TANGAN-TANGAN YAHUDI DI AMBON DAN MALUKU
Ribuan Umat Islam Indonesia Menjadi Korban Kebiadabannya.
Oleh : Achmad Setiyaji (reporter HU "Pikiran Rakyat" Bandung)
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Qs. Al Baqarah: 120) "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami),
jika kamu memahaminya." (Qs. Ali Imran: 118).
KAWASAN Ambon dan Maluku itu tidak jauh dari Pulau Bali. Kalau dalam peta, daerah Ambon (Pulau Ambon) dan Maluku (Pulau-pulau di Maluku Utara) terletak di sebelah utara dari Bali. Secara keseluruhan, penduduk yang beragama Islam di Ambon-Maluku mencapai angkat 58 persen, sedangkan Kristen sebanyak 41 persen, sisanya adalah pemeluk agama lain. Ambon-Maluku juga sempat disebut sebagai Provinsi Seribu Pulau atau Seribu Suku, karena banyaknya pulau dan suku-suku antara lain suku Ambon, serta suku Bugis, Buton dan Makassar (BBM). Suku BBM ini memiliki kekhasan berupa etos kerjanya yang tinggi, sehingga eksistensinya cukup mapan terutama dari segi sosial-ekonomi dan pendidikan. Kata Maluku sebenarnya berasal dari Yaziratul Djabal Malik artinya daerah pulau-pulau bergunung. Yang dimaksudkan adalah pulau-pulau Ternate, Tidore, Jailolo, Bacan (Makian) yang kemudian diistilahkan Moloku Kieraha, artinya pulau bergunung empat. Ini berarti juga empat kerajaan yang masing-masing diperintah oleh seorang Sultan yakni Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan. Ke empat kerajaan ini
mula-mula menghasilkan rempah-rempah. Dalam perkembangan selanjutnya, sebutan Maluku memiliki makna yang meluas yang meliputi Halmahera, Pulau Makian, Obi, Morotai, dan Sula. Sebelum dilakukan pemekaran wilayah, Ambon dan Maluku bergabung dalam satu provinsi yakni Provinsi Maluku. Kini dimekarkan menjadi Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara. Sebagian penduduk Ambon-Maluku bermukim di pulau-pulau besar seperti Pulau Seram, Halmahera, Banda, Kei Besar dan Kei Kecil, Ambon, Buru, Ternate, Tidore, sedangkan sisanya mendiami pulau-pulau kecil lainnya seperti Pulau Bacan, dllnya. Provinsi Maluku Utara dibentuk dengan UU Nomer 46 tahun 1999 dan diresmikan pada 12 Oktober 1999, merupakan pemekaran dari Provinsi Maluku yang keadaan wilayahnya meliputi 2 kabupaten dan 1 kota (Maluku Utara,
Halmahera Tengah dan Ternate) 27 Kecamatan dan 716 desa atau kelurahan. Jumlah penduduk pada 1999 sebesar 833.618 jiwa. Laju pertumbuhan pendudukan rata-rata 2,9 persen per tahun, mata pencaharian pendudukan sebagian besar petani dan nelayan. Kalau di kawasan Ambon perbandingan antara penduduk Muslim dan Kristen tidak terlalu besar, maka di Maluku Utara tampak mencolok perbedaannya. Di Maluku Utara, tercatat penduduk beragama Islam
mencapai 71,44 persen, Kristen Protestan (27,17 persen), Kristen Katolik
(1,31 persen), Hindu (0.01 persen) dan Budha (0.04 persen). Islam
sesungguhnya bukan agama baru di Maluku. Sebagai daerah penghasil
rempah-rempah, sejak abad ke 11, Maluku sudah ramai dikunjungi
saudagar-saudagar Arab, Persia, dan Gujarat. Selain berdagang, mereka juga
menyebarkan agama Islam. Kedatangannya Islam ke Maluku tidak dapat
dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas
pelayaran internasional Malaka sampai Pantai Utara Jawa dan Maluku.
Sedangkan Portugis masuk ke Maluku pada 1521. Mereka selain mendirikan
basis perdagangan, juga menyebarkan agama Katolik. Pada 21 Februari 1605,
Belanda yang menganut Kristen Protestan masuk dan merebut benteng Portugis
serta mengusirnya. Lalu, orang Inggris datang dan bertempur dengan Belanda.
Pada 1623, Belanda menyerbu basis Inggris dan membinasakan orang-orang di
daerah setempat. Peristiwa yang banyak menelan korban jiwa ini dikenal pula
sebagai Amboyna Massacre. Perebutan kekuasaan atas Ambon oleh Belanda dan
Inggris itu tidak berakhir begitu saja. Pada 1796, Inggris balik menguasai
Ambon.
Setelah dua kali saling memerangi, akhirnya Belanda menguasai Ambon pada
1814. Dalam buku Ensiklopedia Indonesia disebutkannya, selama menjajah
ternyata Belanda juga menyebarkan agama Kristen. Penduduk Ambon yang mau
memeluk Kristen mendapat perlakuan istimewa dibandingkan dengan penganut
agama lainnya. Mereka diberi kesempatan lebih luas dalam mengenyam
pendidikan dan memperoleh pekerjaan sebagai pegawai dan serdadu Belanda.
