Kisah si Pinang dan Inangnya
“Bino? Kau dimana?” Teriak Dino di tengah TMII Jakarta, hari ini Dino sekeluarga sedang liburan. Mereka memilih TMII agar kedua anak kembarnya Dino dan Bino bisa lebih akrab bermain bersama.
“Ibu dimana Bino?” Rengek Dino. Ibu hanya menggeleng dan berkata dengan lembut, “Ibu juga tidak tahu, tunggu informasinya saja, ayahmu masih menanyainya di sana.” Seraya menunjuk administrasi dan informasi. “Bino akan ditemukan tidak bu?” Dino khawatir. Hatinya kini bagai angin laut yang tak menentu arahnya. “Mmh, kita lihat saja nanti. Ayo kita ke sana!” Ajak ibu Dino.
Dino yang masih polos pun hanya mengikuti ibunya. Dan ternyata mereka menuju tempat parkir dan pulang. “Ibu kenapa kita pulang? Bino masih di sana bu!! Ayo kita kembali, ibu….” Tangis Dino menggoyangkan tubuh ibunya. “Sudah diam!!” Bentak ibu Dino. Anak kemarin sore itu pun hanya terdim dalam tangis, kekhawatiran dan kegelisahan.
“Ayah? Ayah dimana bu?” Dino bingung, ia baru menyadari kalau ibunya yang menyetir mobil Ferarri mereka bukan ayahnya. “Ibu tidak tahu. Kita akan langsung ke kapal.” Jawab ibu Dino singkat. “Apa? Tapi mengapa bu? Huhu, aku tidak mau pergi tanpa Bino dan ayah..” Dino membuka salah satu pintu mobil Ferarri itu lalu ibunya kehilangan keseimbangan dan mereka jatuh ke sungai. Orang – orang sekitar hanya melihat dan tidak membantu, karena saat itu arus sungai amat deras.
Setelah sepuluh menit berlalu kepolisian setempat datang membantu, evakuasi korban mengalami kendala karena tumpukkan sampah yang menggunung. Setelah lebih dari satu jam evakuasi berhasil dilakukan dengan baik. Mobil Ferarri mereka kini hancur dan tak berbentuk. Lalu ambulance datang dan mereka membawa korban ke rumah sakit terdekat.
Ibu Dino mengalami cidera ringan dan ia tersadar dari tidurnya setelah setengah jam kemudian. Ia melihat sekelilingnya, tidak ada siapa – siapa. Tidak seorang pun, ia berusaha berdiri dan melepaskan impusnya lalu mencari anaknya. Setiap tirai dari UGD ia bukai satu persatu tapi tak menemukan anaknya. Ia terdiam, terduduk dalam lamunan hingga seberkas sinar datang. Beberapa dokter dan perawat membawa Dino, ia pucat nafasnya pun terengah – engah. Dengan sigap ibu Dino berdiri dan melihat anaknya, lalu mengikuti dokter memasuki ruangan tapi beberapa perawat menahannya karena hanya dokter dan perawat yang bertugas yang boleh masuk.
Ibu Dino terkulai lemas tak berdaya, tirai hijau ditutup oleh salah seorang perawat. Ibu Dino tak dapat berbuat banyak, ia hanya duduk di depan ruang operasi dan menunggu hasil seraya berdoa kepada Tuhan agar menyelamatkan anak kesayangannya itu. Berdoa dan terus berdoa demi anak tercinta.
Tiga jam berlalu, dokter keluar dari ruangan mengerikan tersebut dan wajahnya tampak lemas terkulai lalu ibunya tanpa berkata apa pun langsung memasuki ruang operasi dan melihat seorang perawat hendak menutup wajah sang buah hati degan kain putih.
“Tidak!!! Jangan lakukan.!!!” Teriaknya semua terkejut dan beberapa perawat tanpa sengaja menjatuhkan pisau bedah lalu dengan sigap ibunya menepisnya dengan tangannya hingga terluka. Ia seakan tak merasakan sakit pada tangannya karena memikirkan permata hati yang kini telah diujung maut.
