|
1. Angkatan �45
Munculnya Khairil Anwar dalam panggung sejarah sastra Indonesia memberikan
sesuatu yang baru. Sajak-sajaknya tidak seperti sajak-sajak Amir Hamzah yang
masih mengingatkan kita kepada sastra Melayu. Bahasa yang dipergunakannya
ialah bahasa Indonesia yang hidup, berjiwa. Bukan bahasa buku, melainkan
bahasa percakapan sehari-hari yang dibuatnya bernilai sastra.
Khairil Anwar segera mendapat pengikut, penafsir, pembela dan penyokong.
Dalam bidang penulisan puisi muncul para penyair Asrul Sani, Rivai Apin, M.
Akbar Djuhana, P. Sengojo, Dodong Djiwapraja, S. Rukiah, Walujati, Harijadi
S. Hartowardoyo, Moch. Ali dan lain-lain. Dalam bidang penulisan prosa,
Idrus pun memperkenalkan gaya menyoal-baru yang segera mendapat pengikut
luas.
Dengan munculnya kenyataan itu, banyak orang yang berpendapat bahwa sesuatu
angkatan kesusastraan baru telah lahir. Pada mulanya angkatan ini disebut
Angkatan Sesudah Perang, ada yang menamakannya Angkatan Khairil Anwar,
Angkatan Kemerdekaan dan lain-lain. Pada tahun 1948 Rosihan Anwar menyebut
angkatan ini dengan nama Angkatan 45. Nama ini segera menjadi populer dan
dipergunakan oleh semua pihak sebagai nama resmi.
Tetapi sementara itu, meskipun namanya sudah diperoleh, sendi-sendi dan
landasan idealnnya belum lagi dirumuskan. Baru pada tahun 1950, �Surat
Kepercayaan Gelanggang� dibuat dan diumumkan. Ketika itu Khairil Anwar sudah
meninggal. Surat kepercayaan itu ialah semacam pernyataan sikap yang menjadi
dasar pegangan perkumpulan yang bernama �Gelanggang Seniman Merdeka�, yang
didirikan tahun 1947.
SURAT KEPERCAYAAN GELANGGANG
Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini
kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang
banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana
dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.
Ke-Indonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang,
rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis kami menjorok ke depan, tapi
lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran
kami. Kalau kami bicara tentang kebudyaan Indonesia, kami tidak ingat kepada
melap-lap hasil kebudayaan lama sampai mengilat dan untuk dibanggakan,
tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudyaan baru yang sehat.
������������������������.
Jakarta 18 Februari 1950
Sebegitu banyak yang memproklamasikan kelahiran dan membela hak hidup
Angkatan �45, sebanyak itu pulalah yang menentangnya. Armijn Pane
berpendapat bahwa Angkatan �45 hanyalah lanjutan dari yang sudah dirintis
angkatan sebelumnya, yaitu Angkatan Pujangga Baru.
Pada tahun 1952, H.B. Jassin mengumumkan sebuah essai berjudul �Angkatan
�45� yang merupakan pembelaan terhadap kelahiran dan hak hidup Angkatan �45.
Jassin mengatakatan bahwa bukan hanya dalam gaya saja perbedaan antara
Angkatan �45 ini dengan para pengarang Pujanggga Baru, melainkan juga dalam
visi (pandangan). Essai itu kemudian diterbitkan dalam kumpulan karangan
Jassin berjudul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay (1954).
Chairil Anwar
Chairil Anwar dilahirkan di Medan tanggal 22 Juli 1922. Sekolahnya hanya
sampai mulo ( SMP ) dan itu pun tidak tamat kemudian ia belajar sendiri,
sehingga tulisan-tulisannya matang dan padat berisi.
Dari esai dan sajak-sajaknya jelas sekali ia seorang individualis yang bebas.
Dengan berani dan secara demonstratif pula ia menentang sensor Jepang dan
itu menyebabkan ia selalu menjadi incaran Kenpetai (polisi rahasia Jepang
yang terkenal galak dan kejam).
Sajaknya yang termasyhur dan merupakan gambaran semangat hidupnya yang
memberist dan individualis berjudul AKU (ditempat lain diberi judul �Semangat�).
Dalam sajak itu ia menyebut dirinya sebgai �binatang jalang�, sebutan yang
segera menjadi terkenal.
AKU
Kalau sampai waktuku
�Ku mau tak seorang �kan merayu
Tidak juga kau.
Tak perlu sedus edan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa �ku bawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Selain seorang individualis, Khairil juga amat mencintai tanah air dan
bangsanya. Rasa kebangsaan dan patriotismenya tampak dalam sajak-sajaknya Diponegero, Kerawang�Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, Siap Sedia,
Cerita Buat Dien Tamaela, dan lain-lain.
DIPONOGORO
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagus menjadi api
Di depan sekali Tuan menenti
Tak gentar. Laean banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselubung semangat yang tak bisa mati
Maju
Ini baaaarisan tak bergenderang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati
Maju
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Biansa di atas ditinda
Sungguh pun dalam ajal baaaaaru tercapai
Jika hidup haarus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
Meskipun dalam beberapa sajaknya ia sering seolah-olah sinis mengejek
nili-nilai moral, termasuk nilai-niai agama, sebenarnya ia bukan tidak
mempunyai rasa keagamaan. Sajaknya yang berjudul Doa dan Isa menunjukkan
perasaan keagamaan yang mendalam.
DO�A
Kepada Pemeluk Teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar sudah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling.
Sajak-sajak Khairil merupakan renungan tentang hidup, penyelaman
terhadap kenyataan, lukisan perasaan manusia, cinta-kasih, berahi, dan
lain-lain. Beberapa sajaknya sangat romantis sepeti Tuti Artic, Senja di
Pelabuhan Kecil, Cintaku Jauh di Pulau, dan lain-lain. Dalam sajak Sorga ia
sangat sinis mengejek manusia-manusia yang membayangkan sorga dalam ukuran
duniawi.