Adanya faktor kaitan historis semacam inilah, yang tampaknya
melatarbelakangi seringnya para wisatawan dari luar negeri seperti Belanda,
Inggris, Portugis dan lainnya mengunjungi Ambon dan sekitarnya. Selain
mengunjungi sejumlah obyek pariwisata, diduga kuat para wisatawan tersebut
membawa misi penyebaran agama Kristen. Adapun kasus kerusuhan di Pulau
Ambon dan sekitarnya (selanjutnya disebut kasus Ambon) terjadi pada 19
Januari 1999 bertepatan dengan Idul Fitri 1419 H. Saat itu, umat Islam yang
sedang bersilaturahmi Idul Fitri mendapat serangan tiba-tiba dari kaum
Nasrani. Ratusan umat Islam pun menjadi korban kebiadaban kaum Nasrani yang
diduga kuat menjadi pendukung pemberontak Republik Maluku Sarani atau
Republik Maluku Selatan (RMS). Namun jauh sebelum peristiwa "Idul Fitri
Berdarah" tersebut, sempat pula terjadi peristiwa pengusiran dan
pembantaian terhadap suku Bugis, Buton dan Makasar. Kasus Ambon
ini-menurut versi pemerintah-dipicu oleh adanya perkelahian antara sopir
angkutan umum dari suku Bugis yang beragama Islam dengan sopir suku Ambon
yang Kristen. Proses hukum dalam kasus perkelahian ini sempat dilakukan
oleh aparat penegak hukum di Ambon. Putusan majelis hakim dalam
persidangan itu menimbulkan sikap pro dan kontra, baik di kalangan penduduk
Kristen maupun Islam. Aksi-aksi pertikaian-baik dalam skala besar maupun
kecil-di Ambon dan sekitarnya masih terjadi hingga kini. Kasus Ambon,
ternyata berkembang ke pulau-pulau di sekitarnya. Pada akhir Maret dan awal
April 1999, terjadi peristiwa pertikaian antara Muslim dengan komunitas
Kristen yang menjadi pendukung pemberontak RMS di kawasan Pulau Kei Besar
dan Kei Kecil. Ratusan umat Islam pun menjadi korban dari tindakan kejam
komunitas Nasrani yang menjadi pendukung gerakan sparatis RMS. Sekitar
tujuh bulan kemudian (November 1999), suasana "tegang" antara penduduk
Muslim dan Kristen terjadi di kawasan Pulau Halmahera dan sekitarnya
seperti di Pulau Ternate dan Tidore.
Puncaknya adalah berupa aksi kerusuhan di kawasan Ternate, yang kemudian
menyebar ke Tidore, Halmahera, dan pulau-pulau sekitarnya. Peristiwa
pembantaian umat Islam di Halmahera Utara, persisnya di Kecamatan Tobelo
dan Kecamatan Galela, terjadi satu hari setelah umat Kristen merayakan Hari
Natal (26 Desember 1999). Dalam peristiwa itu, Tim Pencari Fakta yang
dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara menyatakan jumlah
korban jiwa di pihak umat Islam hingga 20 Januari 2000 tercatat 3587 orang.
Fakta temuan tersebut logis, karena di kawasan Kecamatan Tobelo, misalnya,
tercatat ada 2080 Muslim yang meninggal dunia dalam keadaan terbantai. Di
mesjid Al Ikhlas, Togiula Tobelo, jumlah umat Islam perempuan dan anak-anak
yang dibantai mencapai 253 orang. Fakta yang sama juga diungkapkan oleh
wartawan Antara di Ternate Maluku Utara, AN, yang menyebutkan, bau mayat
masih menyengat di Halmahera Utara. Di dalam kuburan itu, terbujur kaku 253
mayat warga Muslim yang dibantai pasukan pemberontak RMS pada 29 Desember
1999. Kuburan masalnya berukuran kurang lebih 5 kali 6 meter persegi dengan
kedalaman 1,5 meter. Ini terletak di halaman mesjid Al Ikhlas desa
Togoliua, yang terletak sekitar 25 kilometer dari kota Kecamatan Tobelo.
Selain di Togoliua, menurut Danramil Tobelo, Kapten Inf. Made Parsio, juga
ada kuburan masal di desa Popilo sekitar 5 kilometer dari kota Kecamatan
Tobelo. Sedangkan kalau menurut versi pemerintah (Pemda Maluku Utara),
jumlah umat Islam yang meninggalkan di daerah Tobelo hanya 877 orang dan
yang luka berat sebanyak 215 orang. Jumlah mesjid yang rusak tercatat 14
unit, dan gereja 1 unit. Adapun jumlah umat Islam dan Kristen yang
meninggal di Maluku Utara tercatat, meninggal dunia (1.655 orang), luka
berat/ringan (1.219), yang hilang atau lari ke hutan (2.315). Sedangkan
harta benda : rumah rusak/terbakar (6.497), gereja rusak/terbakar (45),
mesjid rusak/terbakar (51), toko/kios terbakar (66), sarana pendidikan
rusak/terbakar (8), sarana perkantoran terbakar (6), Puskesmas terbakar
(1), kendaraan terbakar (57), lahar pertanian/peternakan (ribuan hektar dan
puluhan ribu ternak mati). Jumlah pengungsi : di Ternate (97.342),
Halmahera Tengah (12.253), Maluku Utara (31.408).
PETUNJUK AWAL TENTANG "TANGAN-TANGAN" ZIONIS-YAHUDI.
Sejumlah pejabat pemerintahan, baik sipil dan militer di Ambon-Maluku-
dalam berbagai kesempatan yang berbeda-mengakui, perihal adanya dugaan
keterlibatan suatu kekuatan dari luar Ambon dan Maluku, sehingga terjadi
kasus di Ambon dan Maluku. Di kalangan militer sendiri, diakui adanya
keberpihakan sejumlah oknum TNI dan Polri terhadap umat Islam maupun
Kristen. Mantan Pangab, Jenderal TNI Wiranto mengakui hal tersebut. Meski
begitu, mereka yang terbukti bersikap tidak netral, menurut Jenderal
Wiranto, sudah diusut sesuai hukum peradilan militer. Demikian halnya,
keterlibatan sejumlah oknum pegawai negeri sipil (PNS), juga diakui oleh
Gubernur Maluku, AH Latuconsina, di berbagai kesempatan pertemuannya dengan
pers maupun pihak-pihak terkait. Mereka yang terlibat itu, diproses sesuai
hukum yang berlaku. Hanya saja, proses hukum terhadap oknum militer maupun
sipil dan putusan majelis hakim yang menyidangkannya, tetap memunculkan
sikap ketidakpuasan. Faktor penyebabnya, berkisar pada perbedaan lama
hukuman yang dikenai kepada para tersangka atau bernuansa diskriminatif,
tindak lanjut pelaksanaan putusan hakim yang diduga diskriminatif, serta
upaya penegakan hukum yang dilakukan aparat penegak hukum terkait yang juga
diasumsikan diskriminatif. Penyampaian laporan resmi oleh institusi
keagamaan seperti MUI, ternyata tidak ditindaklanjuti secara optimal oleh
aparat keamanan terkait di Ambon-Maluku. Salah satu contohnya, laporan MUI
Maluku Tengah melalui Surat MUI No. 09/MUI/MT/I/2000 tanggal 7 Januari yang
ditandatangani Ketua MUI Maluku Tengah, Sawet Silawane dan Sekretaris,
Hafid Sabban. Dalam suratnya itu-yang tembusannya dikirim ke Presiden RI
dan berbagai pihak terkait terungkap adanya keterlibatan tiga pejabat teras
di Maluku Tengah yakni Bupati Maluku Tengah, Kol Inf.
