Majalah Tempo Thoen 1972

 

HIMBAUAN GUBERNUR


GUBERNUR ACEH MUZZAKIR WALAD MENGAJAK UNTUK MEMELIHARA & MENGISI SEBIDANG TANAH UNTUK ACEH DI MINIATUR INDONESIA INDAH. HIMBAUANNYA DIULANG KETIKA NY. TIEN SOEHARTO, MENUTUP PEKAN KESENIAN. RU PT ED 29/02 TA 720923 HA 20 SU WALAD, MUZAKIR SS GUBERNUR ACEH


BULAN Maret yang lalu Gubernur Aceh Muzzakir Walad berpidato di depan DPRD Daista Aceh untuk pelantikan panitia Pekan Kesenian Aceh II. "Untuk daerah Aceh telah disediakan sebidang tanah seluas 1 ha di Miniatur Indonesia Indah". Lantas: "Tanah ini harus kita isi baik bangunan maupun maintenance-nya". Ketika nyonya Tien Soeharto menutup pekan kesenian tersebut-awal September kemarin, sekali lagi Gubernur mengingatkan soal ini. Di depan Ibu MII demikian konon masyarakat Aceh menyebut Tien Soeharto - Muzzakir berkata: "PKA II adalah menuju kepartisipasi aktif". Dan partisipasi aktif ini agaknya didukung oleh semangat untuk membuka apa yang disebut ke terkucilan daerah yang salah-satu usahanya bisa berujud "memamer-mamerkan" Aceh keluar, alias dalam MII. Dari Tien Soeharto sendiri memang tak ada tanggapan langsung di muka umum. Apa yang dikatakannya tentang Aceh, setelah 4 tahun tidak dilihatnya: "Saya merasakan suasana Aceh yang lain. Tapi tetap yang Aceh juga".

 

 

 

ACEH MEMERANGI MESIN


ORANG PERS DI BANDA ACEH MENUDUH PERCETAKAN NEGARA TELAH MEMBUAT KORAN DAERAH TAK DAPAT BERSAING DENGAN KORAN JAKARTA DAN MEDAN. MESIN PERCETAKAN YANG DIGUNAKAN TELAH KETINGGALAN ZAMAN, HASIL JELEK. RU MD ED 28/02 TA 720916 HA 48 SU PERS DAERAH ; SURAT KABAR SS ACEH (DI)


LAIN Surabaya lain landa Aceh. Kalau orang-orang pers di Surabaya jadi naik pitam dan memekikkan perang" terhadap koran Jakarta yang mereka tuduh ekspansionis, maka kuli tinta di Serambi Mekkah justeru memerangi Percetakan Negara--satu-satunya percetakan yang terdapat di daerah itu. Mereka menganggap percetakan itulah yang menjadi biang keladi mengapa koran daerah tak kuasa bersaing terhadap koran-koran yang mengalir dari Medan dan Jakarta. Kondisi percetakan tersebut sudah ketinggalan zaman dan koran yang bisa dicetak di situ cuma berukuran 55 x 75 Cm yang berarti lebih tebal sedikit dari satu halaman koran mutaakhir.

"Mesin celaknya sudah pantas masuk museum. Hasilnya centang prenang. Pembaca di daerah Aceh sendiri tak suka membacanya", keluh Jusuf Ubit dari Angkatan Bersendjata kepada Menteri Penerangan Budiardjo, ketika pejabat ini berkunjung ke Pekan Kebudayaan Aceh beberapa waktu berselang.

Tentang percetakan itu sendiri Budiarjo tak sempat melihat dengan mata kepala sendiri, sedangkan orang-orang pers setempat tak sudi lagi menginjakkan kaki kesana. Sejak beberapa waktu yang lalu mereka menghentikan penerbitan sebagai protes terhadap kebijaksanaan pimpinan percetakan yang telah menaikkan ongkos cetak dari Rp 7.500 menjadi Rp 12.500 per 3.000 eksemplar. Agaknya mereka tidak terlalu keberatan terhadap kenaikan tarif tadi. "Soalnya kan harus seimbang. Kalau ollgkos naik maka hasil cetakannya harus diperbaiki", sebagaimana dikatakan Nourhalidyll dari Mimbar Swadaya kepada koresponden Zakaria M Passe.

Untuk beberapa waktu lamanya Aceh hidup tanpa koran swasta dari daerahnya sendiri. Yang masih bertahan di percetakan itu tinggal Duta Pantjatjita milik pemerintah daerah dan Angkatan Bersendjata. Sedangkan tarif baru dari percetakan itu tak bisa ditawar-tawar lagi, karena sudah begitu instruksi dari pusat. Karena percetakan negara tersebut merupakan satu satunya percetakan disana, maka para penerbit koran adi terpaksa mencari percetakan di Medan Atjeh Post, Mimbar Swadaya, Berdjuang, Taufan dan Warisan Baru kini sudah hijrah kepercetakan yang jauhnya lebih kurang 500 km dari induk semangnya yang lama.

Ketika bertemu muka dengan wartawan-wartawan di Banda Aceh Budiarjo lumayan juga kenyangnya menelan keluhan-keluhan "Oplahnya 1.500 eksemplar Namanya saja Angkatan Bersendjata tapi tak pernah mendapat subsidi dari yang mengendalikan" keluh Jusuf Urbit dari koran Angkatan Belsenjata "Ongkos cetak tetap kami bayar sekalipun beras untuk anak bini belum kami beli" sambungnya pula berhiba-hiba. Tetapi Budiarjo tidak menjanjikan apa-apa Malahan dia menyindir orang-orang pers didaerah. Menurut dia pokok pangkal mengapa pers daerah tak bisa maju bukan lantaran percetakan yang sudah rongsok. "Tetapi pada cara memasak koran itu. Buat apa percetakan yang baik kalau berita-beritanya tidak baik?" Tak seorangpun diantara wartawan yang mengerumuninya bangkit dari duduk untuk membantah ucapan tersebut. Mungkin untuk tidak mengecilkan hati katanya pula. "Tetapi pers daerah bukan pers kelas dua. Namun kalau dihubungkan dengan percetakan bukan berarti pemerintah akan mendrop percetakan. Perusahaan negara saat ini harus benar-benar menjadi sebuah perusahaan. Kalau tidak menguntungkan tutup saja. Kita harus realistis dong!".

Kalau logika Budiarjo ini diturutkan maka Percetakan Negara Banda Aceh itu akan gulung tikar. Sebab menurut pengakuan Direkturnya sendiri. Abubakar Adamy kepada Budiarjo, dengan kenaikan ongkos cetak yang ditimpakan kepada koran-koran tadi, ternyata percwtakan itu masih tekor.

Kepada wartawan-wartawan di Aceh untuk kesekian kalinya Budiarjo menganjurkan agar perusahaan pers yang tak kuat modalnya supaya bergabung saja. "Dengan dcmikian perusahaan lebih kuat dan karyawannya lebih selektif". Tetapi siapakah yang mau merintis anjuran itu sebab sampai saat ini orang-orang masih berbalapan untuk menerbitkan koran atau majalah baru.

 

MARSOSE-MARSOSE DI BANDA ACEH


DALAM RANGKA PERINGATAN 100 TAHUN PERANG ACEH-BELANDA AKAN DIPUGAR PULA 2200 MAKAM MARSOSE/TENTARA BELANDA. HASIL KERJASAMA ACEH-BELANDA UNTUK MENGAWETKAN BUKTI-BUKTI SEJARAH. RU ILS ED 38/02 TA 721202 HA 26 SU ACEH ; MAKAM SS PEMUGARAN MAKAM MARSOSE


KATA orang: andaikan sekarang ada 10 pejabat tinggi yang punya sifat seperti Sultan Iskandar Muda, raja Aceh di awal abad 17, keadilan akan berjalan beres. Sang Raja memiliki dua orang putera. Salah-seorang bernama Meurah Pupak. Seperti juga Ali Khan yang gemar balapan mobil, si Meurah Pupok gemar pacuan kuda. Tetapi nasib sial menyerang Meurah nan ganteng. Dia tertangkap basah ketika sedang begituan dengan seorang isteri rakyat biasa. Yang menangkap sang suami sendiri, di rumahnya sendiri pula. Sang suami mencabut rencong, ditusukkannya ke tubuh sang isteri yang serong. Akan Meurah Pupok, si suami melaporkannya langsung kepada sang ayah. Dan di depan rajanya sang suami kemudian berharakiri. Sultan, yang oleh rakyatnya dihormati sebagai raja bijaksana dan adil, jadi berang. Meurah Pupok disusulnya di gelanggang pacuan kuda. Si anak hidung belang ini dipancungnya sendiri, di depan umum. Maka timbullah ucapan kebanggaan orang Aceh: Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak, Syiah Kuala. Adat dipelihara Sultan Iskandar Muda, sedang pelaksanaan hukum atau agama di bawah pertimbangan Syiah Kuala.

Kuburan kaphe. Tapi dimana Meurah Pupok dikuburkan? Makamnya terselip di tengah kuburan Belanda di Banda Aceh. Dan seperti juga kuburan Belanda yang luas itu, makam Sultan Iskandar Muda sendiri yang terletak di dekat museum Rumoh Aceh, menjelang Pekan Kesenian Aceh II tempo hari telah dipugar. Dua tahun lalu makam itu dibangun kembali - setelah diobrak-abrik pihak Belanda. Dan sebagai penghormatan, ketika makam selesai dipugar berdentumlah 7 kali bunyi meriam.

Pemugaran-pemugaran itu bukan tak ada hubungannya dengan peringatan 100 tahun Perang Aceh-Belanda, yang akan dilaksanakan 26 Maret tahun depan. Orang Aceh pernah bilang: "Meunjo han ek to peuget, bek tak peuhina ureung nyang ka mate" : Artinya: Kalau tak sanggup memeliharanya, janganlah dihina orang yang sudah mati. Karena itulah, 2.200 marsose alias tentara kerajaan Belanda yang ditanam di kuburan kaphe itu (sebutan orang Aceh untuk alias kafir) - juga tidak diganggu atau digusur. Bahkan di sekitarnya telah pula dijadikan kuburan orang-orang Kristen dan Katolik sekarang ini.

Ditendang-tendang. Diluar makam marsose yang letaknya di jalan Teuku Umar itu, ada pula kerkhof - yang oleh orang Aceh biasa disebut Peucut - berisi beberapa tokoh jenderal Belanda. "Pekuburan ini barang bukti yang mahal sekali harganya", kata Wakil Gubernur Marzuki Nyakman. Paling tidak pengunjung makam nanti bisa melihat betapa banyaknya Belanda yang gugur oleh rencong Aceh. Jenderal-jenderal seperti Demmeni (t 1886) dan de Moulin (1896) memang tidak dikubur di Aceh, tapi di Batavia. Tapi J.H.R. Kohler yang tewas dalam ekspedisi pertama (1873) ada dikubur di Peucut. Bahkan namanya ada tercantum di depan gerbang makam - di gerbang mana tanda salib yang terletak di puncak, masih tetap terpelihara. Adapun tugu makam Mayor Jenderal Pel yang juga berdiri di dalam situ, tidak memberi bukti bahwa di bawah itulah tubuhnya ditanam. Pel dikubur di salah-satu sudut Peucut yang tidak diketahui kini di mana. Pel ini, lantaran begitu dibenci rakyat, bukan jasadnya saja yang harus diamankanBahkan patungnya yang ada di tugu itu-pun dibuat orang menjadi bopeng. Begitu pula halnya perwira pilihan Belanda yang bernama Darlang. Ia meninggal di Jakarta, tapi daiam surat wasiat dia minta ditanam di Aceh. Orang ini pernah memenggal dua orang lasykar Aceh, lantas kepala mereka ditendang-tendangnya di depan orang banyak di pasar. Karena itulah, patung Darlang, yang hingga kini masih berdiri tidak lagi punya- kepala - sudah dikampak dan hilang. >

Tapi berbeda dengan Pel dan Darlang adalah A. Ph. van Aken. Orang ini pernah jadi Gubernur Aceh di tahun 1938. Biarpun ineninggal di Jakarta, dia juga minta dikubur di Aceh. Rakyat Aceh rupanya suka menerima jasad Aken, orang Belanda yang pernah mendirikan Mesjid Raya Baiturrahman. Bahkan di atas nisannya terpampang dengan jelas dan resik: "Tugu kuburan ini dianugerahkan oleh penduduk Aceh". Tentu dalam bahasa Belanda. Akan pemugaran kuburan-kuburan ini, konon telah ada kontak antara Pemerintah Daerah Aceh dan Pemerintah Belanda. Salah-satu cara yang sangat bagus untuk mengawetkan bukti-bukti sejarah.

 

MENYELUSURI JEJAK LAMA


BADAN PEMBINA RUMPUN ISKANDAR MUDA BERGERAK DIBIDANG PENGAWETAN BENDA-BENDA BERSEJARAH. RUMOH ACEH, MUSEUM DI BANDA ACEH MAKIN LENGKAP. SEBUAH BENDERA ALAM ACEH, TERBUAT PADA ABAD 16 TIBA DARI LEIDEN. RU ILS ED 42/02 TA 721230 HA 33 SU MUSEUM SS RUMOH ACEH


ANGGAPAN bahwa serdadu hanya bisa berperang, tentu saja tak tepat. Tentara AS di Vietnam, kalau tidak mendapat giliran perang, diwajibkan membangun rumah penduduk yang hancur akibat bom. Di pulau Jawa beberapa jembatan besi dan jalan umum adalah hasil buatan Kompi Zeni. Di Kalimantan, tentara yang ditransmigrasikan bersama keluarganya menukar senapan dengan parang dan menantang hutan.

Di Aceh demikian juga. Panglima Kodam I/Iskandar Muda dulu, Mayor Jenderal Teuku Hamzab Bendahara, membentuk Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda. Disingkat jadi Baperis, perkumpulan ini antara lain bergerak di bidang pengawetan benda-benda sejarah. Sibuk keluar-masuk desa, Hamzah melihat peninggalan-peninggalan yang bisa dipungut dan dipelihara dalam sebuah museum. Rumoh Aceh, museum di Banda Aceh, makin lengkap isinya. Siapapun yang datang kesana boleh menghibur diri: karena sementara, museum di daerah lain umumnya -semakin suram dan kosong (barang museum pada hilang, kemudian ditemukan di toko antik atau rumah pribadi), Rumah Aceh katakanlah makin manyala.

Ada emasnya. Tentu raja. Sebab Hamzah cs bukan saja sibuk membangun kuburan tua, tapi juga mengumpulkan dana - untuk membeli benda-benda yang sepatutnya mengisi itu museum. Baru-baru ini telah tiba sebuah bendera tua yang bernama Alam Aceh. Bendera yang- dibuat abad 16 ini tadinya berada di Leiden. Dengan perantaraan surat-menyurat yang cukup makan waktu, Alam Aceh yang melambangkan keperkasaan penduduk (dua bilah pedang mengapit bumi, di atasnya lafal- syahadah) telah kembali kenegeri asalnya. Dengan harga tebusan US $ 400.

Oleh rangsangan Teuku Hamzah, "kini penduduk kebangkitan demam cari barang antik", kata Kolonel Abdullah Hanafiah; Dan Rem 011/Lilawangsa. Maka ditemukanlah, misalnya, kain serban Teuku Chik Di Tiro. Serban yang dibuat seabad lalu itu masih dipegang salah seorang cicit Chik Di Tiro yaitu A.Wahab Umar Tiro, dan tidak melanglang keluar tanah Aceh. Dan mudah-mudahan memang tidak akan tedadi perpindahan barang-barang antik dari Aceh ke daerah lain, seperti yang pernah terjadi dengan benda-benda Irian dan Kalimantan. Sebuah meriam tua berukir indah, yang bisa dinikmati siapa raja, dalam pada itu telah diletakkan di pintu masuk Rumah Aceh. Di pelataran museum itu berdiri pula tugu kecf yang di atasnya dihias dengan naga dari kuningan. Konon tugu nags ini hadiah dari salah-seorang Raja Cina untuk salah-seorang Raja Aceh. Kapan dan siapa nama-nama sang Raja, kini belum dapat dipastikan secara yakin.

Membangkitkan heroisme memang lebih mudah diusahakan melalui barang-barang yang mengandung bukti sejarah. Seperti mendandani kembali kuburan Raja-Raja Parse, pembawa Islam ke Sumatera. Batu nisan Putri Nahrisyah Kutakarang, keturunan kelima Malikul Saleh, kini telah pula kembali ke tempatnya. Nisan yang dibuat dari batu mar-mar dari cukup berat ini dahulu diboyong juga oleh Belanda ke negerinya. "Banyak makam-makam yang dirusak Belanda", kata Ketua Seksi Hukum dan Pembina Benda Bersejarah, Teuku Mahmud Rusdy. Bukan berdasar sentimen raja. Sebab kalau benar apa yang diuraikan Hanafiah: "Mereka menyangka kuburan-kuburan itu ada emasnya".

 

 

LAPORAN DARI BANDA ACEH


4 WARTAWAN TEMPO CHAIRUL HARUN, ZAKARIA M. PASSE, BURHAN PILIANG DAN E. BACHRI SIKUM KE ACEH. MEREKA MELIPUT PEKAN KEBUDAYAAN ACEH II DI BANDA ACEH. SALIM SAID MELAPORKAN KUNJUNGANNYA KE JEPANG. RU FK ED 33/02 TA 721021 HA 03 SU FOKUS KITA SS PEKAN KEBUDAYAAN ACEH


LIWAT pertengahan Agustus yang lalu, koresponden Chairul Harun meninggalkan Padang menuju Banda Aceh. Dari Medan Berangkat pula koresponden Zakaria M.Passe serta Burhan Piliang. Dan bersama dengan E.Bachri Sikum yang memang tinggal, di Banda Aceh, mereka menjadi satu team TEMPO yang bertugas mengikuti acara-acara Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-II di Banda Aceh. Tapi 2 hari setelah PKA, dibuka, Zakaria dan Chairul Harun secara bersamaan mengirim sural kepada redaksi di Jakarta; mengusulkan agar bahan-bahan yang mereka peroleh bisa dipakai sebagai laporan utama mengenai Aceh. Untuk itu mereka telah berbagi tugas: E.Bachri Sikum akan mengumpulkan bahan-bahan tentang kota Banda Aceh sendiri, Chairul Harun di samping terus mengikuti acara-acara PKA akau menemui para pemuka masyarakat Aceh Ai sana, sementara Zakaria M.Passe dan Burhan Piliang melakukan perjalanan keliling ke daerah-daerah di luar Banda Aceh,

Maka melalui satu diskusi dengan kepala desk Daerah serta para wartawan TEMPO yang pernah mengunjungi Aceh, diputuskan untuk mengetengahkan Aceh sebagai laporan utama. Tugas lni diserahkan kepada Syubah Asa, yang meskipun spesialisasinya adalah pada rubrik Agama, ia pernah mengadakan perjalanan keliling ke daerah Aceh tahun lalu. Laporan-laporan yang secara beruntun berikut foto-foto yang dikirim team TEMPO dari Banda Aceh, ternyata memang cukup banyak, akan tetapi sebagai biasa bahan-bahan itu masih perlu di lengkapi di Jakarta. Untuk itu, maka Yunus Aditjondro, yang kini berada. dalam team task force redaksi untuk urusan laporan utama, ditugaskan membantu Syu'bah Asa, terutama dalam mempelajari dan menulis bagian yang berhubungan dengan masalah ekonomi dan pembangunan Aceh. Dalam menyusun kerangka laporan utama ini, Syu'bah juga telah menggunakan kembali catatan-catatan yang dibuatnya ketika mengunjungi Aceh. Banyak dari bagian-bagian laporan yang dikirim team belurn seluruhnya terpakai dalam kesempatan ini, pertama bahan-bahan sekitar kota Banda Aceh, dan itu akan kami muat dalam TEMPO nomor-nomor mendatang. Bagi putera Minang seperti Chairul Harun, yang menarik dalam pengalamannya menyaksikan Aceh dari dekat, justru karena prinsip hidup yang kontras orang Aceh dibandingkan dengan orang Minang. Sementara orang Aceh lebih berpandangan prinsipiil dalam semboyan "dari pada retak biarlah pecah", orang Minang lebih bersifat kompromistis dengan semboyannya "dari pada tertelungkup biarlah, miring". tulis Chairul.

MENJELANG keberangkatan Perdana Menteri Kakuei Tanaka ke Peking-beberapa waktu berselang, TEMPO, mendapat undangan dari Kementerian Luar Negeri Jepang untuk berkunjung ke negeri itu, dan kepala desk internasional, Salim Said, ditugaskan memenuhi undangan tersebut. Dalam perjalanan pulang, Salim juga sempat singgah di Taipei, Taiwan. Hasil kunjungan itu kami hidangkan dalam bentuk laporan khusus pada rubrik internasional nomor ini.

Ralat: Rubrik Internasional TEMPO minggu lalu, 14 Oktober, terdapat kekeliruan pemasangan foto. Yaitu foto Presiden Thieu dibawah artikel Malaysia, seharusnya tidak ada.

 

KRUENG JREUE YANG DITUNGGU


PROYEK IRIGASI KRUENG JREUE YANG DITUNGGU MASYARAKAT KINI SEDANG JADI SOROTAN. PROYEK PUSAT ITU KONON TAK BERES PEMBANGUNANNYA. PROYEK INI SEDANG DITELITI TERMASUK PARA PIMPINAN PELAKSANANYA. RU DH ED 34/02 TA 721028 HA 18 SU ACEH ; IRIGASI SS PROYEK IRIGASI ; PROYEK KRUENG JREUE


WARTAWAN dilarang masuk. Jika diingat betapa Menteri PUTL Sutami begitu sering menekankan perlunya kerja sama instansi yang dipimpinnya dengan pers, tulisan yang terpampang di pekarangan proyek irigasi Krueng Jreue Aceh, itu boleh membuat orang bertanya-tanya. Tapi inilah lebih kurang jawabnya:

Proyek yang mulai dikerjakan tahun 1969 ini merupakan proyek pusat dengan biaya Rp 1,6 milyard. Tapi pembangunan proyek ternyata terlalu sering lari dari rencana semula. Tidak mengherankan bahwa bukan saja pembangunannya tersendat-sendat yang dengan sendirinya memberi peluang timbulnya kecurigaan masyarakat Aceh terhadap para pelaksana pembangunan proyek. Dan kecurigaan inipun rupanya bukan tanpa alasan. Dam induk yang belum lagi selesai dikerjakan sudah mulai retak-reak kembali. PN Waskita Karya yang di tunjuk pusat sebagai pemborong dicurigai sebagai telah main-main dalam membuat campuran-campuran semen tidak sebagaimana mestinya. Order-order jumlah sak semen yang dibuat oleh Ir Mulyana, pimpinan pelaksana di lapangan, kepada PN Waskita Karya, konon selalu tidak cocok dengan yang di datangkan. Dan selisihnya kadang terlalu menyolok.

Tentu saja sorotan masyarakat tertuju pada PN Waskita Karya. Tapi lebih-lebih juga terhadap Ir Mulyana sendiri. Masalah ini sudah sampai ketangan Kejaksaan Tinggi Aceh, seperti yang diakui sendiri oleh Jaksa Tinggi Aceh. Baharuddin Lopa SH, kepada TEMPO awal September kemarin. Ir Mulyana sendiri sedang berada dalam proses pemeriksaan, dan "kalau cukup bukti-bukti, persoalan ini akan dibawa kepengadilan", kata Jaksa Tinggi asal Ujung Pandang itu. Pemeriksaan juga sedang dilakukan terhadap pimpinan PN Waskita Karya di sana. Dan keduanya, menurut Baharuddin Lopa, meskipun tidak ditahan, tapi dikenakan wajib lapor jika akan meninggalkan Banda Aceh.

Meskipun demikian "jika memang telah terjadi penyelewengan-penyelwengan, ini tidak terlepas dari pengawasan Kepala PU Aceh dan Gubernur, kata Baharuddin Lopa pula. Tapi Kepada PU Aceh, T. Boestamam rupanya sudah memasang kuda-kuda atas kemungkinan tuduhan bertanggungjawab dalam masalah ini. Kepada koresponden Zakaria M.Passe, ia menjelaskan bahwa waktu itu, ia dan gubernur Aceh, hanyalah sebagai pengawas. Dan sebagai pengawas, pemerintah daerah rupanya menemui kesulitan untuk mencampuri langsung proyek irigasi yang dinanti-nantikan oleh para petani Aceh ini. "Waktu itu belum ada pengaturan yang jelas dari pusat" kata T. Boestamam. "Tapi setelah saya ke Jakarta baru-baru ini, soal ini bisa di selesaikan", katanya pula. Menurut Boestamam, "persoalan Krueng Jreue sekarang sedang diteliti oleh sebuah team yang telah dibentuk di Banda Aceh".

Tapi mengapa biaya proyek ini begitu besar? "Pada mulanya, proyek ini memang kurang feasible", jawab Boestamam. Perhitungan yang tepat waktu itu menurut Boestamam sukar dibuat, dan perhitungan hanya didasarkan pada pertimbangan tehnis. Bagaimanapun, pembangunan proyek telah berjalan hampir tiga tahun dan menurut Boestamam, sampai sekarang telah menghabiskan biaya Rp 850 juta. Dengan biaya itu baru akhir tahun ini diharapkan proyek akan selesai 50%, sehingga dapat mengairi sawah seluas 3.250 hektar dari 10.000 hektar kapasitas irigasi jika proyek telah selesai. Tapi kapan selesainya, Boestamam belum bisa berkata. Dewasa ini pengawasan keamanan proyek langsung berada di bawah Kodam. Dan karena itulah "wartawan tak boleh masuk, kecuali kalau ada surat izin", kata Boestamam.

 

MENJARING MODAL ASING


BANYAK SUMBER DAYA ALAM DI ACEH YANG BELUM DIMANFAATKAN. ACEH PUN KINI MEMBUKA BAGI INVESTOR DARI LUAR DAERAHNYA BAHKAN DARI LUAR NEGERI. SEBUAH KONGSI DARI 5 PERUSAHAAN ASING TELAH MENYETUJUI KONTRAK. RU DH ED 33/02 TA 721021 HA 46 SU ACEH ; INVESTASI SS MODAL ASING ; ACEH (DI)


SETELAH pemberontakan mereda dengan diterimanya missi Mardi di Aceh, orang mulai berfikir bagaimana membenahi kembali rumahtangga daerah yang berantakan. Sebagai pemikat hati para pedagang yang kebanyakan sudah pada hijrah ke Medan & Jakarta barter dengan Penang dan Singapura mulai diizinkan terang-terangan. Usaha ini boleh dikatakan berhasil, sebab banyak yang mulai membuka kantor cabang di Banda Aceh. Malah ada yang memindahkan kantor pusat dari Medan ke Banda Aceh, bukan semata mata agar kerinduan pada kampung halaman terobati tapi lebih-lebih agar urusan perizinan macam-macam bisa lebih licin jalannya. Dan Pemda Aceh ikut juga menikmati keuntungan dari gerakan "pulang kampung" ini, sebab pajak meluncur lebih deras ke kas daerah.

Bukan itu saja. Dari persentase keuntungan barter yang harus disetor pada Pemda, berhasil dibangun apa yang sudah lama jadi impian kaum terpelajar di Aceh: sebuah Universitas, Syiah Kuala namanya. Dan selebihnya, digunakan oleh Otorita yang ditangani oleh Muzakir Walad untuk memelihara kondisi jalan raya Kuala Simpang-Banda Aceh, sehingga bis-bis dan truk-truk betah melintasinya dalam 3 hari.

Konfrontasi.

Tapi apa daya, sebab politik yang berkuasa di masa itu tiba-tiba menghembuskan angin beku dalam kehidupan perdagangan, dengan meletusnya Tritura tahun 1963. Barter terang-terangan dengan Penang dan Singapura putus seketika. Sebagai pengukuh posisi daerah perbatasan, fungsi Sabang sebagai daerah pelabuhan dan perdagangan bebas kembali dipertegas, agar kapal-kapal asing berminat membuang sauh serta membongkar dan memuat barang di wilayah Aceh. Namun hasilnya tidak seberapa, kecuali penyelundupan yang mulai merajalela dan para pedagang kembali angkat kaki ke Medan. Kembali ke profesinya semula sebagai eksportir hasil bumi; yang biasa dihimpun di negeri orang. Seperti misalnya Fa. Atjeh Kongsi yang belum lama ini mendirikan pabrik pengeringan jagung di Tanah Karo. Sampai saat Soekarno turun takhta, dan hubungan dengan Malaysia dan Singapura rujuk seperti semula.

Segan

Suasana yang relatif aman sementara teknokrat-teknokrat di Jakarta mulai berikhtiar menekan inflasi, tidak serta merta memikat usahawan-usahawan berdarah Aceh pulang membangun daerahnya. Bukan lantaran tidak sayang, tapi modal yang tidak seberapa besar dan management perusahaan yang masih terbelenggu unsur-unsur suku; agama dan keluarga sungguh tidak memungkinkan investasi besar-besaran. Dan propinsi yang lebih luas dari Jawa Barat, miskin penduduk dengan hutan-hutan yang masih perawan itu, bukan pasaran, yang ideal bagi barang-barang konsumen. Kebun-kebun karet yang tidak begitu luas sudah habis disadap oleh dua pabrik karet bongkah (crumb rubber) milik Firma Atjeh Kongsi dan Firma Murni Teguh. Ditambah dengan sumur-sumur dan kilang-kilang minyak serta beberapa pabrik kaliber teri, habislah sudah seluruh angkatan kerja terserap di Aceh. Padahal dari penelitian-penelitian, pendahuluan yang dilakukan oleh Aceh Development Board dan Universitas Syiah Kuala sempat diketahui, bahwa masih banyak isi perut bumi, hutan dan perairan Aceh yang belum sempat digarap diluar 16,6 juta barrel minyak yang ditimba Pertamina dari sumur-sumur bor Aceh setiap tahun. Lantas apa daya kalau putera-putera Aceh sendiri segan memanfaatkan karunia Tuhan itu? Itu sebabnya kepala-kapala pemikir yang bercokol dalam Badan Perencana Pembangunan Aceh itu sampai pada kesimpulan: perlu transfusi modal dun teknologi dari luar. Kalau perlu dari luar negeri, kalau hanya dengan demikian jurang keterbelakangan propinsi no. 1 di Indonesia itu bisa dilompati.

Serambi Mekkah

Uluran tangan Pemerintah, yang berbarengan dengan disyahkannya Undang-undang PMA dan PMDN, segera dimanfaatkan oleh T.D. Pardede. itu pengusaha kaliber kakap yang gemar menendang bola. Kali ini usahanya bukan menenun benang menjadi kain, tapi menjaring udang di perairan Lhokseumawe, mendinginkannya dalam pabrik cold storage lantas mengekspornya ke Jepang. Dan yang menarik di mata orang Aceh bukan orang Batak yang berperanan dalam usaha Pardede itu, melainkan saudara senegerinya juga. Ternyata bahwa dalaln soal mencari pengganjal perut, orang Aceh tidak terlalu peka terhadap perbedaan agama atau suku, asal kedua soal itu tidak diungkit-ungkit.

Meskipun modal dan kemampuan terbatas, bukannya tidak ada hasrat pengusaha Aceh sendiri, membuka rimba belantara di negerinya: Misalnya Bayban Company, eksportir kopi Aceh yang sedang mengurus pembentukan kongsi dengan pengusaha dari Jepang. Tapi sementara pengusaha dua bangsa ini masih asyik mencari konsesi, bulan Juli yang lalu sudah ditandatangani kontrak kerja-sama antara Pemerintah dengan PT Aceh Minerals Indonesia, suatu perusahaan multinasional yang melibatkan 5 perusahaan pertambangan dari Jepang, Australia & Amerika. Kongsi 5 perusahaan asing ini, berniat menoreh dun membedah kulit bulni Aceh, mencari harta karun yang masih terpendam. Berapa tinggi nilai harta terpendam itu, dan berapa besar umpan yang harus disediakan masih belum jelas meskipun nampaknya tidak serumit proyek Asahan.

 

MERENTANG NADI EKONOMI


UNTUK MEMBANGUN LANDASAN EKONOMI DI ACEH, SASARAN PEMBANGUNAN JANGKA PENDEK DIFOKUSKAN PADA MEMBANGUN PRASARANA. SEJUMLAH JALAN NEGARA DAN JALAN PROPINSI DIBUAT. PELABUHAN PUN AKAN DIBUAT. RU DH ED 33/02 TA 721021 HA 48 SU ACEH ; JALAN RAYA SS PEMBANGUNAN JALAN ; ACEH (DI)


SEMENTARA kereta api sedang jalan, orang bisa melompat turun, kencing sebentar dan bersuci dengan daun lantar melompat lagi ke atas gerbong meneruskan perjalanan. Ini bukan isapan jempol, tapi sungguh-sungguh terjadi di Aceh di mana kereta api hanya mampu merangkak 25 Km per jam. Tidak aneh, sebab seluruh onderdil, rel, gerbong dan lok yang ada kecuali 8 lok diesel mini sumbangan Frans Seda dan 10 lok pampasan dari Jepang masih warisan ASM (Atjehs Staatsspoormaatschappij) se abad yang lalu. Sementara tahun berganti tahun, sudah lama kereta api tidak menjadi alat angkutan darat yang terpenting di Aceh. Seperti dikatakan Kepala PNKA Eksploitasi Aceh, M, Djunaed yang hanya mampu mengumpulkan uang karcis 2 juta rupiah tiap bulan, "sekarang saingan datang dari jalan raya". Maksudnya: bis, trek dan mobil-mobil lain.

