Mengukur Kecepatan Baca Kasual


Pilih sebuah pilihan berupa beberapa halaman dari novel yang sedang Anda baca atau beberapa halaman artikel majalah yang menarik. Bacalah sekedar untuk menikmati atau untuk mendapatkan informasi umum. Kemudian hitung kpm Anda, lalu catat dalam bagan 1 yang tersedia (Contoh artikel surat kabar berikut dapat Anda gunakan untuk keperluan itu.)

 

Metro Bandung

 
   


Kesibukan Anak-Anak
Kurangi
Dampak Televisi

                                              
Terlalu banyak menonton televisi menjadi salah satu kambing hitam bagi kenakalan anak-anak. Terutama tayangan tayangan yang menampilkan kekerasan, yang diduga mudah diadaptasi anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

Itu berdasarkan hasil-hasil penelitian dan survey yang pernah dilakukan. Dan begitupun dengan penelitian yang dilakukan Stanford University. Penelitian ini membuktikan hubungan antara paparan media (elektronik) dan perilaku masa kanak-kanak.

Namun berbeda dengan penelitian lainnya yang tidak memberikan jalan pemecahannya. Penelitian kali ini, menunjukkan bahwa kasus-kasus ini masiih bisa dimodifikasi. Artinya, hubungan antara menonton televisi dan agresivitas anak-anak masih bisa diperbaiki dengan penanganan tertentu.

Para peneliti mencoba melihat apakah program sekolah, yang mendorong dikuranginya waktu menonton televisi dan bermain video game, mampu membuat anak-anak sekolah dasar menjadi kurang agresif. Hasil penelitian itu, telah dipublikasikan dalam Archives of Pedriatrics and Adolesent Medicine edisi Januari.

Dalam penelitian di satu sekolah, 120 anak tidak menerima intervensi dan berlaku sebagai kelompok kontrol. Di sekolah lain, 105 anak menerima 18 pelajaran, selama 30 hingga 50 menit selama 6 bulan. Pelajaran yang cukup banyak itu diberikan untuk mengurangi penggunaan televisi, videotape, dan video game.

Hasilnya menunjukkan, anak-anak melaporkan waktu rata-rata menonton televisi sekitar 15 jam, 5 jam menonton videotape, dan bermain video games selama 3 jam seminggu.

 

Jumlah itu menurun sekitar sepertiganya pada akhir penelitian, menjadi rata-rata sekitar 9 jammenonton TV, 3 jam menonton video, dan 1 jam untuk bermain video game.

Yang menjadi penguji adalah teman-teman mereka sendiri. Anak-anak diminta mengukur keagresifan teman sekelasnya pada permulaan penelitian tersebut di bulan September 1996, dan pada akhir penelitian bulan April berikutnya. Mereka harus mengidentifikasi beberapa hal seperti siapa yang memulai perkelahian atau yang sering berkata, "Berikan itu padaku." (teriakan yang biasa terjadi bila anak-anak saling berebut).

Di awal penelitian, anak-anak yang melaporkan agresi hampir sama di dua sekolah tersebut. Namun, pada akhir penelitian, terdapat sekitar 25 persen lebih sedikit laporan seperti itu di antara para peserta yang mendapat intervensi (pelajaran lebih banyak) dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Para peneliti juga mengukur beberapa perubahan dalam agresi verbal dan fisik, dengan secara teratur meneliti perilaku di tempat bermain dari subkelompok sekitar 50 peserta pada setiap sekolah. Pada akhir penelitian, terdapat lebih sedikit insiden dalam kelompok yang menerima intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Meski telah menunjukkan kemungkinan salah satu pemecahan agresivitas anak-anak, penelitian ini diakui masih mempunyai beberapa kelemahan. Seperti hanya melibatkan dua sekolah saja, isi program dan permaianan yang ditonton anak-anak tidak ikut dinilai (apakah mengandung kekerasan atau tidak), dan juga tidak ada hasil yang dapat memperkirakan apakah penurunan agresivitas yang terlihat dalam penelitian ini bisa bertahan lama atau tidak.

Walaupun demikian, setidaknya kita tahu bahwa efek-efek kekerasan di televisi pada anak-anak sebenarnya dapat disembuhkan, dan tidak ada kata terlambat untuk itu.
 

Metro Bandung, hal 7, 27 Jauari 2001

Return to KB

1
Hosted by www.Geocities.ws