Simpulan Tragedi Kemanusiaan Nuansa Agama
Di Propinsi Maluku Utara.
(TRAGEDI MALUKU 19 JANUARI 1999 – 14 JANUARI 2000
SEBUAH SKENARIO NASRANI DUNIA, SUATU STUDY ATAS FAKTA LAPANGAN )
I. Mukadimah.
Maluku telah popular dimana-mana hanya belum jelas pada perkataan Maluku pada umumnya orang mengatakan bahwa kata ini berarti Pulau Rempah-rempah. Kata Maluku sebenarnya berasal dari Yaziratul Djabal Malik artinya Daerah pulau-pulau bergunung. Yang dimaksudkan adalah Pulau-pulau Ternate, Tidore, Jailolo, Bacan ( Makian ) yang kemudian diistilahkan Moloku Kieraha artinya pulau bergunung empat. Ini berarti juga empat kerajaan yang masing-masing diperintah oleh seorang Sultan yakni Jailolo, Ternate, Tidore dan Bacan. Keempat kerajaan ini mula-mula menghasilkan rempah-rempah. Pengertian ini kemudian meluas meliputi Halmahera, Pulau Makian, Obi, Morotai dan Sula. Sejak itupula penduduk tiap pulau telah melakukan perhubungan antar pulau terutama beberapa pulau yang mengalami Gempa Bumi dan Letusan Gunung melakukan hijrah ketempat tempat diseputar pulau Halmahera Bacan dan sekitarnya yang dianggap aman untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya dan saling membantu maka tidak mengherankan selama ini tidak pernah muncul konflik antar suku apapun.
Sampai dengan Tahun 1999 secara administrative Propinsi Maluku Utara dibagi dalam 2 (dua) kabupaten ( Maluku Utara dan Halmahera Tengah ) dan 1 (satu) kotamadya ( Kotamadya Ternate ) dengan jumlah kecamatan seluruhnya 27 (duapuluh tujuh) 716 Desa/kelurahan.
Jumlah Penduduk sampai dengan tahun 1999 sebesar 833.618 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 2,9 % pertahun, mata pencaharian penduduk sebagian besar petani dan nelayan.
Prosentase Agama penduduk : Islam 71,44 %, Kristen Protestan 27,17 %, Kristen Khatolik 1,31 %, Hindu 0,01 % dan Budha 0,04 %.
Letak wilayah Daerah propinsi Termuda Maluku Utara dalam koordinat 124 0 BT – 129 0BT dan 3 0 LU – 3 0 LS, dengan luas wilayah Daerah Tingka I 103 789 Km 2 yang terdiri dari Lautan 78 % dan daratan 22 % yang tersebar pada 320 buah pulau besar dan kecil. Pulau besar dan sedang yaitu Halmahera, Obi, Morotai, Bacan, Mangoli, Taliabu serta pulau kecil lainya seperti Sulbesi, Kasiruta, Makian, Ternate, Moti dan Kayoa. Menurut Geografis, wilayah Propinsi Maluku Utara dibatasi oleh :
Di daerah ini terdapat sejumlah gunung berapi dari berbagai tipe yang masih aktif antara lain Gunung Gamalama, Kie Besi, Dukona dan Gamkonora. Maluku Utara ini juga dipisahkan dengan Maluku (Maluku Tengah dan Tenggara) oleh suatu Upweling dimana berderet pulau-pulau Sula, Obi terus sampai ke Irian Jaya. Iklim Daerah tingkat I Maluku Utara adalah tropis dengan curah hujan rata-rata 1000-2000 mm pertahun.
II. Penyebab Kerusuhan
Adanya kerusuhan di propinsi Maluku Utara penyebabnya :
III. Rangkaian Kronologis Tragedi Kemanusian
MUQADIMMAH
Sebuah tragedy besar bernuansa perang aqidah di Maluku telah berlansung lebih satu tahun ,mulai dari tragedy satu syawal idulfitri berdarah sampai dengan pembantaian 17 ramadhan 1420 H di Tobelo Halmahera utara dan sekitarnya. Walaupun tragedy yang memilukan ini telah berlangsung begitu lama tapi polemik sekitar peristiwa ini masih tetap menjadi teka-teki oleh berbagai kalangan dengan tingkat kontrofersi yang masih kuat minimal pihak yang tidak langsung melihat fakta dilapangan selalu berada pada posisi mengambang tentang pihak mana yang bertanggung jawab sebagai pemicu awal dan perancang kerusuhan luarbiasa di Maluku.
Berikut ini adalah simpulan Tim Pencari fakta Pos Keadilan Ternate yang khusus mengulas masalah tragedy di Maluku Utara (Malifut, Tidore dan ternate), Ramadhan berdarah di Tobelo Halmahera Utara dan sekitarnya terdiri dari kronologis, data korban dan Gambaran pembantaian Ummat Islam dari berbagai kesaksian para korban. Ini dimaksudkan untuk Mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi dalam tragedy pembantaian ummat Islam Maluku Utara Khususnya di Tobelo di rancang penuh oleh para elit Gereja di Maluku yang dibek- up oleh kekuatan Internasional .
A. TRAGEDI MALIFUT BERDARAH
Sekilas Profile
Kec. Malifut / Makian Daratan :
Kec. Kao
Kronologis
Konflik Malifut – Kao serentak muncul meluas ketika ada Kepres tahun 1999 yang menetapkan Malifut sebagai kecamatan defenetif yang diperjuangkan oleh masyarakat Malifut. Konflik awal yang dipolitisir sebagai konflik menyangkut perbatasan yang sebetulnya adalah telah diketahui sebagai cikal bakal koflik bermuatan Agama, Kenapa tidak ? Banyak pihak telah mengetahui Malifut adalah symbol umat Islam dimana masyarakatnya 100 % Muslim dan hal ini telah menjadi momok buat penganut agama lain (Nasrani) yang berdomisili di kecamatan seputaran Pulau Halmahera bagian Utara yang sangat memperhitungkan keberadaannya di wilayah tersebut. Konflik ini didukung pula oleh rekayasa yang di Skenario oleh Sultan Ternate Drs. Mudafar Syah untuk menumpas kehadiran Etnis Makian yang memang diakui banyak kalangan sebagai musuh Bebuyutan di bidang politik yang terbukti dengan banyaknya pejabat Birokrasi Pemda yang di dominasi oleh Etnis Makian di Wilayah Maluku Utara.
Ahad, 24 Oktober 1999
Peristiwa ini diawali dengan sekelompok masyarakat Malifut yang hendak pergi ke kebun, sementara letak kebun itu berbatasan antara Kec. Malifut dan Kec. Kao. Jumlah Masyarakat Malifut diperkirakan yang pergi ke kebun ± 100 orang pada pukul 09.00 BTWI tiba-tiba dihadang sekelompok masyarakat Kao diperkirakan ± 1.200 orang dengan senjata yang lengkap sehingga terjadi kontak / perkelahian antara Masyarakat Malifut dan Kao, karena persenjataan dan jumlah yang tidak seimbang Masyarakat Malifut ini melarikan diri, dalam pengejaran tersebut korban dari pihak masyarakat Malifut yang meninggal ditempat karena terkejar Masyarakat Kao berjumlah 3 orang dengan kondisi yang sangat mengenaskan menurut saksi mata (korban yang selamat) bahwa ketiga orang tersebut dicincang sampai korban sulit untuk dikenali lagi dan korban langsung dibuang di sungai, sedangkan korban yang terluka akibat panah dan bom rakitan berjumlah 9 orang.
