
SMP Negeri 1 Belitang adalah sekolah terbaik se-Oku Timur yang terletak di Kecematan Belitang Kabupaten Oku Timur Sumatera Selatan. Di kelas ini ujian nasional baru saja selesai diselenggarakan. Kini semua siswa/siswi hanya tinggal menunggu hasil akan tetapi mereka tetap masuk pada hari Senin dan Jumat untuk ikut serta dalam upacara bendera dan SKJ.
Disalah satu kelas ada siswa siwa yang sedang seru serunya membicarakan suatu hal..
Wah, apa kalian tahu Kitab Ramayana menghilang? Aula yang datang tiba tiba.
Iya, kira kira siapa yang mengambil Kitab itu? Dan apa gunanya? tanya Lyra pada teman teman.
Mungkin saja ada fungsi tertentu yang bisa digunakan si pencuri untuk kebutuhan individu atau kelompok mereka. jawab Clara.
Ah? Apa iya? Maling kok bisa pintar? Atika tidak percaya.
Ya Allah . teriak teman temannya kompak.
Tapi mungkin saja pencuri itu hendak menjual kitab itu pada orang lain dan orang itu akan meminta tembusan pada kepala museum. tambah Senna.
Ah, kalian ini apa yang pernah kalian dengar di televise kalian sangkut pautkan dengan masalah ini. Ckck.. decak Lyra mengejek.
Lalu menurut prediksimu mengapa pencuri itu mencuri Kitab Ramayana.?? Senna membela diri.
Dia hendak membetulkan kata kata yang agak ganjal dalam kitab itu karena itu mengkisahkan kisah cinta Rama dan Dewi Shinta yang cantik jelita. Jelas Lyra percaya diri seraya memperagakan gerakan seorang mencari cinta.
Iya, seperti aku cantiknya. kata Fathia.
Teman teman yang lain langsung memperagakan seorang yang sedang muntah.
Wek, muntah darah Fat, Fat!!! komentar Atika.
Hahaha, tawa Fathia menggelegar.
Sudahlah, kembali ke lap kata Chinde,
Top lanjut teman teman yang lain.
Tapi Lyra bagaimana kau bisa berfikir kalau itu semua adalah karena kesalahan dalam Kitab? tanya Chinde bingung.
Keganjalan? kata Anggi membetulkan.
Iya, itu Chinde tidak mau kalah.
Hehe, yah tebak tebak sajalah! Dari pada tidak sama sekali? Hayooo? jawab Lyra.
Yah iya juga sih.. kata Senna.
Udah yuk pulang. Anak anak kelas lain sudah pada pulang tuh!! ajak Clara.
Oke! jawab mereka semua kompak.
Lalu mereka pulang ke rumah masing masing kecuali Lyra dan Clara mereka hendak bersiap siap untuk menghadiri acara makan malam. Membeli baju, dan segala macamnya. Lalu Lyra mengajak Clara untuk membeli aksesoris di sebuah toko yang agak tua di dekat rumah Lyra.
Di sana memang tempatnya terlihat agak kusam akan tetapi jika kalian masuk ke dalamnya kalian akan melihat hal yang sangat menakjubkan bagaikan memutar waktu ke masa lalu.
Lyra masuk dengan sangat berhati hati karena benda benda di dalam toko ini benar benar sangat tua diikuti Clara.
Lyra, dari mana mereka mendapatkan barang barang seperti ini? tanya Clara penasaran.
Entahlah memangnya aku pakarnya barang barang tua? jawab Lyra.
Lalu datang seorang wanita setengah baya cantik nan jelita persis seperti yang terkisah dalam cerita Ramayana.
Ada yang bisa saya bantu? tanya wanita itu sopan.
Iya, kami ingin membeli aksesoris untuk pesta makan malam. Biskaah kau memilihkan benda yang bagus untuk malam ini? jawab Lyra.
Tentu saja aku punya. Kalian ingin yang berpasangan atau yang tidak? wanita itu mencari barang yang cocok pada lemari lemari kayunya yang terukir indah bagai dipahat oleh para bidadari dari khayangan.
Sedangkan Lyra dan Clara hanya saling menoleh dan bingung dan dengan serempak Lyra dan Clara berkata.
Tidak! Iya! kata mereka berdua kompak.
Lalu mereka slaing menoleh. Clara menjawab tidak, sedangkan Lyra iya. Dalam hatinya Lyra bertanya tanya mengapa Clara tidak ingin memiliki barang sama dengannya. Padahal selama ini barang yang mereka beli selalu sama.
Mengapa kamu tidak ingin memiliki barang yang sama denganku? tanya Lyra.
Tidak apa apa, lagi pula barang kita kan sudah banyak yang sama malah hamper semua barang yang kita punya dari kecil selalu sama. Aku hanya ingin berbeda. Kamu tidak tersinggungkan? jawab Clara.
Iya, aku hanya bingung, aneh, penasaran dan tidak biasa. kata Lyra pada Clara yang sudah pergi entah kemana.
Mengapa sahabtmu seperti itu? Tidak seperti yang kau ceritakan. Kamu bilang dia adalah seorang yang sangat baik dan kalian selalu sehati? tanya wanita membaca kondisi.
Ah? Iya? Maaf aku juga tidak tahu. Lyra terbangun dari lamunan.
Sudahlah lupakan sahabatmu ada di mejaku ia ingin meramal masa depannya. wanita itu merangkul Lyra dan menggiring Lyra menuju mejanya.
Baiklah, tapi bagaimana kau bisa tahu dia di sana dan ingin meramal masa depannya? Lyra bingung.
