PENGHINAAN DAN PELECEHAN TERHADAP ISLAM, AKANKAH TERUS KITA BIARKAN?

Agung Primamorista

Kasus penghinaan dan pelecehan terhadap Islam belakangan semakin marak. Ironisnya mayoritas Muslim di negeri ini hanya berdiam diri saja.

Hari Jum*at (03/03) lalu, CAIR-Net, sebuah lembaga advokasi pemantau media dan anti diskriminasi terhadap ummat Islam di Amerika Serikat, melaporkan bahwa pihaknya telah menerima sejumlah keluhan dari komunitas Muslim di sana, menyusul pemberitaan sebuah surat kabar Mahasiswa di Los Angeles, yaitu "Long Beach Union".

Dalam edisi tanggal 22 Pebruari 2000 lalu, terlihat jelas bahwa surat kabar itu telah melecehkan Nabi Muhammad SAW dengan mengekspos gambar beliau yang (maaf) sedang berusaha melakukan masturbasi ke arah foto Saddam Hussein. Na*udzubillah min dzaliik! Dalam edisi tersebut "Long Beach Union" juga menurunkan artikel yang berusaha menyembunyikan fakta bahwa para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Kristen "Campus Crusade for Chirst" telah berusaha melakukan penyusupan ke berbagai perhimpunan Islam, seraya menyerukan kepada para anggotanya agar menyebarkan gambar tersebut ke seluruh kampus.

Komunitas Muslim di California Selatan menyerukan kepada CAIR-Net agar memprotes surat kabar, yang telah mengekspos gambar jorok yang jelas-jelas melecehkan Nabi Muhammad SAW itu. Setelah mendapat peringatan dari CAIR-Net, ketua umum Univeristas California, hari Kamis (09/03), menyatakan permohonan maafnya atas peristiwa yang telah merugikan kaum Muslimin itu.

Kasus pelecehan serupa juga dilakukan oleh sebuah stasiun televisi Jepang, awal Maret lalu. Tepatnya 4 Maret 2000, kaum Muslimin di negeri Sakura itu digemparkan oleh acara kuis "Sekai Fushigi Hakken" yang ditayangkan pada jam 21.00-22.00, oleh stasiun televisi TBS Jepang. Dalam acara tersebut dengan jelas ditampilkan gambar Nabi Muhammad SAW, lengkap dengan nama beliau. Sehubungan dengan tayangan itu perwakilan komunitas Muslim Jepang melayangkan surat peringatan terhadap pihak TBS.

Pada hari Kamis (09/03) CAIR-Net juga melaporkan bahwa perhimpunan lembaga advokasi Islam di Amerika Serikat telah memprotes tayangan serial animasi di NBC News, yang bertema "Tuhan, sang Iblis dan Bob". Acara yang sangat meremehkan dan mempermainkan gambaran Tuhan itu, mengisahkan tentang kehidupan seorang pekerja Detroit yang berusia 32 tahun, bernama Bob Alman. Dalam acara tersebut diceritakan bahwa Bob, yang telah menjadi pilihan sang Iblis, berusaha membuktikan bahwa umat manusia adalah sesuatu berharga yang harus diselamatkan. Acara perdana di NBC News itu menampilkan bahwa "Tuhan" sedang minum bir bersama sang Iblis (silakan lihat di home page NBC News http://www.nbc.com/gdb/).

Meski telah diprotes oleh perhimpunan lembaga advokasi Islam di sana, sejumlah cabang NBC tetap menolak memindahkan acara itu ke jam tayang di akhir malam. Direktur Eksekutif CAIR-Net, Nihad Awad mengatakan "Acara yang merupakan penghinaan terhadap Tuhan tersebut adalah perbuatan yang merugikan jutaan pemirsa televisi yang memiliki perasaan yang dalam terhadap kepercayaan agama." Awad menambahkan bahwa organisasinya akan menyerukan para pemirsa agar menghubungi jaringan tersebut dan juga cabang-cabang lokalnya untuk mengekspesikan keprihatinan mereka terhadap setiap perusahaan yang akan menayangkan iklan dalam acara itu. Selanjutnya CAIR-Net memberikan batas waktu hingga tanggal 31 Maret 2000, agar pihak NBC membatalkan kelanjutan serial animasi itu.

Sebelumnya CAIR-Net juga menegur restaurant "Burger King", yang menggunakan sebuah nama Islami, yakni "Rasheed" (baca: Rasyid red), pada iklan sebuah produk Sandwich daging Babi. Dalam iklan itu disebutkan bahwa Rasheed sedang membaca sebuah puisi yang isinya menyetujui produk haram itu. Disebutkan pula bahwa Rasheed menggunakan ucapan "salam" saat memperkenalkannya kepada "saudara-saudara Muslim" di sebuah kedai kopi. Iklan tersebut mendapat protes keras dari berbagai pihak, khususnya kaum Muslimin di sana.

Alhamdulillah, pada hari Selasa (14/03) kantor pusat Burger King telah mengajukan permohonan maafnya. Ia juga berjanji akan menarik iklan radio tersebut dan menggantinya dengan iklan lain serta tak akan menggunakan nama Islami lagi, jika kaum Muslimin merasa keberatan. "Hal ini sangatlah penting agar setiap perusahaan memperhatikan sensitifitas para pelanggannya. Kami menghargai Burger King atas respon mereka yang begitu cepat dan kami juga mengucapkan terima kasih kepada kaum Muslimin yang telah mengekspresikan keprihatinannnya." kata Omar Ahmad pemimpin umum CAIR.

