|
|
|
| daudp65 home page! |
| Welcome and joint us! |
|
|
BAGIAN EMPAT |
|
|
|
Penggunaan Tanda Baca |
||
|
A. Tanda Titik (. ) 1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo. 2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Misalnya: A. S. Kramawijaya Muh. Yamin 3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan
Misalnya:
Bc. Hk. (Bakalaureat
Hukum) 4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Misalnya:
a.n. (atas nama) 5. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. (Lihat juga pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J. 3.) Misalnya: III. Departemen Dalam Negeri A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa. B. Direktorat Jenderal Agraria. Penyiapan Naskah: 1. Patokan Umum 1.1 Isi Karangan 1.2 Ilustrasi 1.2.1 Gambar Tangan 1.2.2 Tabel 1.2.3 Grafik 6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya: pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik) 7. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Misalnya: 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik) 8. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya: la lahir pada tahun 1950 di Bandung. Lihat halaman 2345 dan seterusnya. Nomor gironya 045678. (Tanda titik di sini mengakhiri kalimat). 9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf, huruf awal kata, atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga�lembaga nasional atau internasional, atau yang terdapat di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.
Misalnya: ABRI
(Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) UUD (Undang-undang Dasar) WHO (World Health Organization) Deppen (Departemen Penerangan) Sekjen (Sekretaris Jenderal) ormas (organisasi massa) radar (radio detecting and ranging) tilang (bukti pelanggaran) 10. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
Misalnya:
Cu (Kuprum) 11. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
Acara kunjungan Adam Malik 12. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim, tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jalan Diponegoro 82
Jakarta
B. Tanda Koma ( , ) 1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi dan melainkan.
Misalnya:
Saya
ingin datang, tetapi hari hujan. 3 a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
Misalnya: Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
Misalnya: Saya tidak akan datang kalau hari hujan. 4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya, oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, dan akan tetapi.
Misalnya: Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. Jadi, soalnya tidaklah semudah itu. 5. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
0, begitu! 6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dan bagian lain dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik).
Misalnya:
Kata ibu, "Saya gembira sekali." 7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor 8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya: Siregar, Merari. Azab dan Sengsara, Weltevreden. Balai Poestaka, 1920. 9. Tanda koma dipakai di antara tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahun penerbitan. Misalnya: Tjokronegoro, Sutoma Tjukupkah Saudara Memahami Bahasa Persatuan Kita? Djakarta, Eresco, 1968. 10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakannya dari singkatan nama keluarga atau marga.
Misalnya: B. Ratulangi, S. E. Ny. Khadijah, M.A. 11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan dan di antara rupiah dan sen dalam bilangan.
Misalnya: 12,54
m 12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi. (Lihat juga pemaka;an tanda pisah)
Misalnya: Guru
saya, Pak Ahmad, pandai sekali. 13. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat apabila petikan langsung mendahului bagian lain dalam kalimat itu.
Misalnya: "Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim. "Berdiri lurus-lurus!" perintahnva. C. Tanda Titik Koma (; ) 1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian�bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya: Malam makin larut; kami belum selesai juga. 2. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung. Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar. D. Tanda Titik Dua ( : ) 1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnva:
Yang kita perlukan sekarang ialah barang yang
berikut: kursi, meja, dan lemari. 2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya: a. Ketua : Ahmad Wijaya
b. Tempat sidang : Ruang 104 3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya: Ibu:
"Bawa kopor ini, Mir!" 4. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya: Kita
memerlukan kursi, meja, dan lemari. 5. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman; (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.
Misalnya:
(i)
Tempo,
I(1971),34:7 E. Tanda Hubung ( - ) 1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Misalnya: ... ada cara ba�- ru juga. Suku kata yang terdiri atas satu huruf tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris. 2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada Misalnya: .. . cara baru meng�- ukur panas. ... cara baru me-- �ngukur kelapa. ... alat pertahan�- an yang baru. Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris. 3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang. Misalnya: anak-anak berulang-ulang dibolak-balikkan kemerah-merahan Tanda ulang (2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan. 4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya: p-a-n-i-t-i-a 8-4-1973 5. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
Bandingkan:
ber-evolusi
dangan
be-revolusi 6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, dan (d) singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.
Misalnya: se-Indonesia 7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya: di-charter F. Tanda Pisah ( - )
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang
memberi penjelasan
Misalnya: Kemerdekaan bangsa itu -saya yakin akan tercapai- diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri. 2. Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. Misalnya: Rangkaian penemuan ini-evolusi, teori kenisbisan, dan kini juga pembedahan atom- tidak men�gubah konsepsi kita tentang alam semesta. 3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti 'sampai dengan' atau di antara dua nama kota yang berarti 'ke', atau 'sampai'.
Misalnya:
1910-1945
G.
Tanda
Elipsis
( ... ) 1. Tanda elipsis menggambarkan kalimat yang terputus-putus.
Misalnya: Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak. 2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan. Misalnya: Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut. Catatan: Kalau bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat perlu dipakai empat titik; tiga untuk penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat. Misalnya: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....
H. Tanda Tanya ( ? )
1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya 2. Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya: la dilahirkan pada tahun 1683 (?). Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang. I. Tanda Seru (!) Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
Misalnya:
Alangkah seramnya peristiwa itu! J. Tanda Kurung ( ) 1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Misalnya: DIP (Daftar Isian Proyek) kantor itu sudah selesai. 1. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Misalnya: Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962 Keterangan itu (lihat tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri. 3. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
Misalnya:
Faktor-faktor produksi menyangkut masalah berikut: Faktor-faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal. K. Tanda Kurung Siku ([... ]) 1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu jadi isyarat bahwa kesalahan itu memang terdapat di dalam naskah asal. Misalnya: Sang Sapurba men[d] engar bunyi gemerisik. 2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Misalnya: (Perbedaan antara dua macam proses ini [lihat BabI] tidak dibicarakan.) L. Tanda Petik ("... ") 1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
Misalnya:
"Sudah siap?" tanya Awal. 2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat. Misalnya: Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. 3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
Pekerjaannya itu dilaksanakannya dengan cara "coba dan ralat" saja. 4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. Misalnya: Kata Tono, "Saya juga minta satu." 5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
Misalnya:
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "si Hitam". M. Tanda Petik Tunggal ( ' ... ' ) 1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya Basri, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?" 2. Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing (Lihat pemakaian tanada kurung) Misalnya: rate of inflation �laju inflasi� N. Tanda Ulang ( ...2 ) (angka 2 biasa) Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.
Misalnya:
kata2 O. Tanda Garis Miring ( / ) 1. Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat. Misalnya: No. 7/PK/1973 2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.
Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi P. Tanda Penyingkat (Apostrof) ( ' ) Tanda apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata.
Misalnya:
Ali 'kan kusurati ('kan = akan)
|
||
|
|
|
|
My URL: http://www.geocities.com/daudp65/
|
Email: |
|
Copyright � 2003. All rights reserved. |