7. Membaca       
sebagai Proses Sensoris       

Anda dapat menggunakan bab ini untuk memahami:

  • membaca sebagai proses sensoris

Apapun yang dapat kita katakan tentang membaca tidak dapat dipisahkan dari kenyataaan  bahwa awalnya, membaca merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan untuk kegiatan membaca itu masuk lewat telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braile masuk lewat syaraf-syaraf jari. Betapa pun cerdas , mantap, dan siap jiwanya seorang anak, tidaklah mungkin bisa belajar membaca jika dia tidak mampu mengenali rangsangan materi. Penjelasan tersebut tidak berarti bahwa anak-anak yang cacat tidak akan dapat belajar membaca. Anak-anak mempunyai alat kompensasi yang sangat banyak. Tidak  pula dapat dikatakan bahwa ketunanetraan dan ketunarunguan semata-matalah yang merupakan penyebab kegagalan membaca. Pernyataan  “membaca sebagai proses sensoris” tidaklah berarti bahwa membaca itu merupakan proses sensoris semata-mata.  Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca itu, dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atatu secara serempak. Kepenatan, kegelisahan, kebimbangan, ketidak percayaan terhadap diri sendiri merupakan faktor-faktor yang sering kali berbaur dengan cacat yang diderita sehingga menyebabkan kegagalan.

Membaca itu dimulai dengan melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan mata. Pada tingkat awal, anak menunjukkan kemampuan yang secara umum sekali disebut membaca. Pada saat  permulaan itu anak mulai sadar bahwa tanda dan lambang-lambang tentu menunjukkan nama atau benda. Kemudian mereka belajar bahwa jika lambang-lambang itu dirangkai, akan tersusunlah pembicaraan. Kapankah anak-anak itu siap untuk membaca buku? Dengan kata lain, kapankah penglihatannya itu siap?

Berbagai penelitian membuktikan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun.  Pada usia tersebut  anak memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi yang dalam, pemfokusan pengaturan dan pengubahan perasaan secara bebas.  Tetapi, pada usia tersebut anak pun sudah berpenyakit pandangan jauh.  Akan tetapi, karena anak itu merupakan pribadi-pribadi  dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anda seyogianya memiliki pengetahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan.

Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak ialah “kekeliruan kesiapan” (refractive error), yang berarti tidak lain kondisi mata yang tidak terpusat. Salah satu jenis keliru sipi ialah hipermetropia, atau pandangan jauh.  Untuk mengetahui kelemahan ini  di sekolah harus disediakan alat uji penglihatan.  Jalan lain untuk mengatasi hal tersebut ialah bahwa siswa secara teratur ke poliknik terdekat untuk memerisa kesehatan penglihatannya.  Guru yang berpengalaman tidak akan memberi tugas kepada anak-anak yang mempunyai kelemahan seperti itu untuk membaca benda-benda yang terlalu dekat atau menyuruhnya membaca dalam waktu yang terlalu lama secara terus menerus.

Jenis keliru sipi yang kedua adalah miopia, atau pandangan dekat. Penderita miopia tidak sebanyak penderita hipermetropia pada permuaan pengajaran membaca. Akibatnya pun tidak parah. Bahkan, penderita miopia yang moderat suka membaca.

Eror refraktif jenis ketiga ialah “Astigmatisme”.  Penderita cacat penglihatan ini mempunyai jarak pandang yang tidak sama untuk kedua matanya , miopik atau hipermetropik untuk salah satu matanya atau campuran antara keduanya.  Meskipun penyakit-penyakit tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam faktor penyebab ketidak mampuan membaca, namun jelaslah peranannya sebagai faktor  yang ikut serta menimbulkan ketidakmampuan. Eror Refraktif dapat menyebabkan ketidakbetahan, ketegangan, dan lemah minat terhadap bahan bacaan.

Dapatkah anda menyebutkan faktor-faktor lain yang anda anggap merupakan kendala dalam proses membaca? Ya, memang banyak.  Untuk mengetahui adanya gangguan tersebut , sebelas macam gejala yang berikut ini seyogianya anda perhatikan baik-baik :

1) gerakan-gerakan muka, 2) mendekatkan bacaan ke muka, 3) ketegangan waktu melakukan pekerjaan visual, 4) memencengkan kepala, 5) mendorong kepala ke depan, 6) badan ditegangkan tatkala melihat objek yang jauh, 7) sikap duduk yang tidak baik, 8) seringkali menggerak-gerakkan kepala, 9) sering menggosok mata , 10) menghindari pekerjaan visual yang rapat, 11) kehilangan tempat/batas waktu membaca.  Gejala-gejala yang tampak bila digabungkan dengan hasil tes mata merupakan indikator yang baik untuk mengetahui cacat penglihatan.

Jika membaca dapat dikatakan mulai dengan melihat, maka secara umum, kesiapan membaca mulai dengan mendengarkan.  Persiapan auditoris anak dimulai dari rumah dalam bentuk  pembinaan kosakata, menyimak efektif, dan keterampilan membeda-bedakan. Jika seorang anak mendapat pengaruh jelek dari cacat tubuh atau kondisi sosialnya, maka pengalamannya pun terbatas.  Akibat keterbatasan pengalaman itu akan segera tampak pada tingkat awal upayanya belajar membaca. Jika di rumahnya seorang anak menemukan kesulitan  dalam membeda-bedakan bunyi yang mirip, atau tidak dapat mengenali suara tertentu di dalam sebuah kata, kita boleh percaya bahwa disekoahnya pun dia akan menghadapi kesulitan yang sama.

Anak-anak membaca pemula harus mampu mendengar kesamaan di antara bunyi huruf-huruf yang ada dalam ata, mendeteksi kata-kata yang dimulai dan berakhir dengan bunyi yang sama, mendeteksi irama. Dalam banyak kejadian, anak-anak yang tidak mampu melakukan hal tersebut dapat dilatih untuk melakukannya.  Jika latihannya  itu tidak berhasil maka latihan pengenalan bunyi yang berat seyogianya diberikan kepadanya.

Hal yang perlu dicamkan oleh guru ialah bahwa bila seorang anak kehilangan daya dengarnya namun masih mempunyai motivasi  untuk belajar membaca, kemampuan untuk mencari kompensasi, dan bahan pengajaran yang diselaraskan, dia tidak akan menemui kesulitan dalam penguasaan bacaannya itu, kalaupun ada kesulitan, hal tersebut tidak akan merupakan rintangan baginya. Sebaiknya, seorang anak yang mempunyai cacat pendengaran yang tidak seberapa bisa menemui kegagalan dalam penguasaan bacaannya jika dia tidak memiliki motivasi, tidak percaya kepada diri sendiri , dan tidak mendapatkan pengajaran yang layak.

Return to Content

 

     
Hosted by www.Geocities.ws

1