(1) Kenapa kau taruh mawar-mawar berduri
di atas susumu?
Suatu pemandangan yang luar biasa.
Tapi kenapa?
(2)"Aku taruh mawar-mawar berduri
sebagi protes kepada wartawan."
Sejak aku meninggalkan Rangkasbitung
dan lalu menjadi None Jakrta,
para wartawan potret
suka mengincar dadaku.
Selanjutnya selama berminggu-minggu
setiap koran dan majalah
keranjingan dadaku
Bahkan sebuah majalah yang mabuk
memuat seabrek gambar dadaku
dengan diiringi syair yang berjudul:
"Bernaung dibawah dadamu,
ini namanya inflasi susu!"
(4) Oplah! Oplah! Omset! Omset!
Sehari suntuk
begitu saja ngelindurnya penerbitan.
Terkepung materialisme
bukannya mengerahkan daya sukma.
Dihadang pantat pasar
bukannya mengerahkan daya cipta
Tapi malahan molor air liurnya.
Otak mabuk hilang akalnya.
Kayak dunia materi tidak ada positifnya.
Memangnya materi tidak bisa ngongkosi martabat?
(6) "Dan kalau oplahnya sudah besar,
wartawan-wartawannya bergaya sok kuasa.
Bersikap sak enaknya
terhadap wanita dan orang swasta.
Coba terhadap penggede yang berkuasa!
"Mawar-mawar berduri di dadaku ini
adalah protes bagi martabat manusia."
(8) "Terhadap wanita lelaki selalu salah sangka.
Wanita cantik disangka sekadar pemandangan.
None Jakarta disangka kue ulang-tahun
yang bisa diiris dan dibagi-bagi.
Kewanitaan dan kecantikanku
selalu menjadi beban.
Sekarang aku akan mengubahnya
sehingga menjadi alat perjuangan.
Tidak sekedar mawar-mawar berduri.
Aku pun memelihara dengan teliti
kuku-kuku yang sedang panjangnya.
Bukan sekadar hiasan kecantikan
tetapi senjata yang bisa mencakar.
(10) Wahai, para ibu dan mbakyu-mbakyu,
selalu berdoa tidak ada jeleknya.
Keadilan alam yang akan menjelma
dalam rezeki, hidup-mati, dan jodoh kita,
memang atas kehendak Yang Mahakuasa.
Kita hanya bisa bertakwa.
Tetapi keadilan di dalam masyarakat,
kita menusia harus menciptakannya.
(12) "Mawar-mawar berduri di dadaku,
ada juga ini kuku-kuku,
adalah bahasa untuk berkata:
Janganlah ada orang yang mengangkangi hak
hanya untuk dirinya.
Sebab biarpun aku wanita
aku menolak untuk tidak berdaya
Aku menolak
untuk sekedar melelehkan air mata.
Aku punya duri.
Aku punya kuku.
(14) "Abang kekaksihku.
Cintaku manap.
Untukmu seorang tertancap.
Tetapi setangkai mawar berduri ini
adalah lambang kedaulatanku.