Masih ketika ia hidup, telah timbul heboh karena sajaknya yang berjudul Datang Dara Hilang Dara yang diumumkan lam majalah
Mimbar Indonesia atas
namanya ternyata plagiat dari sajak Hsu Chih Mo berjudul A Song of Sea. Tatkala sudah meninggal, heboh tentang plagiat ini timbul lagi karena
beberapa sajaknya yang lain ternyata berdasarkan sajak-sjak orang lain tanpa
menyebut sumbernya. Sajaknya Kerawang-Bekasi ternyata plagiat dari sajak
Archibald MacLeish berjudul The Young Dead Soldiers. Demikian juga sajak
Kepada Peminta-minta, Rumahku dan lain-lain.
Pada tahun 1948, Chairil Anwar menerbitkan dan memimpin redaksi majalah Gema
Suasana tetapi segera pula ditinggalkannya. Ia tak pernah betah lama-lama
kerja di suatu kantor dan pada tahun 1949, tanggal 28 April ia meninggal di
RSU Pusat Jakarta karena serangan penyakit tipes dan penyakit lain. Ketika
dikuburkan dipemakaman karet masyarakat Jakarta menunjukan perhatian yang
besar dengan mengirimkan jenazahnya.
Setelah meninggal sajak-sajaknya diterbitkan orang sebagai buku: Kerikil
Tajam dan yang Terampas dan yang Luput (1949), Deru Campur Debu (1949),
Tiga
Menguak Takdir (1950). Yang terakhir merupakan kumpulan sajak bertiga dengan
Asrul Sani dan Rivai Avin. Tulisan-utlisan Khairil yang tidak dimuat dalam
ketiga kumpulan itu kemudian diterbitkan dengan kata pengantar H.B. Jassin
berjudul Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956). Dan sajaknya telah
diterjemahkan kedalam bahasa asing di antaranya di dalam bahasa Inggris,
Perancis, Spanyol, Belanda, Rusia, Hindi, dan lain-lain.
Asrul Sani dan Rivai Apin
Penyair kawan seangkatan Khairil Anwar yang bersama sama mendirikan �Gelanggang Seniman Merdeka� ialah Asrul Sani dan Rivai Apin. Ketiga penyair
itu biasanya dianggap sebagai trio pembaharu puisi Indonesia, pelopor
Angkatan 45. Ketiga penyair itu menenrbitkan kumpulaan sajak bersama, Tiga
Menguak Takdir (1950).
Asrul Sani lahir di Riau Sumatera Barat tanggal 10 Juni 1926, ia pertama
kali mengumumkan sajak dan karyanya yang lain dalam majalah Gema Suasana dan
Mimbar Indonesia , tahun 1948.
Asrul Sani seorang sarjana ke Dokteran Hewan yang kemudian menjadi Direktu
Akedemi Tater Nasional Indonesia (ATNI) dan menjadi ketua Lembaga Seniman
Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI), juga pernah duduk sebagai DPRGR/MPRS
Wakil Seniman.
Sajak-sajak Asrul Sani sangat merdu (melodius). Kata-katanya memberikan
citra (image) yang lincah dan segar. Dalam sikap ia seorang moralis yang
sangat mencintai dan meratapi manusia dan kemanusiaan. Sajak-sajaknya Matera
dan Surat dari Ibu menunjukkan pandangan hidupnya yang moralis.
MANTERA
Raja dari batu hitam
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari ke mari!
Aku laksamana dari lautan menghentam malam hari
Aku panglima dari segala burung rajawali
Aku tutup segala kota, aku sebar segala api,
Aku jadikan belantara, jadi hutan mati.
Tapi aku jaga supaya janda-janda tidak diperkosa.
Budak-budak tidur di pangkuan bunda
Siapa kenal daku, akan kenal bahagia
Tidak takut pada hitam,
Tiada takut pada kelam
Pitam dan kelam punya aku.
����������������
Dalam sajak itu dia mengaku bahwa dirinya sebagai �laksamana dari lautan�
dan �panglima dari segala burung rajawali yang menutup segala kota sambil
menyebarkan api, supaya janda-janda tidak diprkosa� dan supaya �budak-budak
tidur di pangkuan bunda.�
Cerpen-cerpen Asrul Sani melukiskan betapa halus perasaannya pada manusia;
meluiskan kehidupan manusia yang hanya menyebabkan kemalangan dan
penderitaan sendiri. Beberapa cerpen karangan Asrul Sani yang terkenal
antara lain yang berjudul �Bola Lampu, Sahabat Saya Cordiaz, Si Penyair
Belum Pulang, Perumahan Bagi Fadjria Novari, Dari Suatu Masa Dari Suatu
Tempat, Museum, Panen � , dll.
Rivai Apin lahir di Padang Panjang tanggal 30 Agustus 1927. Sajak-sajaknya
tidak semerdu sajak-asajak Asrul, tetapi berat dengan masalah yang mau
sungguh-sungguh. Sejak masih duduk di sekolah menegang ia telah mengumumkan
sajak-sajak dalam majalah-majalah terkemuka. Ia pernah duduk sebagai anggota
redaksi Gema suasana, Gelanggang, dan Zenith. Tahun 1954 ia melaksasnakan
tindakan yang mengejutkan kawan-kawannya. Ia keluar dari redaksi Gelanggan
dan beberapa waktu kemudian ia masuk kelingkungan Lembaga Kebudayaan Rakyat
(Lekra).
