|
Contoh
Pengantar |
Selama proses penulisan buku ini, secara terus-menerus saya ditanya "teori baru" apa yang sedang saya sajikan. Ketika saya menerangkan bahwa saya tidak sedang menghidangkan suatu "teori baru", lazimnya responnya adalah suatu perasaan yang benar-benar campur-aduk. Secara implisit ataupun eksplisit, orang-orang akan bertanya, "Lalu, untuk apa Anda menulis sebuah buku?" Memang adakalanya saya sendiri merenungkan pertanyaan yang sama itu.
Buku ini tidak berusaha memberikan teori "baru" ataupun konseptualisasi ulang pada komunikasi. Bahkan saya tidak yakin bahwa suatu teori baru komunikaksi mungkin ada, walaupun saya percaya hal itu tidak diinginkan pada tahap perkembangan teoritis sekarangan ini. Buku ini pun tidak memberikan analisis ke mana kita menuju; yakni saya tidak mencoba untuk melakukan suatu sintesis stock-opname yang diarahkan pada suatu pandangan optimis tentang masa depan teori komunikasi. Analisis seperti itu selalu terbukti menjadi "pembenaran yang pertama" pada bias kegemaran pengarang dan, sebagai konsekuensi hanya memberikan suatu pandangan yang picik pada perkembangan teoritis. Tujuan saya dalam menulis buku ini berbeda secara fundamental.
Ada cerita tentang seorang penipu dari kota yang tersesat di suatu jalan di daerah perdesaan. Selama berjam-jam ia berkendaraan tanpa tujuan, sampai ia bersua dengan seorang petani yang sedang bersandar di pagar dekat jalan itu. Segera menghentikan mobilnya yang baru dan berkilat dan bertanya, "Dapatkah Anda mengatakan kepada saya arah jalan ke kota terdekat?" Petani itu menjawab, "Nggak." Si Penipu dari kota itu terkejut akan tetapi tetap bersikeras. "Baiklah kalau begitu dapatkah Anda menunjukkan kepada saya bagaimana dapat sampai ke jalan raya kembali?" Kembali si petani merespon, "Nggak." Nah, dengan amat sakit hatinya si penipu dari kota berteriak, "Apakah Anda tidak tahu apapun?" Jawabnya, Nggak, tetapi aku tidak tersesat."
Ada tiga buah pertanyaan pokok dalam proses setiap penelitian yang serius --jalan menuju ke pemahaman dan pengetahuan. Ke mana saya sedang berjalan? Bagaimana tiba di sana? Di mana sekarang ini saya berada? Kita di bidang komunikasi telah terlalu memberikan penekanan pada, barangkali, kedua pertanyaan yang pertama. Hasilnya telah merupakan suatu pertentangan internal yang sepele dan berkesinambungan tentang pendekatan siapa yang lebih baik untuk menelah komunikasi, teknik mana yang lebih "ilmiah", "teori" mana yang lebih baik-- singkatnya perdebatan hal yang kecil dan melibatkan diri berlebihan ke dalam rincian yang tidak penting dengan hasil yang tidak lebih baik daripada menaikkan darah orang. Tampaknya bagi saya bahwa pertanyaan yang fundamental adalah yang ketiga --di mana kita sekarang? Analisis yang sekarang ini tentang perspektif yang paling bersaing dalam menjelaskan bidang komunikasi dialamatkan kepada pertanyaan di mana kita sekarang ini. Secara implisit kompetisi perpektif dalam masyarakat ilmiah mencerminkan juga, ketiadaan suatu pendekatan teoritis yang dominan pada studi komunikasi manusia.
Saya telah membahas ide yang tercakup dalam buku ini dengan sejumlah teman-sejawat dan kenalan. Sebagian telah menuduh saya terlalu berpandangan relativistis; yang lain menyebut saya terlalu kaku. Beberapa orang telah mencap saya sebagai seorang eksperimentalis pengunyah data; yang lain telah menamakan saya seorang humanis yang terlalu perasa. Sedikit saja yang menyetakan bahwa sesungguhnya mereka mungkin setuju dengan saya. Terus terang saja, saya menyukai perbedatan yang baik dan berharap bahwa buku ini benar-benar dapat menggungah suatu kontroversi. Tiada sesuatupun yang lebih menghancurkan ego seseorang daripada diabaikan orang!
Sementara penghargaan bagi banyak ide dalam buku ini semestinya disampaikan kepada banyak orang dan banyak pengaruh, saya tidak menginginkan siapa pun dari mereka ikut bersalah karena prilaku khas saya sendiri. Namun begitu, saya memang merasa perlu untuk mengucapkan terima kasih dan menyatakan penghargaan, betapapun tidak memadainya: kepada Lloyd Chilton, yang kesabarannya terang tidak terbatas; kepada para mahasiswa, yang lama dan yang sekarang, yang barangkali tidak pernah sadar bahwa sesungguhnya sayalah mahasiswa yang sebenarnya, kepada teman-teman sejawat dan kawan-kawan, bersama mereka ejekan dan argumentasi telah menjadi tanda persahabatan pribadi yang akrab dan penghargaan abadi; kepada Lee, Terry, dan Tracy yang memeberikan kepada saya bukti terakhir yang menentang keluarga berencana; dan kepada Irene dengan siapa saya mengharapkan untuk hidup hingga hari tua seandainya yang sekarang ini tidak seluruhnya dapat nmenyenangkan hati!