Keriting

Keadaan jalan-jalan raya dan jalan propinsi juga tidak berbeda banyak seperti ketika ditinggalkan Belanda, yang membuatnya semata-mata untuk mengangkut serdadu. Begitu juga jaringan kereta api. Itu sebabnya yang terbaik hanyalah jalur-jalur sepanjang pesisir Timur, yang menghubungkan Banda Aceh dengan Medan. Jalan-jalan ke pedalaman belum sempat difikirkan di tengah kesibukan baku tembak dan baku tikam. Begitu pula waktu T. Daud Beureuh. mulai menghunus rencongnya, tidak sedikit rel dan gerbong kereta menjadi mangsa api, sementara tiap tahun banjir menggilas jalan raya antara Langsa dan Lhokseumawe. Pemandangan ini lah yang terpampang di depan mata Pemda dan BPPA, ketika mereka berniat membangun landasan ekonomi daerah ini, 4 tahun lalu. Serta merta dibidiklah sasaran pembangunan jangka pendek tubuh Aceh yang penuh balur-balur perang: membangun prasarana, sebagai "urat nadi" pembangunan ekonomi.

Empat tahun berlalu, tapi wajah Aceh tetap belum banyak berubah. Gubernur Aceh sendiri kalau mau melawat ke Aceh Tenggara, lebih senang terbang dulu ke Polonia, kemudian naik mobil dari Medan ke Kutacane yang hanya menelan waktu 2 jam. Kalau ditanya apa sebabnya, tanpa tedeng aling-aling Muzakkir Walad hanya berkata "masih banyak yang begini-begini" sembari tangannya meliak-liuk melukiskan keadaan jalan. Atau menurut istilah orang-orang Aceh, "jalan-jalan di daerah masih banyak yang keriting". Dan di antara penggalan-penggalan jalan negara yang masih keriting dari 364 jembatan baru 120 buah selesai diperbaiki tahun ini, 12 biji atas biaya Pertamina.

Djalawe Tersendat-sendat

Dari ratusan kilometer jalan negara dan jalan propinsi, prioritas pertama diberikan pada jalan poros Banda Aceh sampai perbatasan Aceh-Sumatera Utara. Namun yang kini sudah licin betul baru 40 Km dari tapal Batas sampai Sungai Raya, seperti licinnya jalan-jalan di Malaysia. Soalnya, pemborongnya memang dari Malaysia, sedang yang punya duit Pertamina. Maksudnya untuk memperlancar pengangkutan minyak dari sumur-sumur bor di Aceh ke pelabuhan Belawan. Setingkat dibawah jalan bikinan Pertamina itu, terbentang 74 Km dari Banda Aceh hingga Lhokseumawe. Sebagian dari padanya dikerjakan oleh Zenie Korem 011- Lilawangsa atas borongan Ditjen Bina Marga: Anehnya, antara pemborong dan pelaksana ada perbedaan kalkulasi yang menyolok sekali. Menurut perhitungan Zenie, setiap Km jalan biayanya Rp 12 juta, padahal Bina Marga yang mendasarkan pada tarif Waskita Karya dan Nindia Karya, berani menetapkan anggaran Rp 30 juta tiap Km. Namun yang paling menyedihkan, adalah pembangunan 162 Km jalan negara antara Langsu dan Lhokseumawe. Proyek Pelita Pusat itu lebih dikenal dengan singkatan Proyek Djalawe. Setelah menghamburkan biaya Rp 1 milyard dalam 3 - tahun, baru 25% yang rampung sementara di sana-sini aspal mulai terkelupas.

Ir Komar, pimpinan proyek yang kini sudah pindah ke Jawa menyalahkan alam: "Si Djalawe tersendat-sendat karena daerah ini selalu dilanda banjir".

Kalau atasan itu betul, lantas bagaimana pengawasan aparatur PU setempat "Proyek Djalawe termasuk proyek khusus dan urusannya langsung ke-Departemen PUTL", ujar T. Boestaman, kepala PU Propinsi. Aceh. Pembangunan 10 Km jalan raya antaea Bireun ke Takengon di Kabupaten Aceh Tengah, juga merupakan proyek Pusat tapi sudah sia diaspal akhir September kemarin. Sebab lancarnya proyek ini menurut Boestam, karena "yang mengerjakannya orang daerah sendiri". Kalau ada kekeliruan, si pemborong langsung bisa dijewer. Yang demikian rupanya tak bisa dilakukan terhadap Waskita Karya atau Nindia Karya. Di samping itu seperti kasus retaknya dam induk Proyek Irigasi Kreung Jreue yang beranggaran Rp 1,6 milyard dan kini ada di tangan Kejaksaan Tinggi Aceh - sering ka rencana dibuat tergopoh-gopoh, baru kemudian diperbaiki sambil jalan.

Madjid vs Emil

Sementara pejabat-pejabat daerah masih sibuk mengusut berbagai penyelewengan dan rencana yang tambal sulam seperti juga pabrik gula Cot Grek yang sampai kini belum sempat berproduksi, BPPA yang diketuai oleh profesor Madjid Ibrahim sudah melangkah lebih jauh. Sudah berkali-kali ekonom itu minta pada Bappenas, agar Aceh diberi biaya pembangunan sebua pelabuhan yang memadai. Usul ini di perkuat oleh wakil ketua BPPA, lbrahim Hasan MBA yang juga menjadi pimpinan KP4BS (Komando Pelaksana Pembangunan Proyek, Pe1abuhan Bebas Sabang). "Kalau Sabang dibiarkan berkembang, terutama daerah-daerah pesisir Barat Sumatera bagian Utara akan hidup". Bahkan dalam Kongres ISEI angkatan Sarjana Ekonomi Indonesia) yang lalu terbawa-bawa masalah ini, ketika terjadi perdebatan hangat antara, Madjid Ibrahim dengan Wakil Ketua Bappenas, Emil Salim.

Emil Salim ternyata tidak sependahat dengan rekannya, yang juga lulusan FE-UI, Menurut Emil, Aceh sudah dapat berkembang dengan memanfaatkan pelabuhan Belawan di Sumatera Utara. Dengan nilai ekspor yang mencapai 170 juta dollar AS tiap tahun di mana hanya 3 juta berasal dari. Aceh potensi pelabuhan Belawan jauh mengungguli ekspor semua pelabuhan Aceh yang seluruhnya bernilai 13 juta dollar, alias kurang dari 10% ekspor Sumatera Utara. Karena itu Bappenas memandang biaya pembangunan satu pelabuhan di Aceh sebagai pemborosan. Dan pendapat Ibrahim Hasan yang memperkuat usul ketuanya, dibantah pula oleh drs Hariri Hady, kepala Biro Perencanaan Pembangunan Regional & Daerah Bidang Ekonomi Bappenas. "Kedudukan pelabuhan Sabang sangat tergantung pada daerah belakang (hinterland) yang bisa dicakupnya", kata Hariri pada TEMPO. Sekalipun daerah Sumatera Barat dapat dicakup dalam jaringan ekspornya, seluruhnya baru berjumlah 25 juta dollar, tetap jauh ketinggalan dari pada Belawan. Belum lagi keadaan jalan-jalan di pesisir Barat Aceh terus ke Selatan, jauh lebih, jelek dari pada jalan raya Banda Aceh sampai Medan. Lantas bagaimana dapat diharapkan arus barang ekspor mengalir ke Sabang?

BPPA tampaknya memang belum berputus-asa. Sementara ini sebuah team survey ITB sedang meneliti kemungkinan pembangunan pelabuhan di pantai Kreung Raya sebelah Timur Ulee Lheue, di mana penyelundup-penyelundup dari Sabang sering menjual barang. Tempat itu merupakan teluk yang dalam, dan airnya tenang sepanjang tahun. Berapa besar biaya pembangunan pelabuhan itu dan dari mana sumbernya, belum diketahui dengan pasti. Tapi ada kemungkinan, kerja sama seperti yang pernah di rintis di Ulee Lheue antara KP4BS, Pertamina, Pemda Aceh dan PU akan di ulangi lagi. Waktu itu, ada niat ke-4 instansi itu untuk memperbaiki dan membangun pelabuhan Ulee Lheue agar keramaian perdagangan bebas di pelabuhan Sabang dapat dimanfaatkan. Untuk memperdalam alur pelabuhan Pertamina sudah mendatangkan kapal keruknya, tapi kemudian seluruh rencana terbengkalai karena team survey Ditjen Perla menganggap proyek itu tidak menguntungkan. Sebabnya? TWA sepanjang tahun kapal dapat merapat ke tambatan seperti juga Lhoksemawe - lantaran gelombang-gelombang besar di akhir tahun.

Joint Planning

Hasrat membangun pelabuhan-pelabuhan Aceh seperti tercermin dalam 63% anggaran rutin yang habis untuk itu, tidak luput dari keinginan menikmati hasil keringat sendiri. Selama ini, dengan ketergantungan Aceh pada pelabuhan Belawan, keuntungan ekspor itu terutama tersedot ke kas Pemda Sumut. Kecuali segelintir pajak yang disetor perusahaan-perusahaan eksportir Aceh yang ada di Medan, tapi secara hukum berkedudukan di Banda Aceh. Kalau seluruh kegiatan ekspor-impor untuk kepentingan Aceh dapat dilakukan di wilayahnya sendiri, tentu, penerimaan daerah yang hanya 2 milyard setahun itu akin sedikit meningkat. Selain itu, infrastruktur yang baik termasuk pelabuhan yang memenuhi syarat akan memikat lebih banyak pengusaha nasional maupun asing, untuk menanam modal-nya di Aceh. Sampai kini, jumlah modal yang sedang ditanam dihutan-hntan dan perkebunan-perkebunan Aceh baru mencapai 7,5 juta dollar AS, yang kerdil sekali dibandingkan dengan 133 juta dollar yang mulai menampakkan buahnya di Sumatera Utara.

Bappenas bukannya tidak melihat kepentingan yang tersembunyi di balik hasrat Aceh memiliki pelabuhan yang dapat diandalkan. Namun masalahnya seperti diungkapkan Hariri Hady, ialalh bagaimana mencari keserasian antara kepentingan-kepentingan dua propinsi yang bertetangga itu, yang sama-sama sedang membangun ekonominya. Untuk itu perlu ada joint planning antara kedua propinsi, sehingga satu lama lain dapat memanfaatkan potensi tetangga yang tidak dimilikinya. Tapi itu tidak semudah mengucapkannya, sebab perbandingan potensi ekonomi kedua propinsi yang pernah menjadi satu itu, sangat tidak seimbang. Sehingga akibatnya, meskipun setiap, tahun berton-ton beras dari Aceh Tenggara tersedot ke Medan tidak banyaak yang dapat diharapkan Aceh sebagai, imbalannya: Namun Madjid Ibrahim yang sudah menyadari perencanaan pembangunan ekonomi yang tidak terbelenggu pada batas-batas administrasi kedua propinsi, bukannya tidak melakukan pendekatan dengan Sumatera Utara. Tanpa mengendurkan upaya-upaya dalam batas-batas wilayah propinsi Aceh sendiri. Sebab akhirnya itulah satu-satunya manfaat pemisahan Aceh sebagai propinsi yang berdiri sendiri, selain kepuasan psikologis yang dilatar belakangi kejayaan sejarah dan agama

 

REAKSI & ASIMILASI


TENAGA KERJA DI ACEH SANGAT LANGKA. PERNAH DIDATANGKAN SEJUMLAH TRANSMIGRA DARI JA-TENG TAPI GAGAL. MASYARAKAT SETEMPAT MENGANGGAP, TRANSMIGRAN ITU MEMBUAT BASIS KOMUNIS. TRANSMIGRAN LOKAL BERHASIL. RU DH ED 33/02 TA 721021 HA 48 SU ACEH ; TENAGA KERJA ; TRANSMIGRAN SS ASIMILASI PENDUDUK ; ACEH (DI)


TENAGA kerja. Bahkan itupun masih kurang di propinsi paling ujung pulau perca. Sementara modal teknologi dan management modern perlu diimpor dari luar problema umum di seuruh Indonesia, apa yang mau dikerjakan oleh 800.000 laki-laki dan perempuan dewasa di Aceh, di mana 70% masih terbelenggu pada sawah dan ladangnya? Jadi berbeda dengan Jawa, bukan masalah pengangguran yang memusingkan kantor perwakilan Depnaker di Banda Aceh: Malah kantor ini, sebenarnya bisa ditutup saja, kemudian- seluruh inventaris dan pegawainya dialihkan untuk mendatangkan transmigran-transmigran dari Jawa. Dan dari segi renggangnya penduduk Aceh sendiri, 36 orang tiap KmÿFD masih cukup tempat berlapang-lapang bagi pendatang baru. Seperti undangan yang pernah disampaikan Gubernur Aceh Muzakkir Walad ketika berkunjung ke Medan: "Aceh setiap saat menyediakan diri untuk menampung kaum transmigran". Ucapan yang begitu ramah tidak disertai syarat-syarat agama atau keturunan, meskipun bagi penduduk Aceh yang punya darah Cina kenang-kenangan pembasmian PKI tujuh tahun silam cukup membawa kenang-kenangan merah, semerah darah.

Blang Peutek

Persoalan transmigrasi memang tidak semudah menuang air dalam gelas kosong: Lepas dari biaya dan sarana untuk menyeberangkan mereka dari Jawa ke pucuk Utara Sumatera, bagaimana sikap penduduk ash terhadap mereka yang baru datang? Seumpama ada gejala-gejala kurang enak dari fihak tuan rumah, di mana letak ketidak-cocokan? Tuan rumah yang kurang ramah, atau para tetamu yang kurang tahu diri? Satu contoh misalnya.

Tahun 1962 Aceh pernah menampung sejumlah 99 keluarga di Blang Peutek, atas prakarsa Pemerintah: Proyek ini boleh dibilang gagal, dan sebabnya tidak sederhana. Ada tanggapan masyarakat setempat bahwa pendatang-pendatang dari Jawa Tengah itu, mau menjadikan Blang Peu. tek sebagai basis Partai Komunis. Seperti belum cukup cobaan bagi penduduk desa yang ditransmigrasikan itu, tanah penampungan kurang subur, sawah-sawahnya masih tergantung pada hujan sedang bibit-bibit penyakit berpesta-pora di tempat itu, Akhirnya mereka buyar tidak keruan.

Ada juga transmigrasi spontan, atau transmigran-transmigran yang khusus didatangkan untuk mengisi kekurangan tenaga kerja, dan transmigran-transmigran-lokal. Umumnya mereka tidak mau menetap, dan setelah berhasil mengumpulkan sejumlah uang selama beberapa tahun, pulanglah mereka ke tempat asalnya. Masalahnya antara lain, karena perumahan tidak terjamin.

Asimilasi

Kendati hal-hal seperti di atas tidak mustahil terulang kembali, ada juga kisah-kisah sukses transinigran-transmigran yang sudah menjadikan Aceh kampung halamannya yang kedua. Misalnya transmigran-transmigran yang dijumpai TEMPO di desa Saree, yang boleh dibilang sudah berbaur dengan penduduk asli. Soalnya, dengan paspor agama yang sama dan kesediaan menghormati adat-istiadat penduduk, berhasillah pemuda-pemuda Jawa yang masih perjaka mempersunting gadis Aceh sebagai isterinya, dan proses asimilasipun terjadi. Sampai-sampai dalam soal politikpun sementara keluarga transmigran ini bersedia menempelkan tanda gambar PSII di dinding rumahnya, menjelang Pemilu tahun lalu. Di samping itu, daerah Saree yang terletak di kaki gunung Seulawah merupakan daerah pembibitan cengkeh yang subur yang langsung ditangani Pemda: Daerah safari yang mengepung gunung itu, kini telah dirubah menjadi daerah peternakan yang subur.

Membabat Hutan

Beberapa kisah sukses itu entah berapa % dibandingkan dengan yang kurang berjaya membuat Muzakkir Walad tambah mantap niatnya, mendatangkan 200.000 transmigran ke wilayahnya. Sebab selama ini, murahnya tenaga kerja selalu menjadi bahan reklame Pemerintah mengundang penanaman modal dari manca negara: Dan Aceh tidak mau jadi perkecualian.

Calon-calon daerah penampungan dalam jangka dekat: 12 ribu hektar tanah pertanian di daerah Aceh Selatan dan Aceh Tenggara, yang memang terkenal sebagai kantong beras. Tahap berikutnya: dibutuhkan berpuluh-puluh tenaga kerja untuk membabat hutan di kawasan Aceh Barat dan Aceh Selatan, kalau pemegang-pemegang HPH sudah mulai beraksi.

 

RUMAH PEMURAH


MASJID BAITURRAHMAN DI BANDA ACEH DIDIRIKAN OLEH SULTAN ISKANDAR MUDA. MASJID ITU PERNAH DIBAKAR OLEH BELANDA KARENA MENJADI MARKAS PERLAWANAN TERHADAP BELANDA. DIBANGUN KEMBALI OLEH BELANDA TH 1877. RU ILS ED 36/02 TA 721118 HA 28 SU MASJID SS BANDA ACEH (DI)


SUDAH melihat-lihat Masjid Raya Baiturrahman? "Pertanyaan seperti itu selalu terdengar dari mulut para resepsionis kepada tamu-tamu di hotel-hotel Banda Aceh. Masjid Raya di kota itu sebagaimana juga Masjid Al--Mansun di Melon - terbuka untuk dilihat dari dekat. Dan seperti yang terjadi di Medan, konon banyak turis asing menyempatkan diri memasukii halaman masjid itu lantas melepas sandal.

Pohon Mahoni. "Rumah Tuhan yang Pemurah" - itulah arti Baiturrahman -yang menjadi sebagian kebanggaan 60.000 penduduk Bands Aceh, dulunya" didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada 1092 Masehi. Sudah barang tentu wajah pertama waktu ia lahir jauh berbeda dari wajah seorang. Searang ia kelihatan lebih genit, sungguhpun keagungan sebagai rumah suci tidak turut hilang bersama sirnanya keaslian sang bentuk: Itu Rumah Tuhan, pada zaman perjuangan Aceh melawan Belanda pernah dijadikan markas menyusun rencana perlawanan. Akibatnya setelah Belanda tahu bahwa bukan cuma kegiatan sembahyang terdapat di sana, pada 10 April 1873 dibakarlah masjid itu sampai habis. Di depan masjid itu dulunya terdapat sebatang pohon mahoni besar. Sekarang, setelah ditebang, beberapa bilah papannya dijadikan bangku panjang di musium Rumah Aceh- Di bawah pohon itulah seorang pemimpin ekspedisi pertama ke Aceh, bernama Jenderal Kohler, mati tertikam rencong kemarahan rakyat. Untuk menentramkan, sebagaimana pernah dijanjikan Van Suiten, maka pada kunjungan ke Aceh bulan Maret 1877 Gubernur Jenderal Van Lamberg mengulangi janji pembangunan masjid itu. Batu pertama pembangunan kembali itu diletakkan oleh Tengku Kadhi Malikul Adil. Dan dua tahun kemudian selesailah seluruh restorasi.

Soekarno. Pada mass A. Ph. van Aken pada 1935, di bawah, pimpinan, pelaksana Ir M.Tahir masjid ini diperluas lagi. Perluasan ini menghabiskan biaya 135.000, Hasilnya: kubah yang semula cuma sebuah menjadi tiga buah. Ketika Mayor Jenderal T. Hamzah Bendahara menjadi Panglima Kodam I Iskandar Muda, dihiaslah Baiturrahman dengan lampu-lampu neon, mercury serta kolam dengan lampu warna-warni. Tapi dengan adanya reaksi yang menyebut kelap-kelip masjid itu seakan bersuasana klab-malam, dengan cepat digunduli kembali itu lampu-lammpu oleh Hamzah - yang konon mengeluarkan biaya dari kantongnya sendiri. Toh sekarang neon-neon itu tak urung bermunculan kembali dan menghiasi pagar-tembok yang mengelilingi masjid. Hanya bedanya, sekarang neon-neon itu tak berwarna-warni. Jadi tentunya tidak seperti klab-malam, begitu.

Di zaman Ali Hasyrni masih duduk di kursi Gubernuran, sang kubah yang-bertiga itu sempat pula bertambah dua hingga limalah, sekarang jumlahnya. Konon kedua kubah yang berdiri di zaman, Soekarno itu punya hikayat yang lumayan juga. Untuk mendapat pembiayaan, berkatalah Hasymi kepada Soekarno: "Falsafah negara kita Pancasila. Tapi kubah Baiturrahman cuma tiga". Dan Soekarno yang memang tertarik kepada falsafah apalagi kepada Pancasila terkait jugs hatinya. "Cepat bikin dua kubah lagi", katanya sambil teken cek. Begitu cerita yang menjalar di luar. Benar atau cuma lelucon, tak begitu penting dikaji-kaji.

 

MENGAWETKAN ACEH


JUMLAH KEBUDAYAAN DI ACEH CUKUP BANYAK. USAHA UNTUK UNTUK MELESTARIKAN PERNAH DILAKUKAN A. HASJMY DALAM PEKAN KEBUDAYAAN ACEH I. USAHA SERUPA AKAN DILAKUKAN GUBERNUR, DALAM PEKAN KEBUDAYAAN ACEH II. RU DH ED 26/02 TA 720902 HA 21 SU ACEH ; KEBUDAYAAN SS PEKAN KEBUDAYAAN ACEH KE-2 ; ACEH


KALAU Gubernur Muzakkir Walad mencemaskan lenyapnya perbendaharaan kebudayaan daerahnya sendiri seperti diucapkannya pada pelantikan Panitia Pekan Kebudayaan Aceh ke-II yang berlangsung 20 Agustus-2 September kemarin konon bukan lantaran rakyat Aceh tak berkehendak mengawetkannya. Tapi, seperti sering disebut: mereka tak sempat. Orang tahu, penduduk ujung Sumatera itu hampir selamanya berada dalam perang dan kerusuhan. Maka jangankan mengurus barang seni-menyeni, pembangunan daerah sendiri masih tercecer.

Setidak-tidaknya sampai beberapa waktu yang lampau, usaha kebudayaan yang, masih terhitung aktif hanyalah yang menyangkut segi-segi keagamaan seperti zikir dalam bentuk-bentuk "yang tidak resmi ibadah" dan hikayat-hikayat. Dalam hubungan itu perlu pula disebut pengaruh sebagian ulama jang secara tak langsung memberi andil dalam hal mundurnya seni-menyeni. Terhadap tari Seudati misalnja. Seudati Agam, yang di masa kemarin secara tradisionil ditarikan semalam suntuk dan yang melodi maupun geraknya justru lahir dari warisan kebudayaan mistik Islam tak urung dinyatakan membawa maksiat. Sebab memang benarlah, disamping syair-syair jang bertemakan pujaan kepada Nabi ala Barzanji dan nasihat-nasihat keagamaan, biasanya masuk pula tema-tema yang dinilai "romantis". Itu biasa dilontarkan dalam pertandingan-pertandingan antar grup yang masing-masing dipimpin seorang Aceh (cara mereka menyebut syekh) lewat teka-teki, yang tak ayal bisa menjurus kearah "yang itu-itu" - dengan kata lain bisa mendjadi begitu jorok. Lagi pula anak seudati yang nyanyi solo biasanya pemuda tampan dan bergigi emas konon tak jarang menyebaban perawan-perawan mabuk kepayang. Maka diserukan hotbah di banyak tempat: seudati, haram. Itu baru seudati pria. Belum lagi Seudati Inong, yang dilakukan cewek-cewek di kawasan Aceh Selatan.

Tak heran bila pada masa pendudukan Jepang misaInya, walaupun tarian itu dipaksakan juga di pasar malam, kegiatannya di kampung-kampung dilakukan jauh dari kompleks penduduk jadi semacam lokalisasi. Ini terutama teijadi di Aceh Besar, di mana Kutaraja berada. Meski begitu tidak berarti semua unsur kesenian tak sempat lolos. Dabus misalnya. Permainan memukul gendang dan serunai serta nyanyian ini, dimana sang pawang menusuk-nusuk dirinya dengan pisau, masih ada sampai sekarang. Sudah tentu buat keperluan semacam itu digunakan azimat demi azimat, dan konon pula tak jarang terjadi seorang pawang yang kebal, mengayunkan pisau ke dada dan tiba-tiba darah muncrat ke mana-mana. Dalam keadaan seperti itu, konon, seorang pawang lain yang lebih kuat "ilmu"nya sedang membaca jampi-jampi buat merontokkan seluruh mantera yang sedang menguasai diri pawang yang lagi main. Itulah sebabnya: Bisa diduga permainan seperti itu seperti juga tari keris di Bali, yang jauh lebih berbentuk seni makin lama akan makin menjadi artifisial. Namun betapapun sisa-sisa macam itulah yang tampaknya ingin tetap dipertahankan.

Kepala gondrong. Syahdan seorang bernama A. Hasjmy, yang masuk dalam deretan pengarang 20-an, naik tahta di kursi Gubernur. Buat mempertahankan peninggalan nenek moyang itu Hasjmy lantas mengadakan Pekan Kebudayaan Aceh I pada 1958 dan mengangkat kembali banyak bentuk-bentuk kesenian rakyat yang sebagiannya sudah hampir lenyap dari ingatan. Lantaran orang ini juga seorang kyai (sekarang Dekan Fakultas Da'wah IAIN), maka secara besar di negeri tengku-tengku itu berhasil juga ala kadarnya. Dan muncullah beberapa atraksi yang konon oleh sebagian kaum muda sendiri sudah tak begitu dikenal dan yang oleh kaum tua ternyata tak begitu ditentang meskipun tidak selengkap hazanah seperti disebut Snouck Hurgronje dalam De Acheher.

Adapun Pekan Kebudayaan Aceh II baru-baru ini adalah tanda gugahan kembali dari Gubernur Muzakkir Walad yang dikenal energetik dan banyak inspirasi. Orang mengingat bahwa awal 1971 tokoh ini mengundang Rendra dan anak buahnya, dan sambil memperkenalkan kepala-kepala berambut gondrong itu ke beberapa penjuru, mencoba pula menarik selera kaum yang muda-muda. Setelah jalan-jalan di ibukota propinsi jadi benderang oleh neonisasi, agaknya lantas difikir sudah tiba waktunya mengulang kegiatan besar yang sudah berhenti selama 14 tahun itu. Dalam peresmian panitia bulan Maret dahulu Gubernur tak lupa melontarkan kekuatiran, bahwa putera-putera daerah dimasa datang tak lagi akan mengenal kebudayaan nenek-moyang mereka. Hikayat-hikayat misalnya (seperti hikayat perang sabil yang salah-sebuah kumpulan syairnya diterjemahkan A. Hasjmy baru-baru ini dari karangan Tengku Panto Kulu) bukan tak mungkin akan lenyap. Patut pula diingat bahwa produktifitas penduduk daiam barang-barang yang ada hubungannya dengan seni-menyeni pun makin lama makin menjadi begitu langka. Pertenunan sutera misalnya dengan motif yang banyak menggunakan warna menyala dan dulu terkenal ke mana-mana sekarang disebutpun jarang. Bukan pula berita baru bila terdengar keluhan tentang sukarnya mencari pakaian adat sekarang ini, bila sesuatu upacara kecil-kecilan akan berlangsung.

Pembesar putih. Tak dimungkiri, menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan serupa itu bukan tak ada hubungannya dengan motif lain yang maklumlah membayang dan menjanjikan satu keuntungan besar, baik kongkrit maupun hayali. Yakni, disamping masalah-masalah ekonomis lain: promosi pariwisata. Gubernur barangkali tak tahan pula buat memperkenalkan jalan-jalan yang dahulu bukan saja rusak, tapi pernah hilang yang sekarang sudah rada lumayan itu. Apalagi bila diingat bahwa panitia telah pula mencantumkan acara adu sapi yang sudah tentu lebih banyak mengandung unsur sadisme dibanding seni.

Meski begitu, bukan tak mungkin rasa memiliki dosa-dosa kebudayaan yang agaknya bersarang pada orang Aceh generasi ini hendak ditebus dengan kreasi-kreasi ala kadarnya. Adapun rasa bersalah itu boleh diberi alasan bila orang memandang peninggalan-peninggalan kesejarahan yang sekarang tidak karuan nasibnya. Gapura-gapura dan monumen-monumen yang dulu berdiri di beberapa tempat, sekarang entah di mana. Di satu kuburan Belanda dahulu banyak berdiri patung-patung para pembesar orang putih yang begitu anggun. Itu barang-barang peninggalan sekarang tak ada lagi: baik oleh semangat patriotisrne maupun Oleh hukum agama versi para ulama patung-patung digempur beramai-ramai. Di ruang depan gedung Kodam I Iskandar Muda di Banda Aceh, terpampang bendera dan panji-panji la-ilaha illal-Lah yang dulu dipakai Sultan melawan Kompeni. Mengapa tidak ditaruh di museum'?

Saya pak! Tapi keadaan museum sendiri seperti museum-museum lain di banjak ternpat di Indonesia memang belum menggembirakan. Gedung yang belum begitu lama berpindah tempat itu, dibangun dengan gaya rumah adat seperti terdapat di kampung-kampung. Catatan peninjauan awal 1971, menunjukkan begai beberapa porselin Tiongkok dan Belanda yang ada hubungannya dengan istana Aceh, bercampur baur dengan yang lain. Pada sebuah meja etalasi yang sudah lapuk terpampang etiket yang menunjukkan bahwa isinya ada bersangkut-paut dengan hasil bumi. Tapi apa isi tempat itu? Batu. Beberapa bagian, rumah museum, tampak dicat mengkilap asal dicat saja. Siapa yang mengecat? "Saja pak", kata penjaga. "Supaya bagus".

Tapi syukurlah para pejabat bukan tidak tahu ketimpangan-ketimpangan serupa itu, mereka bahkan bisa menunjukkan lebih banyak lagi. Mereka juga bisa menceritakan misalnja: bagaimana dulu Panglima Kohler lari ke Masjid Raya dan menjadikan halaman masjid sebagai benteng. Tapi seteiah para ulama memutuskan boleh menyerbu halaman masjid dan membunuh itu "kapir penjajah", gugurlah Jenderal itu di sana. Meski begitu, seperti ditulis Nugroho Notosusanto yang bergerak dalam bidang sejarah, dimajalah Intisari Agustus kemarin, banyak orang-orang tua di Aceh sekarang ini tak tahu lagi, di mana bapa-bapa mereka melakukan pertempuran yang paling dahsyat menghadapi Belanda dulu. Tapi Pekan Kebudayaan Aceh selesai sudah.

 

ACEH: MEMBUKA WAJAH DAN TUBUH


ACEH MENYATAKAN MEMBUKA DIRI DENGAN DUNIA LUAR. BANYAK SUMBER DAYA ALAM BELUM DIMANFAATKAN. INVESTASI ASING DIHARAPKAN. PEMBANGUNAN PRASARANA UNTUK MEMBANGUN EKONOMI DITITIKBERATKAN. RU DH ED 33/02 TA 721021 HA 44 SU LAPORAN UTAMA SS ACEH ; DAERAH


TURIS-TURIS boleh datang ke Aceh. Tidak perlu pakai kain sarung atau kopiah. Percayalah, penduduk Aceh tidak sejahat dibayangkan orang untuk memeriksa bagian bawah tubuh para pendatang, apakah mereka ada disunat atau tidak". Ucapan bergaya sembrono dari Kepala Perwakilan Pemerintah Daerah Istimewa Aceh di Medan bernama Ibrahim Hadji, boleh mewakili keinginan rata-rata pejabat Aceh dewasa ini. Semacam undangan ke pada "dunia luar" memang sudah agak lama diteriakkan. Pekan Kebudayaan Aceh ke-II misalnya, yang berlangsung selama dua minggu di Banda Aceh sampai awal September kemarin, dibuka dan ditutup oleh Menteri Budiardjo dan Nyonya Tien Soeharto serta dikunjungi banyak tamu-tamu luar daerah, dari satu segi bisa pula dianggap usaha memperkenalkan corak hidup sebenarnya rakyat disana.

Perang & Generasi

Lagi pula para pejabat bukan tak punya alasan untuk menggunakan biaya Rp 50 juta. Pidato panjang tapi bijak dari Gubernur Muzakkir Walad sehubungan dengan pesta tersebut boleh di tolerir di sini untuk mendapat pemberitahuan apa yang menjadi motif. "Proses akulturasi amat lambat berjalan di daerah Aceh", itulah yang jelas. "Apa yang baik dari luar sukar merembes ke daerah ini, sedang apa yang indah dari nilai budaya Aceh tiada dapat di hayati dan diresapi orang luar". Padahal "suatu nilai budaya yang kurang mendapat sentuhan dari luar dan kurang menampakkan wajahnya, akan membeku dan makin lama makin sulit, takut, serta menjadi tabu dijamah orang". Tapi benarkah masalahnya sekedar masalah kebudayaan dalam arti tontonan-tontonan kesenian? Sebuah seminar tentang "Faktor Budaya dalam Pembangunan Propinsi Daerah Istimewa Aceh", diselenggara kan di tengah Pekan Kebudayaan sambil mengisi acara Dies Natalis ke-XI Universitas Syah Kuala, seperti dinyatakan Prof. Dr. A.Madjid Ibrahim Rektor Unsyiah dan Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Aceh (BPPA): harus di hargai sebagai salah-satu cara penting meskipun cukup lumrah "untuk mengira-ngira apakah target-target pembangunan yang hendak dicapai sesuai dengan apa yang dihayati masyarakat sendiri. Untuk mengetahui faktor-faktor apa yang telah mempengaruhi alam fikiran mereka, value system mana yang dapat memberi arti bagi kehidupan dan kepuasan mereka".

