KRONOLOGIS  TRAGEDI KEMANUSIAAN  DIMASOHI DAN SEKITARNYA

I. PEMICU AWAL

Sebagai pemicu awal adalah terprovokasinya masyarakat terhadap  :

Pada tanggal  27 Desember 1999 masyarakat Kristen Desa Soahuku dan Amahai

Akibat pemberitahuan tersebut diatas maka pada tanggal  30 Desember 1999 serentak terjadi pembantaian  dan pembakaran terhadap uamat Islam secara besar ? besaran, ratusan rumah dibakar, wanita diperkosa dan dibunuh kemudian kemaluan laki ? laki dipotong dan dimasukkan kedalam mulut wanita. Sentra ? sentra ekonomi umat islam dirusak dan dihancurkan, belasan rumah ibadah dibakar.

Penyebaran wilayah perusuh meliputi :

Dusun Rumalait Desa Tanannahu

Liang Awaiya

Desa  Makariki (Km 2)

Dusun Soahuku Islam Desa Soahuku

Dusun Namano Amahai

pada tanggal 30 Desember 1999 sekitar pukul 06.00 WIT massa kristen di dusun Namano Amahai membakar mobil hartop milik warga muslim atas nama GOZALI, mobil tersebut dikendarai oleh seorang petugas Polres Maluku Tengah atas nama SERKA AGUSTIN ABDULLAH.

Tanggal 31 Desember 1999 terjadi pembakaran dan pembantaian di :

Desa Tonitana Kec. TNS

Desa Makariki

Beberapa dusun minoritas di kecamatan TNS (Waipia) KM 14

Kilometer 12 Kelurahan Holo

Kilometer  9 Transad

Kilometer  7 Waitetes

Kilometer  2  Makariki

Pada tanggal 31 Desember 1999 jam 19.30 WIT terjadi pembantaian terhadap 21 orang

Penduduk  Rumalait Islam Desa Tananahu Kecamatan Amahai.

Pada tanggal 31 Desember jam 16.30 WIT terjadi penembakan terhadap spit boat di Tanjung Namano oleh aparat  Kristen dan menewaskan 2 orang penduduk muslim asal Desa Latu.

II.RENTETAN  KERUSUHAN

Berdasarkan gambaran  itikad buruk terhadap umat muslim sebagaimana kami gambarkan dari poin satu sampai dengan poin lima, maka pada tanggal 1 januari 2000 umat Islam bangkit untuk mempertahankan diri karena terjadi serangan oleh umat Kristen terhadap umat muslim di Kota Masohi.

Sesuai data dan fakta yang akurat dilapangan terjadi keberpihakan yang jelas ? jelas teridenfikasi aparat keamanan menembaki kelompok Islam dan memberi peluang kepada Kristen untuuk melaksanakan aksi pembakaran  rumah penduduk dan rumah ibadah Islam, dan pembunuhan serta pembantaian terhadap umat Islam.

Sebagai bahan renungan berikut kami sampaikan keterlibatan aparat keamanan dan aparat pemerintah daerah :

1.  Kapolres Maluku Tengah atas nama : BENNY B. VON BULOW melalukan perintah        terselubung terhadap anggota Polres Maluku Tengah yang beragama Kristen untuk menembaki Umat Muslim secara membabi buta, melucuti seluruh jenis persenjataan dari anggota Polres

Maluku Tengah yang beragama Islam. Fakta dan data lapangan yang disaksikan oleh kaum

Muslim bahwa aparat yang terlibat langsung yang notabene beragama Kristen adalah :

Tanggal 31 Desember 1999 pukul 07.30 BTWI  dikampung Sugiarto yang melakukan penembakan atas nama LETTU POL. ALEX LOW  ( kasat IPP Polres Maluku Tengah) dan SERTU ALEX LITAAY (Anggota Polres Maluku Tengah)

Tanggal 1 Januari 2000 aparat yang terlibat langsung dalam baku menembaki umat Islam dikomplek Bahtera kelurahan Ampera dan kampung kodok kelurahan Ampera adalah SERKA ALEX de FRETES, SERKA JOHN LESNUSSA, SERTU ALEX LATUMETEN, SERTU RISARD SOUISA, SERMA YACOB LOPUHAA, SERTU SERTA BUCE SOPACUAPERU dan SERTA YOPI TOMASOA.

