni yang ilahiat itu konon pula tidak begitu bersahaja alias bukan
hat mudah. Dari gelanggang Istora Senayan sendiri selama lima hari
berturut-turut, telah terdengar berbagai jenis lagu yang bila ditilik dengan
mata awas sebenarnya masing-masing punya latar-belakang tradisi yang
berbeda-beda dan semuanya menunjukkan kekayaan senibaca Qur'an itu- Jenis-jenls
melodi Qur'an seperti bayati, hijuzi, sikah, rosda atau nashwan, yang terhitung
populer untuk para qari dan qari'ah di Indonesia, mengalun dan saling berbaur
antara yang satu dengan yang lain. Seorang dari yang maju kedalam MTQ akan
sudah menguasai dengan baik beberapa buah lagu meskipun kadang-kadang mereka
hanya mengoper dari qari-qari Mesir tanpa mengetahui seluk-beluknya bagaikan
ilmuwan. Demikian maka penguasaan itu memungkinkannya untuk berpindah-pindah
lagu dan melakukan berbagai variasi dun improvisasi tentu saja dengan sekaligus
menguasai cara-cara pindah sehingga terhindar dari kesan fals.
Maka jelaslah, dengan
adanya pakem-pakem tertentu, seni-baca Qur'an bukanlah sebuah ajang untuk
melahirkan ekspresi dari dalam diri sang qari atau qari'ah. Juga tidak ekspresi
dari dalam kandungan ayat-ayat itu sendiri. Ia bukan jenis semacam kesenian
kontemporer ataupun soal sebab, seperti misalnya dikatakan H. Syed Muhammad
Assiry, tokoh yang terus-menerus menjadi juri sejak MTQ ke-I dun pernah
menjurii MTQ internasional di Kuala Lumpur: "Qur'an itu adalah ayat-ayat
yang dibaca dengan lagu menjadi enak, dibaca secara luruspun enak". Dengan
kata lain, sudah diakui bahwa susunan bunyi yang termuat di situ sedemikian
rupa sehingga ia berbeda dengan artikel-artikel bahasa Arab ataupun syair-syair
tradisionil, yang hanya bagus dibaca lurus atau hanya bagus dibaca sambil
menyanyi.
Bapaknya qari. Meski
begitu Assiry tak lupa menyebut satu tuntutan lain. Yakni apa yang disebut
tanziqut tilawah ma'al ma'na, menepatkan bacaan dengan kandungan ayat. Selain
penyesuaian ini berarti seseorang diharap faham apa yang dia baca sehingga
misalnya kalimat yang berarti "Maryam yang telah menjaga kehormatan
(farji)nya" seharusnya dibaca lirih atau rendah pada kata farjaha, demi
menjaga kesopanan kepada Maryam dan kepada Qur'an maka penyesuaian juga bisa
mengarah kepada sesuatu yang berbau ekspresi dan kandungan Qur'an lewat lagu.
Sehingga, kata qari kawakan dari Aceh itu: "Ayat-ayat yang berisi berita
bahagia tidak akan dibaca dengan sedih dan sebaliknya". Dan tuntutan ini,
bila diamat-amati, boleh jadi merupakan kecenderungan baru dalam seni-baca
Qur'an yang diam-diam hidup tanpa banyak dikenal orang luar itu. Toh bisa
diduga tuntutan itu tak mutlak. Sebab seorang yang berada dalam suasana
khusyu'misalnya, boleh jadi membaca berita gembira dengan haru dan nyaris sedih
toh, bila lagu dan suaranya memang bagus, enak juga. Hanya saja bahwa
kecenderungan ekspresi itu tampak dituntut oleh "para pembaharu seni-baca
Qur'an", terbukti bila qari-qari Mesir membawakan bagian-bagan Qur'an yang
merupakan dialog maka disitu suara sang qari tidak hanya mengantarkan lagu yang
enak, tapi juga satu suasana yang hidup dari satu paragraf Qur'an. Dan itulah
antara lain yang menjadikan Mesir sebagai negeri pertama dalam bidang seni yang
satu ini disamping di
Untuk ukuran Indonesia,
seperti diakui Assiry, memang kemampuan ekspresi seperti itu sangat langka
walaupun kalau mau ditilik-tilik sebenarnya terdapat juga, yakni umumnya pada
qari-qari tua lebih-lebih yang sudah hafiz alias hafal seluruh Qur'an dan sudah
senyawa dengan seninya. Mereka yang sudah begitu itu tidak disebut qari lagi
melainkan muqri alias bapaknya qari. Akan hal suara yang berkilau-kilau ataupun
jenis jenis suara surgawi lain di Indonesia, Assiry tak lupa memberi sekedar
contoh dengan nama-nama (kebetulan semua lelaki) seperti Ahmad Syahid, Kholid
Daulay, Abdul Aziz Muslim Salafuddin atau Muhammadon, yakni sebagian qari yang
telah menjadi juara baik pada MTQ-MTQ yang lampau maupun pada KIAA di Bandung
dahulu. Siapa tahu dari para pemenang yang dilahirkan MTQ ke-V ini (yang
seperti yang sudah-sudah tidak diikuti juara juara yang dulu), ada yang bisa
menambah jumlah pemilik suara--suara yang keemasan itu. Bagi berjuta rakyat
rupanya mereka itu sungguh-sungguh jimat.