“Jantungnya masih berdetak. Mengapa kalian hendak menutup wajahnya dengan kain bodoh ini? Kalian ingin mumbunuhnya?” Teriak ibu Dino kesal. Seorang perawat mencoba mendekat, “Maaf bu, tapi aortanya sudah pecah ia tidak mungkin bisa bernafas lagi.” Jelas perawat itu lembut. “Omong kosong, kalian tak pernah benar dalam bekerja. Arrgghhh!!!” Ibu Dino melepaskan impus dan segala macam yang menyangkut pada tubuh anaknya itu. Semua perawat berusaha mencegah dan menghalanginya, tapi Ibu Dino bak perisai yang tak dapat tertembus. Ia lalu membawa anaknya menuju pintu keluar ruang operasi itu.
Para dokter langsung mencegahnya dengan cara membius Ibu Dino, serentak tubuhnya langsung terjatuh dalam kelemahan berusaha menjaga agar matanya tak tertutup. Ia melihat seorang mengangkat anaknya ingin merebut permata hati, tapi sukar tuk meraihnya. Terus berusaha bangkit tapi tak bisa. Menyerah, menyerah dan menyerah hingga sungai dari mata murni seorang ibu mengalir lalu ia tertidur dalam keputusasaan.
Ia terbangun dalam relung, seberkas cahaya menyilaukan memenuhi mata sang ibu. Dino! Ya Dino! Teriak ibu yang berisi hati tulus itu. Ia melihat sang buah hati sedang bermain dengan kembarannya Bino. Lalu ia mendekat, tapi mereka semakin menjauh, saat bola terlempar ke arah ibu tercinta Dino mengambilnya, tersenyum pada ibu tercinta. Tetes air mata tak dapat membendung lagi. sungai dari air mata murni mengalir deras.
“Ibu?? Ayo kita main..” Dino mengulurkan tangannya. Ibu tercinta hendak menggapainya namun Bino langsung menarik Dino. “Jangan bicara pada orang asing!” bentaknya pada Dino. Pinang Bino hanya terdiam memandang ibu tercinta. “Bino ini ibu nak. Ini ibu. Aku yang melahirkanmu. Dan membesarkanmu serta menjagamu.” Rintih ibunya seraya berusaha membendung air sungai yang hampir meluap.
“Menjaga? Kau tak pernah menjagaku! Kau lebih menyayangi Dino dari pada aku. Bahkan kau rela mengorbankan jiwa ragamu hanya untuk Dino, bukan aku.” Bino kesal. “Tidak sayang, kau salah paham. Kasih sayang setiap orang tua selalu sama. Pada anaknya tak pernah dibedakan.” Ibunya membela diri.
“Tentu, terserah apa yang akan kau katakan.” Bino menarik tangan Dino, tapi ia melepaskan pegangan pinangnya, “Bino kau tidak boleh seperti itu, beliau ibu kita. Kita harus menghargainya dan menyayanginya sepenuh hati.” Dino membuat ibu tercinta tersenyum.
“Kau bicara seperti itu karena kau yang ia sayangi bukan aku!” Bino marah. Dino menjadi bingung harus berbuat apa. Ibunya pun mendekap, memeluk Bino erat., tapi Bino melakukan perlawanan. Hingga ibunya terjatuh.dino terkejut dan membantu ibunya berdiri.
“Bino, sudah hentikan!” bentak Dino. “Ibu tidak apa – apa?” Tanya Dino. Ibunya mengangguk. Lalu mendekat pada Bino. “Bino ibu minta maaf, ibu tahu ibu salah dan ibu sayang Bino. Ibu minta maaf, ibu minta maaf sayang. Ibu mohon maafkan ibu.” Pinta Ibunya.
“Bino, kumohon…” Dino memelas. Bino membuang muka, menghela nafas dan berkata dengan amat singkat. “Ya.” Bino mengatakan itu dengan terpaksa, ia tak sanggup melihat wajah belahan pinangnya itu sedih. Dino membantu ibu berdiri dan mendekatkan posisi Bino dengan ibu tercinta.