Wanita itu hanya tersenyum dan terus merangkul Lyra hingga di depan Clara ia berbisik pada Lyra.
Aku punya pendengaran yang sangat tajam. Mau tahu bagaimana caranya? kata wanita itu.
Suatu saat kau akan tahu sendiri bagaimana caranya, kata Lyra menebak fikiran wanita itu. Wanita itu hanya tersenyum dan Clara melihat mereka berdua sinis. Wanita itu hanya memberikan senyuman menyeramkan pada Clara.
Kau ingin diramal tentang apa? tanya wanita itu pada Clara seraya melihat telapak tangannya.
Tentang sesuatu yang paling menakjubkan yang akan ku alami semasa hidupku. jawabnya tegas.
Tapi Clara, apa kau yakin akan melihat semua itu? Akankah lebih baik jika waktu yang menentukan dan kau jalankan saja sesuai cerita dalam takdir kita bersama. Saran Lyra tapi Clara hanya mendengus dan wajahnya tampak tidak senang.
Mmh, maaf tapi itu hanya saran. Jika kau tetap ingin melihatnya. Ya,, lihat saja. Lyra mengatkannya dengan nada yang agak khawatir.
Baiklah kalau begitu akn ku ramalkan nasib yang kau inginkan . Wanita itu mulai melihat dan mengukir garis garis kehidupan pada telapak tanagn Clara dan seketika cahaya keluar dari tangannya.
Lalu ketika cahaya meredup Lyra tidak menemukan siapa pun dalam ruangan itu hanya ada sebuah kalung berbentuk sabit berwarna merah hati yang berkilau indah dan ketika Lyra mengambil kalung itu tempat yang semula adalah toko berubah menjadi sebuah gua.
Dalam kebingungannya Lyra memanggil manggil nama Clara. Dan seketika ia melihat Clara dalam dinding gua tapi ia tak dapat menyentuhnya. Dalam bayangan itu tampak Clara yang tak senang dengan Lyra. Dan ia mengatakan,
Aku benci dirimu meski kau sahabatku. Aku tidak ingin kau dekat dengannya lagi. pergi kau dari dunia ini! Sesegera mungkin. teriaknya.
Lyra yang mendengar tak mampu menahan kesedihan dan berlinang lah air mata suci dari mata Lyra yang indah bagaikan mathari di pagi hari. Lalu terdengarlah suara wanita penjaga toko.
Kau ingin menemukan sahabatmu? Carilah dia! Temukan dia . katanya dengn suara yang bergema.
Tapi, bagaimana caranya? tanya Lyra seraya menangis.
Lawan semua rasa dalam dadamu dan lakukan semua dengan baik, kumpulkan 3 benda ini, pertama carilah dua alat musik yang namanya hampir serupa tapi dari daerah berbeda dan daerah tersebut sangatlah berjauhan, bergeraklah dengan kekasihmu pada ujung selatan pulau, dan yang terakhir temuilah sahabatmu di rumah berakit rakit dalam 17 hari. Jika dalam 17 hari kau belum samapai ke rumah itu, maka kau tidak akan pernah melihat sahabatmu lagi selama lamanya. jelas wanita itu yang entah asalnya dari mana.
Lalu bagaimana caraku menuju tempat tempat yang kau katakan itu? Dan apakah yang harus kulakukan agar bisa menuju rumah itu? Lyra bingung.
Carilah 2 temanmu yang benar benar tulus padamu. Minta tolonglah pada mereka. Lalu jika kau ingin menuju rumah itu ikuti saja kalung yang sedang berada di tanganmu itu. Ia akan memberikan petunjuk. Dan membantumu menyelasaikan semua masalahmu. jawab wanita itu.
Tapi bagaimana caranya? Bagaimana aku mengetahui mana orang yang benar benar tulus padaku? Dan bagaimana aku tahu kalau 17 hariku sudah kumulai atau sudah berakhir? Lyra melihat kalung pada tangannya dan tanpa sengaja air matanya terjatuh ke kalung itu.
Kalung itu akan berubah warna menjadi warna biru jika waktu akan habis dan semakin waktu berkurang maka kalung itu akan semakin mendekati warna putih. Kalung itu akan bersinar emas jika menemui orang yang tulus padamu. kata wanita itu yang suaranya semakin samar.
Dan bolehkah aku menanyakan satu hal? Mengapa kau mau membantu orang yang menginginkanmu mati? Hahahaa,,, suara wanita itu langsung menghilang.
Karena dia adalah sahabatku. jawab Lyra tanpa menyadari bahwa wanita penjaga toko telah menghilang entah kemana.
Lyra melihat gua sekeliling begitu gelap lalu ia letakkan kalung sabit merah itu di dadanya dan seketika cahaya biru keluar dari kalung itu. Dan seekor burung kecil tiba tiba ada di pundaknya. Seketika Lyra tersentak kaget dan ia menjatuhkan burung itu.
Siapa kau??? katanya seraya berjalan mundur.
Hei aku ini penolongmu aku yang akan membantumu menemukan temanmu itu. Namaku Biru. jawabnya lalu terbang mengelilingi kepala Lyra.
Bagaimana mungkin kau bisa keluar dari kalung sabit itu? Lyra takut.
Entahlah, aku saja tidak tahu kapan aku harus keluar dan kapan aku harus masuk semua itu terjadi begitu saja tanpa aku sadari. Jawabnya mendekati Lyra.
Lyra pun berhenti melangkah, lalu ia menhembuskan nafas dan menghadap burung itu seraya memandang remeh burung itu lalu ia menunjuk burung tersebut.
