PARTAI SETAN VS
PARTAI ALLAH
Berikan loyalitas hanya bagi kemenangan Islam, dengan cara Islam. Tinggalkan jebakan kerjasama dengan kaum sekuler, sebab mereka pasti akan mengkhianati!


Hizbullah, Diukur dari Loyalitas
Takut dan malu menyatakan keislaman, kejuangannya diragukan

Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan partai-partai Islam yang berlaga memenangkan pemilu, sebab Hizbullah tidak terbatas hanya pada mereka yang tergabung dalam partai Islam.

Dalam pandangan Islam, partai-partai yang ada di dunia itu terbagi dalam dua kelompok saja, yaitu partai Allah atau Hizbullah, dan Hizbusy-syayatin (partai setan). Batas antara Hizbullah dan Hizbusy-syayatin itu adalah terletak pada loyalitas. Jika loyalitas itu sepenuhnya diberikan kepada Allah, maka mereka termasuk Hizbullah. Sebaliknya jika loyalitas itu diberikan kepada selain Allah dalam berbagai manifestasinya, maka orang tersebut tergolong sebagai Hizbusy-syayatin.

Batasan ini sangat jelas, sehingga siapapun dapat mengukur dirinya, apakah termasuk sebagai Hizbullah atau termasuk dalam barisan partainya setan. Jika seseorang telah beranjak meninggalkan sejengkal saja dari barisan orang-orang yang telah menyerahkan loyalitasnya kepada Allah, maka ia sudah tergolonng sebagai Hizbusy-syayatin, walaupun ia masih menyangka dirinya sebagai muslim.

Dalam hal ini akan lebih baik jika kita kemukakan hadis Rasulullah saw:

"Barangsiapa yang keluar dari jamaah (Islam) walaupun sejengkal, sesungguhnya ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya, meskipun ia shalat dan berpuasa dan menyangka dirinya sebagai Muslim."

Banyak orang yang tetap menjalankan ibadah salat dan tekun berpuasa setiap bulan Ramadhan tiba, tetapi ia masih belum menyadari bahwa keislamannya telah terancam karena bergabung dalam partai setan. Mereka merasa bahwa keislamannya telah tercukupi dengan ibadah salat dan puasanya. Mereka menyangka bahwa dirinya tetap tercatat sebagai kelompok Islam jika masih menjalankan ibadah ritual tersebut, walaupun loyalitasnya telah tergadaikan untuk orang lain.

Ada juga yang menyangka bahwa antara salat dengan loyalitas itu merupakan dua hal yang berbeda. Mereka mengira bahwa salat itu merupakan kegiatan ritual yang langsung diberikan kepada Allah, sedangkan loyalitas itu bisa diberikan kepada siapa saja dalam kehidupan di dunia. Mereka merasa tidak terganggu keislamannya ketika mengikatkan dirinya dalam ikatan nasionalisme, sosialisme, atau liberalisme. Padahal semua ikatan di atas adalah batil, karenanya tak mungkin seorang muslim menjadi bagian dari sistem di atas.

Salat dan puasa sama sekali tidak menjadi jaminan bagi keislaman seseorang. Bukti keislaman itu ditunjukkan dalam bentuk wala', loyalitas, penyerahan diri atau pengikatan diri kepada Allah. Lepas dari itu, maka lepas pula ikatannya kepada Allah. Mereka bukan lagi disebut sebagai Hizbullah, walaupun menamakan partainya sebagai partai Islam.

Partai Allah itu pasti steril dari berbagai macam pencampuradukan ideologi, faham, aliran, dan agama lain. Partai Allah itu murni berisi orang-orang yang menyerahkan secara utuh dan bulat loyalitasya kepada Allah. Jika tidak, bisa jadi sebagai golongan munafik atau kafir. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

"Berilah kabar gembira kepada oran-orang munafik bahwa mereka akan mendaatkan siksa yang pedih, yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong mereka dengan meninggalkan orang-orang mukmin." (QS an-Nisaa: 138-139)

Bagaimana mungkin seorang mukmin meninggalkan kelompoknya sendiri kemudian bergabung dengan kelompok lain yang telah nyata ketidakislamannya? Dengan alasan apapun, tindakan itu tidak bisa dibenarkan.