Tanggal 31 Desember 1999 Polres Maluku Tengah telah mengikuti secara jelas dan pasti kasus penembakan oleh oknum aparat beragama Kristen yang menewaskan 2 (dua) orang Islam asal Desa Latu. Penembakan di Tanjung Namano dengan menggunakan Speed Boat milik masyarakat Kristen yang bernama Cama Laisina, namun tidak dihiraukan dan sampai pada saat ini Speed Boat tersebut masih tetap melakukan aksi kejar mengejar dan menembak dilaut.

2.DANDIM 1502 MALUKU TENGAH atas nama CH. SIDABUTAR terkesan dalam pelaksanaan tugas

Tanggal 1 Januari 2000 terjadi perintah terselubung terhadap Anggota Kodim 1502 yang beragama Kristen untuk menembaki Umat Islam pada lokasi Kampung Sugiarto (Belakang Sekolah MTsN Filyal) oknum aparat yang dimaksud adalah :

MAYOR INF. HERMAN ASSARIBAB (Wadayon 731 Kabaresi)

SERTU Y. HATTU (Anggota Yon 731 Kabaresi)

SERKA DANIEL APANAT (Anggota Yon 731 Kabaresi)

Perintah terselubung yang sama oleh DANDIM 1502 Maluku Tengah kepada aparat yang beragama Kristen untuk menembaki aparat yang beragama Islam, terbukti aparat yang beragama Islam yang ditembaki pada saat bersama-sama melakukan tugas pengamanan adalah Kopda MA?RUF MS (Anggota Kodim 1502 Maluku Tengah), Sertu A.Z. HATAUL (Anggota Kodim 1502 Maluku Tengah), Kapten Inf. NUR WAHYU WIDODO (Pasi Ter Ops Kodim 1502 Maluku Tengah), Sertu ARIANTO (Anggota Polres Maluku Tengah).

Pada tanggal 12 Januari 2000 pukul 19.40 BTWI DANDIM 1502 melakukan perintah penembakan terhadap perkampungan Islam (Apui), yang melukai seorang wanita yang bernama EKA (15 Tahun) dan sampai sekarang masih dalam keadaan koma.

Pada tanggal 14 Januari 2000 pukul 12.30 BTWI DANDIM 1502 menangkap, memukul dan menendang seorang warga Muslim tanpa kesalahan. Yang bersangkutan sampai saat ini masih mendekam dalam tahanan Kodim 1502.

KASDIM 1502 Maluku Tengah atas nama MAYOR N. WAIRATA, secara terang-terangan menembaki Umat Islam dikampung Kodok, pada tanggal 5 Januari 2000. Kasus penembakan tersebut disaksikan oleh banyak saksi Umat Islam dan sempat diabadikan dengan kamera foto. Ketika senjata yang digunakan kehabisan peluru, yang bersangkutan mengangkat tangan sebagai isyarat menyerah pada Umat Islam sambil berkata "Kita sama-sama ukhuwah Islamiyah" karena takut dikeroyok masa Umat Islam, kemudian yang bersangkutan mendapat pengawalan dari Batalyon 611 Awang Long Kalimantan Timur yang bertugas ditempat tersebut.

4.  Memerintahkan DANDIM 1502 untuk memanggil masyarakat Saparua, Kamarian dan Waraka untuk berkumpul di Desa Makariki dengan tujuan mengadakan penyerangan terhadap Umat Islam yang berada di Masohi, kemudian pada saat terjadi kerusuhan Bupati dengan sengaja menghilang dari Kota Masohi.