Berdasarkan data yang diperoleh dari rumah sakit umum daerah sampai dengan pkl 20.00 BTWI tanggal 25 Oktober 1999 berjumlah 15 orang, yaitu :
Data Korban di Rumah Sakit Umum Daerah Ternate
Tanggal 24 Oktober 1999
|
No. |
Nama Korban |
Umur |
Asal |
Keterangan |
|
01. |
Musa Marengke |
30 Tahun |
Ngafa Bubawa |
Kena panah di kaki |
|
02. |
Muhammad Iksan |
22 Tahun |
Mailoa |
Kena panah di kaki |
|
03. |
Abdul Muis |
26 Tahun |
Ngafa Bubawa |
Kena panah di kaki dan muka |
|
04. |
Darmin Hasan |
27 Tahun |
- |
Kena panah di kaki |
|
05. |
Lutfi Salama |
20 Tahun |
Ngafagila |
Kena panah di paha |
|
06. |
Amin |
42 Tahun |
Bobawa |
Ditikam di dada, tulang rusuk kiri dan bagian perut |
|
07. |
Abu Wali |
23 Tahun |
- |
Kena panah di kaki |
|
08. |
Abjan |
- |
- |
Kena panah dileher di bawa ke Manado untuk operasi |
|
09. |
Mas’ud Hi. Musa |
27 Tahun |
Peleri |
Kena Bom |
|
10. |
Kubais |
38 Tahun |
- |
Meninggal dicincang dan dibuang disungai |
|
11. |
Sarif Man |
- |
- |
Meninggal |
|
12. |
Tdk diketahui identitasnya |
60 Tahun |
Meninggal |
Tanggal 25 Oktober 1999
|
No. |
Nama Korban |
Umur |
Asal |
Keterangan |
|
01. |
Ade Sabtu |
27 Tahun |
Ngafa Bubawa |
Kena panah di kaki |
|
02. |
Sraju Ahmad |
30 Tahun |
Ngafa Bubawa |
Kena panah dikaki |
|
03. |
Iswan Mahe |
18 Tahun |
Ngafa Bubawa |
Dipukul dengan kayu |
|
04. |
Samadan Jobou |
22 Tahun |
- |
Kena panah di tangan dan kaki |
|
05. |
Arsad Diaali |
25 Tahun |
Ngafa kediri |
Ditikam di kaki kanan |
|
06. |
Sahran Hi. Nara |
30 Tahun |
Bobawa |
Ditikam di kaki kanan |
|
07. |
Hamid Rabulla |
40 Tahun |
- |
Kena Bom rakitan |
Senin, 25 Oktober 199
Pada pkl 02.00 BTWI dini hari masyarakat Makian yang berada di Ternate bergerak setelah mendengar kabar masyarakat Makian yang berada di Malifut diserang oleh masyarakat Kao, kemudian massa ini bergerak mencari masyarakat Kao yang berada di Ternate, mereka kemudian menuju rumah salah satu anggota Dewan DPRD II Maluku Utara yang berasal dari Kec. Kao (anggota Fraksi Partai Golkar) setelah sampai di rumah anggota dewan tersebut massa melempari dengan batu sehingga kaca-kacanya hancur. Anggota dewan dan keluarganya sempat dilarikan oleh aparat keamanan menuju kantor Kapolres Maluku Utara. Massa bisa dikendalikan oleh aparat pada pkl 03.00 BTWI.
Pada pkl 14.00 BTWI, masyarakat Makian yang berada di Ternate hendak pergi ke Malifut melalui pelabuhan ferri untuk membantu saudaranya yang berada di Malifut, namun Aparat Keamanan tidak memberikan izin, sehingga massa yang berjumlah ± 200 orang mulai mengamuk, massa merusak pelabuhan ferri dengan melemparinya dengan batu, kemudian massa bergerak ke selatan menuju desa Kalumata yang sebagian warganya beragama Kristen, massa mengamuk melempari rumah dan gereja dengan batu, gereja sempat dibakar namun api berhasil dipadamkan oleh Aparat Keamanan, kemudian massa mulai bergerak lagi ke Utara menuju pusat kota, sepanjang jalan yang dilalui oleh massa rumah-rumah dan toko-toko yang dimiliki oleh warga Kristen dilempari dengan batu. Pertokoan dan hotel-hotel yang berada di pusat kota di Gamalama dilempari dengan batu, tercatat Hotel El-Shinta, Nirwana, Harmonis, dan Neraca mengalami kerusakan pada bagian depan, semua kaca-kacanya hancur.
Setelah keliling kota massa kembali bergerak ke Selatan untuk pulang di daerah Mangga Dua (sebagian besar penduduknya beretnis Makian), massa sebenarnya ingin bergerak ke daerah kantong-kantong warga Kristen lainnya seperti Perumnas Jati, Tanah Tinggi, Jati Kecil, Kota Baru dan Stadion tetapi berhasil di halau oleh Aparat Keamanan. Massa kembali ke Mangga Dua pkl 17.00 BTWI, dan amukan massa pun reda. Pkl 18.20 BTWI massa bergerak kembali ke Utara karena ada informasi bahwa pasukan keraton mau membantu masyarakat Kao, sebenarnya pasukan sultan ini hanya sekedar mau mengamankan pelabuhan ferri, akhirnya ada seorang warga Makian yang meluruskan informasi tersebut, sehingga bentrokan antara warga Makian dan pasukan keraton dapat dihindari. Kemudian massa di antar pulang dengan menggunakan mobil aparat pada pkl 19.00 BTWI.
Sampai dengan pkl 22.30 BTWI jumlah pengungsi yang tiba di Ternate berjumlah ± 1.350 orang, dari jumlah tersebut sebagian besar sudah ditampung dikeluarganya masing-masing yang berada di Ternate, sedang sisanya yang berjumlah sekitar ± 100 orang di tampung di gedung serba guna SMK 2 Ternate.
Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun dari berbagai nara sumber, bahwa Kondisi Kec. Malifut sampai dengan pkl 22.30 sudah ditinggalkan oleh seluruh masyarakat Makian, semua bangunan sudah dibakar oleh masyarakat Kao, yang tersisa hanya Masjid-masjid, Kantor Kecamatan dan Komplek Danramil. Masyarakat Kao dalam melakukan penyerangan ini di bantu oleh masyarakat Kristen yang lainnya yang berasal dari beberapa desa Kec. Wasile melalui jalur laut. Sehingga masyarakat Makian ini benar-benar terkepung dan terjepit, sementara pihak Aparat Keamanan tidak mampu menghalau serbuan ini, karena mereka melakukan penyerangan secara sistematis dan dilengkapi dengan berbagai macam senjata mulai dari parang, panah, tombak dan bom rakitan. Di tengah-tengah kondisi yang terjepit ini masyarakat Makian hanya bisa pasrah, sementara itu bendara putih sudah dikibarkan sebagai tanda menyerah. Sampai dengan pkl 22.30 wit. Aparat mengevakuasi seluruh masyarakat Makian yang berada di Malifut. Masyarakat Makian (Malifut) seluruhnya berkumpul di komplek Danramil pada saat terjadi penyerangan tersebut, karena hanya tempat inilah yang paling aman (tidak diserbu). Sementara bantuan Pemda yang telah diberikan kepada masyarakat Malifut berupa beras 10 ton dan gula 5 ton.
