Teknik Tes dalam Pengajaran Membaca


 

 


Cake Photo Caption

Pada uraian terdahulu, kita telah membicarakan teknis-teknis nontes untuk menilai perilaku apektif dan psikomotor dalam membaca. Pada bagian ini kta akan mencoba memperbincangkan teknis tes dalam kaitannya dengan evaluasi kemampuan membaca.

Yang dimaksud dengan kemampuan membaca disini adalah kemampuan untuk memahami informasi yanfg terkandung dalam materi cetak. Kegiatan memahami informasi itu sendiri merupakan aktivitas kognitif. Oleh karena yang akan diukur adalah kemampuan kognisi, maka alat ukur yang kita gunakan untuk kepentingan tersebut hendaklah alat ukur yang valid untuk hal tersebut. Ranah kognisi dalam Taksonomi Bloom merupakan alternatif yang baik untuk menjadi landasan dalam pembuatan alat ukur.

Menurut Bloom, sistem berpikir seseorang sebagai cermin dari kerja kognisinya berjenjang-jenjang, mulai dari proses berpikir sederhana hingga proses berpikir yang paling kompleks. Oleh karena itu, ranah kognisi menurut Bloom terbagi kedalam enam tataran berpikir. Keenam jenjang proses berpikir itu meliputi: (a) mengingat, (b) memahami, (c) mengaplikasi, (d) menganalisis, (e) mensintesis, dan (f) mengevaluasi.

Berdasarkan konsep tersebut, untuk menilai aspek kognitif seseorang dapat dilakukan melalui teknis tes yang kadarnya itu berjenjang-jenjang. Tingkatan-tingkatan kognitif itu merentang dari tingkatan yang paling mudah/sederhana hingga yang paling sulit/kompleks. Kriteria tingkat kemudahan atau kesulitan suatu tse kemampuan membaca, dilihat dari eksplisit-tidaknya jawaban yang dikehendaki dari tes tersebut serta kadar kerja otak seseorang dalam mencari jawab dari pertanyaan tersebut.

Penekanan bahasan tes kemampuan membaca pada bagian ini, akan kita arahkan pada segi jenjangnya. Masalah-masalah bentuk tes, seperti bentuk esei, bentuk objektif tidak akan dibicarakan lagi disini. Anda dapat mempelajarinya pada modul lain atau buku-buku teks yang berkenaan dengan evaluasi pendidikan.

Anatomi Pertanyaan Membaca

Anatomi pertanyaan membaca yang dimaksud disini adalah anatomi pertanyaan membaca yang dikemukakan oleh Benyamin.S. Bloom, khususnya untuk ranah kognitif. Pembagian jenjangnya meliputi :

(a) jenjang ingatan;
(b) jenjang terjemahan;
(c) jenjang interpretasi;
(d) jenjang aplikasi;
(e) jenjang analisis;
(f) jenjang sintesis; dan
(g) jenjang evaluasi.

Setelah anda melihat pembagian jenjang diatas, tentu ada pertanyaan kecil yang menggelitik benak anda. Bukankah jenjang kognisi menurut Bloom itu ada enam tingkatan ; mengapa dalam anatomi pertanyaan membaca bertambah satu menjadi tujuh jenjang? Memang, pertanyaan membaca mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari jenis-jenis pertanyaan lain yang sifatnya umum. Salah satu ciri utama pertanyaan membaca adalah bahwa pertanyaan yang dibuat itu benar-benar harus digali dari bahan bacaan yang dibaca si “testee” (pengikut tes). Berdasarkan karakteristik pertanyaan membaca yang demikian itu maka sifat jawaban yang dikehendaki dari pertanyaan itupun mempunyai karakteristik tertentu.