Idrus
Lahir di Padang tanggal 21 September 1921. Ia pelopor angkatan 45, lulus
dari sekolah menengah, ia bekerja dari menjadi redaktur Balai Pustaka. Di
sanalah ia mulai menaruh perhatian kepada sastra. Pada zaman Jepang ia
menulis beberapa cerita romantik tentang pemuda yang berjuang untuk Asia
Timur Raya seperti Ave Maria dan dramanya Kejahatan Membalas Dendam.
Tapi, ketika melihat kesengsaraan dan kemelaratan rakyat di bawah kaki Dai
Nippon, ia meninggalkan cerita romantic, dan mulai menuliskan cerita-cerita
yang melukiskan ralitaskehidupan sehaari-hari. Sesudah masa revolusi
tuliannya diumumkan dengan judul umum �Corat-Coret di Bawah Tanah�. Cerita
ini melukiskan tentang kehidupan rakyat di jaman Jepang secara sinis dan
kasar. Sikap sinis dan kasarnya diperlihatkan dalam karangannya Surabaya,
sampai-sampai ia di sebut � Kontra Revolusi �.
Karangan-karanagan itu keudian dikumpulkan dan diterbitkan sebagai buku
dengan judul �Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma� (1948). Cerita lainnya
adalah Aki (1940) yang merupakan kidah simboliknya dengan maut. Di samping
itu ada sebuah sandiwara dengan judul �Keluarga Surono� (1948) terbit di
Medan.
Ketika Idrus memimpin majalah kebudayaan dengan nama Indonesia, ia menulis
tentang para pengarang antara lain, �Sultan Takdir Alisyahbana sebagai
pengarang roman. Ia juga memuat roman Autobiografisnya berjudul �Perempuan
dan Kebangsaan� (1949), tapi roman ini dianggap gagal.
Setelah keluar dari Balai Pustaka ia bekerja di GIA (Garuda Indonesia
Airways). Tahun 1953 ia muncul dengan cerpennya dalam majalah Kisah. Di
lapangan penerjemahannya ia berjasa telah memperkenalkan pengarang Rusia
Anton Chekhov (1883 � 1923), pengaran Belgia William Elsshot (1882) dll.
Kemudian ia pindah ke Kuala Lumpur dan mendirikan perusahaan penerbitan.
Buku yang diterbirkannya yaitu, �Dengan Mata Terbuka� (1961), �Hati Nurani
Manusia� (1963).
Achadiat K. Mihardja
Meskipun pada zaman revolusi ia sudah menerbitkan dan memimpin majalah
Gelombang Zaman, nama Achdiat tidak peernah disebut-sbut dalam dunia sastra
sampai ia muncul dengan romannya Atheis (1948). Ia dilahirkan di garut pada
tanggal 6 Maret 1911.
Roman itu melukiskan kehidupan dan kemelut manusia Indonesia dalam
menghadapi berbagai pengaruh dan tantangan jaman. Tokoh Utamanya seorang
pemuda kelahiran desa bernama Hasan. Pada masa kecilnya hidup dalam
lingkungan keluarga yang taat beragama Islam dan pengikut suatu aliran
tarikat tapi ketika ia bekerja di kota, jauhlah ia dengan kehidupan agama.
Apaagi ketika akhirnya bertemu dengan kawan sekolahnya yangbenama Rusli yang
dengan sadar menyebut dirinya sebagai seorang ateis. Hasan yang kesadaraan
agamanya hanya secara tradisional saja mudah sekali terombang-ambing.
Perkataan-perkatan Rusli yang berpandangan Marxis mengguncangkan imannya.
Terutama keeetika ia jtuh cinta kepada seorang janda muda bernama Kaartini,
kawan Rusli, yang menuuuuurrt analisis Rusli menjadikorban kekejman kelas:
Kartini keeeetika masih gadis dikawinkan oleh olrang atuanya dengan arab
yang menjadilintah daraat.
Hasan terombang-ambing jiwnya: menjaaaai atheis tidakdan kemjai seorng
beragama yang taat pun tidak lagi. Dalaamsuasamna terombang ambingitu I
amneglami berbagai cobaan ula: kekurag ajaran Anawaruang menyebabkan Hasan
selal hidup dalamcemburu terus-terusan karena kelihatan maumengganggu
Kaartini, hubungan dengan orang tuanya yang memburuk, ketakutannya akansiksa
neraka danlain-lain
Roman ini bentuknya sangat istimewa dan orosinil. Sebelumnya tak pernah ada
roman seperti itu di Indonesia, baik struktur maupun persoalannya.
Flash-back bukan untuk pertama kali dipergunakan dalam penulisan roman
Indonnesia. Bahkan Azab dan Sengsara yang terbit 1920 juga menggunakan cara
flash-back. Tetapi cara Achdiat menggunakan flash-back sangat menarik:
Atheis dibuka dengan suatu adegan �si aku� pengarang bersama Kartini mencari
berita tentang Hasan. Hasan ketika itu sudah mati. Kemudian, si aku
mengisahkan pertemuan dengan Hasan yang memberikan karangan berdasarkan
pengalaman hidupnya. Maka mulailah cerita Hasan sampai hubungan dengan orang
tuanya mencapai krisis.
Tentang roman etis ini seorang sarjana sastra Dra. Boen Sri Oemarjati telah
menerbitkan berjudul Roman Ateis (1963).
Dia pernah bekerja menjadi pemimpin Balai Pustaka, kemudian pindah ke
Jawatan Kebudayaan sampai pensiun. Tahun 1959 ia mengajar sastra modern di
Fakultas Sastra UI dan tahun 1962 mengajr drama Indonesia modern di The
Asutralian National University, Canbera.
