![]() |
6.
Membaca |
|
Anda dapat menggunakan bab ini untuk memahami:
Kehidupan dan pertumbuahan senantiasa dipengaruhi dengan kegiatan belajar, karenanya banyak hal yang kita kuasai diperoleh melalui proses belajar. Begitu pula halnya dengan kemampuan membaca. Ada hal-hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian karena mempunyai kaitan dengan proses membaca. Yang berikut merupakan bahagian kecil dari yang telah diketahui, (1) intelegensi, (2) usia mental, (3) Jenis kelamin, (4) tingkat sosial ekonomi, (5) bahasa, (6) ras, (7) kepribadian, (8) sikap, (9) pertumbuhan fisik, (10) kemampuan persepsi, dan (11) tingkat kemampuan membaca. Dari bahagian kecil yang tertera di atas itu hanya beberapa yang akan dibicarakan dalam bab yang pertama ini. Anda pernah mendengar kata “intelegensi” bukan? Ya, bahkan sering kali. Tahukah anda makna kata tersebut? Anda tahu benar arti kata itu, tetapi teman-teman Anda masih banyak yang belum memahaminya. Ada beberapa orang di antara mahasiswa yang pernah mempelajari makna kata itu baik-baik, tetapi sesudah itu melupakannya kembali. Anda tentu tahu bahwa kata intelegensi biasa didampingi dengan kata kusien (quontient) dan disingkat menjadi IQ. Disamping IQ anda mengenal pula MA (mental age), ialah usia mental. Untuk apa orang membuat kedua istilah tersebut? Ya, benar, IQ dan MA biasa digunakan untuk menyatakan hasil tes intelegensi umum. IQ seorang anak yang berusia enam tahun menunjukkan rasio antara skor tertentu yang diperolehnya dalam suatu tes intelegensi dan skor yang akan diperoleh oleh anak-anak lain pada umumnya (rata-rata), yang berusia kronologis yang sama dengan anak tersebut, untuk tes yang sama pula. Untuk membedakan IQ dan MA, anda boleh mendifinisikan IQ sebagai ukuran pertumbuhan mental, sedangkan MA sebagai ukuran kedewasaan mental. Meski ada keistimewaan-keistimewaan yang biasa terjadi, IQ dapat dianggap sebagai ukuran relatif stabil, sedangkan MA mempunyai pertumbuhan berlanjut sampai pada usia pertengahan adolsensi. Rumus-rumus yang berikut ini mungkin dapat menolong menjelaskan hubungan antara usia kronologis (chronological Age) yang disingkat CA, dengan MA dan IQ. MA = IQ x CA dan
MA Kita dapat menurunkan MA seorang anak yang IQ nya 110 dan yang ca-nya 6,0 dengan cara berikut.
MA = IQ x CA
79,2 Jika MA dan CA yang diketahui (6,6 dan 6,0) dengan cara yang sama anda dapat mencari IQ.
MA
6,6 IQ= 1,1 x 100 = 11 Walaupun banyak fator yang mempengaruhi dan berkaitan erat kesiapan dan kemampuan membaca, namun yang paling banyak dan paling konsisten diteliti dan dipelajari ialah intelegensi. Para ahli sependapat bahwa intelegensi merupakan faktor yang penting, tetapi batas-batas kepentingannya belum juga dapat dijelaskan. Kenyataan yang menunjukkan adanya perbedaan informasi tentang kepentingan intelegensi itu mempunyai kecenderungan mengaburkan permasalahan, bukan menjelaskannya. Harris (1970) umpamanya, berpendapat bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca ialah intelensi umum. Karena faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental yang banyak tingkatannya itu, maka kaitannya dengan faktor-faktor lainnya sangatlah jelas. Witty dan Kopel pun mempunyai pendapat yang serupa. Mereka berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki skor IQ menurut Binet di bawah 25, biasanya tidak pernah mencapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca; yang skor IQ nya di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi lainnya yang sukar; dan mereka yang skor IQ nya ada di antara 50 dan 70 akhirnya akan mampu juga membaca, tetapi kemampuannya itu tidak akan melebihi kemampuan peringkat empat. Studi tentang intelegensi dan kesiapan membaca yang dilakukan oleh Morphett dan Washburne (1931) mungkin merupakan studi yang paling dikenal. Selama bertahun-tahun hasil penelitian mereka mendominasi keyakinan tentang intelegensi itu. Namun demikian, semenjak itu, dikenal pula hal yang sama pentingnya kalau tidak lebih penting. Penelitian Gates (1937) telah mengubah sikap terhadap masalah intelegensi itu. Penelitian yang dilakukannya dalam kelas menunjukkan bahwa usia mental itu mempunyai kegunaan yang relatif, ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan mencapai kemampuan membaca itu. Ditunjukkannya bahwa besarnya kelas, prosedur dan metode mengajar memberikan kemungkinan kepada anak untuk mampu membaca pada empat setengah