|
1. Sastra dan Politik
Merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa sudah sejak awal pertumbuhan
sastrawan-sastrawan Indonesia menunjukkan perhatian yang serius kepada
politik. Bahkan ada di antaranya yang kemudian lebih terkenal sebagai
politikus daripada pengarang seperti Muh. Yamin dan Roestam Effendi.
Demikian juga para pengarang pujangga baru ialah orang-orang yang aktif
dalam dunia pergerakan nasional. Para pengarang pada awal revolusi bukanlah
orang-orang yang bersifat a-politis. Chairil Anwar, Pramaedya Ananta Toer,
Achdiat K. Mihardja, Mochtar Lubis merupakan orang-orang yang mempunyai
pandangan dan kesadaran politik.
Perbedaan-perbedaan pandangan mengenai seni dan sastra yang berpangkal pada
perbedaan-perbedaan pendirian politik, sudah sejak lama kelihatan dalam
dunia sastra Indonesia. Pada awal tahun lima puluhan terjadi polemik yang
seru juga antara orang-orang yang membela hak hidup Angkatan 45 dengan
orang-orang yang mengatakan �Angkatan 45 sudah mampus� yang berpangkal pada
suatu sikap politik. Pihak yang berpaham realisme-sosialis, yaitu paham yang
menjadi filsafat-seni kaum komunis aktif mengadakan polemik. Penganut paham
realisme sosials yang paling keras teriakannya ialah As Dharta yang menjadi
pokok soal bahan polemik-polemik ialah paham �seni untuk seni� dan �seni
untuk rakyat�, orang-orang yang menganut paham realisme sosialis berpaham
�seni untuk rakyat� sambil mengutuk orang-orang yang berpaham �seni untuk
seni� sebagai penganut �humanisme universal� yang dicapnya sebagai filsafat
kaum borjuis kapitalis yang bobrok.
Yang paling bernilai diantara polemik-polemik itu karena kedua belah pihak
menulis dengan kepala dingin dan pandangan yang luas serta hati terbuka
ialah yang terjadi sekitar tahun 1954 antara Boejoeng Saleh Poeradisastro
dengan Soedjatmoko berkenaan dengan pandangan-pandangan Soedjatmoko dalam
karangannya �Mengapa Konfrontasi�.
Pada tahun 1950 berdirilah di Jakarta Lembaga Kebudayaan Rakyat yang
kemudian lebih terkenal dengan sebutan Lekra. Sebagai sekretaris jenderalnya
yang pertama bertindak As. Dharta. Pada mulanya Lekra ini belum merupakan
organ kebudayaan dari PKI. Diantara yang hadir pada ketika pembentukan Lekra
itu terdapat orang-orang yang kemudian menjadi musuh antara lain HB Jassin
dan Achdiat K. Mihardja. Setelah PKI kuat kedudukannya, Lekra secara resmi
menjadi organ kebudayaannya. Lekra dengan tegas menganut �seni untuk rakyat�
dan menghantam golongan yang menganut paham �seni untuk seni�.
Dalam gelanggang percaturan politik PKI makin kuat kedudukannya. Tahun 1959
Soekarno mendekritkan UUD 1945 berlaku lagi dan mengajukan �Manifesto
Politik� (Manipol) sebagai dasar haluan negara. Manipol memberikan ruang
gerak kepada PKI untuk merebut tempat-tempat dan posisi-posisi penting untuk
merebut kekuasaan.
Dalam usahanya mempersiapkan diri untuk merebut kekuasaan itu, PKI
mengerahkan segala kekuatan dalam segala bidang. Dalam bidang kebudayaan
dilakukan oleh Lekra. Lekra melakukan teror terhadap orang-orang dan
golongan yang dianggapnya tidak sepaham.
Dalam bidang sastra satu persatu pengarang yang mempunyai paham berbeda
dengan mereka, dihantam dan dimusnahkan. Sutan Takdir Alisjahbana yang
politis menjadi anggota partai yang dibubarkan (PSI) dan Hamka (Masyumi)
menjadi sasarannya. Buku-buku mereka dituntut supaya dilarang dipergunakan.
Tahun 1950 PNI membentuk Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) diketuai oleh
Sita Situmorang. NU membentuk Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI)
dengan ketua Osman Ismail. Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai
Syariat Islam Indonesia (PSII), Partai Indonesia (Partindo).