Memang sudah diketahui bahwa wajah Aceh, seperti diucapkan juga dalam Seminar, adalah wajah Islam. Tapi wajah Islam bukanlah satu bila diingat bahwa daerah-daerah lain semacam Sulawesi Selatan atau Jawa Timur misalnya, yang juga dikenal, punya wajah Islam, toh tidak sama dalam warna. Karena itu pengenalan identitas diri sendiri sebagai sekelompok penduduk yang sedang di usahakan membukanya, sepantasnya di lakukan dengan melihat watak yang dipandang menentukan. Siapakah sebenarnya orang Aceh? Benarkah mereka sekedar sekelompok 2 juta penduduk yang hanya punya "kebudayaan sunat" dan "kebudayaan perang?" Dan salahsatu kesimpulan. Seminar lantas bicara tentang de Achehers ini sebagai kelompok rakyat yang berada dalam satu kebudayaan yang, disamping sudah tentu bersifat agraris tradisionil dan dikatakan berwatak ksatria, juga punya kecenderungan seragam, mencari harmoni, bersikap terbuka, dan lamban alias tidak progresif. Sifat lamban ini tentulah terbayang bisa satu-dua orang tokoh misalnya mengeluh: "Percuma saja pemerintah berusaha membangun irigasi yang baik, bila rakyat toh merasa cukup memetik panen sekali setahun dan bukan dua kali". Adapun sifat-sifat lain, setidak-tidaknya bagi orang yang kelewat mempercayai kesenian tradisionil sebagai pelahiran watak asli, konon bisa dilihat dari berbagai tari-tarian tradisionil seperti yang dipertunjukkan dengan lengkap pada PKA ke-II kemarin: umumnya tari-tarian itu menunjukkan sifat-sifat riang, perkasa namun santai, dan terbuka berbeda dengan misalnya tarian tradisionil Jawa yang cenderung kontemplatif dan tertutup, ataupun Bali yang dinamik dan misterius. Namun, mengapa orang Aceh dikenal dari jauh sebagai sekumpulan orang fanatik dan liat? Sehingga Badan Perencana Pembangunan Aceh (BPPA) yang lebih dikenal sebagai Aceh Development Board atau ADB pada waktu membuat perencanaan Repelita II untuk Propinsi membuat kesimpulan bahwa: "masyarakat Aceh adalah masyarakat yang hidup dalam kebudayaan terisolir"? Semua pejahat dan intelektuil di sana, dengan sadar maupun sambil menghafal menyebutkan aiasan yang, satu: iklim perang terus-menerus selama dua generasi.

Ethos Perang & Royan Revolusi

Dan semua orang tahu hal itu. Pada masa kejayaan Sultan, Aceh-dikenal sebagai negeri mercusuar ilmu. Perguruan-perguruan tinggi dan dayah-dayah yakni pesantren-pesantren luhur merupakan sentra keilmuan yang relevan dengan tuntutan masa itu, dan memberi aspirasi kemajuan rakyat sehingga kebesaran Aceh menandingi kekuatan Portugis dan Belanda: Lantas sejarah perang berlangsunglah: sejak, kedatangan Belanda pada 27 Maret 1873, sampai harus dibilang saat penyerahan Kedaulatan di pertengahan abad ke-20. Setelah beberapa saat aman, negeri itu lantas dirambah kembali oleh Perang Cumbok (ulee balang yakni kaum feodal lawan kaum tengku alias ulama). Ditingkah oleh pemberontakan yang pecah pada September 1953 yakni setelah negeri itu, yang pada 1950 sudah merupakan satu propinsi, beberapa saat kemudian dirobah statusnya menjadi karesidenan dan digabung dengan Sumatera Utara. Kemudian datanglah tahun 1957, ketika Aceh kembali mendapat status propinsi, dan setahun setelah itu tanda-tanda keamanan mulai tampak meyakinkan. Maka, jika dihitung-hitung sejak zaman sejarah lama sampai kini, mengalami masa aman selama kira-kira 20 tahun. Dan apa yang tinggal setelah itu?

Selesai kecamuk perang yang paling akhir diperhitungkan bahwa penduduk Aceh hanya tinggal tidak sampai satu juta. Inilah masa yang paling tragis. Janda-janda dan anak-anak yatim terkurung dalam kehidupan sosial dan ekonomi- yang nestapa. Rel kereta-api terputas-putus, jalan-jalan bukarr saja hancur tapi nyaris hilang. Kawat-kawat telepon disentakan dari tiang-tiangnya dan bersamaan dengan ramainya penyelundupan, dijual ke Malaya. Dalam keadaan begitu penduduk terkurung dalam kantong-kantong dan mobilitas ekonomi merupakan impian mustahil. Akibat permainan bumi hangus dari semua fihak, stasiun-stasiun diberangus dan sekolah-sekolah dibakar. Maka Aceh yang di zaman dahulu terang benderang liwat perguruan-perguruannya, dan yang di masa-masa akhir penjajahan Belanda hanya punya satu sekolah Mulo di Kutaraja (dengan lebih kurang 10 siswa pribumi), sekarang tinggal puing. Lebih dari itu pengalaman menghadapi penjajah dahulu rupanya telah mewariskan satu ethos yang, seperti dinyatakan A. Hasymi bekas Gubernur dan Ketua Majlis Ulama, berujud ide perang sabil. Menurut kesimpulan Madjid Ibrahim, rasa sakit masa lampau itulah yang mewariskan sifat mental yang sangat erat hubungannya dengan setiap langkah perobahan. Yakni sikap yang selalu curiga - bukan saja terhadap Belanda tapi juga terhadap segala yang berbau asing, dan pembawaan yang tidak fleksibel yang dinyatakan bukan merupakan "bakat asli".

Disamping ADB

Tapi royan revolusi, cepat atau lambat harus surut kemasa lampau. Jika bedil sudah disimpan (meminjam ungkapan Chairil Anwar) meskipun asap masih berkepul, mulailah usaha merubah iklim. Panglima Komando Daerah Militer Aceh Letkol (sekarang Brigjen P) Syammaun Gaharu bersama Pemerintah daerah dibawah Gubernur A.Hasymi (d/h Hasjmy), melahirkan satu urgensi kerja dikenal sebagai Tri Karya Bhakti yang antara lain menuntut pemberian otonomi yang luas. Sehingga, setidak-tidaknya sebagai satu upaya psikologis, menyebabkan pemberian status Daerah Istimewa untuk Aceh oleh Pemerintah Pusat pada 1959. Usaha pemantapan keamanan di lanjutkan sampai kira-kira sepuluh tahun kemudian, ketika Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (Baperis) dibentuk di bawah Panglima Brigjen (sekarang Mayjen) Tengku Hamzah Bendahara, sebagai upaya, memantapkan persenyawaan seluruh warga serumpun antara yang dari semula anggota TNI dengan yang di hari kemarin aktif mengangkat senjata di gunung-gunung. Dalam pada itu Pekan Kebudayaan Aceh I, yang tidak sebesar dan selengkap PKA II yang baru lalu, dilangsungkan pada 1958. Setidak-tidaknya dari satu segi PKA ini dinyatakan berada "dalam rangka pemulihan keamanan setelah peristiwa pemberontakan DI/TIl", seperti dikatakan Hasymi. Lepas itu dilaksanakanlah Musyawarah Besar Kerukunan Rakyat Aceh 1962 yang melahirkan Piagam Blang Padang, yang dinyatakan membawa iklim sosial yang lumayan.

Tak pula bisa dilepaskan dari usaha psikologis untuk menurut-sertakan aspirasi yang dalam dari rakyat Aceh adalah dibentuknya Majlis Ulama pada Desember 1965, setelah Musyawarah Alim Ulama se-Propinsi dengan pengesahan Panglima Ishak Djuarsa menyerahkan pembentukannya kepada Pemerintah Daerah. Majlis ini, yang boleh dibilang bertugas menaksir kemajuan kerohanian rakyat disamping merupakan pembimbing formil mereka, seolah satu jembatan antara pemerintah dan penduduk. A.Hasymi, Wakil Ketua MU, menyebut salah-satu fungsi Majlis ini sebagai pembina kerukunan dalam bidang keagamaan dalam bidang mana rakyat sebenarnya secara langsung berada di bawah wibawa tengku-tengku alias ulama-ulama "merdeka". Sebagai tangan kanan Pemerintah bisa dilihat kerja MU lebih lambat dan lebih kerap berhubungan dengan kepekaan dan sentimentalitas keagamaan rakyat dibanding tangan kanan lain yakni BPPA alias ADB, yang dengan sengaja dibentuk Pemda pada 1968 untuk memberi pertimbangan dan menyusun perencanaan pembangunan daerah berikut pembiayaannya. Di bawah bayang-bayang BPPA dan MU itulah, berdiri dua perguruan tinggi sebagai pencetak kader yang selama itu belum sempat terfikir: Universitas Negeri Syah Kuala, 1962, dan IAIN Ar-Raniri, 1963. Keduaduanya, bersama satu-dua sekolah lanjutan, perumahan dosen dan sebuah pesantren luhur bernama Dayah Tengku Pante Kulu, berada dalam kompleks pelajar dan mahasiswa Darussalam di Banda Aceh. Dan sekarang, bagaimanakah gambaran problematik Aceh setelah di buka?

Dari MIN ke Lebai

Kebudayaan Aceh memang bukan kebudayaan sunat. Di samping prestasi Pemda, lewat BPPA yang dikenal energetik, satu-dua hasil materi MU misaInya koordinasi zakat untuk seluruh wilayah lewat pemerintah, yang dinyatakan bare berjalan 50%. Di samping itu gambaran sikap MU untuk beberapa hal aktuil bisa pula dilihat dari keputusannya yang menarik tentang kesenian. Menjelang PKA-II, panitia khusus MU menyajikan satu bahan pertimbangan yang tidak mau mereka sebut Fatwa yang kesimpulannya antara lain: fungsi kesenian memang untuk kesenangan. Dalam memanfaatkan kesenangan itu, pria dan wanita berhak sama. Seni itu sendiri adalah sesuatu yang mubah (boleh-boleh saja), dan, bila ada sesuatu yang haram atau tak disukai maka itu bdkanlah zat seninya, tapi ekses yang mungkin timbul dari satu-dua jenis. Pada waktu-waktu tertentu, seperti saat hajat atau perayaan, hukum mubah itu bahkan bisa baik menjadi mustahab (didorong oleh agama).

Namun, apabila kegiatan kesenian di katakan bukan lagi merupakan problim, maka problim yang sangat besar antara lain masalah pendidikan. Hasil survey Unsyiah misalnya, dilangsungkan atas penugasan Bappenas bagi penyusunan rencana Pelita ke-II Daerah, mencantumkan masalah ini sebagai problim pertama yang mendesak dalam program jangka panjang. Ini tidak hanya menyangkut masalah dualisme antara sistim MIN (Madrasah Islam Negeri) yang punya waktu belajar tujuh tahun dengan SD yang hanya membutuhkan enam tahun dengan perbedaan kurikulum masing-masing yang nantinya bisa menimbulkan jurang. Tapi lebih penting adalah kenyataan bahwa 5070 anak-anak di Aceh memasuki sekolah agama. Yang dikuatirkan sudah tentu bukan karena memasuki sekolah agama haram hukumnya. Tapi karena masalah gagal sekolah (dropout) dalam saluran antara MIN dun (AIN jauh lebih mengerikan di banding antara SD dan Unsyiah. Antara SD dun Unsyiah masih terdapat banyak jurusan ragatn sekolah yang memungkinkan anak memilih. Tapi antara MIN dun IAIN harnpir tak ada apapun lebih-lebih bila akan diperhitungkan pula madrasah-madrasah diniyah yang sama sekali tidak memberikan pelajaran umum. Maka mereka yang mengalami drop out dalam saluran ini akan tidak bisa menjadi lain kecuali lebai-lebai dan guru ngaji. "Itulah hal yang sangat gawat", kata Majid Ibrahim.

Not For Muslim Only.

Akan tetapi masih ada masalah dasar yang mengundang perbedaan pendapat dalam kebijaksanaan pembukaan daerah yang dinyatakan terisolir itu. Dan inilah masalah sangat populer: sejauh mana pembukaan daerah dibolehkan mentolerir unsur-unsur yang dianggap akan menyentuh dun merusakkan kehidupan beragama. Selama beberapa waktu terakhir ini, Aceh sudah merupakan satu negeri dengan gaya hidup yang tenteram. Orang-prang di masjid-masjid meng-aminkan doa sembahyang sang imam dengan cara yang lebih serempak, sabar dun syahdu, dibanding keadaan di masjid-masjid di Jawa yang panas dun riuh-rendah. Hampir seluruh kota-kota di jalur timur (apalagi di bagian barat). mulai mengantuk dun berbenah, untuk tidur begitu prang selesai sembahyang isya. Beberapa perempuan dan gadis-gadis berjalan-jalan malam dengan celoteh yang riang tanpa diganggu sebab memang tidak terfikir di batok kepala sang pria yang liwat bahwa mereka perempuan nakal.

Suasana macam itu insya Allah di anggap ideal untuk orang yang salih. Tapi bagi mereka yang sudah terbiasa menghirup udara kota-kota nun metropolitan, baik salih maupun tidak, keadaan itu bisa menimbulkan rasa sumpeg, bak rumah tanpa jendela, tanpa variasi dun tunggal nada. Ia merupakan ciri-ciri gaya hidup statis dan terisolir. Sudah tentu, untuk merobah gaya hidup menjadi lebih dinamik, para Mama seperti yang terkumpul dalam MU akan setuju dan bahkan akan tidak merasa senang bila begitu saja dianggap tidak turut berusaha. Namun contoh yang jelas mengenai konflik disekitar soal ini misalnya apa yang terjadi pada 1970 di Sabang. Sebuah pelabuhan bebas, menurut fikiran para tokoh, tentulah satu pelabuhan yang menyediakan semua fasilitas yang sesuai termasuk segala hiburan. Dalam hal rasa Ir Ibrahim Abdullah Ketua KP4 BS yakni proyek pelabuhan bebas di sana, "kepada orang-orang yang menginginkan bangkai, sediakanlah bangkai agar jangan mereka memakai tubuh yang hidup sebab kehadiran mereka di Aceh jelas diperlukan". (NB: harap faham; bangkai ini dari jenis betina). Namun bagi tokoh-tokoh agama soalnya tentu: bau bangkai itu tak tertahankan, selain bisa mendatangkan penyakit dan menyebabkan yang lain menjadi bangkai. Maka terjadilah: wakil-wakil pimpinan agama bersama Majlis Ulama Kota Madya. Sabang mengajukan protes. Dari kasino yang dibuka kecil-kecilan di pulau Kelah (anak P. Weh di mana Sabang berada) lama dibiairkan ada, hanya saja dipasang etiket: Not for Muslim only.

Falsafah Isolasi tiasymi.

Maka berkatalah A.Hasymi, yang tentu saja sejalan dengan para ulama, tentang "falsafah isolasi": "Kami akan bangga bila kami di Aceh disebut terisolir karena kami menolak judi, klab malam, mandi uap dan pijit-halus atau sebangsanya". Sudah tentu ucapan itu dikeluarkan sambil mengingat bahwa Aceh dari segi ekonomi memang harus dibuka. Masalahnya barangkali bagaimana caranya melalui ranjau-ranjau, meskipun dengan itu pembukaan ekonomis bisa dicap sebagai lebih sulit. Dan bila ranjau-ranjau ini tertanam dalam sikap keagamaan yang menurut Majid Ibrahim dibentuk oleh pendidikan yang indoktrinatif dun sempit, maka, seperti dikata kannya dalam Seminar Kebudayaan yang lalu, "diperlukan pengajian kembali ketentuan-ketentuan agama Islam, agar cara penganutan agama lebih rasionil". Itu memang bukan tidak dikehendaki Oleh tokoh-tokoh dari Majlis Ulama. Hanya saja belum bisa dijamin bahwa mereka akan 100% setuju dengan misalnya apa yang diucapkan Pejabat Walikota Banda Aceh T.Usman Jacoub (baca: Yakoub): bahwa "kemajuan masyarakat akibat ilmu dan teknologi merupakan air bah yang tidak dapat kita rintangi. Yang penting adalah bagaimana menganalisirnya". Sebab dengan itu Usman Jacoub, seperti banyak orang lain, bicara tentang segala fasilitas kesejahteraan seperti yang dianggap sepantasnya terdapat di sebuah kota yang maju juga tentang pariwisata, yang betapapun untuk daerah Aceh masih merupakan impian yang jauh.

Tapi mimpi atau bukan mimpi, selama stabilitas keamanan bisa diandalkan, daerah ini akan terbuka juga melalui pengembangan ekonomi. Bila sarana-sarana transportasi diperbaiki, bila modal asing deras masuk dan industri-industri didirikan, bila majalah-majatah dan korari-koran yang tentulah tidak bisa di kontrol isi maupun gambarnya dibaca orang di kota-kota kecil, bila satu-dua pusat kesenian didirikan seperti yang baru-baru ini direncanakan, dan bila rakyat sudah bisa menikmati acara-acara TV, tentulah gaya hidup akan makin lama makin berobah. Alam yang menjadi semakin jauh dan sikap yang-menjadi semakin profan, memang bukan tidak menantang cara-cara interpretasi dan pemberian pendidikan agama, seperti di lakukan selama ini. Maka-orangpun berfikir tentang sebuah agama yang berbeda dengan keadaan di Eropa dan Amerika mampu hidup di tengah lingkungan yang lain, di tengah masyarakat yang beragama dan sibuk. Maka bila ada sesuatu yang harus dipertahankan dari nilai-nilai hidup rohani yang asasi itu, sudah siapkah semua kalangan di Aceh menjelang rnasa semacam itu, yang akan tiba dalam waktu dekat ataupun jauh?

 

PAMERAN DI PINTU MEKAH


PADA PEKAN KESENIAN ACEH DISELENGGARAKAN PEMILIHAN RATU DAN RAJA YANG BERPAKAIAN ADAT DENGAN BAIK. TERPILIH ISMA DAN ZURAIDA SEBAGAI PEMENANG. SAMBUTAN MASYARAKAT BAIK. RU ILS ED 29/02 TA 720923 HA 25 SU PAMERAN PAKAIAN SS ACEH (DI)


BUKAN latah. Bukan pula untuk mencari calon peserta pemilihan Ratu Indonesia bulan depan. Tetapi di Aceh telah lahir Raja dan Ratu untuk Pekan Keseniannya yang kedua. Cara memilihnya? Tidak serumit calon-calon yang harus berlomba dalam ratu kecantikan di daerah lain. Juga tidak ada keharusan memakai baju berenang untuk bisa diukur DPP atau melihat mulusnya paha. Seperti dikatakan seorang anggota Panitia kepada Koresponden Chairul Harun: "Yang kami pilih yang paling charming dalam mengenakan pakaian adat". Dengan tema itulah panitia di depan Nyonya Tien Soehato serta sejumlah hadirin-hadirat, telah memilih Isma Hadi sebagai raja. Berasal dari kabupaten Aceh Besar, Isma bertubuh tinggi semampai, berkumis, sedang cambang di kedua pipi cukup panjang. Sebagai Ratu: Zuraida dari Aceh Tenggara gadis manis dengan dandanan rambut anak-anak Jakarta sekarang. Yaitu sedikit disasak, dengan sanggul modern dan klewer-klewer di depan kuping. Zuraida tidak memakai baju terbuka depan atau belakang, bahkan hampir seluruh tubuhnya tertutup pakaian adat yang gemerlapan.

Pemuncak. Kemeriahan PKA II tidak berhenti di situ saja. Puncak acara yang lain, yang konon belum pernah ada di tanah rencong ini: pameran pakaian. Di Jakarta orang sudah muak pameran pakaian karena diadakan begitu banyak sebanyak seorang pecandu rokok mengisap rokok. Tapi tontonan baru di Aceh ini tidak tanggung-tanggung: tiga malam berturut-turut. Cara penampilannyapun berbeda. Dengan kekhasan daerah itu, telah keluar 5 macam pakaian. Masing-masing pakaian-pakaian nasional, pesta, kerja, sekolah agama dan sekolah umum. Nyonya Halimah Ali Bakri, Kordinator Pelaksana pameran, berkata: "Minat cukup besar. Tapi setelah disebutkan biaya harus dipikul sendiri, cuma 19 yang turut". Peserta sebagian besar dari organisasi wanita dan para modiste.

Nyonya Halimah Ali kiranya perlu menekankan berkali-kali bahwa pameran pakaian ini "bukan untuk mencari Ratu, tapi hanya mencari pemuncak". Tapi apa sih arti pemuncak? Konon sama jugalah dengan ratu. Hermintaty, salah seorang peragawati, bahkan menyatakan lebih senang dipanggil ratu daripada pemuncak meskipun antara kedua kata konon ada berbeda dalam hal "asosiasi". Sudah tentu keinginan Hermintaty lumrah. Dalam kontes batik yang diikuti sekian puluh peragawati di Jakarta misalnya, Rima Melati juga disebut Ratu Batik, atau lebih kerennya: Queen of Batik.

Di Aceh sudah tentu orang tak usah berharap bisa bertemu dengan model "pakaian" kulit kelapa seperti rekaan Andi Nurhayati itu, ataupun model tanpa kutang. Apa yang keluar sebagai pakaian malam di sini ini--yang sebagian besar memakai bahan batik atau kain lain yang gemerlapan adalah model yang cukup tertutup di depan, di punggung maupun bagian tangan. Potongan baju begitu sopan, walaupun satu dua peragawati sudah ada yang berani melirikkan matanya yang kenes, di samping yang malu-malupun tak kurang.

Bukan orangnya. Nanny Farida Daud, dengan pakaian malam yang bernama Putri Malu serta pakaian nasional telah keluar sebagai pemuncak. Mungkin hanya secara kebetulan, baju yang dimenangkan Nanny hasil rancangan nyonya Halimah Ali Bakri sendiri. Bahannya? "Dalam negeri. Jaitu songket Priangan dan tenun Bali". Selain itu untuk lebih ramainya acara, pelelanganpun diadakan. Bukan orangnya-- tapi baju yang melekat di tubuh Nanny Farida. Dilelang pada malam sebelum Tien Soeharto tiba di Banda Aceh, itu baju laku Rp 70.000. Titik berat rupanya pakaian malam itulah biarpun para juri yang diketuai Nyonya Marzuki Njakman mengumumkan pula pemuncak pakaian model lainnya.

Ada pula ditambah kisah: pameran pakaian ini telah mendapat hati chalajak Aceh. Halimah Ali menyatakan agar daya kreatif merancang pakaian lebih banyak timbul di masa depan. Lebih dari itu, beberapa muda-mudi menginginkan agar pameran diadakan lebih dari sekali setahun. Susiana Edin malahan mengharapkan agar kursus keperagawatian segera dibuka di kotanya. Kata Susiana pula: "Saya tidak melihat perbedaan pakaian gadis-gadis Jakarta dan Aceh". Walaupun perkiraan Susiana ini mungkin meleset, tapi itulah juara anak muda. Peserta lain mengatakan: rintangan atau cemoohan tidak ditemukan, sebelum atau sesudah bersantai-santai di atas panggung. Kekhawatiran lenyap. Biar begitu kepada TEMPO berkali-kali Halimah Ali Bakri menekankan: pameran pakaian ini bukan jalan menuju pemilihan ratu-ratu kecantikan. memang, ini pameran pertama. Yang berikutnya?

 

WANITA-WANITA ACEH


PUTRI-PUTRI ACEH DI LUAR DAERAHNYA BANYAK DISEBUT ORANG. MISALNYA. EARLY BRHAN ALI YANG JADI RATU JAKARTA. KINI ADA MEUTIA RACHMANY AGUS HUSSEIN, PUTRI DIPLOMAT, DAPAT IJAZAH KECANTIKAN DI LIBANON. RU PT ED 32/02 TA 721014 HA 26 SU HUSSEIN, MEUTIA RACHMANY AGUS SS AHLI KECANTIKAN


SEMENTARA rekan-rekannya yang masih jadi penghuni Serambi Mekah tidak razim bergerak banyak, puteri-puteri Aceh di luar daerah kiranya lebih banyak disebut orang. Early Burhan Ali walaupun belum pernah menginjak Aceh - telah jadi Ratu Jakarta. Kini ada lagi Meutia Rachman Agus Hussein. Pandai membawakan bukan tari Seudati Inong melainkan tari Bali. Rachmany selama mengikuti ayahnya seorang pejabat Deplu, selalu menarikan tari daerah itu bila ada kesempatan.

Kini dia di Damaskus. Fotonya mulai dimuat di beberapa majalah Arab karena dia mendapat ijazah dari P & K nya pemerintah Lebanon. Keaktifan Rachmany bukan melulu soal mengaji. Kini dia menggondol ijazah kecantikan pula. Katanya: "Tidak semua alat kecantikan dari luar negeri cocok untuk iklim Indonesia. Insya Allah, saya akan buka salon nanti setibanya di tanah air".

 

SETELAH SAS-SUS


UNTUNGLAH kejadian model IAIN Yogya tak terulang lagi. Bulan lalu IAIN Jami'ah Arraniri di Banda Aceh telah mengganti pimpinannya, dari Rektor Drs H. lsmuha ke Pejabat Rektor Ahmad Daudy MA. "Suasana di sini cukup aman", demikian dilaporkan Drs Baihaqi AK, Ketua Panitia Upacara Pelantikan, kepada rombongan Departemen Agama yang mentahbiskan Pejabat Rektor.

Namun demikian bukan tak ada sassus yang mendahului suasana tenteram begitu. Dan entah apa sebabnya, Departemen Agama sendiri merahasiakan siapa siapa yang akan dilantik sebagai Pejabat Rektor dan para Pejabat Pembantu Rektor. Baru ketahuan beberapa jam sebelum acara, sehingga konon ada juga yang jadi kikuk, kaget karena tak mengira akan dilantik - pakaian resmi yang tak lain stelan jas tentulah belum pula di siapkan.

Akta. Sebetulnya Senat Gurubesar dilingkungan Darussalam itu -- yakni kampus di mana antara lain IAIN berada - sudah pernah mengadakan pemilihan calon Rektor serta Pembantu-Pembantunya. Pada rapat bulan Agustus yang lalu seorang calon terpilih dengan 14 suara di tangan - sedang yang lain hanya memperoleh satu suara. Tapi entah mengapa hasil itu tak kunjung diwujudkan. Ada yang menghubungkan hal ini dengan perkiraan, bahwa telah terjadi main mata antara orang yang berpengaruh di IAIN dengan Akta MA, Kepala Perwakilan Departemen Agama Daerah Istimewa Aceh. Ada pula yang mentautkannya dengan suatu ketika sebelum Ibrahim Husin MA. tokoh IAIN Aceh berangkat ke Kanada dimana di sas-sus kan bahwa orang ini telah banyak omong-omong dengan Menteri tentang siapa pengganti Ismuha. Adapun Ismuha sendiri rupanya memang tak berniat lagi meneruskan karir Rektor-nya. Entah lain dengan yang di hati, tapi ia jelas pernah mengatakan: "Saya sudah memegang jabatan ini selama hampir sewindu. Sekarang saya mau istirahat". Sebelumnya, begitulah dikabarkan, diduga ada juga orang yang menasihatinya supaya mengundurkan diri saja. Karena toh tidak akan bisa terpilih kembali.

Maka sas-sus yang memang bisa menimbulkan pertanyaan itu ditambah kellangan kepada peristiwa IAIN Sunan Kalijaga Yogya yang lalu, telah membuat panitia pelantikan di Banda Aceh berwaspada - sebelum akhirnya merasa aman. Dan disitulah kemudian H. Anton Timur Djaelani MA atas nanta Menten Agama menunaikan tugas pelantikan berdasarkan SK Menteri No.B III/3-b/5092. Tak jelas bagaimana nasib keputusan rapat Senat Gurubesar bulan Agustus itu. Yang jelas, selamatlah orang-orang tunjukan Menteri dan selamat tinggal--setidak-tidaknya untuk sementara tata-cara pemilihan Rektor yang konstitusionil.

 

SUKO SI PENANTANG


SUKO BINARTO BERSAMA KAWAN-KAWANNYA BERHASIL MEMBUAT DAM DI SUNGAI KRUENG PASE, ACEH UTARA. PADAHAL PROYEK ITU PERNAH DITANGANI OLEH SEJUMLAH INSINYUR DENGAN BIAYA BANYAK TAPI GAGAL. RU DH ED 31/02 TA 721007 HA 19 SU ACEH UTARA ; BENDUNGAN KRUENG PASE SS KONDISI BENDUNGAN KRUENG PAS ; ACEH UTARA (DI)


SEJAK tahun 1935, sudah 6 kali proyek pengairan Krueng Pase gagal. Sungai itu terletak di daerah Lho' Seumawe, Aceh Utara. Lebar dan dalam rata-ratanya adalah 60 meter dan 1« meter, dan areal tanah sawah yang bakal direndamnya tidak kurang dari 3.000 hektar. Memang di zaman Belanda dam jang dibuat di sana masih sempat mempersubur tanah, tetapi semenjak penutup pintu airnya tertimbun tanah ia tidak berguna lagi, sementara dam induk tidak lebih dari batu yang teronggok di tengah-tengah sungai. Perbaikan dengan membuat bendungan darurat melalui timbunan karang dan pancang di tahun 1952, tidak lama dijebol arus air yang deras itu. Ini disusul dengan turun tangannya berbagai insinyur selama tahun-tahun 1968 sampai 1970, hasilnya juga hampa, walaupun "biayanya sudah hampir mencapai Rp 1 milyard" seperti dikatakan H. Cani Hasan, bupati Aceh Utara.

Sampai muncul seorang bernama Suho. Pangkatnya dalam kesatuan Ziron II/Korem Oll Lilawangsa adalah kapten dan nama lengkapnya Sukobinarto. Ia bukan insinyur, cuma pernah mendapat pendidikan zeni bangunan di Bogor. Suko risau juga mula-mula, kenapa bendungan itu tidak pernah berhasil di bangun. Maka konon suatu kali Suko teringat pada petuah orang tuanya almarhum. Isi fatwa: air akan selalu bersifat lebih jinak dan surut di malam hari. Dan dengan tekat bahwa dia sanggup menantang arus sungai Krueng Pase. Suko menyatakan kesanggupannya untuk membuat dam kepada Komandan Korem, Kolonel Abdullah Hanafiah. "Dia bersumpah dan mempertaruhkan segala yang ada pada dirinya" cerita Kolonel Hanafiah tentang tekat anak buahnya yang masih mudah itu sambil nenambahkan: "Yang dimintanya hanya restu dari saya". Tantangan Suko di terima meskipun ketika dikemukakan kepada PU propinsi masih ada yang meragukannya.

56 hari. Dengan beberapa orang pekerja, berikut Lettu Rudy Rumangit dari Zeni pula--dan Yusuf Rambe, dari PU propinsi Aceh, Suko bekerja bulan Nopember 1971. "Alat-alatnya terdiri dari traktor tua 4 buah, disewa dari proyek gula Tjot Girek" Abdullah Hanafiah meneruskan ceritanya. Dan hanya dalam waktu 56 hari dam penutup dapat dibendung. "Tetapi yang paling berat adalah pada saat-saat terakhir" kata Rumangit. Sebab, selama 2« jam dan tepat tengah malam segala tenaga dan alat harus dikerahkan untuk membendung bagian tengah-tengah yang paling deras walaupun sempit. Beberapa hari sebelum malam yang menentukan itu, Suko dan kawan-kawannya telah mendengar kembali suara-suara dan penduduk sekitar sana: sungai ini tak mungkin dibendung sebelum menyerahkan kepala manusia. Tetapi pada saat itu juga Suko menjawab: "Memang saya akan menyerahkan kepala saya."

Dan Sukobinarto bersama kawan-kawannya berhasil. Jam 1 malam tanggal 1 Desember tahun itu seluruh sungai telah terbendung. Memang Suko mengejar waktu secepat mungkin, karena dia harus buru-buru menerima tugas untuk disekolahkan kembali di Bogor. Dan ketika selesai, yang paling dulu menarik nafas lega adalah Komandan Korem. "Sebab kalau tidak berhasil, seluruh warga Korem akan sangat malu pada rakyat" kata Kolonel Hanafiah. Dan bagaimana Suko selanjutnya? Kapten yang telah berhasil menantang arus Krueng Pase itu telah menolak hadiah uang yang diberikan kepadanya. Dia juga dengan jujur tidak mau namanya diabadikan sebagai nama bendungan. Tetapi yang paling menyenangkan hatinya bukan semata-mata karena tidak lama setelah itu pangkatnya dinaikkan jadi mayor, tetapi secarik kertas penghargaan dari Kodam I/Iskandar Muda.

Malaysia & Jepang. Sepeninggal Suko melanjut sekolah, kawan-kawannya masih harus mengerjakan saluran-saluran air menuju ke persawahan di 6« kecamatan Aceh Utara. Dan untuk itu, petani di beberapa kecamatan telah menanam padi PB 8 dan C 4 sejak April lalu. Tetapi sementara itu--di luar proyek bendungan Suko -- sebuah pintu air dari anak-dam sedang terancam jebol karena tanahnya dilongsorkan banjir. Kepada koresponden Zakaria M.Passe, seorang penduduk di sana menceritakan bahwa di kawasan sana penebangan kayu besar-besaran dari pengusaha-pengusaha Malaysia dan Jepang sedang mempersiapkan bahaya banjir besar. Tetapi mungkin karena merasa malu dengan hasil yang dibuahkan Suko, PU Propinsi Aceh sekarang sedang bersiap-siap untuk membenahi pintu air itu, sebelum hanyut sama sekali di musim penghujan nanti.

 

AYAHNYA AHLI ISLAM


PENYANYI IVO NILAKRESHNA BERNAMA ASLI CUT FAUZIAH HANUM. IA ANAK TEUKU USMAN EL MUHAMMADY PENGARANG BUKU ISLAMOLOGI DARI ACEH. IVO KINI NYANYI DI KLUB MALAM. AYAHNYA PERNAH DIAJAKNYA KE SANA. RU PT ED 33/02 TA 721021 HA 21 SU ARTIS ; NILAKRESHNA, IVO SS IVO NILAKRESHNA ; PENYANYI


YANG terkenal dari Aceh - selain Cut (baca: Tjut) Nya' Dhien bukan cuma Cut Zahara Fonna, ibu "bayi ajaib" yang sudah menipu banyak orang. Tapi juga Cut Fauziah Hanum. Dia ini puteri Teuku Usman el Muhammady, pengarang buku Islamologi. Belum kenal juga? Yah, namanya yang lebih banyak dipakai ialah Ivo Nilakrisna, penyanyi yang semenjak dua tahun ini tetap muncul di klab malam El Ci Ci (baca: El Si Si). Sang penyanyi baru punya anak laki pertama dari suami yang ketiga, yang diberi kenduri akhir September yang lalu.