Rasulullah adalah teladan paling utama bagi orang-orang yang beriman. Beliau tidak pernah bergabung dengan kelompok lain dalam permainan politik, misalnya. Ketika meneken Piagam Madinah, beliau tidak menyertakan golongan Yahudi, Nasrani, atau berbagai komponen masyarakat yang ada sebelumnya. Beliaulah yang membuat konsep matangnya, kemudian dibacakan, dan setelah disetujui dijadikan sebagai acuan atau perjanjian yang mengikat semua penduduk Madinah.

Dalam kerangka membebaskan diri dari keterikatan apapun dengan kelompok-kelompok di luar Islam, Alquran memberi penjelasan yang cukup gamblang dengan menampilkan contoh yang konkret, yaitu Ibrahim as. Alquran menjadikan sikap dan tindakan Ibrahim sebagai teladan bagi kaum muslimin. Allah berfirman:

"Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia, ketika mereka berkata kepada masyarakatnya, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah.'" (QS al-Mumtahanah: 4)

Sangat mengherankan jika sampai saat ini banyak tokoh umat yang kurang berani menyatakan sikap tegasnya, sebagaimana Nabi Ibrahim bersikap tegas kepada orang-orang kafir. Padahal pada waktu itu Ibrahim as bisa dikatakan masih sendirian. Jauh dari dukungan suara mayoritas, bahkan masih single fighter.

Padahal saat ini kondisi sudah sangat berbeda dalam hal kebebasan. Karena hembusan angin reformasi, keterbukaan, dan kebebasan menjadi trend. Inilah saat yang paling tepat untuk menyampaikan sikap tegas atas semua prinsip hidup, baik dalam lingkup pribadi, masyarakat, maupun negara. Jangan malu-malu atau segan menyampaikannya.

Jika program kita hendak melakukan Islamisasi di negara ini, sampaikan dengan jelas dan gamblang langkah-Langkah itu. Jangan disembunyikan lagi. Setelah reformasi, cara-cara sembunyi dan malu-malu seperti itu sudah usang, tidak pas dipakai lagi. Sampaikan terus terang sebab umat sebenarnya juga menunggu program itu.

Tokoh Islam saat ini masih belum cukup mempunyai rasa percaya diri. Kebanyakan mereka masih dihinggapi penyakit minder, sehingga belum apa-apa sudah menyerah. Kalah sebelum bertanding. Sikap seperti ini sama sekali tidak ideal. Bukan sikap Hizbullah, sebab Hizbullah mengutamakan sikap berani, termasuk kepada tiran yang paling kejam.

Kisah-kisah keberanian orang-orang terdahulu menghadapi kaumnya, termasuk pemerintah yang berkuasa pada saat itu, telah menjadi tema sentral Alquran. Hampir semua kisah nabi yang ditampilkan dalam Alquran selalu diwarnai dengan cerita-cerita di seputar keberanian mereka menghadapi tiran yang sangat kejam. Perhatikan kisah Nabi Ibrahim menghadapi Namrudz, Musa berhadapan dengan Fir'aun, Zakariya, Isa, Sulaiman, Daud, dan nabi-nabi lainnya menghadapi musuh yang sama, yaitu tiran yang lagi berkuasa.

Tentu saja kisah-kisah itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur, juga bukan sekadar bahan kajian ilmiah. Kisah-kisah ini sengaja ditampilkan agar dijadikan pelajaran bagi umat Islam. Agar kita mempunyai sikap yang sama dengan mereka. Allah berfirman:

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS Yusuf: 111)

 

 

 

 

Copyright© Suara Hidayatullah, 1999

   

Hosted by www.Geocities.ws

1