|
1. Saat-Saat yang Mematangkan
Dijajah Jepang selama 3,5 tahun merupakan pengalaman penting dalam sejarah
Indonesia pada umumnya dan juga sastra pada khususnya. Karena Bahasa
Indonesia tadinya dihindari Belanda agar supaya jangan resmi menjadi bahasa
persatuan . Oleh orang Jepang Bahasa indonesia dijadikan satu-satunya bahasa
yang harus dipergunakan diseluruh dikepulauan.
Dengan makin intensifnya Bahasa Indonesia dipergunakan dikepulauan Nusantara,
maka sastra indonesiapun mengalami intensifikasi juga. Keimin Bunka Shindo
merupakan kantor pusat kebahasaan yang dibentuk oleh Jepang. Selain itu,
Jepang juga mengadakan perkumpulan sandiwara dibawah P.O.S.D (Perserikatan
Oesha Sandiwara Djawa ) .
Pada masa penjajahan Jepang banyak orang menulis sajak dan cerpen, sandiwara
sedangkan roman kurang ditulis itupun yang diterbitkan hanya dua Cinta Tanah
Air, karangan Nur Sultan Iskandar dan Palawija (1944) karya Karim Halim.
Keduanya roman propaganda yang bernilai sastra.
Pada masa inilah Bahasa Indonesia mengalami pematangan, seperti tampak pada
sajak Chairil Anwar dan prosa Idrus yang tidak hanya sekedar alat untuk
bercerita atau menyampaikan berita, tetapi telah menjadi alat pengucap
sastra yang dewasa. Usaha inilah yang menyebabkan dimulainya suatu tradisi
puisi indonesia yang hampir tak terbatas. Bahasa sajak Khairil Anwar bukan
lagi bahasa buku yang terpisah dari kehidupan, tetapi bahasa sehari-hari
yang menulang-sumsum, membersit spontan,
Kehidupan yang morat-marit juga mengajar para pengarang supaya belajar hemat
dengan kata-kata. Setiap kata, kalimat, setiap alinea ditimbang dengan
matang, baru disodorkn kepada pembaca. Juga segala superativisme dan
perbandingan yang penuh retorika yang menjadi cirri dan kegemaran para
pengarang pujangga baru telah ditinggalkan.
2. Para Penyair
Usmar Ismail, Bukittinggi 20 maret 1921, dikenal sebagai seorang dramawan
dan sineas (pembuat film). Cerpen-cerpennya hanya ada beberapa saja, antara
lain dimuat dalam Pancaran Cinta (1946) dan Gema Tanah Air (1948) disusun
oleh H.B Jassin. Sajak-sajak Usmar kemudian dikumpulkan dan diterbitkan
dalam dengan judul Patung Berasap (1949)
Dalam sajak �Kita Berjuang� ia dengan lantang menyatakan hahsratnya �Beserta
saudara turut berjuang.� Maksudnya bserta saudara tua. Dalam sajak �Pujangga
dan Cita-cita� ia dengan yakin berkata kepada pujangga, � Carilah dahulu
perjuangan jiwa/Carilah Asia di dalam dada.� Namun tak lama ia pun menulis
sajak �Diserang Rasa� yang menggambarkan timbulnya rasa\was-was dan ragu
kepada kesungguhnan janji semboyan Jepang
DISERANG RASA
Apa hendak dikata
Jika rasa bersimaharajarela
Di dalam batin gelisah saja
Seperti menanti suatu yang tak hendak tiba
Pelita harapan berkelap-kelip
Tak hendak padam, hanyalah lemah segala sendi
Bertambah kelesah hati yang gundah
Sangsi, kecewa, meradang resah
Benci, dedam��..rindu, cinta���..
Amal Hamzah, adik Amir Hamzah, lahir di Binjai, Langkat 31 Agustus 1922. Ia
menerjemahkan beberapa buah karya Tagore, yang pernah mendapatkan hadiah
Nobel 1931 di antaranya Gitanyali (1947).
Amal mulai menulis di zaman Jepang, ketika ia kehilangan kepercayaan kepada
manusia. Ia menjadi kasar dan sajak-sajaknya sangat naturalistis. Dalam
sandiwara-sandiwaranya sangat menonjolkan sensualisme. Sajak dan karangan
lain kemudian diterbitkan dalam sebuha buku berjudul Pembebasan Pertama
(1949). Hilangnya kepercayaan kepada manusia, jelass terlihat dalam sajak
�Melaut Benciku�. Selain itu, Amal juga menulis buku yang berjudul � Buku
dan Penulis� (1950)
MELAUT BENCIKU
Melaut benciku terhaadap manusia
Melaut pula benciku terhadapku sendiri
Karena dalamkelakuanmereka
Terlihat olehku perangaiku asli
Menjilat
Menipu
Membohong
Memeras
�����������
Kalau boleh kupinta dulu
Aku tak usah lahir ke dunia tipu
Tapi mlang!
Aku lahir bukan kehendakku!