Bagaimana seorang anak perempuan dari penulis Islam asal Aceh bisa terlibat dengan klab malam? Ivo dilahirkan dan dibesarkan di Medan, menurut ceritanya, dalam lingkungan yang "tak begitu kolot lagi". Sekali waktu untuk membuktikan bahwa di klab malam tidak ada apa-apa yang keliwatan, Ivo pernah mengajak ayahnya "meninjau" ke sana. Tidak diceritakan adakah waktu itu pertunjukan strip-tease atau lain-lain yang -"keliwatan". Tentunya sedang tidak ada, bukan?

 

KEMBALI KE "KUTARAJA"


IBU KOTA ACEH SECARA RESMI SEJAK TH 1963 BERNAMA BANDA ACEH. TAPI AKHIR-AKHIR INI ADA KECENDERUNGAN MASYARAKAT UNTUK KEMBALI MENGGUNAKAN NAMA YANG LAMA, KUTARAJA. SIKAP PEMERINTAH JUGA TAK JELAS. RU KT ED 44/01 TA 720108 HA 24 SU BANDA ACEH SS PERUBAHAN NAMA


MESKIPUN sedjak tahun 1963 ibukota Atjeh setjara resmi bernama Banda Atjeh, tapi achir-achir ini dalam masjarakat disana terlihat gerakan menggunakan namanja jang lama: Kutaradja. Gerakan "kembali ke Kutaradja" ini tidak hanja kian biasa dalam pertjakapan sehari-hari, tapi djuga diikuti oleh suratkabar lokal Angkatan Bersendjata, Api Pantjasila dan Swadaya. Konsekwensi finansiil jang merupakan buntut penukaran nama setjara sukarela tapi sangat bersemangat ini, rupanja tidak dihiraukan sama sekali oleh mereka jang gandrung Kutaradja. Begitu gandrungnja, hingga kalah dikatakan telah terdjadi kekatjauan pemakaian dua nama sekaligus untuk tempat jang sama, agaknja tidak dilebih-lebihkan.

Malangnja orang tidak dapat berbuat banjak, bahkan pemerintah daerah djuga tidak. Ini hampir sama dengan apa jang terdjadi di Makassar. Surat Keputusan Presiden jang menopang penggantian nama Makassar mendjadi Udjung Pandang ternjata tidak bisa membuat rakjat lebih tjepat menjesuaikan diri. Selera dan kesenangan umum tjondong kepada nama Makassar, dan sambil berolok-olok salah seorang warga kota itu dengan mudah mengatakan bahwa dalam tempo 1-2 tahun nama Makassar akan digunakan kembali setjara resmi. Sanksi apa jang bisa ditawarkan oleh sebuah SK Presiden terhadap hal-hal seperti ini? Tak satupun. Begitu pula peresmian nama Banda Atjeh jang hanja didukung oleh musjawarah dan hikmah beberapa pemuka masa itu. Rapuhnja hasil musjawarah terbukti dari kenjataan bahwa walaupun nama Banda Atjeh sudah dipakai selama 8 tahun, tapi orang belum melupakan nama Kutaradja, malah memakainja kembali setjara sangat menjolok.

Nanti. Tapi mengapa baru sekarang mereka tolak nama Banda Atjeh, dan mengapa dulu diam-diam sadja menerima nama baru itu? Adakah dulu paksaan mengganti nama? Dan sekarang, karena tidak ada sikap tegas pemerintah daerah, dapatkah diartikan pihak penguasa setjara diam-diam merestui penggantian nama itu? Gubernur Atjeh Muzakir Wallad, setjara hati-hati menjatakan bahwa baik dalam surat-surat resmi maupun dalam kegiatan-kegiatan lainnja, pemerintah daerah Atjeh masih tetap menggunakan nama Banda Atjeh. Dari keterangannja dapat disimpulkan bahwa iapun menanggapi masalah ini setjara serius. Ia bahkan perlu menanjakan kebidjaksanaan Pusat hanja mengenai hal jang satu itu. Dan Menteri Amirmachmud jang ditanjai dengan sangat tenang mendjawab: "Nanti sadja dibitjarakan. Pada saat ini masih banjak pekerdjaan lain jang harus diselesaikan".

Menteri Amirmachmud tahu menentukan prioritas. Tapi sudah pasti kekatjauan pemakaian nama akan djalan terus, disaksikan seluruh Atjeh, termasuk kedalamnja Ali Hasjmy, bekas Gubernur Atjeh jang punja gagasan mengganti nama Kutaradja mendjadi Banda Atjeh dan berhasil pula melaksanakannja. Bekas Kepala Daerah jang djuga adalah penjair dan pengarang angkatan Pudjangga Baru ini, sekarang dekan Fakultas Dakwah Publisistik IAIN Djamiah Ar Raniry, kembali mengulang pendapatnja bahwa nama Kutaradja adalah "pemberian kolonial Belanda jang ingin memetjah-belah rakjat Atjeh dan memupuk feodalisme". Hasjmy djuga dengan lantjar menjatakan bahwa ibu-negeri Atjeh sebelumnja memang bernama Banda Atjeh, konon merupakan bandar perdagangan untuk seluruh Atjeh masa itu. Tetika ditanjakan tanggapannja tentang gerakan kembali ke Kutaradja, Hasjmy dengan singkat berkata: "Memang ada orang-orang jang tidak senang dengan nama Banda Atjeh itu". Dan ia kelihatannja tidak bersemangat lagi untuk mengungkit-ungkit masalah nama Kutaradja.

Lalu bagaimana djadinja: Sala atau Surakarta, Makassar atau Udjung Pandang, Banda Atjeh atau Kutaradja? Barangkali diperlukan musjawarah seperti dulu-dulu lagi, sekiranja untuk seluruh penduduk kota memang dirasa perlu mentaati satu tjuma sadja untuk kota mereka.

 

ZINA & POLISI


TIM KOMISI III DPR DALAM KUNJUNGANNYA KE ACEH DAN SUMATERA UTARA MELAPORKAN: ANCAMAN HUKUMAN TERHADAP PERKARA PERZINAHAN TERLALU RINGAN. POLISI TURUT CAMPUR DALAM MASALAH-MASALAH PERDATA & DIUBAH SEBAGAI PIDANA. RU HK ED 13/02 TA 720603 HA 33 SU DEWAN PERWAKILAN RAKYAT SS KUNJUNGAN


LAIN padang lain belalang, lain lubuk lain ikan - kata pengandaian lama. Begitulah team Komisi III DPR jang baru mengundjungi daerah Atjeh dan Sumatera Utara, belum lama melapor kan keadaan lubuk dan padang-padang jang lain--setidak-tidaknja"lain" menurut orang jang ada dikota besar matjam jakarta. Misalnja di Atjeh, Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, demikian team jang dipimpin oleh RO Tambunan SH tersebut, masjarakat merasakan bahwa antjaman hukuman terhadap perkara perzinaan adalah terlalu ringan. Menurut kesadaran hukum masjarakat di Aceh, setiap hubungan kelamin antara lelaki dan perempuan jang bukan dalam status suami isteri sah, bagaimanapun, adalah perzinaan. Djadi harus diusut dan dituntut tidak soal ada jang memadukan atau tidak, mutlak disjaratkan oleh bunji ketentuan fasal 284 KUHP.

Dan meskipun pengaduan lebih dari itu memang kalau dikadji KUHP jang hanja mengantjam 9 bulan bagi pelaku delik ini, maka pengaduan kepada djaksa atau polisi itupun masih boleh ditarik, asalkan belum sampai kemuka hakim. Disini memang djelas bahwa negara, mengklasifisir kemaksiatan ini sebagai tindakan pidana--artinja jang bersangkutan dengan kepentingan/ketertiban umum. Tapi pada achirnja toch soalnja dipulangkan kepada masing-masing fihak, dalam hal ini suami dari isteri jang berzina atau isteri dari suami jang berzina. Sedangkan dari mereka jang melakukan zina tentu tak akan ada pengaduan, karena dalam fasal ini sebagai sjarat adalah adanja sifat suka-samasuka. Sementara kalau mengkadji adjaran Islam hal ini djelas bertentangan dengan fiqih, jakni perumusan manusia tentang hukum Tuhan. Djadi biar mau sama-mau, biar tak ada jang malu, hukum Tuhan sudah diberi malu --dan karenanja harus diradjam Kapolri. Adapun didaerah sematjam Tapanuli Utara dan Tengah, team mengesankan adanja pengaruh jang kuat dari agama Kristen dan Adat Batak. Selain soal zina, jang lainnja adalah soal peranan polisi. Bagaimana sebetulnja? Team melihat bahwa didaerah Kabu paten Simalungun, bahkan-diibukotanja jang bernama Pematang Siantar, nampak polisi turut tjampur dalam masalah masalah perdata. Polisi Kabupaten Si malungun, tanpa maksud untuk meng ingkari larangan Kapolri untuk menangani urusan perdata, terpaksa melajaninja djuga, terutama dimana peran Peng hulu--Pemangku Adat kurang terasa. Dan ini karena gara-gara sang polisi, tapi memang rakjat disana jang meminta demikian. Lagipula orang-orang jang djauh dari kota, tahunja hanja pada polisi sadja: Lain tempat mengadu, merupakan barang baru bagi mereka. Belum lagi dikadji proses pengadilan perdata jang berdjalan lama. Djadi Polisi jang abdi rakjat itu, betul-betul memberikan servislah kepada rakjat. Dan ada pula alasan lain: untuk mentjegah adanja tindakan liar dari "fihak-fihak lain"

Tapi untunglah, seperti laporan team, dalam menghadapi hal-hal jang berbeda dengan Djakarta, fihak Kepolisian Simalungun berkonsultasi dulu dengan fihak Kedjaksaan. Sehingga status perkara di ubah mendjadi pidana, serta diputus oleh hakim sebagai perkara pidana pula.

 

PILIHAN SEDA


BAPPENAS KURANG SETUJU, TAPI 8 BUAH LOKOMOTIF DIESEL TETAP DISERAHKAN DI LANGSA, ACEH. PERJALANAN PERDANA DITUMPANGI SUMPONO BAYUAJI & IR. SUMALI. REL & BANTALAN YANG TUA MENGHAMBAT LAJU LOKO TERSEBUT. RU EB ED 06/02 TA 720415 HA 50 SU KERETA API SS ACEH (DI)


BAGI Frans Seda, sarana kereta api tampaknja tidak ingin dianak-tirikan. Meskipun dalam buku Pelita djelas di sebut "belum dirasa perlu untuk mengadakan perluasan djaringan-djaringan kereta api, bahkan djika dipandang perlu beberapa trajek jang tidak penting dan tidak menguntungkan akan ditutup, apabila terdapat media angkutan lain jang sudah melajaninja", tak urung 8 buah lokomotip diesel telah diserahkan di Langsa, Atjeh awal bulan ini. Bappenas sendiri kabarnja tidak begitu bersetudju untuk memodernisir sarana angkutan kereta-api didaerah kelapa sawit itu. Soalnja masih mendjadi tanda tanja adakah investasi loko-loko diesel itu jang menelan 1« djuta Gulden tidak akan terbenam tua di Atjeh. Tapi Menteri Perhubungan Frans Seda tampaknja punja alasan-alasan jang bukan berdasarkan soal ganti rugi laba tok, namun lebih bersifat non-ekonomis. Konon pertimbangan Seda adalah sebagai imbalan untuk daerah Atjeh jang berdjasa untuk kemerdekaan.

Petjut Bajuadji. Pertimbangan demikian agak diragukan bakal berhasil menghidupkan sarana perkereta-apian, mengingat persis disamping djeludjur djaringan K.A. tua jang menghubungkan Langsa ke Medan itu meluntjur djalan raja jang litjin. Dan saingan jang muntjul dari angkutan djalan raja itu memang sudah lama terdjadi. Lebih-lebih ketika Pertamina sibuk mengurusi bidang PUTL dengan memperbaiki total djaringan-djaringan djalan raja untuk memperlantjar aliran minjaknja.

Sudah barang tentu penumpang merasa lebih njaman untuk duduk diatas kursi djok bis daripada teregol-egol di kursi-kursi kereta jang terbuat dari kaju. Demikian pula kalau ditindjau dari segi ketjepatan, maka gerak siput kereta-api paling banjak terdjadi di Atjeh. Dan ketika perdjalanan perdana jang ditumpangi Dirdjen Perhubungan Darat Sumpono Bajuadji dan Direktur Utama PNKA Ir Sumali mentjitjipi lok diesel baru itu, kontan terasa ketimpangan jang menjolok. Ketjepatan loko mini tersebut tidak bisa melebihi 25 kilometer per djam, karena rel dan bantalan jang ada merupakan warisan lama. "Kalau tidak bisa lebih tjepat, mesin akan keliwat panas, dan achirnja rusak", kata Sumali. Insinjur jang kurus dan setengah beruban itu tampak kuatir kalau loko diesel itu akan berumur pendek. Ramalan Sumali mungkin sekali terdjadi. Apalagi penduduk Atjeh jang hanja berdjumlah 2 djuta dengan daerah seluas Djawa Barat, sulit diharapkan akan sanggup menarik penumpang. Sanggupkah Dirdjen Bajuadji memetjat kepala eksploitasi PNKA Atjeh untuk meningkatkan penghasilan mendjadi Rp 5 djuta sebulan? Entahlah. Tapi sebelum 8 lokomotip diesel mini itu dipasang, konon jan berhasil dikumpulkan tidak melebih Rp 2 djuta sebulan.

 

MENGAKTIFKAN LOK TUA


ANGGOTA PERKUMPULAN PENGAGUM KERETA API AUSTRALIA, DATANG KE AMBARAWA. MEREKA MENIKMATI KERETA API TUA YANG DIMILIKI PNKA. MELIHAT HAL INI, PNKA OPTIMISTIS MEMBUKA TRAYEK KHUSUS BAGI PARIWISATA. RU PWS ED 27/02 TA 720909 HA 23 SU ANGKUTAN KERETA API ; PERUSAHAAN JAWATAN KERETA API SS KERETA API TUA PNKA ; KERETA API TUA


WALAUPUN orang Australia lebih maju dari orang Ambarawa, namun yang disebut pertama itu masih terheran zeran melihat kereta api didaerah Jawa tengah itu pertengahan Agustus ini. Padahal penduduk setempat sudah mengaguminya 70 tahun yang lampau. Tapi masih untunglah rombongan dari mancanegara ini tidak dianggap udik karena mereka adalah anggota-anggota dari Association of Railway Enthusiasts, suatu perkumpulan pengagum kereta api di negeri kangguru. Dan kekaguman mereka tidak diucapkan dengan kata makian "trembelane" seperti waktu mudanya kakek dan nenek di sana dulu melainkan dengan menjepret jepretkan aiat pemotretnya. Malahalat-alat perekampun dipasang nntuk mengabadikan suara kleneng-kleneng lonceng dan ngos-ngosannya hidung lok yang tak parau-paraunya sejak tahun 1902. Kagumlah mereka melihat bagaimana sang kakek ini menghela-hela gerbongnya di daerah lereng gunung antara Bedono dan Ambarawa itu. Sambil sekali-sekali membaca buku petunjuk yang dibekali untuk lebih mengenal lok-lok di stasion-stasion antara dua kota itu, J.P. Kerr, insinyur bangunan dari Selandia Baru menggeleng-geleng juga melihat bagaimana sayangnya sang masinis Jawa merawat, barang antik ini. Sampai-sampai cerobong yang mengepulkan asap hitam diseka sampai mengkilap. Rupanya peristiwa ini termasuk kebahagiaan yang terahir pula bagi turis-turis yang sudah agak berusia itu.

Apa lagi karena mereka sudah mafhum duduk perkaranya. Biarpun sudah diusut-usut ceritanya tak seduka "saudara-saudara"nya di Aceh, kereta Ambarawa ini punya kisah yang unik pula. Jasanyapun sudah cukup banyak. Terutama dalam mengangkut pembesar-pembesar Belanda dulu serta serdadu-serdadunya ke Jogya atau kearah lain. Dan rakyat setempatpun tak sanggup membalas jasa kereta keluaran Esselingen ini. Rodanya diberi gigi karena menjelajahi lereng gunung Merbabu dan relnya diberi jalur berlobang untuk ditancapi gigi tadi. Dengan ini, seperti halnya kereta api di Minangkabau, tenaganya untuk mendorong dan menghela gerbong bertambah. Namun disamping segala yang istimewa ini nasib telah mendorongnya kegarasi. Bukan karena pejabat PNKA menganggapnya telah lojo tapi alat angkutan lain yang berlari sepanjang jalan raya sejajar dengan relnya lebih disenangi penduduk. Penumpang dan barangpun kini naik truk dan mobil-mobil. Dan tamatlah riwayat besi tua ini. Tinggal hanya trajek Ambarawa-Kedungjati dan dua buah lagi yang melayani Magelang-Jogya yang masih mundar-mandir.

Yang kemarin jalan di Ambarawa itu adalah berkat datangnya turis-turis tersebut, Karena mereka ingin menikmati yang aneh ini lok itupun dikeluarkan dari tempatnya. Kunjungan tersebut rupanya merobah nasib sang kereta. Karena setelah melihat gelagat 40 pelancong Australia itu, Kepala Bagian Lalulintas Inspeksi PNKA Jawa Tengah Sri Wiranto mengatakan kepada TEMPO: "Ini menimbulkan optimisme untuk PNKA membuat trajek husus bagi pariwisata". Gagasannya adalah suatu package tour bagi pelancong yang bertamasya dengan kereta api dari Solo Jogya dan Megelang, ke Ambarawa melalui Secang dan Gemawang. Dari Ambarawa mereka dapat, menikmati keindahan alam ditepi Rawa Pening menuju Tuntang dekat Salatiga. Tour ini dapat dilengkapi dengan berhenti sehari di Bandungan tempatnya berteduh menghabiskan masa tua. Ia disewa untuk perjalanan antara stasion Bedono dan Ambarawa, yang jaraknya hanya 10 kilometer dari Wisma PNKA. Maksudnya mereka dapat menginap di sana dengan servis lengkap makan-minum.

 

KUMPUL DI BEDUGUL


PERTEMUAN PRAMUKA PERPANITRA II DIADAKAN DI BEDUGUL. PESERTA NEGARA LAIN JUGA ADA. MODEL KEPRAMUKAAN KITA JADI CONTOH ORGANISASI SERUPA DI LUAR NEGERI. BIAYANYA DIPERKIRAKAN SEBESAR RP 9 JUTA. RU NAS ED 26/02 TA 720902 HA 05 SU PRAMUKA SS PERPANITRA II


KALAU malam dingin bukan main. Sampai 120oC. Tapi kalau siang panas dan berdebu. Itulah tempat perkemahan 2.197 pramuka yang tergolong Penegak dan Pandeka (16 - 25 tahun) di tepi danau Beratan, Bedugul, Bali. Diatas tanah seluas 27 ha - 24 ha kebun kobis yang harus disewa Rp 40.000 setiap hanya - pramuka-pramuka yang berdatangan dari 197 kwartir cabang seluruh Indonesia itu berkemah 10 hari diminggu kedua Agustus. Selama itu mereka berlatih (bukan berlomba), dan dari sekian banyak acara terselip juga pawai pakaian daerah.

Memang, kebolehan pramuka sekarang yang konon jumlahnya 10 juta (di Jepang hanya setengah juta) konon berbeda dengan pandu tempo dulu. Hal ini tampak dalam Perpanitra II, (Pertemuan Penegak/Pandeka Putra/Putri) di Bedugul. Bahwa pramuka yang sekarang bukan pandu-nya Boden Powell yang dulu, "ini yang sedang kami pelajari", kata seorang pramuka dari Malaysia. "Di negeri kami sedang dicari bentuk untuk tidak terlalu berkiblat ke London". Benar atau tidak, kabarnya bentuk, kepramukaan Indonesia tengah menjadi contoh beberapa badan kepanduan di luar negeri. Sebab pramuka Indonesia tidak melulu menghususkan diri pada latihan tali-temali dan morse, tapi juga belajar beternak ayam atau membuat bendungan mini. Bahkan pramuka Indonesia punya pabrik rokok Gold Bond - berkongsi dengan pabrik rokok Gallaher, London. "Ini hanya untuk fundraising", kata nyonya Aziz Saleh yang juga duduk di pucuk pimpinan Pramuka. "Karena biarpun kami berada di bawah Dirjen Kepemudaan dan Olahraga, bantuan tetap tidak diterima". Hal ini beda misalnya dengan kepanduan yang ada di Malaysia, yang diberi biaya tetap dari anggaran Kementerian Pemuda dan Sukan.

Disamping itu banyak hal-hal sama yang dilakukan pandu-pandu jaman sekarang. Misalnya seorang tamu yang memakai tanda China di dadanya berkata: "Kami di Taiwan juga tidak lagi memasak dengan kayu. Tapi dengan kompor". Dan di Bedugul bukan saja kompor. Di tiap kemah bahkan ada radio karena pemancar Perpanitra juga didirikan. Sehingga berdengunglah suara-suara Cliff Richard atau Kus Plus untuk acara pilihan pendengar.

Patpinder. Meski begitu, agaknya majunya pramuka baru dalam jumlah saja. Karena kini banyak pramuka yang minum coca cola di pinggir jalan atau, yang naik mobil -- pemandangan yang tidak terdapat 15 tahun yang lalu. Diakui oleh nyonya Tien Soeharto, Ketua Kwarnas II: "Soalnya kini ialah kurangnya pembinaan". Mungkin karena hal inilah, dalam waktu dekat para bupati akan dijadikan Ketua Cabang dan para lurah jadi gugus depan pramuka dengan status sukarela.

Tidak pula mengejutkan bahwa perkemahan yang mendatangkan pramuka-pramuka seluruh Indonesia (konon kecuali Aceh yang sedang sibuk dengan Pekan Kebudayaan) lewat kapal terbang ini, bukan sedikit biayanya. Dari mana uang sebanyak itu? Dr. Halim, panitia, menjelaskan: Dana yang didapat dari Pemda Bali Rp 1 juta! P & K Rp 2 juta. Peserta (yang ditarik Rp 750 seorang) Rp 2« juta. Pertamina, yang jadi raksasa dalam sumbang menyumbang, Rp 15 juta. Dengan perhitungan bahwa jatah makan Rp 250 sehari per orang, menurut Halim biaya perkemahan yang menurut rencana akan habis Rp 9 juta baru habis Rp 6,9 juta. Itu perhitungan dua hari sebelum penutupan. Dan kalau sisa? Menjawab seorang panitia dengan cepat: "Kami masukkan kas kembali". Pramuka, pandu, patpinder atau apapun namanya memang disumpah untuk selalu jujur dan tepercaya. Disamping itu masih banyak kegiatan kepramukaan diwaktu mendatang. Setelah Perpanitra II di Bedugul, akan menyusul Jamborette Nasional di Cijantung, 20 km dari Jakarta.

 

ANTARA PANGAN DAN BANJIR


KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH DIBIDANG PENGAIRAN DIDASARKAN ATAS PENDUDUK & PANGAN. PROYEK IRIGASI DITUJUKAN PADA DAERAH KONSUMSI BERAT. UNTUK MENGAMANKAN DAERAH PENGAIRAN SUNGAI HUTAN SUPAYA DIPELIHARA. RU NAS ED 35/02 TA 721104 HA 06 SU IRIGASI SS PROGRAM PELITA I


BERSIAP-SIAPLAH, musim banjir telah datang datang. Ini agaknya diperingatkan Menteri PUT Sutami bukan semata untuk penduduk Ibukota, meskipun ucapannya disampaikan tepat pada saat Jakarta dicurah hujan pertama akhir minggu lalu setelah berbulan-bulan dipanggang kemarau. Karena, secara tidak langsung diceritakan masih cukup banyak urusan tentang cara-cara mengatur banjir yang belum diselesaikan seluruhnya. Untuk itu Menteri PUT mengingatkan bahwa kebijaksanaan pemerintah di bidang pengairan didasarkan;. pada masalah penduduk dan pangan: Tentang yang pertama, agaknya cukup jelas bahwa karena pertambahan penduduk yang pesat (antara 2 hingga 3 persen setahun) memerlukan persiapan makan yang makin meningkat. Dan untuk menambah hasil pangan, yaitu beras, muncullah urusan pengairan agar cukup dan dengan cara teratur.

Sehubungan dengan itu garis pokok kebijaksanaan pemerintah mengatur kedua perkara yang saling berhubungan itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan irigasi yang telah ada di samping membuat yang baru dan lalu mengamankan tempat-tempat produksi dari ancaman bencana banjir. Maka dalam Pelita I sekarang, dari direktorat jenderal pengairan telah disepakati menggarap daerah pengairan seluas ?50 ribu Ha yang erat hubungannya dengan pengamanan daerah produksi beras dari ancaman air bah.

Daerah yang dikembangkan. Penentuan tempat pembangunan proyek-proyek irigasi, khususnya ditujukan pada daerah-daerah "konsumsi beras". Yaitu Medan dan sekitarnya, Palembang dan sekitarnya termasuk Bangka-Belitung, Jakarta, Bandung, daerah Semarang, Yogyakarta-Surakarta, daerah Surabaya,Malang, Balikpapan dan sekitarnya. Di samping itu juga Nusa Tenggara Timur dan Maluku dua, daerah yang bukan karena penduduknya padat, tetapi karena kebutuhan beras sudah cukup tinggi narnun belum menghasilkan padi. Lalu daerah-daerah yang bakal dikembangkan menjadi daerah supply berada antaranya Aceh, Sumatera Barat, daerah hulu dan sekitar Palembang, Lampung, seluruh pulau Jawa, Bali, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

Dari jumlah tanah sawah seluas 7 juta Ha, sampai-sekarang yang telah memiliki irigasi baru melipnti 3.796.216 Ha. Dari jumlah ini yang telah mempunyai irigasi tehnis baru meliputi sekitar 1.704.134 Ha dan 60% di antaranya masih memerlukan perbaikan. Dan khusus untuk mengamankan daerah pengairan sungai dan sekaligus bemanfaat bagi persawahan serta menghindarkan banjir, maka Direktorat Jenderal Pengairan Departemen PUT telah meminta perhatian terutama kepada Pemerintah-Pemerintah Daerah untuk mencegah menebang hutan secara liar. Diminta juga agar hutan-hutan gundul ditanami kembali, memberi petunjuk cara-cara bercocok-tanam yang baik serta mengatur dan memanfaatkan kembali tanah-tanah miring dan gundul.

 

MENEBANG HUTAN KAPUR


SINGKIL DI ACEH SELATAN MENDAPAT UNTUNG DARI HASIL PENEBANGAN HUTAN YANG DIEKSPOR KE JEPANG. BURUH-BURUH DARI MALAYSIA DIDATANGKAN KE SINGKIL. INDUSTRI KAYU TAK BERKEMBANG DI SINGKIL. RU KT ED 12/02 TA 720527 HA 14 SU SINGKIL (ACEH SELATAN) SS PENEBANGAN HUTAN


SINGKIL letaknja terpentjil. Persinja dikabupaten Atjeh Selatan, di pantai barat dimana sungai Simpang Kanan dan Simpang Kiri bermuara. Tidak ada jang istimewa dapat dikatakan tentang kota terpentjil ini ketjuali bahwa sekarang ia sedang menumpuk uang. Atau lebih tepat dikatakan PT Singkil Timbel lah jang melakukan kerdja penting itu. Tapi perusahaan ini tidak sendiri. PT Hargas dan PT Gunung Raya djuga bergerak dibidang jang sama. Konon ketiga perumahaan pribumi itu sekarang sibuk menebang hutan disekitar Singkil, suatu mata pentjaharian baru untuk penduduk disana. Sebelumnja mereka hanja mengenal para pentjari kapur harus jang masuk kedalam hutan bukan untuk menebang, tapi untuk mentjari pohon-pohon jang bertjahaja. Tidak semua hutan kaju kapur dipedalaman Singkil terdiri dari pohon-pohon seperti itu, namun bila orang menemukannja berarti pula ia menemukan uang. Karena pohon jang bertjahaja itulah jang mengandung minjak dan kapur barus. Diabad-abad jang silam kapur barus merupakan salah satu hasil bumi jang ramai diperdagangkan dan sama halnja dengan rempah-rempah dari Maluku, ia memperoleh harga tinggi dipasaran Eropa. Malangnja nasib para pentjari profesional masa kini tidaklah menggembirakan. Terutama sedjak perusahaan penebangan hutan tersebut diatas mulai menundjukkan kegiatannja. Mereka terpaksa menjingkir. Atau terpaksa ikut terlibat dalam kegiatan itu. Umumnja sebagai pekerdja kasar, sebagal pengajuh rakit umpamanja jang menghilirkan rakit-rakit kaju dari pedalaman ke Singkil.

Djepang. Dalam pada itu Djepang jang mendjadi penampung utama dari ekspor kaju Singkil belakangan ini djuga menundjukkan sikap jang tidak meng gembirakan. Pada mulanja importir-importir Djepang itu tidak banjak tjerewet. Setiap pengiriman kaju kenegaranja tanpa banjak tjingtjong diterima. Tapi sekarang tidak semudah itu lagi. Sebagaimana lajaknja para pembeli, mereka mengadjukan beberapa sjarat Kaju-kaju jang berdiameter kurang dari 60 cm ditolak mereka. Djuga kaju-kaju jang bermata atau kaju-kaju puntir tidak akan dibeli. Apalagi kaju jang berlobang-lobang. Sudarmadji direktur PT Singkil Timber kelihatannja agak ketjewa dengan sikap Djepang itu tapi ia tidak dapat berbuat lain. Semestinja siapapun dapat menduga bahwa tjepat atau lambat masalah itu bisa timbul, bukan sadja karena ekspor kaju telah terdjadi setjara besar-besalan sedjak 5 tahun helakangan ini, tapi djuga karena tidak dibukanja bidang usaha lain sebagai pelengkap dari kegiatan penebangan kllju. Memang apa jang disebut industri kaju terlalu muskil untuk bisa ditjapai oleh modal pribumi jang ketjil. Tapi kalau untuk penebangan sadja mereka sanggup mengundang modal asing dan buruh asing (dua-duanja dari Malaysia) mengapa industrinja tidak sekalian diundang? Pertanjaan inilah jang sukar untuk didjawab bahkan tjukup sukar untuk didjawab oleh Team Penanaman Modal Asing sekalipun.

Sementara itu Indoconsult Associates jang membuat feasibility study tentang pelabuhan bebas Sabang telah mentjatat bahwa modal asing jang dinjatakan akan mengolah hutan di Atjeh mentjapai djumlah AS $ 4 djuta dan djenis usaha jang akan mereka garap terbatas hanja pada logging dan penggergadjian. Sebegitu djauh industri kaju djuga tidak disinggung-singgung. Dan ini tidak hanja terdjadi di Atjeh tapi djuga di Kalimantan dan Maluku dimana penebangan hutan dilaksanakan lebih intensif.

Disiplin. Kelihatannja pemerintah tidak hirau sangat dengan masalah industri itu seperti halnja mereka tidak atjuh terhadap buruh-buruh asing jang dimasukkan ke Indonesia dalam rangka Usaha penebangan hutan. Di Singkil hal seperti itu rupanja djuga tidak dapat dihindarkan. Dari penebang pohon sampai kepada supir truk dan traktor dipertjajakan kepada buruh-buruh Malaysia. Mereka didatangkan kepedalaman Singkil untuk kontrak selama satu tahun. Berapa gadji mereka tidak djelas, tapi dapat diduga tjukup besar. Selama masa kontrak mereka diberi hak tjuti. Bagi jang belum berkeluarga 6 bulan sekali dan jang telah berkeluarga 4 bulan sekali. Sjarat lain jang djuga menjenangkan adalah bahwa biaja perdjalanan tjuti ketempat tudjuan pulang pergi seluruhnja dibajar oleh perusahaan.

Mengapa tidak dipekerdjakan buruh-buruh Indonesia jang tersohor lebih murah? Konon karena mereka tidak mengenal disiplin. Seorang mandor jang bekerdja disalah satu perusahaan penebangan itu mengatakan bahwa umumnja buruh-buruh Indonesia selalu minta permisi pulang kalau sudah punja uang. Dengan alasan matjam-matjam. Saudara meninggal, adik menikah atau orangtua sakit. Dan kalau sudah diberi izin seminggu mereka biasanja baru kembali sesudah 2 minggu atau sebulan. Sikap mental seperti ini tentu sangat merugikan perusahaan jang bersangkutan. Dengan demikian penebangan hutan di Singkil tidaklah membuka lapangan kerdja baru bagi tenaga Indonesia disana. Konon djuga tidak berpengaruh banjak pada penggundulan hutan. Sudjatmo dari Dinas Kehutanan Singkil menjatakan bahwa penggundulan tidak akan terdjadi karena kaju-kaju kapur tidak ditebang setjara merata, tapi dengan sistim jang dinamakan selection cutting. Lagi pula kaju jang ditebang hanjalah kaju jang besar dan tua-tua sadja. Bagaimanapun alasan Sudjatmo itu masih harus dibuktikan. Dalam pada itu mendjadi pertanjaan apakah pemerintah daerah Atjeh akan memanfaatkan hutan-hutan jang telah dibuka dan mengolahnja mendjadi daerah baru. Siapa tahu dengan uluran tangan pemerintah dari Banda Atjeh, Singkil jang terpodjok diselatan dan lebih mudah ditjapai dari Sibolga jang terletak di Sumatera Utara, akan mendjadi lebih hidup dan semarak. Konon tidak ada satupun djalan darat jang menghubungkan Singkil dan kota-kota lain di Atjeh, dan konon djalan sematjam itulah jang diidam-idamkan rakjat disana.