Ternate, 26 Oktober 1999
Krononogis Peristiwa Tragedi Tidore :
Penyebab kerusuhan yang dapat disimpulkan , dari keterangan yang diperoleh :
Tragedi ini menelankan korban tewas 8 orang dewasa laki-laki, dua tewas terbakar dan 6 orang tewas oleh senjata tajam dan dikeroyok massa.
3 (tiga) rumah Ibadah terbakar.
Wassalam.
C. Tragedi Di Pulau Ternate.
Sebab-sebab kerusuhan.
DEWAN ADAT (KESULTANAN) TERNATE DIKEPUNG PASUKAN PUTIH
Aksi kerusuhan massa kembali terjadi di Pulau Ternate hari selasa (28/12) menyusul kerusuhan yang terjadi di Kec. Tobelo yang bernuansa sara. Kerusuhan yang dikenal dengan pasukan putih karena memakai ikat kepala putih yang terdiri orang-orang ternate Selatan ditambah bantuan dari Tidore dan Pulau-pulau lain yang nuansa agamisnya lebih kental, dan pasukan kuning dengan baju adat dan ikat kepala kuning yang terdiri dari pasukan sultan mengakibatkan banyak kerugian yang kedua kalinya setelah peristiwa (6/12) lalu. Kerugian terbesar akibat pembakaran rumah-rumah oleh dewan adat yang membabi buta. Sekitar 100 rumah penduduk hangus di kel. Maliaro , Tanah Tinggi dan Kampung Pisang. Sepanjang Jl. Yos Sudarso, Jl. Seruni, jl. siswa, dan lorong arah ke timur depan pompa bensin maliaro habis terbakar. Sementara itu, telah ditemukan mayat sebanyak 7 orang akibat kurban peristiwa tersebut. Diperkirakan 5 dari kuning dan 2 dari putih. Puluhan ribu wanita dan anak-anak telah mengungsi ke Tidore. Aparat nampak tidak mampu berbuat banyak hanya sesekali terdengar letusan ke udara.
Kronologis tambahan
Hari Minggu (25/12) Malam sekitar pukul 22.00 Tobelo pecah, yang diawali pemuda obet bikin gara-gara setelah minum minuman keras.
Senin (27/12) Pagi kabar meletusnya di Tobelo terdengar di Ternate dimana acang terdesak.
Senin (27/12) malam pemuda Ternate selatan berencana akan membakar gereja ayam GPM sebagai presser atas kejadian tobelo namun dihadang oleh pasukan dewan adat dan aparat. Akhirnya besitegang sampai pagi. 1 orang kena luka tembak. Ketegangan juga terjadi di markas Golkar yang dijaga pasukan kuning.
Selasa (28/12) pagi jam 7.00 pasukan kuning bertambah banyak jumlahnya hingga ribuan, sehingga pasukan putih kewalahan. Pada saat inilah obet-obet yang membonceng pasukan kuning menyerukan aksi bakar yang tak lain sasarannya adalah rumah acang. Aksi bakar pertama kalinya adalah rumah sebelah utara (atas) mesjid Al-Mutathahirin di maliaro dan rumah lorong ke timur depan pompa bensin. Pasukan kuning terus merangsek ke arah kampung pisang dan tanah tinggi hingga jaranknya sudah siktar 200 m dari DPD PK Malut. Namun, jam 9.00 bantuan dari Tidore yang jumlahnya ratusan telah tiba di berbagai pantai yang kemudian dapat memukul balik mundur pasukan kuning.
Sembari memukul mundur pasukan kuning, putih sempat membakar gedung golkar, dan gereja di kalumpang yang belum selesai dibangun.
Sore hingga malam hari pasukan putih memukul mundur hingga dekat daerah kesultanan, bahkan hingga pagi hari.
Rabu (29/12) pagi puluhan ribu masyarakat Ternate Selatan dan Tidore dengan membawa senjata yang telah disiapkan seperti, parang, pedang, panah, tombak dan lain-lain mengadakan apel di depan kantor Polisi menuntut pemerintah setempat agar masalah keamanan diseluruh wilayah propinsi Maluku Utara menjadi tanggung jawab aparat bukan pasukan adat, kedua menuntut Sultan Ternate (sekaligus Ketua DPRD II Kab. Maluku Utara) bertanggung jawab atas pembakaran rumah-rumah masyarakat di Kelurahan Kampung Pisang dan penghancuran rumah-rumah di Kelurahan Tanah Tinggi. Karena kurang mendapat tanggapan massa bergerak ke Kantor Gubernur dan mengajukan tuntutan yang sama di depan Gubernur. Sikap pemerintah yang lambat membuat massa menjadi tidak sabar kemudian bergerak ke arah Kesultanan Ternate, akhirnya bentrokan terjadi antara pasukan kuning (pasukan adat) dan pasukan putih (gabungan antara massa Ternate dengan Pasukan Tidore). Setelah bentrokan terjadi selama kurang lebih lima jam akhirnya atas kehendak Allah SWT pasukan kuning kalah dan pasukan putih berhasil menduduki Kesultanan Ternate. Dengan demikian kondisi di Ternate berangsur pulih. Korban yang tercatat bersumber dari RSUD Ternate korban luka-luka 97 orang dan yang meninggal 10 orang.
Jadi dapatlah disimpulkan bahwa untuk menyelesaikan kasus Maluku dan Maluku Utara maka haruslah diselesaikan kasus Ambon dan kasus yang mengikuti kasus Ambon, dengan mencari dalang pelaku yang sebenarnya sebagai otak provokasi dari setiap jenis Kasus.
Mengenai keadaan terakhir di Ternate sampai saat ini sekita 20 jiwa lebih korban tewas dari kedua belah pihak, sekitar 500 rumah rusak dan terbakar dan tiga tempat ibadah rusak terbakar.
D. Tragedi Ramadhan 1420 H Berdarah Di Tobelo, Galela
dan Sekitarnya di Halmahera Bagian Utara
KRONOLOGIS TRAGEDI RAMADHAN DI TOBELO
Propinsi Maluku Utara baru saja merayakan kemenangan atas disahkan serta diresmikannya oleh Pemerintah menjadi salah satu Propinsi diantara 26 Propinsi di Indonesia, namun seiring dengan suka cita itu ternyata membawa sejumlah persoalan yang dimulai dari Konflik masyarakat Malifut – Kao yang mencuat kepermukaan dengan dalil perbatasan ternyata sesungguhnya adalah cikal bakal konflik berbau SARA yang dikelabui di wilayah ini kenapa tidak, kondisi riil di lapangan Malifut adalah simbol umat Islam di Halmahera Bagian Utara dan Kao (walau ada muslim ) tapi mayoritas yang mendiami kaum Nasarani, kejadian demi kejadian beruntun meluas ke Pulau Tidore, Halmahera bagian Tengah dan Selatan sampai ke Pulau Ternate. Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya kerusuhan ini terjadi ada kaitanya dengan tragedi di Ambon hal ini disebabkan kelompok masyarakat Ambon Nasrani sebagian melarikan diri ke Maluku Utara. Disamping itu dipicu lagi dengan rasa Feodalnya Sultan Ternate yang ingin menunjukan Kebobrokanya dengan memamfaatkan pasukanya (pasukan kuning) menyerang warga muslim yang mendiami Kota Ternate terutama suku Makian, Bacan,Tidore dan Sanana (konon sebagai lawan politiknya) dengan puncaknya Pembakaran sekitar 100 buah rumah di kelurahan Kampung Pisang, Tanah Tinggi dan Maliarao oleh pasukan adat kesultanan ternyata konspirasi yang di mainkan adalah konspirasi murahan yang dibuktikan dengan pasukan tersebut adalah orang-orang Nasarani dan berhasil di gempur masyarakat Muslim (pasukan putih) di Istana Sultan sehingga sultan Ternate menyerah dihadapan sultan Tidore dan disaksikan oleh Gubernur Maluku Utara Surasmin SH.