CARA MEMILIH LUAR-DALAM
UNTUK
MENGIKUTI PEMILIHAN RATU JAKARTA HARUS MEMENUHI PERSYARATAN. SETELAH MENANG PUN
HARUS MENEKEN KONTRAK. KALI INI EARLY BURHAN ALI SEBAGAI PEMENANGNYA SETELAH
MENYISIHKAN 42 PESERTA LAINNYA. RU ILS ED 29/02 TA 720923 HA 24 SU RATU
KECANTIKAN SS SYARAT PESERTA
MEMANG
tidak dipungut uang pendaftaran. Tetapi mereka yang ingin menjadi peserta
pemilihan Ratu Jakarta 1972, harus betul-betul mawas diri sebelum terjun dalam
gelanggang. Pertama, setelah sekian kali berdiri di depan cermin tentunya,
harus merasa yakin bahwa dia mempunyai kebolehan tampang. Kedua apakah bentuk
tubuhnya memang menggairahkan. Walaupun tidak usah sehebat Sophia Loren atau
Anita Ekberg, ukuran biasa untuk lomba macam begini dalam inci adalah
36--24--36 untuk dada, pinggang dan pinggul (DPP). Sudah itu masih lagi harus
menjajagi apa dia punya kecerdasan berpikir, kefasihan mempergunakan bahasa
asing terutama Inggeris, dan pintar bergaul secara internasional. Karena memang
tidak banyak orang yang dikurniai kesempurnaan lahiriah sekaligus kecerdasan
kepala.
Tapi kalau dia berhasil,
pintu ketenaran menghadang hari depannya. Paling sedikit lapangan kerja seperti
bintang film (entah jenis apapun), peragawati atau lainnya untuk mana unsur
kecantikan atau keluwesan merupakan senjata ampuh.
DPP ideal. Berapa besar
minat gadis-gadis ibukota dalam lomba cantik ini? Lebih besar dari tahun lalu.
Waktu pengisian formulir, tercatat 4 peserta. Biasanya, demikian keterangan
seorang panitia, Bapparda menyebar sekian banyak mak atau pak comblang untuk
mencari gadis-gadis "dari keluarga baik-baik untuk dibina dalam perlombaan
ini", katanya. "Sayang tahun ini kami tidak menemukannya". Tapi
dengan seringnya pemilihan mis ini-itu dan malam kontes batik atau pameran
pakaian Jakarta sudah pasti tidak akan kekeringan dalam hal mencari peserta
model ginian.
Pada taraf ukur-mengukur
tinggi tubuh (minimal 160 cm), 5 orang rontok dalam penyaringan yang oleh
panitia diberi nama keren: prejudging I. Penyaringan kedua kalinya menjatuhkan
satu orang, dan sampai pada acara pesta kebun muncullah 32 orang. Dari jumlah
tersebut, 16 orang berhasil masuk kemalam final. Walaupun tidak punya DPP
ideal, Early Burhan Ali, 19 tahun, tinggi 160 cm, DPP 35.4--26.8-35.6 dengan
berat badan 49 kg, berhasil keluar sebagai Ratu Jakarta 1972. Anak Aceh Indo
dan menjadi haji ketika umur 13 tahun, Early tidak mendapat hadiah runner-up II
(juga Ratu Personalitas dan Ratu Favorit) harus langsung teken kontrak di Balai
Kota.
Mobil seperti lazimnya
ratu-ratu tahun lalu. Tapi keesokan harinya Early dengan runer-up 1 Airin
(lanpa embel-embel nama lainnya) 21 tahun dan Lely Herawati Sundoro 19 tahun
sebagai.
Super mi ayam. Untuk
lebih mempertegas lagi: sebelum mereka terjun kegelanggang toh mereka sudah meneken
persetujuan 1 pasal. Antara lain tidak boleh menikah setahun lamanya. Juga:
kalau mereka dikirim dalam misi pariwisata ke dalam dan ke luar negeri tidak
perlu didampingi salah seorang anggota keluarga. Sebagai gantinya dia harus
setuju seorang pengiring yang akan ditunjuk Panitia sebagai orang yang cukup
berpengalaman (dalam soal-soal lomba beginian) dan tepercaya. Di samping tidak
boleh turut kontes kecantikan manapun di luar yang dimaui Panitia ratu juga
tidak boleh melakukan usaha-usaha promosi komersiil. Pokoknya Ratu Jakarta
harus di-non komersilkan. Hal ini dikemukakan oleh Wim Tomasoa sebagai Ketua
Pelaksana di sebabkan lantaran takut kalau-kalau ratu atau pemenang lainnya
dipergunakan penjual alat kosmetik super mi ayam atau cat rambut tahan luntur.