Achdiat bukan pengarang yang produktif. Beberapa tahun lamanya seelah Atheis
ia hanya menerbitkan Polemik Kebudyaan (1948) yang merupakan kumpulan
polemik sebelum perang dan drama anak berjudul Bentrokan dalam Asmara
(1952). Baru pada tahun 1956 terbit pula karya sastranya berjudul Keretakan
dan Ketenangan yang merupakan cerpen dan drama satu babak dan mendapat hadih
sastra nasional dan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 1955 �
1956.
Dalam cerpennya dan dramanya itu, Achdiat secara halus dan tajam melukiskan
o-ka-ba (Orang Kaya Baru) yang penuh kesibukan dan kegermelapan, tetapi
sesungguhnya kosong dan hampa. Tahun 1961 terbit cerpen Kesan dan Kenangan.
Pramoedya Ananta Toer
Dilahirkan di Blora pada tanggal 2 Pebruari 1925, mulai mengarang sejak
zaman Jepang dan masa revolusi, Kranji dan Bekasi Jatuh (1947). Meskipun
demikian, baru menarik perhatian duna sastra Indonesia tahun 1949 ketika
cerpennya Blora yang ditulisnya dalam penjara diumumkan dan romannya
Perburuan (1950) mendapat hadiah sayembara pengaran yang diadkan oleh Balai
Pustaka. Blora ditulis dalam gaya yang sangat padat dan menyenakkan. Cerpen
itu kemudian bersama dua buah cerpen lainnya yang juga ditulis Pram
dalam penjara ditebitkan menjadi sebuah buku berjudl Subuh (1950).
Roman Keluarga Gerilya (1950) dan cerpen-cerpen yang ditulisnya dalam
penjara itu bersama sama beberapa cerpen yang ditulisnya sebelumnya
diterbitkan dalam buku yang berjudul Percikan Revolusi (1950).
Perburuan ialah sebuah cerita fiksi (rekaan) yang berdasarkan pemberontakan
PETA yang gagal terhadap Jepang, karena salah satu orang di antara shodancho
yang akan berontak itu berkhianat. Selanjutnya Pram membahas kesetiaan
manusia: ketika shodancho Hardo yang menyamar sebagai kere bertemu dengan
bakal mertuanya, dengan ayahnya, ia hanya menemukan kekecewaan saja. Bakal
metuanya berkhianat lapor pada Jepang dan ayahnya yang dicopot dari
kekdudukanya sebagai wedana menjadi penjudi. Semua perisitwa itu
dipadatkan pengarang terjadi dalam tempo sehari semalam.
Juga dalam roman Keluarga Gerilya peristiwa-peristiwa yang terjaadi
dipadatkan dalam tiga malam saja. Keterangan di bawah judul bukunya,
�Kisah keluarga manusia dalam tiga hari tiga malam saja.�
Pram ialah seorang yang sangat produktif menulis, tak henti-hentinya ia
menulis, Mereka yang Dilumpuhkan (dua jilid, terbit 1951 � 1952) merupakan
pengalamannya selama dipenjara; Cerita dari Blora 1952 mendapat hadiah
sastra nasional BMKN. Tahun 1952 menerbitkan kumpulan cerpennya Di Tepi Kali
Bekasi 1950. Sebuah roman yang melukiskan perjuangan para pemuda Indonesia
sekitar Krawang dan Bekasi; Bukan Pasar Malam 1951, Gulat di Jakarta 1953, Korupsi 1954,
Midah si Manis Bergigi Emas 1954, Cerita dari Jakarta 1957, dll.
Dalam cerpennya Dia yang Menyerah yang dimuat dalam buku Cerita dari Blora
Pram melukiskan sebuah keluarga yang menjadi korban pemberontakan PKI di
Madiun 1948. Dalam cerita itu ia mengutuk PKI. Tetapi, sikapnya terhadap PKI
berubah sejak pertengahan tahun 1950-an.
Pada awal tahun 1960 ia sudah masuk menjadi seorang anggota pimpinan LEKRA
yaitu sebagai seksi seni sastra dari Lekra dan memimpin grup Lentera yang
melalui surat kabar Bintang Minggu tak habis-habisnya menyerang para
pengarang yang tidak sependirian dengan mereka dengan berbagai fitnah dan
insinuasi. Karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing
yaitu: Inggris, Belanda, Rusia, Cina, dan Jepang dll.
Semasa menjalani hukuman di Pulau Buru, Pram menulis kwartet Bumi Manusia,
Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, yang sempat dilarang
beredar pada masa Orde Baru dan baru bisa dinikmati secara bebas beberapa
tahun setelah rejim orba jatuh melalui gerakan Reformasi 1997. Dalam kwratet
itu Pram melukiskan masa awal tumbuhnya nasionalisme untuk melawan
pemerintah kolonial Belanda di wilayah Hindia Belanda melalui sinergi tokoh
Nyai Ontosoroh, seorang gundik Belanda, Tuan Melema, dan anak pribumi
bernama Minke.
Semangat perlawanan dimulai ketika hak asasi mereka diinjak-injak kaum
penjajah. Annelis, kekasih sekaligus istri Minke dan anak kesayangan Nyai
direnggut secara paksa oleh hukum kolonial. Annelis diambil paksa harus
meninggalkan tanah kelahiran dan orang-orang yang dicintainya di Hindia
Belanda.
Mochtar Lubis
Terkenal sebagai wartawan surat kabar yang dipimpinnya adalah : Indonesia
raya dan dilarang terbit pada tahun 1958. Ia sendiri sejak tahun 1956
ditahan denga tuduhan yang bukan-bukan, hampir 9 tahun ia disekap oleh rezim
pemerintahan SEKARNO dan dikeluarkan pada tahun 1966. Setelah keluar ia
bersama H.B. Yassin , Taufik Ismail, arief Budiman, Goenawan, Mohammad. Dll
menerbitkan dan memimpin majalah Sastra � HORISON �.