Dengan berbagai cara para budayawan, seniman, dan pengarang Indonesia
dipaksa masuk Lekra. Organisasi-organisasi yang hendak berdiri sendiri (independen)
terus diteror dan difitnahnya seperti terjadi dengan Himpunan Mahasiswa
islam (HMI) dan Pelajar Islam Indonesia (PII).
2. Manifes Kebudayaan dan Konferensi Karyawan Pengarang se Indonesia
Mei 1961 diterbitkan Majalah Sastra. Ketua : HB. Jassin, Redaktur
penyelenggara : DS. Moeljanto. Majalah sastra mengutamakan memuat cerpen,
juga sajak, kritik dan esai.
Beberapa pengarang esai yang banyak menulis pada masa itu adalah Goenawan
Mohamad, Arief Budiman (Soe Hok Djin) D.A Peransi, dan lain-lain. Beberapa
penulis esai seperti Iwan Simatupang dan Wiratmo Soekito juga banyak menulis
dalam majalah sastra. Boen S. Oemarjati, M.S Hutagalung, Virga Belan, Salim
Said juga sering mengumumkan kritik-kritiknya dalam majalah tersebut.
Pengarang-pengarang cerpen dalam majalah sastra antara lain B. Soelarto Bur
Rasuanto, A. Bastari Asnin, Satyagraha Hoerip Soeproto Kamal Hamzah, Ras
Siregar, Sori Siregar, Gerson Poyk, B. Jass, dan lain-lain. Sedang para
penyair antara lain: Isma Sawitri, Goenawan Mohamad, M. Saribi Afn, Poppy
Hutagalung, Budiman S. Hartojo, Arifin C.Noer, Sapardi Djoko Danomo, dan
lain-lain.
17 Agustus 1963 diumumkan �Manifes Kebudayaan� yang disusun dan
ditandatangani sejumlah pengarang dan pelukis Jakarta, antara lain H.B
Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo Soekito, Zaini, Goenawan Mohamad, Bokor
Hutasuhut, Soe Hok Djin, dan lain-lain.
Manifes Kebudayaan
Kami para seniman dan cendekiawan Indonesia dengan mengumumkan sebuah
manifes kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cita dan politik
kebudayaan nasional kami.
Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup
manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektoral kebudayaan di atas
sektor kebudayaan lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan
itu sesuai dengan kodratnya.
Dalam melaksanakan kebudayaan nasional kami berusaha mencipta dengan
kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan
dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia
ditengah-tengahnya masyarakat bangsa-bangsa. (Jakarta, 17 Agustus 1963)
PANCASILA adalah falsafah kebudayaan kami.
Jakarta, 17 Agustus 1963
Manifes ini segera mendapatkan sambutan dari pelosok tanah air. Di pihak
lain, manifes itu mempermudah Lekra beserta kampanyenya untuk menghancurkan
orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh. Namun, pihak manifes pun tidak
tinggal diam mereka mempersiapkan konferensi pengarang yang mereka namakan
Konferensi Karyawan Pengarang Se-Indonesia (KKPI). Konferensi ini
berlangsung di Jakarta bulan Maret 1964, yang menghasilkan Persatuan
Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI). Tapi, sebelum PKPI berjalan, Soekarno (presiden
saat itu) menyatakan manifes kebudayaan terlarang. Para budayawan, seniman,
dan pengarang penandatanganan manifes kebudayaan diusir dari tiap kegiatan,
ditutup kemungkinan mengumumkan karya-karyanya, bahkan yang menjadi pegawai
pemerintah dipecat dari pekerjaannya.
Perkataan �Manikebuis� menjadi istilah populer untuk menuduh seseorang
�kontra revolusi, anti-manipol, anti-lisdek, anti-nasakom dan sebagainya.
Majalah sastra dituntut dilarang terbit. Demikian juga majalah Indonesia,
dan lain-lain.
Situasi ini memberi ciri kepada karya-karya sastra yang dihasilkan period
ini. Yang ingin membela kemerdekaan manusia yang diinjak-injak tirani mental
dan fisik. Sajak-sajak, cerpen-cerpen, terutama esai-esai yang ditulis
merupakan protes sosial dan protes terhadap penginjakan martabat manusia.
