Hakikat dan Fungsi Membaca Cepat

Dewasa ini ada orang yang beranggapan bahwa  dengan membaca lambat pemahaman seseorang terhadap apa yang dibaca akan semakin baik.  Sebaliknya, dengan membaca cepat pemahaman akan terhambat. Anggapan itu sama sekali tidak benar.  Kegiatan memahami bacaan pada hakikatnya sama dengan kegiatan memahami  pembicaraan (tuturan lisan). Mari kita perhatokan ilustrasi berikut. Ilustrasi ini menampilkan dua model contoh tuturan yang dilakukan secara kontras. Yang satu menunjukkan tuturan dengan kecepatan biasa, sedangkan yang satunya lagi menunjukkan tuturan  dengan kecepatan yang sangat lambat.

Contoh (a)
Minggu yang akan datang /saya / bermaksud  mengikuti ujian /  tahap kedua.
(diucapkan berdasarkan satuan-satuan gatra atau satuan-satuan ide  yang berupa kelompok-kelomok kata)

Contoh b
Minggu / yang / akan / datang / saya / bermaksud /  mengikuti / ujian / tahap / kedua.
(diucapkan kata demi kata)

Cara penututran pertama (a) dilakukan  berdasarkan satuan-satuan kelompok kata yang berupa satuan-satuan unit ide sehingga penyampaiannya akan terdengar lebih cepat bila dibangdingkan dengan cara penuturan (b) yang dilakukan kata demi kata. Cara penuturan kedua (b) terdengar lambat, karena setiap mengucapkan sebuah kata diselingi oleh penghentian sementara atau jeda pedek. Cara penuturan mana yang lebih mudah ditangkap maknanya, yang pertama (cepat) atau yang kedua (lambat)? Tentu kita akan lebih mudah menangkap tuturan yang dilakukan dengan cara (a). Penutuan cara pertama lebih mudah kita pahami, ketimbang cara kedua. Hal itu membukitkan kepada kita bahwa dengan membaca cepat tidak berarti pemahaman kita terhambat. Justru sebaliknya, orang yang memiliki kecepatan membaca tinggi cendreung memiliki tingkat pemamahan yang tingi pula.

Melihat ilustrasi di atas, rasanya tidak ada alasan bagi seseorang untuk enggan menjadi pembaca cepat. Sebab hasil penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kecepatan membaca yang tinggi cenderung memperlihatkan kemampuan memahami bacaan kebih baik ketimbang pembaca lambat. Memang, pada saat-saat tertentu pembaca dituntut untuk bersifat fleksibel di dalam menghadapi dan meyiasati bacaannya. Kadang-kadang diperlukan waktu yang relatif lebih lama untuk memahami sesuatu, tetapi adakalanya pembaca butuh waktu yang relatif singkat. Dengan pandangan sekilas saja, pembaca sudah dapat menangkap isi sebuah bacaan.

Kegiatan membaca dapat diibaratkam dengan mengendarai kendaraan bermotor. Pengendara akan menghentikan lajunya kendaraan jika bertemu dengan lampu merah. Pengendara juga akan memperlambat kecepatan kendaraannya manakala memasuki daerah macet atau jalan yang tidak mulus, penuh dengan bekas-bekas galian dan tidak rata. Akan tetapi sebaliknya, setelah memasuki jala ntol yang bebas hambatan kecepatan kendaraan aka ndipacu sampai batas maksimal yang mungkin bisa dikendalikannya. Demikian juga dengan kegiatan membaca. Kadang-kadang, membaca bagian atau penggalan tertentu dari suatu bacaan lebih membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ketimbang membaca bagian lainnya. Kadang-kadang, bahkan berhenti sejenak untuk melihat referensi/sumber bacaan lain yang dianggap mendukung informasi yang kita temui dalam bacaan kita. Meskipun demikian, pembaca cepat akan tetap mempertimbangkan waktu hentian dan pengurangan tempo baca untuk kecepatan baca secara keseluruhan.

Fleksibilitas baca memang sangat erat kaitannya dengan tujuan/maksud pembaca, informasi fokus, dan jenis bacaan yang dihadapinya. Yang dikategorikan ke dalam pembaca efektif dan efisien itu ialah pembaca yang fleksibel. Menurut Tampubolon (1987), pembaca yang demikian harus dapat mengatur kecepatan, menentukan metode, teknik, dan gaya membaca sesuai dengan semua faktor yang berkaitan dengan bacaan. Hal-hal yang berkenaan dengan kecepatan, metode, teknik, dan gaya membaca disebut strategi membaca: sedangakan faktor tujuan, informasi fokus, dan jenis bacaan disebut kondisi-baca. Dengan demikian, fleksibilitas membaca dapat diartikan sebagai kemampuan menyesuaikan strategi membaca dengan kondisi-baca.

Rasanya belum sempurna keampuan membaca (baca: kemampuan memahami bacaan) seseorang jika tingkat kemampuan baca yang bagus itu tidak disertai dengan kecepatan yang bagus pula. Kemampuan membaca tingkat lanjut  dalam praktiknya melibatkan proses kognitif. Dikatakan sebagai proses kognitif karena pada dasarnya kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam membaca tingkat ini adalah kegiatan-kegiatan berpikir dan bernalar termasuk mengingat, meskipun pada taraf penerimaan lambang-lambang tertulis diperlukan kemapuan-kemampuan motoris berupa gerakan mata.

Pembicaraan tentang kemampuan-kemampuan motoris dalam membaca yang berupa gerakan mata itu erat kaitannya dengan masalah kecepatan membaca. Yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit. Jadi, jika seseorang dapat membaca bacaan yang panjangnya lebih kurang 2000 perkataan dalam tempo lima menit, artinya rata-rata kecepatan bacanya adalah 400 kata permenit.

Sementara itu, kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan, pikiran, dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. Kemampuan-kemampuan kognitif yang dimaksud di sini adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. Seseorang boleh dikatakan memiliki kemampuan baca yang baik jikadia mampu memahami isi bacan tersebut minimal 70 persen. Untuk mengetahui persentase kemampuan membaca itu dapat mempergunakan alat ukur tes. Idealnya, pengukuruan atau pengetesan kemampuan membaca itu dilakukan oleh orang lain agar lebih objektif. Namun, pengetesan itu dapat pula dilakukan sendiri.

Return to Baca

  1

Hosted by www.Geocities.ws