Tanggal 25 Desember tidak selalu diidentikkan dengan hari Natal yang merupakan hari suci Umat Nasrani dimana hari itu umat Islam pun dengan landasan toleransi selalu menghormati, namun di Tobelo, Ibukota kecamatan Tobelo, Kabupaten Maluku Utara Propinsi termuda Maluku Utara. Lain yang dirasakan yakni suatu Tragedi yang tak mungkin dilupakan oleh umat yang namanya umat Islam di Jazirah Utara Al-Muluk ( nama awal Maluku ) ini. Seperti diuraikan dalam kronologis berikut :
Kecamatan Tobelo
Awal bulan Desember 1999 banyak orang-orang berdatangan menuju Tobelo. Ketika ditanya warga muslim mereka adalah pengungsi dari kerusuhan Ambon, Kao dan Ternate yang terjadi sebelumnya. Namun setelah diamati kebanyakan mereka yang datang adalah para laki-laki yang segar yang tampaknya tidak terlihat kesedihan atau sakit.
Jum’at, 24 Desember 1999
Menyongsong Natal 1999 di Tobelo, didatangkan pasukan pengamanan gereja dari Desa Loloeto, Desa Paca, dan Desa Tobe, arah selatan Tobelo. Kedatangan pasukan pengamanan gerejadari ketiga desa yang didomonasi warga Kristen itu dengan perlengkapan senjata yang lengkap seperti tombak, parang, pedang dan ikat kepala merah yang diangkut dengan truk.
Kondisi ini tentunya mendatangkan kemarahan warga muslim di dufa-dufa Tobelo, menurut warga muslim, mengapa pengamanan gereja di malam Natal itu harus dengan perlengkapan senjata?
Pada saat yang sama, di Desa Gorua (yang didominasi warga muslim) arah utara kecamatan Tobelo, memlalui Pdt. Yan Rubawange dengan alas an kebersamaan, memintakan masyarakat Gorua menjaga desa di gereja tersebut. Warga muslim Gorua dengan segala keikhlasannya mengabulkan permintaan itu. Malam itu gereja di Gorua dijaga warga muslim Gorua hingga pagi hari. Padahal semua ini hanya sebuah siasat kelompok Kristen.
Minggu, 26 Desember 1999
Pukul 20.15 WIT, terjadi pelemparan rumah milik seorang warga muslim tak diketahui asal lemparan, tak berapa lama terjadi lemparan balasan yang menurut saksi mata mengenai rumah milik purnawirawan polisi bermarga Maitimu di daerah Gosoma Barat, suasana ini dapat dikendalikan. Lalu ada warga yang melihat purnawirawan Maitimu ini berjalan menuju Gosoma (yang dominasi ditempati warga Kristen). Selanjutnya dalam waktu yang tidak terlalu lama, terlihat 5 orang pemuda dari Gosoma mabuk dan berteriak kearah tempat pasar kaget. Kejadian ini berlangsung pada saat Umat Islam sedang melaksanakan sholat Isya dan Tarwih, kelakuan pemuda ini membuat masyarakat kaget dan melarikan diri, Ketika itu kelima pemuda itu menuju jalan depan Gereja Pantekosta, dari situlah tiang listrik dan bel gereja dibunyikan.
Sekitar pukul 21.30 WIT terdengar tanda pemukulan tiang listrik diselingi bunyi lonceng Gereja, pada saat yang sama juga terdengar bom. Suasana malam mulai gempar. Masyarakat di Desa Jalan Baru (Islam) dan Gosoma (Kresten) mulai berhadapan dan saling mengkonsentrasikan massa. ketika itu korban yang meninggal awal adalah 2 orang. Rumah yang dibakar pertama kali adalah Musholla yang terletas di jalan Baru. Kemudian rumah muslim pertama yang terbakar adalah rumah Adhan Hadi (kepala SMA Negeri) dan rumah dinas Kepala Kepaniteraan Pegadilan Negeri Tobelo (Pak Gaus).
Senin, 27 Desember 19999
Sekitar pukul 03.00 WIT merebak informasi bahwa akan ada penyerangan dari kelompok Kresten ke kaum muslimin yang berada diantara kelompok kresten (dikelilingi).
Pukul 05.00 bersamaan dengan tiba shalat Subuh terjadi penyerangan ke kaum muslimin (oleh kaum muslimin dinamakan serangan fajar) dengan kejadian ini akhirnya terjadi bentrok antara kedua bela pihak hingga siang hari dan akibatnya banyak korban dipihak muslimin mulai berjatuhan (bertambah). Hal ini diketahui dari banyak korban yang dilarikan ke masjid, saat yang sama telah terjadi pembakaran rumah hingga pagi hari arus pengunsi mulai membludak diinstansi militer .
Di Desa Dokumalamo Kec. Galela warga nasarani melakukan pembunuhan dan pembantaian terhadap Imam masjid Nurul Huda yang bernama H. Jailani Tobuku, Jenasa Bapak Imam sempat dikebumikan oleh warga Muslim namun warga nasrani mengetahui dan kembali membongkar diambil lalu disalib dan memasukan daging babi ke mulut mayat Bapak Imam.
Dikantor Koramil Tobelo juga terjadi pembantaian terhadap warga Muslim yang mengungsi/berlindung, didalam kantor tersebut beberapa orang warga muslim dicincang dihadapan Danramil dan aparat Koramil Tobelo. Namun Pihak Koramil tidak bisa berbuat apa-apa.
Selasa, 28 Desember 1999
Masih terjadi bentrok kedua bela pihak, korban sudah berjumlah 13 orang yang sempat diketahui, menurut saksi mata kelompok merah yang menyerang dengan menggunakan senjata lengkap berupa parang, tombak, panah-panah, bom Molotov, senjata bahkan granat. Kondisi kaum muslimin saat itu semakin parah karena persedian yang dimiliki suda tidak ada lagi
Menurut saksi mata bahwa sebelumnya yaitu hari Jum’at melihat masyarakat mengangkut panah-panah ke dalam gedung gereja dan mengatakan bahwa natal kali ini adalah Natal berdarah.
