Wahai Muslimah
Wahai Muslimah, Tutuplah Auratmu!
Berbagai acara diskusi, seminar, sarasehan dan semacamnya boleh saja digelar.
Tapi bila ujung-ujungnya meragukan al-Qur'an kita wajib menolaknya
mentah-mentah!
Di tengah kehidupan masyarakat kita, masih ada kaum muslimin yang ragu menerima
dan menerapkan ajaran mulia al-Qur'anul Karim. Khusus kaum wanita, masih banyak
dari kalangan mereka yang ragu menegakkan hukum hijab, yakni menutup auratnya
dari pandangan yang mengundang bahaya (berjilbab). Kondisi yang demikian
diperparah oleh ungkapan yang tidak bertanggung jawab, bahwa jilbab adalah
budaya masyarakat Arab. Kita tidak usah ikut-ikutan mengenakan pakaian adat
orang lain, itu dalihnya. Padahal ketika membuka lembar pertama al-Qur'an, dalam
surat al-Baqarah, Allah sudah menginformasikan tentang keparipurnaan al-Qur'an,
sedikitpun tidak ada keraguan di dalamnya.
"Alif laam miim. Dzaalikal kitaabulaa roibafiihi hudallilmurttaqiin, "Kitab
al-Qur'an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang
bertakwa."(QS.Al-Baqarah:1-2).
Al-Qur'an ini sebagai hudan, sebagai
petunjuk. Agar dengan petunjuk tersebut manusia tidak berjalan salah arah dan salah
kaprah. Salah arah dalam meniti kehidupan ini dan salah kaprah dalam mengambil
teladan. Al-Qur'an pun sudah menerangkan dengan gamblang akan manfaat dan fungsi
jilbab ini. Firman Allah dalam surat an-Nur: 31: "Katakanlah kepada wanita yang
beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (wajah dan telapak tangannya). Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasan, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami
mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau
saudara-saudara mereka, atau putera-putera sudara perempuan mereka, atau
laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak yang belum
mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar
diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian
kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."
Lebih lanjut
dalam surat al-Ahzab:59, juga dijelaskan: "Hai Nabi katakanlah kepada
istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'.
Yang demikian itu supaya mareka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Berbagai
halangan Kaum muslimah, mestinya tidak perlu menunjukkan sikap marah apalagi
sampai memusuhi orang yang menyampaikan kebenaran al-Qur'an tentang hukum hijab
ini. Kebenaran wahyu ini semata Allah turunkan untuk ketenangan dan ketentraman
ummat manusia, khususnya untuk Anda kaum wanita agar dapat terjaga dirinya dan
kemuliaannya. Sebaliknya, bila keengganan menegakkan aturan hijab ini selalu
dipoles dengan alasan hak asasi, mengekang kebebasan, tidak modis dan
sebagainya, maka tidak ada kesempatan yang ditunggu selain kehancuran dan
malapetaka. Penolakan terhadap hukum hijab akan mendatangkan bencana moral. Tata
nilai moral akan ambruk karena penolakan terhadap hukum hijab ini. Yang lebih
memprihatinkan lagi, kita sering mendapati kelompok yang berusaha mempermainkan
kesucian ayat ini. Hal-hal yang sudah jelas nasnya, kemudian diotak-atik dan
ditarik-ulur, sehingga nampak sesuatu yang meragukan. Perintah berjilbab yang
SK-nya langsung turun dari Tuhan seolah sesuatu yang perlu ditinjau
ulang. Masyarakat awam yang memerlukan bimbingan akhirnya menjadi bingung. Lebih fatal
lagi bila tukang tarik-ulur itu adalah mereka yang berpredikat
ulama. Undang-undang Allah tidak tegak, berbagai macam bentuk kemaksiatanpun tumbuh
subur karenanya. Ulama macam inilah yang diakatakan sebagai ulama yang jahil.
Predikat keulamaannya hanya malah mempersubur kemaksiatan dan kemunkaran. Kita
senantiasa berlindung dari keganasan ulama yang seperti ini. Kewajiban
menegakkan hijab ini tidak akan gugur sedikitpun juga meskipun didapati
guru-guru agama, para ustadzah, istri kiai dan ulama tidak mengenakan busana
muslim (berjilbab). Juga bukanlah perbuatan yang dapat di jadikan hujjah untuk
meniadakan hukum dan bukan pula merupakan tasyri (legeslation atau penetapan
hukum agama) apabila mereka mengenakan pakaian-pakaian yang mini dalam
kesehariannya. Hujjatul Islam Imam Al Ghazali pernah berkata: Apapun yang
dikatakan oleh manusia kita boleh menerima atau tidak, kecuali yang disampaikan
oleh Rasulullah saw.
