![]() |
9.
Membaca |
|
|
Membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. Kita tidak tahu kapan perkembangan itu mulai dan bilamana berakhir. Namun demikian, kita tahu bahwa kesehatan seorang ibu yang rawan waktu mengandung atau berbagi komplikasi yang terjadi waktu bayi lahir pasti berakibat buruk terhadap kemampuan membaca anaknya itu kelak. Kita thu bahwa anak-anak tertentu mempunyai kesiapan belajar membaca lebih cepat daripada anak-anak yang lain dan ada pula anak-anak yang memiliki kesiapan yang sangat dini, pada usia empat bahkan tiga tahun. Kita juga tahu bahwa anak-anak yang lain bisa membaca pada usia enam atau tujuh tahun. Setiap anak mempunyai kecepatan perkembanan membaca seumur hidupnya dengan kecepatan yang berbeda-beda.Pendek kata, membaca itu merupakan proses yang berkelanjutan dan berubah. Seberapa pun kemampuan membaca seseorang, kemampuan itu selalu dapat diperbaiki dengan berbagai upaya. Seseorang yang telah menamatkan sekolahnya akan merasa perlu meningkatkan kemampuan membacanya itu jika orang tersebut mempunyai hasrat untuk mempertahankan dirinya secara layak. Seseorang yang memiliih lapangan kerja tertentu akan dituntut untuk mengembangkan ketrampilan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan itu. Seorang operator telepon dituntut untuk mempunyai kemampuan membaca nomor-nomor telepon dan angka-angka digital secara sepat sekali; seorang arsitek harus mampu membaca gambar cetak biru secara baik dan cekatan, kalau dia tidak mau tersesat, demikian seterusnya. Pekerjaan baru, tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab sosial yang baru, susasana hidup yang baru semuanya menuntut suatu perkembangan yang berlanjut dalam bidang membaca. Meski membaca itu merupakan proses perkembangan, geraknya tidaklah berada dalam jarak-jarak yang beraturan dan tidak pula tertentu waktunya. Seorang anak bisa berdiri pada usia tujuh bulan, berjalan pada usia delapan bulan dan lari pada usia sembilan builan. Kemampuan yang demikian teratur jaraknya itu tidak dapat kita harapkan terjadi pada setiap anak. Demikian juga untuk perkembangan kemampuan membaca, guru harus mempunyai kejelian dalam memperhatikan kemajuan setiap anak didiknya. Kemauan-kemampuan membaca pada umumnya memang bergerak teratur, namun keistimewaan-keistimewaan tertentu bisa terjadi pada setiap anak. Masalah yang dihadapi anak ada yang bersifat problematik ada juga yang bersifat alami; anak-anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang akan meminta kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada tingkat kematangannya. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan pada setiap taraf perkembangan kemampuanya. Setiap perkembangan baru itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. Oleh karena itu, untuk menjamin adanya kesiapan anak pada tingkat perkembangan berikutnya, guru harus betul-betul menyiapkan kesiapkan anak tersebut pada taraf sebelumnya. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan, ada dua hal yang perlu mendapat perhatian guru. Pertama, guru harus selalu sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan bukan sesuatu yang terjadi secara insidental. Tidak ada seorang yang dapat membaca dengan jalan menonton orang lain membaca. Sebaian besar yang terjadi dalam membaca itu tidak dapat dilihat. Membaca bukanlah proses instinktif, membaca merupakan proses yang dipelajari yang bergantung pada pemerolehan dan prosedur tertetu. Anak boleh memahami membaca sebagai suatu jenis komunikasi dan bahwa lambang-lambang tetentu itu merupakan kata. Namun demikian, dia belum boleh dikatakan membaca sebelum guru mengjarinya mendekod atau menjadikan lambang-lambang itu dan mengidentifikasi lambang-lambang itu dengan konsep-konsep tertentu dan dengan pengalamannya sedemikian rupa sehingga dia memperoleh pengertian yang tepat. Hal yang kedua yang pataut diperhatikan ialah keyakinan bahwa membaca bukalah suatu subyek melainkah suatu proses. Guru tidak boleh memandang mata pelajaran yang dikelolanya itu sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Mata pelajranya harus menarik dan layak. Proses itu dapat digeneralisasikan terhadap tingkatan-tingkatan lain yang lebih tinggi dari mata pelajaran lainnya. Peran membaca sebagai tugas menurun tajam pada peringkat sekolah menengah dann menengah atas. Namun demikian pengajaran membaca terus berlangsung dalam jam-jam pelajaran bahasa. Pengajran membaca bisa juga berupa pengajaran membaca untuk makna, perkembangan kosa kata, membaca pemahaman, dan pelajaan ketrampilan. Akhinya, membaca itu harus dipandang sebagai alat dan bukan sebagai sebagai tugas. Anak yang mampu menguasai berbagai tingkatan proses membaca akan merasakan membaca sebagai sumber pertolongan terpenting dalam menghadapi segala persoalan dalam kehidupannya sehari-hari.
|
||