Rabu, 29 Desember 1999
Sekitar pukul 06.00 WIT di Desa Togolihua di serang dari dua penjuru yakni dari arah utara dan selatan pasukan kelompok meraha (Nasrani) yang berjumlah sekitar lebih dari seribu personil melakukan kontak dengan masyarakat muslimin Desa Togolihua bentrokan terjadi hingga pukul 11.300 WIT dengan keterbatasan persiapan yang dimiliki oleh masa muslim Desa Togolihua dan jumlah kelompok penyerangan yang sangat besar sehingga pada pukul 12.00 WIT Desa Muslim Tigolihua nyaris ditelan oleh kelompok merah dengan demikian korban dikelompok muslim tidak bisa terhindari.
Di Mesjid Al Ikhlas (Kompleks Pam) tempat diungsikanya para ibu dan anak-anak menjadi sasaran empuk (terjadi pembataian yang sangat menyayat hati kaum mulimin) karena disana terdapat sekittar 400 (empat ratus) jiwa dibantai habis-habisan tidak ada satu pun yang meloloskan diri. Kesaksian Bapak Imam Mesjid Al-Ikhlas yang Alhamdulillah meloloskan diri dari kepungan Massa nasrani dan berusaha sampai ke Ternate.
Ada beberapa wanita yang dibawa ke Desa Tobe (sekitar 9 KM ) dari Desa Togolihua mereka dikembalikan dengan tidak menggunakanan busana sehelai pun (telanjang). Pada saat yang sama juga menurut penuturan saksi mata, korban yang sempat jatu dicincang dan dijejerkan kepala mereka diruas jalan desa tersebut.
Modus operasi yang dilakukan oleh kelompok Nasrani mula-mula melakukan pemboman kemudian dilanjutkan dengan pembakaran dengan demikian tidak ada satu pun yang lolos dari sasaran mereka
Kamis - Jum’at, 30-31 Desember 1999
Pasukan nasarani dipimpin oleh pdt. J. Soselisa dan J. Huwae (mantan Camat Tobelo) bergerak ke desa Gorua dalam perjalanan memimpin pasukan dengan pengeras suara J. Soselisa mengucap kata-kata sebagai berikut : " Orang Islam Indonesia harus dihabiskan karena bikin kotor. Jangan takut, maju terus karena ada bantuan dari Belanda, Inggris dan Australia. Jadikan Tobelo sebagai Israel kedua. Tokoh-tokoh Islam Gorua harus ditangkap hidup-hidup seperti Hi. Abdurahim Hi. Ahmad (Imam Gorua) dan Hi. Husni Hakim….".(ucapan yang sempat didengar warga warga muslim yang disampaikan kepada posko Peduli Umat Tobelo). Dalam penyerangan Masjid Al-Muttaqin dibom dan jatuh korban di pihak muslim sekitar 30 orang mayatnya dicincang oleh pasukan nasrani. Akibat bobolnya pertahanan desa Gorua pasukan nasrani melanjutkan penyerangan ke Desa Popilo, pembantaian terjadi di Masjid Muhajirin Desa Popilo sejak pagi sampai pukul 10.00 wit korban yang jatuh sekita 30 orang.
Asrama kompi C 732 di Tobelo telah dipenuhi oleh sekitar 13 ribu pengunsi yang manyoritas kaum muslimin. Informasi yang diterima dari para korban, sebelum kejadian di Kota Tobelo hampir sebagian besar ibu-ibu dari kelompok merah telah diungsikan hal ini dirasakan masyarakat di kompleks Kampung Jalan Baru dan Kampung Cina.
Arus Pengungsi mulai mengalir ke Ternate mulai dari hari selasa, 28 Desember 1999 sampai dengan 31 Desember 1999 sekitar 10.660 jiwa.
Pada hari yang sama ini di Sidangoli Kec. Jailolo juga tidak luput dari Konflik yang menelan korban jiwa dipihak muslim 10 orang.
Sabtu - Minggu, 1- 2 Januari 2000
Enam hari setelah Konflik masa dalam suasana Ramadhan 1420 H, Jailolo mengalami imbasnya yakni terjadi bentrokan antara massa Muslim dan massa Nasrani tepatnya di desa Tuada, aparat keamanan yang seharusnya menjadi penengah dan menjunjung tinggi netralitas tanpa harus bertindak sepihak telah melakukan penembakan kearah warga Muslim menurut Saksi mata M. Muhidin sejumlah 9 orang oknum. Namun 4 orang yang dapat diidentifikasi yaitu :
Bukti hukum dalam kasus keterlibatan aparat ini yaitu ditemukannya peluru dalam tubuh korban, korban luka-luka yang dapat diidentifikasi adalah Saeni dan Rinto (warga Muslim)
sampai dengan tanggal 2 Januari 1999 telah berjumlah 12.266 jiwa yang berada di tempat-tempat yang telah disediakan oleh masyarakat kota Ternate.
Senin 3 januari 2000
Kecamatan Ibu,
Perang bernuansa akidah di Kepulauan Halmahera terus melebar. Diceritakan oleh Muzakir Adi dan Ali Ohimas (staf Bagian Pemerintahan Ibu) pada hari Senin (3/1-00) meletuslah perang di desa Gam Ici, dimana dari 36 desa dan 3 dusun di kecamatan Ibu hanya 7 desa saja yang mayoritas agamanya Islam. Lainnya adalah kelompok merah alias Kristen. Para pemuda Kristen saling bahu – membahu menyerang desa Gam Ici pada jam 14.00 hingga 16.00. Hanya dalam dua jam Gam Ici jatuh ke tangan Kristen.
Sampai Hari Senin, Tanggal 3 januari 1999 pukul 14.00 WIT, arus pengungsi ke Ternate semakin meningkat data semntara berjumlah
25.266 jiwa kebanyakan anak-anak dan wanita yang diangkut oleh KM Lambelu dan KRI 501 milik angkatan Laut mereka diungsikan di beberapa gudang dan perumahan masyarakat Kota Ternate, Pengungsi juga sementara di tampung di Perumahan penduduk di Ibukota kabupaten Halmahera tengah (belum didata jumlahnya), daerah konflik semakin melebar ke kecamatan sekitarnya yaitu Kecamatan Loloda, Kao, Jailolo, Ibu dan Malifut. Jumlah korban diperkirakan sekitar 520 jiwa dari berbagai tempat /lokasi yang terisolir oleh aparat keamanan.Selasa, 4 Januari 2000
Kemudian pada dini harinya pk. 03.00 wit, dari desa Gam Ici para pemuda kristen melanjutkan serangan ke desa Gam Lamo. Dan terus merangsek ke desa-desa muslim lainnya seperti Tongute Ternate, Tahafo, Gam Konora, Talaga, dan Gamsungi. Semua rumah – rumah penduduk sebanyak 1.029 buah dan 7 tempat ibadah muslim seluruhnya dibakar habis.
Model penyerangan, lapisan depan pasukan kristen dan dibelakangnya ada pasukan aparat. Alat yang digunakan bom standar, dan senjata organic. Beberapa staf Koramil setempat sempat menghalau kepada masyarakat dengan alasan mengamankan , namun setelah massa kumpul malah dibantai dengan menyelinap di pasukan Kristen dan menembakinya. Aparat tersebut bernama Wowe dan Tikupasan.