Puncaknya adalah sajak-sajak Taufiq Ismail, Mansur Samin, Slamet Kirnanto,
Bur Rasuanto, dan lain-lain yang ditulis ditengah demonstrasi mahasiswa dan
pelajar awal tahun 1966. Sajak-sajak demonstrasi yang dikumpulkan Taufik
Ismail dalam Tirani dan Benteng (tahun 1966) merupakan dari suatu period
sejak tahun 1966, terbit majalah Horison ynag dipimpin Mochtar Lubis, H.B
Jassin, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan lain-lain. Akhir
tahun 1967, majalah sastra dihidupkan kembali dengan pimpinan redaksi H.B
jassin, terbit pula majalah cerpen dipimpin Kassim Achmad dan D.S Moeljanto.
Sejak Juni 1968 terbit majalah Budaya Djaja yang dipimpin Ilen Surianegara
dengan redaksi Ajip Rosidi dan Hariyadi S. Hartowardjojo. Majalah-majalah
itu isinya menunjukkan hasil-hasil masa transisi.
3. Para Pengarang Lekra
Karangan-karangan yang ditulis oleh pengarang bukan anggota Lekra, asalkan
menguntungkan bagi pihak Lekra, maka karangan tersebut diterbitkan juga.
Misalnya kumpulan sajak Sitor Situmorang yang berjudul �Zaman Baru� tahun
1962 diterbitkan oleh organ penerbitan Lekra.
Kecuali ruangan kebudayaan dalam surat kabar partai �Harian Rakyat� yang
dipimpin oleh NR. Bandaharo, Lekra mempunyai majalah �Zaman Baru� yang
dipimpin oleh Rivai Apin. S. Anantaguna dan lain-lain. Beberapa bulan
menjelang Gestapu, mereka menerbitkan harian �Kebudayaan Baru� yang dipimpin
oleh S. Antaguna, yang dalam penerbitannya selalu dimuat sajak-sajak,
cerpen-cerpen, esai-esai dan karangan-karangan lain baik asli maupun
terjemahan karya para anggota Lekra atau bukan.
Paramoedya Ananta Toer yang merupakan salah seorang ketua lembaga seni
sastra (Lekra) dan salah seorang anggota pleno Pengurus Pusat Lekra,
memimpin ruangan kebudayaan lentera dalam surat kabar �Bintang� (timur)
minggu yang resminya ialah koran Partindo.
Di antara golongan nama-nama baru yang untuk pertama kali menulis, ada juga
nama-nama yang sudah dikenal sebagai pengarang yang kemudian masuk Lekra.
Nama-nama yang sudah dikenal itu antara lain Rivai Apin, S. Rukiah, Kuslan
Budiman, S. Wisnu Kontjahjo, Sobron Audit, Utuy T. Sontanz Dadang
Djiwapradja, paramoedya Ananta Toer dan lain-lain.
Di antara para penulis yang namanya sejak mulai muncuk selaku dalam
lingkungan Lekra ialah A.S, Dharta Bachtiar Siagin, bakri Siregar, Hr.
Bandaharo, F.L. Risakorta, Zubir A.A, A. Kohor Ibrahim, Amarzam Ismail Hamid,
S. Anantaguna. Again Wispi, Kusni Sulang, B.A Simanjuntak, Sugiarti Siswandi,
Hadi S dan lain-lain.
AS Dharta alias Kelana Asmara, alias Klara Akustia alias Yogaswara alias
Garmaraputra dan sejumlah alias lagi nama sebenarnya ialah Rodji, lahir di
Cibeber, Cianjur tanggal 7 Maret 1923. Ia seorang pendiri Lekra dan menjadi
sekretaris jenderalnya yang pertama, ia pernah menjadi anggota
konstitutuante sebagai wakil PKI dan dipecat oleh Lekra. Sajak-sajaknya
diterbitkan dengan judul �Rangsang Detik� tahun 1957 dan karangan-karangan
Polemis dengan H.B Jassin dan lain-lain.
Bachtiar Siangin banyak menulis Sanoiwara, ia menerbitkan beberapa buku
sandiwara, diantaranya Lorong Belakang (1950). Agam Wispi lahir di Idi, Aceh
tahun 1934. Mula-mula menulis cerpen dan sajak, kemudian esai dan
bentuk-bentuk sastra lain. Sejumlah sajaknya dimuat juga dalam berbagai
penerbitan bersama yang dikumpulkan dalam �sahabat� (1959).
S. Anantaguna (lahir di Klaten tanggal 9 Agustus 1930) mula-mula menulis
sajak-sajak tetapi kemudian menulis juga cerpen dan karangan-karangan lain.
