Tentang virginitas

 

 

 

 

 

Nyokap gue pernah bilang, “Ca, kamu sekarang udah dewasa.

Inget ya nak, perempuan itu seperti uang kertas, dan laki-laki adalah uang logam.

Uang kertas itu tidak boleh robek, karena jika ia robek, tak akan ada yang mau menerimanya.”

 

 

 

Gue berani bertaruh, jutaan pasang kuping perempuan telah mendengar wejangan khas semacam itu

di masa akil baliqnya, di masa pertama menstruasinya. Semuanya mengacu pada sebuah kesucian,

yang di hubungkan dengan selaput tipis yang kini bisa direkayasa olah kecanggihan teknologi.

 

 

 

Virginitas. Keperawanan. Label yang ada “hanya” pada perempuan, karena pada laki-laki tidak

pernah kita temukan “selaput jantan” misalnya. Tapi rasanya, gue juga gak cukup berani untuk 

protes atas “ketidaksempatan” Tuhan mencipta.

 

Doktrinisasi “perempuan berharga karena kesuciannya” secara turun temurun sudah seperti

layaknya warisan yang harus dipegang teguh oleh setiap generasi.

Menyedihkan memang, karena penekanan virginitas lebih pada “kesucian” thok,

ketimbang penekanan terhadap alasan logis seperti konsekuensi berbuat, keberanian

bertanggung jawab, baik terhadap dirinya sendiri, lingkugan sekitar, dan pada Sang Pencipta.

Lalu kemudian, selembar surat nikah menjadi “pelegalan” atas tindak”ilegal”.

Dan semuanya menjadi pembenaran atas tindak “kebablasan” .

Lantas, jika begitu, akan makin nyatalah perkawinan sebagai pelembagaan persundalan yang hipokrit.

 

 

 

Sebenarnya buat apa sih virginitas? Buat siapa tepatnya? Buat laki-laki yang kelak menjadi suami kita kah?

(siapa pula ia? Sic!) Buat orangtua kita yang “berhasil menjaga anak gadisnya “ sampai ke gerbang pernikahan?

Buat Tuhan? (ah, Tuhan yang Maha itu tidak butuh apa-apa dari kita). Gue rasa,  virginitas itu buat kita sendiri.

Buat jiwa kita, buat tubuh kita, para perempuan.

 

 

 

Begini, virginitas tentu saja berkaitan langsung dengan kegiatan sex. Sex itu sendiri, sampai saat ini masih gue

yakini bukan hanya aktivitas reproduksi belaka, ataupun aktivitas kapital, namun juga memiliki nilai spiritualitas

 yang tinggi (bahkan Tuhan dan malaikatpun memalingkan wajahnya ?), kala wacana menjadi terbatas.

 

 

 

Didalamnya, barangkali ada sebentuk percakapan, sebelum ciuman yang basah lagi panjang.

Didalamnya barangkali ada lenguh, tapi bukan keluh. Didalamnya barangkali juga ada peluh, tapi tak masalah.

Ada cinta, ada rasa, ada…entahlah, rasanya semua partikel senyawa yang dimungkinkan ada berbaur disana.

Dan bayangkanlah kini, aktivitas yang seharusnya “akbar” itu akan berakhir sangat konyol, jika lantas ada

pihak yang merasa meyesal atau kecewa terpendam,  gara-gara selembar sprei yang tak punya alasan

untuk dicuci keesokan harinya.

 

 

 

Aktivitas “akbar” itu, barangkali juga gak akan pernah terpahami dengan baik, jika ternyata “bablas”

adalah alasannya. Kesadaran adalah tonggak. Apapun pilihan kita akan virginitas, lepas dari kukungan

legal atau tidak, dosa atau tidak, haruslah benar-benar kita pahami, kita mengerti sebagai pilihan hidup

yang akan memberikan konsekuensinya sendiri. Setiap keputusan punya logikanya sendiri-sendiri.

 

 

 

Seiring dengan kemajuan jaman, semakin banyak laki-laki yang tak merasa bermasalah akan virginitas.

Walaupun itu barangkali harus dengan embel-embel ia tak lagi perjaka, (yang tentu saja tidak meninggalkan bekas).

Atau kalau tidak, ia akan dianggap berbesar hati menerima perempuan yang tak lagi perawan.

Sementara, hal itu tidak berlaku sebaliknya. Perempuan perawan yang menerima lelaki “bekas” tak

akan dihargai sama. Mari kita bandingkan, perempuan yang kepergok atas status virginitasnya,

akan segera menyandang stempel “cewek gak bener” dan para cowok yang berlaku sama akan

 

menyandang status playboy, tak mengandung cemohan, bahkan barangkali menjadi tolak ukur

sendiri atas nilai kelaki-lakiannya  pada komunitasnya. Terlihat gak adil kah?