Rudolf Rukka, Dandim 1502
Letkol CH Sidabutar dan Kapolres Letkol Benny von Bulow. Mereka yang diduga
kuat terlibat dalam penyerangan umat Kristen pendukung RMS ke kota
Masohi-kota yang diresmikan Bung Karno-yang berpenduduk Islam itu, ternyata
sampai sekarang tidak ditindaklanjuti pengusutannya sesuai hukum yang
berlaku di militer. Sikap Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di
Indonesia, agaknya juga lamban dan tidak jelas dalam persoalan pembantaian
umat Islam di Maluku dan Ambon. KPP-HAM yang dibentuk Komnas HAM juga tidak
melakukan langkah-langkah nyata, setelah melakukan kunjungan ke Maluku.
Demikian pula, institusi LSM di bidang penegakkan HAM yakni "Kontras"
pimpinan Munir, SH, tampak gagal membeberkan nama-nama tokoh di belakang
kasus Ambon-Maluku. Wakil Ketua MPR RI, Dr. Amien Rais-yang sempat
menyatakan kepada pers akan membuka kedok pelaku di belakang kasus
Ambon-Maluku-ternyata tidak jauh berbeda dengan Munir, SH. Ya, sekedar
janji saja hingga kini tak ada realisasinya.
Dan berikut ini, penulis ungkapkan fakta-fakta berupa pernyataan para
pejabat pemerintahan maupun sipil yang berkaitan erat dengan pertanyaan
kunci : siapakah sebenarnya "otak" dari terjadinya kasus kerusuhan yang
menelan banyak korban di pihak umat Islam ?
- "Ada tangan-tangan jahat yang sengaja mengobok-obok Maluku dan berbagai
daerah lain di Indonesia." (Presiden Republik Indonesia, KH Abdurrahman
Wahid dalam acara "Malam Baku Dapa" di Istora Senayan, Jakarta, 15/1)
- "Saya tidak percaya konflik Ambon hanya menggunakan "bahan bakar lokal".
Ini pasti "bahan bakar" lain. Yang menyebabkan Ambon terbakar, itu bukan
dari lokal. Bahan bakarnya berkualitas tinggi." (Asisten Sekum Persekutuan
Gereja Indonesia (PGI)/Ketua Pusat Penanggulangan Krisis PGI, Pendeta Dicky
Malioa dalam "Sabili" No. 18 tahun VI/24 Maret 1999).
- "Amerika ingin
mendominasi kepentingannya di Indonesia. Timtim sudah dilirik Australia.
Aceh dilirik Inggris. Kini Ambon-Maluku dilirik Amerika Serikat (AS). Jadi,
ini semua merupakan ulah internasional yang ingin menghancurkan Indonesia.
Mereka takut kebangkitan Islam di Asia. Dan kelompok tertentu di Ambon
mendapat suplai senjata dari luar negeri, terutama AS. Di sejumlah basis,
kelompok perusuh itu dipasok senjata M-16, bahkan juga alat komunikasi
canggih. Saya memperoleh informasi ini dari pihak yang dapat dipercaya dan
tahu persis skenario kerusuhan di Ambon." (Budayawan Emha Ainun Najib
kepada pers, sebagaimana dikutip ulang dalam buku "Tragedi Ambon" karya Tim
Penyusun Al Mukmin, Jakarta Timur Indonesia, edisi April 1999, halaman
141).
- "Faktor penyebab kerusuhan di Maluku Utara ini tidak terlepas
dari pengaruh para pengungsi asal Ambon dan provokasi pihak-pihak
tertentu." (Gubernur Maluku Utara, Surasmin, SH dalam laporannya kepada
Wapres Megawati Soekarnoputri yang berkunjung ke Ternate, 25 Januari 2000).
- "Berdasarkan temuan MUI di Ambon terdapat bukti tentang keterlibatan
aktivis Republik Maluku Sarana atau Republik Maluku Selatan (RMS) dalam
pertikaian di Maluku. Keterlibatan ini dalam bentuk pengiriman senjata
kewilayah yang dilanda pertikaian. Kami menemukan bukti adanya intervensi
pihak asing dalam pertikaian di Maluku. . Meskipun secara fisik
organisatoris RMS sudah tidak ada lagi di Indonesia, tapi dari segi ide dan
gagasan RMS masih terus melakukan gerakan untuk mewujudkan cita-citanya.
Hal itu dilakukan dengan menyulut konflik di Maluku untuk menghabisi kaum
Muslim di sana. RMS ingin membentuk negara tersendiri di Maluku. Mereka
berharap pola di Timtim bisa diterapkan. (Ketua Umum MUI Pusat, KH
Amidhan/wawancara dengan penulis dan dimuat di koran "Pikiran Rakyat" edisi
12 Januari 2000).
- "Kasus di Ambon tidak lepas dari peran tangan-tangan
Zionis yang menunggangi isu agama dan kesenjangan sosial-ekonomi. Ketika
terjadi kerusuhan yang banyak menelan korban di pihak umat Islam,
antek-antek Zionis yang berkedok gerakan sparatis Republik Maluku Sarani
atau Republik Maluku Selatan (RMS) tampak ikut dalam kerusuhan. Dinding
pagar rumah, toko-toko dan bangunan di Ambon, banyak yang ditulisi I love
Jesus dan digambari Bintang David lambang Zionis-Yahudi atau Israel II."