Ia lahir di Padang tanggal 7 Maret 1922. Buku romannya yang pertama berjudul
Tak Ada Esok (1950), Jalan Tak Ada Ujung (1952) dan mendapat hadih
sastra nasional dari BMKN. Roman ketiga berjudul Senja di Jakarta menceritakan tentang kehidupan politik kotor para
koruptor, manipulator, dan
propiteur di Jakarta dengan latar belakang kehidupan rakyat jelata.
Roman Jalan Tak Ada Ujung menceriterakan kehidupan jiwa seorang guru
yang senantiasa dalam ketakutan pada masa revolusi. Roman ke 4 berjudul Tanah Gersang 1966 menceriterakan tentang motif kejahatan anak-anak yang
tidak mendapat cinta dan perhatian yang cukup dari orang tuanya.
Ia juga menulis cerpen dan esai (sering menggunakan SAVITRI), kumpulan
cerpen yang ditulisnya yaitu SI JAMAL dan PEREMPUAN.
Utuy Tatang Sontani
Lahir di Cianjur tahun 1920. Terkenal sebagai pengarang drama. Drama pertama
berupa drama sajak berjudul � Suling � 1948. Drama kedua berjudul Bunga
Rumah Makan 1948 �Awal dan Mira� 1952 yang mendapat hadiah dari sastra
nasional BMKN . Namun drama Utuy yang terkuat dan terbaik berjudul � Selamat
jalan anak kufur �. Romannya yang berjudul � TAMBERA � yang sampai sekarang
dianggap salah satu roman terpenting angkatan 45.
Sitor Situmorang
Lahir di Harianboho, Tapanuli tanggal 2 ktober 1942. Mulai terkenal tahun
1953, ketika menulis sajak, drama, cerpen, esai, dll. Sajaknya pertama
berjudul � Surat Kertas Hijau � 1954. Sajaknya kedua berjudul �Dalam Sajak�
1955.
Ada jugamnerbitkan darama yang berjudul � Jalan Mutiara � 1945 dan kumpulan
cerpennya yang berjudul �Pertempuran dan Salju � di Paris 1956, sajak yang
dibuatnya berjudul � Lagu Gadis Italia �.
Kerling danau dipagi hari
Lonceng Gereja bukit Italia
Jika musimmu tiba nanti
Jemoputlah abang diteluk napoli
�������������
�������������
Menjelang akhir tahun lima puluhan , ia aktif dalam dunia politik praktis,
tahun 1959 ia menjadi ketua pertama dari Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN).
Namun kelincahan dan kemerduan yang tadinya terdapat dalam sajaknya di ganti
dalam kumpulan bahasa gombastis dan slogan-slogan murah, sajaknya termuat
dalam kumpulan yang berjudul � Zaman Baru � 1962 dan tahun 1966 ia ditahan
dan disangka terlibat gestapi PKI.
Aoh K. Hadimadja
Nama samarannya Karlan Hadi, muncul didunia sastra pada masa sebelum perang.
Sajaknya dimuat dalam majalah � Poedjangga Baroe �, yang banyak menyanyikan
keindaha alam. Pada masa Jepang ia menulis sajak-sajaknya yang religius 1952
dimuatnya dalam kumpulan Zahra.
Tahun 1952, ia juga menulis sandiwara berjudul sejumlah repootasi literernya
dalammanusia dan tanahnya. Ia pun menjadi pemimpin sejarahan mingguan mimbar
di Medan.
Ia membukukan kegitan dalam buku berjudul beberapa paham angkatan 45 1952),
ia pun menulis bahasnya dimuat dalam polemiknya dengan Hamka dan Bakri
Siregar dengan H.B. Yassin dan sajak karang penyair muda Sumatera.
Ia lahir pada tanggal 15 September 1911. Tahun 1953 ia menjadi pengawal
Radio HILVERSUM NEDERLAND dan BBC LONDON.
M. Balfas dan Rusman Sutia Sumarga
Lahir di Jakarta tanggal 25 Desember 1922 ia terkenal sebagi prosis.
Cerpennya � ANAK REVOLUSI � yang jadi perhatian orang-orang, yang
diumumkanpertama kalinya dimajalah Bema Suasana 1948. Anak Revolusi
dibukukan dengan judul Lingkaran Retak 1952.
Tahun 1953 ia bersama Sudjati S.S. mendidrikan majhalah Kisah, di Kuala
Lumpur ia menuliskan roman berjudul Retak 1964 dan sandiwara berjudul � tamu
Malam � . Rustam lahir di Subang tanggal 5 Juli 1917, pada tahun 1946 cerpen
� Gadis Bekasi � ia mendapat hadiah, cetpen yang berjudul Terhempas dan
terkandas 1851. Cerpen Sunda yang diterbitkan berjudul � Korban Romabtik �
dan � Kalung oleh Balai Pustaka 1964.
Trisno Sumardjo
Lahir di Surabaya tanggal 6 Desember 1916, dikenal sebagai pelukis dan
bersama dengan S. Soedjojono menerbitkan majalah seniman 1947, di Solo buku
pertamanya terbit 1952 berjudul � Kata hati dan Perbuatan . Tahun 1953
menerbitkan Cita Taruna dan menrbitkan sandiwara legoris 1957. Bukunya
berjudul � RUMAH RAJA � tahun 1962, cerpennya berjudul Daun Kering dan tahun
1968 berjudul � Wajah Yang Berubah �, 1966 saja-sajaknya satu berjudul
SILHUET tahun 1963, bersama para pengarang mengumumkan � Manifes Kebudayaan
�.