 

Well, we live in sexiest world, anyway..

 

 

 

Tiap orang bebas punya pendapat, bebas menentukan sikap. Apakah ia ingin menjadi perawan

sampai lonceng pernikahan tiba atau tidak. Yang penting, alasan dari semua itu yang kudu jelas.

Sadar. Kesadaran. Cuma itu menurut gue, yang bikin kita punya arti atas eksistensi hidup kita,

kalau kita masih sayang ama diri kita sendiri. Dan menurut gue lagi, kita punya hak penuh atas

tubuh kita, kita bisa aja bunuh diri untuk kondisi ekstrimnya, misalnya. Karena itulah, kesadaran

adalah alasan yang membuat tubuh ini betul betul menjadi media atas hasrat hidup kita.

 

 

 

Buat yang masih virgin, selamat, karena barangkali anda semua berhak atas satus lingkungan.

Namun hati-hati, bertanyalah pada diri sendiri, apa yang membawa anda-anda semua tetap

“clean” sampai saat ini? Kalo hanya sebatas ketakutan atas status, atau tuntutan “standar kenormalan”, 

waduh, sayang banget. Bagaimanapun tubuh dan jiwa tidak dapat terpisahkan. Jangan sampai tubuh

gak menemui makna sesungguhnya sebagai media bagi jiwa. Karena dengan begitu, apa bedanya kita

dengan deretan mayat hidup yang tanpa rasa, hanya berlaku memenuhi standard “kenormalan” belaka.

Buat yang gak lagi virgin, show must go on, girls. Gak  ada alasan buat merasa gak berarti lagi.

Meskipun “bablas” menjadi satu-satunya alasan. Arti seorang perempuan bukan pada selaput tipis itu

(kalo mau dan punya duit, operasi juga beres) , tapi lebih pada kekuatan jiwa menghadapi semuanya.

Itu lebih utama. Jangan terlalu takut tentang hari esok, karena memang kita gak pernah tau apa yang

bakal kejadian. Seribu juta kemungkinan bertebar meunggu kita untuk memilihnya. Tetap pada kesadaran.

Kita bisa jadi apa saja, bisa berbuat apa saja. Kebahagiaan itu built, bukan given. Dan layak untuk diperjuangkan.

Sampai akhir. 

 

 

 

Tidak semua perempuan yang kehilangan virginitasnya, merasa menyesal berkepanjangan,

karena gue juga yakin, pasti ada juga yang ketagihan, dan lantas membenarkan aktivitas

seksualnya hanya karena tak perawan lagi. Gue cuma kepikiran satu hal untuk ini,  sex bukanlah 

kegiatan reproduksi semata, seperti pada hewan, namun juga memiliki nilai spiritualitasnya sendiri.

(Itulah kenapa pelacur dibayar, karena ia memberikan tubuhnya, bukan jiwanya). And..be ware,..girls!

banyak penyakit yang mematikan kaum perempuan dari sisi seksualitasnya. Tujuh penyakit level fatal

buat perempuan semuanya berurusan dengan organ seksual. Pendarahan kala melahirkan, infeksi saat

aborsi, kanker rahim, kanker payudara, menimpa perempuan dengan kans yang gak jauh berbeda.

Kanker servik misalnya, punya kesempatan menimpa semua perempuan yang telah melakukan praktek seks,

dengan resiko terbesar pada pelaku seks pra nikah, bukan karena status “pra” nya, tapi lebih karena usia muda.

(dibawah 20 tahun)

 

 

 

Kalo gue boleh berandai-andai,  gue ingin menikmati sex, mengalami pengalaman hebat itu dengan penuh

 

kesadaran akan keputusan gue kehilangan status perawan gue. Mungkin gue akan melakukannya dengan

 

seseorang yang nantinya bukan suami gue. Atau mungkin juga dengan suami gue. Intinya gue akan melakukannya

 

dengan seseorang yang kala bertemu dengannya pertama kali, gue langsung mengenalinya begitu dalam,

 

tanpa perlu alasan apa-apa. Dan pertemuan kami adalah pertemuan yang sederhana, sesederhana ikatan

 

antara kami, kami yang begitu “kami”, yang mungkin hanya bisa dipahami oleh kami sendiri, lepas dari masalah

 

hitam dan putih.  Dan saat itu, gue akan mengambil keputusan, memilih konsekuensi, bahkan kalau perlu, lepas

 

dari kukungan yang “seharusnya”.

 

 

 

Salam,

 

ica

 

 

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1