Kota Sabang
MUNGKIN wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang aman dari gejolak konflik adalah Kota Sabang. Ketika gejolak konflik di daratan Aceh mulai berkecamuk, Kota Sabang sepertinya tidak ikut terpengaruh. Selat kecil yang memisahkan Kota Sabang dengan daratan Aceh mungkin menjadi salah satu penyebabnya mengapa daerah ini relatif tak terpengaruh konflik di Aceh.
RASA aman dan nyaman bisa menjadi modal untuk memberdayakan potensi daerah. Kota Sabang terdiri dari beberapa pulau: Pulau Weh sebagai pulau terbesar, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Pulau-pulau ini menyimpan kenangan sejarah dan keindahan alam yang khas.
Peninggalan sejarah seperti kubu pertahanan jumlahnya ratusan di Pulau Weh. Tentara Jepang sejak menduduki Pulau Sabang (1942-1945) membangun tempat persembunyian berupa bungker untuk menghadapi serbuan tentara sekutu.
Bungker ini dapat dijumpai di Pantai Anoi Itam dan di Desa Cot Ba�u. Sisa peninggalan kolonial Belanda pun masih berdiri kokoh di Sabang, seperti dapat dilihat pada bangunan rumah sakit, Hotel Samudera, Losmen Dirgantara.
Peninggalan zaman Jepang dan Belanda ini menjadi tempat wisata sejarah untuk mengenang peperangan. Mantan tentara sekutu dan tentara Jepang atau anak cucunya biasa datang berkunjung untuk bernostalgia mengenang masa-masa ketika mereka atau generasi di atasnya saat berperang di Pulau Weh.
Menara Kilometer Nol di Ujung Ba�u juga memiliki daya tarik tersendiri. Di sinilah letak batas wilayah Indonesia paling barat. Menara tersebut dikelilingi oleh hutan yang masih perawan. Untuk mencapai tempat ini tidak ada sarana transportasi umum sehingga orang harus berjalan selama dua jam dari Iboih.
Keindahan alam Kota Sabang tidak kalah menarik dengan daerah lain. Terumbu karang yang banyak dijumpai di pantai Pulau Rubiah tidak kalah menarik dengan terumbu karang di Taman Laut Bunaken. Di tengah-tengah Pulau Weh terbentang danau air tawar, Danau Anoek Laut yang tampak indah bila dilihat dari Puncak Sabang.
Alam juga berbaik hati kepada Kota Sabang dengan membentuk beberapa teluk yang dapat digunakan untuk pelabuhan, seperti Teluk Sabang dan Teluk Balohan. Pelabuhan Sabang yang terletak di Teluk Sabang telah dipergunakan untuk pelayaran internasional. Sejak zaman Belanda kapal-kapal besar yang akan mengangkut rempah-rempah dari bumi Nusantara merapat di pelabuhan ini. Sedangkan Pelabuhan Balohan yang terletak di Teluk Balohan digunakan untuk penyeberangan kapal-kapal lokal.
Sejak dibuka oleh Sabang Maatschappij pada tahun 1895, pelabuhan Sabang sempat ditutup dua kali. Pertama tahun 1942 ketika tentara Jepang merebut bumi Nusantara dari tangan penjajah Belanda, kedua pada tahun 1985 oleh pemerintah RI. Penyelundupan barang-barang impor yang merebak di Pelabuhan Sabang menjadi salah satu alasannya.
Tahun 2000 pelabuhan bebas Sabang dibuka kembali oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid dengan menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2000 tentang Pencanangan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya untuk meredam gejolak konflik di Aceh.
Pengaruh Pelabuhan Sabang bagi penduduk Kota Sabang cukup besar. Data sensus penduduk tahun 2000 menunjukkan 47,7 persen dari penduduk bekerja di lapangan jasa dan perdagangan.
Sejak fungsi sebagai pelabuhan bebas ditutup tahun 1985, roda perekonomian Kota Sabang hampir mati. Mata pencaharian penduduk yang mengandalkan pelabuhan sebagai tempat mengais rezeki hilang. Kebutuhan jasa tenaga bongkar muat barang dari kapal-kapal yang merapat ke pelabuhan dengan sendirinya berkurang atau bahkan tidak ada lagi.
Lambat laun jumlah penduduknya menurun. Mereka yang dari rantau kembali ke daerahnya, sementara yang dari Sabang sendiri mencari pekerjaan di daerah lain. Tidak sedikit penduduk yang pindah ke daratan Aceh, bahkan sampai ke Batam. Pada saat itu Batam mulai ditetapkan sebagai tempat kawasan industri dan perdagangan yang strategis karena dekat dengan Singapura.
Pada tahun 1986 jumlah penduduk Sabang tercatat sebanyak 26.712 orang. Tahun 1998 jumlahnya berkurang menjadi 22.844 orang. Sejak Sabang diberlakukan kembali sebagai pelabuhan bebas pada tahun 2000, lambat laun penduduk mulai berdatangan kembali dari daratan Aceh.
Pelabuhan Sabang jadi pelabuhan transit barang-barang ekspor dari wilayah lain. Volume ekspor dari pelabuhan Sabang tahun 2002 mencapai 57.384 ton dengan nilai 11,5 juta dollar AS. Komoditas yang diekspor ini meliputi hewan ternak (seperti lembu, sapi), pupuk urea, sarung tangan dari karet, barang-barang dari plastik, hingga produk perikanan seperti tuna segar.
Sayang, kegiatan impor dan ekspor agak tersendat lagi sejak awal tahun 2003. Salah satu penyebabnya adalah pemberlakuan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan mengenai pembatasan impor beras, gula, dan mobil bekas.
Saat ini kegiatan perdagangan di Kota Sabang yang pada tahun 2001 mencapai Rp 22,6 miliar meredup kembali. Kota yang perekonomiannya bersandar pada perdagangan pelabuhan ini seakan-akan tidak dapat hidup bila kegiatan di pelabuhan tidak berkembang.
Padahal, Pemerintah Kota Sabang sedang giat membangun sarana dan prasarana umum untuk memikat penanam modal. Bahkan pada realisasi APBD tahun 2001, tercatat 70 persen pendapatannya dialokasikan untuk belanja pembangunan. Sektor transportasi seperti pembangunan dan perbaikan prasarana jalan dan jembatan menyita sebagian besar dana senilai Rp 16,1 miliar. Kegiatan ekonomi ini akan terasa sia-sia bila tidak didukung faktor keamanan dan regulasi pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang kondusif. (Yuliana Rini DY/Litbang Kompas)