Jenjang pertanyaan terjemahan dari jenjang interpretasi, sebenarnya merupakan bagian dari proses kognitif jenjang kedua, yakni jenjang pemahaman. Namun, pertanyaan pada jenjang terjemahan tidak terlalu menuntut si testee untuk berpikir, dalam pengertian proses berpikir untuk memahami. Proses berpikir yang dituntut dalam menjawab pertanyaan jenjang terjemahan kadarnya lebih rendah dari proses berpikir untuk menjawab pertanyaan jenjang interpretasi. Atas dasar perbedaan itulah, selanjutnya jenjang pemahaman Bloom terbagi lagi kedalam dua klasifikasi, yakni yang kadarnya lebih rendah disebut jenjang terjemahan dan kadar yang lebih mencerminkan proses pemahaman yang sesungguhnya disebut jenjang interpretasi.

Selanjutnya, mari kita bicarakan setiap jenjang pertanyaan diatas beikut contoh-contoh soalnya. Setiap contoh pertanyaan yang disajikan pada bagian ini akan didahului oleh contoh-contoh teks bacaannya.

Jenjang Pertanyaan Ingatan

Tes kemampuan membaca pada jenjang ini hanya sekedar menghendaki jawaban sebagai hasil mengingat kembali apa yang sudah diterakan dalam bacaan, baik berupa fakta,definisi, generalisasi atau konsep-konsep. Pada hakikatnya, kerja siswa dengan tes jenjang ingatan ini hanyalah sekedar mengenali , menemukan dan memindahkan atau menyebutkan kembali fakta atau informasi yang telah tertuang dalam teks/wacana. Dengan demikian, jawaban untuk pertanyaan jenjang ini sebenarnya sudah dinyatakan secara eksplisit didalam bacaan. Tugas si penjawab hanyalah menyebutkan kembali fakta atau informasi dimaksud sesuai dengan fakta atau informasi yang dinyatakan dalam teks bacaan.

Ada sementara orang yang beranggapan bahwa jenjang pertanyaan ini merupakan jenjang yang paling mudah. Sebenarnya anggapan tersebut tidaklah benar. Hal ini akan sangat ditentukan oleh perkembangan usia si testee. Untuk orang dewasa, pertanyaan-pertanyaan seperti ini justru sering lebih menyulitkan ketimbang pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menuntut proses berpikir.Semakin dewasa usia, semakin tumpul daya ingat seseorang, tetapi sebaliknya daya pikirnya semakin baik. Pada usia-usia sekolah dasar, proses mengingat memang masih jauh lebih baik ketimbang orang dewasa. Anak-anak pada usia ini akan lebih pandai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ingatan ketimbang pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pemikiran. Oleh karena itu, anggapan orang tentang jenjang ingatan sebagai jenjang yang paling mudah, melainkan jenjang yang menuntut kerja kognisi berada pada tingkatan yang paling sederhana, yakni proses mengingat, bukan proses berpikir. Dengan demikian, jenjang ingatan merupakan jenjang yang paling sederhana.

Contoh Wacana

“Istilah buku teks yang dipergunakan dalam buku ini adalah terjemahan atau padanan textbook dalam bahasa Inggris. Walaupun dalam kamus textbook diterjemahkan dengan buku pelajaran (Echols dan Sadily; 1983:584). Tetapi demi kepraktisan dan untuk menghindarkan salah paham maka istilah ‘buku teks tetap dipergunakan dalam dalam buku ini.

Sejak dulu banyak ahli yang menaruh perhatian pada buku teks, dan juga mengemukakan pengertiannya. Berikut ini kita terakan beberapa diantaranya.

Ada yang mengatakan bahwa “buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan intruksional” (Hall-Quest, 1915).

Ahli yang lain menjelaskan bahwa “buku teks adalah buku standar/buku setiap cabang khusus studi” dan dapat terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan (Lange, 1940).

Lebih terperinci lagi, ada ahli yang mengemukakan bahwa “buku teks adalah buku yang dirancang buat pengguanaan di kelas, dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi” (Bacon, 1935)

Dan ahli yang lain lagi mengutarakan bahwa “buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolah-sekolah dan diperguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami (Buckingham, 1958 : 1523)”.