Berdasarkan saksi mata pada saat terjadi penyerangan terlihat dengan jelas beberapa pimpinan teras Pemda Maluku Tengah yang beragama Kristen terlibat langsung untuk memimpin penyerangan terhadap Umat Islam. Oknum tersebut antara lain :

Drs. G. A. NOYA, Asisten III Setwilda Pemda Maluku Tengah.

M. TANAMAL, SH Sekertaris DPRD Dati II Maluku Tengah.

MATHEIS TANAMAL, SH , Kabag Hukum Pemda Maluku Tengah

Drs. JHON M. MUAL, Kepala Dinas Perdagangan Pemda Tingkat II Maluku Tengah

Drs. RONI HETHARIA, Kepala Ekonomi Pemda Tingkat II Maluku Tengah.

Drs. J. KAPRESSY, Kepala Dinas Catatan Sipil Pemda Tingkat II Maluku Tengah

Pada hari Kamis tanggal 27 Januari 2000 terjadi penembakan terhadap warga Muslim Desa Rutah oleh aparat Yonif 731 Kabaresi dan Polres Maluku Tengah yang beragama Kristen dan telah meraibkan sembilan orang Muslim termasuk salah satu anggota DPRD Tingkat II Maluku Tengah atas nama Drs. AHMAD RUMATIGA. Saksi mata menyebutkan bahwa korban dipotong kepalanya kemudian diarak-arak ke Baileuo Desa Soahuku dan disaksikan DANDIM srta KASDIM 1502 Maluku Tengah. Saksi mata menyebutkan pula bahwa peristiwa tersebut adalah yang turun dilapangan langsung yakni DANDIM, KASDIM 1502 dan WADANYON 731 Kabaresi yang kesemuanyan beragama Kristen. Dengan menggunakan senjata berlaras panjang, seluruh petugas yang diturunkan pada TKP dominan beragama Kristen.

Dan pada hari yang sama telah terjadi penyerangan besar-besaran oleh Umat Kristen di KM. 12, membakar seluruh pemukiman Banda Lama, dua rumah ibadah Masjid, satu Musholla, dua tempat pengajian Al-Quran dan membantai satu orang warga Islam atas nama LA SIDUGU dibantai dalam rumahnya dan kemudian mayatnya dibakar.

Pada tanggal dan peristiwa yang sama atas perintah DANDIM 1502 telah menangkap 36 warga Muslim Rutah dan ditelanjangi kemudian disiksa dan sampai hari ini mereka masih tersekap di tahanan Polres Maluku Tengah.

Pada tanggal 27 Januari 2000 jam 15.30 WIT kelompok Kristen yang terlibat dalam insiden penyerangan di Banda Lama (± 25 orang) dengan menumpang truck/mobil ditangkap petugas 731 Kabaresi kemudian diserahkan ke Kodim 1502 lalu beberapa jam kemudian dibebaskan atas perintah DANDIM 1502 Maluku Tengah.

Pada tanggal 31 Januari 2000 jam 18.00 WIT sekelompok warga Kristen berupaya mengejar dan membunuh warga Muslim yang sedang mengambil hasil kebunnya di Hutan Sugiarto. Karena upaya tidak berhasil mereka lalu menyandera anak dari warga Muslim yang dikejar tersebut dan berselang dua jam kemudian aparat keamanan berhasil menyelamatkan anak tersebut.

Pada tanggal 1 Februari 2000 jam 11.30 WIT warga Kristen desa Haruru telah membunuh seorang warga Muslim yang sementara mengambil hasil kebunnya secara sadis yaitu Ahmad Rumap.

Pada tanggal 2 Februari 2000 telah terjadi upaya pembunuhan oleh kelompok Kristen sebanyak delapan orang terhadap warga Muslim di lokasi pasar Kaget Apui. Kelompok Kristen tersebut menggunakan Dinas PU Dati II Maluku Tengah dan melemparkan bom sehingga melukai empat warga Muslim.