Terjemahan sastra yaitu : Drama � Shakespear, Prahara 1952, Mana suka, 1952,
Impian ditengah Musim 1954, Romeo dan Julia 1955, antonius dan Cleopatra
1963 dan sejumlah sonetanya. Ia pun menerjemahkan dongeng peumpamaan 1959
dari pujangga Perancis Jean da la Fontaine dan Dokter Zhivago 1959 dari
pengarang Rusia Boris Pasternak dll.
Ia meninggal di Jakrta 20 April 1969 sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta
yang pertama dalam usianya 53 tahun.
Dodong Djiwa Pradja
Dodong sudah melukis sejak sekitar tahun 1948. Sajaknya Cita-Cita yang
dimuat dalam majalah GEMA SUASANA takala masih diasuh oleh CHAIRIL ANWAR,
merupakan salah satu sajak yang jernih.
Ia dilahirkan di Garut tanggal 28 September 1928. Selain menulis sajak ia
juga menulis cerpen dan esai. Citra puisi pada sajaknya menemukan bentuknya
yang sederhana, orisinil dan plastis. Pada tahun enam puluhan, Dodong
merupakan saslah seorang penyair Indonesia terkuat selain Rendra.
Salah satu sajaknya yang dibuat pada tahun 1963 adalah :
NYANYIAN PAGI HARI
Dekapan pada hati, rumput-rumputmu, gunung-gunungmu
Tuang dan basuh muka dengan linang embunmu
Nyaman air, tercuci kaki berderai kerikil kali
Lebih indah dari impian, kenyataan diluar impian
�����������������������.
�����������������������.
Dekaplah, dekapkan pada hati
Rumput hijaumu
Gunung birumu
Dan langitmu yang bagai telur
Meskipun ia telah menulis sajak yang cukup banyak tapi ia belum berhasil
membukukannya.
Harjadi Hartowardojo
Nama lengkapnya Harjadi Sulaeman Hartowardojo, mulai mengumpulkan sajaknya
sekitar tahun 1950. Sebagian besar dari sajak pada masa-masa itu kemucian
dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku yang berjudul LUKA BAYANG, kumpulan
sajak-sajaknya tahun 1950 � 1953 � 1963.
Harjadi dilahirkan di Prambanan tanggal 18 Maret 1930. Ia pernah bekerja
pada redaksi majalah Pujangga Baru ( sesudah perang ) . Kemudian hidup
sebagai wartawan di berbagai majalah dipenerbitan antara lain: Garuda,
Siasat, surat kabar Pedoman dan membantu berbagai majalah. Ia seorang ahli
astrologi dan pengasuh beberapa surat kabar minggu di Jakrta. Ia tamatan
Fakultas Publikasti dan Fakultas Psikologi. Ejak tahun 1968 pada bulan Juni,
Hardaji menjadi anggota majalah Budaya Djaja.
Ia seorang ahli astrologi dan pengasuh beberapa surat kabar minggu di
Jakarta. Ia tamatan Falkutas Publikastik, dan Fakultas Psikologi. Sejak
tahun 1968 ( Juni ), Hardaji menjadi anggota majalah Budaya Djaja.
Salah satu keryanya adalah :
ANJING MAKAN AKAR KAYU
Mari bone
Beta cari gadis, cari nona,
Beta tukar sirih pinang
Bersama melangkah, bersama berlagu
Menunggu bulan naik bulan terang
Siku beta main di dada
Semalam saja, besok
Berpasar sejam
Dansa, hail
Melangkah, hail
berputar dalam lingkaran
berbaris
Tangan berkepit-kepit
Sahut hormati beta punya lagu
Asa asu bukae hau baat
������������.
������������.
Selain menulis sajak ia juga menulis esei, serpen, dan roman. Esei
terbaiknya di tulis pada tahun pertama lima puluhan. Cerpen-cerpennya masih
berserakan, majalah-majalah yang memuatnya Roman yang dibuatnya berjudul
MUNAFIK mendapat ajakan ikatan Penerbit Indonesia ( IKAPI ) Jawa Barat 1967.
Dalam romannya Harjadi melukiskan konfik tentang kisah cinta antara pemuda
dan pemudi yang berlainan agama dan juga ras. Didalam masyarakat kampung
yang tradisional dengan cara berpikir.
Meskipun disana sini roman ini menunjukkan kekurangan dalam kmposisi
ceritanya, namun roman ini mempunyai daya saran / daya pengikat yang
mencekam hampir secara magis, yang membuktikan ia sebagai penulis prosa.
MR. Rustandi Kartakusama
MH. Rustandi Kartakusama larih di Ciamis tanggal 21 Juli 1921. Beliau banyak
sekali ,enulis esai. Esai-esainya ditulis dengan bahasa dan gaya yang sinis
berkelekar, memberikan latar belakang yang luas. Meskipun kadang-kadang
terasa tidak menunjukkan lapang dada. Sikap dan pendapat beliau banyak orang
tidak setuju, akan tetapi esai-esainya tetap berharga untuk dibaca. Beliau
muncul dengan hasil karya dan buah tangannya pada akhit tahun empat puluhan
dan beliau tidaklah tepat disebut angkatan 45� sebab karya beliau sangat
berbeda dengan angkatan 45� dari segi bentuk atau isinya dan beliau
sendiripun tidak mengaku sebagai angkatan 45�.
Adapun hasil karya beliau sebagai berikut :
a. Esai-esai tentang sastra, seni, dan filsafat diantaranya :
�Adam dan Si Anak Hilang �, � Homo Faber �, � Surat dari Cidadap Girang �,
dimuat dalam majalah kebudayaan Indonesia. Dan esia-esai lainnya tentang
�Ciliung � dimuat dalam majalah gelanggang / siasat.
b. Drama yang terbit pada tahun 1950.