Hahaha, kau fakir aku ini bodoh? Kau fakir aku ini anak kemarin sore? Mana ada burung yang keluar dari kalung dan bisa berbicara. Ha!!! Tidak mungkin?! Lyra membelalakan matanya.
Apa? Kau bilang tidak mungkin? Lalu yang sedang kau hadapi ini kau anggap apa? Dan bagaimana dengan penyihir yang ada di toko itu dan mengapa kau bisa berada dalam Gua Buaian? Kau fikir ini semua lelucon? Burung Biru sebal.
Ha? Inikan hanya mimpi. Sebentar lagi aku akan terbangun dari tidurku. Wekkk!!! Lyra memeletkan lidahnya ;p
Terbangun? Ha!! Kau ini benar benar orang yang paling menyebalkan yang pernah aku temui. Jika kau fikir ini semua mimpi bangun saja kalau kau bisa. Biar kutunjukkan bahwa ini semua bukanlah mimpi! Burung Biru menggigit pipi Lyra hingga memerah.
Auuwww!!! teriak Lyra sakit.
Kau burung aneh! Pergi!!! Lyra mengusap pipinya yang sakit.
Hei jika aku bisa pergi aku akan pergi dari saat Dewa Rama menghilang dan mencari .. Burung Biru terdiam.
Rama? Mmh? Dewa? Apa maksudmu? Apanya yang hilang? Lyra penasaran hingga melupakan rasa sakit f\di pipinya.
Tidak penting bagimu. Apa pipimu masih sakit? Burung Biru mengalihkan pembicaraan.
Oh iya auuuuww sakit sekali kau ini keterlaluan untuk apa kau menggigitku dengan gigi tajammu yang runcing bagai pensil baru diraut. Kau ini. Baru juga kenal sudah berani berkelakuan aneh!! Dasar tidak tahu sopan santun!! Jika kau di Jawa Barat kau adalah burung yang paling tidak sopan yang ada di sana dan asal kau tahu . Omelan Lyra dipotong Burung Biru.
Hentikan! Cukup dengan omelanmu yang tidak berguna itu. Aku capek mendengarnya. Lagi pula itu di Pulau Jawa bukan Sumatera apalagi Palembang yang sebagian besar penduduknya Komering, Ogan, atau apa lagi itu aku tidak mengerti. Aku mencubitmu bukan kemauanku tapi gigiku yang kebetulan terasa gatal. Burung Biru terbang ke atas dan ke bawah naik turun gua.
Menyebalkan sekali kau ini padahal baru saja menjadi burung sudah seperti manusia saja. Hu! Lyra berjalan ke luar gua.
Hei tunggu nyonya menyebalkan!! Lyra langsung menoleh ketika Burung Biru berkata demikian.
Ha? Apa kau bilang Nyonya? Menyebalkan? Kau itu yang lebih menyebalkan. Haaaahhhh!!! Aku lelah! Hanya untuk menyelamatkan sahabat saja susahnya minta ampun! Hah! Lyra menjambak rambutnya.
Sahabat? Jadi dia itu sahabatmu? Pantas saja ia tak menyukaimu, kau saja bawel nan menyebalkan seperti ini!! Burung Biru bersiul siul.
Lyra langsung melotot dan ia menarik burung itu dan meletakkannya di tanagn kanan Lyra. Burung Biru merasa terancam. Lalu ia kembali menghilang dan ternyata ada suara dari kalung itu.
Hei, jika kau terus berkelakuan kasar seperti ini aku enggan untuk menolongmu. teriak Burung Biru dari dalam Kalung Sabit Merah.
Memangnya siapa yang akan berlaku kasar? Aku hanya ingin menanyakan kebenaran perkataanmu. Ia tidak menyukaiku? Mengapa? Lyra melihat kalung itu.
Akan ku perlihatkan apa yang ia katakan pada dinding gua. Dan bicaralah dengannya. Jawab Burung Biru.
Seketika cahaya berubah menjadi hijau dan dinding dinding gua berubah menjadi seperti kamar Clara. Di sana Lyra melihat betapa marahnya Clara. Dalam hatinya Lyra bertanya tanya apa yang menyebabkan Clara bisa semarah itu. Apakah benar ia marah kepadanya? Lalu seperti Clara mendekat pada Lyra.
hei kau dengarkan! Aku tak menganggapmu sebagai sahabatku. Aku membencimu. Semua orang selalu mengagumimu, bahkan orang yang ku suka saja kau ambil. Kasih sayang orang orang yang ku kenal hilang semua karena kau!!!! Aku tak bisa menahannya sebenarnya apa tujuanmu bersahabat denganku?
Lyra terkejut mendengar kata kata Clara, ia sedih dan kecewa dengan sahabatnya. Lyra tak mampu berkata. Tapi benar apa yang dikatakan Clara bahwa Lyra memang seperti mengambil semua kasih sayang itu tapi itu semua terjadi begitu saja tanpa ia rencanakan.
Clara, kau salah paham. kata Lyra lembut.
Dan cahaya kembali berwarna biru dan gua kembali seperti semula. Burung Biru keluar dari kalung itu.
Sudahlah, lebih baik kau fikirkan lagi untuk menolongnya. Dia saja seperti itu padamu. Dan waktumu tinggal 16 hari 17 jam 46 detik lagi. kata Burung Biru.
Apa? Memangnya sejak kapan aku memulainya? Aku bahkan belum berfikir apapun. Lyra bingung.
Saat kau memasuki toko itu waktumu berjalan. jawab Burung Biru.
Benarkah? Apakah aku bisa menggunakan waktu ini dengan baik? tanya Lyra pada dirinya sendiri.
