Buleun November 1990

 

Pernyataan  Pejabat Kantor Bupati Pidie

 

Seorang  Pejabat di Kantor Bupati Acheh Pidie, yang tidak disebutkan namanya  mengatakan, untuk kewaspadaan , siskamling atau sistem keamanan lingkungan di desa-desa ditingkatkan. Mereka bertugas di pos jaga tidak boleh sampai tertidur, karena siskambling ini kan untuk mempersempit ruang gerak GPK. Selain itu Penduduk juga diminta melaporkan pendatang baru kepada aparat desa atau kecamatan Kantor Kecamatan juga diintruksikan selalu siaga 24 jam untuk menerima laporan.  Para camat dilarang mengambil  cuti.

Pada malam hari penduduk harus memasang obor  didepan rumah masing-masing, agar tamu tak diundang segera diketahui oleh para petugas siskambling. Para petani juga  dilarang tidur di rangkang (rumah di kebun).

 

SUMBER INFORMASI : Koran Tempo Jakarta tanggal 17 November 1990.

 

 

Pernyataan Bupati  Ramli Ridwan di Lhokseumawe

 

Di Kabupaten Aceh Utara, aparat keamanan merekrut para pemuda di desa-desa untuk bergabung dalam kelompok "Bela Negara”.  Sampai saat ini, menurut Bupati Aceh Utara Ramli Ridwan, anggota inti "Bela Negara” yang sudah terdaftar tak kurang dari 200- orang.  Mereka dilatih baris-berbaris oleh satuan tugas ABRI setempat, diberi kursus P4, dan sebagainya.

 

"Kami menggerakkan masyarakat itu supaya keberanian mereka timbul untuk melawan GPK," kata Ramli Ridwan kepada Sarluhut Napitupulu dari TEMPO. Meski mereka tak dilengkapi dengan senjata api  kata bupati karena kemampuan pasukan "Bela Negaral” seadanya, hingga dikhawatirkan senjata itu di rampas oleh GPK. Para pemuda itu cukup berani menjaga kampungnya masing-masing, bahu-membahu dengan pasukan ABRI.

 

SUMBER INFORMASI : Tempo Jakarta tanggal 17 November 1990

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anonim Delapan Tubuh Manusia di Desa Juli

 

Pada Pertengahan September 1990, Penduduk Desa Juli Kecamatan Jeumpa Kabupaten Aceh Utara, mencium bau busuk yang menusuk hidung di tepi desa. Setelah diselidiki, sumber bau itu tak  lain dari delapan mayat manusia yang berserakan di sekitar parit dan semak-semak tepi jalan Raya menuju Gayo Kabupaten Aceh Tengah.]

Kondisi  kedelapan tubuh manusia itu sudah menbusuk, bagian dagingnya telah banyak yang hilang, korban semuanya berjenis kelamin laki-lakim tetapi indentitas mereka tidak diketahui.

 

REMARK: Keterangan ini diperoleh dari Camat Kabupaten Jeumpa, Maimur Rasyid yang diwawancarai oleh majalah Tempo.

 

SUMBER INFORMASI : Koran Tempo Jakarta tanggal 17 November 1990.

 

 

80 Penduduk Idi  Yang dituduh GAM ditangkap oleh Laskar Rakyat

 

Partisipasi para pemuda seperti ini di Aceh Timur diwujudkan dengan membentuk "Laskar Rakyat".  Kini di sana ada 1.500 anggota "Laskar Rakyat-yang setiap malam bergantian meronda desa -desa dengan golok, pisau, atau bainbu runcing.  "Mudah-mudahan kerja sama ABRI dengan rakyat seperti ini ,dalam waktu dekat akan menghabisi GPK," kata Helmi Mahera Almujahid, 38 tahun, Ketua "Laskar Rakyat" Kecamatan Idi, Kabupaten Aceh Timur pada  Pertengahan septernber lalu, misalnya, menurut Helmi, laskar yang dipimpinnya berhasil menciduk 80 penduduk yang dicurigai terlibat GPK di Idi.  "Mereka sudah kami serahkan kepada petugas keamanan," katanya.

 

UMBER INFORMASI : Koran Tempo Jakarta tanggal 17 November 1990.

 

 

Penembakan enam warga di Pedalaman

 

Enam warga tewas ditembak oleh satuan ABRI dalam melakukan operasi di Pedalaman  Kabupaten Aceh Utara pada bulan November 1990. Para-korban adalah M. Yunus 45 tahun yang menjabat sebagai Panglima Muda III GAM, M. Yunus dikenal dengan panggilan Singa Meurantee. Korban yang diduga kebal itu meninggal bersama lima orang pengikutnya yang tidak diketahui indentitasnya.

Keterangan meninggal-nya enam orang warga itu diperoleh dari Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI HR.Pramono melalui Asisten intel Kodam I.BB Kol. Inf Sutrisno, korban ditembak oleh satuan ABRI karena dituduh sebagai anggota militer GAM.

 

SUMBER INFORMASI : Media Pikiran Rakyat Jakarta tanggal 21 November 1990.

 

 

 

 

 

Pernyataan Pangdam I/Bukit Barisan untuk membunuh Semua anggota GAM

 

Wartawan majalah TEMPO Jakarta, Syahril Chili dan R.Fadjri, mewawancari  Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen Pramono 51 tahun. Pramono diwawancari di Yokyakarta pada tanggal 20 October 1990. Dari beberapa hasil wawancara pejabat  massa presiden Soeharto ini, salah satu peryataan adalah: “ Sekarang kami sudah bisa menyaring mana yang kasar, dan mana yang halus.  Yang kasar sudah semakin kelihatan, sedang yang halus sudah semakin menyatu. Masyarakat saya suruh: Pokoknya kalau ketemu GPK (GAM) bunuh saja, enggak begini-begini, kalau tidak mau, ditembak jeder….., atau disembelih.

Masyarakat sekarang saya suruh bawa senjata tajam. Mau parang, mau apa, jadi kalau ketemu GPK bunuh saja.

 

SUMBER INFORMASI : Majalah TEMPO Jakarta tanggal 17 November 1990

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1