Seorang
Pejabat di Kantor Bupati Acheh Pidie, yang tidak disebutkan namanya mengatakan, untuk kewaspadaan , siskamling
atau sistem keamanan lingkungan di desa-desa ditingkatkan. Mereka bertugas di
pos jaga tidak boleh sampai tertidur, karena siskambling ini kan untuk
mempersempit ruang gerak GPK. Selain itu Penduduk juga diminta melaporkan
pendatang baru kepada aparat desa atau kecamatan Kantor Kecamatan juga
diintruksikan selalu siaga 24 jam untuk menerima laporan. Para camat dilarang mengambil cuti.
Pada malam hari penduduk harus memasang obor didepan rumah masing-masing, agar tamu tak
diundang segera diketahui oleh para petugas siskambling. Para petani juga dilarang tidur di rangkang (rumah di kebun).
SUMBER
INFORMASI : Koran Tempo Jakarta tanggal 17 November 1990.
Di Kabupaten Aceh Utara,
aparat keamanan merekrut para pemuda di desa-desa untuk bergabung dalam
kelompok "Bela Negara”. Sampai
saat ini, menurut Bupati Aceh Utara Ramli Ridwan, anggota inti "Bela
Negara” yang sudah terdaftar tak kurang dari 200- orang. Mereka dilatih baris-berbaris oleh satuan
tugas ABRI setempat, diberi kursus P4, dan sebagainya.
"Kami menggerakkan
masyarakat itu supaya keberanian mereka timbul untuk melawan GPK," kata
Ramli Ridwan kepada Sarluhut Napitupulu dari TEMPO. Meski mereka tak dilengkapi
dengan senjata api kata bupati karena
kemampuan pasukan "Bela Negaral” seadanya, hingga dikhawatirkan senjata itu
di rampas oleh GPK. Para pemuda itu cukup berani menjaga kampungnya
masing-masing, bahu-membahu dengan pasukan ABRI.
SUMBER
INFORMASI : Tempo Jakarta tanggal 17 November 1990
Anonim Delapan Tubuh Manusia di Desa Juli
Pada Pertengahan September 1990, Penduduk Desa Juli
Kecamatan Jeumpa Kabupaten Aceh Utara, mencium bau busuk yang menusuk hidung di
tepi desa. Setelah diselidiki, sumber bau itu tak lain dari delapan mayat manusia yang berserakan di sekitar parit
dan semak-semak tepi jalan Raya menuju Gayo Kabupaten Aceh Tengah.]
Kondisi
kedelapan tubuh manusia itu sudah menbusuk, bagian dagingnya telah
banyak yang hilang, korban semuanya berjenis kelamin laki-lakim tetapi
indentitas mereka tidak diketahui.
REMARK:
Keterangan ini diperoleh dari Camat Kabupaten Jeumpa, Maimur Rasyid yang
diwawancarai oleh majalah Tempo.
SUMBER
INFORMASI : Koran Tempo Jakarta tanggal 17 November 1990.
Partisipasi
para pemuda seperti ini di Aceh Timur diwujudkan dengan membentuk "Laskar
Rakyat". Kini di sana ada 1.500
anggota "Laskar Rakyat-yang setiap malam bergantian meronda desa -desa
dengan golok, pisau, atau bainbu runcing.
"Mudah-mudahan kerja sama ABRI dengan rakyat seperti ini ,dalam waktu
dekat akan menghabisi GPK," kata Helmi Mahera Almujahid, 38 tahun, Ketua
"Laskar Rakyat" Kecamatan Idi, Kabupaten Aceh Timur pada Pertengahan septernber lalu, misalnya,
menurut Helmi, laskar yang dipimpinnya berhasil menciduk 80 penduduk yang
dicurigai terlibat GPK di Idi.
"Mereka sudah kami serahkan kepada petugas keamanan," katanya.
UMBER
INFORMASI : Koran Tempo Jakarta tanggal 17 November 1990.
Enam warga tewas ditembak oleh satuan ABRI dalam
melakukan operasi di Pedalaman
Kabupaten Aceh Utara pada bulan November 1990. Para-korban adalah M.
Yunus 45 tahun yang menjabat sebagai Panglima Muda III GAM, M. Yunus dikenal
dengan panggilan Singa Meurantee. Korban yang diduga kebal itu meninggal
bersama lima orang pengikutnya yang tidak diketahui indentitasnya.
Keterangan meninggal-nya enam orang warga itu
diperoleh dari Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI HR.Pramono melalui Asisten
intel Kodam I.BB Kol. Inf Sutrisno, korban ditembak oleh satuan ABRI karena
dituduh sebagai anggota militer GAM.
SUMBER
INFORMASI : Media Pikiran Rakyat Jakarta tanggal 21 November 1990.
Wartawan majalah TEMPO Jakarta, Syahril Chili dan
R.Fadjri, mewawancari Pangdam I/Bukit
Barisan Mayjen Pramono 51 tahun. Pramono diwawancari di Yokyakarta pada tanggal
20 October 1990. Dari beberapa hasil wawancara pejabat massa presiden Soeharto ini, salah satu
peryataan adalah: “ Sekarang kami sudah bisa menyaring mana yang kasar, dan
mana yang halus. Yang kasar sudah
semakin kelihatan, sedang yang halus sudah semakin menyatu. Masyarakat saya
suruh: Pokoknya kalau ketemu GPK (GAM) bunuh saja, enggak begini-begini, kalau
tidak mau, ditembak jeder….., atau disembelih.
Masyarakat sekarang saya suruh bawa senjata tajam.
Mau parang, mau apa, jadi kalau ketemu GPK bunuh saja.
SUMBER
INFORMASI : Majalah TEMPO Jakarta tanggal 17 November 1990