Dari Telaah Buku Teks, Tarigan & Tarigan, 1986.

Contoh pertanyaan jenjang ingatan

Esei.

1) Coba kemukakan beberapa pengertian buku teks yang
   dikemukakan oleh para ahli!
2) Menurut Buckingham, yang dimaksud dengan buku teks
   adalah……

Pilihan Ganda :

Buku teks adalah pikiran rasial yang disusun untuk maksud-maksud dan tujuan-tujuan intruksional.

Pendapat di atas dikemukakan oleh :

a. Hall-Quest                     c. Bacon
b. Lange                          d. Buckingham

Contoh pertanyaan lain dari buku teks yang berbeda:

3) Siapa yang mengemukakan teori evolusi yang
   berpendapat bahwa teori nenek moyang manusia itu
   adalah kera?
4) Berapakah berat jenis besi?

Jenjang Pertanyaan Terjemahan

Jenjang pertanyaan terjemahan menghendaki jawaban  berupa pernyataan ide dalam bentuk komunikasi yang berbeda, misalnya dari kata ke lambang, dari lambang ke kata, atau dari kata ke kata lain. Pada jenjang ini jawaban yang dituntut dari pertanyaan itu sudah eksplisit dalam teks , namun pembaca diminta untuk mengkomunikasikannya dalam bentuk komunikasi yang berbeda dari informasi yang tertera dalam teks bacaannya.

Yang dimaksud dengan pengkomunikasian ide dalm bentuk komunikasi yang berbeda mengimplisitkan ide atau informasi yang sama yang disampaikan dalam wujud yang berbeda. Pada dasarnya, jenjang pertanyaan terjemahan ini tidak terlalu banyak menuntut proses berpikir si penjawab telah dibatasi oleh suatu ide atau informasi yang sesungguhnya telah ada Dia hanya butuh cara untuk menyatakan informasi tersebut agar tidak sama dengan apa yang tertera dalam bacaan.

Contoh Wacana

“Irak mulai sesak nafas karena blokade, sementara Amerika semakin suliy melancarkan perang. Itulah gambaran terakhir krisis Teluk Mulai Selasa pekan ini Irak mencatu bensin. Itulah yang dapat dijalankan Menteri Perminyakan Issam Abdul Rahim Antara lain-Chalibi, Jumat pekan lalu. Issam pun mengatakan , produksi minyak Irak merosot hanya sampai 350-400 ribu barel perharinya dari dua juta barel. Alasan satu-satunya dari tindakan ini adalah untuk menjamin agar persediaan aditif dan bahan-bahan kimia lainnya untuk mengolah minyak selalu tersedia untuk jangka waktu cukup panjang. Suatu isyarat bahwa Irak sudah siap sedia untuk kemacetan jangka panjang”.

 

Dikutip dari: Tempo, Oktober 1990.

Contoh Pertanyaan Terjemahan

A. Esei :

- Pada wacana diatas terdapat kalimat, “Mulai
  Selasa pekan ini Irak mencatu bensin”.

- Coba jelaskan apa yang dimaksud dengan mencatu
  pada pernyataan di atas

Pilihan Ganda :

    - Makna kata mencatu pada kalimat “Mulai Selasa
   pekan ini Irak mencatu bensin”, adalah…..

(a) membatasi pemakaian bensin
(b) memboroskan pemakaian bensin
(c) melarang pemakaian bensin
(d) mengawasi pemakaian bensin.

Kedua contoh pertanyaan diatas merupakan contoh pertanyaan terjemahan dari kata ke kata. Maksudnya, pengkomunikasian dari bentuk kata kedalam kata-kata lain yang mengandung konsep makna yang sama. Informasi atau ide yang terkandung dalam pernyataan semula maupun hasil terjemahannya adalah sama. Perbedaannya terletak pada segi penyampaiannya.