Tenanglah, dalam Kitab Ramayana yang mengisahkan perjalan Rama tidak ada kata tidak bisa. Rama melakukan semua dengan baik. Burung Biru memberi semangat dan Lyra tersenyum.
Terimakasih kata katamu seperti seorang kakak yang tengah memberi dorongan dan nasihat pada adiknya. Kalau begitu, ayo kita ke rumahku. Dan kita akan mulai mencari orang orangnya yang dimaksud penjaga toko. Lyra mulai bersemangat kembali.
Baiklah. seketika Burung Biru langsung menghilang dan kembali ke kalung.
Mengapa kau harus masuk? Lyra lupa perkataan Burung Biru bahwa itu bukan kehendaknya. Seperti telefon genggam yang otomatis mengunci jika sudah waktunya.
Kau lupa apa yang ku katakan tadi? Burung Biru terdengar kesal.
Kata kata???...... Lyra mencoba mengingat dan membuka memorinya.
Ah, iya aku ingat baiklah kalau begitu. Ayo kita kembali ke rumah. Lyra keluar dari gua. Dan seketika gua itu menghilang.
Hei mengapa gua Buaian itu menghilang? Lyra bingung.
Memang, agar tidak ada orang lain yang sembarangan masuk ke sana. Kita akan kembali ke sana jika waktunya. Jangan pernah ke gua jika tidak ada keperluan atau kau sengaja memasuki gua itu. nasihat Burung Biru.
Tapi kenapa? Lyra mulai bicara dengan bahasa keseharian.
Karena mimpi buruk akan selalu datang disetiap malammu dan akan menjadi kenyataan. jawab Burung Biru.
Ah, begitu baiklah. Lyra meninggalkan temapt itu dan pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya saat di sekolah, ia melihat teman temanya sedang berkumpul seperti biasa. Ia berusa berhati hati agar kalungnya tidak terlihat karena di SMP NEGERI 1 Belitang dilarang memakai kalung.
Saat Lyra meletakkan tas ia tak sengaja melihat Fari yang duduk sendirian di tempat duduknya. Lalu tanpa disadari Lyra teman teman sekelasnya melihat.
Cieh Lyra, temanin Fari gih. goda Atika.
Iya kasihan tuh sendirian. tambah Senna.
Iya,cepat lah kasihan tuh udah nungguin. teriak Fathia sehingga Fari langsung menoleh pada Lyra.
Lyra menjadi salah tingkah sendiri. Ia hanya membuang muka dan berusaha tak tersenyum dan menutupi mukanya yang memerah. Lalu berkata,
Apaan sih? Kalian ini. Ah kata Lyra membuang muka.
Ciehhhh teriak teman teman sekelasnya. Fari hanya tersenyum konyol sendiri.
Tiba tiba Lyra merasakan kalung itu sedikit bercahaya da Lyra coba mencari pada siapa kalung itu bercahaya. Teman temannya tidak tahu Lyra pergi. Waktu seolah berhenti bahkan daun yang sedang diterpa angin berhenti diudara.
Lyra dengan sigap mencari lalu pada Farilah kalung itu bercahaya terang. Lyra kini telah menemukan satu orang tinggal seorang lagi. dan waktu bergerak kembali.
Cie,,, Lyra menemani Fari. seketika Olla berkata dan semua teman teman sekelas Lyra langsung bertepuk tangan. Fari terlihat bingung. Lalu Lyra keluar kelas.
Fari yang saat itu juga ingin membeli makanan di kantin juga ikut keluar dan hal ini membuat teman teman Lyra bertambah antusias menggoda kedua temannya itu yang sedang tersipu malu.
Lyra berhenti ketika menyadari Fari mengikutinya.
Kenapa kau mengikutiku? tanya Lyra
Mengikutimu? Siapa? Aku? Tidak!! Enak saja, aku hanya ingin membeli makanan ringan di Mbak Yani kok. Fari melewati Lyra begitu saja dan tiba tiba berhenti.
Oh ya, bagaimana kau bisa mengendalikan kalung itu? tanyanya pelan agar tidak menarik perhatian teman teman yang lain.
Lyra langsung menutupi kalungnya dengan kerah bajunya, dan membawa Fari ke taman sekolah.
Ssuutt, tolong jangan beri tahu yang lain bahwa aku memakai kalung jadi tadi kau menyadari bahwa kalung ini bersinar? tanya Lyra.
Tidak, aku hanya ingin tahu seperti kalung itu terus mengeluarkan suara seperti alat musik apa itu aku lupa jawab Fari.
Benarkah? Lyra bingung karena ia sendiri tidak mendengarnya.
Iya, kau kan Mpunya kalung mana mungkin tidak terdengar. kata Fari seraya mendekati Lyra.
Apa yang kau lakukan? Lyra berjalan mundur.
Aku hanya ingin melihat kalungmu. kata Fari tenang.
Tiba tiba Lyra mendengar bisikan dari Burung Biru, jangan!!!!
Tidak!!! Lyra menutupi kalungnya dengan kedua tangannya.
Baiklah kalau begitu, kata Lyra dalam benaknya ia bingung. Ia bertanya tanya bagaimana menjelaskan pada Fari tentang Clara, Burung Biru dan Penjaga Toko, serta Kalung Sabit Merah.
Lyra pun memejamkan matanya dan dalam bayangannya terlihat Burung Biru memberi tahu jalan keluarnya,
Katakan saja apa yang kau alami jika ia menanggapi maka artinya waktu mengizinkannya. Cepatlah waktumu tingal 15 hari 14 jam 31 detik.
Lyra pun langsung membuka matanya kembali.