 

MENGATUR REMAJA


UNTUK MENCEGAH AGAR PEMUDANYA TAK MEBUAT ONAR, WALIKOTA BINJAI, A. MANAN AHMAD MEMBANGUN SEBUAH GEDUNG OLAH RAGA. GEDUNG DENGAN BIAYA RP 29 JUTA ITU DAPAT UNTUK BERLATIH BERBAGAI JENIS OLAH RAGA & MUSIK. RU KT ED 30/02 TA 720930 HA 18 SU BINJAI SS PEMBANGUNAN GEDUNG OLAH RAGA


26 tahun yang lalu, penyair Amir Hamzah tertangkap dan dibunuh di sini. Tetapi tidak hanya itu; kota Binjai --22 km di sebelah utara Medan juga terkenal hampir keseluruh pelosok Sumatera Utara sebagai "kota rambutan". Dan sekarang, A.Manan Ahmad, walikotanya, sedang berbenah-benah, tidak melalui pelebaran jalan-jalan dalam kota sebagai banyak dilakukan di berbagai tempat. "Sebab kota saya belum membutuhkannya" kata Manan. Pertama tama yang diurusinya adalah anak-anak muda di kotanya agar tidak banyak membuat onar dan menyusahkan para orangtua, sekurang-kurangnya agar tingkah mereka sehari-hari cukup menyedapkan hati. Karena itu seteIah bersusahpayah mengumpulkan ongkos, akhimya Manan yang berpangkat letkol itu berhasil juga membangun sebuah gedung olahraga di belakang rumahnya dengan biaya Rp 29 juta. Dan sekarang setiap hari berdatanganlah anak-anak muda itu untuk berlatih segala jenis olahraga, main musik dan setiap malam Jumat mengaji dan mendengarkan petuah-petuah guru agama disana. Tidak itu saja, sang walikota serta-merta menghapuskan penjagaan hansip di pagar depan kediamannya agar siapa saja dan terutama anak-anak remaja tadi sewaktu-waktu dapat mendatanginya.

Dari segi itu kota Binjai boleh merasa tenang. Tetapi belum lama ini berbagai protes tiba-tiba bermunculan ke alamat walikota. Pasal-mulanya karena Manan Ahmad memberi izin membangun sebuah bioskop di pinggir sungai Binjai. Di seberang sebelah sana terdapat sebuah langgar yang berdempetan dengan Kelenteng Cina. Penduduk di sekitar langgar itulah yang membuat protes dengan dalih adanya gedung pertunjukan tadi alias mengganggu ketentraman beribadah" mereka? dan "gambar--gambar hidup itu dapat menyebabakan timbulnya berbagai kejahatan". Untung soalnya tidak banyak buntut, sebah walikota tetap bersikeras bahwa penduduk kota sebelumnya telah minta kepadanya agar tempat hiburan di tambah dan lagi konon menurut Manan Ahmad para pengirim protes ingin minta "apa-apa" dari si pembangun.

Perpustakaan. Apa boleh buat untuk penduduk kota Binjai yang berjumlah 60.000 jiwa itu Manan Ahmad merasa kan subsidi pembangunan yang diterimanya selalu tipis setiap tahun. Karena itu kita harus membangun dengan akal tidak dengan duit saja kata Manan. Dan rupanya dengan rahasia ini dia berhasil memperelok kotanya memperlicin jalan Binjai- Medan menambah dan memperbaiki gedung-gedung sekolah, memperbanyak tempat rekreasi dan termasuk pula membangun sebuah patung perjuangan diperapatan jalan Binjai--Banda Aceh Sehingga untuk anggaran belanja tahun depan Manan Ahmad mulai menyisihkan biaya untuk membuat perpustakaan di sekolah-sekolah setelah berbagai percobaan tentang ini banyak dilakukannya sebelumnya

 

LANGKAH MAJU KETOPRAK


DAHULU BAHASA YANG DIPAKAI KETOPRAK AMAT TINGGI. KINI DIPAKAI BAHASA AWAM. KEMAJUAN KETOPRAK MATARAM TIDAK HANYA SOAL BAHASA, TAPI JUGA DALAM SOAL CARA PERGELARAN, CARA BERMAIN, IRINGAN GAMELAN, DSB. RU HB ED 33/02 TA 721021 HA 24 SU HIBURAN ; KETOPRAK SS KETOPRAK MATARAM


MEMAKAI baju lurik merah dengan celana pendek, Soemardjono tampak seperti seorang tukang kapur. RRl studio Nusantara II Jogyakarta seksi ketoprak rupanya tidak begitu keberatan dengan kostum itu, walaupun orang ini sedang memangku kehormatan memimpin 40 pegawainya. Tugas Soemardjono: mengumpulkan ketawa sebanyak-banyaknya dari penonton Teater Terbuka TIM, sambil menyusupkan moral yang bernilai dinas. Untuk ini Basijo dan Kapuk yang tersohor di daratan Jogya sebagai badut, telah siap tempur. Sedang Suripto sudah tahu apa yang harus diucapkannya untuk menokohkan peran Panji yang tampan dan aksi. Suprapti akan menjadi Anggraeni, dan Wakidah akan memainkan tokoh Sekartaji.

"Kepada dua panakawan itu Basijo dan Kapuk tidak ada waktu khusus untuk mengocok penonton. Merekapun tidak diberikan naskah atau tuntunan gerak gerik. Mereka akan berimprovisasi. Inilah yang modern dari ketoprak kami", kata Soemardjono. Didampingi Pak Sis yang menjadi "dalang" pergelaran, ditambahkannya bahwa hal ter sebut tidak berarti "plot" dimusnahkan. Justru hal yang satu ini sangat dijaga, maklum Soemaidjono banyak berkecimpung dalam dunia sandiwara. Bahkan dalam dialog-dialog gencar yang membeberkan sikap masing-masing tokoh, misalnya perdebatan soal cinta antara raja, Jenggala dan puteranya kedua belah pihak akan diberi kesempatan menunjukkan kebenarannya. "Akan tampak kedua-duanya benar: Itulah dilema yang universil", kata Soemardjono.

Rencong Aceh. Ketoprak RRI Jogya didirikan oleh seorang Raden Tumenggung berasal dari Sala. Sebelum tahun 1962 berakhir ia telah mencapai puncak di bawah pimpinan seorang tersohor, almarhum Cokrojio. Lewat daratan dan udara ia menggetarkan hati keluarga-keluarga di Jogya setiap Rabu malam. Dari pensiunan pegawai negeri sampai tukang becak menyediakan waktu khusus di malam-malam itu, nongkrong memamah serial Babad Tanah Jawi, Babad Mataram, cerita Panji, cerita Menak, cerita khayal seperti Gagak Sala dan Rencong Aceh, dan cerita-cerita Cina seperti Sie Jin Kwi yang bersambungan sampai puluhan hari. Tiga atau empat bulan sekali, cerita yang sama diulang kembali tanpa protes-protes bosan dari pendengar. Ia memang sudah menjadi makanan rutin dan melengket di hati penduduk bagai penyakit kronis. Meskipun terbetik berita, belakangan ini bahwa lakon-lakon babad mulai membosankan, namun lakon-lakon Arab riwayat Menak tetap disuka. Bahkan lakon-lakon Cina yang telah disadur ke dalam kondisi pribumi, seperti halnya cerita yang bernama Sudiro tetap laris.

Masih kabur kapan mulainya, tapi tahu-tahu ketoprak sudah hadir saja di sisi hiburan yang bernama Ronggeng Ketek, Dadung Awuk, Ande-Ande, Lumut. Tiap perkumpulan ketoprak membawakan cerita-cerita sesuai dengan nama perkumpulannya. Di samping itu ada juga kumpulan yang tidak punya cerita monopoli. Yang mereka garap dagelan-dagelan kampungan yang dibeli khalayak pedesaan untuk pesta panen, sunatan, perkawinan dan sebangsanya. Dalam perjalanan kemudian, ketoprak mulai mencairkan monopoli cerita karena perkumpulan tidak terlalu mendikte lagi: Ceritapun bebas dipentaskan rombongan mana saja. Hal ini mungkin awalnya karena banyak perkumpulan terbunuh oleh perjalanan waktu.

Cukong. Masa itu bahasa ketoprak masih sangat halus, nyaris bahasa pedalangan. Akibatnya ia masih agak terlalu tinggi untuk kalangan penikmat. Inilah yang kemudian menyebabkan seorang manusia biasa bernama Cokrojio menjadi seorang pahlawan ketoprak. Dengan sebuah rambongan bernama Kridomudo, berkedudukan di Jogya, diambillah langkah berani antuk mengganti bahasa pewayangan yang sulit-sulit dengan bahasa aware. Tanpa merusak tata-tertib bahasa Jawa, berangsur-angsur ketoprak berhasil diseret dari singgasananya sampai kedepan hidung rakyat jelata. Untuk langkah pentingnya ini, Cokrojio almarhum memisahkan diri dari apa yang kala itu disebut ketoprak pada umumnya, Ia sebut kelompoknya Ketoprak Mataram, lantas menyebut kelompok yang lain sebagai Ketoprak Sala atau Ketoprak Pesisiran. Kini Ketoprak Mataram melahirkan sebuah pola yang banyak pengikutnya Selain ketoprak Mataram RRI di Jogya, ada misalnya yang disebut Ketoprak Mataram K.R. Sapta Mandala, Mardi Suko; Kridamandala, Ngesti Budaya dan sebagainya.

Kemajuan ketoprak Mataram tidak hanya dalam soal bahasa, tapi juga dalam soal cara pergelaran. Cara bermain, iringan gamelan, penguasaan panggung dan tetek-bengek, sudah dioper dari kemajuan sandiwara-sandiwara berbahasa Indonesia. "Dulunya bidang-bidang tersebut kurang disesuaikan dengan cerita", kata Suroyo, orang-dalam ketoprak Mataram RRI. Bukan itu saja. Dengan dimilikinya rombongan ketoprak oleh instansi-instansi Pemerintah dan dahulu partai-partai politik ketoprakpun tidak lepas dari fungsinya sebagai, corong cukongnya. Tidak jarang ketoprak tiba-tiba mempersoalkan keluarga berencana atau kepentingan-kepentingan lain. Dalam hal ini Soemardjono berusaha menjelaskan: kendatipun Ketoprak Mataram yang dibawanya ke TIM berada di bawah naungan RRI, yang tentunya harus menyuarakan juga kepentingan dinas, unsur seninya tidak banyak terganggu. "Sama sekali tak mempengaruhi jalan cerita dan kemauan teman-teman, karena kami tidak pernah mendapat tekanan", katanya.

 

SISA-SISA PESTA AGAMA


JUARA I & II PADA MTQ NASIONAL V DI SENAYAN DIREBUT SUMATERA, UNTUK PRIA & KALIMANTAN SELATAN, UNTUK WANITA. HANYA SATU MUNCUL JUARA PERTAMA DARI JAWA YAITU JAWA TIMUR UNTUK QARI'AH TINGKAT SD. RU AG ED 32/02 TA 721014 HA 41 SU AL QURAN ; ISLAM SS MTQ KE-5


RATA-RATA penguujung Istora Senayan, pada MTQ ke-V kemarin, mempunyai tjalon-tjalon pemenang yang mereka ramalkan akan keluar sebagai juara. Meskipun di situ tidak diadakan toto atau lotere jenis apapun, tapi banyak orang menebak misalnya bahwa qari Sumatera Utara yang bernama A. Rochmat Lubis tidak mustahil keluar sebagai orang pertama. Dan meskipun akhirnya dari yang tampaknya merupakan favorit hadirin ini hanya menjadi orang kedua, tapi memang tidak sedikit prang memandang Sumatera Utara sebagai salahsatu- daerah yang dipenuhi qari-qari'ah yang mencorong - disamping Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Jawa Timor. Akan tetapi nama-nama pemenang menjadi pasti ketika KH Zaini Miftah, Ketua Dewan Juri, mengumumkannya lewat suaranya yang sendat-sendat dan banyak salah pada- malam penutupan di Stadion Utama (lihat box).

Dari situ diketahui bahwa juara juara I dan II memang berada di pulau Sumatera - untuk pria, din Kalimantan untuk wanita. Jawa, dan terutama Jawa Tengah yang dulu begitu bersinar-sinar, sudah sejak MTQ ke-IV di Medan merosot pamornya. Untuk kali ini hanya satu juara pertama muncul dari Jawa - yakni Jawa Timur untuk qari'ah tingkat SD. Sedang propinsi-propinsi lain yang dari dulu memang belum terkenal maju dalam seni-baca Qur'an, kali ini sebagian berhasil muncul dalam kelompok juara-juara harapan: Juara juara harapan ini, selain didapat juga oleh daerah-daerah yang sudah menggondol kejuaraan utama (I-III) tidak termasuk Kalimantan Barat, lahir di Kalimantan Timur (1 qari'ah), Jambi (1 qari), Sulawesi Tenggara (1 qari'ah), Maluku (1 qari dan 1 qari'ah) dan Aceh (1 qari'ah). Dan sementara DKI Jakarta mengulangi kembali prestasinya dengan merebut piala Juara Umum seperti halnya pada MTQ di Medan tahun kemarin, propinsi-propinsi lain di Indonesia yang sama sekali tidak disebut-sebut namanya barangkali sudah merasa cukup dengan bersedia turut-serta dalam pesta-agama ini. Sipa tahu mereka ada mengandung harapan untuk MTQ ke-VI tahun depan yang akan dilangsungkan di Mataram, Lombok. Selamat berdoa.

BOKS

Yang Lahir di Senayan

JUARA DEWASA UMUM

=================

Qari:

1. M. Harun A. Roni, 32 th, Sumatera Selatan

2. HMA Rochmat Lubis, 26 th, Sumatera Utara

3. Tadjuddin Hasan, 27 th, DKI Jakarta

***

Qari'ah:

1. Nurbani Ramli, 20 th, Kalimantan Barat

2. Rusdianah Abdan, 20 th, Kalimantan Selatan

3. Nur Ainun, 17 th, Sumatera Utara

***

JUARA SEKOLAH LANJUTAN

=====================

Qari:

1. M. Nafis Kurtubi, 21 th, DKI Jakarta

2. Moh. Sjibaweh A. Dialil, 19 th, Jawa Tengah

3. Chumaidi bin Hambali, 16 th, Jawa Barat

***

Qari'ah:

1. Sjahruni Rahman, 16 th, Sulawesi Selatan

2. Istibsjarah, 16 th, Jawa Timur

3. Zainar Tahir, 18 th, Sumatera Barat

***

JUARA SEKOLAH DASAR

===================

Qari:

1. Abdul Wadud, 14 th, DKI Jakarta

2. Moh. Sjaiful Anwar, 15 th, Jawa Tengah

3. Ubaid Adnan, 15 th, Jawa Timur

***

Qari'ah:

1. Miftahul Djannah, 13 th, Jawa Timur

2. Khairun Nisa, 13 th, Kalimantan Selatan

3. Sjamsiar, 13 th, Sumatera Berat

 

 

SEBUAH DWI MONOLOG


TEAM KOMISI III DPR MENGUNJUNGI D.I. ACEH & SUM-UT. PIHAK PEMERINTAH & MAHKAMAH AGUNG DIUNDANG UNTUK MEMBICARAKAN HASIL PENINJAUAN ITU A.L: DIBICARAKAN WEWENANG POLISI, PERKARA PERDATA, H.I.R. RU HK ED 14/02 TA 720610 HA 22 SU DEWAN PERWAKILAN RAKYAT SS KOMISI III (HUKUM)


DIGUNUNG-GUNUNG sana, jang terdekat adalah polisi". Cosmas Batubara, Ketua Komisi III DPR jang mengutjapkan kalimat itu dua minggu jang lalu dalam rapat kerdja komisi tersebut dengan Menteri Kehakiman betul djuga. Mungkin ia hendak menundjukkan bahwa lembaga Kepolisian, bagi rakjat didaerah pegunungan tjuram pinggir danau Toba - dimana Cosmas sendiri berasal - merupakan lembaga jang tua dan hidup bersama-sama.

Setjara hukumnja, dengan mengangkat sistim jang dianut di Eropa Kontinental, polisi di Indonesia tak boleh turut tjampur dalam sesuatu urusan pribadi atau perdata (TEMPO, 3 Djuni 1972 Tjontoh: 4 tahun jang lalu, advokat Yap Thiam Hien SH mendakwa Inspektur Djenderal Polisi Mardjaman terlibat dalam persoalan perdata dalam kasus PT Quick, sebuah perusahaan swasta di Djakarta. Djadi dengan kata lain, seperti jang dikatakan Menteri Kehakiman Oemar Seno Adji, polisi di Indonesia lain dengan dinegara-negara Anglo Saxon. Disana mereka djuga di benarkan mewakili kepentingan pribadi.

Tapi tak luput: praktek-praktek polisi jang "tidak Indonesia" itu ditemui oleh team Komisi III jang baru-baru ini mengundjungi Daerah Istimewa Atjeh dan Sumatera Utara. Malah bukan hanja persoalan polisi sadja. Banjak lagi praktek-praktek lain jang dirasa menjimpang dari aturan. Untuk itulah Komisi III mengundang pihak pemerintah dan esoknja Mahkamah Agung untuk membitjarakan hasil penindjauan team tersebut. Berikut ini laporan dari rapat kerdja jang berlangsung digedung baru DPR dari djam 9,30 sampai djam 14 dua hari berturut-turut:

Polisi & Perdata

"Terus terang ditjelitakan oleh Kepala Polisi Kabupaten Simalungun, banjaknja persoalan perdata jang ditjampur polisi". Demikian R.O. Tambunan SH pimpinan team, ketika Menteri Sen Adji minta supaja persoalan jang sudah disusun dalam laporan penindjauan itu diperdjelas lagi."Katakan misalnja dalan soal utang piutang", landjut anggota dari Karya Pembangunan itu. "Disitu penduduk datang ke polisi dan polisi menerimanja". Tapi Menteri tidak langsun mendjawab. Hanja ia katakan: karena persoalan itu menjangkut soal pelaksanaan hukum, sebaiknja dibibarakan djuga dengan instansi-instansi Kepolisian dan Kedjaksaan. Sedangkan pada pandangan Ketua Mahkamah Agung Subekti terdjadinja hal demikian -- diakui karena lambannja proses peradilan perdata. "Djadi sematjam perdamaian di muka polisi atau djaksa", tegas profesor hukum Perdata itu. Namun kalau perkara itu akan dibawa ke pengadilan menurut Subekti, hakim harus menolak digolongkannja sebagai tuntutan pidana.

Peradilan Pidana & Hukum Adat

Pada masjarakat Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, hukum Adat sangat berpengaruh--sampai-sampai kepersoalan-persoalan pidana. Masjarakat Batak menganggap putusan Adat dalam persoalan pidana lebih tinggi daripada putusan Pengadilan Negeri. Sebuah ilustrasi diberikan oleh Tambunan (notabene: Batak asli) tentang seorang jang sudah dihukum 15 tahun jang lalu dan setelah keluar masih diharuskan memotong kerbau untuk bisa diterima kembali dimasjarakat adat setempat. Menanggapi ini Subekti hanja mengandjurkan supaja lebih meningkatkan pendidikan didaerah tersebut. Mungkin maksudnja: menanamkan pengertian tentang peran badan-badan peradilan jang sebenarnja. Sedangkan Hakim Agung Lumbanradja djuga Batak asli jang duduk dikanan Subekti, atas permintaan Subekti menjatakan bahwa hakim harus mengembangkan hukum Adat tanpa melanggar ketentuan hukum Pidana jang berlaku Sementara menteri Kehakiman mendjelaskan adanja projek dibawah Direktor Djenderal Pembinaan Badan-Badan Peradilan jang bertugas menjelidiki masalah hukum jang tidak tertulis.

Mahkamah Sjari'ah & Pengadilan Negeri.

Apa sebetulnja fungsi Mahkamah Sjari'ah? Menurut PP No.45 tahun 1957 chusus menangani persoalan-persoalan. Nikah, Talak dan Rudjuk. Tapi di Atjeh team melihat menjerempetnja wewenang Mahkamah kesoal-soal warisan jang se harusnja dipegang Pengadilan Negeri. laporkan, tiap fihak jang merasa dikatakan dalam sengketa waris-mewaris Mahkamah Sjari'ah, membawakan Ia persoalan itu ke Pengadilan Negeri. bagaimana? Baik Ketua Mahkamah , Agung maupun Menteri Kehakiman nampaknja tak memberikan djawaban jang Iangsung mengenai kecuali balik mentjeritakan bagaimana jang seharusnja dan bagaimana jang tidak seharusnja.

Fasal Perzinaan

Masih di Daerah Istimewa Aceh. Di sana, akibat kuatnja hukum Islam, masjarakat merasakan kegandjilan terhadap antjaman hukuman pada fasal 21 KUHP. Ancaman pendjara 9 bulan bagi jang melakukan perzinaan dengan sjarat ada pengaduan dari fihak jang merasa dimalukan itu dirasakan sebagai imbalan jang amat ringan. Tentang ini nampak, respon jang cbukup dari Menteri Seno. -Adji--jang kelihatannja punja pandangan tersendiri tentang soal hubungan seksuil tidak sah ini, seperti katanja: "Bukan soal delik aduan atau tidak, tapi karena fasal ini hanja memberatkan fihak perempuan sadja". Padahal, menurut Menteri setiap laki-laki jang berzina sudah seharusnja dihukum, sedangkan menurut bunji fasal jang dirasakan tak sesuai oleh masjarakat Aceh ini, laki-laki jang termaksud hanjalah laki-laki jang sudah beristeri dari, tunduk pada fasal 27 KUH Perdata (BW) sadja. Djadi pada umumnja laki-laki pribumi luput dari djangkauan ancbaman hukuman Dan dikatakan bahwa semua ini akan, mendjadi bahan pertimbangan dalam menjusun KUHP jang baru. Tidak dikata kannja apakah sementara menunggu jang baru itu, bisa diadakan perobahan chusus tentang fasal itu, seperti umpamanja jang terlihat pada fasal 359 KUHP: orang jang karena lalainja menjebabkan matinja oranglain, sekarang diancam hukuman 5 tahun - tidak lagi 1I tahun seperti bunji fasal itu sebelum dirobah. Sementara Ketua Mahkamah Agung mengatakan bahwa persoalan fasal 284 ini adalah persoalan badan legislatif, tanpa memberikan pandangan. Agaknja Prof.Subekti hendak menempatkan diri betul-betul sebagai hakim jang baik, jang tidak mau prematur mengomentari sesuatu fasal KUHP - dengan mengingat bahwa suatu ketika kelak dia mungkin sadja berhadapan dengan fasal tersebut dalam sesuatu kasus. Padahal sebetulnja, harapan Komisi III tak lain untuk mendapat kesempatan saling bertukar pandangan ataupun sikap mengenai sesuatu masalah jang boleh nanti digunakan sebagai bahan bagi menggodok sesuatu RUU.

Peralatan.

Tahukah pemerintah "Pengadilan Negeri Langsa selalu botjor kalau hudjan, sedang kamar ketjilpun tak ada sehingga orang harus menumpang ketempat lain jang djauhnja 200 meter dari situ"-seperti dilaporkan oleh Tambunan? Djuga, umpamanja bahwa kursi-kursi di Pengadilan Negeri di Daerah Istimewa Atjeh, banjak jang sudah bolong, tapi toch tetap dipakai karena tak ada gantinja? Atau bahwa gedung LP Tarutung sudah sangat tua dan tjukup mengchawatirkan ditindjau dari segi keamanan? Ternjata tidak. Menurut Menteri, belum ada laporan --ketjuali "laporan dari Langsa jang minta pembangunan untuk perumahan." Lalu tentang kendaraan untuk mengangkut tahanan: "tanggung djawab siapa?', tanja Tambunan lagi kealamat Menteri. Dan tanpa ragu-ragu didjawab oleh R.A. Koesnoen SH, Dirdjen Bina Tuna Warga -- atas permintaan Menteri--"Tanggung djawab siapa, saja tidak tahu!"

Namun kemudian, Koesnoen jang suka buka riwajat ini mentjeritakan bahwa dulu sewaktu Kedjaksaan moasih dibawah Departemen Kehakiman, kendaraan tahanan memang disimpan didalam pendjara untuk memudahkan pemakaian. Dan agak mirip dengan persoalan masih "tertitipnja" tahanan sementara di LP(C), maka setelah Kedjaksaan memisahkan diri, soal cel wagen ini tidak djelas lagi mendjadi beban siapa. Di LP(C) sendiri menurut Koesnoen ada kendaraan sematjam itu, hanja tugasnja untuk memindahkan tahanan dari satu tempat ketempat lain.

Peradilan Lambat

Kemelut tentang siapa jang seharusnja bertanggung-djawab, memang bukan baru lagi--entah bagi anggota DPR jang baru. Misal lain soal kelambatan perkara karena kurangnja tenaga hakim. Pengadilan Tinggi Banda Atjeh jang seperti di laporkan team jang punja 102 tunggakan perkara itu, hanja punja 3 Hakim Tinggi termasuk Ketuanja. Soalnja persis dengan soal kendaraan tahanan: siapa jang bertanggungdjawab menambah tenaga hakim? Subekti bilang bahwa fihak Mahkamah Agung sudah lama hendak menangani persoalan ini. Sudah ditjarikan tjalon untuk Hakim Tinggi jang dipandang memenuhi sjarat-sjarat ketjakapan dan kedjudjuran. Namun belum makbul, karena tidak ada persetudjuan Departemen Kehakiman hingga sekarang. Itulah sebabnja agak mengena pertanjaan anggota Sulaiman Tjakrawiguna SH dari Karya Pembangunan: "Sedjauh mana sebetulnja Mahkamah Agung turut berperan dalam penempatan seseorang ? Apakah Mahkamah Agung hanja sekedar mengadjukan permohonan?". Subekti lalu mendjawab begini: "Dulu, 99% usul-usul Mahkamah Agung di-goal-kan oleh Departemen Kehakiman, tapi - sekarang hanja 70% sadja." Dan malah dikuncinja sendiri: "Kalau Departemen Kehakiman tidak setudju, maka persoalan itu didep bertahun- tahun."

Berkaitan djuga adalah larangan menerima pegawai baru. Karena bak kata Ketua Mahkamah Agung, kelambatan djuga disebabkan kurangnja tenaga administrasi. Ilustrasi tentang larangan menerima pegawai: hakim diberi mobil tapi tak dikasi sopir, sehingga harus tjari sendiri dan membajar dengan gadji sendiri. Dan Subekti, jang sambil bitjara suka bertopang dagu, mengakui djuga sebab kelambatan jang lain lagi. jaitu karena malasnja hakim-hakim dan para panitera. Terhadap mereka jang sudah mendapat "tjiri malas" ini, menurul Subekti disediakan sanksi administratif berupa pemindahan. Tapi itu tentunja berupa usul djuga, karena toch haru lewat Departemen Kehakiman, bukan'

Itulah sebabnja membalik-balik kisah zaman Raad van Jusntie, seperti jang dilakukan Subekti dimuka lebih 30 wakil rakjat,itu, tampaknja hanja perbuatan nostalgik alias menghirup kenangan manis masa lampau. Jakni merindukan bahwa dalam djangka waktu 2 minggu berkas perkara banding sudah harus masuk ke Pengadilan Tinggi - seperti bunji HIR. Atau bahwa bersamaan dengan diputusnja perkara dimedja hakim, sudah tersedia surat-surat dan dokumen jang harus diteken. "Hal-hal seperti itu mulai zaman Djepang sudah mengendor," keluh Subekti, "dan sekarang tidak streng lagi."

Jang tidak streng adalah djuga wibawa atasan hakim-hakim. Digunung-gunung boleh kurang hakim, tapi mungkin di Djawa tidak. Dan Subekti tidak tahu kenapa hakim-hakim tidak mau dipindahkan atasannja keluar Djawa. "Seperti hakim Sutarno Sudja dulu, masak di pindah ke Tandjungkarang sadja tidak mau", ditjontohkan oleh kepala peradilan tertinggi seluruh Indonesia itu. Waktu itu Sutarno dikenakan tindakan administratif. "Kabarnja sekarang dia kerdja di Bank dan di Bank keadaannja lebih baik," landjut Subekti seolah tiba-tiba mendjadi mafhum akan asal muasal semua persoalan.

H.I.R --Pedoman?

Sebelum masuk bagian lain, barangkali boleh ditjatat kemadjuan jang dikatakan oleh Ketua Mahkamah Agung: bahwa penjelesaian perkara dari tingkat bawah hingga kasasi hanja memerlukan 2 tahun, tidak lagi sampai 10 tahun seperti dulu. Tahun 1970 ada 800 perkara kasasi dan tahun 1971 tertjatat 1300--suatu bukti adanja pentjepatan demikian Subekti.

Status Hukum Atjara jang ada bagai mana? Daerah jang ditindjau banjak mempertanjakan kriteria "pedoman" bagi pelaksanaan HlR jang telah di-Indonet siakan mendjadi Reglemen Indonesia Jang Dibaharui (RID atau RIB) itu.

Kalau HIR hanja pedoman, boleh di pakai boleh tidak, demikian kesan hakim-hakim daerah. Lalu: apa pegangan penegak hukum untuk memperlakukan para penuntut keadilan? Itulah sebabnja diusulkan supaja fasal 6 Undang-undang Darurat No.1 tahun 1951 jang menentukan status "pedoman" itu ditjabut sadja -- karena toch Hukum Atjara Pidana jang baru tidak tahu kapan siapnja. "Misalnja Saudara Sjamsuddin Abubakar SH Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh menjatakan kepada kami supaja HIR djangan hanja djadi pedoman", kata Cosmas Batubara menjokong laporan team.

Namun, menurut Menteri, hakim-hakim tak perlu gelisah akan soal pedoman atau tidaknja HIR ini. Karena katanja jurisprudensi tahun 1953 sudah memberikan pengertian tentang apa jang dimaksudkan dengan "pedoman". Menteri oleh karena itu tak sependapat untuk mentjabut fasal 6 tersebut sementara RUU Hukum Atjara Pidana jang baru, katanja, sudah akan dimasukkan ke DPR tahun ini djuga. Akan tetapi lain halnja dengan Subekti ia lebih setudju lagi kalau DPR sendiri jang menjiapkan sebuah RUU Hukum Acara Pidana itu. "Ini semacam ultimatum pada Departemen Kehakiman," tambahnja Mungkin djuga sematjam Alternatif. Sebab, "bila tahun ini mereka tidak mengadjukan, maka DPR-lah jang menga djukannja" bak kata Subekti pula.

Tapi DPR-pun, setidaknja Komisi III jang kelihatan radjin ini, nampaknja hendak memberi ultimatum djuga kepada fihak pemerintah maupun peradilan: bahwa masalah perbaikan hukum tak boleh menunggu lagi. Sehingga agaknja tukup disajangkan bahwa dialog-dialog jang terdjadi dalam banjak hal berpisah antara apa jang dilihat disatu pihak, dan "bagaimana seharusnja "difihak lain. Bak kata seorang penindjau, baik fihak Departemen Kehakiman ataupun Mahkamah Agung tampak seolah menempatkan dan sebagai pengadjar kampus ala menara gading: normatif dan lengkap dengan studi perbandingan segala. Lain dari itu nampak beberapa problim jang terlepas mengambang, hanja karena hal-hal tersebut bukan sepenuhnja kompetensi jang diundang. Itulah sebabnja ada timbul fikiran dikalangan penindjau untuk, umpamanja, mengadakan suatu rapatkerdja paripurna sekaligus Komisi III dengan Instansi-instansi jang dibidangnja. "Teoritis bisa dilakukan," komentar Cosmas Batubara tentang ini kepada TEMPO diluar CR V.

Meski begitu, anggota Damciwar SH dari Karya Pembangunan merasa tjukup puas dengan rapatkerdja-rapatkerdja tersebut - jang masih akan dilandjutkan lagi dengan Kedjaksaan Agung - Kepolisian RI dan Universitas; universitas "Mereka punja keinginan jang sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan", kata SH muda usia itu pada TEMPO. Menurut dia, Menteri Seno Adji bitjara lebih politis -- sekalipun bukan berarti tidak berterus terang. Dan semua problim hukum sekarang ini memang terang terbuka

 

 

SEBUAH DWI MONOLOG


TEAM KOMISI III DPR MENGUNJUNGI D.I. ACEH & SUM-UT. PIHAK PEMERINTAH & MAHKAMAH AGUNG DIUNDANG UNTUK MEMBICARAKAN HASIL PENINJAUAN ITU A.L: DIBICARAKAN WEWENANG POLISI, PERKARA PERDATA, H.I.R. RU HK ED 14/02 TA 720610 HA 22 SU HUKUM SS PELAKSANAAN HUKUM


DIGUNUNG-GUNUNG sana, jang terdekat adalah polisi". Cosmas Batubara, Ketua Komisi III DPR jang mengutjapkan kalimat itu dua minggu jang lalu dalam rapat kerdja komisi tersebut dengan Menteri Kehakiman betul djuga. Mungkin ia hendak menundjukkan bahwa lembaga Kepolisian, bagi rakjat didaerah pegunungan tjuram pinggir danau Toba - dimana Cosmas sendiri berasal - merupakan lembaga jang tua dan hidup bersama-sama.

Setjara hukumnja, dengan mengangkat sistim jang dianut di Eropa Kontinental, polisi di Indonesia tak boleh turut tjampur dalam sesuatu urusan pribadi atau perdata (TEMPO, 3 Djuni 1972 Tjontoh: 4 tahun jang lalu, advokat Yap Thiam Hien SH mendakwa Inspektur Djenderal Polisi Mardjaman terlibat dalam persoalan perdata dalam kasus PT Quick, sebuah perusahaan swasta di Djakarta. Djadi dengan kata lain, seperti jang dikatakan Menteri Kehakiman Oemar Seno Adji, polisi di Indonesia lain dengan dinegara-negara Anglo Saxon. Disana mereka djuga di benarkan mewakili kepentingan pribadi.

