This is all about me

Nama Suku Bangsa Hal yang disukai Hal yang dibenci Impian dari kecil Film Fave Aktor Fave Lagu Fave Band Fave Musisi Fave Acara TV Fave Serial TV Fave Novel Fave Games Fave Negara impian Kota Impian Makanan Fave Minuman Fave |
: Ahmad Sofyan Al-Bimayyi bin Muhammad Saleh bin Ma'ami : Mbojo : Internet, Film, Travelling 'n Korespondensi : Pesta, Keramaian : Keliling dunia dan bersalaman dengan Moammar Qadhaffi : Tears of The Sun, Armageddon (versi Hollywood) : Bruce Willis, Will Smith : Other Side (Red Hot Chilli Peppers), The Man Who Sold The World (Nirvana) : Red Hot Chilli Peppers, GIGI : Iwan Fals, Kitaro 'n Carlos Santana : Dokumenter : Small Ville, Satu Kakak Tujuh Ponakan : Trio Detektif, Supernova : Flashpoint Operation-Cold War Crisis : New Zealand, Switzerland, Italy : Venezia dan Bogor : Pisang Goreng : Jus Tomat |
|---|
Lahir di sebuah desa perbukitan nan indah di RasanaE Timur, Kodya Bima NTB pada bulan Juni 1983. Masa kanak-kanak sampai SMU lebih banyak dihabiskan dengan berinteraksi dengan keramahan suasana alam pedesaan yang damai. Ndak pernah mengenyam yang namanya Taman Kanak-Kanak (karena memang TK masih barang langka di sekitar RasanaE waktu itu). Menghabiskan masa SD bersama teman-teman sekampung di SD satu-satunya yang lebih mirip dengan Balai Latihan Kerja ketimbang tempat belajar dengan jam belajar ditentukan oleh saat mandi-mandi di bendungan atau memperbaiki pagar rumah Guru yang jebol.
Melewati masa sekolah menengah pertama di SMP negeri paling bungsu yang untuk menuju kesana lebih sering melewati sungai dan persawahan ketimbang naik angkutan umum (lebih asyik karena barengan sama teman-teman). Ortu sih maunya dikasih masuk di SMPN 1 yang favorit di Bima, tapi masalahnya tempatnya terlalu jauuuuh dari rumah. Beruntung SMU-nya di salah satu sekolah favorit NTB, SMUN 1 Raba yang suasana akademiknya lebih canggih dibanding dengan Jurusan Kimia Unhas sekalipun.
Lepas SMU dikasih pilihan untuk kuliah di Jawa atau di Bima, sebuah pilihan yang dua-duanya tidak diambil dengan pertimbangan kalo di Jawa orang Bima sudah bejibun jumlahnya sementara kalo di Bima, masak kayak katak dalam tempurung?. Akhirnya dengan berat hati diijinkan ke Makassar yang dalam perjalanan sampai tempat tujuan lebih ditentukan oleh faktor keberuntungan. Masuk menjadi mahasiswa jurusan Kimia pun merupakan pilihan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, karena cita-cita yang dibawa dari rumah adalah menjadi insinyur.
Makassar adalah babakan baru dalam cerita hidup kaum pendatang. Butuh adaptasi yang cukup lama untuk sekedar melupakan romantisme tanah kelahiran, utamanya buat pendatang dari luar Sulawesi . Perbedaan kultur cukup menjadi sekat yang tebal untuk bisa langsung berbaur dengan orang-orang di kota yang eksotis ini.
Paling suka kalau kumpul bareng teman-teman bercerita tentang apa saja dan menjelajahi dunia maya di internet. Hal yang paling tidak disukai adalah kalau berada di keramaian.
Saat ini masih meyakini bahwa pelangi terlihat indah karena dihiasi banyak warna dan cerita hidup akan lebih berwarna dengan goresan-goresan perbedaan dan pengalaman hidup yang kadang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan masih berharap akan menikmati begitu kompleks dan rumitnya ciptaan Allah SWT di masa yang datang (semoga masih diizinkan).
Nasib tidak ditentukan oleh garis tangan, tetapi oleh genggaman tangan kita….