Pada tanggal 4 Februari 2000 sekitar pukul 10.00 WIT kelompok Kristen sejumlah dua belas orang telah berupaya menyerang seorang warga Muslim atas nama ANDI RIZAL yang sementara mengambil hasil dikebunnya, pada insiden tersebut saudara ANDI RIZAL mengalami luka parah dan sekarang dirawat pada Posko Kesehatan Ampera.

MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)

KABUPATEN MALUKU TENGAH

            KETUA					              SEKERTARIS

SAWET SILAWANE					 A. R. RUMALUTUR

Gambaran Umum Kondisi Sosial Masyarakat Buru

Gambaran Umum

Wilayah Buru baru saja ditingkatkan statusnya menjadi kabupaten Daerah Tingkat II, bulan September 1999 lalu dengan UU No. 46 Tahun 1999 sebagai konsekuensi pemekaran wilayah Maluku lebih khusus daerah tingkat II Maluku Tengah, terdiri dari tiga wilayah kecamatan ditambah dengan 2 kecamatan pembantu, masing ? masing  :

Kecamatan Buru Utara Timur  (Namlea)

Kecamatan Buru  Utara Barat ( Air Buaya )

Kecamatan Buru Selatan ( Leksula)

Kecamatan  Pembantu Buru Utara Selatan (

Kecamatan Pembantu Buru Selatan Timur ( Wamsisi)

Total jumlah penduduk lebih dari 118 ribu jiwa, sedangkan jumlah pemilih pada pemilu pada 7 juni 1999 kurang lebih 70 ribu orang. Jumlah ini dibayangkan mengalami kenaikan dengan datangnya pengungsi korban kerusuhan dari Ambon dan lain ? lain semenjak permulaan tahun 1999 sejumlah 3.261 jiwa terbesar pada beberapa desa kebanyakan diwilayah Buru Utara Timur.

Bila dirinci antar Desa, maka jumlah desa pada tiap ? tiap kecamatan terdiri dari  :

Kecamatan Buru Utara Timur ( termasuk kecamatan pembantu Buru Utara Selatan ),  56 Desa

Kecamatan Buru Utara Barat, 15 desa

Kecamatan Buru Selatan ( termasuk kecamatan pembantu Buru Selatan Timur), 54 desa

Sehingga total seluruh desa dipulau Buru mencapai 125 desa

Seantero pulau Buru termasuk P. Manipa di kab. Buru Selatan, sejauh kerusuhan melanda kota Ambbon sampai dengan lain ? lain tempat bahkan hingga kepulauan Tanimbar Maluku Tenggara, kondisis sosial masyarakat terus terpelihara aman dan tertib. Sementara kegiatan sehari ? hari berjalan sebagaimana biasa. Biarpun dengan mayoritas berpenduduk Islam yaitu 80 %, namun keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga. Malah sampai jatuhnya korban beberapa orang anak Buru anatar lain Sdr Anong Kaunar di tual Maluku Tenggara dan Sdr Djunaedi Umat Ternate di Tanah lapang kecil ? Ambon, kedua ? duanya dari namlea ? Buru Utara Timur Sdr. Pendeta I.C. Testu Sth. Agar menghimbau warga Nasrani terutama di buru Ambon atau lain ? lain tempat dimana golongan Nasrani selaku minoritas bisa melindungi kepentingan kaum Muslimin yang minoritas.

Bahkan ketika ummmat Nasrani didesa Waipotih memulai aksinya mengintimidasi penduduk minoritas Muslim didesa itu sampai terpaksa meninggalkan kediaman mereka, kemudian mengungsi kedesa / dusun Waprea. Tokoh ? tokoh Muslim Namlea secara spontan mengambil inisiatif menghimbau umatnya menjauhi balas dendam yang bisa memicu kerusuhan, meskipun berhadap ? hadapan dalam kontroversi pendapat dengan segelintir warga Muslim militan terutama para pengungsi korban kerusuhan

Himbauan bagi golongan Muslim yang Mayoritas agar bisa menahan diri tidak sampai terpancing isu ? isu yang kelak membenamkan wilayah ini dengan kerusuhan berbau SARA.

