|
Situ Lengkong Panjalu merupakan perpaduan
antara wisata alam dan wisata budaya. Di
objek wisata ini kita bisa menyaksikan indahnya
danau (situ) yang berudara sejuk dengan sebuah
pulau terdapat di tengahnya yang disebut
Nusa Larang.
Di Nusa Larang ini terdapat makam Harian
Kencana, putera dari Harian Borosngora, Raja
Panjalu yang membuat situ Lengkong pada masa
beliau menjadi raja Panjalu.
Untuk menghormati jasa para leluhur Panjalu,
maka sampai saat ini warga keturunan Panjalu
melaksanakan semacam upacara adat yang di
sebut Nyangku. Acara ini dilaksanakan tiap-tiap
bulan Maulud dengan jalan membersihkan benda-benda
pusaka yang di simpan disebuah tempat khusus
yang disebut Bumi Alit.
Konon danau ini berasal dari aliran sungai
yang dalam jangka waktu satu hari di bendung
oleh Prabu Borosngora yang dicampur dengan
air Zam-Zam yang dibawa oleh Prabu Borosngora
dari Mekah dengan menggunakan Gayung Bungbas.
Kegiatan wisata yang bisa dilakukan di Situ
ini antara lain :
Berperahu mengililingi Nusa
Memancing
Camping dan sebagainya.
Lokasi
Situ Lengkong terletak 42 kilometer dari
pusat kota kabupaten Ciamis ke arah utara
tepatnya di Desa Panjalu kecamatan Panjalu.
Tarif Masuk
Tarif masuk Rp. 1000 per Orang
Retribusi Parkir
Sepeda Motor Rp. 500
Sedanmikro, Bus kelas 1 Rp. 3000
Bus/ Truk Rp. 4000
Menuju Lokasi
Untuk sampai ke lokasi wisata ini kita dapat
naik kendaraan mobil, motor maupun sepeda.
Karena didukung oleh kondisi jalan yang cukup
baik dan beraspal.
Bagi yang memerlukan kendaran umum, kita
dapat naik dari terminal Ciamis jurusan Panjalu
dengan tarif Rp. 1.500 per Orang, atau langsung
dari Bandung jurusan Ciamis melalui Panjalu
dengan ongkos Rp. 4000 per Orang.
Sumber: kota-priangan.com
Kelestraian Situ "Koorders Panjalu
Lambang Kecintaan pada Lingkungan
SEANDAINYA Prabu Sanghiang Borosgora atau
Prabu Hariang Kancana saat ini masih hidup,
bisa jadi akan tersenyum bangga jika melihat
keadaan hutan dan Danau Panjalu terjaga kelestariannya.
Terlebih lagi jika sudah dibangun mesjid
raya dengan rencana biaya miliaran rupiah.
Presiden RI Gus Dur beberapa waktu lalu mengadakan
haol di Panjalu. Bahkan sekaligus mengaku
keturunan Panjalu. " Sebelum menjadi
presiden, Gus Dur sudah beberapa kali berziarah
ke Nusa gede," ujar Rd. H. Atong Cakradinata
salah seorang sesepuh di Panjalu.
Sosok Situ Lengkong kini bukan lagi hanya
sosok wisata alam berupa danau dengan nuansa
lingkungan yang masih utuh. Namun juga menjadi
tujuan ziarah ke makam Prabu Sanghiang Borosgora
yang ada ditengah Nusa Gede atau Nusa Panjalu.
Lebih dari itu telah menjadi lahan kehidupan
sejumlah warga, dengan membuka kedai ikan
bakar dan jenis makanan lainnya, penjual
buku sejarah Panjalu termasuk penjaja cindera
mata, meski diantaranya mereka bukan asli
warga Panjalu.
Sedangkan makanan khas Panjalu buta ole-ole
adalah "Kalua Jeruk" yang terbuat
dari kulit jeruk, atau wajit Panjalu. Kelestarian
Situ Panjalu atau Situ Lengkong adalah pencerminan
kecintaan warga setempat pada lingkungan
yang diwariskan turun temurun melalui isyarat
bahasa tabu. Sebab, ragam tumbuhan yang ada
di Nusa Gede sampai saat tetap tumbuh subur
dan terpelihara alami karena tidak ada yang
berani mengganggu.
Karena air Situ Lengkong tidak pernah kering
meski terjadi kemarau panjang. Kawasan Nusa
Gede menjadi habitat bagi kalong serta satwa
lainnya dengan tingkat populasi yang terus
bertambah. Suara kalong yang bersahutan dengan
nyayian burung lainnya menjelang senja, atau
di pagi hari seolah menjadi pelengkap daya
tarik tersendiri.
Para pengunjung setiap hari selalu saja ada
apalagi pada hari minggu atau liburan lainnya.