Tapi tak luput: praktek-praktek polisi jang "tidak Indonesia" itu ditemui oleh team Komisi III jang baru-baru ini mengundjungi Daerah Istimewa Atjeh dan Sumatera Utara. Malah bukan hanja persoalan polisi sadja. Banjak lagi praktek-praktek lain jang dirasa menjimpang dari aturan. Untuk itulah Komisi III mengundang pihak pemerintah dan esoknja Mahkamah Agung untuk membitjarakan hasil penindjauan team tersebut. Berikut ini laporan dari rapat kerdja jang berlangsung digedung baru DPR dari djam 9,30 sampai djam 14 dua hari berturut-turut:

Polisi & Perdata

"Terus terang ditjelitakan oleh Kepala Polisi Kabupaten Simalungun, banjaknja persoalan perdata jang ditjampur polisi". Demikian R.O. Tambunan SH pimpinan team, ketika Menteri Sen Adji minta supaja persoalan jang sudah disusun dalam laporan penindjauan itu diperdjelas lagi."Katakan misalnja dalan soal utang piutang", landjut anggota dari Karya Pembangunan itu. "Disitu penduduk datang ke polisi dan polisi menerimanja". Tapi Menteri tidak langsun mendjawab. Hanja ia katakan: karena persoalan itu menjangkut soal pelaksanaan hukum, sebaiknja dibibarakan djuga dengan instansi-instansi Kepolisian dan Kedjaksaan. Sedangkan pada pandangan Ketua Mahkamah Agung Subekti terdjadinja hal demikian -- diakui karena lambannja proses peradiilan perdata. "Djadi sematjam perdamaian di muka polisi atau djaksa", tegas profesor hukum Perdata itu. Namun kalau perkara itu akan dibawa ke pengadilan menurut Subekti, hakim harus menolak digolongkannja sebagai tuntutan pidana.

Peradilan Pidana & Hukum Adat

Pada masjarakat Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, hukum Adat sangat berpengaruh--sampai-sampai kepersoalan-persoalan pidana. Masjarakat Batak menganggap putusan Adat dalam persoalan pidana lebih tinggi daripada putusan Pengadilan Negeri. Sebuah ilustrasi diberikan oleh Tambunan (notabene: Batak asli) tentang seorang jang sudah dihukum 15 tahun jang lalu dan setelah keluar masih diharuskan memotong kerbau untuk bisa diterima kembali dimasjarakat adat setempat. Menanggapi ini Subekti hanja mengandjurkan supaja lebih meningkatkan pendidikan didaerah tersebut. Mungkin maksudnja: menanamkan pengertian tentang peran badan-badan peradilan jang sebenarnja. Sedangkan Hakim Agung Lumbanradja djuga Batak asli jang duduk dikanan Subekti, atas permintaan Subekti menjatakan bahwa hakim harus mengembangkan hukum Adat tanpa melanggar ketentuan hukum Pidana jang berlaku Sementara menteri Kehakiman mendjelaskan adanja projek dibawah Direktor Djenderal Pembinaan Badan-Badan Peradilan jang bertugas menjelidiki masalah hukum jang tidak tertulis.

Mahkamah Sjari'ah & Pengadilan Negeri.

Apa sebetulnja fungsi Mahkamah Sjari'ah? Menurut PP No.45 tahun 1957 chusus menangani persoalan-persoalan. Nikah, Talak dan Rudjuk. Tapi di Atjeh team melihat menjerempetnja wewenang Mahkamah kesoal-soal warisan jang se harusnja dipegang Pengadilan Negeri. laporkan, tiap fihak jang merasa dikatakan dalam sengketa waris-mewaris Mahkamah Sjari'ah, membawakan Ia persoalan itu ke Pengadilan Negeri. bagaimana? Baik Ketua Mahkamah , Agung maupun Menteri Kehakiman nampaknja tak memberikan djawaban jang Iangsung mengenai kecuali balik mentjeritakan bagaimana jang seharusnja dan bagaimana jang tidak seharusnja.

Fasal Perzinaan

Masih di Daerah Istimewa Aceh. Di sana, akibat kuatnja hukum Islam, masjarakat merasakan kegandjilan terhadap antjaman hukuman pada fasal 21 KUHP. Ancaman pendjara 9 bulan bagi jang melakukan perzinaan dengan sjarat ada pengaduan dari fihak jang merasa dimalukan itu dirasakan sebagai imbalan jang amat ringan. Tentang ini nampak, respon jang cbukup dari Menteri Seno. -Adji--jang kelihatannja punja pandangan tersendiri tentang soal hubungan seksuil tidak sah ini, seperti katanja: "Bukan soal delik aduan atau tidak, tapi karena fasal ini hanja memberatkan fihak perempuan sadja". Padahal, menurut Menteri setiap laki-laki jang berzina sudah seharusnja dihukum, sedangkan menurut bunji fasal jang dirasakan tak sesuai oleh masjarakat Aceh ini, laki-laki jang termaksud hanjalah laki-laki jang sudah beristeri dari, tunduk pada fasal 27 KUH Perdata (BW) sadja. Djadi pada umumnja laki-laki pribumi luput dari djangkauan ancbaman hukuman Dan dikatakan bahwa semua ini akan, mendjadi bahan pertimbangan dalam menjusun KUHP jang baru. Tidak dikata kannja apakah sementara menunggu jang baru itu, bisa diadakan perobahan chusus tentang fasal itu, seperti umpamanja jang terlihat pada fasal 359 KUHP: orang jang karena lalainja menjebabkan matinja oranglain, sekarang diancam hukuman 5 tahun - tidak lagi 1I tahun seperti bunji fasal itu sebelum dirobah. Sementara Ketua Mahkamah Agung mengatakan bahwa persoalan fasal 284 ini adalah persoalan badan legislatif, tanpa memberikan pandangan. Agaknja Prof.Subekti hendak menempatkan diri betul-betul sebagai hakim jang baik, jang tidak mau prematur mengomentari sesuatu fasal KUHP - dengan mengingat bahwa suatu ketika kelak dia mungkin sadja berhadapan dengan fasal tersebut dalam sesuatu kasus. Padahal sebetulnja, harapan Komisi III tak lain untuk mendapat kesempatan saling bertukar pandangan ataupun sikap mengenai sesuatu masalah jang boleh nanti digunakan sebagai bahan bagi menggodok sesuatu RUU.

Peralatan.

Tahukah pemerintah "Pengadilan Negeri Langsa selalu botjor kalau hudjan, sedang kamar ketjilpun tak ada sehingga orang harus menumpang ketempat lain jang djauhnja 200 meter dari situ"-seperti dilaporkan oleh Tambunan? Djuga, umpamanja bahwa kursi-kursi di Pengadilan Negeri di Daerah Istimewa Atjeh, banjak jang sudah bolong, tapi toch tetap dipakai karena tak ada gantinja? Atau bahwa gedung LP Tarutung sudah sangat tua dan tjukup mengchawatirkan ditindjau dari segi keamanan? Ternjata tidak. Menurut Menteri, belum ada laporan --ketjuali "laporan dari Langsa jang minta pembangunan untuk perumahan." Lalu tentang kendaraan untuk mengangkut tahanan: "tanggung djawab siapa?', tanja Tambunan lagi kealamat Menteri. Dan tanpa ragu-ragu didjawab oleh R.A. Koesnoen SH, Dirdjen Bina Tuna Warga -- atas permintaan Menteri--"Tanggung djawab siapa, saja tidak tahu!"

Namun kemudian, Koesnoen jang suka buka riwajat ini mentjeritakan bahwa dulu sewaktu Kedjaksaan moasih dibawah Departemen Kehakiman, kendaraan tahanan memang disimpan didalam pendjara untuk memudahkan pemakaian. Dan agak mirip dengan persoalan masih "tertitipnja" tahanan sementara di LP(C), maka setelah Kedjaksaan memisahkan diri, soal cel wagen ini tidak djelas lagi mendjadi beban siapa. Di LP(C) sendiri menurut Koesnoen ada kendaraan sematjam itu, hanja tugasnja untuk memindahkan tahanan dari satu tempat ketempat lain.

Peradilan Lambat

Kemelut tentang siapa jang seharusnja bertanggung-djawab, memang bukan baru lagi--entah bagi anggota DPR jang baru. Misal lain soal kelambatan perkara karena kurangnja tenaga hakim. Pengadilan Tinggi Banda Atjeh jang seperti di laporkan team jang punja 102 tunggakan perkara itu, hanja punja 3 Hakim Tinggi termasuk Ketuanja. Soalnja persis dengan soal kendaraan tahanan: siapa jang bertanggungdjawab menambah tenaga hakim? Subekti bilang bahwa fihak Mahkamah Agung sudah lama hendak menangani persoalan ini. Sudah ditjarikan tjalon untuk Hakim Tinggi jang dipandang memenuhi sjarat-sjarat ketjakapan dan kedjudjuran. Namun belum makbul, karena tidak ada persetudjuan Departemen Kehakiman hingga sekarang. Itulah sebabnja agak mengena pertanjaan anggota Sulaiman Tjakrawiguna SH dari Karya Pembangunan: "Sedjauh mana sebetulnja Mahkamah Agung turut berperan dalam penempatan seseorang ? Apakah Mahkamah Agung hanja sekedar mengadjukan permohonan?". Subekti lalu mendjawab begini: "Dulu, 99% usul-usul Mahkamah Agung di-goal-kan oleh Departemen Kehakiman, tapi - sekarang hanja 70% sadja." Dan malah dikuncinja sendiri: "Kalau Departemen Kehakiman tidak setudju, maka persoalan itu didep bertahun- tahun."

Berkaitan djuga adalah larangan menerima pegawai baru. Karena bak kata Ketua Mahkamah Agung, kelambatan djuga disebabkan kurangnja tenaga administrasi. Ilustrasi tentang larangan menerima pegawai: hakim diberi mobil tapi tak dikasi sopir, sehingga harus tjari sendiri dan membajar dengan gadji sendiri. Dan Subekti, jang sambil bitjara suka bertopang dagu, mengakui djuga sebab kelambatan jang lain lagi. jaitu karena malasnja hakim-hakim dan para panitera. Terhadap mereka jang sudah mendapat "tjiri malas" ini, menurul Subekti disediakan sanksi administratif berupa pemindahan. Tapi itu tentunja berupa usul djuga, karena toch haru lewat Departemen Kehakiman, bukan'

Itulah sebabnja membalik-balik kisah zaman Raad van Jusntie, seperti jang dilakukan Subekti dimuka lebih 30 wakil rakjat,itu, tampaknja hanja perbuatan nostalgik alias menghirup kenangan manis masa lampau. Jakni merindukan bahwa dalam djangka waktu 2 minggu berkas perkara banding sudah harus masuk ke Pengadilan Tinggi - seperti bunji HIR. Atau bahwa bersamaan dengan diputusnja perkara dimedja hakim, sudah tersedia surat-surat dan dokumen jang harus diteken. "Hal-hal seperti itu mulai zaman Djepang sudah mengendor," keluh Subekti, "dan sekarang tidak streng lagi."

Jang tidak streng adalah djuga wibawa atasan hakim-hakim. Digunung-gunung boleh kurang hakim, tapi mungkin di Djawa tidak. Dan Subekti tidak tahu kenapa hakim-hakim tidak mau dipindahkan atasannja keluar Djawa. "Seperti hakim Sutarno Sudja dulu, masak di pindah ke Tandjungkarang sadja tidak mau", ditjontohkan oleh kepala peradilan tertinggi seluruh Indonesia itu. Waktu itu Sutarno dikenakan tindakan administratif. "Kabarnja sekarang dia kerdja di Bank dan di Bank keadaannja lebih baik," landjut Subekti seolah tiba-tiba mendjadi mafhum akan asal muasal semua persoalan.

H.I.R --Pedoman?

Sebelum masuk bagian lain, barangkali boleh ditjatat kemadjuan jang dikatakan oleh Ketua Mahkamah Agung: bahwa penjelesaian perkara dari tingkat bawah hingga kasasi hanja memerlukan 2 tahun, tidak lagi sampai 10 tahun seperti dulu. Tahun 1970 ada 800 perkara kasasi dan tahun 1971 tertjatat 1300--suatu bukti adanja pentjepatan demikian Subekti.

Status Hukum Atjara jang ada bagai mana? Daerah jang ditindjau banjak mempertanjakan kriteria "pedoman" bagi pelaksanaan HlR jang telah di-Indonet siakan mendjadi Reglemen Indonesia Jang Dibaharui (RID atau RIB) itu.

Kalau HIR hanja pedoman, boleh di pakai boleh tidak, demikian kesan hakim-hakim daerah. Lalu: apa pegangan penegak hukum untuk memperlakukan para penuntut keadilan? Itulah sebabnja diusulkan supaja fasal 6 Undang-undang Darurat No.1 tahun 1951 jang menentukan status "pedoman" itu ditjabut sadja -- karena toch Hukum Atjara Pidana jang baru tidak tahu kapan siapnja. "Misalnja Saudara Sjamsuddin Abubakar SH Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh menjatakan kepada kami supaja HIR djangan hanja djadi pedoman", kata Cosmas Batubara menjokong laporan team.

Namun, menurut Menteri, hakim-hakim tak perlu gelisah akan soal pedoman atau tidaknja HIR ini. Karena katanja jurisprudensi tahun 1953 sudah memberikan pengertian tentang apa jang dimaksudkan dengan "pedoman". Menteri oleh karena itu tak sependapat untuk mentjabut fasal 6 tersebut sementara RUU Hukum Atjara Pidana jang baru, katanja, sudah akan dimasukkan ke DPR tahun ini djuga. Akan tetapi lain halnja dengan Subekti ia lebih setudju lagi kalau DPR sendiri jang menjiapkan sebuah RUU Hukum Acara Pidana itu. "Ini semacam ultimatum pada Departemen Kehakiman," tambahnja Mungkin djuga sematjam Alternatif. Sebab, "bila tahun ini mereka tidak mengadjukan, maka DPR-lah jang menga djukannja" bak kata Subekti pula.

Tapi DPR-pun, setidaknja Komisi III jang kelihatan radjin ini, nampaknja hendak memberi ultimatum djuga kepada fihak pemerintah maupun peradilan: bahwa masalah perbaikan hukum tak boleh menunggu lagi. Sehingga agaknja tukup disajangkan bahwa dialog-dialog jang terdjadi dalam banjak hal berpisah antara apa jang dilihat disatu pihak, dan "bagaimana seharusnja "difihak lain. Bak kata seorang penindjau, baik fihak Departemen Kehakiman ataupun Mahkamah Agung tampak seolah menempatkan dan sebagai pengadjar kampus ala menara gading: normatif dan lengkap dengan studi perbandingan segala. Lain dari itu nampak beberapa problim jang terlepas mengambang, hanja karena hal-hal tersebut bukan sepenuhnja kompetensi jang diundang. Itulah sebabnja ada timbul fikiran dikalangan penindjau untuk, umpamanja, mengadakan suatu rapatkerdja paripurna sekaligus Komisi III dengan Instansi-instansi jang dibidangnja. "Teoritis bisa dilakukan," komentar Cosmas Batubara tentang ini kepada TEMPO diluar CR V.

Meski begitu, anggota Damciwar SH dari Karya Pembangunan merasa tjukup puas dengan rapatkerdja-rapatkerdja tersebut - jang masih akan dilandjutkan lagi dengan Kedjaksaan Agung - Kepolisian RI dan Universitas; universitas "Mereka punja keinginan jang sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan", kata SH muda usia itu pada TEMPO. Menurut dia, Menteri Seno Adji bitjara lebih politis -- sekalipun bukan berarti tidak berterus terang. Dan semua problim hukum sekarang ini memang terang terbuka.

 

NA'UZUBILLAH DI TENGGARONG


DALAM MEMPERINGATI HARI JADINYA, DI KABUPATEN TENGGARONG DISELENGGARAKAN PERTUNJUKAN KESENIAN. ADA TARI PENOLAK BALA. ADA ACARA MENOMBAK KERBAU, ANJING & BABI SEBELUM HEWAN-HEWAN ITU DISEMBELIH. RU PWS ED 34/02 TA 721028 HA 34 SU KESENIAN RAKYAT ; TENGGARONG SS TENGGARONG (DI) ; HIBURAN HARI JADI


DI antara sedikit kota-kota di Indonesia yang gemar memperingati hangtahunnya, maka Tenggarong termasuk dalam daftar itu. Kota Kabupaten di Kalimantan Timur itu konon berumur antara 190 dan 192 tahun. Yang pasti di antara 2 angka itu masih diperdebatkan orang. Walaupun tanggal 22 September yang lalu sang Bupati, D.rs Ahmad Dahlan, dengan bergetar telah memukul gong, tanda upacara peringatan dimulai. Maka bergembiralah rakyat menyoraki 100 biji anak acara yang di anggap itu-itu juga tapi masih asyik untuk ditonton. Konon inilah keramaian diderah yang ingin dinikmati rakyat sewaktu-waktu kalau pembesar dari pusat tak kunjung datang.

Maka dihalaman bekas istana Sultan Kutai yang terkenal itu menari-narilah serombongan seniman alam yang baru turun dari Ulu Mahakam. Mereka membawakan tari dayak "Penolak Bala". Karena temanya adalah mengusir setan maka gerak dan langkahnya yang lincah membuat penonton seakan benar-benar sedang mengikuti gerak-gerik mahluk halus itu. Penuh dinamika dan ekspresif, kata pembantu TEMPO di sana. Para penari ini memakai jubah dari daun nipah, topeng dari kulit dan ubul-ubul bulu burung. Tarian ini di dampingi oleh tarian lainnya yang didukung oleh 10 orang memakai cawat yang cukup minim sambil menggenggam mandau di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Konon inilah lambang pertahanan. Dan keramaian begitu letihnya mengusir musuh bersama itu maka kaum wanita (dalam pakaian lengkap) dibutuhkan untuk mengipasi para pahlawan ini.

Sadis. Dua acara di atas itu termasuk yang masih berhasil mengundang kekaguman penduduk. Tapi sejumlah acara lainnya seperti adu gasing dan adu ayam honon tidak begitu menarik. Tapi kekurangan ini telah ditutup dengan permainan yang disambut dengan sorak-sorai walaupun tak kurang sadisnya. Kerbau, anjing dan babi berlari-lari di tengah-tengah padang dan ditombaki beramai-ramai. Bayangkan bagaimana sialnya hewan tadi. Lebih buruk nasibnya dari sapi-sapi yang diadu di tanah Aceh. Malah sebelumnya kerbau itu diikat dulu pada patung beluntang. Ekornya disirami minyak tanah setengah jeriken lalu disulut api. Berlari-larilah ia mencoba menyelamatkan diri dari panas bikinan tuannya. Dan dalam kepanikan hewan yang membahagiakan penontonnya itu, tombak-tombak dilepaskan ke arah perutnya. Darah bercucuran, Lama kelamaan tenaganyapun habis. Dan almarhumlah makhluk Allah ini. Barulah kini datang algojo yang lebih berdarah dingin. Kerbau itu disembelih dengan cara biasa dan dagingnya dibagi-bagikan, kepada rakyat yang sedang melepaskan lelah dari kegirangan tadi.

500 turis. Tetapi sia-sia pula orang mencari Erau, sejenis upacara peragaan alat-alat kesultanan. Meskipun bupati dahlan berusaha untuk memperkenalkannya, tetapi tidak kurang dari gubernur Wahab Syahrani sendiri berkeberatan karena salah-salah "bisa mengganggu adat Kesultanan Kutai". Menurut A.M.Parikesit, satu-satunya pewaris terakhir kerajaan itu, di masa nenek-moyangnya dahulu Erau dilangsungkan dalam pesta 40 hari dan 40 malam. Ketika Parikesit menduduki tampuk Kesultanan, upacara hanya berlangsnng 7 hari dan 7 malam. Syahdan pada kesempatan ini segala benda kebesaran seperti Gong Galoh, Tapak Leman, Sangkoh Piato dan Tali Juita ditampilkan. Malam pertama sampai ketujuh Tapak Leman dan Gong Galoh muncul untuk diinjak dan disusuri.

Giliran berikutnya menyisik Lembu Suasa, disertai tari-menari dan upacara membuang 2 ekor naga-nagaan kesungai Mahakam. "Karena itu saya tidak bertanggungjawab kalau Erau diadakan" kata Parikesit. Sebab, tata-cara itu khuus untuk menyertai penobatan para Sultan dan lebih-lebih lagi: benda-benda itu penuh dengan bobot magis. Meski begitu tidak pula sedikit sangkaan orang, bahwa peniadaan Erau erat hubungannya dengan tidak hadirnya 500 orang turis asing yang pernah berjanji kepada Pemda setempat untuk hadir pada HUT Tenggarong. Dan dengan itu pula, sia-sialah usaha penduduk untuk membenahi rumah-rumah mereka yang semula dikirakan akan jadi tempat penampungan para turis

 

HIKAYAT NENEK-MOYANG DI SANGIRAN


PENELITIAN SKETSA WAJAH NENEK MOYANG DI SANGIRAN SURAKARTA DILAKUKAN OLEH DR. GH CURTIS DARI CALIFORNIA DAN DR. JACOB DARI UGM. TERJADI PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG TIADANYA TULANG DASAR TENGKORAK. RU ILT ED 39/02 TA 721209 HA 30 SU ARKEOLOGI ; PENELITIAN ILMIAH SS PENELITIAN WAJAH ; WAJAH NENEK MOYANG


CUKUP sulit bagi orang sekarang untuk membayangkan wajah atau bentuk nenek moyangnya, yang kini disebut manusia purba. Beruntung sekali, hasil-hasil penelitian paleoanthropologi di Sangiran Surakarta menolong pembuatan sketsa para almarhum yang menurut seorang sarjana peneliti dari Universi tas California Berkeley, Dr. GH Curtis hidup pada 400.000 tahun yang lalu. ketsanya begitu sederhana. Hidungnya besar, kepala berat kemuka dan untuk itu otot tengkuk harus besar, sedang tulang-tulangnya lebih tebal dari manusia sekarang. Tapi dibanding manusia mutakhir yang isi tengkoraknya 1500 cc, manusia purba sedikit di bawah: 1100 cc. Mereka tidak memiliki dagu. Keningnya menonjol, otaknya berukuran kecil dan giginya serba besar--disebabkan makanan yang serba keras, hingga mulut nampak maju kedepan. Dalam hubungan dengan manusia sekarang Dr. Jcob dari Universitas Gajah Mada dan Kepala Proyek Penelitian Anthropologi Nasional menjelaskan: "Kemajuan dalam memasak makanan, sehingga tak terasa keras lagi, mengakibatkan gigi manusia mengecil, bentuk mulut berobah dan otak bertambah besar.

Dibolongi. Tapi, yang masih menggoda pikiran para paleoanthropolog yang menyelidik rangka dan tengkorak yang ditemukan di Sangiran itu adalah: benarkah manusia purba tadi memang hidup di daerah Sangiran. Dan betulkah dugaan selama ini, bahwa mereka punya tradisi mengayau yakni memotong kepala manusia lain dan makan otaknya, Proyek penelitian ini, yang dipimpin Dr. Jacob dan beriri sejak 27 Oktober 1962, sampai sekarang belum bisa menentukan daerah hidup mereka yang pasti--walaupun Dr. Jacob yang sekaligus menjabat Kepala Seksi Anthropologi Ragawi di fakultas Kedokteran UGM itu memberi harapan: "antara 5 sampai 10 tahun lagi tempat yang pasti bakal diketemukan". Masalahnya memang berada di luar pikiran awam, yang lumrahnya memastikan tempat penemuan tengkorak atau rangka sebagai tempat jenazah dikubur. Padahal menurut dokter asal Aceh yang jauh lebih sibuk bergaul denran tengkorak-tengkorak kuno dari pada mengobati pasien itu, lahar gunung api atau banjir dari sungai-sungai yang terdapat di sekitar Sangiran bukan tidak mungkin telah membawa tulang-tulang si jenazah dan mendamparkannya di daerah Sangiran. Pun, kecurigaan terhadap Sangiran sebagai tempat hidup manusia purba diperkuat oleh kenyataan bahwa sampai sekarang--dalam proses penggalian bertahun-tahun di Sangiran belum pernah diketemukan peralatan hidup manusia purba, seperti alat memasak, menyimpan air atau senjata untuk berburu dan membunuh. Peralatan-peralatan semacam tadi justru diketemukan di Pacitan, yang sudah termasuk daerah Jawa Timur. Walaupun begitu, ini tidak berarti bahwa kini bisa segera disimpulkan bahwa Pacitanlah tempat manusia purba tadi. Sebab, sekali lagi, pemindahan oleh lahar dan banjir bisa juga telah terjadi pada peralatan-peralatan itu. Dan kini, para anggota dari proyek penelitian yang hidup dengan anggaran tahunan P & K sebesar Rp 1 juta itu - di samping bantuan beberapa yayasan luar negeri--sedang bekerja keras memecahkan teka teki ini antara 5--10 tahun mendatang. Demikian mereka berjanji.

Berbeda dengan masalah itu, dalam hal ada-tidaknya tradisi mengayau pada manusia purba, terjadi pertengkaran fikiran antara para aleoanthropolog Amerika dengan Dr. Yacob, satu-satunya paleoanthropolog orang sini. Ahli-ahli Amerika berpendapat bahwa manusia purba -- termasuk yang diketemukan di Sangiran--adalah manusia yang kejam dan kanibalistis. Sebagai alasan: sebagian besar tengkorak yang diketemukan tidak lagi memiliki tulang-dasarnya. Sekedar gambaran bisa dicatat: dari 12 penemuan tengkorak dan tulang sejak 1960 di Sangiran, cuma sekali diketemukan tulang atau kepingan dasar tengkorak. Ini menunjukkan--kata para paleoanthropolog Amerika--bahwa kepala mereka telah dipecah atau dibolongi melalui bagian tulang dasarnya, dan otaknya diambil untuk dilahap.

Membikin bom. Tidak demikian jalan fikiran yang melintas dalam otak Dr. Yacob. Bagi dia, tiadanya tulang dasar tengkorak tadi disebabkan oleh lemahnya sang tulang - hingga mudah rusak alias tidak tahan waktu. Ditambahkannya: tidak satupun dari tengkorak yang diketemukan di Jalan Kopi daerah Roa Malaka Jakarta (TEMPO 28 Oktober) yang masih memiliki tulang dasar tengkorak. Padahal waktu itu, zaman Kompeni Belanda, tidak ada tradisi mengayau di Jakarta. Di samping itu menurut Yacob, kenyataan lain perlu dicatat: bahwa manusia purba cukup bekerja dua jam untuk keperluan makan sehari--sehingga rangsangan untuk saling membunuh tidak ada. Walaupun di sini tidak diterangkan kemungkinan mereka saling membunuh karena sebab-sebab lain - misalnya rebutan isteri atau kepemimpinan kelompok, Dr Yacob menambahkan juga alasan, bahwa manusia-manusia purba hidup dalam kelompok kecil sekitar 25 orang--seperti juga suku Tusaday yang diketemukan masih hidup di Mindanao Filipina tahun yang lalu. "Kalau mereka hidup seperti yang disangka ahli-ahli Amerika, tentu mereka cepat habis", kata Dr. Yacob ketika memperingati 10 tahun proyek yang dipimpinnya pada akhir Oktober.

Dan rupanya, Yacob yang sudah lama bergaul dengan tulang-tulang manusia purba, memang tidak rela orang menuduh mereka kurang berbudaya atau bersifat kejam dibanding manusia modern. "Belum tentu", katanya. Setidak-tidaknya - sambil bergurau: "manusia purba belum pernah memalsukan cek atau membikin bom".

 

JANDA BERHIAS, BABI TENGKUREP


DI BALI ROOM HI DIADAKAN KONTES MASAKAN SE-SUMATRA DENGAN KOORDINATOR NELLY ADAM MALIK. DIIKUTI OLEH PESERTA DAN DIDUKUNG DEWAN PARIWISATA, BERTUJUAN UNTUK MENGINTERNASIONALKAN MASAKAN TRADISIONAL. RU ILS ED 41/02 TA 721223 HA 34 SU FESTIVAL MASAK SS HOTEL INDONESIA (DI)


KONTES masakan se Sumatera berjalan terus, meskipun di beberapa daerah orang-orang pada antri beras. Itu konon demi PATA, yang jadwalnya semakin dekat. Sebab, kalau ada kontes kecantikan untuk pariwisata, apa salahnya makanan juga turut diperlombakan. Diikuti oleh delapan daerah--sedang Sumatera Barat turut dalam tiga meja lomba, dua di antaranya diwakili restoran Padang di Jakarta--kontes yang mendapat dukungan Dewan Pariwisata ini dilangsungkan awal-Desember.

Tidak cukup itu saja, lomba masakan direncanakan nantinya akan diselenggarakan pula di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia, secara giliran. "Kontes bukan saja akan mengemukakan makanan tradisionil, tapi juga dicoba diinternasionalkan", kata Nelly Adam Malik yang menjadi Ketua Koordinator. Maksudnya, bukan hanya disesuaikan dengan lidah orang daerah. Sebab nantinya disuguhkan pula kepada turis luar negeri. Jadi kalio atau tekwan atau tempoyak itu mesti yang di-belanda-kan. Adapun penilaian, seperti dikatakan Nursiah Kartakusumah yang jadi wakil Nelly, akan dititik-beratkan pada tiga syarat. Keserasian dalam menghidangkan makanan, aroma yang bisa membangkitkan nafsu makan, dan rasa.

Merry widow. Nah, banjirlah segala macam makanan itu. Aceh, yang rasa makanannya asam manis, ada menampilkan nasi minyak. Nasi yang dicampur delima dan kismis, konon jadi makanan kebesaran daerah itu. Di antara sekian banyak macam hidangan terdapat pula roti cane yang biasanya cuma ditemukan di restoran India. Masakan Sumatera Barat dengan selera asin pedas tentu tidak asing lagi. Gulai, kalio atau rendang bisa dibeli biar di Tokyo sekalipun - karena urang awak dalam perkara perut telah berekspansi di mana-mana. Sumatera Utara menampilkan nasi ulam, yaitu campuran nasi, telur terubuk, ikan daing dan 15 macam daun-daunan yang diiris halus.

Selanjutnya, Palembang, Jambi dan Bangka Biliton mempunyai kesamaan rasa, biarpun masing-masing punya kekhasan. Daerah pantai yang selalu kaya ikan laut ini condong pada rasa asam manis. Bengkulu, yang pada kesempatan itu mengeluarkan semua makanan - mulai dari bahan sarapan sampai makan malam - tidak lupa mengeluarkan lutupe Bangkahulu-nya yang ternyata tidak seserem seperti dibayangkan bila orang bicara perkara pukul-memukul. Tidak lebih besar dari ketupat Jakarta. Ada pula hidangan yang bernama jando berie (janda berhias). Ketika salah-seorang juri -- bangsa asing - menggunakan nama itu makanan, cepat dijawab oleh yang jaga: "Merry widow cake" Kue ini tidak lain cuma pisang muda direbus, diberi kelapa dan gula merah.

Gulai anjing. Dari 11 peserta yang memenuhi ruangan Bali Room Hotel Tndonesia, tampaknya cuma Tapanuli yang paling siap. Dalam segala hal. Disokong banyak backing seperti karya wan Panggabean (importir mobil Piola). Pardede, Panggabean (jenderal), makanan yang disajikan cukup terarah dan tidak terlalu banyak. Menu yang sudah dicetak rapi dan indah, lengkap keterangan dalam bahasa Inggeris, siap dibagikan kepada siapa saja yang minta. Tidak urung pilihan nomer satu jatuh pada masakan Tanah Batak ini.

Itulah peserta satu-satunya yang menghidangkan babi panggang tengkurep. Mungkin pula, di antara makana yang digelarkan ada pula terselip sak sang, gulai anjing yang juga digemari orang Manado. Tapi entahlah, saksang tidak terdapat dalam menu. Ada pula gulai rumput danau Toba yang kalau kena lidah bukan orang Batak seras, rumput setengah matang saja. Susu kerbau yang dikeraskan, disebut dali horbo na diarsik, rupanya makanan kehormatan yang bisa dijadikan sop atau lauk lainnya.

Santai saja. Untunglah juri yang lima orang itu - dua di antaranya orang asing -- tidak menjatuhkan palu juara pertama pada dua restoran yang juga turut berlomba. Karena sebenarnya kurang layak untuk diperlombakan antara tkang masak profesionil seperti restoran dengan perkumpulan masak ibu-ibu. Dan nomer duapun tiba pada pilihan Sumatera Barat.

Mari herfikir sedikit mewah: akan berhasilkah makanan daerah diinternasionalkan? Sedang dua restoran di Jakarta yaug mencoba menawarkan restoran Padang dengan gaya makan ala Hotel Indonesia, akhirnya bangkrut karena langganan tidak cukup banyak muncul. Orang Melayu atau orang asing sekalipun justru lebih afdol duduk di restoran Padang biasa. Gaya nongkrong dan makan tanpa garpu-pisau, tampaknya tetap banyak pengikut. Sebab hidup ini 'kan santai saja?.

 

PANDAN UNGGUL


ANYAMAN PANDAN DARI RAJA POLAH TASIKMALAYA TERKENAL. DAERAH INI TAK BISA MEMENUHI PERMINTAAN LUAR NEGERI KARENA KURANGNYA BAHAN. AREAL TANAMAN PANDAN SEMPIT. BUPATI SETEMPAT TURUN TANGAN MENGATASI. RU ILS ED 33/02 TA 721021 HA 30 SU PANDAN ; TASIKMALAYA SS TASIKMALAYA (DI) ; ANYAMAN PANDAN ; TANAMAN PANDAN


LANGKAH-LANGKAH diplomatik yang, dilancarkan RRT akhir-akhir ini rupa-rupanya telah berhasil mendatangkan rasa cemas bukan saja bagi negara Soviet, tapi juga penganyam-penganyam pandan di daerah Tasikmalaya. Kecemsan itu timbul karena tahu bahwa di Benua Naga yang sekarang makin kelihatan manis itu, orang memakai pula pandan sebagai bahan anyaman, Ban "kami sudah melihat buatan mereka, mutunya sangat balk", kata Nyonya Ai Sutarmo, Direktris CV Pitaloka Tasikmalaya.