Jumlah pengungsi yang datang ke Ternate dari Kec. Ibu 5.460 jiwa. termasuk Camat Ibu yang muslim. Mereka ditampung di gudang-gudang milik cina, rumah penduduk bagi yang ada famili, dan rumah-rumah milik orang kristen yang ditinggal pergi.
Korban pastinya belum bisa diketahui . Namun yang pasti dari 3 penyerangan desa yang pertama sebanyak 15 korban meninggal dan belasan orang luka-luka.
Diisukan pula Dan Ramil Kec. Ibu terbunuh namun setelah dapat konfirmasi yang ternyata tidak benar.
Selasa, 4 Januari 2000
Kecamatan Sahu
Ibu kota Kecamatan berpenduduk 5 % muslim hanya dalam sekejap diratakan oleh pasukan kristen.
Dari petugas Polsek yang ada hanya 7 Petugas yang muslim dan hanya 3 yang punya senjata. Petugas itu antara lain Rauf Soleman, Arifin Buton, Syansudin Baba, Aris Wattima, Syamsudin, dan Khaerudin kini tidak diketahui jelas rimbanya. Apakah disandra atau sudah meninggal.
Aparat lainnya yang terlibat seperti Elly Rembulan (babinsa asal Ambon), Kristian (staf Koramil), Dan (Babinsa asal Ambon) Badrun rembawa (babinsa Sahu) bahkan Danseknya Heri dengan menutup kepala dengan helm dan menembak Muksin walaupun tidak sampai meninggal.
Kurban juga belum dapat diketahui pasti. Namun ada beberapa yang sempat diketahui masyarakat seperti Mundasir Mojoindo tewas kena tembakan. Samaka Dua , dan 3 orang terbakar dalam rumah. Ada sekitar 300 orang yang masuk di masjid JaraKore, Susupu tidak diketahui kondisinya, dan diduga dibunuh massal.
Hingga saat ini 7 Januari 2000 jumlah korban pasti akibat perang bernuansa akidah di Tobelo sejak 26-12-1999 sampai dengan 7 – 01-2000 belum bisa dihitung pasti.
Sabtu, 8 Januari 2000
Di desa Baja Kecamatan Loloda terjadi pembakaran perumahan muslim yang pada awalnya desa muslim tersebut telah dikosongkan(diungsikan) bergabung dengan warga muslim dipulau Doi karena sangat rawan dengan keberadaan kelompok penyerang nasarani, tidak ada korban jiwa.
Minggu, 9 Januari 2000
Akibat penyerangan pasukan nasrani ke desa muslim Baja hari Sabtu tersebut maka Warga muslim pulau Doi melakukan serangan balasan ke dua dusun (anak desa) bagian utara yaitu Dowong gila dan Cera.
Pada hari yang sama kelompok nasrani membumihanguskan desa Ngajan yang semula masyarakat telah mengungsikan diri kedesa tetangga yaitu Pulau Tobo-tobo dan Dama, dalam penyerangan ini tidak ada korban jiwa.
Sampai berita ini diturunkan Jum’at 14 Januari 2000 kondisi Tobelo dan sekitarnya agak reda pasukan jihad mulai berdatangan dari berbagai tempat menuju ke Jailolo seterusnya ke Tobelo dan Galela dan sekitarnya. Dan hari sebelumnya juga terjadi kontak senjata namun berhasil dilerai oleh aparat yang bertugas.
Jumlah pengungsi di Ternate sudah mencapai 35 ribu jiwa. Korban semntara dapat dilihat pada data korban.
(data lanjutan lihat kronologis per pekan terlampir)
Awal bulan Oktober 1999, hingga tanggal 31 Desember 1999 telah terjadi peristiwa baik yang merenggut nyawa pemuda islam maupun harta benda serta harga diri ummat islam yang ada di kecamatan Ibu Maluku Utara. Peristiwa-peristiwa tersebut berupa :
5. Pengambilan Binatang sapi piaraan secara paksa (mencuri) milik orang islam.
Hingga tanggal 2 januari 2000 terjadi aksi penyerangan besar-besaran dari warga Kristen terhadap warga islam, yang diawali dengan pembakaran pada ujung desa Gam Ici, menyebar ke desa Gam Lamo dan seterusnya hingga ketujuh desa Islam yang berjejer di kecamatan Ibu hangus total, kejadian ini menyebabkan Babinsa Kecamatan Ibu dibantai (lehernya dibacok hampir putus) – mayatnya sudah diefakuasi ke Ternate dan sudah dikebumikan oleh Kodim Ternate. Sedangkan Kapolsek Bapak. Letda Pol. Suharjimantoro serta seorang anak buahnya Serda Bahtiar dan Danramil Kapten Inf. Trimono belum diketahui nasibnya hingga kini.
Jumlah jiwa yang mengungsi ke Ternate khusus kecamatan Ibu 5487 jiwa, sapi yang dirampas 543 ekor, dan para-para (rumah tempat pengeringan Kapra) yang dibakar oleh warga Krestan sebanyak 150 unit.
Pejabat yang terlibat sebagi tokoh kunci dalam kerusuhan :
( Selama Kerusuhan Tobelo,Galela dan Halmahera Utara)
(sumber : Data dari berbagai posko di Ternate)
|
No. |
Nama Daerah/Desa/Kelurahan |
Jumlah Korban (jiwa) |
Keterangan |
|
1. 2. 3. 4. 5. 6. 6. 7. 8. 9. 10. 11. |
Khusus Tobelo dan sekitarnya Desa Togolihua Desa Gorua dan Popilo Tobelo Kota Suka maju Jailolo Gomhoku Ibu Sahu Galela Sidangoli Pintato (wasilei) Guruapin |
314 267 27 4 10 79 20 100 67 7 9 3 |
Dibantai dimasjid kebanyakan anak-anak dan wanita. Sda Dibantai di depan Masjid Dibantai didepan Gereja Terlibat dalam peperangan Mempertahankan kampung halaman sda Meninggal dalam pertempuran dan dibantai dimasjid Meninggal dala pertempuran Meninggal tgl 16-1-2000 Meninggal tgl 17-1-2000 |
|
Sub Total |
897 |
Data sementara |
|
|
Hilang dari Tobelo |
sekitar 1900 |
Lari kehutan belum ditemukan |
|
|
Total |
3797 |
Data sampai tgl 20 –01-2000 |
Data diolah dari berbagai sumber posko terutama dari para saksi korban
Korban dari Aparat Keamanan Muslim
|
No. |
Nama |
Satuan |
Keterangan |
|
1. |
Letda Suharjimantoro |
Polri |
Kapolsek Ibu |
|
2. |
Kapten Trimono |
TNI |
Danramil Ibu |
|
3. |
Serda Bahtiar |
TNI |
Staf Danramil |
|
4. |
Babinsa Ibu |
TNI |
Sumber : para saksi mata yang mengungsi ke Ternate.