- Sajaknya Prabu dan Putri yang disebutnya � Sebuah Tragedi �, ini merupakan
sanduran dari sebuah cerita Pandji yang menceritakan bahwa segi percakapan
tokoh-tokohnya nampak kecendrungan kepada pemikiran filosofis, percakapan
tentang hidup, mati, ada dan tidak ada, keabadian, bahagia, dan lain-lain.
Dan drama ini sulit dipentaskan.
- Drama yang lain berjudul � Merah Semua Putih Semua � ( 1961 ). Yang
menceritakan atau melatar belakangi masa revolusi fisik melawan Belanda,
yang berbentuk novela.
c. Dari drama beliau juga menulis scenario yang berjudul � Lagu Kian
Mendjauh � ( 1959 ). Menceritakan tentang kehidupan seorang seniman musik
yang mana dalam kehidupannya terlibat cinta terhadap seorang gadis orkes
yang di pimpinnya.
d. Beliau juga menulis sajak, yang berjudul sebagai berikut :
- Rekaman dari Tudjuh Daerah ( 1951 ) ini merupakan sajak yang paling tebal
terbit di Indonesia.
- Sajak yang berdasarkan kisah-kisah lama dari Lutung Kasarung, dari kisah �
Singasari � dalam Kartanagara dan kisah � Adam Dan Hawa � daalm Paradise
Lost dan lain-lain.
PARA PENGARANG WANITA
1. Ida Nasution.
Ida Nasution adalah pengarang esai yang berbakat dalam menulis esai yang
dimuat dalam majalah-majalah. Tapi nasib beliau malang karena menjadi korban
revolusi dan hilang dalam perjalanan Jakarta Bogr ( 1948 ).
2. Walujati.
Lahir di Sukabumi tanggal 5 Desember 1942. Mulai menulis sajak pada
masa-masa awal revolusi, sajak berjudul � Berpisah � merupakan sejak
romantik yang mendapat pujian dari Chairil Anwar. Dan pada tahun 1950
Walujati mengumumkan sebuah roman yang berjudul � Pudjani � dan masih banyak
lagi roman yang beliau tulis tak kunjung terbit.
3. St. Nuraini.
Lahir di Padang tanggal 6 Juli 1930. Beliau mnulis sajak, cerpen, esai, dan
menterjemahkan hasil sastra asing. Salah satu sajak beliau yang sangat
lembut dan halus sekali melukiskan perasaan sebagai ibu yang meratapi
anaknya yang keguguran.
4. S. Rukiah.
Lahir di Purwarkarta tanggal 25 April 1972, beliau juga menulis sajak dan
bahkan dimuat dalam bukunya � Tandus � ( 1952 ) mendapat hadiah sastra
nasional B.M.K.N. tahun 1952 untuk puisi. Selain itu beliau juga menulis
roman yang berjudul � Kejatuhan DaN Hati � ( 1950 ) yang mengisahkan tentang
perasaan wanita yang jatuh cinta kepada seorang politikus tetapi kemudian
terpaksa kawin dengan pedagang pilihan ibunya.
5. Suwarsih Djojopuspito
Lahir di Bogor tanggal 20 April 1912. Hasil karyanya berupa roman yang
ditulis dalam bahasa Belanda berjudul � Buiten Het Gareel (diluar garus)�
terbitan tahun 1941. Roman ini menceritakan kehidupan kaum pergerakan
nasional Indonesia, terutama di lingkungan perguruan pertikelir (taman siswa)
pada tahun tiga puluhan. Sebelum beliau menulis roman bahasa belanda beliau
menulis roman dengan bahasa sunda akan tetapi roman ini ditolak Balai
Pustaka. Lalu beberapa tahun kemudian beliau (1959) menerbitkan roman yang
berbahasa Sunda tahun 1937 berjudul � Marjanah �. Setelah itu beliau menulis
cerpen yang pertama berjudul � Tudjuh Tjerita Pendek � (1951) yang kedua
berjudul Empat Serangkai (1954). Dan banyak lagi kumpulan-kumpulan cerpen
yang belum dibukukan.
BEBERAPA PENGARANG LAIN
Kecuali para pengarang yang tadi sudah dibicarakan, masih banyak lagi para
pengarang lain yang memulai atau mengajukan aktivitasnya pada tahun-tahun
1945 � 1953. Misalnya Barus Siregar (lahir di Sipirok, Tapanuli tanggal 14
Juli 1923) menerbitkan kumpulan cerpennya yang berjudul Busa di Laut Hidup
(1951). Zuber Usman (lahir di Padang tanggal 15 Desember 1916) menerbitkan
sekumpulan cerpen yang berjudul Sepanjang Jalan. Dengan beberapa cerita lain
(1953). Sk. Muljadi (lahir di Madiun tanggal 23 Desember 1925) menerbitkan
kumpulan cerpen dan sajak-sajaknya yang berjudul Kuburan (1951). Saleh
Sastrawinata (lahir di Majalengka tanggal 15 Juli 1915), menerbitkan
sekumpulan cerpen berjudul Kisah Swajarnya (1952), S. Mundingsari yang nama
sebenarnya Suparman (lahir tanggal 24 April 1922) menebitkan sebuah roman
berjudul Jaya Wijaya (1952).
Muhannad Dimyati yang kadang-kadang menggunakan nama samaran Badaruzzaman (larih
di Solo sekitar tahun 1914) menerbitkan sekumpualn cerpen berjudul Manusia
dan Peristiwa (1951), R. Sutomo menerbitkan sekumpulan sajak berjudul Mega
Putih (1950), Rustam St. Palindih menerbitkan dua buah sandiwara berjudul
Mekar Bunga Majapahit (1949), dan Cendera Mata (1950), di samping itu
mengisahkan kembali cerita Sunda lama Lutung Kasarung (1949) dan lain-lain.
