8. Membaca
sebagai Proses Perseptual

Anda dapat menggunakan bab ini untuk memahami:

  • membaca sebagai proses perseptual

Proses perseptual mempunyai kaitan erat dengan proses sensoris. Anda harus waspada untuk tidak mempertukarkannya.  Seperti dalam proses sensoris, secara umum persepsi dimulai dengan melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba. Namun demikian dalam kegiatan membaca  kita cukup memperhatikan kedua hal yang pertama, ialah melihat dan mendengar. Bertalian dengan hal tersebut banyak orang yang secara keliru mencampurbaurkan penangkapan gelombang udara, gelombang cahaya, dan gelombang rasa itu dengan keseluruhan proses persepsi.

Vernon (1962) memberikan penjelasan bahwa proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian: 1) kesadaran akan rangsangan visual, 2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata, 3) klasifikai lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum, dan 4) indentifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya. Meskipun Vernon bermaksud memperuntukkan langkah-langkah tersebut dapat ditetapkan pada persepsi auditoris. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepsi itu mengandung stimulus, asosiasi makna dan interprestasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu, serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang.

Seperti yang telah disinggung di mua, langkahpertama, ialah stimulus, sering kali disalahartikan sebagai keseluruhan persepsi.  Kekeliruan seperti itu mudah dikenal dengan  jalan mencamkan bahwa stimulus itu sendiri sesungguhnya tidak mempunyai makna.  Kita tidak memperoleh makna dari lambang atau bunyi itu, tetapi kita membawa makna kepadanya.  Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah titik hitam pada selembar kertas, maka titik hitam itu tidak mempunyai makna apa-apa bagi Anda. Akan tetapi, jika titik hitam tampak kepada anda di akhir deretan kata-kata yang berbentuk kalimat, maka titik hitam itu mempunyai arti tanda berhenti.  Jika titik hitam itu tampak pada sebuah peta, maka anda boleh menginterprestasikannya sebagai perlambang sebuah kota.  Dalam konteks lain titik hitam bisa diberi makna yang sama dengan lambang  e  dalam kode morse, atau sebagai tanda vokal dalam bahasa orang Yahudi.  Jika kita tidak pernah mengasosiasikan titik hitam itu dengan makna apa pun, maka titik itu tidak akan pernah bermakna.

Fungsi utama suat stimulus atatu rangsagan, esuai dengan namanya, ialah meminta.  Bagian terpenting stimullus ialah kemampuannya  mengisolasikan dan membedakan berbagai stimuli.  Sebelum  seorang anak dapat merespon  perbedaan antara  b dan d  , ia harus terlebih dahulu dapat membedakan keduanya itu.  Sebaliknya, pengenalan terhadap  b  yang berbeda dengan  d , atau bunyi  /b/ yang berbeda  dengan bunyi /d/ , tidaklahmemberikan makna apa pun.  Meskipun yang demikian itu merupakan persepsi, bagi anak hanyalah merupakan masukan permulaan yang mempermudah proses pengenalan dan identifikasi.

Langkah kedua dalam persepsi, asosiasi antara makna dan stimulus, mempunyai kaitan yang erat dan jelas dengan langkah pertama yang merupakan isolasi stimulus.  Sesungguhnya kedua langkah tersebut bersifat komplementer.  Makin mudah kita dapat mengisolasikan dan mengidentifikasikan suatu stimulus, makin mudah pulalah bagi kita untuk mengasosiasiakan makna denganstimulus itu.  Makin banyak makna yang dapat kita berikan kepada stimulus, maka makin mudah pulalah bagi kita untuk mengenalnya.  Bagian terpenting dari diskriminasi stimuli meliputi adanya alasan untuk melakukan diskriminasi.  Meskipun  T dan  H  berbeda karena perbedaan yang tampak pada garis-garis horizontal dan yang vertikal yang tampak pada keduanya, perbedaan itu tidak akan menjadi jelas sebelum anak mengetahui bahwa kedua huruf tersebut mempunyai bunyi yang berbeda dan bahwa jika digabungkan dengan huruf-huruf lain yang dapat membentuk kata.  Sama halnya, jika anak tidak mempunyai pengalaman tentang perbedaan antara bang dan bank kesadaran atas perbedaan antara keduanya itu akan tetap tinggal pada tingkat stimulus dan tidak mengubah persepsinya mengenai makna yang dinyatakan oleh kedua kata tersebut.

Sampai di sini kita selalu membicarakan persepsi stimuli dalam bentuk huruf dan kata.  Sesungguhnya, persepsi stimuli itu mempunyai sifat yang sama untuk bentukan-bentukan yang berupa kalimat, paragraf, bab, bahkan cerita.  Makna perseptual itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman lalu latar belakang budaya dan asosiasi emosional dan fisik.  Anak-anak berasal dari berbagai latar belakang.  Anak yang banyak dibacakan oleh orang tuanya dan dikelilingi tumpukan buku dan majalah serta diteladani oleh orang tua dan saudara yang cinta membaca akan mempunyai persepsi terhadap membaca yang berbeda dengan persepsi anak yang tidak memiliki latar belakang seperti itu.  Anak yang pernah mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak, banyak berkunjung dan toko buku, banyak berdarma wisata yang berkesempatan untuk berbicara secara bebas dengan orang tuanya dan teman-temannya  mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah mengenal latar belakang kehidupan seperti itu.  Hal lain yang tidk boleh diremehkan dalam proses perseptual ialah faktor emosional dan faktor fisik.  Kedua-duanya mungkin sekali mempunyai pengaruh besar terhadap persepsi anak dan terhadap kata atau kejadian tertentu.   Anak yang tidak merasa betah karena gangguan emosi  dan fisik yang dialaminya  tidak akan dapat berfungsi pada tingkatan potensial yang semestinya.  Pengalaman yang dibawanya pada saat dia berpersepsi itu mungkin menjadi terbatas dan terkendla.  Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kebutaan dan kepekaan tidak perlu menjadi penyebab kegagalan, namun keduanya bisa berbaur dengan faktor-faktor lainnya sehingga menjadi  sumber utama kegagalan.  Anak yang merasakan kegiatan membaca itu sebagai pengalaman yang meresahkan, dan menakutkan boleh dipastikan akan menjadi pembaca yang ogah-ogahan.