(Imam Besar Mesjid Raya Al Fatah Kodya Ambon/Komandan Pasukan Mujahidin
Ambon, KH Abdul Aziz Arbi, Lc/wawancara dengan penulis).
- "Kasus
pembantaian umat Islam di Maluku Utara ini, tidak lepas dari pengaruh
tokoh- tokoh Nasrani asal Ambon yang bergabung dengan para pengungsi yang masuk ke berbagai daerah di Maluku Utara. Kehadiran tokoh Nasrani Ambon itu membawa misi RMS yang berkiblat pada Zionisme-Yahudi.
Kami pun semakin yakin tentang keterlibatan kekuatan Zionis-Yahudi ini, ketika mengetahui komunitas Kristen di Tobelo menggelar tulisan "Tobelo Negara Israel ke II" seusai membantai dan mengusir umat Islam." (Ketua Umum Forum Komunikasi Kerukunan Antarumat Beragama Provinsi Maluku Utara, Abdul
Gani Hasan, K.,MA/wawancara dengan penulis). Pernyataan-pernyataan
pejabat pemerintah maupun sipil ini, sepatutnya layak ditindaklanjuti.
Soalnya, pernyataan tersebut sudah dapat dijadikan petunjuk awal
penyelidikan terhadap kasus Ambon-Maluku. Hanya saja, tampaknya pemerintah
mengalami kesulitan untuk memiliki political will untuk melakukan
penyelidikan secara serius terhadap persoalan Ambon-Maluku. . Dalam
konteks ini, peta persoalan Ambon dan Maluku sesungguhnya bisa dijelaskan
secara sederhana, yakni suatu konspirasi internasional yang melibatkan
"tangan-tangan"Zionis-Yahudi, dengan menunggangi potensi konflik berupa
agama, sosial-ekonomi, pendidikan dan kekuasaan atau politik. Objek
sasarannya adalah mematahkan daya gerak umat Islam dalam mengamalkan
ajaran-ajaran agama Islam secara kaffah dan sebagai upaya masuk lebih dalam
ke tubuh bangsa Indonesia untuk menzioniskan. Oleh karenanya, berbagai
bukti permulaan yang mengarah ke dugaan tersebut patut ditelusuri dalam
kasus Ambon-Maluku. . Misalnya, berkaitan dengan fakta aktual yang terjadi
di Maluku Utara. Sebelumnya, kehidupan masyarakat di Maluku Utara itu
berjalan normal. Antara umat Islam dan Kristen tidak terlibat
persengketaan. Namun sejak kedatangannya rombongan pengungsi dari Pulau
Ambon ke kawasan Maluku Utara, mendadaklah terasa ketegangan. Isu dan
selebaran beredar di tengah masyarakat. Sejumlah pengungsi di Ternate dan
Tidore-yang berasal dari Pulau Halmahera khususnya Tobelo dan
Galela-mengaku menyaksikan adanya sejumlah tokoh agama Kristen yang
terlibat dalam aksi penyerangan dan pembantaian. Selain itu, para pengungsi
juga menyaksikan adanya beberapa aktivis organisasi "sayap" Zionis-Yahudi
di Ambon-Maluku yang turun dalam aksi mobilisasi massa untuk menyerang umat
Islam. . Jauh sebelum terjadinya kasus di Ambon, menurut beberapa nara
sumber penulis di lingkungan pemerintah daerah maupun warga setempat,
terjadi peningkatan kehadiran jumlah wisatawan dari Belanda, Selandia Baru,
Canada, Australia, Inggris, Belgia dan Belanda. Mereka seringkali
mengunjungi sejumlah gereja, baik di kota Ambon maupun di daerah pinggiran
kota Ambon. Bersamaan dengan momentum itu, di beberapa rumah di kawasan
Ambon pun mulai terlihat tulisan dan gambar Bintang David lambang
Zionis-Yahudi. Terhadap fakta itu, kaum Muslimin di Ambon menganggapnya
biasa-biasa saja sebagaimanya menyikapi fenomena vandalisme yang dilakukan
para remaja. Namun ternyata, rumah-rumah yang bertuliskan dan bergambar
tersebut menjadi "aman" tatkala berlangsungnya kerusuhan. . Menurut
praktisi hukum-yang juga anggota DPRD Provinsi Jabar-HM Rizal Fadillah,
SH., berdasarkan fakta historis sesungguhnya Belanda punya pengaruh yang
kuat di Ambon dan Sulawesi Utara untuk menjadikannya negara boneka. Saat
itu, Belanda mengobok-obok dan menjanjikan kemerdekaan kepada aktivis
Republik Maluku Sarani atau Republik Maluku Selatan (RMS). Penumpasan RMS
dan Kahar Muzakar ternyata berlangsung lama, karena yang dikirim adalah
pasukan dari Brawijaya dan Diponegoro yang kalau bergerak dalam jumlah
banyak. Jadi, bukan dalam sistem komando sehingga mudah dihadang dan
dihabisi RMS. Namun ketika yang dikirim pasukan Siliwangi dari Jabar-yang
saat itu Pangdamnya adalah Mayjen Ibrahim Adjie --, maka rakyat
menyambutnya penuh respek. Pasukan Kujang Siliwangi ketika itu berhasil
menumpas RMS. Kini kaki tangan pemberontak RMS yang notabene berjiwa
Zionis-Yahudi- yang menunggangi kasus di Ambon-Maluku itu-bisa dibilang
dendam kepada institusi militer di Jabar "Siliwangi". Sebagaimana diungkap
"PR" (11/10 99), sungguh punya makna kaitan sejarah masa silam bila kita
mencermati peristiwa penembakan terhadap Danton Zeni Tempur (Zipur) 3 Kompi
II Kostrad/Siliwangi, Letnan Dua Ricky Kalalo Bale di Ambon, pada hari
Senin, 4 Oktober 1999. . Dalam konteks ini, patut dipertanyakan kenapa
oknum pemberontak RMS itu memilih menembak kepalanya Ricky, padahal di
sekitar lokasi banyak aparat keamanan yang lainnya ? Dan kenapa pula, kini
simpatisan RMS merasa khawatir bila sukarelawan jihad dari Jabar hadir di
sana ? . Keterlibatan RMS plus Zionis-Yahudi dalam konflik Ambon-Maluku,
ungkap sejumlah nara sumber penulis, semakin nyata setelah majalah Tempo
edisi 26 Desember 1999 mengutip laporan korespondennya di Belanda tentang
pengakuan Presiden RMS, Dokter Tutuhatunewa (76) yang telah mengucurkan
dana perang ke Maluku. Meski tak bersedia menyebut jumlah bantuan dana itu,
Tutuhatunewa membenarkan-dengan dalih kemanusiaan-adanya dukungan dana
terhadap kelompok tertentu di Ambon. . Selain itu, Tempo juga menyebutkan
pada Agustus 1999 aparat keamanan menemukan uang sebanyak Rp 500 juta dari
lima penumpang Kapal Bukit Siguntang yang berlabuh di Pelabuhan Ambon. Uang
tersebut dikemas dalam ratusan amplop. . Majalah Tempo mengungkapkan, pada
amplop tersebut tertulis organisasi "Satu Bantu atu, Maluku-Netherland".