Sedang beberapa sponsor
yang telah menyediakan hadiah cuma beruntung ditulis dalam buku acara malam
final yang dicetak cukup rapih. Memang tidak ada sponsor yang menyediakan
sebuah mobil baru seperti tahun-tahun lalu dan seorang anggota panitia menutupi
hal ini dengan dalih "repot mengurusnya" tapi segala macam hadiah toh
diterima juga. Mulai dari lemari es sampai cuma sebuah gaun malam dari beberapa
butik.
Menonjol segalanya. Apa
kesulitan panitia tahun ini? Uang rasanya bukan hal primer untuk Jakarta. Tapi
mencari gadis yang minimal tinggi 160 itulah rupanya salah-satu yang repot.
Ratu Jakarta tahun kemarin Endang Triwahyuni mengatakan di malam pesta kebun
bahwa minimal tinggi peserta pada kontes internasional adalah 170. "Tapi
kalau kurang satu atau dua centi boleh lah" kata Wim Tomasoa "dengan
Catatan tetap tidak bisa memenangkan gelar Ratu". Persoalannya bukan untuk
diinternasionalkan tapi kepada Hasantha dari TEMPO, Wim menyatakan:
"Soalnya harus diadu dengan ratu-ratu dari daerah". Terutama Jakarta
selama ini tidak pernah berhasil memenangkan gelar Ratu Indonesia.
Hal lain ialah sulitnya
muncul muka baru dalam pemilihan beginian. Selalu itu-itu saja yang jadi
langganan dan tidak jera-jera walaupun tidak menang sehingga 7 orang anggota
juri dan 4 orang pembantunya sering kehabisan akal di babak final. Kata Sulaima
Wiriaatmadja Wakil Ketua Pelaksana; "Sebetulnya kami terutama juri lebih
senang kalau memilih ratu yang berwajah baru sama sekali". Bukan bintang
lilm atau penyanyi atau langganan lomba mis-misan "yang baru tapi yang
menonjol segala-galanya".
Otot perut. Syarat tubuh
indah sempurna juga merupakan syarat yang
Tapi bisakah
KREDIT PMDN-ANTARA KONEKSI DAN ...
RADIUS
PRAWIRO MEMBANTAH KREDIT PMDN RP 200 MILYAR KE PENGUSAHA NON PRIBUMI. KREDIT
DIBERIKAN JUGA KE PRIBUMI. MASIH
BENARKAH
kredit dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sudah lebih dari 200
milyard rupiah jatuh ke tangan pengusaha-pengusaha non-pribumi? Berita yang
mula-mula lahir dari keterangan Ir Sanusi, anggota DPR/MPR bekas Menteri
Perindustrian itu rupanya seakan bahan bakar yang memancing api reaksi. Dan
memang berkobar dari sana-sini, menambah tajam issue pribumi & non-pribumi
yang memang merupakan masalah laten itu. Gubernur Bank Sentral Radius Prawiro
tidak menunda waktu untuk segera memberikan keterangan terbuka mengenai masalah
yang dihebohkan ini. Di hadapan rapat gabungan Komisi-Komisi II, IV, VI, VII
dan APBN DPR hari Rabu akhir Nopember kemarin Radius seakan terperangah berkata:
"Saya tidak tahu apakah itu angka resmi, angka sas-sus atau angka
magic". Sebab menurut Radius, dalam statistik Bank Sentral, jumlah kredit
Rp 200 milyard dalam rangka PMDN itu tidak ada. Nah, jika angka itu sendiri
tidak ada, logikanya bagaimana mungkin pengusaha-pengusaha non-pribumi sudah
kebagian kredit investasi sebesar yang digembar-gemborkan itu? Dan setelah
membanding-bandingkan angka-angka laporan dari sana-sini, Gubernur Bank
Indonesia itu boleh lah dikatakan benar, paling sedikit ia benar dalam membantah
bahwa jumlah 200 milyard itu tidak ada atau belum ada. Dari catatan yan
dibawanya Radius mengemukakan angka 130 milyard sebagai jumlah kredit yang
telah disetujui dalam rangka PMDN, tapi dari jumlah itu baru Rp 83 milyard yang
telah di realisir. Tidak jelas apakah data yang di bawa Radius ke hadapan
sidang Komisi-Komisi DPR itu bukan angka yang paling akhir. Tapi Pamungkas,
Ketua Sub-Panitia PMDN menyodorkan angka lain yang lebih besar yaitu Rp 10
milyard -angka mana menurut Pamungkas kepada TEMPO diperolehnya berdasarkan
laporan Bank Sentral sampai Oktober 1972.