Contoh jenjang pertanyaan yang menghendaki pembaca melakukan penerjemahannya dari kata ke lambang misalnya, ketika pembaca diminta mengkomunikasikan ide yang dalam bacaan semula tersaji dalam bentuk uraian verbal kedalam bentuk lambang, seperti grafik, bagan atau skema tertentu. Penjelasan tentang perkembangan jumlah penduduk disetiap propinsi yang berada diseluruh wilayah indonesia dalam bentuk uraian verbal misaalnya, bisa diubah penyajiaanya kedalam grafik batang atau grafik poligon. Demikian juga sebaliknya untuk penerjemahan dari lambang ke kata. Sebagai contoh, pada bacaan disediakan sebuah gambar atau bagan yang berisi informasi tentang siklus kehidupan kupu-kupu. Berdasarkan gambar tersebut, si pembaca diminta untuk menjelaskan ulang gambar tersebut kedalam bentuk uraian verbal. Pertanyaan yang demikian merupakan contoh pertanyaan terjemahan yang menuntut pembaca untuk mengkomunikasikan sesuatu lambang kedalam bentuk verbal (komunikasi dari lambang ke kata).

Di bawah ini akan kita sajikan contoh pertanyaan terjemahan dari bentuk lambang ke kata-kata dan dari kata-kata kedalam bentuk lambang. Untuk kedua contoh pertanyaan terakhir ini, tidak menggunakan teks diatas. Mudah-mudahan dengan kedua contoh pertanyaan ini, anda dapat membayangkan atau memprediksi bahan bacaannya. Inilah contoh pertanyaannya.

1.  Apa yang dimaksud Einstein dengan rumus E = mc2 ?
2.  Setelah anda membaca uraian tentang siklus kehidupan
    kupu-kupu,   coba sekarang buatlah bagan/gambar
    yang mencerminkan siklus kehidupan kupu-kupu
    tersebut.

Jenjang Pertanyaan Interpretasi

Pertanyaan interpretasi adalah jenjang pertanyaan yang menuntut pembaca untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu dengan jalan mencari hubungan antar fakta, antardefinisi atau antar generalisasi nilai, sebab-akibat, perbedaan atau persamaan antarhal dan sebagainya. Jenjang pertanyaan ini boleh dikatakan sudah tergolong kompleks. Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, dituntut aktivitas kognitif pembaca pada tingkat yang tidak bisa dikatakan sederhana, jika dibandingkan dengan kedua jenjang pertanyaan sebelumnya.

Kegiatan mencari hubungan antarfakta atau antarhal menuntut kerja kognisi dengan melibatkan seluruh pengetahuan siap yang telah dimiliki pembaca sebelumnya dan ketajaman nalarnya. Pada saat memberikan jawaban pertanyaan bacaan pada jenjang ini, pembaca tidak hanya sekedar mengandalkan informasi yang diperoleh dari bacaan melainkan juga melibatkan skemanya. Oleh karena itu, pertanyaan membaca yang seperti ini sering digolongkan kedalam jenis pertanyaan pikiran. Yang tergolong kedalam pertanyaan pikiran, sesungguhnya diawali sejak jenjang pertanyaan ini dan seterusnya hingga jenjang evaluasi.

Contoh Wacana

Akhir-akhir ini, seiring dengan kemajuan teknologi, masalah lalu lalangnya kebudayaan antarnegara bukan hal yang tabu. Kehadiran kebudayaan asing itu tentu akan berdampak tertentu manakala budaya pribumi itu tidak sesuai dengan budaya tamunya. Dampak dari kehadiran budaya asing tersebut bisa positif bisa pula negatif. Kita tidak usah khawatir akan kehadiran kebudayaan asing yang begitu sering menjanjikan kesenangan namun bertentangan dengan adat ketimuran itu, akan merusak kehidupan para generasi muda jika mereka telah memiliki benteng mental dan kepribadian yang tangguh.