Sajak-sajak yang diterbitkan dalam kumpulan �yang Bertanah Air Tapi Tidak
Bertanah� (1964).
Sobron Aidit lahir di Belitung 2 Juni 1934 juga mula-mula hanya menulis
sajak kemudian juga menulis cerpen dan roman. Sajak-sajak awal (sebelum ia
aktif menjadi anggota Lekra) sebagian dimuat dalam kumpulan bersama Asip
Rosidi dan S.M. Ardan berjudul �Ketemu di Jalan� (1956). Sejumlah sajaknya
dibukukan dalam palang bertempur (1959) sedangkan cerpen dan novel
revolusinya diterbitkan dengan judul Derap Revolusi (1962).
Hadi S. yang nama panjangnya ialah Hadi Sosrodanukusumo terutama menulis
sajak yang sebagian telah diterbitkan dengan judul �Yang Jatuh dan Yang
Tumbuh� (1954).
Penyair Lekra diantara yang muda ialah Amarzan Ismail Hamid (lahir ?) yang
kadang-kadang juga menulis cerpen dan esai.
4. Para Pengarang Keagamaan
Yang mau menyaingi Lekra dalam bidang penerbitan buku-buku sastra
barangkali hanya Lembaga Kebudayaan Kristen (Lekrindo) saja. Beberapa buku
kumpulan sajak dan cerita-cerita karangan para pengarang Kristen yang pernah
diterbitkan antara lain �Kidung Keramahan� (1963) kumpulan sajak Soeparwata
Wiraatmdja �Hari-hari Pertama oleh Gerson Poyk, dan kumpulan sejak malam
sunyi (1961) dan basah dan peluh (1962) kedua-duanya buah tangan Fridolin
Ukur.
Buku-buku karya sastra yang bernafaskan agama Islam tidaklah diterbitkan
oleh lembaga-lembaga atau badan-badan yang ada sangkut pautnya dengan
lembaga-lembaga kebudayaan itu kumpulan-kumpulan cerpen dan roman. Kumpulan
cerpen dan roman Djamil Suherman yang berdujul �Umi Kalsum� dan �Perjalanan
Ke Akhirat� diterbitkan oleh penerbit Nusantara. Kumpulan sajak M. Saribi
Afn �Gema Lembah Cahaya� (1964) diterbitkan oleh Pembangunan. Dan kumpulan
sajak delapan orang penyair Islam yang berjudul �Manifes� (1963 diterbitkan
oleh penerbit Tintamas)�.
Sementara itu orang-orang Katolik mempunyai sebuah majalah bulanan
kebudayaan umum yang terbit di Yogyakarta, basis yang terbit sejak tahun
1951, tetapi baru pada paruh kedua tahun lima puluhan memberikan perhatian
dan tempat yang lebih banyak buat masalah sastra dan karya-karya sastra.
Di antara para pengarang keagamaan lain yang telah menulis sajak-sajak dan
cerpen-cerpen yang dimuat dalam majalah-majalah. Tetapi belum menerbitkan
buku, antara lain patut disebut disini M. Abnar Romli, Abdulhadi W.M, B.
Jass, M. Josa Biran, Moh. Diponegoro dari agama Islam dan M. Poppy
Hutagalung, Andre Hardjana, Satyagraha Hoerip Soeprobo, Bakti Soemanto, J.
Sijaranamual dan lain-lain dari agama Kristen dan Katolik.
5. Sajak-Sajak Perlawanan Terhadap Tirani
Para mahasiswa dan pelajar di Indonesia berdemonstrasi menuntut untuk
membubarkan PKI, ritual kabinet Dwikora dan turunkan harga, yang biasa
disebut Tritura. Para pengarang dan penyair pun turut serta secara aktif
dengan cara menulis sajak-sajak perlawanan terhadap tirani. Diantaranya
adalah Tirani dan Benteng oleh Taufiq Ismail, perlawanan oleh Mansur Samin,
Mereka Telah Bangkit oleh Bur Rasuanto, Pembebasan oleh Abduk Wahid
Sitomorang, Kebangkitan oleh lima penyair mahasiswa Fakultas Sastra, Ribeli
yang ditulis oleh Aldiah Arifin, Djohan A. Nasution dan dua pengaduan Lubis,
dan sajak-sajak yang lain.
Yang paling penting adalah kumpulan sajak Tirani yang tercetak pada tahun
1966 dan Benteng tahun 1968.