Menggalakkan diskusi, sarasehan, seminar dan lain hal semacamnya bisa saja
dilakukan, tapi bila ujung dan kesimpulannya meragukan nilai-nilai Qur'an kita
berhak menolaknya mentah-menyah. Bila mengenakan jilbab yang sudah jelas
perintahnya 'ditinjau ulang' karena dengan berbagai alasan yang dikemukakan
sebagai merepotkan, mengganggu penampilan dan keindahan dan sebagainya, maka
sama sekali bukan perintah wahyunya yang keliru, tapi hawa nafsu yang sudah
mulai menjadi Tuhan. Mengapa? Karena seorang muslimah hanya boleh memperlihatkan
hiasan dirinya atau kecantikannya kepada sesama jenisnya akan tetapi hal itu
tidak boleh dilakukan dijalanan, di mana banyak berlalu-lalang lelaki dan
perempuan, yang akan mengarahkan pandangan matanya kepadanya. Begitupun hiasan
diri yang boleh diperlihatkan kepada sesama jenisnya pun harus wajar, masuk akal
dan ada batasnya. Tidak seperti yang kita saksikan dalam jaman sekarang dengan
penampilan serba mini dll.
Bentuk-bentuk pakaian wanita seperti itu yang jelas menyimpang keluar dari rel
Islam, tidak berdasar akal sehat, melanggar kesusilaan, akhlak dan menyebal dari
tradisi masyarakat beradab. Semuanya itu adalah sengaja diciptakan oleh kaum
zionis dalam kehidupan dunia Barat dengan tujuan mengobrak-abrik tatanan dunia
beradab dan menghancurkan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh ummat
manusia beriman.
Dengan menciptakan dekadensi moral dan krisis seksual mereka hendak menguasai
ummat manusia di mana-mana, dan dengan membangkitkan selera atau rangsangan
syahwat liar mereka berusaha menundukkan dan menaklukan dunia. Gagasan demikian
itu jelas merupakan gagasan zionisme internasional.
Bukankah gagasan itu yang mempermainkan akal pikiran kaum wanita dengan
menciptakan 'mode' baru bagi kaum wanita! Seberapa pendek gaun wanita harus
dibuat di atas lutut. Seberapa panjang boleh dibuat di bawah lutut, seberapa
banyak lengan wanita harus terbuka dan seberapa lebar bagian dada wanita harus
terbuka. Semuanya itu adalah rekayasa kaum zionis melaui dunia Barat, dan
semuanya itu tidak ada gunanya selain mempertontonkan aurat, untuk membangkitkan
rangsangan syahwat kaum lelaki dengan dalih 'keindahan', 'kekinian, 'modern' dan
entah apalagi.
Wanita muslimah yang meyakini kebenaran agamanya tidak boleh tertarik oleh
penipuan-penipuan zionis yang semacam itu, terutama jika mereka hendak keluar
rumah, hendaklah berpakaian sebagaimana yang telah ditentukan oleh syariat
Islam, agar tidak menjadi tontonan kaum lelaki sepanjang jalan. Pada suatu hari beberapa orang wanita Bani Tamim datang menemui Ummul Mu'minin
Aisya ra. Mereka berpakaian demikian tipis sehingga istri rasulullah saw itu
menegur: "Jika kalian wanita beriman, katahuilah bahwa itu bukan pakaian wanita
beriman!" Juga pada kesempatan yang lain Aisyah kedatangan seorang tamu
pengantin baru yang mengenakan kerudung yang tipis dan jarang. Melihat itu Ummul
Mu'minin berkata kepada orang yang mengantar kedatangan pengantin tersebut:
"Wanita yang mengimani Surah An-Nur (ayat 31) tidak akan memakai
(kerudung seperti) itu!" Demikianlah menurut hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu
Hurairah.
Menepis keraguan
Oleh karenanya, wahai wanita muslimah! Hilangkanlah keraguan dalam hatimu dan
kenakanlah pakaian mulia (jilbab)-mu itu. Selain akan membuat hatimu tenang,
pakaian kemuliaan itu akan menciptakan lingkungan yang menyejukkan. Janganlah
kau biarkan laki-laki menikmati pemandangan yang bukan haq. Pemandangan kotor
yang memperkeruh hati dan pikirannya. Sungguh mengenakan pakaian takwa seperti itu (jilbab) tidak ada yang diuntungkan
selain untuk dirimu sendiri. Engkau adalah ibu bagi anak-anakmu. Berikanlah
pendidikan akhlak yang mulia dengan penampilanmu yang mulia pula, dengan
menampilkan identitas wanita muslimah. Semoga dengan begitu Allah akan
memuliakan dirimu, keluargamu dan mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang
diridhai-Nya.
Buletin Al Qalam
|