Liem Soei Liong &
Herawati Diah
Laporan Bank Sentral itu
menunjuk kan pula bahwa jumlah kredit dalam rangka PMDN tersebut tidaklah
semuanya jatuh ketangan para pengusaha yang namanya masih ataupun pernah
terdiri dari tiga suku kata. Untuk perluasan pabrik tekstilnya di Salatiga dan
pembangunan pabrik tekstil Tetoron di Tangerang misalnya, PT Daya Manunggal
berhasil kebagian kredit investasi 1,2 milyard. Kredit investasi sebesar Rp 1,2
milyard juga berhasil digaet oleh PT Bogasari Flour Mill, sebuah usaha kongsi
antara Yayasan Dharma Putera Kostrad dengan pengusaha non-pribumi kelompok Liem
Soei Liong alias Sudomo Salim, untuk pembangunan pabrik terigu di Jakarta dan
Surabaya. Tapi sementara itu Herawati Diah, isteri B.M Diah pengusaha pribumi
yang mulai melebarkan usahanya dari penerbitan dan periklanan ke bidang
pariwisata, telah kebagian kredit investasi sebesar Rp 1,4 milyard untuk
pembangunan Hotel Ambasador di jalan Prapattan Jakarta. Dan berapa yang
diterima PT Astra yang kampanyenya begitu luas? Rp 250 juta, yaitu hanya
sedikit di atas jumlah yang diterima oleh PT Gramedia yang mencetak Harian
Kompas untuk membangun percetakan offset di Pal Merah. Dan jumlah yang didapat
Astra itu konon untuk membiayai usaha kongsinya dengan Departemen Perindustrian
menghidupkan kembali PT Gaya Motor, sebuah bekas PN yang nyaris bangkrut.
Jumlah bersama yang didapat Astra dan Gramedia itu masih dibawah jumlah kredit
investasi yang diperoleh Bakri Brothers untuk menghidupkan pabrik-pabrik karet
bongkah dan usaha-usahanya yang lain. Tapi nama-nama yang biasa disebut sebagai
"cukong-cukong Cina" dan sering terpampang di pers seperti Nyoo Han
Siang, Bob Hasan, Yap Swie Kie dan lain-lain tak tercatat dalam laporan Bank
Sentral sebagai pengusaha-pengusaha non-pribumi penerima kredit investasi dalam
rangka PMDN ini.
Meskipun demikian, apa
yang selama ini disebut-sebut sebagai "jurang ketidak adilan" antara
pribumi dan non-pribumi dalam kesempatan berusaha sedikit-banyak bukannya tidak
ada. Perbedaan itu akan segera terlihat menyolok jika penghitungan dilakukan
menurut prosentase secara keseluruhan. Di sektor usaha tekstil misalnya, sampai
Desemher 1970 saja, sudah 112 perusahaan yang memasukkan permohonan kredit
investasi yang seluruhnya meliputi jumlah Rp 37 milyard. Dari jumlah itu sampai
tahun lalu sudah 49 perusahaan tekstil yang telah direalisir kredit
investasinya seluruhnya meliputi jumlah Rp 13 milyard. Dan kemana larinya
jumlah kredit investasi tersebut? Dari ke--49 perusahaan itu, hanya 7
perusahaan yang milik "golongan ekonomi lemah" - untuk meminjam
istilah para tehnokrat ekonomi pemerintah--dengan jumlah bagian kredit yang
didapat mereka sebesar Rp 1,7 milyard. Tapi sebaliknya untuk hanya sebuah perusahaan
PT Batik Keris milik Tjokrosaputro d/h Kwee Tjom Tjok yang sesumbarnya hanya
memancing kemarahan Kodam VII/Diponegoro itu telah disediakan plafon kredit Rp
I milyard. Tidak semua pribumi rupanya kalah lihai dalam memburu kredit PMDN
ini. Sebab justru pada saat-saat terakhir menjelang penutupan pemberian kredit
investasi untuk pabrik tekstil yang tidak integred - yaitu yang bukan mulai
dari pemintalan sampai mencetak tekstil jadi - Ir Aminuddin, bekas ketua Forum
Swasta Nasional, masih sempat menggaet kredit sekitar Rp 1,5 milyard. Padahal
proyek insinyur ini yang letak nya di pinggir jalan raya Bogor--Jakarta itu
bukan merupakan pabrik tekstil yang integrated. Di sektor farmasi, seperti
diterangkan Kepala Direktorat Produksi Ditjen Farmasi Drs Jasman, sampai
sekarang sudah 29 luah industri Farmasi yang menggunakan fasilitas PMDN dengan
rencana investasi sebesar Rp 4 milyard. Kepala Direktorat ini belum tahu
persisnya berapa dari jumlah 4 milyard itu akan berasal dari kredit investasi.
