|
Taksonomi Bloom dan Ketrampilan Membaca |
![]()
|
||
|
Benyamin S. Bloom (1956) menyarankan tiga ranah penting yang perlu diperhatikan dalam penilaian pendidikan dan pengajaran tersebut lebih dikenal dengan sebutan Taksonomi Bloom, yang meliputi ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Dalam kaitannya dengan pengajaran membaca, ketiga ranah Taksonomi Bloom tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. a. Ranah kognitif dalam membaca dapat diartikan sebagai aktivitas kognitif dalam memahami bacaan secara tepat dan kritis. Aktivitas seperti ini sering disebut sebagai kemampuan membaca, atau lebih khusus disebut sebagai kemampuan kognisi. b. Ranah afektif berhubungan dengan sikap dan minat/motivasi siswa untuk membaca ; misalnya sikap positif terhadap kegiatan membaca atau sebaliknya, gemar membaca, malas membaca dan lain-lain. c. Ranah psikomotor berkaitan dengan aktivitas fisik siswa pada saat melakukan kegiatan baca. Aktivitas fisik pada saat membaca teknis atau membaca nyaring, tentu berbeda dengan saat melakukan kegiatan membaca pemahaman. Pada bab ini, pembahasan kita akan lebih kita arahkan pada konsep-konsep Taksonomi Bloom ranah pertama, yaitu ranah kognitif. Mengapa demikian? hal ini dilandasi oleh pertimbangan bahwa untuk mengetahui kemampuan kognisi siswa dalam membaca (sebagai bagian dari pengukuran KEM) maka guru perlu dibekali pengetahuan tentang hal yang berkenaan dengan alat evaluasi kemampuan membaca (kemampuan kognisi dalam membaca) berikut cara-cara pengevaluasiannya. Pelaksanaan penilaian kemampuan membaca yang berkaitan dengan ranah kognitif bisa dilakukan melalui tes. Tes macam apakah yang disarankan Bloom untuk menguji kemampuan membaca seseorang, akan diuraikan kemudian secara tersendiri. Untuk sekedar tambahan informasi bagi anda, ada baiknya jika kita bicarakan selintas mengenai kedua ranah yang lain dari Taksonomi Bloom, yakni ranah afektif dan ranah psikomotor dalam kaitannya dengan pengajaran membaca. Berbeda dengan ranah kognitif , penilaian untuk kedua aspek yang terakhir ini tidak mempergunakan teknis tes, melainkan teknis nontes. Teknis nontes tersebut dapat berupa wawancara, angket, observasi, pertanyaan dan pernyataan dengan skala bertingkat dan lain-lain. Oleh karena tidak menggunakan teknis tes, penilaian dengan menggunakan teknis nontes sebaiknya dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung secara berkesinambungan. |
|||