303

*** DPP Partai Kebangkitan Bangsa Menyampaikan Selamat Tahun Baru Muharram 1426 H *** Mohon Doa Restu Atas Suksesnya MUKTAMAR II PKB di Semarang, 16-18 April 2005 *** Bantuan Aceh dan Sumatera Utara Bisa Disalurkan ke Bank Mandiri Cabang Mega Kuningan Jaksel No Rekening 124-004567-1998 Atas Nama DPP PKB ***      
  Last Updated, 2 Maret 2005 Home  |  DPP PKB  |  Redaksi  |  Forum  |  Maillist  |  Link  |  Peta Situs 

Tentang PKB
Kronologi Pendirian
Naskah Deklarasi
Mabda' Siyasiy
Platform Partai
Anggaran Dasar
Anggaran Rumah Tangga
GBPP
Lambang Partai
Mars PKB
Himne PKB
Tentang DPP PKB
Wewenang dan Kewajiban DPP
Struktur Kepengurusan DPP
Program Partai
Peraturan-Peraturan Partai
Tentang LPP DPP PKB
Wewenang dan Tanggungjawab LPP
Struktur Kepengurusan LPP
Program Pemenangan Pemilu
Peraturan Tentang LPP
Download
Etalase
 

 


1
7 Feb 2005, 3:27
Dr. Alwi Shihab: Sesudah Tsunami

BENCANA tsunami sudah sebulan lebih berlalu. Masyarakat Indonesia, khususnya warga Aceh, mulai bersiap menjumput masa depan, mewujudkan impian yang lebih cerah dan menjanjikan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Proses pembangunan kembali sedikit demi sedikit sudah dan masih dikerjakan secara bersama-sama oleh departemen dan BUMN yang diberi tugas oleh negara. Juga oleh LSM, dan masyarakat luas, baik dari dalam dan luar negeri. Marilah kita panjatkan doa, semoga Aceh ke depan dapat tumbuh kembali sebagai bagian dari Indonesia yang lebih makmur.

Sebagai Ketua Harian Bakornas yang menghabiskan sebagian besar waktu selama sebulan terakhir di Aceh, pada awalnya, hari-hari saya hanya penuh sesak oleh kepedihan dan keprihatinan. Tidak pernah rasanya mengalami kegetiran sedalam ini. Setiap hari saya menyaksikan mayat di mana-mana, di setiap tempat yang saya kunjungi, kehancuran luar biasa ada di depan mata. Ini merupakan kerusakan akibat bencana terhebat yang pernah saya lihat. Saya kira dalam seribu tahun terakhir, bencana di Aceh merupakan yang terparah di muka bumi. Saya hanya bisa membayangkan kondisi Aceh usai bencana dengan situasi yang tergambar seusai banjir dunia pada masa Nabi Nuh Alaihi Salam ribuan tahun silam.

Bencana alam, di luar dampak kerusakan yang ditinggalkan, juga menyisakan spekulasi bagi masyarakat. Kalau pada zaman sebelum Rasulullah Muhammad SAW, jika ada suatu kaum sudah berada di luar batas normal kelaziman, jika kemaksiatan menjadi arus utama dan kerusakan moral sudah menyesaki seluruh sendi kehidupan, maka Allah SWT biasanya langsung menggulung kaum tersebut dari muka bumi. Hal itu dapat kita ambil pelajarannya dari kisah kaum Nuh, kaum Nabi Luth, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Soleh, dan seterusnya, yang semuanya telah dengan jelas diutarakan dalam Al Quran.

Satu kaum dilenyapkan, ratusan tahun kemudian tumbuh kaum baru, dengan Nabi baru. Namun, sesudah misi kenabian diakhiri oleh Nabi Muhammad SAW, maka sejak itu tidak pernah ada lagi kisah pelenyapan satu generasi manusia di muka bumi. Dan meski kebejatan memuncak, Allah hanya mengirim tanda peringatan, hingga akhirnya datang bencana tsunami di Aceh yang menggulung ratusan ribu manusia dari daratan India hingga ujung barat Indonesia. Lalu berbagai pendapat masyarakat bermunculan dalam menafsir kejadian tersebut.