Begini akan ku ceritakan padamu . Lyra bercerita pada Fari apa yang telah ia alami.
Jadi maksudmu aku adalah salah satu orangnya? Fari menanggapi. Lyra langsung melompat girang.
Kenapa? Fari bingung dengan tingkah Lyra
Tidak apa apa. Jadi bagaimana? Lyra bertanya penuh harap.
Mmh,, hitung hitung mengisi waktu liburan. Baiklah. Fari setuju, Lyra pun tanpa sadar memegang tangan Fari seraya melompat girang dan mengucapkan terimakasih.
Upss, maaf. Ayo kembali ke kelas. Lyra malu dengan tingkahnya. Dan mereka kembali ke kelas. Saat di kelas seperti tadi mereka semua menyoraki Lyra dan Fari. Tapi mereka berdua tidak peduli. Dan bel pulang untuk kelas sembilan pun berbunyi. Semua anak anak berdesakan di pintu.
Oh ya, nanti kalau bisa kau ke rumahku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan. kata Lyra saat berpapasan dengan Fari di depan pintu. Fari hanya mengangguk lalu pergi.
Siangnya Fari menepati janji, ia datang ke rumah Lyra. Dan Lyra mempersilahkan Fari masuk, tapi Fari menolak karena ia malu. Dan ia mendengar Burung berkata langsung saja dan Lyra pun kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket karena waktu itu hari saat panas.
Terimakasih sudah mau datang, ayo ikuti aku. ajak Lyra.
Fari hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Lyra di tenagh perjalanan kalung itu bersinar lagi pada tetangganya yang dulu adalah sahabatnya. Orang itu adalah Nila, kau akan tahu sifatnya jika kau sudah dekat dengannya.
Lyra berhenti diikuti Fari, lalu ia mendekati Nila dan mengajaknya bicara. Agak lama mereka berbincang dan sepertinya ada sedikit perlawanan. Nila tidak percaya dengan cerita Lyra, saat Fari datang Nila langsung membenarkan pakaiannya dan merapikan rambutnya. Dan bersikap manis. Sedang Lyra hanya terlihat sebal.
Apa dia juga ikut? tanya Nila manis.
Iya!! jawab Lyra kasar.
Coba dari tadi kau datang sehingga tidak menyulitkanku untuk bicara dengan orang seperti dia. Lyra langsung melewati Fari dan Nila dan berjala menuju gua.
Hei Lyra tunggu. Fari mengejar Lyra diikuti Nila.
Dalam hatinya Lyra sangat dongkol, lalu berkata dengan Burung Biru yang berada di Kalung Sabit Merah . terdengar butung berkata, sudahlah Lyra, tabah saja.. Lyra langsung menghentikkan langkahnya.
Kau bilang orang yang tulus membantu? Kenapa dia? Lyra sebal. Fari dan Nila yang melihat Lyra bicara pada kalung merasa aneh.
Yah, mungkin memang belum sekarang terlihat ketulusannya. Tapi nanti ka akan merasakan ketulusan mantan sahabatmu itu. kata Burung Biru bijak.
Terserah. Lyra telah berdiri di depan gua lalu gua terbuka. Fari dan Nila yang melihatnya langsung berlari sekencang mungkin dan mengikuti Lyra yang masuk ke dalam gua.
Wahh, tempat apa ini? kata Nila kagum.
Ini Gua Buaian. Aku akan menceritakan apa saja yang perlu kita cari secara detail. Lyra lalu memejamkan mata dan ia memegang kalungnya dan seketika cahaya hijau keluar dari kalung itu dan memperlihatkan semua yang dikatakan si Penjaga Toko.
Fari dan Nila terlihat menelan ludah bahkan ketika semua sudah ditampilkan merka hanya terpaku dalam lamunan. Lyra memastikan bahwa mereka takut.
Jika kalian takut kurungkan saja niat kalian untuk ikut denganku. Lyra sinis.
Siapa yang kau bilang takut? Aku? Tidak!! Aku akan ikuti terus jalan ceritanya. kata Fari tegas.
Bagus, bagaimana denganmu? tanya Lyra pada Nila.
Tentu aku akan ikut. katanya dengan nada bergetar.
Baguslah, waktu kita tinggal Lyra melihat kalungnya lalu menggenggamnya. Kini Lyra seperti sudah dekat dengan kalung yang warnanya agak membiru itu.
15 hari 7 jam 11 detik. lajut Lyra.
Bagaimana kau bisa tahu bahwa itu waktu kita tinggal 15 hari 7 jam 11 detik? tanya Fari penasaran
Tidak penting. Oh ya. Bagaimana kalau kita ke Perpustakaan Daerah siapa tahu di sana kita bisa menemukan 2 alat musik yang mempunyai nama hampir serupa tapi dari daerah yang berbeda. Usul Lyra.
Fari dan Nila mengangguk, lalu mereka kelur dari Gua Buaian dan pergi ke perpustakaan Daerah untuk mencari informasi. Sesampainya di perpustakaan mereka berpencar karena perpustakaan ini begitu luas. Tanpa mereka sadari 2jam sudah mereka di sana.
Lalu Lyra bertanya pada Fari dan Nila,
Apakah kalian sudah menemukan sesuatu?
Belum jawab Fari dan Nila serempak.
Huh , bagaimana ini? Hari sudah semakin sore. Lyra khawatir.
Bagaimana kalau kita lanjutkan besok? kata Nila.
Fari dan Lyra mengangguk setuju. Saat hendak keluar dari perpustakaan, kalung Lyra bersinar dan ia berhenti di rak buku nomor 2 pintu keluar.