Sifatnya dan intensitas pengalaman emosional yang dibawah seorang anak untuk menghadapi sebuah kata atau kejadian yang memberi warna atau menodai makna kata atau kejadian yang dihadapinya itu.  Anak yang mempunyai tikus piaraan akan mempunyai persepsi yang sangat berbeda dengan persepsi anak yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi di daerah minoritas di tengah kota kalau kepada keduanya disajikan sebuah cerita tentang tikus.  Kata salju akan mungkin memberikan bayangan suasana yang gembira ria meluncur di salju, mungkin pula bayangan yang membosankan, kedinginan, dan kesengsaraan.  Kadang-kadang bisa terjadi bahwa rasa berlebihan terhadap sebuah kata itu mengubah makna kata tersebut secara berlebihan pula sehingga berubah sama sekali.

Untuk mengembangkan kemampuan membacanya, anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulusyang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dialaminya.  Dengan kata lain, pada setiap haruslah terjadi semacam mediasi pengalihan pengalaman. Persepsi itu sesungguhnya merentang diantara batas-batas daerah yang sangat luas, mulai dari daerah-daerah yang konkret, sangat nyata dan khusus sampai pada hal-hal yang abstrak dan generik, dan pada batas-batas terakhir yang bersifat abstrak dan generik itulah konseptualisasi terjadi.  Pada daerah itulah anak dituntut berkemampuan untuk menggeneralisasikan, menganalisis, dan menyintesis, dan sebagainya.

Meski betapapun luasnya pengalaman seorang anak, dia masih akan menyadari banyaknya konsep yang belum diketahuinya.  Meskipun dia sudah mengetahui sejumlah konsep, namun banyak pula di antara konsep yang sudah diketahuinya itu yang belum bisa diangkatnya sampai pada taraf konseptualisasi yang jelas dan berarti.  Dengan kata lain, keterbatasan anak itu tidak disebabkan oleh keterbatasan pengalamannya semata-mata, tetapi juga oleh tingkat kemampuan mentalitasnya.  Anak biasanya terlebih daulu mempelajari konsep-konsep yang konkret dan spesifik.  Burung adalah merpati yang pernah dilihatnya dalam sebuah sangkar milik kakaknya ; bunga adalah mawar yang tumbuh dalam sebuah pot kecil di serambi rumahnya.  Lama sesudah itu barulah dia tahu bahwa burung itu bermacam-macam, ada merpati, ada balam, ada perkutut, punai, dan sebagainya.  Demikian juga dengan kata bunga .  Bunga itu bermacam-macam warnanya , ukurannya, bentuknya, wanginya, jenisnya, dan sebagainya.  Setelah pengalamannya berkembang, dia pun akan belajar bahwa anda tidak hanya minum dari sebuah cangkir besar.  Orang bisa minum dengan menggunakan cangkir kecil, macam-macam gelas, bahkan minum dengan sedotan dari sebuah kotak karton.  Anak akan mampu pula mengembangkan konsepnya tentang cangkir.  Sewaktu bermain rumah-rumahan, anak akan menggunakan benda-benda tertentu sebagai cangkir.

Dengan demikian jelaslah  bagi anda bahwa anak seyogianya sudah berpengalaman banyak sebelum dia untuk pertama kalinya mengenal huruf-huruf, kata-kata , dan kalimat dalam wacana.  Makin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak, makin luas pulalah terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsep-konsep dan memperbaiki persepsinya.  Melalui berbagai kegiatan seperti karya wisata, permainan, dan berbagai kegiatan kelas, guru akan dapat membekali murid-muridnya dengan pengalaman yang bermanfaat.  Penampilan audio-visual, cerita, gambar, dan nyanyian pun dapat menambah pengalaman anak.  Oleh karenanya, waktu khusus untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti itui tidak hanya penting tetapi juga sangat esensial.

Dari pembicaraan sekilas mengenai membaca sebagai proses perseptual seperti yang diuraikan di atas itu pun kita dapat menyadari bahwa membaca itu sangat kompleks.  Persepsi itu berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang banyak jumlahnya itu dalam membaca.  Kita lihat bahwa proses persepsi itu tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran, tetapi oleh kebudayaan, pengalaman, emosi, kematangan, dan bahkan kepribadian juga.  Meskipun persepsi seorang anak bisa merapuh sebagai akibat dari adanya berbagai faktor perusak, guru dapat mengurangi bahkan mengatasi kerapuhan itu dengan jalan memberikan berbagai pengalaman sesuai dengan kebutuhan anak masing-masing, sehingga kesempatan mengembangkan persepsi itu bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya.

Return to Content

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1