Top the Agung Mountain
.jpg)
Liburan Idul Fitri 1427 Hijriyah lalu, pasti aku akan
suntuk banget dirumah. Aku ingin keluar rumah pada saat liburan itu, menghindari
teman-teman didesaku, temen adekku yang tahu kalo aku liburan, pasti buanyak
banget dirumah tanya inilah-itulah, cara chat melalui handphone, kirim email
melalui handphone, kena virus lah, cuaapek banget kalo libur, lebih capek dari
kuliah. Setelah selesai kutangani paling cuma ucapan terima kasih, aku ampe
begadang jam 4 pagi, Aku tidur dalam 1 hari itu hanya 5 jam aja !.
Nah pas waktu itu ada kakak kelasku yang nawarin untuk mendaki Gunung Batukaru
di Tabanan, setelah hari H, acara mendadak berubah karena di Gunung Batukaru ada
upacara, orang umum ga boleh masuk kecuali orang yang mau sembahyang. Kemudian
acara dialihkan ke Gunung Agung, Acara waktu itu diikuti oleh Aku,3 kakak
kelasku (Sari, Kadek Maha, ama Komang) dan 16 siswa/siswa SMA Negeri Petang (walaupun
aku bukan alumnus sana) dan Pak Karsana (Pembina PMR sana yang kebetulan aku
kenal baik). Aku berpikir Gunung Agung ?! (walaupun hampir semua gunung di Bali
uda pernah kudaki kecuali Gunung yang satu ini) . Perlengkapan yang kupersiapkan
hanya cukup untuk Gunung Batukaru. Ya apa bleh buat pasrahkan saja, aku hanya
bawa 1 sleeping bag, 1 tikar spon lipat, 2 botol air mineral 1.5 liter, 4 pop
mie, roti, dan snack, handphone, pisau multifungsi, senter, ama tenda, baju
hangat, selendang, canang sari, perlengkapan yang cukup minim untuk mendaki
gunung tertinggi di Bali dan tertinngi ke 8 di Indonesia (3142 m dari permukaan
laut), !
Pagi itu aku berangkat jam 9 teng ! dari tempat kumpul pertama di SMA Negeri 1
Abiansemal. Perjalanan ga terasa uda sampe di Pura Besakih. Aku parkirkan
kendaraan dan kami minta izin ama Polisi Hutan disana, sembahnyang dulu di
Penataran Agung sebelum naik ke puncak. Kami pun mulai ke puncak aku kira hanya
aku yang minim bawa perlengkapan temen-temen lain juga gitu !.
Pukul 10.15 Di perjalanan pertama memang kami lalui dengan jalan setapak yang
uda disedikan ama penduduk disana. 500 meter berlalu drajat kemiringan tanah
yang kami lalui makin bertambah, jalan semakin sulit dan licin berdebu.
Kanan-kiri ada tebing. Makin ke atas makin terjal dan extrem,
Pukul 19.45 Temen yang cewek-cewek minta istirahat penuh walupun di tiap
perjalanan kita istirahat barang 1 menit. Tempat sulit nyari soalnya cuma ada
jalan setapak kecil, dimana mau tidur !?. Terpaksa tidur berjajar di atas debu
yang padat sekali, bisa dibanyangin kotornya pakaian kami,sayang aku ga bawa
kamera, kamera digitalnya dipake bapak sih !. Temen yang cewek-cewek tidurnya di
selokan-selokan biar hangat, sleeping bednya aku pinjamkan saja kasian mereka
baru pertama kali mendaki, cewek lagi !. Tapi aku salut ama mereka masih
bertahan di ketinggian 2758 m dari permukaan laut. Aku tidur diatas tikar spon,
dengan tipe hotel berbintang banyak he he he..!.
Pukul 22.09 Suhu makin turun, kira-kira 9 drajat Celcius. Bisa dibayangkan air
mineral setengah membeku. Ga disangka malam itu juga ada badai, angin bertiup
kencang, pohon cemara bergoyang-goyang keras sekali.Sebagai bayangan kencangnya,
tasku yang berisi 4 popmie bergeser !. Suhu makin dingin, tangan hampir beku,
angin keras terpaksa aku tutup diriku dengan terpal, kaki saling disilangkan ama
temen biar hangat.