Hei Lyra, cepatlah! Nila menarik tangannya.
Mereka pun pulang ke rumah masing masing , lalu saat tiba di rumahnya Lyra langsung melakukan aktivitas seperti biasa dan pada malam harinya ia melepaskan kalung itu dan mengunci pintu kamarnya. Lalu Burung Biru keluar dari kalung itu.
Wah . Enaknya kalau bebas. katanya seraya terbang di langit langit kamar Lyra.
Hei, pelankan suaramu agar tidak terdengar oleh keluargaku. kata Lyra seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir mungilnya.
Terdengar? Ha tidak mungkin hanya kau yang bisa mendengarku. Dan orang tertentu yang terpilih. jelas Burung Biru lalu hinggap dipangkuan Lyra.
Oh ya, Biru. Aku ingin bertanya, tadi saat kita hendak keluar dari perpustakaan mengapa kalung ini bersinar di salah satu rak buku di perpustakaan? tanya Lyra.
Mmh, itu karena di sana ada buku petunjuk mengenai alat musik sihir yang pernah dimainkan Rama dan Shinta. jawab Burung Biru.
Alat musik apa itu? Lyra penasaran.
Mana aku tahu, yang jelas kalungmu akan terus bersinar jika melewati atau menemukan sesuatu yang bersangkutan dengan Kitab Ramayana dan Kisah Rama dan Shinta. jelas Burung Biru.
Mmh, berapa waktu yang tersisa? tanya Lyra lagi.
14 hari 23 jam 71 detik. jawab Burung Biru tegas.
14 hari? Mengapa cepat sekali? tanya Lyra yang terkejut.
Itulah waktu Rama dalam Kitab Ramayananya, semakin mendekati akhir semakin cepat waktu berjalan. Karenanya cepatlah kau selesaikan semua ini. saran Burung Biru.
Huh, tapi aku merasa lelah. Lyra menundukkan kepala.
Jika lelah lebih baik tidak usah menyelamatkannya. Kata Burung Biru seraya terbang dari pangkuan Lyra.
Tapi mau bagaimana lagi dia adalah sahabatku dari kecil. kata Lyra lirih.
Yah, itukan terserah padamu. Kalau aku jadi kau aku tidak akan mengorbankan temanku hanya untuk orang seperti Clara. kata Burung Biru yang terbang di langit langit kamar Lyra.
Apa maksudmu? Begitu begitu dia sahabatku. Lyra kesal.
Sahabat katamu? Sahabat macam apa yang menginginkan sahabatnya meninggal? Kurasa ia tidak tulus menganggapmu sebagai sahabat. Burung Biru mendarat di atas meja belajar Lyra.
Hei itu semua bukan urusanmu, lagi pula kurasa si Penjaga Toko itu hanya ingin aku dan Clara berpisah. Clara itu orang yang baik tidak mungkin ia berkata sperti itu. Lyra kesal setengah mati.
Terserah, itu hanya jebakan Penjaga Toko atau bukan. Tapi aku merasa kalau dia memang bukan orang yang baik baik. Bukannya apa tapi biasanya penilaianku tentang orang tidak pernah salah. Burung Biru terbang mendekat Lyra.
Kau ini selalu saja ikut campur urusan orang lain. hentikan semua ini aku lelah. Aku mau tidur. Lyra berbaring lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dan tertidur. Sedangkan Burung Biru kembali ke dalam kalung yang sekarang berwarna biru tua.
Keesokan harinya tepat pukul 10.00 WIB Lyra, Fari dan Nila kembali ke perpustakaan dan mencari buku. Lalu Lyra teringat dengan kalungnya yang bersinar di rak buku nomor dua. Ia pun langsung mencari di rak buku nomor dua, tapi hasilnya nihil. Lalu kalungnya bersinar lagi dan dengan sigap ia mengitu kemana cahaya itu. Dan ia menemukan buku yang sudah berdebu dan di dalamnya ia menemukan dua alat musik tradisional Sunda dan Nias. Namanya adalah Arumba dan Armaba.
Lyra pun lngsung memberi tahu teman temannya. Dan setelah itu mereka mencatat hal hal penting pada alat musik itu. Setelah itu mereka meminjamnya dan pergi ke Gua Buaian. Saat mereka masuk ke dalam Gua Buaian ternyata mereka berada dalam hutan pedalaman. Burung Biru pun keluar dari kalung.
Cepatlah cari Lyra, waktumu tinggal 10 hari lagi.. kata Burung Biru dengan tergesa gesa.
Bagaimana mungkin semalam saja 14 hari. Lyra panik.
Entahlah tetapi jam pasirku menunjukkan 10 hari 1 jam 57 detik. jelas Burung Biru.
Baiklah kalau begitu, ayo teman teman. ajak Lyra.
Tidak, tempat apa ini? Nila bergerak mundur.
Apa? Tapi kau bilang kau ingin ikut. Jika begini lebih baik dari awal kau tak usah ikut. Kau ini benar benar menyebalkan. Lyra kesal.
Tapi kau tidak bilang kita akan melewati fortal waktu dan berada di tempat seperti ini. Nila ketakutan.
Siapa juga yang tahu kalau kita akan melewati fortal waktu? Kau sama sekali tidak berubah, penakut! Lyra merasa kekesalannya telah memuncak.
Apa? Kau bilang? Aku tidak penakut, seharusnya aku tahu dari awal aku tidak akan ikut denganmu. Kalau begini jadinya. Kau juga tidak berubah, kau masih sangat temperamental karenanya kau itu selalu ditinggalkan sahabat dan teman temanmu. Lyra tersinggung.