Imik. Anyam-anyaman pandan memang sudah menjadi pekerjaan hampir sebagian besar penduduk di sand. Apalagi sekarang, bukan cuma topi saja yang bisa dibuat dari pandan, barang-barang seperti map, tas kosmetik, sandal, dompet, hiasan Dinding, sampai taplak meja, baki serta karpet bisa juga dibuat dari pandas. Dan pembelinyapun bukan lagi cuma pak Sarmin yang kepanasan menjajakan minyak tanah, tapi kulit-kulit putih dari berbagai negara tertarik pula dengan barang pandan ini. Dengan meningkatnya permintaannja. nyaman pandan ini, ributlah para pengusaha di Tasikmalaya, karena pandas yang ditanam terrnyata sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan-lagi. Banyak pesanan pesanan yang datang dari para importir di kota-kota seperti St. Louis. Bonn, Madrid, Wellington, Melbourne. Sidney serta Paris terpaksa tak terpengaruh, kaena langkanya bahan baku. "Bayangkan saja, ditahun 1971 yang lalu, dari pesanan 150:000 losin-topi, yang terpenuhi cuma sepersepuluhnya kata nyonya Ai lagi dengan nada kecewa.

Soalnya karena barulah di Rajapolah dan daerah sekitarnya saja pandas ditanam secara teratur. Arealnya tidak lebih dari 50 hektar. Dan hasil dari tanah yang sekian itu masih harus-pula dibagikan ke daerah penganyam seperti Gombong di Jateng dan Tangerang, yang memang nihil tanaman itu. "Tapi apa memang cuma sekian tok pandas yang tumbuh di seputar daerah tukang-tukang anyam itu? Intik Suparmo, yank adalah tokoh dalam hal pertopian pandas di Rajapolah; jelas tidak bisa membenarkan anggapanmacam, begitu. Sebab sebenarnya, ada ribuan hektar pandan yang tumbuh seenak perut sendiri di pesisir-pesisir Samudera Indonesia. Kalau ini bisa dimanfaatkan, maka apa yang dibilang sebagai kekurangan bahan bakarpun tidak perlu terjadi. Dan, seperti kata Imik pula, "Semua pesanan yang meliputi nilai tidak kurang dari 77.000 dollar Amerika setiap tahunnya itu pasti akan bisa terpenuhi".

Terpenuhi atau tidak, yang jeIas, pohon yang tumbuh semau gue seperti yang terdapat di pantai selatan, Tasikmalaya dan Ciamis itu keadaannya memang tidak menggembirakan, apalagi bila dibandingkan dengan pohon pandas Rajapolah yang tumbuh dengan ditimang-timang penuh kasih sayang. Hingga yang terjadi di daerah dengan penduduk yang sama sekali tidak tertarik dengan kerja anyam-menganyam ini, adalah, rusaknya pohon-pohon kelapa, karena tumbuhan pandan yang morat-marit itu telah digunakan sebagai sarang oleh hewan-hewan perusak kelapa seperti bajing.

Ayaran. Disamping semua kesuraman itu, menarik pula ikhtiar Bupati Tasik Husein Wangsaatmaja untuk memanfaatkan tumbuhan pandan yang ada di beberapa tempat seperti Taraju, Karanguggal, dan Sukaraja. Kalau raja bisa berhasil supaya Bupati ini, maka seorang penganyam dengan 1 hektar halaman pandan, boleh mulai mengharap munculnya kekayaan. Sebab diperkirakan dalam tiap 1 ha tanah, dapat ditanami kurang lebih 10.000 pohon pandan. Sedang pengambilan dan sebagai bahan anyaman dilakukan 2 bulan sekali masing-masing 6 helai perpohon. Selama 1 tahun dari tanah seluas itu akan bisa dipetik 360 ribu helai daun. Sedang dari setiap 1000 helai bisa didapat 6 kg "ayaran". Dan bila tiap kg ayaran Rp 80, maka setahun seorang tukang ayar akan bisa, mengantongi uang sejumlah tidak kurang dari Rp 172.000. Baru-baru ini Jawatan Perindustrian Aceh, Riau Ban Irian Barat telah mengirim beberapa orang utusan untuk belajar cara anyam-menganyam ke Rajapolah, karma di daerah mereka terdapat juga tumbuhan pandan yang subur, tapi tidak ada tenaga yang bisa memanfaatkannya. Dan kalau di daerah lain orang mulai terpikat untuk menganyam pandas, kenapa di Tasik sendiri pandan yang tersedia tidak mau memanfaatkannya.

 

TENGKORAK-TENGKORAK CINA


PULUHAN TENGKORAK MANUSIA DITEMUKAN DI JL. KOPI JAKARTA KOTA. DIDUGA ITU ADALAH TENGKORAK ORANG CINA YANG DIBUNUH PADA TAHUN 1740 OLEH BELANDA YANG DIKENAL SEBAGAI GEGER PECINAN. KONON 10.000 CINA TERBUNUH. RU ILM ED 34/02 TA 721028 HA 49 SU TENGKORAK SS JAKARTA (DI) ; TENGKORAK CINA


TERSEBUTLAH dalam riwayat: kira-kira 10.000 orang Cina - tua, muda, perempuan, bayi telah dibunuh dalam suatu operasi pembantaian di daerah Roa Malakka, Batavia, oleh fihak Belanda pada 9 Oktober 1740. Peristiwa yang lebih di kenal dengan sebutan geger pecinan ini terjadi di masa kekuasaan kongsi dagang Belanda atau VOC dengan Adrian Valckenier sebagai Gubernur Jenderal. Mendadak, 232 tahun kemudian, atau awal Oktober lalu, beberapa penggali lobang fondasi dari rencana pembangunan sebuah toko bertingkat dijalan Kopi 2A di daerah Kota, Jakarta, menemukan beberapa tengkorak. Tak ayal lagi Dinas Museum & Sejarah DKI Jakarta serta Lembaga Purbakala & Peninggalan Nasional segera datang. Dan temyata hasil-hasilnya memang menarik. Penggalian antara 3 sampai 13 Oktober itu berhasil memperoleh 83 tengkorak manusia, serta tulang-tulang tubuh lain yang belum dihitung jumlahnya. Yang menarik untuk dicatat pada 10 lobang penggalian yang, memendam tengkorak atau rangka ini terdapat pula rantai-rantai besi, borgol, uang logam serta benda-benda keramik Cina. Sebagian rangka dalam keadaan terbekuk - kepata bertemu kaki sedang yang lain banyak tertusuk paku sehingga memberi kesan disalib. Bagaimanakah asal mula penjagalan besar-besaran itu? Benatkah tengkorak-tengkorak tadi merupakan bekas-bekas peristiwa yang diceritakan? - Kapal ditenggelamkan. Dikisahkan, dalam buku-buku sejarah berbahasa Belanda yang sudah kuning, bahwa Gubernur Jenderal JP Coen yang mulai membangun Batavia pada 1619, melihat posisi strategis Batavia tan mencitacitakannya sebagai kota dagang nan ramai. la berusaha menarik hati orang-orang Cina di. Banten tan lain-lain agar mau pindah ke situ. Di masa belakang, terjadilah yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Ternyata jumlah orang Cina di Batavia sudah mencapai puluhan ribu. Pejabat Belanda Reverhost bahkan memperkirakan jumlah 80.000. Ini sangat mencemaskan pimpinan VOC, tan karenanya diumumkanlah satu ketetapan pada awal abad 18, bahwa imigrasi Cina dari Tiongkok dibatasi paling banyak 100 orang per kapal. Demikian pula arus masuk dari kota-kota lain. Sekalipun begitu pelanggaran masuk sering terjadi. Akibatnya pengangguran Cina-Cina yang cukup besar bilangannya mulai melahirkan kegawatan-kegawatan sosial. Misalnya pengacauan jalan Bekasi-Tanjung Priok oleh 100 Cina, atau percobaan membunuh penjaga-penjaga rumah tahanan untuk membebaskan sahabat-sahabat sesama Cina, pada awal 1740 yang sebenarnya disebabkan oleh keputusan-keputusan pihak Belanda yang melarang orang-orang Cina mencari pekerjaan atau membuat warung atau toko di desa-desa.

Sementara kekacauan-kekacauan Cina terus terjadi pada 25 Juli 1740 sidang dewan tertinggi penguasa Belanda mengeluarkan maklumat yang membikin geger orang-orang Cina di Batavia. Cina-cina penganggur akan dibuang ke Banda, Srilangka dan Tanjung Harapan. Afrika. Sedang sebagian lagi, termasuh yang sudah bekerja, bakal dipulangkan ke tanah leluhur - sementara di sana sendiri sejak 1712 dalam dinasti Yung Ching berlaku pules satu maklumat larangan kembali ke tanah Cina, dengan ancaman hukuman mati. Ini kepanikan di kalangan Cina tambah diperpanas oleh berita-berita burung, bahwa kapal-kapal pengangkut Cina-Cina buangan ini sengaja ditenggelamkan Belanda di tengah laut atau, kalau tidak, orang-orang Cina dalam kapal tadi dilempar ke laut.

Sangat edan Tak pelak lagi, orang-orang Cina jadi murka tak hanya yang di Batavia, tapi juga kota-kota lain di Jawa. Maka dari luar Batavia mereka berbondong menuntut balas. Mereka berharap bisa bergabung dengan teman-teman di datam kota yang sudah siap melancarkan pemberontakan. Melihat gelagat ini Gubernur Jenderal Valckenier, yang memerintah sejak 1737, pada 9 Oktober 1740 mengajukan dua usul pilihan pada sidang tertinggi VOC: membersihkan orang-orang Cina dari dalam kota atau sekedar memberi ciri-ciri khusus pada rumah-rumah Cina untuk pengawasan. Sidang memilih yang kedua. Walau begitu pada hari itu juga Valckenier melihat: Cina-Cina dalam kota telah bergabung dengan penyerang-penyerang luar kota dalam pemberontakan. Valckenier yang merasa kewalahan kemudian mengambil keputusan yang sangat edan. Seluruh Cina di Batavia harus dibunuh. Rumah-rumahnya dimusnahkan. Dan terjadilah pembantaian masal, di sekitar Kali Besar daerah Roa Malakka, Batavia, Kanon-kanon menembaki perkampungan Cina di situ dari seberang sungai Kali Besar. Pasukan-pasukan Belanda menyerbu membakari rumah, memancung dan menembak setup Cina yang diketemukan. Disiksa, diseret dan dilempar ke sungai. Perempuan, anak-anak, amoi-amoi yang genit, orang-orang tua jompo, sama rata sama rasa. Sementara jeritan maut terdengar di seluruh sudut Batavia, di sungai Kali Besar ratusan mayat merobah warna air dengan darah. Inilah geger pecinan yang kemudian, dimasa belakang, menarik sarjana Johannes Theodorus Versemen untuk mengungkapnya dalam satu desertasi doktor di Universiteit Leiden pada 1938: "De Cineezen to Batavia en de Troebelen vary 1740 Tak ada keterangan sangat pasti berapa ribu Cina yang terbunuh dalam penjagatan 9 Oktober 1740 ini - walau kebanyakan orang memperkirakan jumlah 10.000.

Seperti itu juga, sebenarnya belum ada pemastian secara ilmiyah, bahwa yang diketemukan dalam penggalian-penggalian ini daerah Kota kemarin memang sebagian korban-korban pembunuhan itu. Walaupun dua sarjana Australia dari Nederland yang menjenguk ke Jalan Kopi 2A itu menguatkan dugaan tersebut. Kepala Arkeologi Islam dari Lembaga Purbakala Drs. Uka Candrasasmita menganggap "perlu diselidiki lebih cermat karena pendapat dua sarjana tadi mungkin kurang teliti".

Dan yang diharapkan mengadakan penyelidikan seteliti mungkin adalah Dr: Yacob MD, satu-satunya palaentolog Indonesia - yang merintis dan memimpin proyek pleo anthropologi di Indonesia dan ketua Seksi Anthropologi agawi Fakultas Kedokteran UGM. Doktor asal Aceh ini bakal meneliti atas dasar metode-metodenya, tentang ada-tidaknya hubungan antara dua peristiwa yang terpisah 232 tahun: pembunuhan di tahun 1740, dan penemuan tengkorak-tengkorak di tahun 1972.

 

YANG MEREPET DAN YANG SILAP


RAMLAH, 20, PENDUDUK KAMPUNG SUKARAMAI, TAKENGON, ACEH DIBUNUH ADIK KANDUNGNYA, TS, 14 TAHUN. MAYAT RAMLAN DISEMBUNYIKAN DI KEBUN KOPI. TS MERASA KHILAF KARENA KAKAKNYA SELALU MEREPET. RU HK ED 12/02 TA 720527 HA 28 SU PEMBUNUHAN SS ADIK KANDUNG (PELAKU) ; RAMLAH (KORBAN)


DJELASNJA memang gara-gara sebuah djarum Ts, 14 tahun dari Kampung Sukaramai, Takengon, Atjeh, pada suatu hari ditahun jang silam memindjam benda tersebut dari Ramlah (20 tahun), kakaknja. Entah bagaimana, tiba-tiba benda ketjil itu dihilangkan Ts - dan si kakakpun djadi merepet-repet. Ts masih terus berusaha kesana kemari, tapi dasar pangkal bala; tak ketemu djuga. Dan untunglah, selang beberapa hari urusan djarum djahit jang hilang ini mendjadi berselang dingin.

Tapi beberapa hari kemudian. Waktu itu kedua orangtua mereka sedang pergi ke kebun dan tinggallah Ts bersama kakaknja. Kebetulan ada seekor ajam jang masuk kedapur. Ts segera mengusirnja, tapi binatang itu bukannja langsung keluar - topi masuk kedalam kamar si Ramlah. Dan ini rupanja bagaikan bensin jang tersiram keapi ketjil: si kakak mendjadi marah dan - mungkin kebiasaannja - merepet-repet lagi. Dan kemungkinan bala besar bagi keluarga itu tak akan terdjadi bila sikakak tak membangkit-bangkit lagi soal djarum hilang jang sudah mendingin tadi. Itulah sebabnja, Ts agaknja kemudian merasa ada alasan untuk naik pitam ketika dia mendengar repetan itu berkisar lagi pada soal djarum.

Stagen. Begitulah: untuk mendiamkan mulut kakaknja jang meritjau berkepandjangan, Ts mengambil tjangkul dan langsung menjerbu kakaknja jang perempuan tadi. Dikamar itu djuga si kakak menggeletak. Di hantamkannja lagi muka sikorban berkali-kali. Belum djuga puas, Ts keluar mengambil kaju petai dan menghundjamkannja kedada gadis ini berkah-kali hingga tak bersuara lagi. Belum djuga luntur kadar pitam anak jang belum akil balig ini, karena kemudian ia menarik badju dan kain Ramlah, sehingga jang terachir ini mendjadi telandjang. Nah, pada waktu itulah, Ts. baru sadar akan perbuatannja.

Dia berlutut mendekati kakaknja jang telah tak bernafas dan lebih dari itu, menangis sedjadi-djadinja. Waktu itu menurut Ts, dia takut sekali kepada bapak dan ibunja, djangan-djangan bapaknja akan memukulnja sebagaimana dia telah memperlakukan kakaknja.

Perasaan jang amat kuat inilah jang menjebabkan Ts segera mengambil tindakan untuk menjembunjikan majat kakaknja ini dikebun kopi. Dan karena tak mampu mengangkat majat sendirian, Ts memakai stagen korban dan begitulah sampai kekebun. Disitu Ts, segera menggali lobang sedalam 1 meter.

Petai. Temjata tjerita Ts tak berbeda dengan apa jang diuraikan oleh djaksa A.K. Akil pada sidang-sidang Pengadilan Negeri di ibukota salah satu Kabupaten di Atjeh itu tanggal 13 Maret 1972 jang lalu. Disamping itu penuntut umum menambahkan bahwa menurut pemeriksaan, majat diketemukan pada tanggai 11 Djuni 1971 djam 11 dalam keadaan jang sudah membusuk. Sebelumnja orangtua Ts bersama orang-orang kampung telah berusaha djuga mentjari dengan minta bantuan Ts - tapi pada saat itu Ts hanja menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis tak habis-habisnja, Menurut orang-orang kampung. mungkin djuga Ts bersedia karena telah kehilangan kakaknja. Sebab temjata ketika majat ini diketomukan, Ts mendjerit sedjadi-djadinja dan mengaku bahwa dialah jang telah memukul kakaknja. Djuga, seperti jang dikatakannja kepada TEMPO: "Saja silap, saja silap," - dengan nada jang pandjang. "Kakak ini adalah kakak jang sangat saja tjintai, diapun baik sama saja, tapi entah kenaapa dia sampai hati merepet hingga saja silap. Saja kepingin pulang untuk djumpa sama ibu dan ajah."

Sampai berita ini diturunkan belum diketahui nasib lebih landjut dari anak silap karena kakak merepet ini. Akan tetapi seperti jang dikatakan oleh Musa Sari SH, Kepala Kedjaksaan Negeri Takengon kasus ini adalah kasus-luar biasa jang pernah terdjadi di Atjeh Tengah, Dikatakan bahwa dalam tahun 1970-1971 kriminalitas didaerahnja amal minim, jaitu hanja 34 buah perkara jang terdiri dari kedjahatan ringan dan pelanggaran, sedangkan pembunuhan barulah jang sekali ini.

Jang agaknja bisa diperkirakan, sidang peradilan jang dipimpin oleh hakim ketua Hadi Lubis SH, betul-betul akan berdjalan sederhana. Terdakwa mengaku terus terang, saksi-saksi jang tudjuh orang mengaku sebagai penemu majat dan dimedja hakim terdapat alat-alat bukti tjangkul dan kaju petai.

 

GUGUR BUNGA


PRODUKSI KOPI SUMATERA SELATAN MENURUN. POHON KOPI KURANG LEBAT BERBUAH. BANYAK BUNGA YANG RONTOK DILANDA HUJAN. BANYAK PULA UMUR POHON KOPI YANG SUDAH TUA. PEMETIKAN BIJI PUN SUATU KESULITAN. RU EB ED 28/02 TA 720916 HA 37 SU KOPI SS SUMATERA SELATAN (DI)


SEBAGAI juara penghasil kopi, Sumatera Selatan memiliki persamaan dan perbedaan dengan daerah Lampung sebagai runner-up". Di kedua daerah itu kebun-kebun kopi diusahakan, ditanam dan dimiliki seluruhnya oleh rakyat. Sedang perbedaannya terletak pada areal tanaman kopi yang lebih senang tumbuh di daerah perbukitan Sumatera Selatan, tapi di Lampung tanaman kopi tersebar di dataran rendah. Dari kedua propinsi tersebut dihitung-hitung produksi bersama bisa mencapai 77.000 ton. Ini berarti 7.000 ton lebih banyak dari jatah MEK ICO yang tersedia. Jadi sesungguhnya, minus produksi kopi di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, serta Sumatera Utara bersama Aceh dan lain-lain daerah kopi kecil, produksi 70.000 ton setahun kalau dikehendaki sudah cukup untuk mencapai sasaran jatah ekspor.

Kini setelah dikurangi sekitar 30.000 ton konsumsi kopi dalam negeri, Sumatera Selatan ternyata masih jempolan dalam hal surplus kopinya. Dari data-data yang dikumpulkan, produksi kopi di Sumatera Selatan mencapai 46.900 ton di tahun 1971. Sedang seluruh ekspor ke negara-negara kwota dan non kwota ketika itu hanya 20.162 ton ditambah konsumsi 2.000 ton. Maka jumlah kelebihan 24.373 ton-atau sekitar 80% dari surplus kopi Indonesia menumpuk di gudang-gudang Sumatera Selatan.

Ajaib. Untuk melemparkan kelebihan produksi semenyolok itu tidak ada lain jalan tampaknya kecuali mengarahkan pandangan kedalam negeri. Salah satu cara yang ditempuh para eksportir adalah perdagangan antar pulau dan antar daerah yang dianggap masih butuh kopi. Namun keterbatasan pasaran dalam negeri untuk menampung kelebihan kopi itu akhirnya hanya membuat para petani tambah masgul: biji-biji kopi masih banyak tersisa di tangan petani dan di gudang pedagang kopi. Dan ketika tangan-tangan pedagan antar pulau tidak aktip lagi memindah-mindahkan karung-karung kopi, akibatnya harga komoditi tersebut meluncur turun.

Tapi musibah harga kopi di Sumatera Selatan kadang-kadang bisa membawa sedikit keajaiban bagi Lampung tetangganya. Meskipun di tahun kemarin produksi dan ekspor kopi Lampung boleh dibilang jatuh pas-pasan saja, ada terjadi semacam "boom" yang membuat orang geli di tahun 1969. Ketika itu ekspor hopi yang berasal dari daerah lada itu sampai 40.500 ton. Sedang produksi tidak meliwati 27.000 ton. Dari mana munculnya 13.500 ton kopi? Tentu saja selisih jumlah itu disedot dari alam snawi. Dan ketika ketimpangan seperti itu dilaporkan gubernur Sumatera Selatan 4 tahun lalu liwat Menteri Dalam Negeri Amirmachmud nampaknya keadaan masih tetap begitu.

Rontok. Sementara itu di tengah hingar bingarnya surplus kopi, sebuah sumber resmi malah membanggakan bahwa Sumatera Selatan pernah mencapai rekor produksi kopi 50.000 ton, meskipun di tahun-tahun kemarin kian susut tinggal 46.900 ton. Mengapa merosot. Sejak tiga tahun lalu para petani kopi merisaukan pohon-pohon kopi tidak lebat lagi berbuah. Setiap panen usai dikeluhkan hasilnya semakin berkurang. Di Oku, daerah kopi nomor satu di sana, pedagang pengumpul di kota Muara Dua dan Baturaja bukan saja menampung biji-biji kopi. Tapi menyimak pula keluhan para petani kopi, yang kemudian dikutip sebagai hasil produksi yang berkurang. Lebih kentara lagi ketika tiba musim panen, di mana produksi memang nyata kembali kebawah. Di kabupaten Lahat, kecamatan Tanjung Sakti, sebagian kebun kopi di sana beruntung punya 4 gugus buah dalam satu dahan", kata Mohamad Djasim. Sekalipun bukan bidangnya, Kepala Diperta Kecamatan kota Pagaralam itu sedikit banyak tahu gambaran keadaan sebenarnya. Di Padang Karet yang dulunya memiliki perkebunan kopi, areal tanaman yang biasanya menghasilkan 14 karung, sejak tahun kemarin susut tinggal 8 karung. Dan tahun ini? "Cuma dapat memetik sebanyak 4« karung keluh seorang petani.

Apa yang menyebabkan pohon kopi kurang lebat berbuah? Sementara petani menunjuk pada bunga-bunga kopi yang rontok dilanda hujan, ketika pohon kopi putih berkembang. Tentu saja ini tidak serupa dengan serangan hama kopi di Brazil. Namun hasil panen kopi akibatnya tidak memadai. Di kabupaten Lahat dari 31.000 hektar luas tanaman kopi, ada 11.479 hektar atau kira-kira 37 pohon kopi yang berumur antara 1 5 tahun. Sejumlah 16.133 hektar atau 52% lainnya mencapai usia 5 sampai 10 tahun. Dan lebihnya seluas 3.414 hektar atau 11% pohon kopi berumur 11 tahun keatas. Yang terakhir ini kurang produktip. Sedang pohon-pohon kopi yang tua renta itu ada yang berumur sampai 22 tahun. Selain tidak produktip, ada kesulitan lain di sini: untuk memetik biji-bijinya orang memerlukan tangga setinggi 5 meter.

 

BARANG SENI YANG ILAHIAT


MTQ NASIONAL V DIBUKA DI JAKARTA. JUMLAH HADIRIN TAK ISTIMEWA. BERBAGAI JENIS LAGU PUNYA LATAR BELAKANG TRADISI YANG BERBEDA. SEMUANYA MENUNJUKKAN KEKAYAAN SENI BACA QUR'AN. RU AG ED 30/02 TA 720930 HA 30 SU MTQ NASIONAL V SS PEMBUKAAN


TIDAK sukar untuk menebak, mu'jizat apa yang telah menarik bondongan kaum muslimm yang memenuhi Istana Olah Raga Senayan. Sejak Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional ke-V dibuka Sri-Sultan Hamengku Buwono IX (dan bukan Presiden Soeharto), sampai seluruh acara berakhir hari SeIasa kemarin, Stadion Utama dan Istora penuh hadirin. Seratus buah perahu layar dari Bugis, masing-masing sarat penumpang, berpayah-payah menyeberangi Laut Jawa ketempat ini. Dari Sumatera Utara dun dari daerah-daerah lainpun kaum muslimin tumpah di ibukota. Maka syi'ar yang ditimbulkan acara ini cukup menggelombang dalam udara metropolitan walaupun untuk ukuran kota seperti Jakarta jumlah hadirin sebenarnya tidak terlalu istimewa, tidak seperti MTQ-MTQ yang lalu di kota-kota diluar Jawa dimana spontanitas penduduk dan jumlah hadirin berlipat-lipat lebih banyak dari penghuni kota itu sendiri. Di Banjarmasin misalnya tempat MTQ III dua tahun lampau didapat cerita bahwa saking gembiranya umat disana, banyak tukang cukur dun tukang beca menyediakan layanan cuma-cuma untuk para tamu. Dengan menolak ongkos, penduduk bemiat melakukan ibadah dan mengharap pahala. Itu diceritakan dalam buku kenang-kenangan MTQ. Disamping sumbangan bahan makanah, konon sejak jauh sebelum musabaqah berlangsung di ibukota Kalsel itu, para tukang copet sampai-sampai membuat proklamasi mengistirahatkan kegiatan selama MTQ. Benar atau bergurau, itulah cerita seorang kepala polisi di sana. Semua itu hanya berarti bahwa lagu-lagu Qur'an merepakan satu-satunya barang seni yang paling berharga bagi puluhan juta penduduk.

Kontemporer & Soul. Dan barang seni yang ilahiat itu konon pula tidak begitu bersahaja alias bukan hat mudah. Dari gelanggang Istora Senayan sendiri selama lima hari berturut-turut, telah terdengar berbagai jenis lagu yang bila ditilik dengan mata awas sebenarnya masing-masing punya latar-belakang tradisi yang berbeda-beda dan semuanya menunjukkan kekayaan senibaca Qur'an itu- Jenis-jenls melodi Qur'an seperti bayati, hijuzi, sikah, rosda atau nashwan, yang terhitung populer untuk para qari dan qari'ah di Indonesia, mengalun dan saling berbaur antara yang satu dengan yang lain. Seorang dari yang maju kedalam MTQ akan sudah menguasai dengan baik beberapa buah lagu meskipun kadang-kadang mereka hanya mengoper dari qari-qari Mesir tanpa mengetahui seluk-beluknya bagaikan ilmuwan. Demikian maka penguasaan itu memungkinkannya untuk berpindah-pindah lagu dan melakukan berbagai variasi dun improvisasi tentu saja dengan sekaligus menguasai cara-cara pindah sehingga terhindar dari kesan fals.

Maka jelaslah, dengan adanya pakem-pakem tertentu, seni-baca Qur'an bukanlah sebuah ajang untuk melahirkan ekspresi dari dalam diri sang qari atau qari'ah. Juga tidak ekspresi dari dalam kandungan ayat-ayat itu sendiri. Ia bukan jenis semacam kesenian kontemporer ataupun soal sebab, seperti misalnya dikatakan H. Syed Muhammad Assiry, tokoh yang terus-menerus menjadi juri sejak MTQ ke-I dun pernah menjurii MTQ internasional di Kuala Lumpur: "Qur'an itu adalah ayat-ayat yang dibaca dengan lagu menjadi enak, dibaca secara luruspun enak". Dengan kata lain, sudah diakui bahwa susunan bunyi yang termuat di situ sedemikian rupa sehingga ia berbeda dengan artikel-artikel bahasa Arab ataupun syair-syair tradisionil, yang hanya bagus dibaca lurus atau hanya bagus dibaca sambil menyanyi.

Bapaknya qari. Meski begitu Assiry tak lupa menyebut satu tuntutan lain. Yakni apa yang disebut tanziqut tilawah ma'al ma'na, menepatkan bacaan dengan kandungan ayat. Selain penyesuaian ini berarti seseorang diharap faham apa yang dia baca sehingga misalnya kalimat yang berarti "Maryam yang telah menjaga kehormatan (farji)nya" seharusnya dibaca lirih atau rendah pada kata farjaha, demi menjaga kesopanan kepada Maryam dan kepada Qur'an maka penyesuaian juga bisa mengarah kepada sesuatu yang berbau ekspresi dan kandungan Qur'an lewat lagu. Sehingga, kata qari kawakan dari Aceh itu: "Ayat-ayat yang berisi berita bahagia tidak akan dibaca dengan sedih dan sebaliknya". Dan tuntutan ini, bila diamat-amati, boleh jadi merupakan kecenderungan baru dalam seni-baca Qur'an yang diam-diam hidup tanpa banyak dikenal orang luar itu. Toh bisa diduga tuntutan itu tak mutlak. Sebab seorang yang berada dalam suasana khusyu'misalnya, boleh jadi membaca berita gembira dengan haru dan nyaris sedih toh, bila lagu dan suaranya memang bagus, enak juga. Hanya saja bahwa kecenderungan ekspresi itu tampak dituntut oleh "para pembaharu seni-baca Qur'an", terbukti bila qari-qari Mesir membawakan bagian-bagan Qur'an yang merupakan dialog maka disitu suara sang qari tidak hanya mengantarkan lagu yang enak, tapi juga satu suasana yang hidup dari satu paragraf Qur'an. Dan itulah antara lain yang menjadikan Mesir sebagai negeri pertama dalam bidang seni yang satu ini disamping di sana banyak terdapat suara yang disifatkan Assiry sebagai "suara berkilau-kilau bagai batu kwarza ditimpa surya".

Untuk ukuran Indonesia, seperti diakui Assiry, memang kemampuan ekspresi seperti itu sangat langka walaupun kalau mau ditilik-tilik sebenarnya terdapat juga, yakni umumnya pada qari-qari tua lebih-lebih yang sudah hafiz alias hafal seluruh Qur'an dan sudah senyawa dengan seninya. Mereka yang sudah begitu itu tidak disebut qari lagi melainkan muqri alias bapaknya qari. Akan hal suara yang berkilau-kilau ataupun jenis jenis suara surgawi lain di Indonesia, Assiry tak lupa memberi sekedar contoh dengan nama-nama (kebetulan semua lelaki) seperti Ahmad Syahid, Kholid Daulay, Abdul Aziz Muslim Salafuddin atau Muhammadon, yakni sebagian qari yang telah menjadi juara baik pada MTQ-MTQ yang lampau maupun pada KIAA di Bandung dahulu. Siapa tahu dari para pemenang yang dilahirkan MTQ ke-V ini (yang seperti yang sudah-sudah tidak diikuti juara juara yang dulu), ada yang bisa menambah jumlah pemilik suara--suara yang keemasan itu. Bagi berjuta rakyat rupanya mereka itu sungguh-sungguh jimat.

 

CARA MEMILIH LUAR-DALAM


UNTUK MENGIKUTI PEMILIHAN RATU JAKARTA HARUS MEMENUHI PERSYARATAN. SETELAH MENANG PUN HARUS MENEKEN KONTRAK. KALI INI EARLY BURHAN ALI SEBAGAI PEMENANGNYA SETELAH MENYISIHKAN 42 PESERTA LAINNYA. RU ILS ED 29/02 TA 720923 HA 24 SU RATU KECANTIKAN SS SYARAT PESERTA


MEMANG tidak dipungut uang pendaftaran. Tetapi mereka yang ingin menjadi peserta pemilihan Ratu Jakarta 1972, harus betul-betul mawas diri sebelum terjun dalam gelanggang. Pertama, setelah sekian kali berdiri di depan cermin tentunya, harus merasa yakin bahwa dia mempunyai kebolehan tampang. Kedua apakah bentuk tubuhnya memang menggairahkan. Walaupun tidak usah sehebat Sophia Loren atau Anita Ekberg, ukuran biasa untuk lomba macam begini dalam inci adalah 36--24--36 untuk dada, pinggang dan pinggul (DPP). Sudah itu masih lagi harus menjajagi apa dia punya kecerdasan berpikir, kefasihan mempergunakan bahasa asing terutama Inggeris, dan pintar bergaul secara internasional. Karena memang tidak banyak orang yang dikurniai kesempurnaan lahiriah sekaligus kecerdasan kepala.

Tapi kalau dia berhasil, pintu ketenaran menghadang hari depannya. Paling sedikit lapangan kerja seperti bintang film (entah jenis apapun), peragawati atau lainnya untuk mana unsur kecantikan atau keluwesan merupakan senjata ampuh.

DPP ideal. Berapa besar minat gadis-gadis ibukota dalam lomba cantik ini? Lebih besar dari tahun lalu. Waktu pengisian formulir, tercatat 4 peserta. Biasanya, demikian keterangan seorang panitia, Bapparda menyebar sekian banyak mak atau pak comblang untuk mencari gadis-gadis "dari keluarga baik-baik untuk dibina dalam perlombaan ini", katanya. "Sayang tahun ini kami tidak menemukannya". Tapi dengan seringnya pemilihan mis ini-itu dan malam kontes batik atau pameran pakaian Jakarta sudah pasti tidak akan kekeringan dalam hal mencari peserta model ginian.