Menurut keterangan Imam Besar Mesjid Raya Al Fatah Ambon, KH Abdul Aziz
Arbi, Lc., organisasi tersebut diduga punya hubungan dengan sebuah
organisasi di daerah Ciledug, Jakarta Selatan, Indonesia.
FAKTA KONSPIRASI RMS-ZIONIS
Jauh sebelum itu, menjelang awal pecahnya peristiwa Ambon pada 19 Januari
1999, berdasarkan hasil investigasi penulis, warga Kampung Hative Besar
Ambon yang merupakan basis pemberontak RMS sengaja menyerang, membunuh dan
membakar perkampungan Wailete yang dihuni Muslim etnis Buton Bugis. Saat
itu, umat Islam menemukan dokumen RMS. Setelah diserahkan kepada aparat
keamanan, ternyata dokumen tentang RMS tersebut tidak ditindaklanjuti.
Pihak keamanan terkesan "berdiam seribu bahasa" terhadap temuan tersebut.
Menurut tokoh Islam di Ambon, dalam setiap aksi penyerangan kepada umat
Islam, mereka yang beridentitas kain merah itu sering membawa bendera RMS.
Bahkan coret-coretan di sekitar kota Ambon itu umumnya lambang Zionis
Israel-Yahudi. Memang, para pemberontak RMS itu berkiblat pada Zionis
Israel-Yahudi. Selain itu, sejumlah nara sumber penulis di Ambon-Maluku
mengungkapkan hal senada tentang adanya indikasi keterlibatan RMS dan
Zionis-Yahudi dalam kasus Ambon-Maluku. Di internet, ungkap mereka, sempat
ada situs RMS yang menampilkan artikel terbitan Israel yakni United Israel
Bulletin (UIB). Buletin itu mengungkapkan harapan RMS untuk mendapat
dukungan Israel. Mayoritas pendukung RMS memang dekat dengan Israel dan
Yahudi. Selama beberapa peringatan hari kemerdekaan RMS di Maluku, bendera
Israel bersama emblem AS dan Belanda dipadukan dengan emblem RMS, begitu
tulis koresponden UIB di PBB, David Horowits dalam terbitan musim panas
1997 lalu. RMS juga punya hubungan dengan gerakan serupa di Timtim.
Buktinya, di situs Djangan Lupa Maluku : www.dlm.org. dapat dijumpai naskah
proklamasi RMS yang dibacakan pada tahun 1950 dan ditandatangani JH
Manuhutu serta A Wirisal. Salah satu berita yang menarik yang dirilis
UIB-selain tentang persahabatan RMS dan Israel-juga artikel itu
mengungkapkan hubungan antara RMS dan pergerakan di Timtim yang dipimpin
Jose Ramos Horta. Menurut Horowits, ketika Horta menerima Nobel, saat itu
salah satu menteri RMS, Edwin Matahelumual mengirim surat kepada Horta.
Dengan adanya fakta-fakta semacam ini, sangatlah aneh kalau pemerintah
Indonesia tidak segera menumpas para pemberontak RMS di Ambon-Maluku yang
sudah membantai umat Islam berjumlah ribuan orang. Asumsi adanya sikap
kesewenang-wenangan dan intervensi konspirasi Zionis-Yahudi dalam kasus
Ambon-Maluku, semakin kuat setelah adanya pengungkapan fakta oleh Deplu RI
berkaitan erat dengan pelanggaran pesawat udara Australia ke wilayah
teritorial Indonesia.
Sebagaimana dikutip Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara (Selasa,
22 Februari 2000), secara resmi Deplu RI mengirim nota diplomatik ke
Kedubes Australia di Jakarta sehubungan dengan kegiatan pesawat udara
Australia yang melakukan penerbangan tanpa izin di atas Kepulauan Mlauku,
November 1999. Nota diplomatik Deplu pada 15 Februari 2000, yang salinannya
diperoleh Antara, menyatakan Pemerintah RI menilai kegiatan penerbangan
tersebut melanggar aturan penerbangan sipil internasional dan melanggar
hukum, kedaulatan serta integritas wilayah RI. Disebutkan-dalan nota
diplomatik-pada 19 November 1999 pkl. 17.45 WIT, Komando Pangkalan Udara
Patimura Ambon mendeteksi pesawat udara Australia memasuki wilayah
Kepulauan Maluku Utara dan Selatan tanpa melakukan komunikasi radio.