Ya, memang. Lalu kenapa? Kau hanya menghabiskan waktuku. Lyra melewati Nila dan berjalan menuju hutan.
Kembalikan aku. Aku ingin keluar dari sini. pinta Nila.
Kalau kau ingin keluar sudah keluarlah. Aku tidak membutuhkanmu. Lyra tidak menoleh pada Nila.
Hei kalian, sudahlah. Sekarang bukan saat yang tepat untuk bertengkar. Fari melerai Lyra dan Nila. Sedangkan Burung Biru hanya bingung harus berbuat apa.
Oh, apa kau juga ingin keluar? Silahkan jika kau ingin keluar. Aku tidak membutuhkan kalian. Lyra terus berusaha menahan amarahnya.
Kau ini keterlaluan Lyra! Kami di sini untuk menolongmu. Aku mengerti kau sedang khawatir dan panik. Tapi tidak harus seperti inikan? Fari jadi ikut kesal.
Kalian yang membuatku kesal! Jika dari awal kalian tidak memberi harapan kosong padaku, semua ini tidak akan terjadi! bentak Lyra.
Harapan kosong? Siapa? Kami memang serius ingin membantumu, mmh setidaknya aku serius untuk membantumu. kata Fari mendekati Lyra.
Cukup sudah, Lyra kau ini harusnya bersyukur masih ada yang ingin membantumu. Kata Nila mendekati Fari dan Lyra.
Kau itu bilang saja kalau ikut hanya igin mendekati Fari. Bukan dengan ketulusan! Nila tersentak kaget.
Apa? Jaga mulutmu Lyra! Jangan asal bicara, dasar memangnya aku wanita genit sepertimu? Nila membalas dengan kata kata yang lebih kasar.
Genit ? siapa yang kau maksud dasar kau ini kata kata Lyra di potong Burung Biru.
HENTIKAN!!!!! Kalian ini terlalu kekanak- kanakan. Waktumu kini tinggal 3 hari 12jam 98 detik Lyra! Jika kau tidak berhasil menyelamatkan Clara perjuanganmu akan sia sia. Sekarang kita ada di dalam fortal waktu. Semakin kita lama di sini waktu akan terus berjalan semakin cepat. Jadi ayo kita cari alat musik Sunda yaitu Arumba dan dari Pulau Nias Armaba. Burung mempertegang suasana.
Burung itu benar, ayo cepat. Hentikan pertengkaran ini. Waktu semakin cepat berjalan. kata Fari bijak.
Huh! Baiklah. Ayo, Lyra masuk ke dalam hutan di susul Fari dan Burung Biru sedangkan Nila dengan ragu ragu masuk ke dalam hutan. Mereka terus berjalan, dan mereka menemukan suku Angkola yang berasal dari Sumatera dan Lematang dari Sumatera Selatan. Mereka tampak sedang mengadakan upacara,
Hei mengapa kedua suku Sumatera ini memegang alat musik tradisional Sunda? Lyra bingung.
Rama pernah memisahkan kedua alat musik ini agar tidak bersatu kembali dengan cara memberinya pada suku Sumatera. dan sepertinya usahanya gagal. jelas Burung Biru.
Lalu bagaimana cara kita mengambil kedua alat itu? tanya Nila bingung.
Tenang aku akan menyamar menjadi kepala suku lalu akan keberikan kedua alat itu pada kalian. Tapi cepat karena waktu terus mengejar, kata Burung Biru lalu terbang dan berubah menjadi kepala suku.
Burung Biru telah berbicara dengan bahasa kedua suku tersebut dan alat musik itu langsung terbang. Dan Lyra dengan cekatan menangkapnya, lalu entah bagaimana caranya Lyra bisa meminkan Arumba dan Armaba dimainkan oleh Nila. Semua suku tersebut langsung menghilang saat mereka memainkannya.
Sekarang mereka berada disebuah pulau antah berantah, lalu kedua alat musik itu berhenti bermain.
Sekarang bergeraklah dengan kekasihmu di ujung pulau selatan. Apa maksudnya? Lyra bingung.
Mmh, kurasa yang dimaksud adalah tarian. Tebak Nila.
Tarian? Tarian apa? tanya Lyra.
Entahlah, yang pasti berpasangan. Di ujung selatan? mereka semua berfikir.
SUMATERA SELATAN!!! kata mereka serempak.
Benar, karena di Sumatera Selatan ada tarian tradisional Pagar Pengantin . kata Lyra bersemangat.
Tapi siapa yang harus menari? Dan siapa yang bisa melakukannya? tanya Nila kembali. Lalu Burung Biru bersiul dan alat musik itu bernyanyi mengelilingi Lyra, Fari dan Nila. Lalu kedua alat musik berhenti di depan Lyra dan Fari.
Apakah kami yang harus menari? tanya Fari, Burung Biru mengangguk.
Iya, cepatlah waktu kalian tinggal 1 hari 9 menit. jawab Burung Biru.
Tapi bagaimana caranya? Kami tidak pernah menari Pagar Pengantin. kata Lyra khawatir.
Tenanglah pejamkan mata kalian lalu satukan hati dan mulailah mendengar alunan lagu dari kedua alat musik ini. Maka dengan sendirinya kalian akan menari. jelas Burung Biru.
Mereka melakukannya sesuai dengan yang dikatakan Burung Biru. Lalu mereka pun menari dengan indahnya, sedangkan Burung Biru dan Nila melihat mereka kagum dan fortal waktu mengeluarkan cahaya putih menyilaukan mata.
Dan mereka kini telah berada di suatu ruangan gelap nan gulita. Mereka semua lalu berpegangan tangan.