Yang patut disayangkan justru                       dari warga Nasrani

Bulan Agustus 1999 itu malah sampai ditanyakan dalam Forum Komunikasi Ummat Islam Buru Utara Timur melalui surat tertulis akhir November 1999, namun tetap saja dikesampingkan, entah apa tujuannya.

Konfrontasi  massa

Dalam hal ummat Islam masing bertanya ? tanya, " Mengapa Ketua Klasis Buru Utara tak bergeming memenuhi janjinya meminta perlindungan bagi kepentingan Muslim dikota Ambon dan Lain ? lain sebagai golongan minoritas ", secara diam ? diam ummat Nasrani kota Namlea dan sekitarnya meninggalkan kondisi Namlea dan diketahui antara lain melindungi diri didesa Waipotih serta desa Wainibe yang dikenal berpenduduk mayoritas Nasrani. Gerakan  eksodus ini pada sebagian membawa serta barang ? barang dan perabotan malah sampai mengosongkan rumah ? rumah mereka sehingga terkesan sebagai suatu? evakuasi yang terencana dan sistematis?

Dalam hal kepentingan mereka dikota Namlea sejauh itu boleh dikatakan ?tidak pernah diganggu?.

Proses evakuasi telah bermula minggu ke-1 bulan Ramadhan 1420 atau sekitar pertengahan Desember 1999, hal mana secara bertahap menimbulkan pertanyaan bagi penduduk Muslim tertentu apa sebab atau tujuannya, karena diketahui tak ada alasan untuk itu.

Diujung gerakan evakuasi ini, tanpa alasan yang jelas, pada 22 Desember 1999, ummat Nasrani dusun Waikose bersama sejumlah warga Nasrani disekitarnya melakukan penyerangan secara brutal terhadap kepentingan warga Muslim yang bekerja dalam kompleks perusahaan PT. Wainibe Wood Industry didesa Wainibe.

Serangan dimaksud menurut saksi mata kelihatannya sudah direncanakan cukup matang, sehingga nyaris menelan korban jiwa yang tidak kecil dari kalngan Muslim. Akibatnya tentu bisa diduga, solidaritas Muslim serta merta mengundang ikut campur kaum muslimin dari beberapa desa antara lain desa Waprea. Sementara itu, dikota Namleapun secara spontan muncul reaksi masyarakat dalam jumlah besar sehingga sulit diidentifikasi siapa ? siapa saja yang terlibat. 

KONDISI AMBON SEMENTARA

A. Tanggal 10 Februari 2000 terjadi pertikaian antara pemuda Kristen-warga Kudamati (kodya Ambon) terjadi sekitar pukul 11.00 BTWI. Pertikaian yang berawal dari reaksi minuman keras ini mulai terjadi sejak sore sekitar pukul 16.00 BTWI dan berhasil diamankan oleh pihak aparat yang bertugas dilokasi setempat.

Namun api dendam diantara para pemuda ini tidak bisa diredam atau dihindarkan secepat itu. Sehingga jam 11.00 malam pertikaian mulai terjadi lagi. Para pemuda asal kampung Kolam Ganemo dan pemuda sekitar Tugu Dolan ini saling lempar melempar dan akhirnya mengeluarkan senjata tajam, pistol rakitan dan bom rakita. Dari pertikaian ini teridentifikasi beberapa korban diantaranya 2 meninggal duania masing-masing Abraham Pessywarisa 27 tahun dan Hendrick Mailissa 15 tahun Pelajar SLTP Neg. 17 Ambon dan 7 orang lainnya luka-luka berakibat dari serpihan ledakan bom rakin dan sementara dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Dr. Haulussy Ambon. Karena pertikaian semakin memanas saat terjadi jatuh korban maka massa antar dua lokasi tersebut semakin bertambah. Untuk mengantisipasi tidak meluasnya pertikaian personil aparat keamananpun ditambah sehingga dengan penambahan tersebut kondisi TKP berangsur-angsur reda dan akhirnya dapat dikendalikan dengan baik hingga jam 01.00 malam dan pada saat itupu aparat keamanan melaksanakan rajia senjata tajam dan berhasil ditemukan 2 pucuk pistol rakitan, basoka 2buah, peluncur panah 2 buah, amunisi hampa M-16 sebanyak 20 butir, bahan laras pistol 2 pucuk, parang 6 buah dan anak panah kecil 58 buah.