Pesawat Australia itu terdeteksi melintas setiap satu sampai dua jam dan
pelintasan terakhir terjadi pkl. 02.00 WIT tanggal 20 November 1999 pada
ketinggian 10 ribu kaki. Pemerintah RI menegaskan tidak pernah memberikan
izin flight clearance kepada pesawat dimaksud untuk terbang di atas wilayah
RI. Kejadian yang sama terulang pada 20 November 1999 pkl. 13.45 WIT saat
pesawat Angkatan Udara Australia jenis C-130 dengan call sign Ausy-1020
terbang sekitar 5 ribu kaki di atas Maluku Utara dan melintasi Bandara
Patimura Ambon. Pesawat tersebut tidak menjelaskan misi dan rute
penerbangannya, sehingga pemerintah RI tidak pernah memberikan flight
clearance. Kapuspen TNI Marsda Graito Usodo mengaku mendengar adanya
operasi gelap pihak Australia di Indonesia. Namun, menurutnya, pihak TNI
memang kesulitan membuktikan operasi tersebut karena peralatan yang tidak
memadai. Selain itu, juga terungkap informasi tentang adanya 12 peti kemas
berisi senjata api dan amunisi yang dipasok dari Jakarta, oleh pihak ketiga
dari luar negeri. (HU "Media Indonesia", 10 Agustus 1999). Senjata itu
disimpan di Pulau Seram dan Desa Hutumury. Wartawan Media Indonesia
menulis itu berdasarkan laporan dari investigasi di Ambon pada 8 Agustus
1999 dan mengutip laporan Bakin (Badan Koordinasi Intelejen Nasional) di
Jakarta yang menyebutkan, ke 12 peti kemas yang berisi senjata dan amunisi
itu berasal dari Belgia, Israel dan Belanda. Senjata laras panjang jenis
PNC-1 penuh amunisi, menurut "Media Indonesia", jumlahnya mencapai ribuan
pucuk. Secara organik, senjata jenis ini biasa digunakan untuk melakukan
pemberontakan. Bahkan senjata laras panjang tersebut saat ini, menurut KH
Abdul Aziz Arbi, Lc, sudah banyak digunakan oleh sekelompok pemberontak RMS
di Ambon. Fakta lainnya adalah -- sebagaimana dilansir HU "Republika"
(edisi 23 Februari 2000) -- yang mengungkapkan ihwal adanya upaya aktivis
RMS di Belanda mencoba mengalihkan isu. Di depan gedung parlemen Belanda
selama dua hari (17-18 Januari 2000) di pasang kain spanduk berukurang
besar dengan tulisan berbunyi "Maluku, bukan perang agama, tapi provokasi
jenderal militer".
Selama konflik di Maluku, RMS memang cukup berhasil menarik perhatian media massa Belanda dan parlemen. Hampir setiap hari, media massa menulis sikap dan aksi-aksi RMS dalam kaitan konflik Maluku. Dukungan parlemen juga cukup kuat, terutama dari Fraksi PvdA (partai Buruh) dan Fraksi Kristen Demokrat (CDA). Pers Belanda bahkan menyebutkan RMS adalah pemerintahan dalam pengasingan (in exile). Dukungan terhadap RMS muncul dari pernyataan Menteri Sekretaris Kabinet (Algemente Zaken) RMS, J Watilette, yang dimuat harian Rotterdam Dagblad edisi Selasa (11/1 2000). Watilette menyatakan RMS sedang mempersiapkan diri untuk mengambil alih kekuasaan di Maluku saat Pemerintah Indonesia lemah. Menurut Watilette, tidak tertutup kemungkinan, RMS dari Belanda akan melengkapi perjuangan di Maluku dengan senjata. Pernyataan ini menegaskan sikap Presiden RMS, Frans LJ Tutuhatunewa di harian Rotterdam Dagblad pada Desember 1998 -- setahun sebelum Idul Fitri berdarah. Tutuhatunewa ketika itu menyatakan pengambilalihan kekuasaan harus segera dilakukan begitu pemerintah Jakarta jatuh. Untuk itu, dalam pertemuan tertutup di Barneveld, Sabtu (19 Desember 1998) -- dihadiri perwakilan delapan kelompok Maluku yang didominasi oleh perwakilan dari partai persatuan RMS-dibentukla h kabinet yang disebut Kongres Nasional Maluku. Pimpinannya adalah Tutuhatunewa. Tugas kabinet ini mengambil alih kekuasaan, melucuti, membubarkan TNI di Maluku, menghimpun bantuan dana dari masyarakat Maluku, dan mengorganisir "orang-orang kita" di Maluku. Watilette mengatakan, jika ada permintaan senjata dari Maluku, permintaan itu akan ditanggapi secara sungguh-sungguh. Dan Watilette pun sempat menegaskan kembali obsesi RMS untuk mengambil alih kekuasaan itu pekan lalu. Sedangkan Harian De Volkskrant edisi 12 Januari 2000 melaporkan di halaman depan, RMS mengumpulkan dana dari orang-orang Maluku di Belanda. Dana itu untuk membeli senjata membantu "saudara-saudara Kristen di Maluku.". Melalui jaringan internasional, tulis harian itu, dana yang
terkumpul tersebut akan dibelikan senjata yang selanjutnya dikirim ke
Maluku Tengah melalui Filipina Selatan.