Sejarang apa yang harus kita lakukan? tanya Lyra dalam ruangan itu.
Itulah yang harus kalian fikirkan waktu kalian 3 jam . kata Burung.
Apa? Oh Tuhan, bantulah kami . Aku harap semua ini segera berakhir. Dan kembalikanlah sahabatku. Lyra melepaskan salah satu tanganya dan memegang kalungnya yang warnanya semakin memudar itu.
Lyra, kalungmu bercahaya, lakukan terus Lyra!! kata Nila senang.
Aku tidak bisa sendiri, ayo kita berdoa bersama. kata Lyra. Lalu mereka semua berdoa dan cahaya semakin terang lalu mereka kini berada disuatu rumah adat.
Rumah Rakit? teriak mereka semua terkejut.
Jadi maksud si Penjaga Toko adalah rumah rakit? Lyra terkesima.
Benar, lihat ada seseorang di sana. kata Fari menunjuk pintu yang terbuka.
Itu si Penjaga Toko dan Clara. teriak Lyra bersemangat.
Lyra jangan senang dulu ini semua belum berakhir kau harus melewati semua ujian terakhir ini sendiri. Kami hanya berharap dan berdoa untukmu. Kata Burung Biru yang saat itu mendarat di pundak Fari.
Apa? Tapi bagaimana caranya? tanya Lyra panik.
Gunakan waktumu yang tersisa 21 menit. Lawan semua rasa dalam dada. Hanya itu dan bawalah alat musik ini. cepatlah!!! jelas Burung Biru .
Lyra pun masuk ke dalam Rumah Rakit dan di sana ia melihat Dewi Shinta dan Dewa Rama sedang duduk bersandingan dan di bawahnya ada Clara yang terduduk lemas.
Clara? Apa yang terjadi? Lyra langsung berlari ke arah Clara.
Hei, tidak secepat itu. Berikan kedua alat musik itu. kata Rama..
Tidak! Sebelum kalian untuk apa . Lyra menyembunyikan alat musik itu di belakangnya.
Benar Lyra, jangan berikan! kata Shinta dengan anggun.
Lyra, tolonglah berikan saja. Clara merintih.
Clara? Baiklah ini ambil. Lyra melemparkan kedua alat musik itu.
Tidak berguna! Dewi Shinta langsung mengambil salah satu alat itu dan membawa Clara pergi.
Tunggu! Kembalikan Clara! teriak Lyra.
Lyra, apa kau bodoh? Kau telah salah bertindak memberikan alat musik itu pada Rama hanya akan menyebabkan kehancuran pada kitab lainnya. Kata Dewi Shinta.
Ha, biarkan saja. Shinta kembalilah padaku, sehingga aku tak perlu menghancurkan semua kitab tak berguna itu. kata Rama kasar.
Rama? Sejak kapan kau bersikap kasar seperti ini? Aku kecewa padamu, sejak aku membaca Kitab Bratayudha sikapmu menjadi aneh seperti ini. Sebenarnya ada apa denganmu? tanya Dewi Shinta.
Karena kau telah melanggar perjanjian kita untuk tidak membaca kitab Bratayudha. Jawab Rama.
Apa hanya karena itu kau harus semarah ini selama berabad abad? Dewi Shinta tampak kesal.
Lalu Lyra memejamkan mata, dan ia berfikir pada satu tujuan ia membuang rasa benci, kesal dan kedongkolannya hingga kedua alat musik itu bermain dan Lyra mulai menarikan tarian Pagar Pengantin. Sehingga semua yang ia rasakan dan ia dengar terasa lenyap begitu saja. Dan ia berada di dalam ruang kosong untuk kedua kalinya. Dan di depannya hanya terlihat cahaya sahabatnya Clara.
Clara? Apa kau baik baik saja? tanya Lyra.
Ya, terimakasih Lyra sudah menyelamatkanku. Kau benar benar sahabat terbaikku. Perkataan si Penjaga Tokoyang ternyata Dewi Shinta itu tidak benar. kata Clara.
Tak apa , tak apa. Semuanya kini telah berakhir. kata Lyra. Kemudian ia memeluk Clara. Dan cahaya putih kembali bersinar terang.
Lyra pun terbangun dari tidur panjangnya di tengah padang rumput. Dan saat ia terbangun ia sadari semua yang ia alami hanyalah mimpi.
Jadi itu semua hanya mimpi? Huh, syukurlah. katanya mengelus dada.
Lyra, tidurmu lama sekali. Piknik kita sudah selesai, semua makanan sudah habis nih. kata Clara yang terduduk di depan Lyra.
Oh iya tidak apa apa. kata Lyra yang masih setengah sadar.
Ayo kita bereskan semua sampah ini!! teriak Atika.
Iya!! Ayo cepat bangun. kata Clara seraya meninggalkan Lyra sendiri.
Baik, Lyra pun berdiri. Dan ternyata di tanganya benar benar ada kalung sabit berwarna putih bergambar Rama dan Shinta.
Ini?? Lyra hendak berkata namun Clara sudah memanggilnya.
Hei Lyra cepatlah!! katanya
Baik. Sudahlah. Kata Lyra seraya berdiri lalu memasukkan kalung itu ke dalam sakunya.
Dan ia pun membereskan semua sampah, lal pulang bersama teman temannya. Selama perjalanan dengan menggunakan bus itu, Lyra hanya menatap kalung itu dan berfikir,
mimpi atau kenyataan, itu merupakan pelajaran yang berharga bagiku agar bisa menahan amarahku. Dan tidak meninggalkan sahabat lamaku.