Pada taraf ukur-mengukur tinggi tubuh (minimal 160 cm), 5 orang rontok dalam penyaringan yang oleh panitia diberi nama keren: prejudging I. Penyaringan kedua kalinya menjatuhkan satu orang, dan sampai pada acara pesta kebun muncullah 32 orang. Dari jumlah tersebut, 16 orang berhasil masuk kemalam final. Walaupun tidak punya DPP ideal, Early Burhan Ali, 19 tahun, tinggi 160 cm, DPP 35.4--26.8-35.6 dengan berat badan 49 kg, berhasil keluar sebagai Ratu Jakarta 1972. Anak Aceh Indo dan menjadi haji ketika umur 13 tahun, Early tidak mendapat hadiah runner-up II (juga Ratu Personalitas dan Ratu Favorit) harus langsung teken kontrak di Balai Kota.

Mobil seperti lazimnya ratu-ratu tahun lalu. Tapi keesokan harinya Early dengan runer-up 1 Airin (lanpa embel-embel nama lainnya) 21 tahun dan Lely Herawati Sundoro 19 tahun sebagai.

Super mi ayam. Untuk lebih mempertegas lagi: sebelum mereka terjun kegelanggang toh mereka sudah meneken persetujuan 1 pasal. Antara lain tidak boleh menikah setahun lamanya. Juga: kalau mereka dikirim dalam misi pariwisata ke dalam dan ke luar negeri tidak perlu didampingi salah seorang anggota keluarga. Sebagai gantinya dia harus setuju seorang pengiring yang akan ditunjuk Panitia sebagai orang yang cukup berpengalaman (dalam soal-soal lomba beginian) dan tepercaya. Di samping tidak boleh turut kontes kecantikan manapun di luar yang dimaui Panitia ratu juga tidak boleh melakukan usaha-usaha promosi komersiil. Pokoknya Ratu Jakarta harus di-non komersilkan. Hal ini dikemukakan oleh Wim Tomasoa sebagai Ketua Pelaksana di sebabkan lantaran takut kalau-kalau ratu atau pemenang lainnya dipergunakan penjual alat kosmetik super mi ayam atau cat rambut tahan luntur.

Sedang beberapa sponsor yang telah menyediakan hadiah cuma beruntung ditulis dalam buku acara malam final yang dicetak cukup rapih. Memang tidak ada sponsor yang menyediakan sebuah mobil baru seperti tahun-tahun lalu dan seorang anggota panitia menutupi hal ini dengan dalih "repot mengurusnya" tapi segala macam hadiah toh diterima juga. Mulai dari lemari es sampai cuma sebuah gaun malam dari beberapa butik.

Menonjol segalanya. Apa kesulitan panitia tahun ini? Uang rasanya bukan hal primer untuk Jakarta. Tapi mencari gadis yang minimal tinggi 160 itulah rupanya salah-satu yang repot. Ratu Jakarta tahun kemarin Endang Triwahyuni mengatakan di malam pesta kebun bahwa minimal tinggi peserta pada kontes internasional adalah 170. "Tapi kalau kurang satu atau dua centi boleh lah" kata Wim Tomasoa "dengan Catatan tetap tidak bisa memenangkan gelar Ratu". Persoalannya bukan untuk diinternasionalkan tapi kepada Hasantha dari TEMPO, Wim menyatakan: "Soalnya harus diadu dengan ratu-ratu dari daerah". Terutama Jakarta selama ini tidak pernah berhasil memenangkan gelar Ratu Indonesia.

Hal lain ialah sulitnya muncul muka baru dalam pemilihan beginian. Selalu itu-itu saja yang jadi langganan dan tidak jera-jera walaupun tidak menang sehingga 7 orang anggota juri dan 4 orang pembantunya sering kehabisan akal di babak final. Kata Sulaima Wiriaatmadja Wakil Ketua Pelaksana; "Sebetulnya kami terutama juri lebih senang kalau memilih ratu yang berwajah baru sama sekali". Bukan bintang lilm atau penyanyi atau langganan lomba mis-misan "yang baru tapi yang menonjol segala-galanya".

Otot perut. Syarat tubuh indah sempurna juga merupakan syarat yang baku. Walaupun Early atau peserta lainnya cukup manyadari dalam pakaian renang berwarna kuning tapi nyonya Pamudji (aktivist lomba dan dua orang anaknya turut dalam lomba ini) menyesalkan mengapa penilaian bagusnya tubuh masih di bungkus dengan pakaian renang otot perut terutama di sekitar pusar harus kencang" katanya "dan ini hanya bisa dilihat kalau peserta mengenakan bikini". Bak orang yang punya mata sinar tembus. nyonya Pamudji menambahkan: "Kalau pakai bikini pasti lebih banyak lagi yang gugur. Paling tidak 30% peserta tidak punya otot perut yang baik" dan memang. Pakaian renang model terusan bisa menutup perut yang lembek bak ubur-ubur atau kendur bak agar-agar.

Tapi bisakah Jakarta menggondol kejuaraan Ratu Indonesia bulan oktober nanti'? Ketua Bapparda Sutopo Jasamihardja menjawab pada pagi-pagi sebelum Early dinobatkan: dengan melihat calon-calon yang ada harapan tetap tipis tahun ini. "Paling banter saya rasa cuma runner-up nanti" kata Sutopo. Hal ini juga dibenarkan salah-seorang pallitia yang bernama Was Tabaqjaya: "Yang sekarang tidak sebaik tahun yang lalu. Baik Inggeris-nya maupun intelegensinya". Begitulah.

 

KREDIT PMDN-ANTARA KONEKSI DAN ...


RADIUS PRAWIRO MEMBANTAH KREDIT PMDN RP 200 MILYAR KE PENGUSAHA NON PRIBUMI. KREDIT DIBERIKAN JUGA KE PRIBUMI. MASIH ADA JURANG KETIDAKADILAN. MAKA AKAN DIADAKAN KESEMPATAN PEMUTIHAN MODAL. RU EB ED 39/02 TA 721209 HA 44 SU LAPORAN UTAMA ; PMDN SS PMDN ; EKONOMI DAN BISNIS ; COVER STORY


BENARKAH kredit dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sudah lebih dari 200 milyard rupiah jatuh ke tangan pengusaha-pengusaha non-pribumi? Berita yang mula-mula lahir dari keterangan Ir Sanusi, anggota DPR/MPR bekas Menteri Perindustrian itu rupanya seakan bahan bakar yang memancing api reaksi. Dan memang berkobar dari sana-sini, menambah tajam issue pribumi & non-pribumi yang memang merupakan masalah laten itu. Gubernur Bank Sentral Radius Prawiro tidak menunda waktu untuk segera memberikan keterangan terbuka mengenai masalah yang dihebohkan ini. Di hadapan rapat gabungan Komisi-Komisi II, IV, VI, VII dan APBN DPR hari Rabu akhir Nopember kemarin Radius seakan terperangah berkata: "Saya tidak tahu apakah itu angka resmi, angka sas-sus atau angka magic". Sebab menurut Radius, dalam statistik Bank Sentral, jumlah kredit Rp 200 milyard dalam rangka PMDN itu tidak ada. Nah, jika angka itu sendiri tidak ada, logikanya bagaimana mungkin pengusaha-pengusaha non-pribumi sudah kebagian kredit investasi sebesar yang digembar-gemborkan itu? Dan setelah membanding-bandingkan angka-angka laporan dari sana-sini, Gubernur Bank Indonesia itu boleh lah dikatakan benar, paling sedikit ia benar dalam membantah bahwa jumlah 200 milyard itu tidak ada atau belum ada. Dari catatan yan dibawanya Radius mengemukakan angka 130 milyard sebagai jumlah kredit yang telah disetujui dalam rangka PMDN, tapi dari jumlah itu baru Rp 83 milyard yang telah di realisir. Tidak jelas apakah data yang di bawa Radius ke hadapan sidang Komisi-Komisi DPR itu bukan angka yang paling akhir. Tapi Pamungkas, Ketua Sub-Panitia PMDN menyodorkan angka lain yang lebih besar yaitu Rp 10 milyard -angka mana menurut Pamungkas kepada TEMPO diperolehnya berdasarkan laporan Bank Sentral sampai Oktober 1972.

Liem Soei Liong & Herawati Diah

Laporan Bank Sentral itu menunjuk kan pula bahwa jumlah kredit dalam rangka PMDN tersebut tidaklah semuanya jatuh ketangan para pengusaha yang namanya masih ataupun pernah terdiri dari tiga suku kata. Untuk perluasan pabrik tekstilnya di Salatiga dan pembangunan pabrik tekstil Tetoron di Tangerang misalnya, PT Daya Manunggal berhasil kebagian kredit investasi 1,2 milyard. Kredit investasi sebesar Rp 1,2 milyard juga berhasil digaet oleh PT Bogasari Flour Mill, sebuah usaha kongsi antara Yayasan Dharma Putera Kostrad dengan pengusaha non-pribumi kelompok Liem Soei Liong alias Sudomo Salim, untuk pembangunan pabrik terigu di Jakarta dan Surabaya. Tapi sementara itu Herawati Diah, isteri B.M Diah pengusaha pribumi yang mulai melebarkan usahanya dari penerbitan dan periklanan ke bidang pariwisata, telah kebagian kredit investasi sebesar Rp 1,4 milyard untuk pembangunan Hotel Ambasador di jalan Prapattan Jakarta. Dan berapa yang diterima PT Astra yang kampanyenya begitu luas? Rp 250 juta, yaitu hanya sedikit di atas jumlah yang diterima oleh PT Gramedia yang mencetak Harian Kompas untuk membangun percetakan offset di Pal Merah. Dan jumlah yang didapat Astra itu konon untuk membiayai usaha kongsinya dengan Departemen Perindustrian menghidupkan kembali PT Gaya Motor, sebuah bekas PN yang nyaris bangkrut. Jumlah bersama yang didapat Astra dan Gramedia itu masih dibawah jumlah kredit investasi yang diperoleh Bakri Brothers untuk menghidupkan pabrik-pabrik karet bongkah dan usaha-usahanya yang lain. Tapi nama-nama yang biasa disebut sebagai "cukong-cukong Cina" dan sering terpampang di pers seperti Nyoo Han Siang, Bob Hasan, Yap Swie Kie dan lain-lain tak tercatat dalam laporan Bank Sentral sebagai pengusaha-pengusaha non-pribumi penerima kredit investasi dalam rangka PMDN ini.

Meskipun demikian, apa yang selama ini disebut-sebut sebagai "jurang ketidak adilan" antara pribumi dan non-pribumi dalam kesempatan berusaha sedikit-banyak bukannya tidak ada. Perbedaan itu akan segera terlihat menyolok jika penghitungan dilakukan menurut prosentase secara keseluruhan. Di sektor usaha tekstil misalnya, sampai Desemher 1970 saja, sudah 112 perusahaan yang memasukkan permohonan kredit investasi yang seluruhnya meliputi jumlah Rp 37 milyard. Dari jumlah itu sampai tahun lalu sudah 49 perusahaan tekstil yang telah direalisir kredit investasinya seluruhnya meliputi jumlah Rp 13 milyard. Dan kemana larinya jumlah kredit investasi tersebut? Dari ke--49 perusahaan itu, hanya 7 perusahaan yang milik "golongan ekonomi lemah" - untuk meminjam istilah para tehnokrat ekonomi pemerintah--dengan jumlah bagian kredit yang didapat mereka sebesar Rp 1,7 milyard. Tapi sebaliknya untuk hanya sebuah perusahaan PT Batik Keris milik Tjokrosaputro d/h Kwee Tjom Tjok yang sesumbarnya hanya memancing kemarahan Kodam VII/Diponegoro itu telah disediakan plafon kredit Rp I milyard. Tidak semua pribumi rupanya kalah lihai dalam memburu kredit PMDN ini. Sebab justru pada saat-saat terakhir menjelang penutupan pemberian kredit investasi untuk pabrik tekstil yang tidak integred - yaitu yang bukan mulai dari pemintalan sampai mencetak tekstil jadi - Ir Aminuddin, bekas ketua Forum Swasta Nasional, masih sempat menggaet kredit sekitar Rp 1,5 milyard. Padahal proyek insinyur ini yang letak nya di pinggir jalan raya Bogor--Jakarta itu bukan merupakan pabrik tekstil yang integrated. Di sektor farmasi, seperti diterangkan Kepala Direktorat Produksi Ditjen Farmasi Drs Jasman, sampai sekarang sudah 29 luah industri Farmasi yang menggunakan fasilitas PMDN dengan rencana investasi sebesar Rp 4 milyard. Kepala Direktorat ini belum tahu persisnya berapa dari jumlah 4 milyard itu akan berasal dari kredit investasi. Tapi yang jelas, dari 29 perusahaan tersebut hanya 2 perusahaan yang 100 modal pribumi, 6 perusahaan modal campuran sedang sisanya yang 21 buah 100% modal non-pribumi. Angka-angka yang tercatat sampai Oktober tahun lalu menunjukkan bahwa dari semua proyek-proyek dalam rangka PMDN ini, 47% saham-sahamnya berada di tangan pengusaha non-pribumi, 38% dimiliki pribumi sementara 15% merupa kan campuran antara pribumi dan nonpribumi. Tapi kebanyakan di antara perusahaan-perusahaan yang resmiuya dimiliki pribumi itu, tidak jarang sesungguhnya bukan lain dari bentuk kongsi antara si Karto dengan si Liong alias Ali-Baba di mana si Baba yang memiliki porsi saham yang dominan. Dan tahun ini, meskipun data-data belum sempat diolah seluruhnya, tapi Pamungkas dan orang-orangnya di Sub Panitia PMDN yang berkantor di gedung Bank Pembangunan Indonesia itu memperkirakan bahwa komposisi yang pincang diatas belum banyak berubah.

Pemutihan Modal

Kepincangan ini tentu saja tidak dapat diakhiri dengan cara mengambil sikap reaktif--misalnya penolakan keanggotaan bagi pengusaha non-pribumi seperti yang terdengar diusulkan dalam Seminar Nasional KADIN bulan September kemarin. Sebaliknya tidak dengan hanya menunjuk pada alasan-alasan hukum bahwa "semua warganegara mempunyai hak yang sama. Sebab dalam masalah ini jelas bukan karena golongan yang satu memiliki kelebihan hak dari yang lain, melainkan lebih karena golongan yang satu memiliki kesempatan dan peluang lebih dari pada golongan yang lain. Dan kelebihan peluang pada mereka yang disebut golongan non-pribumi itu. Kelebihan peluang yang ada pada golongan yang disebut non-pribumi itu tidak hanya karena memiliki pengalaman lebih, tapi juga karena rata-rata mereka mempunyai sumber keuangan lain di luar apa yang bisa mereka harapkan dari kredit yang disediakan pemerintah. Itulah sebabnya nama-nama yang sering disebut sebagai "cukong-cukong Cina" seperti Nyoo Han Siang, Yap Swie Kie dan lain-lain tidak merasa perlu turut memasukkan permohonan untuk kredit PMDN.

Sumber-sumber keuangan yang macam-macam itu, memang menjadi pertimbangan Pemerintah ketika mencetus kan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negcri (PMDN) No.6/1968 tanggal 3 Juli 4 tahun yang lalu. Itu sebabnya definisi "modal dalam negeri" dalam undang-undang itu tidak terbatas pada harta kekayaan Pemerintah saja yang tersimpan di lemari besi bank-bank Pemerintah, tapi juga segenap kekayaan yang dimiliki oleh swasta nasional mau pun swasta asing yang menghuni negeri ini. Menunjuk pada modal-modal swasta itu, Pamungkas berkata pada TEMPO, "dulu uang-uang itu banyak yang lari ke luar negeri, atau kalaupun tetap ditahan di sini jarang dibayar pajaknya". Paduli pembangunan di negeri ini masih sangat membutuhkan pemupukan modal yang dapat diinvestasikan, sedang modal asin ada dasarnya hanya bersifat sebagai pelengkap. Melihat kenyataan ini, dalam UU Nomor 6 tahun 1968 itu, dijamin kesempatan memutihkan modal. Artinya modal yang sudah sedia ditanamkan dalam berbagai sektor usaha di dalan negeri, tidak akan diusut asal usulnya Contoh, sebuah CV yang di tahun-tahun yang silam banyak menikmati keuntungan dari penguasaan monopoli perdagangan cengkeh yang sebenarnya sudah diatur oleh Departemen Perdagangan dengan menggunakan fasilitas-fasilita PMDN dapat mendirikan sekelompok PT yang meliputi berbagai sektor usaha. Malah sebelum tax reform yang mula dijalankan tahun 1970, seluruh keka yaan perusahaan-perusahaan PMDN itu dibebaskan dari pajak.

Maka bisa dimengerti jika kesempatan pemutihan modal itu menjadi perangsang yang paling menarik. Sebab bukan kah mereka yang selama ini gelisah bagaimana menyembunyikan asal-usul uangnya sudah bisa menggunakan uang itu sebagai modal usaha yang terang tanpa kuatir akan diusut-usut? 4 tahun setelah keluarnya UU--PMDN, kenaikan penanaman modal dalam negeri terlihat amat meningkat terutama pada tahun ketiga dan keempat. Akhir 1970 jumlah proyek yang telah disetujui baru 48 buah dengan modal Rp 153 milyard. Tapi tahun 1971 jumlah proyek yang disetujui sudah mencapai 1.128 buah dengan investasi sebesar 578 milyard rupiah Tahun 1972 ini, sampai Oktober yang lalu jumlah proyek yang mendapat rekomendasi sudah 1.561 buah dengar investasi direncanakan 861 milyard rupiah. Dan berapa dari jumlah itu yang berasal dari modal yang diputihkan? Belum ada catatan resmi dari kantor pajak, tapi data yang ada pada Panitia PMDN jumlah modal yang minta diputih kan sudah melebihi 250 milyard rupiah.

Melihat besarnya jumlah investasi yang berasal dari pemutihan modal itu, agaknya ada alasan orang untuk merasa cemas menghadapi akan berakhirnya masa pemutihan modal bulan Juli tahun depan. Lebih-lebih karena investasi lebih besar di bidang industri - yang sekarang meliputi 50% dari proyek-proyek PMDN --akan sangat diperlukan dalam Pelita II nanti. Karena itu dari sekarang sudah terdengar usul-usul agar masa pemutihan modal itu diperpanjang agar bisa dihindarkan turunnya tingkat penanaman modal dalam negeri yang terlalu kencang. Lebih rendahnya jumlah penanaman modal dalam negeri tahun 1972 di bandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan bahwa apa: yang dikuatir kan itu bukan hanya perhitungan di atas kertas. Dan agar pemasukan negara tidak dirugikan, maka diusulkan supaya untuk selanjutnya modal-modal yang diputih kan itu dikenakan pungutan pajak sekali sebesar 10% misalnya.

Adanya kesempatan memutihkan modal yang tidak keruan asal-usulnya itu resminya tidak berarti, para investor dapat dengan seenaknya menanam modal dalam usaha-usaha yang dirasa paling menguntungkan. Ada suatu skala prioritas yang sudah ditentukan oleh Bappenas, dan yang juga menjadi pegangan bagi bank-bank pemerintah yang di mintai kredit. Selama dua tahun pertama, belum ada skala prioritas itu, karena Pelita I juga belum selesai disusun. Namun sejak tahun 1970, hanya perusahaan baru yang diprioritaskan mendapat fasilitas libur pajak (tax holiday), sedang perusahaan-perusahaan yang tidak di prioritaskan hanya mendapat keringanan pajak perseroan (investment allowance). Prioritas pertama tentunya diberikan pada usaha-usaha pengolahan hasil-hasil pertanian dan kehutanan, industri-industri penghasil devisa atau yang membikin barang-barang substitusi impor. Di samping itu, masih ada yang disebut prioritas khusus untuk menghadapi Konperensi PATA tahun 1974, sehingga izin-izin pendirian hotel-hotel baru dengan menggunakan fasilitas-fasilitas PMDN seperti peniadaan bea masuk bagi peralatan-peralatan hotel dan kemungkinan mendapat kredit investasi segera menjadi sumber rezeki baru bagi mereka yang berpenciuman tajam.

Uang Hangus

Proyek-proyek yang mendapat prioritas itu -- kecuali 20 pabrik karet bongkah yang dijadikan proyek perintis Departemen Perdagangan dengan syarat - entah mengapa - membeli mesin Perancis dan Inggeris melalui Departemen yang berambisi menggalak kan ekspor karet alam itu--tidak langsung berarti kredit investasi serta merta dapat mereka peroleh. Sebab di samping penilaian-penilaian makro-ekonomis yang digemari orang-orang Taman Suropati, bank punya penilaian-penilaiannya sendiri yang lebih didasarkan pada kemampuan perusahaan itu mengembalikan kredit yang dipinjamnya. Bagi proyek-proyek prioritas, ada kewajiban menyediakan 25% dari permohonan yang diajukannya. Sedang bagi proyek nonprioritas, modal yang sudah tersedia harus berjumlah 50%.

Kemudian, besarnya kredit yang di minta bakal menentukan berapa lama proses pengembalian keputusan di bank. Jumlah sampai 60 juta rupiah, dapat di setujui atau ditolak oleh cabang bank pemerintah yang telah kebagian mengurusi sektor-sektor usaha tertentu. Di atas 60 juta sampai 100 juta, harus mendapat persetujuan kantor pusat bank pemerintah, sedang di atas 100 juta harus mendapat persetujuan Bank Sentral, sebab jumlah sebesar itu diatur melalui rencana pembiayaan bersama (joint financing scheme). Tambahan pula, bagi proyek-proyek yang meliputi penanaman modal diatas 60 juta, harus disertai dengan feasibility report dari salah satu konsultan yang terdaftar pada bank. Tapi lucunya, konsultan-konsultan nasional yang ada di negeri yang sangat kekurangan data dan statistik yang akurat ini, baru berpengalaman satu dua tahun dalam bidang ini, dan merupakan gado-gado antara ahli-ahli hukum, doktorandus-doktorandus ekonomi dan ahli-ahli tehnik. Sehingga tidak jarang terjadi feasibility report yang dibuat oleh konsultan, masih harus dilengkapi berkali-kali atas petunjuk fihak bank, yang juga tidak punya data dan aparat yang lengkap untuk menguji kebenaran laporan-laporan itu. Dalam keadaan seperti itu, bisa dibayangkan bagaimana pentingnya relasi dengan orang-orang dalam bank, disertai "uang hangus" yang tidak kecil jumlahnya. Dalam proses ini mudah di mengerti "kelihaian main" akan merupakan faktor yang lebih menentukan dari pada entrepreneurship agar berhasil mendapatkan kredit yang diperlukan.

8 Buronan

Tapi lihai atau tidak lihai, kenyataan bahwa porsi terbesar dari kredit investasi jatuh ketangan pengusaha-pengusaha non-pribumi memang menggelisahkan para pengusaha pribumi. Alasan yang biasanya dikemukakan adalah karena umumnya para pengusaha itu pribumi itu tidak bankable. Benarkah itu? "Di antara golongan ekonomi kuat itu juga terdapat banyak pengusaha yang tidak bankable, toh mereka dengan mudah mendapat kredit", kata Tambunan dari Perteksi. Tambunan menunjuk pada 8 pengusaha non-pribumi di Banjarmasin yang telah melarikan diri ke Singapura setelah mendapat kredit Rp 1 milyard. Padahal "kalau umpamanya si pribumi yang mengalami kegagalan usahanya dan merugikan fihak pemerintah, uang kredit yang diperoleh paling tidak masih akan dibelanjakannya di dalam negeri", ujar Tambunan yang sudah berusia 57 itu. Sambil mengeritik fihak perbankan yang kurang mengadakan pengawasan terhadap penggunaan kredit-kredit itu, Tambunan berkata pula: "Selama ini pemberian kredit selalu hanya ditekan kan kepada jaminan dan bukan kepada earning power - kemampuan memutar kan modal--perusahaan yang bersangkutan. Akibatnya adalah apa yang tetap terjadi hingga kini: yang kuat semakin kuat, yang lemah bertambah lemah juga.

Lagi pula fihak pengusaha pribumi hampir-hampir tak punya sumber-sumber lain untuk menyediakan storan 25 sampai 50% yang diwajibkan untuk mendapat kredit itu. Tidak jelas apakah faktor-faktor semacam ini sudah dimasukkan juga oleh fihak Bank Sentral dalam kebijaksanaan perkreditan PMDN ini meskipun Radius Prawiro di depan rapat Komisi-Komisi DPR akhir Nopember kemarin juga berkata "Percayalah kami tidak akan mengorbankan pengusaha-pengusaha pribumi". Tapi ada cerita bahwa ketika beberapa waktu yang lalu PT Berkat Plywood - satu di antara PT-PT Berkat dari kelompok Yap Swie Kie yang sekarang bernarma Yap Sutopo - memohon kredit investasi yang jumlah nya mendekati 6 juta US dollar, fihak Bank Sentral menolaknya dan mengusul kan agar PT Berkat mencari partner asing saja. Sebab jika permohonan itu di izinkan, maka kredit investasi yang jumlahnya tak banyak itu akan ludes tersedot ke satu proyek itu saja.

Yang Jenuh

Penolakan pemberian kredit invcstasi juga telah mulai dilakukan terhadap sektor-sektor usaha yang dianggap sudah jenuh, seperti industri besi beton (rolling mills), tekstil, hotel-hotel--ini terutama di Jakarta--farmasi dan karet bongkah. Tekstil, misalnya, berdasarkan surat edaran Dirjen Perindustrian Tekstil tanggal 1 Nopember 1971, Direksi Bank Indonesia cq Direktur Urusan Perkreditan sejak April tahun ini menutup kemungkinan pemberian kredit investasi baru bagi jenisjenis drill blacu, kain piyama, singlet, rajut nyion dan lainlain. Sampai sekarang yang masih terbuka, hanyalah industri pemintalan benang (Patal), atau industri tekstil yang serba lengkap integrated.

Lain pula halnya industri karet bongkah, yang tumbuh seperti jamur ketika Departemen Perdagangan mulai menggencarkan peralihan pabrik-pabrik remilling ke karet bongkah dengan persyaratan yang meniru karet Malaysia. Berbagai hal yang tidak pemah diduga oleh konsultan-konsultan yang menyu-sun feasibility report pabrik-pabrik itu rupanya--seperti anjloknya harga karet alam di pasaran dunia dan persediaan bahan baku karet rakyat yang sukar di perkirakan--menyebabkan sekitar 2030 pabrik menantikan mesinnya, tanpa sempat membayar bunga kredit apalagi mengangsurnya. Berkat pengalaman yang tidak begitu manis itu, Bak Indonesia kembali lagi buru-buru mengirim surat edaran pada Bapindo -- sumber utama kredit-kredit investasi untuk bidang industri - tanggal 12 Agustus yang lalu, bahwa proyek-proyek karet bongkah di Aceh, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Tengah dan Jawa Barat tidak lagi tergolong prioritas. Pendirian pabrik karet bongkah baru di 5 propinsi itu, tidak mendapat kredit investasi sama sekali, sedang peralihan dari remilling ke crumb rubber hanya mendapat kredit investasi 50% alias non-prioritas. Ketentuan yang terakhir ini juga berlaku bagi daerah Jambi, lantaran 51% dari seluruh produksi karet rakyat di tampung oleh pabrik-pabrik yang ada.

Tentu saja akibat matinya pabrik-pabrik karet itu dapat menggoncangkan pendapatan penduduk pula.

Integrasi

Meskipun nyatanya perusahaan-perusahaan besar yang 100% dimiliki nonpribumi atau sebaliknya sudah sukar di temukan, belum berlakunya bentuk perusahaan umum public company, memang memungkinkan dominasi satu dua orang saja dalam perusahaan atau kelompok perusahaan itu. Setidak-tidaknya sebagai lambang kepercayaan, seperti misalnya mitos Liem Soei Liong bersaudara dalam perusahaan-perusahaan kelompok Kencana. Karena itu cukup beralasan anjuran Presiden Soeharto yang pernah diucapkannya di depan rektor-rektor se Indonesia, bahwa satu waktu Pemerintah akan membeli separuh saham-saham perusahaan non-pribumi, untuk dibagi-bagikan pada yang pribumi. Anjuran itu mendapat tanggapan yang cukup serius dari sementara pengusaha non-pribumi juga, terbukti dari derasnya surat-surat yang dikirimkan ke jalan Cendana dan Aspri-Aspri Presiden. Banyak yang setuju dengan gagasan menuju ke bursa saham itu, malah ada yang telah menyatakan bersedia menjual 45% saham-sahamnya.

Namun di balik kesediaan itu, ada kekuatiran bahwa yang bakal memborong saham-saham itu adalah pengusaha-pengusaha pribumi yang itu-itu juga. Artinya, pengusaha-pengusaha pribumi yang sudah berkaliber raksasa, seperti Hasyim Ning, Masayu dan lain-lain. Karena itu jalan keluarnya mungkin berujud pemecahan saham-saham atas satuan-satuan kecil yang dapat dibeli oleh rakyat kebanyakan, misalnya lembaran-lembaran a Rp 1000. Sambil mengusulkan supaya DPR segera mensyahkan landasan hukum yang dapat mendukung anjuran Presiden itu, Amaludin Gani yang juga mengetuai KADIN Jaya menekankan agar Bursa Effek-Effek nantinya lebih mengutamakan penjualan saham-saham perusahaan nasional. Tidak seperti sekarang, di mana yang dijual hanyalah saham-saham perusahaan asing yang malah sudah menjurus ke bentuk perusahaan multi-nasionaln. Masalahnya bagi kita adalah", begitu Gani mengemukakan alasannya, "bagaimana menghimpun potensi modal dalam negeri menghadapi persaingan multi-national corporations itu". Karena itu menurut dia "perlu ada integrasi antara pengusaha pribumi dan non pribumi".

Dari Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI), ketuanya Zachri Achmad melihat masalah ini secara lebih tajam lagi. Dengan mengulangi keharusan kerja-sama antara pribumi dan non pribumi, Zachri Achmad berpendapat bahwa dalam kerjasama itu supaya pribumi yang diberi peran menentukan "Jangan seperti sekarang ini di mana pribumi hanya dijadikan sebagai alat" katanya. Meskipun sektor import tidak termasuk dalam kategori yang bisa mendapat fasilitas PMDN, sektor ini justru memperlihatkan dominasi nonpribumi yang amat menyolok. Fihak GINSI mencatat bahwa dari 3.000 importir yang ada di seluruh Indonesia hanya 10% yang terdiri dari pribumi, sedang yang 90% adalah non-pribumi. Dan perbandingan yang "tidak adil" seperti itu agaknya masih sama dengan keadaan sebelum perang dulu di mana importir pribumi hanya 3 -- Dasaad Djohan Djohor dan Rachman Tamin - sementara yang non-pribumi dengan pengalaman yang sudah berpuluh-pupuluh pula jumlahnya.

Pengusaha + Penguasa

"Integrasi" itu bukannya belum ada, meskipun kadang-kadang lebih bersifat suatu persekutuan taktis. Pemerintah membutuhkan sekelompok swasta yang mendukung program-program pembangunannya, dan kepada merekalah di beri beberapa kemudahan-kemudahan tertentu. Misalnya ketika Bulog menunjang Mantrust dalam proyek beras tekadnya, atau kredit-kredit yang kini diberikan pada Bogasari, sebagai produsen bahan pangan pelengkap. Di lain fihak, kelompok swasta ini sangat gembira dengan sekutu yang ampuh itu. sebab berbagai urusan bisnis bisa berjalan lebih mulus berkat lisensi khusus atau tanda-tangan pejabat yang bersangkutan. Karena itu seorang pengusaha pribumi memberikan komentar: "Memang sekarang sudah ada kerjasama antara non-pribumi dengan pribumi, akan tetapi yang ada itu lebih bersifat aliansi pengusaha dan penguasa". Padahal apa yang didambakannya, justru "aliansi antara pengusaha dengan pengusaha". Sehingga dengan demikian, swasta pribumi maupun non-pribumi, bisa mendapat kesempatan berkembang secara wajar. Dan tanpa menyinggung tentang Sumpah Jabatan yang sebenarnya tidak membenarkan isteri, anak atau keluarga terdekat pejabat berusaha dengan membonceng wibawa sang - pejabat, dia membandingkannya dengan anjuran Pemerintah pada pengusaha asing agar mengadakan kongsi dengan pengusaha nasional.

Sebenarnya apa yang diutarakannya itu, sudah dikemukakan pula oleh Presiden sendiri dalam pidatonya 16 Agustus yang lalu. Dikatakan oleh Presiden, bahwa "pengusaha-pengusaha non-pribumi umumnya memiliki modal dan kemampuan usaha lebih kuat, maka mereka mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menggunakan fasilitas-fasilitas tadi. Karena itu, justru untuk mewujudkan keselarasan, maka sudah sewajarnya apa bila dalam melakukan penanaman modalnya, golongan nonpribumi mengikut sertakan pengusaha pribumi sebagai co-partnernya", Tapi siapa yang menentukan co-partner itu? Pemerintahkah, atau pengusaha non-pribumi itu sendiri? Justru karena dalam banyak hal peranan Pemerintah masih sangat dominan, maka dari kalangan pribumi diusulkan, agar ditetapkan dulu, bahwa baik fihak pribumi maupun fihak non-pribumi yang akan melakukan usaha bersama itu hendaknya sudah punya pengalaman usaha. Sehingga dengan demikian, mereka tidak perlu bekerja dan berusaha, terutama atas dasar kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh orang-orang dalam. Sedangkan untuk mengejar ketertinggalan golongan pengusaha pribumi sendiri, Amaludin Gani beranggapan agar Lembaga Jaminan Kredir yang pernah bekerja di aman Menteri Perekonomian Kasimo dihidupkan kembali, dan beroperasi dengan lebih leluasa dari paa PT Askrindo yang hampir sama ketatnya seperti kerja bank.

 

Sumber: www.tempo.co.id

 

Hosted by www.Geocities.ws

1