Baru-bari ini saya membaca kesimpulan dari salah satu analisis yang menyatakan bencana tsunami merupakan akibat langsung dari ledakan percobaan nuklir bawah laut. Menurut analisis tersebut, seperti yang direkam Australia, magnitudo dan posisi epicentrum (pusat gempa pada permukaan bumi sesuai dengan yang ditentukan oleh kantor Geofisika Jakarta), yaitu gempa berukuran 6,4 pada skala Richter menimpa utara Pulau Sumatera. Titik gempa berada di 155 mil selatan Provinsi Aceh. Lokasi ini berbeda 250 mil dari posisi yang ditentukan oleh Amerika, yang menyatakan bahwa epicentrum berada di barat daya Aceh. Mereka juga mengatakan bahwa kekuatan gempa adalah 8,0 skala Richter, dan kemudian terus memperbaiki laporan dengan meningkatkan skala Richter yang ada menjadi 8,5 lalu 8,9 sampai akhirnya 9,0. Hal ini dianggap aneh karena informasi Amerika, yang tiba-tiba menemukan puncak gelombang kejut "fleksibel", yang bahkan jauh lebih besar dari yang dirasakan oleh Jakarta, padahal Jakarta terletak jauh lebih dekat ke titik pusat gempa dibandingkan AS.

Para penafsir ini meyakini tidak pernah ada yang namanya pusat gempa "fleksibel", sebab pada umumnya hanya ada satu titik gempa saja, itu pun akan tercatat oleh lusinan seismograf di Indonesia dan India. Selain perbedaan yang begitu jauh dalam nilai skala Richter, Indonesia dan India juga merasakan keanehan akan tidak adanya gempa “peringatan” dari seismograf mereka. Kondisi tersebut mengarahkan pandangan bahwa gelombang kejut normal yang selalu mendahului gempa tidak ada dan tidak dirasakan sebagaimana biasa terjadi.

Lazimnya, ketika resonansi karena frekuensi ini terjadi, pusat gempa akan mulai bergetar, dan mengirimkan peringatan adanya gempa kepada semua seismograf dalam bentuk gelombang transversal (tegak). Katanya, gelombang tsunami secara mengejutkan sangat mirip dengan gelombang yang dihasilkan beberapa tahun lalu oleh senjata nuklir skala besar di bawah tanah di Nevada. India segera “sadar”, bahwa gempa ini bukanlah gempa "normal".

Oleh karena itu dia menutup diri dari pihak asing dan bekerja sendiri untuk memulihkan keadaan negaranya. Sebab India memiliki pangkalan udara militer yang menampung 30 pesawat Sukhoi, yang mampu menembakkan misil penghancur kapal di daerah Pulau Car Nicobar, pertahanan udara pertama di daerah Teluk Bengal. Selain itu juga memiliki reaktor nuklir di Chennai, Tamil Nadu, daerah paling selatan di India. India tidak ingin semua miliknya disentuh oleh asing, terlebih disusupi.

Dalam analisis mereka dinyatakan bawah ledakan itu untuk memaksakan agar Asia “menyerah” dan supaya kekuatan militer asing segera dapat merapat. Mereka menulis, dalam sekejab, Pentagon mengirimkan dua kelompok tempur dari Hongkong, kapal USS Abraham Lincoln. Tak mau ketinggalan USS Bonhomme Richard, kapal angkut tempur amfibi penuh dengan marinir yang dikenal dengan nama "Expeditionary Strike Group 5" segera bergerak dari Guam. Kapal USS Bonhomme Richard, ditemani oleh USS Duluth (kapal pendarat amfibi), USS Rushmore (kapal pendarat dan penjelajah dengan misil), USS Bunker Hill (kapal penghancur dengan misil), USS Milius dan kapal frigat USS Thach pun diberangkatkan. Urusan bawah air ditangani oleh kapal selam pemburu nuklir USS Pasadena. Dan kapal pemotong berkekuatan tinggi Munro milik Penjaga Pantai AS juga turut serta.