Tapi yang jelas, dari 29 perusahaan tersebut hanya 2 perusahaan yang 100 modal
pribumi, 6 perusahaan modal campuran sedang sisanya yang 21 buah 100% modal
non-pribumi. Angka-angka yang tercatat sampai Oktober tahun lalu menunjukkan
bahwa dari semua proyek-proyek dalam rangka PMDN ini, 47% saham-sahamnya berada
di tangan pengusaha non-pribumi, 38% dimiliki pribumi sementara 15% merupa kan
campuran antara pribumi dan nonpribumi. Tapi kebanyakan di antara
perusahaan-perusahaan yang resmiuya dimiliki pribumi itu, tidak jarang sesungguhnya
bukan lain dari bentuk kongsi antara si Karto dengan si Liong alias Ali-Baba di
mana si Baba yang memiliki porsi saham yang dominan. Dan tahun ini, meskipun
data-data belum sempat diolah seluruhnya, tapi Pamungkas dan orang-orangnya di
Sub Panitia PMDN yang berkantor di gedung Bank Pembangunan Indonesia itu
memperkirakan bahwa komposisi yang pincang diatas belum banyak berubah.
Pemutihan Modal
Kepincangan ini tentu
saja tidak dapat diakhiri dengan cara mengambil sikap reaktif--misalnya
penolakan keanggotaan bagi pengusaha non-pribumi seperti yang terdengar
diusulkan dalam Seminar Nasional KADIN bulan September kemarin. Sebaliknya
tidak dengan hanya menunjuk pada alasan-alasan hukum bahwa "semua
warganegara mempunyai hak yang sama. Sebab dalam masalah ini jelas bukan karena
golongan yang satu memiliki kelebihan hak dari yang lain, melainkan lebih
karena golongan yang satu memiliki kesempatan dan peluang lebih dari pada
golongan yang lain. Dan kelebihan peluang pada mereka yang disebut golongan non-pribumi
itu. Kelebihan peluang yang ada pada golongan yang disebut non-pribumi itu
tidak hanya karena memiliki pengalaman lebih, tapi juga karena rata-rata mereka
mempunyai sumber keuangan lain di luar apa yang bisa mereka harapkan dari
kredit yang disediakan pemerintah. Itulah sebabnya nama-nama yang sering
disebut sebagai "cukong-cukong Cina" seperti Nyoo Han Siang, Yap Swie
Kie dan lain-lain tidak merasa perlu turut memasukkan permohonan untuk kredit
PMDN.
Sumber-sumber keuangan
yang macam-macam itu, memang menjadi pertimbangan Pemerintah ketika mencetus
kan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negcri (PMDN) No.6/1968 tanggal 3 Juli
4 tahun yang lalu. Itu sebabnya definisi "modal dalam negeri" dalam
undang-undang itu tidak terbatas pada harta kekayaan Pemerintah saja yang
tersimpan di lemari besi bank-bank Pemerintah, tapi juga segenap kekayaan yang
dimiliki oleh swasta nasional mau pun swasta asing yang menghuni negeri ini.
Menunjuk pada modal-modal swasta itu, Pamungkas berkata pada TEMPO, "dulu uang-uang
itu banyak yang lari ke luar negeri, atau kalaupun tetap ditahan di sini jarang
dibayar pajaknya". Paduli pembangunan di negeri ini masih sangat
membutuhkan pemupukan modal yang dapat diinvestasikan, sedang modal asin ada
dasarnya hanya bersifat sebagai pelengkap. Melihat kenyataan ini, dalam UU
Nomor 6 tahun 1968 itu, dijamin kesempatan memutihkan modal. Artinya modal yang
sudah sedia ditanamkan dalam berbagai sektor usaha di dalan negeri, tidak akan
diusut asal usulnya Contoh, sebuah CV yang di tahun-tahun yang silam banyak
menikmati keuntungan dari penguasaan monopoli perdagangan cengkeh yang
sebenarnya sudah diatur oleh Departemen Perdagangan dengan menggunakan
fasilitas-fasilita PMDN dapat mendirikan sekelompok PT yang meliputi berbagai
sektor usaha. Malah sebelum tax reform yang mula dijalankan tahun 1970, seluruh
keka yaan perusahaan-perusahaan PMDN itu dibebaskan dari pajak.
Maka bisa dimengerti
jika kesempatan pemutihan modal itu menjadi perangsang yang paling menarik.
Sebab bukan kah mereka yang selama ini gelisah bagaimana menyembunyikan
asal-usul uangnya sudah bisa menggunakan uang itu sebagai modal usaha yang
terang tanpa kuatir akan diusut-usut? 4 tahun setelah keluarnya UU--PMDN,
kenaikan penanaman modal dalam negeri terlihat amat meningkat terutama pada
tahun ketiga dan keempat. Akhir 1970 jumlah proyek yang telah disetujui baru 48
buah dengan modal Rp 153 milyard. Tapi tahun 1971 jumlah proyek yang disetujui
sudah mencapai 1.128 buah dengan investasi sebesar 578 milyard rupiah Tahun
1972 ini, sampai Oktober yang lalu jumlah proyek yang mendapat rekomendasi
sudah 1.561 buah dengar investasi direncanakan 861 milyard rupiah. Dan berapa
dari jumlah itu yang berasal dari modal yang diputihkan? Belum ada catatan
resmi dari kantor pajak, tapi data yang ada pada Panitia PMDN jumlah modal yang
minta diputih kan sudah melebihi 250 milyard rupiah.