Kerusakan Sarana Fisik :
|
No |
Jenis Gedung |
Jumlah (buah) |
Keterangan |
|
1. |
Gedung TK |
4 |
TK.Aisia, TK. Alchairat, TK. Porimoi, TK. Alchairat |
|
2. |
SD / M. Ibtidayah |
5 |
Al-Chairat, Islamiyah, Popilo, MIN Gorua dan MIN Dokulamo |
|
3. |
SLTP/ M.Tsanawiyah |
7 |
Muhammadiyah, Islam, Muh. Trans Togoli, Al-Chairat Popilo, Mts. Muhammadiyah, Mts. Porimoi, MTsN Dokulamo, |
|
4. |
SMU/M. Aliyah |
2 |
Muhammadiyah Tobelo dan MAN Galela |
|
5. |
Peasanter |
1 |
Pesantren Teknologi |
|
6. |
Sekolah Tinggi |
1 |
STAIN Ternate Al-Hilal Tobelo |
|
7. |
Kantor |
2 |
KUA Tobelo dan DPC Muhammadiyah Tobelo. |
|
8. |
Masjid dan Mushollah |
19 |
Lihat Daftar masjid |
Keterangan tambahan : Semuanya Dibakar = ludes terkeping-keping
Daftar Masjid yang Rusak.
|
No. |
Nama Masjid/ Musholah |
Lokasi |
Kondisi |
Keterangan |
|
1 |
Al-Hikmah |
Blk. Karianga- Tobelo |
Rusak terbakar |
|
|
2 |
Al-Amin |
Jl. TT. Marhaban Gamsungi |
sda |
|
|
3 |
Nurul Yakin |
Gosoma barat Tobelo |
sda |
|
|
4 |
Umar Bin Khattab |
Kaliseratus GB Tobelo |
sda |
|
|
5 |
Muhajirin |
Kp. Baru Tobelo |
sda |
|
|
6 |
At-Taqwa |
Dufa-dufa Tobelo |
sda |
|
|
7 |
Jami’ |
Kampung Cina Tobelo |
sda |
|
|
8 |
Jami’ (utk wanita) |
sda |
sda |
Mushallah Wanita |
|
9 |
Nurul Fajrin |
Jalan Baru Tobelo |
sda |
|
|
10 |
Gura Depan |
Gura Depan Tobelo |
sda |
|
|
11 |
Marimoi |
Marimoi Tobelo |
sda |
|
|
12 |
Kampong Baru |
Kampong Baru Tobelo |
sda |
|
|
13 |
An-Nur |
Bura Belakang Tobelo |
sda |
|
|
14 |
Popilo |
Popilo |
sda |
|
|
15 |
Gorua |
Gorua |
sda |
Jumlah 3 buah |
|
16 |
Togoliua |
Togoliua |
sda |
|
|
Total Sementara |
19 Buah |
|
No. |
Kelurahan |
Jumlah Pengungsi (KK) |
Jumlah Pengungsi (Jiwa) |
Asal Daerah |
|
01. |
Dufa-dufa (MAN) |
135 |
897 |
Ibu |
|
02. |
Sangaji |
- |
3898 |
Sahu |
|
03. |
Kasturian |
- |
547 |
Galela |
|
04. |
Bel. Benteng (Bioskop) |
25 |
125 |
Tobelo |
|
05. |
Kalumpang |
25 |
97 |
Galela |
|
06. |
BTN |
95 |
612 |
Galela |
|
07. |
Maliaro (WismaKarya) |
46 |
183 |
Loloda |
|
08. |
Siko (SMU Al-Chairat) |
27 |
120 |
Tobelo, Galela |
|
09. |
Kalumpang (Wihara) |
38 |
176 |
Tobelo, Galela |
|
10. |
SD Inpres Sango |
- |
483 |
Loloda |
|
11. |
Siko (Ust gani) |
24 |
112 |
Ibu |
|
12. |
Manggadua |
- |
388 |
Tobelo, Galela,Sahu |
|
13. |
Bastiong |
- |
1547 |
sda |
|
14. |
Toboko |
- |
425 |
sda |
|
15. |
Jati Perumnas |
299 |
1843 |
sda |
|
16. |
Gamalama |
300 |
1612 |
sda |
|
17. |
Ngidi |
- |
645 |
sda |
|
18. |
Tanahtinggi |
- |
981 |
Tobelo, Galela |
|
19. |
Kota Baru |
550 |
Campuran |
|
|
|
Menyebar Rumah –rumah penduduk |
- |
40.000 lebih |
Campuran |
|
20. |
P. Tidore |
10.000 |
Meyebar di 3 lokasi |
|
|
Total |
Sekitar 3500 |
65.241 |
(Lebih) |
TERCATAT : Enam puluh lima ribu dua ratus empat puluh satu jiwa lebih.
Data Per 20 Januari 2000 dari berbagai posko di Kota Ternate dan Tidore
SAKSI HIDUP
(Umur : 15 th. /Kls. III SMP Al Khairat Tobelo desa Papilo, Lokasi Kejadian: Desa Togolihua, Tobelo)
Sebelumnya telah beredar isu dimasyarakat, bahwa akan ada penyerangan orang-orang Kristen dekat lebaran Idul Fitri 1420 H.
Rabu, 21 Desember 1999 pukul 09.00 WIT telah bergabung masyarakat Kao Kristen, Kao Islam , Kampung Kusur dan Telaga Paca untuk melakukan penyerangan ke desa Togolihua, ribuan masyarakat berkumpul/mengungsi ke Masjid Al Ikhlas Desa Togolihua .
Masjid dikepung lalu di bom (bom pipa rakitan yang menunjukkan bahwa pihak Kristen sudah mengadakan persiapan sebelumnya), tetapi Masjid tetap utuh. Kemudian pihak Ikat Merah (Kristen) memanah ke dalam Masjid dengan panah-panah Babi, sebagian dari mereka melempari Masjid dengan batu-batu besar sampai tembok-tembok masjid banyak yang bolong.
Satu jam kemudian dari pihak umat Islam yang mengungsi dalam Masjid menyerah, kemudian pihak Kristen masuk ke dalam Masjid. Sekitar 500 orang pengungsi dalam Masjid lari keluar Masjid, menurut saksi sebagian lari masuk ke dalam hutan, dan sebagian lagi menyerah. Kemudian mereka diangkut dengan satu truk ke Kapolsek. . Dalam perjalanan ke Kapolsek, menurut Ibu Musrinah (40 th) saksi yang ikut diangkut , melihat berjejeran mayat di jalan yang jumlahnya sangat banyak.
Saksi MUFLI mengatakan bahwa yang tetap bersikeras tidak mau menyerah jumlahnya kurang lebih 600 orang yang semuanya tewas, kecuali saksi yang dikira sudah tewas karena badannya berlumuran darah saat penyerangan terjadi.
Berikut tindakan penganiyaan yang disaksikan saksi :
Semua mayat berjumlah kurang lebih 600 orang itu dibakar sekalian dengan membakar Masjid (pukul 13.00 WIT).
Saksi sendiri menyelamatkan diri dengan keluar melalui tembok masjid yang bolong itu dalam keadaan sudah terluka bakar. Kemudian saksi mencari orang-orang Islam yang masih hidup tetapi tidak ketemu. Saksi juga mencari sampai di bekas-bekas rumah penduduk muslim yang terbakar. Dalam pencariannya, saksi bertemu dengan seorang polisi (pukul 16.00 WIT) dari Ternate. Dan saksi dibawa ke Polsek, lalu dirawat selama 7 hari bersama korban-korban yang lain. Dan alhamdullah polisi yang menyelamatkan saksi adalah seorang muslim.