Sebenarnya kasus-kasus pelecehan terhadap Islam tidak hanya terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Indonesia pun, kasus-kasus pelecehan semacam itu masih sering terjadi. Sebut saja tayangan langsung "Misa Natal dari Gereja Betawi, Pondok Gede", yang disiarkan SCTV pada hari Sabtu, 25 Desember 1999 lalu. Acara yang belangsung antara pkl 09.00 - 11.00 pagi menampilkan sebagian besar jemaat gereja yang mengikuti acara Misa Natal tersebut menggunakan peci dan kerudung, yakni: atribut yang identik dengan ummat Islam. Dengan dikenakannya atribut tersebut nampak jelas tergambar seolah-olah mereka adalah umat Islam yang melakukan ibadah mereka di gereja.

Tak pelak jika redaksi Liputan 6 SCTV mendapat banyak sekali protes keras dari kaum Muslimin, termasuk dari Badan Musyawarah Masyarakat Betawi, yang mempertanyakan motivasi SCTV menayangkan acara yang anti-Islam itu. Bahkan W. Satryatomo, seorang Asisten Redaktur Polkam Liputan 6 SCTV, juga melayangkan surat protes terhadap SCTV. Menurutnya acara tersebut bisa ditafsirkan sebagai upaya memprovokasi umat Islam karena menimbulkan kesan bahwa komunitas yang secara tradisional dikenal Muslim pun memiliki gereja, dan menyelenggarakan Natal.

Masih hangat dalam ingatan kita saat mingguan berita TEMPO berupaya memfitnah dan mengadu domba ummat, lewat artikelnya yang berjudul "Melepas Kampus, Menghamba Imam", perihal Negara Islam Indonesia (NII). Dalam edisi No. 52/XXVIII/28 Feb - 5 Mar 2000 "terlihat jelas" usaha mingguan berita ini untuk memberangus gerakan Islam, dengan cara mem-blow-up sepak terjang gerakan NII, yang diyakini merupakan rekayasa rezim Orde Baru. Selanjutnya TEMPO berupaya mencari korelasi antara gerakan NII dengan berbagai pergerakan mahasiswa Islam, yang belakang ini tumbuh subur di kampus-kampus. Dikatakannya pula bahwa gerakan-gerakan Islam di negeri ini cenderung menggunakan cara-cara kriminal dan dan identik dengan gerakan terorisme. Nampaknya usaha untuk menyudutkan Islam dan ummatnya masih terus berlanjut. Mingguan GATRA dalam edisi no.18/VI tanggal 18 Maret 2000 lalu, mingguan ini memberikan judul muka yang sangat tendensius memfitnah dan memojokkan umat Islam dan kalangan umat Islam, yakni "Eksterm Kanan Mencari Korban". Tentu saja yang sasaran mingguan ini tak lain dan tak bukan adalah kalangan Islam di Poros Tengah. Karena pada sampul depan mingguan itu ditampilkan bahwa yg dimaksud "Korban dari Ekstrem Kanan" adalah politisi-politisi PKB seperti Matori, Khofifah dan Agil Siradj yg mana wajahnya menghiasi halaman muka majalah ini. Pemberitaan GATRA yang sangat tendensius ini tidak lain bertujuan untuk mengadu domba ummat Islam.

Kasus SCTV, TEMPO dan GATRA tersebut di atas hanyalah segelintir dari kasus-kasus penghinaan dan pelecehan terhadap Islam di negeri ini, dimana kebanyakan dari kita tidak menyadarinya. Berbagai bentuk fitnah tak henti-hentinya mereka lontarkan terhadap Allah SWT, Rasul-Nya, dan Islam, meski "tak sedikit" di antara mereka yang menyusulnya dengan permohonan maaf.

Merupakan suatu bahaya besar jika fitnah-fitnah semacam itu menyebar luas sementara kita tidak menghadapi dan mencegahnya. Karena pada hakikatnya ia bukan sekedar kemungkaran, akan tetapi merupakan penyataan perang terhadap Islam dan ummatnya. Dan apabila kita tidak segera mencegahnya, maka kemungkaran itu akan menjalar seperti menjalarnya api di daun-daun yang kering.

Perlu kita ingat, bahwa salah satu kewajiban masyarakat Muslim adalah mencegah dan memberantas segala bentuk kemungkaran di tengah-tengah komunitasnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu hendaknya mengubah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaknya merubah dengan hatinya (tidak menyukai perbuatan tersebut), itulah selemah-lemah iman." (HR. Bukari).

Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita untuk melakukan suatu pengawasan terhadap media massa dan siapa saja yang dengan sengaja menyebarkan fitnah atau melakukan tindakan diskriminatif terhadap Islam dan ummatnya di negeri ini.

Jika minoritas Muslim di Amerika Serikat saja dapat memiliki sebuah lembaga advokasi anti-diskriminasi semacam CAIR-Net, yang berfungsi memantau segala bentuk penghinaan, pelecehan dan diskriminasi terhadap Islam dan ummat Islam, mengapa di negeri yang mayoritas Muslim ini kita tidak dapat mendirikan sebuah lembaga resmi serupa untuk mencegah agar kasus-kasus semacam itu tidak terulang kembali?

Wallahua*lam bi showwab.

Sumber :
CAIR-Net URL: http://www.cair-net.org
MSA-News Mailing List,
http://msanews.mynet.net/MSANEWS/MSANEWS.html
Sabili Mailing List, http://www.egroups.com/list/sabili
TEMPO, No. 52/XXVIII/28 Feb - 5 Mar 2000
GATRA no.18/VI, 18 Maret 2000

 

Copyright © Al-Islam 1998
Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430
Telpon: 62-21-86600703, 86600704, Fax: 62-21-86600712
E-Mail: [email protected]

 

 

 

 
Hosted by www.Geocities.ws

1