Terlebih jika bulan Maulud, karena para peziarah
bukan hanya berasal dari Jawa Barat. Namun
juga dari daerah Jateng dan Jatim. Mereka
datang menggunakan bus carteran. Perjalanan
mereka merupakan satu paket setelah berziarah
ke Gunungjati, Cirebon, Banten, dan Pamijahan,
Tasikmalaya atau sebaliknya.
Jika akan berpesiar mengintari Situ Lengkong
selama satu jam, bisa memanfaatkan sejumlah
sampan yang digerakkan dayung atau motor
tempel. Riak gelombang kecil yang berlarian
di kiri kanan perahu selama dalam perjalanan
menjadi pelengkap pesona yang mengagumkan.
Situ Lengkong mampu pula melahirkan atlet
pedayung putri yang berprestasi di tingkat
regional dan nasional. "Misalnya Etin
Djubaedah, Hermin, Iros dan sejumlah pedayung
yunior putri lainnya merupakan hasil berlatih
di Situ Lengkong," ujar Letkol (purn)
H. Muztahidin- wakil ketua KONI Ciamis.
Sikap Paheuyeuk leungeun untuk meningkatkan
taraf hidup menjadi karakteristik warga Panjalu.
Para perantau asal Panjalu bergerak di sektor
wirausaha di Bandung, Jakarta dan kota besar
lainnya. Kabag Pemdes Setda Ciamis, Drs.
R. Hery Moelyana yang bibit buit Panjalu
menyebutkan, umumnya para perantau asal Panjalu
berhasil mengubah kehidupan dari sebelumnya.
Perantau awal biasa tinggal bersama saudara
atau tetangga yang sudah lebih dahulu merantau.
Setelah diangap cukup pengalaman kemudian
di lepas untuk mandiri, malah di antaranya
berikut diberi modal pertama sebagai hasil
simpanan. Kontribusi pada pembangunan di
desa asalnya sangat besar. "Mesjid agung
di desa Hujungtiwu, Sukamantri dan beberapa
desa lainnya bernilai ratusan juta rupiah,
kesemuanya dibangun warga dengan swadaya,"
ujar R. Hery Moelyana bangga.
Pulau "Koorders"
Dari luas areal Nusa Gede atau Nusa Panjalu,
diantaranya sekitar 16 hektar merupakan kawasan
cagar alam yang ditetapkan sejak tanggal
21-2-1919. Bahkan tanggal 16 November 1921
diberi nama "Pulau Koorders", penghormatan
kepada "Koorders", sebagai pendiri
dan ketua pertama perkumpulan perlindungan
alam. Ia sendiri semasa masih hidup kerap
berkunjung ke Panjalu. Menurut keterangan
dari Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA)
Jabar-II di Ciamis, Dr. Koorders adalah pendiri
dan ketua pertama Nederlands Indische Vereeniging
tot Naturbescherming (Perkumpulan Perlindungan
Alam Hindia Belanda) tahun 1863-1991. Dia
sebagai houtvester yang menaruh perhatian
besar kepada botani. Tahun 1888 sampai tahun
1903 ia menomori pohon-pohon yang tersebar
di seluruh pulau Jawa.
"Koorders" mengumpulkan bahan herbarium
untuk menetapkan secara ilmiah komposisi
dari hutan tropika. Penelitian itu dilakukan
kerjasama dengan Th.Valeton, ahli botani.
Hingga lahir karya besarnya yakni Bijdragen
tot de kennis der boomsoorten van java (Sumbangan
pengetahuan pohon-pohon dari Jawa).
Tanggal 31 Maret tahun itu juga, perkumpulan
mengajukan permohonan kepada pemerintah,
agar beberapa danau di Banten, Pulau Krakatau,
Kawah Papandayan, Semenanjung Ujung Kulon
di Jabar dengan Prinseneiland (Pulau Panaitan).
Laut Pasir Bromo di Jatim, Pulau Nusa Burung
di Semenanjung Purwo (Blambangan) ujung Timur
Pulau Jawa, Kawah Ijen di dataran Ijen untuk
dipertahankan sebagai cagar alam.
Menurut klasifikasi iklim Scmidt Ferguson,
kawasan cagar alam Panjalu termasuk type
B dengan curah hujan rata-rata 3.195 mm pertahun
dengan suhu rata-rata 19-32 derajat celcius,
vegetasi di situ sebagian besar hutan prime
yang utuh. Tumbuhan yang ada terdiri "Kihaji"
(Dysoxylum sp), "Kileho" (Sauraula
Sp) "Kondang" (ficus variegata).
Tumbuhan di bagian bawah adalah rotan (Calamus
Sp), tepus (Zingiberaceae) dan langkap (Arenga).
Kalong (Pteropus vampyrus) merupakan fauna
yang paling banyak dijumpai di sana, tupai
(Calosciurus nigrittatus) dan burung hantu
(Otus Scops).
Sumber: Koran Pikiran Rakyat
|