Contoh Pertanyaan Interpretasi

Esei :

·  Mengapa dengan pemilikan mental dan kepribadian yang tangguh, kebudayaan yang dapat merusak kehidupan generasi muda merupakan sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan?

Pilihan Ganda

·  Pernyataan yang sesuai dengan maksud wacana di atas adalah…….

(a)Kebudayaan asing yang menjanjikan  kesenangan akan merusak mental dan kepribadian generasi muda.

(b)Generasi muda yang bermental dan berkepribadian tangguh dapat merusak kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan adat ketimuran.

(c)Generasi muda yang bermental dan berkepribadian tangguh tidak akan terpengaruh begitu saja oleh kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan adat ketimuran.

(d)Kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan adat ketimuran kadang-kadang mempengaruhi generasi muda yang bermental tangguh.

Contoh-contoh pertanyaan lain dari teks yang berbeda :

1. Apa persamaan dan perbedaan efek alkohol dan mariyuana terhadap kesehatan kita?

2. Coba bandingkan antara pengertian demokrasi yang digunakan di Amerika dan di Indonesia, kemukakan perbedaannya!

Jenjang Pertanyaan Aplikasi

Jenjang pertanyaan aplikasi menghendaki siswa untuk dapat menerapkan atau mentransfer konsep-konsep yang telah dipahaminya kedalam situasi atau hal lain yang berkaitan dengan konsep tadi. Bentuk-bentuk penerapan atau transfer itu mungkin penerapan dari konteks akademis kedalam konteks kehidupan sehari-hari atau mungkin dari konsep-konsep teoritis kedalam bentuk praktisnya. Oleh karena itu, kemampuan siswa untuk memberi contoh, mendemontrasikan, mengidentifikasi, atau kegiatan lain yang sejenis dapat dipandang sebagai ciri dari kemampuan mengaplikasikan.

Jawaban anak dari pertanyaan jenis ini akan berbeda-beda bergantung pada tingkat kemampuan mereka didalam mengaplikasikan suatu konsep tertentu. Di samping itu, latar belakang kemampuan siswa dalam memahami suatu konsep tertentu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas jawaban yang diberikan atas jenjang pertanyaan ini.

Contoh Wacana

Sulit menerima batasan tatabahasa tradisional tentang kata sifat, yaitu kata sifat adalah kata yang menerangkan kata benda. Bila kita secara konsekuen menerima batasan tadi, maka kita akan menemui banyak kesulitan. Apakah kata batu dalam frase rumah batu itu kata sifat? Kalau semua kata yang menerangkan kata benda adalah kata sifat, apakah ayah dalam rumah ayah juga kata sifat? Baik ayah maupun batu jelas merupakan kata benda. Kita tidak menyangkal bahwa kata sifat juga mempunyai fungsi untuk menerangkan kata benda, tetapi ciri ini tidak boleh dipergunakan untuk menentukan kata sifat karena kata-kata lainpun dapat berfungsi sebagai keterangan terhadap kata benda. Apa yang disebut ciri dan batasan sesuatu haruslah merupakan satu-satunya bagi hal tersebut, tidak boleh memberi kemungkinan lain. Ciri struktur kata sifat dapat dilihat dari :

(a) bentuk : se + reduplikasi kata dasar + nya

(b) kelompok kata: dapat diterangkan oleh kata-kata:
    paling, lebih, sekali

(c) transposisi: dengan bantuan morfem-morfem terikat
    jenis katanya bisa berubah
(GorysKeraf, 1980:87-
    88).

Contoh Pertanyaan Aplikasi

Esei :

1. Berilah tiga buah contoh kalimat yang masing-masing kalimat itu mengandung kata sifat!

2. Coba tunjukkan kata-kata sifat yang terdapat pada teks!

Pilihan Ganda

Kalimat-kalimat berikut mengandung unsur kata sifat, kecuali….