“Sekarang, Bino harus menggantikan Dino menjadi anak kesayangan ibu. Bino harus sabar untuk mendapat kebahagiaan. Kini, Dino harus pergi, ayah menunggu di sana. Da dah…” Dino melambaikan tangannya. Bino menahan tangis, “Tapi Bino sukar hidup tanpa Dino…huhuhu” Bino tak dapat membendung air hujan dari mata sucinya. Dino memegang pundak Bino dan memeluknya.
“Bino sayangkan dengan Dino?” tanya Dino pada Bino yang sedang menangis tersedu – sedu. Bino menangguk, “Kalau Bino sayang, maka jagalah ibu dan gantikan Dino. Suatu saat kita akan bertemu lagi. dan Dino tidak akan kemana – mana. Dino hanya menemani ayah. Ayah tidak ada teman di sana. Dino harus pergi sekarang. Ini bola ambil untuk Bino.” Kata Dino penuh hasrat kasih sayang.
“ Iya, terimakasih Dino. Tapi berjanjilah Dino akan kembali dan kita akan bertemu kembali.” Rengek Bino. Dino hendak menjawab namun segera berlari, “Mmh, Dino tak berjanji. Da dah ibu! Dadah Bino! Aku sayang Bino!!” teriak Dino dari kejauhan dan kini cahaya menghilang. Sepasang bola mata terbuka, kelam, dalam sekejap keadaan sedih membuka dengan bimbang.
“Dokter anak ini sudah sadar! Dokter!!” Teriak seorang perawat. Dan ada dua dokter dengan cekatan mengambil alat untuk mendeteksi detak jantung manusia. “Ajaib sekali, mustahil, mukzizat. Anak ini bisa hidup kembali.” Teriakkan heboh orang – orang sekeliling. Bino bingung, ia pun tertidur kembali. Setelah ia terbangun ia sudah berada di dalam kamarnya.
“Sayang, kau sudah bangun?” Tanya seorang wanita dengan suara lirih. Bino terbangun dalam kelam. “Ibu?” ia memastikan bahwa itu ibunya. “Iya, ini ibu sayang.” Jawab ibunya mendekat dan membelai kepala sang anak. “Dino dimana?” pertanyaan mengejutkan keluar dari mulut buah hati mungil. Ibunya yang menangis berkata, “Dia,..di…dia…” sang ibu tergagap dan anaknya berusaha membangkitkan diri walau hanya setengah badan.
“Ada apa bu?” Bino bingung sekaligus gundah. Ibunya terus menangis. Dan terus menangis. “Dino dan ayahmu sudah pulang.” Dengan sukar ibu mengatakan itu. Bino tersentak kaget. Bino langsung berdiri, berlari menuju kamar Dino. Keadaannya masih sama seperti sebelum ia tidur.
“Ibu bohong, kamar Dino masih berantakan dan lihat mainan kapal kami masih berada pada posisi itulah.” Bino sukar untuk percaya. Ibunya mendekap Bino dari belakang dan mengatakan dengan lirih, “Dino meminta agar barang – barang di kamarnya tetap pada keadaan seperti itu jangan sampai tergeser sejengkal pun. Bahkan bola sekalipun.” Tangis ibunya. Bino lalu menangis dan ia berlari menuju jendela luar, bola itu kehujanan masih pada posisi itu. Ia masih ingat tadi pagi hari begitu cerah mereka bermain bersama dengan bola itu dan….
Bino menatap ibunya, ibu pun mengangguk. Bino langsung menangis. “Tidak Dino! Dino! Aku sayang Dino!” teriaknya. Ibunya berusaha menenangkan anaknya walau dirinya sendiri belum terkendali.
Setelah hari itu Bino tidak mau sekolah, ia hanya menatap bola dan kamar Dino lalu menangis, terus seperti itu setiap harinya. Ibunya tak dapat membujuk Bino, hingga suatu hari Bino memberanikan diri masuk ke dalam kamar Bino dan tidur di dalamnya..
Di sana Bino mengalami mimpi indah bermain bersama Dino dan mendengar tawa ayahnya yang telah ia lupakan….
“ Tak peduli sekeras apapun kau berfikir bagaimana cara mengembalikan mereka yang telah tiada. Kau takkan menemukannya, tapi kenanglah mereka hingga mereka datang ke dalam relung kita.”