Dan masyarakat yang berkumpul di pinggir jalan, gang-gang di lokasi setempat diperintahkan untuk bubar dan kembali kerumah masing-masing.

Sehingga dengan demikian kondisi dari tanggal 11 hingga hari ini (12 Februari 2000) untuk sementara aman dan terkendali.

B. Tanggal 11 Februari asap kembali mengepul di atas Kota Madya Ambon. Asap yang berasal dari terbakarnya gedung Kantor Kotamadya Ambon lama ini terjadi saat Umat Muslim melaksanakan Shalat Jum?at (jam 13.30 BTWI). Menurut keterangan yang diperoleh Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Ummat Ambon, sumber api berasal dari konsleting aliran listrik yang menghabiskan dua ruangan kantor Kotamadya Ambon Lama, yang berjarak sekitar 5 meter saja dengan gedung Kantor Kotamadya Ambon Baru.

Untuk mengantisipasi tidak meluasnya kobarab api pihak pemadam dari Kotamadya Ambon segera menurunkan dua unit mobil pemadam kebakaran dan sujago merahpun berhasil dipadamkan hingga jan 14.30 BTWI.

INVESTIGASI POS KEADILAN PEDULI UMMAT AMBON MALUKU

Bila dalam kontroversi ini patut dicatat tidak ada korban jiwa dari kalangan Nasrani yang minoritas kecuali kerusakan bangunan fisik. Esok harinya golongan Nasrani yang terakumulasi di Malpolsek Utara Timur (Namlea) masing didatangi tetangga mereka yang Muslim, sebagian diantar diantar sampai ke kapal ketika dievakuasi. Lebih dari itu masih ada warga Muslim yang memperlihatkan rasa kemanusiannya dengan menyumbangkan sejumlah uang.

Akibat dari insiden ini, kurang lebih 2000-an orang penduduk Nasrani dievakuasi ke Ambon, sedangkan sebagian lainnya terutama dari Desa Waipotih dan Desa Wainibe melarikan diri kehutan.

Setelah masuknya PJ Bupati Buru di Namlea, berulang kali dihimbau supaya pelarian golongan Nasrani kembali dengan pengawalan ekstra ketat dari aparat keamanan, bila mana ada rasa takut. Tetapi himbauan ini sama sekali tidak digubris.

Perkembangan terakhir pelarian kaum Nasrani ini menggabungkan diri dengan sesamnya diperkampungan dan dipergunungan yang kemudian melakukan serangan terhadap Ummat Islam. Beberapa insiden yang perlu dicatat antara lain :

Pada 8 Februari 2000, melakukan pembunuhan sadis terhadap saudara SARMO, penduduk Desa Grandeng dalam perjalanannya antara Desa Grandeng dengan dusun Metar, yaitu memotong tangan kanannya dan merobek dada kemudian isi dada dan perut diambil termasuk jantung. Hal ini menyebabkan terpicu lagi kerusuhan massa antara warga Muslim dengan Nasrani di Dusun Tifu, Desa Waigeren yang letaknya berdekatan. Perlu ditambahkan bahwa Dusun Wetar kebanyakan didiami penduduk asli beragama Kristen  ditambah sejumlah pengungsi dari Namlea dan lain-lainnya. Sedangkan Desa Grandeng dan Waigeren adalah bekas unit pemukiman transmigrasi berpenduduk Islam yang umumnya datang dari Madura dan Jawa. Insiden Desa Tifu menyebabkan jatuhnya korban 2 orang muslim yaitu Abdul Haji Belen dan Tambo Lestari.