(a) Gadis cantik di seberang jalan itu sepupu kawanku

(b) Pandai sekali engkau memikat hatinya.

(c) Sekarang ini cuaca tidak baik, hujan besar selalu 
 turun setiap hari.

(d) Pemuda yang bersamamu tempo hari itu seseorang
 petinju.

Contoh-contoh pertanyaan aplikasi dari teks yang berbeda:

1. Apa dampak ledakan penduduk terhadap kehidupan
anak-anak anda

2. Coba demonstrasikan di muka kelas, bagaimana cara anda melakukan kegiatan membaca untuk memperoleh pemahaman!

Jenjang Pertanyaan Analisis

Jenjang pertanyaan analisis menuntut siswa untuk mengidentifikasi langkah-langkah logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada suatu kesimpulan; mengenali, mengidentifikasi, membedakan pesan/informasi tertentu dalam wacana. Aktifitas kognitif yang dituntut pada tingkat ini lebih dari sekedar memahami isi wacana secara umum, melainkan secara kritis dapat mengidentifikasi bagian-bagian rincian yang lebih khusus. Kemampuan-kemampuan khusus itu, misalnya dapat menentukan pikiran utama dan pikiran penjelas, menentukan jenis tulisan, jenis alinea, fakta dan pendapat dan sebagainya.

Jawaban untuk pertanyaan jenjang ini sebenarnya sudah tertera dalam bacaan, namun tidak dinyatakan secara jelas. Untuk memperoleh jawaban tersebut, si pembaca harus berpikir kritis-analitis untuk mencari setiap kemungkinan informasi sampai ditemukan sebuah kesimpulan sebagai hasil dari kerja analisis kognisi. Proses penemuan jawaban itu sendiri dilalui melalui proses berpikir cermat. Informasi-informasi yang terdapat dalam bacaan hanyalah merupakan informasi mentah yang masih harus diolah oleh nalar pembacanya.

Contoh Wacana

Usaha meningkatkan taraf pendidikan petani, kini sudah dirasakan sama pentingnya dengan usaha meningkatkan taraf hidup mereka. Hal ini diketahui dari Seminar Pekerjaan Tani di Cibulan beberapa waktu lalu. Para ahli pertanian maupun para cerdik pandai dibidang ketenagakerjaan dan kerja sosial lainnya sependapat bahwa pendidikan merupakan prioritas pertama yang perlu mendapat perhatian.

Ada beberapa sebab, mengapa program meningkatkan pengetahuan kaum tani ini menjadi penting. Antara lain karena, hanya petani-petani yang berpendidikan cukup yang dapat mengubah sistem pertanian tradisional, bercocok tanam hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, menjadi petani modern yang produktif. Sebab lain, karena hanya petani yang berpendidikan cukup saja yang mampu menunjang pembangunan secara positif, dalam arti, dapat memberikan umpan balik yang setimpal terhadap gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh perencana pembangunan. Baik ditingkat pusat maupun ditingkat kecamatan dan desa.

Dari : Pandu Bahasa, 1979

Contoh Pertanyaan Analisis

Esei :

1. Pikiran utama yang terkandung pada paragraf
kesatu dan paragraf keduadari wacana diatas adalah……

2. Apakah kedua paragraf pada wacana diatas memiliki
kalimat utama? Coba jelaskan!

Pilihan Ganda

Pikiran utama yang terkandung pada paragraf kedua di atas adalah…..

(a) pentingnya pendidikan bagi para petani

(b) alasan pentingnya pendidikan bagi kaum tani

(c) petani yang berpendidikan cukup yang dapat
mengubah sistem pertanian

(d) petani yang berpendidikan mampu menunjang
pembangunan.