Harian Brabants dagblad edisi 17 Desember 1999 memberitakan pertemuan lima wakil RMS oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. Mengutip ketua delegasi Otto Matulessy, harian itu menytakan Presiden Abdurrahman Wahid menghendaki partisipasi masyarakat Maluku di Belanda, terutama pemerintah pengasingan RMS, membantu membangun Maluku. (Menurut sejumlah nara sumber penulis, pertemuan ini mengecewakan orang-orang Maluku yang ada di Ambon yang anti RMS). Setelah kita mengetahui adanya fakta-fakta tersebut, maka pertanyaan selanjutnya yang mesti kita munculkan : sampai kapankah pemerintah Indonesia-terutama aparat penegak hukum- berdiam diri ? Mestikah fakta-fakta permulaan tersebut tidak ditindaklanjuti dengan penyelidikan ebagaimana layaknya sebuah proses hukum ? Bukankah fakta ini mengandung tindak pelanggaran HAM yang menelan korban jiwa ribuan orang Islam ? Mengapa di tengah masyarakat timbul kesan seolah-olah pemerintah Indonesia bertekuk-lutut di kaki gerakan Zionis-Yahudi internasional ? Haruskah Indonesia menjadi terpecah-belah dan hancur lebur dalam cengkeraman konspirasi Zionis-Yahudi ? Pertanyaan-pertanyaan ini patut dicarikan jawabannya. Dengan begitu, umat Islam tidak akan "terperosok kembali ke dalam lobang untuk kedua kalinya." Bukankah fakta historis menunjukkan sejak pertengahan abad ke 18 sampai dasawarsa pertama abad ke 20, dunia Islam mengalami masa suram. Penguasa-penguasa asing Barat yang bernafaskan Zionis-Yahudi mulai menaklukan dunia Islam. Ingatlah Inggris, Belanda, Prancis, Italia, Rusia, dan Austria yang memasuki daerah-daerah Islam dan menjajahnya. Ingatlah, Belanda masuk ke Indonesia pada tahun 1592. Inggris masuk ke India (1757), Inggris ke Malaka (1811), Inggris ke Aden dan Laut Merah (1839), Inggris ke Arabia Selatan dan Timur (1840), Inggris ke Mesir (1882), dan Inggris ke Sudan (1898) ; Prancis masuk ke Al Jazair (1830), Prancis masuk ke Tunisia (1881) dan Prancis masuk ke Maroko (1912). Ingat pula, Italia masuk ke Libia (1911). Rusia masuk ke Azov (1775), Rusia masuk ke Bessarabia (1812). Juga, Austria masuk ke Hongaria (1830), Austria ke Transilvania (1830). Mestikah umat Islam melihat fakta sejarah Indonesia yang terpecah-belah sebagaimana Turki-yang merupakan kubu pertahanan Islam di Mediteranian sejak pertengahan abad ke 19 -- tiba-tiba melepaskan asetnya pada tahun 1830 (Yunani, Bosnia, Rumania, Bulgaria, dan Serbia), dan melepas Montenegro pada tahun 1978 ?***
NB)
01. Tulisan ini disajikan dalam perspektif jurnalistik. Karenanya,
data-data yang terungkap merupakan hasil investigasi di lokasi peristiwa di
kawasan Ambon dan Maluku. Dalam melakukan investigasi, penulis- selaku jurnalis-mengalami kesulitan memasuki wilayah "kekuasaan" kaum pemberontak RMS. Karena, mereka mengancam akan membantai para wartawan -- apalagi yang beragama Islam-bila masuk ke wilayahnya. Untuk itu, sajian informasi dan fakta ini tentunya mengalami "keterbatasan". Meski begitu, tidak berarti informasi dan fakta ini dianggap tidak ada dan tidak dilakukan tindak penyelidikan sebagaimana layaknya kita menyikapi kasus-kasus pelanggaran HAM.
02. Perihal gerakan RMS, bisa dilihat tulisan Prof. Dr. H Ahmad Syafii Maarif dalam majalah "Gatra", edisi 22 Januari 2000 yang berjudul "Maluku : Tragedi Kemanusiaan dan Jihad". Ahmad Syafii menulis :agama Islam bertapak di Maluku sejak abad ke 14, sebagai agama resmi Kesultanan Ternate. Islamlah yang kemudian membentengi Maluku- sekalipun tidak seluruhnya berhasil- dari serbuan penetrasi Eropa : Portugis (abad ke 16) dan VOC Belanda (abad ke 17). . Ada dua tujuan yang hendak diraih orang Eropa di Maluku yaitu berdagang dan menyiarkan agama. Portugis dengan Katoliknya, Belanda dengan Protestannya. Dalam pergumulan antara kedua kekuatan Eropa itu, Katolik terdesak, Protestan unggul. Dengan demikian, pergumulan yang lebih seru kemudian adalah antara Islam dan Protestan, sampai hari ini.
Deklarasi RMS pada 18 Januari 1950 adalah di antara usaha mereka untuk menciptakan sebuah republik mayoritas Kristen di kawasan itu. Sekalipun sudah ditumpas, RMS sebagai cita-cita politik tidak pernah mati di kawasan itu. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa kekuatan neo imperialis melalui agen-agen domestiknya juga telah turut dalam drama muat di Maluku kini.
Era reformasi adalah saat yang tepat untuk sekali lagi meminta perhatian dunia akan eksistensi RMS itu, dengan dukungan kuat dari sementara gereja dan tokoh-tokoh mereka yang bermukim di Belanda. Merekalah tampaknya yang diam-diam memasok senjata organik ke Maluku. Akibatnya, umat Islam yang lugu itu menjadi sasaran pembantaian sejak setahun yang lalu, diawali dengan Idul Fitri Berdarah pada 19 Januari 1999 sampai hari ini. Ingat ulang tahun RMS pada 18 Januari.
03. Wacana tentang pemberontak RMS, juga bisa dilihat dalam buku "Ensiklopedi Nasional Indonesia" (jilid 14, PT Cipta Adi Pustaka, Jakarta, 1991). Dalam buku itu disebutkan, Republik Maluku Selatan atau juga dikenal sebagai Republik Maluku Sarani (RMS-red) diproklamirkan pada 25 April 1950 oleh Johanes Herman Manahutu. Prosesi acaranya berupa penaikan bendera RMS.
Adapun bunyi naskah proklamasi tersebut pada intinya adalah "Kemerdekaan Maluku Selatan de fakto dan de jure berbentuk republik lepas dari segala perhubungan ketatanegaraan Negara Indonesia Timur dan Republik Indonesia Serikat". Setelah membacakan naskah proklamasi, Johanes Herman Manahutu memberi penjelasan bahwa apa yang dilakukannya itu adalah menuruti kehendak Dr. Soumokil. Seusai upacara proklamasi kemerdekaan RMS, para pemimpin RMS yang terdiri atas Dr. Soumokil, Dr. Patirajawane, Ir Manusama, Johanes Herman Manahutu, Pesuwarissa, Tahapary, Samson dan Tamoela bersidang, dan
akhirnya berhasil menyusun kabinet sbb : . Adapun Presiden (Johanes Herman Manahutu), Kepala Depdagri (DJ Gaspersz), Kepala Departemen Urusan Kesehatan (Dr. Patirajawane), Kepala Departemen Urusan Perekonomian (Norimarna), Kepala Departemen Urusan Makanan (R Lokollo), Kepala Departemen Urusan Luar Negeri ( Dr. Soumokil), Kepala Departemen Urusan Yustitis (J Toule), Kepala Departemen Urusan Lalu Lintas (H Peters), Kepala Departemen Urusan Keuangan ( DZ Pesuwarissa), Kepala Departemen Urusan
Pertahanan (N Nanlohy). Saat itu, pemerintah melakukan pengiriman utusan ke Ambon untuk berdialog dengan RMS, namun ternyata ditolak. Pada 12 dan 13 Juni 1950, diselenggarakan Konferensi Maluku di Semarang. Salah satu hasilnya adalah terbentuknya misi persaudaraan yang terdiri atas Domine Siahaja, Sapulete, J Ferdinandus, J Tamasela dan A Kailola. Misi ini dikirim ke Ambon, ternyat ajuga tidak berhasil. . Selanjutnya, pemerintah melakukan gerakan operasi militer yang dimulai pada 14 Juli 1950, sesuai dengan Surat Perintah Operasi Panglima TT VII, Kolonel AE Kawilarang.