Adanya protes sosial dan politik dalam sajak itu menyebabkan H.B. Jassin
memperoklamasikan lahirnya �Angkatan 66� dalam majalah Horison (1966), yang
mengatakan bahwa khas pada hasil-hasil kesusastraan 66 ialah protes sosial
dan protes politik. H.B. Jassin mengatakan bahwa pengarang yang masuk
�Angkatan 66� adalah mereka yang pada tahun 1945 berumur kira-kira 6 tahun
dan pada tahun 1966 berumur 25 tahun, mereka adalah Ajip, Rendra, Yusach
Ananda, Bastari Asnin, Hartoyo Andangdjaja, Mansur Samin, Sarbini Afn,
Goenawan Mohammad. Indonesia O�Galelano, Taufiq Ismail, Navis, Soewardi
Idris, Djamil Suherman, Bokar Hulasuhut�.
Terhadap �Angkatan 66� ini timbul berbagai reaksi Rachmat Djoko Pradopo di
Horison (1967) menyambut �Angkatan 66� sastra Indonesia dengan baik,
sedangkan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan Arief Budiman lebih menyukai nama
�Angkatan Manifes (Kebudayaan)�.
6. Beberapa Pengarang
a. B. Soelarto
Lahir tanggal 11 September 1936 di Purwarejo. Ia menulis cerpen yang penuh
dengan protes dan ejekan dan hanya catatan-catatan mengenai situasi politik
dan sosial. Dramanya yang berjudul Domba-Domba Revolusi mendapat reaksi dari
orang-orang Lekra. Kemudian drama itu ditulis dalam bentuk novel yang
berjudul Tanpa Nama oleh Nusantara tahun 1963. Balai Pustaka juga
menerbitkan sramanya yang berjudul Domba-Domba Revolusi (1968).
b. Bur Rasuanto
Lahir di Palembang, 6 April 1937. Ia menulis sajak, esai dan roman. Tahun
1967 ia pergi ke Vietnam menjadi wartawan Perang Harian Kami.
Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Bumi Yang Berpeluh (1963) dan Mereka Akan
Bangkit (1964). Sajak-sajaknya berjudul Mereka Telah Bangkit diterbitkan
dengan stensil. Romannya berjudul Sang Ayah (1969), dan Manusia Tanah Air.
c. A. Bastari Asnin
Lahir tanggal 29 Agustus 1939 d Muara Dua, Palembang. Ia bekerja sebagai
anggota redaksi Harian Kami. Cerpen-cerpennya diterbitkan berupa buku dalam
dua kumpulan yaitu Ditengah Padang dan Laki-Laki Berkuda.
d. Satyagraha Hoerip Soeprobo
Lahir di Lamongan 7 April 1934, ia banyak menulis cerpen dan esai tentang
kebudayaan. Romannya Sepasang Suami Istri melukiskan kehidupan seorang suami
politikus. Ia juga pernah menulis buku berupa cerita wayang berjudul Resi
Bisma. Tahun 1969, ia muncul sebagai editor sebuah buku Antologi Eser
Sekitar Persoalan-Persoalan Sastra yang memuat esai karya Asrul Sani, Iwan
Simatupang, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan lain-lain.
e. Gerson Poyk
Lahir di Namodale, Pulau Roti, 16 Juni 1931. Buku pertamanya sebuah roman
pendek berjudul Hari-Hari Pertama (1964). Ia menjadi wartawan surat kabar
Sinar Harapan, Jakarta.
Pengarang-pengarang kita seperti Fas Siregar menerbitkan kumpulan cerpen
berjudul Harmoni dan roman Terima Kasih. LC. Bach menerbitkan sebuah riman
yang berjudul hari Membaja. Djumri Obeng menerbitkan roman yang berjudul
Dunia Belum Kiamat. Poernawan Tjonsronagoro menerbitkan Mendarat Kembali dan
Mabuk Sake. Rosidi Amir menerbitkan Jalan yang Tak Kunjung Datat. Zen Rosidy
menerbitkan cerpen berjudul Cinta Pertama. Tabrin Tahar menrbitkan Guruh
Kering. Maria Madijah menulis roman Kasih di Medan Perang.
Di majalah Sastra dan Horison juga ada beberapa pegnarang baru, misalnya
Zulidahlan, Umar Kayam, Danarto, Muh. Fudali, Julius Sijaranamual, dan
lain-lain yang belum mendapat kesempatan untuk mencetak cerpen-cerpen mereka
menjadi buku.