Pada 9 Februari 2000 kembali warga Nasrani melakukan serangan terhadap ummat Islam di Desa Airbuaya (Ibukota Kecamatan Buru Utara Barat) serangan massa dilakukan secara frontal terkesan diatur begitu strategis dari tiga penjuru, menyebabkan sembilan orang korban, masing-masing : 4 orang luka ringan, 3 orang luka berat dan 2 orang meninggal dunia. Salah seorang korban luka berat saudara Zainudin Tidore tidak berhasil RSU Namlea karena keterbatasan fasilitas sehingga dirujukkan ke RS Al-Fattah, ternyata nyawanya tidak tertolong lagi pada Jum?at 11 Februari 2000.

Jauh sebelum ini sering melakukan serangan-serangan mendadak pada berbagai tempat, juga melakukan pengrusakan atau penebangan pepohonan tanaman produktif milik warga Muslim Dusun Waprea.

Kondisi terakhir.

Akibat konfrontasi massa yang disusul dengan serangan dadakan berbagai kepentingan Muslim didaerah ini, pada akhirnya membuat sejumlah desa terisolir.

Sejumlah warga Desa Airbuaya belakangan mengungsikan diri datang ke Namlea karena takut mengalami kesulitan lebih besar lagi, apalgi terputusnya komunikasi dengan desa-desa disekitarnya, demikian pula telah terjadi semacam isolasi geografis pada desa-desa Waimangit, Wanlana, Waspait dan Waipure di Kecamatan Buru Utara Barat.

Di Desa Grandeng dan Waigeren, kebanyakan penduduk enggan mengelola sawah atau ladang, begitupula di Desa Waikasar, ketiga-tiganya bekas UP Transmigrasi.

Karena takut jangan sampai mendadak diserang sebagaimana terjadi ditempat-tempat lain yang disebutkan diatas, antara lain karena tidak jauh dari lokasi perkebunan mereka terdapat penampungan penduduk asli yang telah terprovokasi oleh pelarian golongan Nasrani.

3. Di Disa Waihaka dan Nalbesi Buru Selatan justru dikelilingi pemukiman penduduk

        Nasrani ditambah dengan tragedi 4 Februari yang menyebabkan matinya saudara Bahri dan saudara Sihaka, kedua-duanya mengalami luka berat akibatnya membuat penduduk nyaris tak mau keluar kerumah sehingga secara relatif menjadi terisolir.

Kebalikan dari terisolirnya sejumlah desa yang menimbulkan kesulitan pangan dan lain-lain termasuk obat-obatan, sejumlah penduduk asli beragama Hindu yang justru merasa terganggu oleh pelarian golongan Nasrani turun menyatakan diri masuk agama Islam dan proses peng-Islaman mereka sudah dilakukan di KUA Kecamatan Buru Utara Timur sampai terakhir 856 orang, mereka inipun tidak luput dari kesulitan ekonomi karena secara resmi sudah meninggalkan pemukiman masing-masing berdiam dilingkungan Muslim antara lain :

Desa Eks UPT

Desa Lamahan

Desa Namlea

Desa Wamlana

Demikianlah gambaran umum tentang kondisi terakhir masyarakat Buru pasca evakuasi penduduk Nasrani dengan harapan besar mendapat perhatian dari Pos ?..

                                                                          Namlea, 12 Februari 2000

Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan

                                                                          Kabupaten Buru

                              Ketua                                                      Sekertaris

                                Ttd                                                            Ttd

                       Hussein Mukandar                                     R. Muhammadiyah   

Hosted by www.Geocities.ws

1