Di samping itu ada pula pengarang-pengarang yang belum berhasil menerbitkan
buah tangannya menjadi buku. Karangan-karangan mereka dimuat dalam
majalah-majalah yang terbit pada masa itu. Gajus Siagian (lahir di Porsea,
Tapanuli tanggal 5 Oktober 1920), P Sengojo atau Suripman (lahir 1927),
Dodong Djiwapradja (lahir di Garut tahun 1928), Muh Ali (Lahir 1927),
Mahatmanto atau Abu Chalis atau Sang Agung Murbaningrad atau Sri Amarjati
Murbaningsih yang ke semuanya nama samaran Suradal A. Manan (lahir di Kulur,
Yogyakarya, tanggal 13 Agustus 1924), Sirulllah Kaelani yang kadang-kadang
menggunakan nama S.K Insankamil (lahir di Ciledung, Cerebon, tanggal 22
Pebruari 1928), Darius Marpaung (lahir di Porsea 1928), Harijadi S.
Hartowaddojo (lahir di Prambanan 18 Maret 1930), Abas Kartadinata (Lahir di
Bandung 1930), Kasim Mansur (lahir di Surabaya1922) dan lain-lain.
P. Sengojo
Nama sebenarnya ialah Suriman, lahir di daerah Ungaran, tanggal 25 November
1926. Kalau menulis sejak ia menggunakan nama samaran P. Sengojo atau Piet
Sengodjo. Nama Suripman dipergunakannya apabila ia menulis prosa, baik esai
maupun cerpen.
Sajak-sajaknya surrealistis. Batas antara kenyataan dan angan-angan demikian
titpis sehingga kabur-berbaur. Dalam sajak-sajaknya suasana samar-samar dan
remang-remang, dunia yang maya terasa mendasari. Dalam beberapa hal ia
melakukan percobaan-percobaan dengan bahasa, keluar dari kebiasaan yang umum.
MENCARI ANGIN
Perahu yang melancar di atas ke permukaan air yang kemilau dalam cahaya
surya bermain ---------------
Aku yang merasa tenang dalam kegirangan yang meresap dari pohon di hadapan
--------
Burung yang terbang lalu melayang di atas embusan angin---------------------
Aku dan engkau yang tiada berpandangan lagi, dan alam bebas melepaskan kita
berdua---
Makin yang berharap menimbulkan bahagia ----------------------------
Ah, kita berdua telah saling percaya.
( Gelanggang / Siasat, 1953)
Lebih tenang dan lebih tajam, mengesan serta menyaran, ialah esai-esainya
yang pada tahun 1952 � 1953 � 1954 memnuhi lembaran-lembaran majalah
kebudayaan terkemuka di Jakarta dengan judul umum Pecahan Bertebaran. Dalam
esai-esainya itu ia menunjukkan bahwa di samping mempunyai erudisi yang luas,
ia merupakan seorang yang waspada-tajam melihat situasi nyata yang hidup di
sekelilingnya. Ia pun menunjukkan minat yang besar terhadap sastra dan
nilai-nilai kebudayaan lama (Jawa).
Cerpen-cerpennya jumlahnya tidak banyak. Umumnya melukiskan kehidupan
kampung dan pedesaan, di mana impian seorang naturalis tidak menemukan
kenyataan. Banyak yang absurd.
M. Ali
Nama lengakpnya Muhammad Ali Maricar, lahir di Surabaya tanggal 23 April
1927 dari keturanan India. Ia menulis sajak, cerpen dan sandiwara. Banyak
dimuat dalam majalah-majalah Pudjangga Baru, Zenith, Mimbar Indonesia,
Gelanggang/Siasat, Konfrontasi, Indonesia dan lain-lain. Cerpen-cerpen,
sajak dan sandiwara yang terbaik kemudian dibukukan dalam sebuh kumpulan
berjudul Hitam atas Putih (1959). Dalam karangan-karangannya tampak sekali
perhatiannya terdahap masalah-masalah sosial dan kehidupan masyarakat.
Sandiwara radio yang dimuat dalam buku itu berjudul � Lapar � merupakan
gambaran tentang orang-orang yang karena lapar bersedia menjual apapun juga
miliknya untuk sekedar penangasel perut termasuk menjual anak dan dirinya
sendiri. Dalam sebagian sajaknya, juga maslah ketuhanan dan keyakinan agama
menjadi perhatiannya.
KEPADA GADIS CINTAWATI
Apakah hidup ini, jika tiada mati ?
Dan betapa Mati kija bukan kebangkitan kembali ?
Setelah kau berkisah tentang kasih dan benci ?
Sudah kugali lubang di bumi
Buat tempatku tinggal abadi
Segala berkata : inilah mimpi !
Musim-musim silih berganti
Wangi senja warena-wareni
Menyanyikan kebesaran mati
Dan orang ini �����..
Yang mengebung-mengempis mengisi hari
Akan menyerah kepada mati
Dan bila kubangun rumah di sini
batu demi batu kususun rapi
atas napas ke napas yang menggendor sepi
Cintawati, kukasihi engkau, seperti murai
Ngagumi fajar dan embun pagi
Dan aku tahu : kau pun pasti hilang kembali
Kecuali yang dimuat dalam hitan atas Putih itu, masih benyak lagi
karangan-karangannya yang belum dibukukan, baik cerpen maupun sajak.
Beberapa buah karangannya yang lebih panjang dari cerpen telah diterbitkan
berupa buku-buku kecil di Surabaya, antaranya 5 Tragedi (1954), Siksa dan
Bayangan (1955), Persetujuan dengan Iblis (1955) dan Kubur Tak Bertanda
(1955). Umumnya nilainya di bawah karangan-karangan yang dimuat dalam Hitam
atas Putih.
|