Melihat besarnya jumlah
investasi yang berasal dari pemutihan modal itu, agaknya ada alasan orang untuk
merasa cemas menghadapi akan berakhirnya masa pemutihan modal bulan Juli tahun
depan. Lebih-lebih karena investasi lebih besar di bidang industri - yang
sekarang meliputi 50% dari proyek-proyek PMDN --akan sangat diperlukan dalam
Pelita II nanti. Karena itu dari sekarang sudah terdengar usul-usul agar masa pemutihan
modal itu diperpanjang agar bisa dihindarkan turunnya tingkat penanaman modal
dalam negeri yang terlalu kencang. Lebih rendahnya jumlah penanaman modal dalam
negeri tahun 1972 di bandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan bahwa apa:
yang dikuatir kan itu bukan hanya perhitungan di atas kertas. Dan agar
pemasukan negara tidak dirugikan, maka diusulkan supaya untuk selanjutnya
modal-modal yang diputih kan itu dikenakan pungutan pajak sekali sebesar 10%
misalnya.
Adanya kesempatan
memutihkan modal yang tidak keruan asal-usulnya itu resminya tidak berarti,
para investor dapat dengan seenaknya menanam modal dalam usaha-usaha yang
dirasa paling menguntungkan. Ada suatu skala prioritas yang sudah ditentukan
oleh Bappenas, dan yang juga menjadi pegangan bagi bank-bank pemerintah yang di
mintai kredit. Selama dua tahun pertama, belum ada skala prioritas itu, karena
Pelita I juga belum selesai disusun. Namun sejak tahun 1970, hanya perusahaan
baru yang diprioritaskan mendapat fasilitas libur pajak (tax holiday), sedang
perusahaan-perusahaan yang tidak di prioritaskan hanya mendapat keringanan
pajak perseroan (investment allowance). Prioritas pertama tentunya diberikan
pada usaha-usaha pengolahan hasil-hasil pertanian dan kehutanan,
industri-industri penghasil devisa atau yang membikin barang-barang substitusi
impor. Di samping itu, masih ada yang disebut prioritas khusus untuk menghadapi
Konperensi PATA tahun 1974, sehingga izin-izin pendirian hotel-hotel baru
dengan menggunakan fasilitas-fasilitas PMDN seperti peniadaan bea masuk bagi
peralatan-peralatan hotel dan kemungkinan mendapat kredit investasi segera
menjadi sumber rezeki baru bagi mereka yang berpenciuman tajam.
Uang Hangus
Proyek-proyek yang
mendapat prioritas itu -- kecuali 20 pabrik karet bongkah yang dijadikan proyek
perintis Departemen Perdagangan dengan syarat - entah mengapa - membeli mesin
Perancis dan Inggeris melalui Departemen yang berambisi menggalak kan ekspor
karet alam itu--tidak langsung berarti kredit investasi serta merta dapat mereka
peroleh. Sebab di samping penilaian-penilaian makro-ekonomis yang digemari
orang-orang Taman Suropati, bank punya penilaian-penilaiannya sendiri yang
lebih didasarkan pada kemampuan perusahaan itu mengembalikan kredit yang
dipinjamnya. Bagi proyek-proyek prioritas, ada kewajiban menyediakan 25% dari
permohonan yang diajukannya. Sedang bagi proyek nonprioritas, modal yang sudah
tersedia harus berjumlah 50%.
Kemu
8 Buronan
Tapi lihai atau tidak
lihai, kenyataan bahwa porsi terbesar dari kredit investasi jatuh ketangan
pengusaha-pengusaha non-pribumi memang menggelisahkan para pengusaha pribumi.
Alasan yang biasanya dikemukakan adalah karena umumnya para pengusaha itu
pribumi itu tidak bankable. Benarkah itu? "Di antara golongan ekonomi kuat
itu juga terdapat banyak pengusaha yang tidak bankable, toh mereka dengan mudah
mendapat kredit", kata Tambunan dari Perteksi. Tambunan menunjuk pada 8
pengusaha non-pribumi di Banjarmasin yang telah melarikan diri ke Singapura
setelah mendapat kredit Rp 1 milyard. Padahal "kalau umpamanya si pribumi
yang mengalami kegagalan usahanya dan merugikan fihak pemerintah, uang kredit
yang diperoleh paling tidak masih akan dibelanjakannya di dalam negeri",
ujar Tambunan yang sudah berusia 57 itu. Sambil mengeritik fihak perbankan yang
kurang mengadakan pengawasan terhadap penggunaan kredit-kredit itu, Tambunan
berkata pula: "Selama ini pemberian kredit selalu hanya ditekan kan kepada
jaminan dan bukan kepada earning power - kemampuan memutar kan
modal--perusahaan yang bersangkutan. Akibatnya adalah apa yang tetap terjadi
hingga kini: yang kuat semakin kuat, yang lemah bertambah lemah juga.