7. Beberapa Penyair
a. Taufiq Ismail
Lahir tahun 1937 di Bukit Tinggi dan dibesarkan di Pekalongan. Beliau mulai
mengumumkan sajak-sajak, cerpen-cerpen dan esai-esainya sejak tahun 1954.
Baru pada awal tahun 1966 ia muncul ke permukaan ketika karyanya berjudul
�Tirani� berisi sajak-sajak diumumkan di tengah-tengah demonstrasi para
mahasiswa dan pelajar yang menyampaikan �Tritura�. Dalam karyanya ini,
beliau memakai nama samaran Nur Fadjar. Sajak-sajak itu berjumlah 18 dan
dituliskan dalam waktu seminggu, antara tanggal 20 dan 28 Februari 1966 dan
diterbitkan pertama kali di Majalah Gema Psycholohi. Kali ini Taufiq sudah
terang-terangan mengumumkan namanya sendiri.
Antara tanggal 20 sampai 28 Februari 1966 di Jakarta terjadi
peristiwa-peristiwa penting. Demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang menuntut
Tritura, uang diganti, bensin dinaikkan harganya, ongkos bis kota dinaikkan
lima kali lipat. Tanggal 24 Februari kabiner Dwikora yang baru dan malah
memasukkan menteri-menteri Gestapu lebih banyak lagi akan ditantik. Para
mahasiswa dan pelajar bergerak. Bentrokan terjadi disertai penembakan. Arif
Rahman Hakim tertembak dan wafat. Hal ini menyebabkan para mahasiswa dan
pelajar lebih marah lagi. Pemakaman Arif Rahman Hakim dilakukan secara
pahlawan dan orang yang mengiringi jenazahnya pe pekuburan sangat banyak.
Latar belakang itu harus dipahami agar kita dapat menikmati sajak-sajak
Taufiq Ismail dalam Tirani yang menggugah rangsang emosional pembacanya
secara meluas.
Peristiwa di Skeretariat negara (penembakan dan beberapa orang mahasiswa
terluka) direkamkan dalam sajak �Sebuah Jaket Berlumur Darah�, �Harmoni�,
�Jalan Segara�. Penembakan Arif Rahman Hakim direkamkan dalam sajak
�Karangan Bunga�, Salemba�, �Percakapan Angkasa�, �Aviasi�, dan �Seorang
Tukang Rambutan pada Isterinya�.
Sajak-sajak yang dimuat dalam �Benteng� tak jauh beda dengan yang dimuat
dalam �Tirani�. Hanya dalam Benteng pikiran sudah lebih banyak bivara. Dalam
sajaknya �Rendezvous�, Taufiq yakin bahwa tugas yang ketika itu sedang
dilakukannya ialah tugas sejarah yang tak bisa dielakkan. Maka tujuan dan
cita-cita yang lebih terperinci dirumuskannya dalam �Yang Kami Minta
Hanyalah�, �Refleksi Seorang Pejuang Tua�, �Benteng�, dan �Nasihat-nasihat
Kecil Orang tua pada Anaknya Berangkat Dewasa�.
b. Goenawan Mohamad
Dikenal sebagai penulis esai yang tajam dan penuh dengan kesungguhan. Tetapi
ia pun sebenarnya seorang penyair berbakat dan produktif. Sajak-sajaknya
banyak tersebar dalam majalah-majalah. Sajak-sajak itu mempunyai suasana
muram sepi menyendiri. Kesunyian manusia di tengah alam sepi tanpa kata
banyak menjadi temannya, misalnya �Senja pun Jafi Kecil, Kota pun jadi Putih�
(Horison 1966). Tetapi, ia juga menaruh perhatian kepada masalah-masalah
sosial dan kehidupan sekelilingnya. Misalnya sajak �Siapakah Laki-laki yang
Roboh di Taman ini ?� (Basis 1964).
Juga masalah agama banyak menjadi tema. Situasi kehidupan agama menyebabkan
ia berpendapat : ����manusia tak lagi bebas, di mana agama bukan lagi
merupakan kekuatan rohaniah, tetapi sudah merupakan kekuatan jasmaniah yang
mengontrol tindak tanduk manusia. Manusia lama-kelamaan tidak lah menyembah
Tuahn, tetapi menyembah agama dengan segala aturan-aturannya yang mendetail�.