Pukul 03.46 Perjalanan dilanjutkan dengan memakai senter, sampe diatasan dikit
kami bertemu dengan pendaki lain, mereka itu tim mapala UNUD, kami minjam api
unggunnya. Setelah sekitar 6 menit istirahat, perjalanan dilanjutkan
kembali,kami melalui sebuah jalan yang berisi pasir saja, tiap melangkah kaki
kita kayak diisap, cukup kesulitan juga melalui jalan ini. Udara semakin tipis,
oksigen semakin melemah, tekanan udara sangat tinggi, jalan semakin terjal,
kanan-kiri jurang yang dalam.
Pukul 06.00 Aku sampai di Base Cam, peristirahatan terakhir. Persediaan air
menipis, napasku semakin pendek, terpaksa aku tidak melanjutkan, padahal puncak
tinggal 100 meter lagi. Terpaksa aku istrahat sampe disana aja mengirit air dan
disamping aku khawatir dengan diriku yang napasnya lebih parah dari orang asma.
Tapi ada beberapa temenku yang mau melanjutkan, maklum meraka orang-orang gunung
yang uda terbiasa dengan oksigen sedikit, mereka menitipkan tasnya ke aku !.Aku
hanya nitip bunga edelweis (bunga cinta abadi hee.. hee... hee..) saja kalo
mereka ke puncak. Aku sempet kaget juga di Basecam ini karena disampingku
berdiri kera berukuran besar, tapi karena aku melihara monyet dirumah, mungkin
karena kenal baunya, kera tersebut ga menyerang sama sekali. Aku kasi ketupat
saja kera-kera tersebut, Kasian kera-kera itu hanya mengandalkan makanan dari
pendaki !. Di ketinggian yang gersang itu kera-kera itu makan apa !. (Base Came
= 3042 m dari permukaan laut). Pemandangan alamnya sungguh menakjubkan, kita
akan tahu itulah kebesaran Tuhan, kalo dirumah aja kita ga akan tahu gimana
karya Tuhan itu sesungguhnya.
Pukul 09.12 mereka datang dari puncak, mereka istirahat sebentar. Kemudian turun
lagi, tapi yang paling parah ga setetes air pun tersisa !. Terpaksa untuk
mengirit energi , aku turun kayak orang main ski air. Beberapa kali lenganku
terbentur batu. Debu bertebangan !. Ampe di hutan pinus aku sendirian di tengah
hutan, rombongan ada yang dibelakang ada juag yang didepan aku ditengah-tengah.
Sempat bingung juga, jangan-jangan tersesat di tengah hutan seluas ini. Dihutan
ini juga kakiku sempet terbetur kayu, terpeleset 16 kali, karena jalannya cuma
kerikil dan debu, sendirian lagi karena ditinggal, dan ada juga yang masih jauh
dibelakang, jadi ga ada yang bantu waktu turun ditempat yang extreem.
Pukul 11.30 Mulut uda mulai kering, air ga ada perut, pohon buah ga ada, lapar,
jalan semakin melambat, penglihatan kayak setting image "Emboss", kepala kayak
"Windows akan mau Di shutDown. Dipikiranku cuma ada es kelapa muda, itulah
impianku biar langkahku cepet. Andaikan ada yang mengasi es kelapa waktu itu aku
bayar Rp. 500.000 cash, tapi sayang ga da orang !. Alhasil waktu itu ketemu ama
tim mapala Tabanan, mereka tahu yang aku mau yaitu air. Mereka mengasi
minumannya sedikit akhirnya lega. Kayak Gurun Sahara kena hujan sekali. Aku
berterima kasih kepada penolongku itu. Akhirnya langkah-langkah aku jalani,
akhirnya sampe juga di pemukiman penduduk dan Pura Besakih. Yang kutuju pertama
kali adalah impianku tadi "Es kelapa muda" aku beli beli nasi campur untuk ngisi
perut kosong. Maunya sih mandi di sungai, tapi keburu sore akhirnya aku
memutuskan pulang. Sudah kuduga, kata adikku pas aku mendaki banyak tamu datang
kerumahku. Ampe dirumah kakiku kram, aku minta ibuku memijatnya, karang udah
mendingan, walaupun kurus gini ampe juga di ketinggian 3042 m dari permukaan
laut dengan menempuh perjalanan bolak-balik kurang lebih 10 km.
back