tahun, sedangkan bentuk pengajaran lainnya baru berhasil memberikan kemampuan membaca pada usia tujuh tahun. Gray (1956) menyarankan agar anak mulai diajari membaca pada MA-nya enam, namun demikian dia pun mengakui materi yang digunakan dalam pengajaran, prosedur mengajar dan faktor-faktor lainnya yang cukup banyak jumlahnya itu mempunyai peranan yang lebih penting daripada usia mental. Dia menunjukkan kenyataan di Skotlandia dan negara-negara Eropa lainnya yang berhasil membina pembaca-pembaca yang baik pada usia mental lima. Ada lagi dua orang ahli, smith dan Dechant (1961) yang melaporkan adanya kaitan yan erat antara kesiapan membaca dan kemampuan membaca. Mereka membuktikan korelasi antara skor tes kesiapan membaca dan usia mental itu merentang antara 0,35 dan 0,80. Kesimpulan mereka berbunyi bahwa pada umumnya tes kemampuan membaca, kesiapan membaca, dan intelegensi itu mengukur faktor-faktor yang sama. Mesipun ada perbedaan pendapat mengenai sifat hubungan yang sebenarnya antara IQ dan MA terhadap membaca, ternyata persamaan-persamaannya pun masih ada seperti yang tertera dibawah ini: 1) IQ dan MA merupakan alat ramal yang baik untuk untuk menentukan tingkat minimal kemampuan anak. 2) Kebanyakan anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental dibawah enam tahun. 3) Meskipun IQ dan MA merupakan faktor-faktor yang penting, faktor-faktor lain seperti jumlah anak dalam kelas, prosedur, motivasi, serta proses belajar-mengajar merupakan faktor-faktor yang sama pentingnya untuk mencapai kemampuan membaca yang baik. 4) Meskipun IQ dan MA merupakan predikator yang baik dalam banyak hal, keduanya tidak boleh digunakan secara terpisah dari faktor-faktor lainnya dalam upaya menentukan perkiraan. Anak kelas satu mempunyai IQ 130 belum tentu dapat lebih berhasil membaca bila dibandingkan dengan seorang anak yang ber-IQ 80. 5) Korelasi antara IQ dan skor membaca cenderung meningkat sesuai dengan kenakan kelas. Skor IQ yang tinggi di kelas enam merupakan predikator kemampuan membaca yang lebih baik daripada skor IQ yang sama tingginya yang diperolehnya di kelas satu. Di muka telah dikatakan bahwa faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca bukan IQ dan MA saja, masih banyak faktor lain yang sama pentingnya. Di bawah ini akan diuraikan peranan faktor sosial ekonomi dalam pemerolehan kemampuan membaca. Pada masa sekarang, yang sering kali dikaitkan dengan masalah kemampuan membaca ialah faktor sisoal ekonomi. Status sosial ekonomi ternyata mempunyai kaitan yang jelas dengan kemampuan membaca. Riessman (1962) mengutip catatan yang menyatakan pada umumnya 15 sampai 20 persen anak-anak sekolah di Amerika menunjukkan batas-batas ketidak mampuan membaca. Dia memperkirakan adanya angka persen yang lebih besar dikalangan masyarakat yang bersosial ekonomi rendah, ialah sampai 50%. Perkiraan lain yang dibuat oleh Benson (1969) menyatakan anak-anak yang berasal dari masyarakat kelas sosial ekonomi menengah dapat membaca lebih baik daripada anak-anak yang bersosial ekonomi rendah ada antara sepuluh sampai dua puluh persen, sedangkan yang tidak mampu membaca diantara anak-anak yang bersosial ekonomi rendah bisa mencapai 80%. Meskipun temuan mereka itu cukup mengkhawatirkan, namun sesungguhnya tidaklah terlalu mengherankan, sebab jauh sebelumnya, ialah dalam tahun1940, Coleman sudah melihat adanya hubungan yang jelas antara status sosial ekonomi dengan kemampuan membaca. Dengan jalan mempelajari suatu sampel nasional dari tiga kelompok siswa yang berstatus sosial ekonomi yang berbeda tingkatannya itu ditemukannya bahwa tingkat sosial ekonomi siswa itu ada kaitannya dengan kemampuan mereka mengenai berbagai mata pelajaran. Hasil yang sama diperoleh Gough (1946) dari penelitiannya atas murid-murid kelas enam yang berstatus tinggi, menengah, dan rendah berdasarkan kemampuan sosial ekonominya. Ada berbagai faktor yang menjadi alasan kenyataan tersebut. Yang jelas diantaranya adalah kekurangan gizi, tingkat kesehatan yang rendah, kepadatan lingkungan, tempat kediaman yang tidak stabil, dan tekanan ekonomi. Di sisi lain masih ada alasan yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca itu, yang sesungguhnya ada kaitannya dengan status sosial ekonomi, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar: latar belakang pengalaman; tingkat motipasi; dan bahasa. Anda sering mendengar bahwa latar belakang pengalaman anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah itu kerdil. Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak benar. Semua anak mempunyai latar belakang pengalaman. Kenyataan bahwa latar belakang pengalaman mereka itu tidak sama dengan yang dimiliki anak-anak kelas menengah, jadi tidaklah sepantasnya jika ditapsirkan bahwa anak-anak itu sama sekali tidak berpengalaman. Haruslah ditapsirkan bahwa pengalaman mereka itulah yang harus mereka tapsirkan. Sayang sekali, banyak guru yang menyepelekan kenyataan itu. Di pihak lain, sungguh tidak realistik jika dikatakan bahwa anak-anak tertentu tidak mengalami rintangan yang disebabkan oleh latar belakang pengalamannya. Karena sistem pendidikan diarahkan pada standar kelas menengah dengan menggunakan mata pelajaran dan kosa kata kelas menengah, maka anak yang tidak mempunyai pengalaman tentang hal tersebut sesungguhnya mengalami suatu hambatan. Anak yang beraal dari keluarga tidak berada mempunyai kesempatan yang kurang untuk bepergian, membaca buku dan majalah, atau bertemu dengan orang-orang di luar lingkungannya. Disebabkan oleh lingkungan sosial yang sempit dan kemampuan ekonomi yang terbatas banyaklah kesempatan-kesempatan untuk mengayaan itu menjadi tertutup. Kedua orang tua bekerja dari pagi sampai sore sehingga tidak berkesempatan untuk ikut memperluas kesempatan anak. Dalam hal lain, disebabkan oleh tekanan ekonomi, orang tua dengan sendirinya melalaikan tugas yang demikian itu. Akibatnya, anak mempunyai ikap tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan yang mengikuti kegiatan sekolah. Anggapan yang menyatakan bahwa semua anak mempunyai keinginan untuk belajar membaca adalah naif dan tidak realistis. Karena banyak anak berasal dari keluarga yang tidak mau atau tidak mampu membaca, mitivasi mereka untuk belajar membaca pun sangat kurang. Yang demikian itu hampir selalu dapat dibenarkan bagi anak-anak yang berada dalam lingkungan keluarga yang berstatus dan berlingkungan sosial ekonomi rendah. Mereka tidak pernah melihat orang tua mereka, ataupun anggota keluarga lainnya menunjukkan perhatian yang besar terhadap membaca. Kakak-kakak mereka, teman-teman, dan tetangga yang bergaul dengan mereka itupun jarang berlesempatan untuk membaca buku, majalah,surat kabar di rumah. Mereka tidak pernah mendapat dorongan atau alasan untuk belajar membaca. Alasan lain yang menyebabkan anak tidak mempunyai motipasi untuk belajar membaca ialah langkanya atau bahkan tiadanya kesempatan bagi mereka untuk menikmati pengalaman indah dan berguna dari kegiatan membaca itu. Disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan latar belakang dan persiapan mereka yang serba kurang itu, mereka datang ke sekolah dengan kesiapan yang tidak layak. Karena mereka tidak siap kegagalan pun menimpa, dan kegagalan itu sering kali diukur dengan ketidak mampuan membaca. Tidak seorangpun menyenangi kegagalan, maka tidaklah mengherankan jika asosiasi-asosiasi negatif pun bertimbun. Kegagalan yang berlangsung terus-menerus itu bukannya memotivasi mereka untuk membaca melainkan untuk segera meninggalkan sekolah . Faktor lain yang menyebabkan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu gagal ialah bahasa. Anak yang berbahasa yang layak untuk berkomunikasi dengan keluarganya ternyata tidak berarti memiliki bahasa yang layak untuk sekolah. Bahasa rumah dan masyarakat belum tentu bahasa sekolah. Patin (1964) menunjukkan bahwa anak seringkali memiliki bahasa masyarakat yang layak, tetapi tidak mampu berbahasa formal. Bahasa segari-harinya layak untuk menerima dan meyampaikan informasi yang sederhana, meminta sesuatu, menyatakan persetujuan atu penolakan. Bahasa mereka ditandai oleh sifat kesederhanaan, deklaratif, dan imperatif. Struktur yang kompleks, klause-klause terikat, dan pola kalimat yang lebih luas tidak kedapatan dalam bahasa sehari-hari mereka. Karena bahasa sekolah itu formal, anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu itu sudah mengalami kegagalan semenjak langkahnya yang pertama. Temuan-temuan tersebut itu bersesuaian dengan temuan thomas (1964). Di daerah penelitiannya yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu, dia memperoleh bukti bahwa anak-anak di daerah itu hanya memiliki 50 % dari jumlah kata yang bisa digunakan di sekolah. Mereka tidak dapat memahami dua puluh lima sampai lima puluh persen kata-kata yang digunakan dalam buku-buku tingkat permulaan.
|
|