Karena keluarganya ada di kompi, Saksi ke Kompi Tobelo dan bersama-sama keluarganmya (5 orang saudara dan 2 orang tua) beserta para pengungsi yang lain ke Ternate dengan Kapal 7 hari bersama korban-korban yang lain. Dan alhamdulillah polisi yang menyelamatkan saksi adalah seorang muslim.
Karena keluarganya ada di kompi, Saksi ke Kompi Tobelo dan bersama-sama keluarganmya (5 orang saudara dan 2 orang tua) beserta para pengungsi yang lain ke Ternate dengan Kapal Perang.
Tambahan :
(umur 40 tahun pengungsi asal Makian Talaga)
Ibu Masriah bersama muslim lainnya mengungsi ke Masjid , Masjid di kepung kemudian di bom dan dipanah. Kurang lebih 50 orang laki-laki di cincang/potong-potong termasuk suami ibu Musriah. Ibu Musriah sendiri bagian belakang kepalanya di potong dan telapak tangan di tembus panah. Muslim lain banyak yang terkena bom dan panah. Alhamdulillah Ibu Nussriah dan 3 orang anak lainnya di selamatkan oleh aparat Muslim.
3. Ibu Ida
( pengungsi di Masjid Al Muhajirin dengan 4 orang Putra)
Dari keterangan Saksi keseluruhan muslimin yang berlindung di Masjid Al Muhajirin Tugulihua kurang lebih 500 orang, Masjid digempur hari tanggal 21 Desember 1999 dengan memakai bom, panah, batu, tombak dan lain-lain. Baom pertama yang dilempar kedalam Masjid langsung menewaskan suami ibu Ida dan langsung dicincang oleh pasukan Nasrani disaksikan sendiri oleh Ibu Ida, juga Kitab Suci Al Qur’an di potong-potong. Kurang lebih 60 orang yang terdiri dari wanita dan beberapa orang anak menurut ibu Ida di paksa menyerah supaya terselamatkan dan dipaksa keluar Masjid dan diharuskan Yesus " Yesus ‘ dan langsung pada kepala mereka diikat kain merah, samar terdengar teriakan bersahut-sahutan hidup BELANDA, hidup AUSTRALIA ‘ sedangkan yang sisanya kurang lebih 440 orang yang di Masjid sudah terbantai bayi Ibu IDA berusia 2 tahun di ambil sewaktu ibu IDA masih di dalam Masjid, perempuan (11 tahun) + laki-laki (5 tahun) sudah meninggal dan entah dimana. Dan yang bersama ibu IDA sekarang adalah anak laki-laki berusia 6 tahun terpotong dibagian depan kepala dan telapak tangan dan ibu Ida sendiri di bagian punggung terdapat luka kena pana.
Catatan foto-foto saksi di ambil.
Di Desa Togolihua banyak ibu-ibu yang kehilangan anak-anak menurut saksi anak-anak yang diambil kurang lebih 30 orang laki-laki dan perempuan, Ibu-ibu dan anak-anak tersebut dalam keadaan kesakitan kena potong atau panah, lalu anaknya diambil tanpa ada daya untuk mempertahankan , korban rata-rata berasal dari desa Togolihua yang merupakan lokasi kejadian paling tragis dan korban terbanyak :
4. YANI LATIF (17 TAHUN)
Anaknya Nita (1,1 tahun) dirampas dalam kedaan ibu yang telah terpotong, suami juga sudah dibunuh. Ibu Yani ini dibawah oleh pihak Kristen ke desa KUPA-KUPA (Kec. Tobelo) kemudian ia melarikan diri kembali Togolihua ke Masjid Al Ikhalas yang tinggal puing-puing sisa kebakaran bangunan Masjid dan tumpukan mayat terbakar, sendiri dilokasi itu 2 hari 2 malam , diselamatkan oleh aparat keamanan kemudian diungsikan ke Ternate
5. SYAHNAIM (25 TAHUN)
Saat kena panah dibelakangnya anaknya (6 tahun) di ambil, Awi (2 tahun) di bunuh Raik bungsunya Sufiadi (7 tahun) di ambil juga. Menurut saksi Syahnaim, Bahrul (32 tahun) di bunuh lalu kemaluannya diletakan di mulut (Nauzubillah) istrinya dan 4 orang semuanya ikut terbunuh
Melihat Saddam (5 tahun) di gantung lalu dibelah seperti ikan.
Habibah (80 tahun) seorang nenek yang digantung di pohon jeruk yang diikat dengan rambutnya di pohon lalu di cincang.
6. HAMIDA SAMBIKI
(18 TAHUN DARI DESA POPILO KEC. TOBELO)
Dari Masjid Anashar Desa Popilo oleh pihak pasukan Nasrani di tarik/dipaksa dan disuru ikut. Bapaknya berusaha untuk menahan ternyata gagal dan langsung dibunuh. Mereka berencana mau kawinkan dengan anak Pendeta di Tobelo sehingga dilayani baik-baik dirumah pendeta itu. Tetapi diselamatkan oleh seorang yang katanya keluarga di Nasrani lalu di bawah ke Polsek Tobelo.
7. Bapak IDRUS KARIE (48thn)
(IMAM MASJID TOGOLIHUA TOBELO)
Melihat dari dekat ( sekitar 50 m dari Masjid) pembantaian warga muslim yang mengungsi ke masjid kebanyakan anak-anak dan para wanita di Masjid Togolihua oleh Kelompok Kresten (l.b 1000 personil) melakukan pemboman di sekitar dan di dalam mesjid kemudian membakar masjid dan jelas bahwa tidak ada satupun yang hidup diperkirakan berjumlah 400 jiwa, kemudian melihat situasi yang gawat itu bapak imam menyelamatkan diri dengan menyeberang kekampung tetangga Suka maju selanjutnya menumpang mobil milik Bule yang dikawal aparat (orang barat yang bekerja ditambang emas) ke Akelamo kebobaneigo selanjutnya ke Dodinga dan ke Ternate, bapak imam ini juga sempat di kabarkan telah di bantai.
Kisah kesaksian korban lain menyusul
V. Penutup.
Dari rangkaian penjelasan diatas dapat di simpulkan sebagai berikut :
1. Penyebab kerusuhan sesungguhnya adalah adanya keinginan kuat dari selompok orang dengan memanfaatkan agama yang ingin menguasai Halmahera bagian utara dan keinginan kuat Sultan Ternate Drs. Mudafar Syah yang ingin berkuasa.
2. Dari rangkaian kerusuhan yang terjadi di Propinsi Maluku Utara erat kaitanya dengan kerusuhan yang terjadi di kota Ambon (telah berlangsung setahun) yang terbukti dengan banyak keterlibatan para tokoh nasrani yang memang etnis Ambon.
3. Dilihat dari motif kerusuhan dari daerah yang satu ke daerah yang lain di wilayah ini tidak tidak dapat dilepaspisahkan bahkan sangat erat kaitanya dengan nlai emosional yang muncul secara bersamaan dan serentak dalam upaya pembelaan diri.
4. Tragedi ramadhan berdarah di Tobelo, Galela dan Halmahera Bagian Utara merupakan tragedy kemanusian terbesar dalam lintas sejarah kerusuhan di Indonesia karena pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan warga Nasarani terhadap warga Muslim berlangsung pada Bulan Suci Ramadhan dan di Masjid.