Lagi pula fihak
pengusaha pribumi hampir-hampir tak punya sumber-sumber lain untuk menyediakan
storan 25 sampai 50% yang diwajibkan untuk mendapat kredit itu. Tidak jelas
apakah faktor-faktor semacam ini sudah dimasukkan juga oleh fihak Bank Sentral
dalam kebijaksanaan perkreditan PMDN ini meskipun Radius Prawiro di depan rapat
Komisi-Komisi DPR akhir Nopember kemarin juga berkata "Percayalah kami
tidak akan mengorbankan pengusaha-pengusaha pribumi". Tapi ada cerita
bahwa ketika beberapa waktu yang lalu PT Berkat Plywood - satu di antara PT-PT
Berkat dari kelompok Yap Swie Kie yang sekarang bernarma Yap Sutopo - memohon
kredit investasi yang jumlah nya mendekati 6 juta US dollar, fihak Bank Sentral
menolaknya dan mengusul kan agar PT Berkat mencari partner asing saja. Sebab
jika permohonan itu di izinkan, maka kredit investasi yang jumlahnya tak banyak
itu akan ludes tersedot ke satu proyek itu saja.
Yang Jenuh
Penolakan pemberian
kredit invcstasi juga telah mulai dilakukan terhadap sektor-sektor usaha yang
Lain pula halnya
industri karet bongkah, yang tumbuh seperti jamur ketika Departemen Perdagangan
mulai menggencarkan peralihan pabrik-pabrik remilling ke karet bongkah dengan
persyaratan yang meniru karet Malaysia. Berbagai hal yang tidak pemah diduga
oleh konsultan-konsultan yang menyu-sun feasibility report pabrik-pabrik itu
rupanya--seperti anjloknya harga karet alam di pasaran dunia dan persediaan
bahan baku karet rakyat yang sukar di perkirakan--menyebabkan sekitar 2030
pabrik menantikan mesinnya, tanpa sempat membayar bunga kredit apalagi
mengangsurnya. Berkat pengalaman yang tidak begitu manis itu, Bak Indonesia
kembali lagi buru-buru mengirim surat edaran pada Bapindo -- sumber utama
kredit-kredit investasi untuk bidang industri - tanggal 12 Agustus yang lalu,
bahwa proyek-proyek karet bongkah di Aceh, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan
Tengah dan Jawa Barat tidak lagi tergolong prioritas. Pendirian pabrik karet
bongkah baru di 5 propinsi itu, tidak mendapat kredit investasi sama sekali,
sedang peralihan dari remilling ke crumb rubber hanya mendapat kredit investasi
50% alias non-prioritas. Ketentuan yang terakhir ini juga berlaku bagi daerah
Jambi, lantaran 51% dari seluruh produksi karet rakyat di tampung oleh
pabrik-pabrik yang ada.
Tentu saja akibat
matinya pabrik-pabrik karet itu dapat menggoncangkan pendapatan penduduk pula.
Integrasi
Meskipun nyatanya
perusahaan-perusahaan besar yang 100% dimiliki nonpribumi atau sebaliknya sudah
sukar di temukan, belum berlakunya bentuk perusahaan umum public company,
memang memungkinkan dominasi satu dua orang saja dalam perusahaan atau kelompok
perusahaan itu. Setidak-tidaknya sebagai lambang kepercayaan, seperti misalnya
mitos Liem Soei Liong bersaudara dalam perusahaan-perusahaan kelompok Kencana.
Karena itu cukup beralasan anjuran Presiden Soeharto yang pernah diucapkannya
di depan rektor-rektor se Indonesia, bahwa satu waktu Pemerintah akan membeli
separuh saham-saham perusahaan non-pribumi, untuk dibagi-bagikan pada yang
pribumi. Anjuran itu mendapat tanggapan yang cukup serius dari sementara
pengusaha non-pribumi juga, terbukti dari derasnya surat-surat yang dikirimkan
ke jalan Cendana dan Aspri-Aspri Presiden. Banyak yang setuju dengan gagasan
menuju ke bursa saham itu, malah ada yang telah menyatakan bersedia menjual 45%
saham-sahamnya.
Namun di balik kesediaan
itu, ada kekuatiran bahwa yang bakal memborong saham-saham itu adalah
pengusaha-pengusaha pribumi yang itu-itu juga. Artinya, pengusaha-pengusaha
pribumi yang sudah berkaliber raksasa, seperti Hasyim Ning, Masayu dan
lain-lain. Karena itu jalan keluarnya mungkin berujud pemecahan saham-saham
atas satuan-satuan kecil yang dapat dibeli oleh rakyat kebanyakan, misalnya
lembaran-lembaran a Rp 1000. Sambil mengusulkan supaya DPR segera mensyahkan
landasan hukum yang dapat mendukung anjuran Presiden itu, Amaludin Gani yang
juga mengetuai KADIN Jaya menekankan agar Bursa Effek-Effek nantinya lebih
mengutamakan penjualan saham-saham perusahaan nasional. Tidak seperti sekarang,
di mana yang dijual hanyalah saham-saham perusahaan asing yang malah sudah
menjurus ke bentuk perusahaan multi-nasionaln. Masalahnya bagi kita
adalah", begitu Gani mengemukakan alasannya, "bagaimana menghimpun
potensi modal dalam negeri menghadapi persaingan multi-national corporations
itu". Karena itu menurut dia "perlu ada integrasi antara pengusaha
pribumi dan non pribumi".