Setelah berkali-kali dilakukan operasi militer, akhirnya Dr. Soumokil menyerah pada 2 Desember 1963. Pada 4 Desember 1963, Dr. Soumokil mengeluarkan pernyataan yang pada intinya menegaskan sejak itu riwayat RMS telah berakhir. . Dalam kenyataannya, tidak semua pengikut RMS bersedia mengikuti imbauan Soumokil. Misalnya, pengikut yang menamakan dirinya "Para Patria Gerilya RMS" yang tetap melanjutkan gerakannya. Demikian juga kelompok yang menamakan dirinya Perwakilan Pemerintah RMS di Belanda tetap melakukan kegiatan yang ditujukan untuk memerdekakan RMS.
04. Zionisme adalah gerakan yang bertujuan membentuk kembali negara Yahudi. Gerakan yang muncul pada abad ke 8 ini mengklaim Palestina sebagai tanah air orang Yahudi dan menganjurkan agar orang-orang Yahudi di negara-negara lain kembali ke tanah air ini. Istilah Zionisme dipakai pertama kali oleh seorang perintis kebudayaan Yahudi bernama Matthias Acher (1864-1937). Gerakan ini diorganisasi oleh antara lain Dr. Theodor Herzl dan Dr. Chaim Weismann. .
Contoh keuletan gerakan Zionis mempengaruhi suatu pemerintahan, misalnya, pada tahun 1902, Theodor Herzl dan Chaim Weizmann mendekati Sultan Turki, Abdul Hamid II, yang waktu itu menguasai Palestina agar orang-orang Yahudi boleh kembali ke Palestina. Namun permintaan itu ditolak Sultan Turki, karena ia tidak mau mencelakakn bangsa Arab di Palestina. Pada tahun 1903, sempat diadakan kongres gerakan Zionisme di Bern, Jerman. Sejak itu, kaum Yahudi di Eropa beruaha merebut Palestina dari bangsa Arab. . Setelah
pendekatan dengan Turki gagal, Zionis mengadakan pendekatan dengan Inggris.
Ini melalui "raja senjata" dan ketua gerakan Zionisme di Inggris,
Rothschild. Dengan persenjataan dari Rothschild, Inggris berusaha
mengenyahkan kekuatan militer Turki dan Jerman di Palestina. Negara Israel
berdiri pada 14 Mei 1948. Pembentukan negara Israel yang mencaplok sebagian
daerah Palestina ini mendapat protes keras dan reaksi berupa pernyataan
perang dari negara-negara Arab.
05. Fakta tambahan yang menunjukkan betapa umat Islam tidak berjiwa biadab
dan tidak memerangi pihak-pihak lain yang "bersahabat" dapat diketahui
antara lain sbb : a) Siaran pers Satgaspen Pusat Penerangan Markas Besar
TNI Nomer SP-43/II/2000/PEN-yang ditandatangani Dansatgaspen Puspen TNI,
Letkol Inf. Djoko Joed Moeljono-mengungkapkan, umat Islam melindungi
sebanyak 1.906 jiwa yang beragama Kristen di kompleks Pondok Pesantren
Khoiru Ummah, Desa Waysila Kecamatan Seram Utara. Warga dari sejumlah desa
di Kecamatan Tehuru dan Wirenama itu berjalan berhari-hari melintasi
pegunungan dan akhirnya ditampung di pesantren Khoiru Ummah. Setelah itu,
mereka diungsikan ke wilayah lain di Pulau Seram. Menurut pimpinan
pesantren Khoiru Ummah, KH Syahroni Syafii, dalam waktu dekat pihaknya akan
menampung lagi sekitar 870 jiwa pengungsi beragama Kristen, yang berasal
dari Desa di Kecamatan Tehuru dan Kecamatan Wirenama. b) Adanya pengungsi
Kristen antara lain Oskar dan Nelwan yang di tampung di Panti Asuhan Ar
Rahmah, Lingkungan III Islam Manado, Sulawesi Utara.
Pimpinan rombongan pengungsi dari daerah Buo, Loloda, Halmahera, Ahmad
Hadiansyah mengemukakan, Oskar dan Nelwan adalah warga Nasrani yang
tampaknya tidak mau diajak ikut-ikutan memerangi umat Islam. Mereka memilih
bergabung dengan para pengungsi Muslim. Mereka menolak mengikuti gerakan
para pemberontak RMS yang berkiblat pada Zionis-Yahudi. c) Posko Keadilan
Peduli Umat (PKPU) Maluku Utara melaporkan (pada siaran persnya tertanggal,
6 Februari 2000), bahwa di Pulau Bacan Timur dan Pulau Obi, Halmahera
Utara, sebanyak 164 warga Nasrani ditawan sehubungan menyerahkan diri dan
menyadari kekeliruannya mengikuti gerakan pemberontak RMS. Setelah
diinterogasi, menurut Ketua Forum Komunikasi Kerukunan Antarumat Beragama
Maluku Utara, Abdul Gani Hasan K, MA., di antara mereka yang menyerah itu
ada seorang pendeta perempuan asal pulau Ambon yang diduga kuat menjadi
provokatornya. Pendeta itu tidak dibunuh oleh pasukan jihad, tapi
diserahkan kepada aparat keamanan untuk dikembalikan ke pulau Ambon.