Selanjutnya ia berkata: �Tak lain adalah bersikap kreatif yang membawa kita
ke arah cara berfikir yang dialektik, sehingga segala macam ortodoksi
setapak dmi setapak akan luntur, dekimian pula segala macam fanatisme dan
segala bentuk sektarisme. Bagi kehidupan keagaman itu sendiri sikap kreatif
itu amat diperlukan untuk membawa agama kearah modernisasi dalam cara
berfikir dan dengan demikian, juga modernisasi seluruh masyarakat� (Horison
1966).
Goenawan lahir di Pekalongan tahun 1942 sajak-sajak da esai-esainya belum
diterbitkan sebagai buku kecuali yang dimuat bersama buah tangan para
penyair lain dalam manifestasi yang diselenggarakan oleh M. Saribi Afn.
Penyair-penyair lain
Saini K.M (lahir di Sumedang pada tanggal 16 Juni tahun 1938) banyak menulis
sajak-sajak yang dimuat majalah-majalah sekitar tahun enam puluhan. Selain
itu, beliau juga menulis cerpen dan esai serta menerjemahkan dalam bahasa
Indonesia dan bahasa daerahnya, bahasa Sunda. Kumpulan sajaknya �Nyanyian
Tanah Air� (tahun 1968) memuat sepilihan sajak-sajaknya.
Sapardi Djoko Damono menulis sajak yang kesederhaan pengucapannya langsung
menyentuh hati. Sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1967-1968 diterbitkan
akhir 1969 dengan judul �Duka Mu Abadi�.
Wing Kardjo Wangsaatmadja (lahir di Garut pada tanggal 23 April 1937) sudah
menulis sajak pertengahan tahun lima puluhan. Ia telah mengumumkan satu-dua
sajaknya pada masa itu. tetapi baru setelah ia bermukim di Paris (tahun
1963-1967), ia mengumumkan sajak-sajaknya secara berlimpah. Selain itu, ia
banyak menerjemahkan dan menulis esai dan kritik tentang persoalan-persoalan
seni umumnya.
Budiman S. Hartojo (lahir di Solo pada tanggal 5 Desember 1938) juga banyak
menulis sajak-sajak dalam berbagai majalah. Demikian pula Piek Ardiajnto
Suprijadi, Arifin C. Noer, Abdulhadi W.M, Indonesia O�Galelano, Sanento
Juliman, Darmanto Jt, dan lain-lain.
Beberapa penyair telah berbahagia dapat melihat kumpulan sajaknya terbit,
misalnya Kamal Firdaus T.F menerbitkan �Di Bawah Fajar Menyingsing� (1965),
dan Rachmat Djoko Pradopo (lahir 3 Novemcber 1939 di Klaten) menerbitkan
�Matahari Pagi di Tanah Air� (1967) dan Slamet Kirnanto menerbitkan �Kidung
Putih�, �Puisi Alit� (1967).
8. Para Pengarang Wanita
Titie Said, S. Tjahjaningsih, Titis Basino, Sugiarti Siswandi, Ernisiswati
Nutomo, Enny Sumargo, dan lain-lain sebagai pengarang prosa. Sedangkan
sebagai penyair kita lihat munculnya Isma Sawitri, Dwiarti Mardjono, Susy
Aminah Aziz, Bipsy Soerharjo, Toeti Heraty Noerhadi, Rita Oetoro dan
lain-lain.
Titie Said (Ny. Titie Raja Said Sadikun) adalah seorang wanita yang banyak
menulis cerpen. Ia dilahirkan di Bojonegoro, 11 Juli 1935. Titie Said pernah
menjadi anggota redaksi majalah Wanita. Cerpen-cerpennya kemudian
dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul �Perjuangan dan Hati Perempuan�
(1962). Sebagian besar dari cerpen-erpen yang dimuat dalam buku itu
mengisahkan perjuangan dan perasaan hati perempuan. Cerpen-cerpennya �Maria�
dan �Kalimutu� merupakan cerpen-cerpen terbaik yang dimuat dalam buku
tersebut.
S. Tjahjaningsih muncul dengan sebuah kumpulan cerpennya �Dua Kerinduan�
(1963). Kebanyakan cerpennya belum meyakinkan kita akan kematangannya. Yang
dia berikan tidak lebih dari hanya harapan untuk masa depan.