Analisis itu sejenak cukup mencengangkan. Saya sendiri beberapa kali harus memberi klarifikasi dan memberi penjelasan kepada publik soal kedatangan pasukan asing dalam misi kemanusiaan di Aceh. Sebagai bangsa yang terkena musibah, kita harus berterimakasih kepada siapa pun yang datang mengulurkan tangan. Tindakan waspada memang merupakan keharusan (al-ihtiyatu aula, hati-hati itu lebih utama), akan tetapi mengembangkan interpretasi yang terlampau jauh, saya kira hanya menyita energi saja.

Menyikapi tragedi Aceh, sebaiknya kita kembali pada Al Quran. Allah SWT telah menunjukkan kuasanya. Manusia harus introspeksi diri. Dalam QS Alfajar, ayat 11-12, disebutkan, jika manusia banyak yang berbuat kerusakan di muka bumi, maka Allah akan menimpakan azab kepada mereka.

Apa pun penjelasan ilmiahnya, tsunami ini kita terima sebagai peringatan Allah. Seperti hujan terus menerus sebelum banjir dunia zaman Nabi Nuh, hujan itu hanya pendatang banjir, tapi yang menurunkan dengan peringatan sebelumnya adalah Allah. Demikian juga gempa tektonik di bawah laut itu hanyalah pendorong air ke daratan melalui mekanisme alamiah, semua itu adalah kehendak dan kuasa Allah sebagai peringatan kepada kita semua.

Setelah sebulan tsunami berlalu, mari kita mulai menyadari. Peringatan Allah dalam bentuk apa pun bisa menimpa hambanya yang ingkar di tempat lain. Walhasil, kita patut jadikan Aceh sebagai cemin. Alhamdulillah, sesudah tsunami, Aceh mulai menggeliat. Nadi kehidupan Aceh denyutnya pelan tapi pasti mulai dapat dirasakan. Masyarakat yang tidak terkena langsung bencana mulai menggelindingkan roda ekonomi. Napas kehidupan mulai terlihat di mana-mana. Sementara itu, para relawan yang berdatangan dari berbagai lapisan masyarakat domestik dan internasional, juga menunjukkan kemajuan penanganan. Pemerintah sudah berusaha maksimal, namun tanpa bantuan semua pihak, tentu tidak akan semaju saat ini penanganan Aceh.

* Penulis adalah Menko Kesra RI, Ketua Harian Bakornas Aceh.




 Kembali Ke Halaman Utama
1

Demo menolak kenaikan BBM,28/02/2005


PROFIL TOKOH PKB

21 Jul 2004, 12:42

KH. Abdurrahman Wahid
Abdurrahman "Addakhil", demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, "Addakhil" berarti "Sang Penakluk", sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, ayahnya, dari seoran

11 Jul 2004, 11:53

Prof. Dr. H. Moh. Mahfud MD
Kedekatan emosional dan batin lah yang membuat Mahfud bergabung dengan PKB. Selain itu, dia juga merasa bahwa Gus Dur lah yang memb



 Polling
Dari kinerja 100 hari pemerintahan SBY-JK, nilai berapa yang anda berikan?
75-100
50-75
25-50
10-25


 

 
Home | DPP PKB | Redaksi | Forum   | Galeri Foto | Indeks Berita | Link | Peta Situs

Kantor DPP PKB
Jl. Kalibata Timur I No. 12 Jakarta Selatan 12519, Telp (021) 7974353 (hunting), Fax (021) 7974263
©2003 DPP PKB All Rights Reserved
Hosted by www.Geocities.ws

1