Dari Gabungan Importir
Seluruh Indonesia (GINSI), ketuanya Zachri Achmad melihat masalah ini secara
lebih tajam lagi. Dengan mengulangi keharusan kerja-sama antara pribumi dan non
pribumi, Zachri Achmad berpendapat bahwa dalam kerjasama itu supaya pribumi
yang diberi peran menentukan "Jangan seperti sekarang ini di mana pribumi
hanya dijadikan sebagai alat" katanya. Meskipun sektor import tidak
termasuk dalam kategori yang bisa mendapat fasilitas PMDN, sektor ini justru
memperlihatkan dominasi nonpribumi yang amat menyolok. Fihak GINSI mencatat
bahwa dari 3.000 importir yang ada di seluruh Indonesia hanya 10% yang terdiri
dari pribumi, sedang yang 90% adalah non-pribumi. Dan perbandingan yang
"tidak adil" seperti itu agaknya masih sama dengan keadaan sebelum
perang dulu di mana importir pribumi hanya 3 -- Dasaad Djohan Djohor dan
Rachman Tamin - sementara yang non-pribumi dengan pengalaman yang sudah
berpuluh-pupuluh pula jumlahnya.
Pengusaha + Penguasa
"Integrasi"
itu bukannya belum ada, meskipun kadang-kadang lebih bersifat suatu persekutuan
taktis. Pemerintah membutuhkan sekelompok swasta yang mendukung program-program
pembangunannya, dan kepada merekalah di beri beberapa kemudahan-kemudahan
tertentu. Misalnya ketika Bulog menunjang Mantrust dalam proyek beras tekadnya,
atau kredit-kredit yang kini diberikan pada Bogasari, sebagai produsen bahan
pangan pelengkap. Di lain fihak, kelompok swasta ini sangat gembira dengan
sekutu yang ampuh itu. sebab berbagai urusan bisnis bisa berjalan lebih mulus
berkat lisensi khusus atau tanda-tangan pejabat yang bersangkutan. Karena itu
seorang pengusaha pribumi memberikan komentar: "Memang sekarang sudah ada
kerjasama antara non-pribumi dengan pribumi, akan tetapi yang ada itu lebih
bersifat aliansi pengusaha dan penguasa". Padahal apa yang didambakannya,
justru "aliansi antara pengusaha dengan pengusaha". Sehingga dengan
demikian, swasta pribumi maupun non-pribumi, bisa mendapat kesempatan
berkembang secara wajar. Dan tanpa menyinggung tentang Sumpah Jabatan yang
sebenarnya tidak membenarkan isteri, anak atau keluarga terdekat pejabat
berusaha dengan membonceng wibawa sang - pejabat, dia membandingkannya dengan
anjuran Pemerintah pada pengusaha asing agar mengadakan kongsi dengan pengusaha
nasional.
Sebenarnya apa yang diutarakannya
itu, sudah dikemukakan pula oleh Presiden sendiri dalam pidatonya 16 Agustus
yang lalu. Dikatakan oleh Presiden, bahwa "pengusaha-pengusaha non-pribumi
umumnya memiliki modal dan kemampuan usaha lebih kuat, maka mereka mempunyai
kesempatan yang lebih besar untuk menggunakan fasilitas-fasilitas tadi. Karena
itu, justru untuk mewujudkan keselarasan, maka sudah sewajarnya apa bila dalam
melakukan penanaman modalnya, golongan nonpribumi mengikut sertakan pengusaha
pribumi sebagai co-partnernya", Tapi siapa yang menentukan co-partner itu?
Pemerintahkah, atau pengusaha non-pribumi itu sendiri? Justru karena dalam
banyak hal peranan Pemerintah masih sangat dominan, maka dari kalangan pribumi
diusulkan, agar ditetapkan dulu, bahwa baik fihak pribumi maupun fihak
non-pribumi yang akan melakukan usaha bersama itu hendaknya sudah punya
pengalaman usaha. Sehingga dengan demikian, mereka tidak perlu bekerja dan
berusaha, terutama atas dasar kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh
orang-orang dalam. Sedangkan untuk mengejar ketertinggalan golongan pengusaha
pribumi sendiri, Amaludin Gani beranggapan agar Lembaga Jaminan Kredir yang
pernah bekerja di aman Menteri Perekonomian Kasimo dihidupkan kembali, dan
beroperasi dengan lebih leluasa dari paa PT Askrindo yang hampir sama ketatnya
seperti kerja bank.
Sumber: www.tempo.co.id