Contoh pertanyaan lain dari teks yang berbeda :

1. Bagaimana cara Jefferson sampai pada kesimpulan
bahwa manusia itu diciptakan sama?

2. Tunjukkan kalimat yang berisi fakta dan kalimat
yang berisi pendapat!

Jenjang Pertanyaan Sintesis

Pertanyaan sintesis menuntut siswa untuk mampu menghubungkan dan atau menggeneralisasikan hal-hal, konsep-konsep, masalah-masalah atau pendapat-pendapat yang terdapat didalam wacana. Menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam bacaan, juga merupakan kerja sintesis.

Pertanyaan yang bersifat sintesis memberi kesempatan kepada pembaca untuk berpikir secara bebas-terkontrol. Aktivitas kognitif pada tingkat ini menuntut pembacanya untuk menghasilkan sesuatu, baik berupa komunikasi yang baru, seperangkat saran dalam menyelesaikan masalah, atau meramalkan seperangkat jalinan pikiran yang abstrak, dan lain-lain yang kesemuanya ini mencerminkan cara dan proses berpikir pembaca.

Jenjang pertanyaan sintesis memungkinkan setiap orang untuk memberikan jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan kognitif tingkat sintesis masing-masing pembaca/siswa. Untuk menjamin keobjektifan cara dan proses berpikir siswa/pembaca, jenjang pertanyaan sintesis tampaknya lebih tepat disajikan dalam bentu esei daripada bentuk objektif. Meskipun jenjang pertanyaan dalam bentuk objektif kurang dapat mengukur proses berpikir dan daya nalar siswa, namun pertanyaan ini dapat pula dibuat. Berikut ini akan kita lihat contohnya

Contoh wacana: lihat wacana I untuk jenjang pertanyaan-pertanyaan analisis.

Contoh Pertanyaan:

Esei:

1. Bagaimana anda sendiri hendak mendifinisikan apa
yang disebut sebagai buku teks tersebut?

2. Apa yang mungkin terjadi seandainya para petani
tidak diberi pendidikan kepertanian yang memadai?

3. Bagaimana kita dapat memanfaatkan petani yang
berpendidikan tinggi untuk meningkatkan pertanian di desanya?

Pilihan ganda:

PPetunjuk:   Tuliskan angka 1,2,3 dan 4 di depan
pernyataan-pernyataan berikut yang menunjukkan tingkat efektivitas atau pentingnya pernyataan tersebut.

1. Upaya memanfaatkan petani yang sempat mengenyam
   pendidikan relatif    tinggi untuk kemajuan pertanian di
   desanya adalah.……

….(a) membentuk kelompok-kelompok capir.

….(b) membuka konsultasi secara gratis atau cuma-cuma.

….(c ) memberi ceramah atau penyuluhan-penyuluhan dalam
       berbagai kesempatan.

….(d) membuka kursus-kursus pertanian pada pemuda putus
      sekolah.

 2. Susunlah kalimat-kalimat di bawah ini hingga
    membentuk ebuah paragraf yang baik!

    (1)  Di lingkungan masyarakat, kepribadian ini adalah
     pangkal segala perilaku tidak terpuji

    (2)  Hati-hati bila anak sering berbohong

    (3)  Padanya sedang tumbuh kepribadian anti sosial,
     sebuah kondisi mental yang buruk dan sulit
     disembuhkan.

    (4) Kalau dibarengi kebiasaan membolos dan menurunnya
    prestasi di    sekolah, anak anda mungkin sedang
    terancam ganguan

Susunan yang baik adalah

(a) 1-2-3-4

(b) 2-4-3-1

(c) 1-3-2-4

Jenjang Pertanyaan Evaluatif

Jenjang pertanyaan evaluatif menuntut siswa/pembaca memberikan penilaian tentang sesuatu nilai atau validasi yang diukur, yang berkaitan dengan suatu informasi tertentu dari wacana yang dibacanya dengan menggunakan standar tertentu. Penilaian yang berkaitan dengan wacana, isi dan permasalahan yang dikemukakan dalam wacana seperti gagasan, konsep, cara pemecahan masalah dan lain-lain atau berkaitan dengan gaya penyajian seperti penggunaan bahasa, pilihan kata, pemilihan bentuk kebahasaan, gaya penuturan dan sebagainya.