Sugiarti Siswandi banyak menulis cerpen yang dimuat dalam lembaran-lembaran
penerbitan Lekra. Kumpulan cerpennya �Sorga di Bumi� terbit tahun 1960.
Disamping itu masih banyak lagi cerpen-cerpennya yang lain belum dibukukan.
Ernisiswati Hutomo banyak menulis cerpen yang antara lain dimuat dalam
majalah Sastra. Tetapi belum ada yang dibukukan. Demikian juga dengan Titis
Basino yang menulis cerpen dengan produktif dalam cerpen-cerpen Titis banyak
dilukiskan sifat dan tabiat wanita yang kadang-kadang tak terduga, merupakan
misteri.
Enny Sumarjo (lahir di Blitar pada tanggal 21 November 1943) terutama banyak
mengumumkan buah tangannya berupa cerpen di daerah (Yogyakarta, Semarang).
Kini ia telah menrbitkan sebuah roman berjudul �Sekeping Hati Perempuan�
(1969).
Susy Aminah Aziz (lahir di Jatinegara tahun 1939) telah berhasil menerbitkan
sejumlah sajaknya dalam kumpulan berjudul �Seraut Wajahku� (1961). Tetapi
sajak-sajak itu tak lebih dari pada hanya menjanjikan kemungkinan saja,
seperti juga dengan sajak-sajak Dwiarti Mardjono yang dimuat dalam majalah
sastra.
Yang menulis sajak lebih dewasa dan lebih baik ialah Isma Sawitri dan
belakangan ini Toety Heraty Noerhadi. Isma Sawitri dilahirkan di Langsa,
Aceh, tanggal 21 November 1940. Sajak-sajaknya banyak dimuat dalam majalah
Sastra, Indonesia dan majalah-majalah lain pada awal tahun enam puluhan.
Kumpulan kwatrinnya yang diberinya berjudul �Kwatrin� terdiri dari lebih 100
buah, sedang menunggu penerbitannya. Sambil terus mengikuti kuliah di
jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta ia lama
menjadi anggota redaksi surat kabar Angkatan Bersenjata, kemudian pindah ke
Pedoman.
Toety Heraty Noerhadi yang kalau menulis mempergunakan Toety Heraty,
dilahirkan di Bandung tahun 1934, baru mulai mengumumkan sajak-sajaknya pada
tahun 1967 dalam Horison. Ia merupakan seorang sarjana psikologi yang
disamping menulis sajak juga menulis esai.
9. Drama
Penulisan drama pada masa dulu lebih banyak dimaksudkan sebagai drama bacaan,
sedang drama baru lebih erat hubungannya dengan pementasan. Para penulis
drama kebanyakan ialah orang-orang yang aktif dalam bidang pementasan, baik
sebagai sutradara maupun pemain. Contoh pengarang drama:
1. Mohamad Diponegoro seorang ketua group drama teater muslim di Yogyakarta.
Contoh karyanya antara lain : Iblis, Surat pada Gubernur. Dia juga dikenal
sebagai penulis cerpen dan penerjemah ayat-ayat Alquran secara puitis. Namun
sampai sekarang karnyanya belum diterbitkan.
2. M. Yunan Helmy Nasution ketua Himpunan Seniman Budayawan Islam (HSBI).
3. Saini K.M seorang penyair juga pemain teater Perintis Bandung.
4. B. Soelarto dengan karyanya Domba-domba Revolusi.
5. Arifin C. Noer aktif di teater Muslim dan group drama di Yogyakarta tahun
1968 dia pindah ke Jakarta dan membentuk Teater kecil.dua aktif sebagai
sutradara dan pemain. Ia banyak menulis sajak, drama, kritik dan esai.
Bahkan dramanya yang berjudul �Matahari di sebuah Jalan Kecil� dan �Nenek
Tercinta� mendapat hadiah sayembara penulisan drama teater Muslim tahun
1963.
10. Esai
Pada angkata 45 para penulis esai dapat dihitung dengan jari. Setelah itu
bermunculan penulis-penulis esai dan yang paling dikenal Iwan Simatupang.
Dia banyak melontarkan gagasan-gagasan dan perspektif-prespektif baik. Namun
esai-esai yang ada dalam malajah-majalah yang pertama memuatnya hampir semua
terbenam. Kumpulan esai tentang persoalan sastra telah diterbitkan oleh
Setyagraha Hoerip Soeprobo dengan judul �Antologi Esai sekitar persoalan
Sastra (1969).
|