Dalam pelukan cainta berahi
Tumbuh benih membusuk diri
Tercampak ke dunia
Sebagai hasil nafsu kedua!
Bah!
Kalau boleh kupinta dulu
Jangan badan datang kemari
Rosihan Anwar, Padang 10 mei 1922. Sekarang terkenal sebagai wartawan
komunis terkemuka. Sajak-sajaknya banyak melukiskan perasaaan dan semangat
pemuda. Cerpennya yang berjudul �Radio Masyarakat� melukiskan kemelut jiwa
pemuda yang dilnda keraguan atas segala janji-janji kosong dari Jepang. Pata
tahun 1967 Rosihan menerbitkan sebuah roman berjudul �Radja Ketjil, Badjak
Laut di Selat Malaka�.
Anas Ma�ruf, Bukittinggi 27 oktober 1922. Pada jaman sesudah perang terkenal
sebagai organisator kebahasaan dan penterjemah. Ia juga menterjemahkan
karya-karya para pengarang dunia seperti Rabindranath Tagore (India), John
Steinback (Amerika), William Saroyan (Amerika). Selain itu, ada M.S.Ashar ,
Kutaraja 19 Desember 1921. Ia menulis sajak �Bunglon� merupakan sindiran
bagi orang orang yang bertabiat plin-plan. Kemudian Maria Amin , Bengkulu
1921 dengan karyanya �Tengoklah Dunia Sana� dan Nursjamsu, lahir di Sumatera
Barat 6 oktober 1921. Di antara karyanya berupa cerpen berjdul �Terawang�
dimuat dalam majalah Gema Suasana (1948)
3. Cerita Pendek
Pada masa Jepang cerpen tumbuh dengan subur. Beberapa penulis cerpen yang
terkenal di antaranya adalah H.B. Jassin (Gorontalo, 31 juli 1922) yang
menulis cerpen �Anak Laut�. Cerpen itu mungkin bukan cerpen Jassin yang
petama, tapi jelas merupakan cerpennya yang terakhir. Sebelum perang Jassin
menulis cerpen dalam Poejangga Baroe yang berjudul �Nasib Volontaire �
(1941).
Pengarang cerpen yang lain Bakri Siregar (Langsa /Aceh, 1922). Cerpennya
yang pertama berjudul �Ditepi Kawah�. Pada masa pendudukan Jepang cerpen itu
dibukukan dengan judul �Jejak Langkah� (1953).
4. Drama
Penulis drama yang juga tumbuh sangat subur di bawah perkumpulan P.O.S.D
yang dipimpin Armijn Pane. Beberapa pengarang yang membuat drama pada jaman
Jepang adalah Armijn Pane. Armijn yang pada masa sebelum perang telah
menulis �Lukisan masa, Barang tiada berharga, dan lain-lain pada masa Jepang
menulis beberapa buah sandiwara yang kemudian dibukukan dengan judul �jinak
�jinak merpati� (1953). Segera sesudah proklamsi iamenulis �Antara bumi dan
langit�.
Usmar Ismail, pada masa Jepang menyadur sebuah kisah �Chichi Kaeru� karangan
Kikuchi Kwan menjadi �Ayahku Pulang�. Selain itu, ia pun menulis sandiwara
kepahlawanan rakyat Maluku�Mutiara di Nusa Laut�. Drama yang ditulis Usmar
yang belum dibukukan �Mekar Melati�dan �Tempat yang Kosong�. Drama �Api ,
Liburan Seniman, dan Citra� kemudian dibukukan dengan judul �Sedih dan
Gembira� (1949).
Abang Usmar Ismail yang bernama Abu Hanifah (El-Hakim) 1960 di Padang
Panjang. Pada zaman Jepang menulis beberapa buah drama yang kemudian
dibukukan berjudul �Taufaan di Atas Asia� (1949). Ada empat buah drama dalam
buku itu, yaitu Taufan di Atas Asia terdiri dari 4 bagian, Intelek Istimewa,
3 bagian , Dewi Reni, 3 babak, Insan kamil, 3 babak. Drama Rogaya, 4 babak;
Mambang laut, 3 babak belum pernah dibukukan. Kecuali drama, ia juga menulis
roman Dokter Rimbu (1942).
Idrus, pada zaman Jepang menulis beberpa buah drama, antaraanya �Kejahatan
Membalas Dendam� dimuat dalam buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
(1948); Jibaku Aceh (1945); Keluarga Surono (1948); Dokter Bisma 1945. Dalam
�Kejahatan Membalas Dendam� ia melukiskan perjuangan pengarangmuda dalam
menghadapi (kekuasaan) pengarang kolot dengan (tentu saja) kemenangan di
pihak pengarang muda, meskipun si pengarang kolot main guna-guna segala.
Kotot Sukardi menulis sandiwara Bende Mataram yang berlatar belakang maa
perang Diponegoro (1825-1830). Sandiwaara itu kemudia diterbitka Balai
Pustaka dengan judul yang sama bersama-sama dengan karangan Inu Kertapati
yang berjudul Sumping Sureng Pati tahun1945.
|