Untuk menjawab pertanyaan evaluatif ini, disamping memerlukan ilmu pengetahuan yang mendalam masalah yang bersangkutan, juga memerlukan pengetahuan dan wawasan lain yang lebih luas. Pada tingkat ini, kerja kognitif yang dituntut dari pembaca lebih tinggi. Bentuk tes yang lebih cocok untuk mengukur proses berpikir dan nalar siswa pada tingkat evaluatif adalah tes esei, sebab bentuk tes ini memungkinkan siswa untuk berpikir dan bernalar secara aktif-kreatif.

Contoh Wacana: lihat contoh wacana untuk jenjang pertanyaan analisis di atas.

Contoh soal

1. Jika pendidikan kaum tani cukup memadai, benarkah
hal tersebut akan menunjang pembangunan?

2. Apakah hasil Seminar Pekerja Tani di Cibulan itu
merupakan pikiran-pikiran rasional yang memungkinkan pelaksanaannya di Indonesia? Kemukakan alasan anda!

Contoh soal lain dari teks yang berbeda

3. Di antara cerpen-cerpen yang sudah anda baca itu,
karya manakah yang dipandang layak untuk siswa SMP? SMA? Apa alasannya?

4. Kapankah sebaiknya anak diperkenalkan dengan
masalah-masalah keagamaan? Mengapa demikian?

Untuk soal-soal yang berbentuk objektif, contohnya sebagai berikut:

Wacana di atas tidak layak diberikan pada peringkat siswa sekolah dasar karena…….

(a) tema bacaannya kurang sesuai

(b) tingkat keterbacaan bahannya terlalu tinggi

(c) isi bacaan kurang bermanfaat

(d) gaya penyajiannya kurang menarik.

Demikianlah, contoh-contoh pertanyaan dari setiap jenjang pertanyaan bacaan yang dapat kita gunakan untuk mengukur kemampuan kognisi seseorang dalam kegiatan membaca. Sekor yang diperoleh dari tes ini akan dimanfaatkan untuk menentukan KEM seseorang.

Pertanyaan-pertanyaan yang kita buat untuk menolakukuri kemampuan kognisi seseorang dalam membaca tidak hanya sekedar harus memperhatikan proporsi imbangan dari setiap jenjang pertanyaan dimaksud. Kita tidak dapat mengatakan kemampuan kognisi seseorang tergolong bagus (karena hasil tes pemahaman bacaan anak tersebut menunjukkan hasil yang bagus) manakala kita ketahui bahwa pertanyaan-pertanyaan bacaan yang dibuat untuk menilai kemampuan membaca mereka hanya terdiri atas jenjang tertentu dari tujuh jenjang yang seharusnya.

Tidak ada ketentuan yang pasti mengenai proporsi imbangan jenjang pertanyaan untuk mengukur kemampuan kognisi pembaca ini. Namun, yang jelas pembuatan pertanyaan bacaan yang hanya bertumpu pada satu jenjang pertanyaan tertentu tidak mencerminkan alat penilaian yang valid untuk menilai kemampuan kognisi seseorang dalam memahami bacaan tersebut. Sebagai pegangan kasar, kita dapat menyesuaikan imbangan proporsi jenjang pertanyaan dimaksud berdasarkan karakteristik perkembangan mental si pembacanya. Pada kelas-kelas di sekolah dasar , memperbanyak soal ingatan merupakan langkah yang tepat. Sebaliknya, jika hal itu dilakukan untuk pembaca tingkat lanjut, hal itu sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan dan perkembangan mental pembacanya.

 

Hosted by www.Geocities.ws

1