GAMBARAN KEHIDUPAN UMMAT ISLAM DI MALUKU

(EKSPREASI KETAKUTAN KAUM NASRANI)

Pembantaian, penghancuran, pembakaran, penjarahan dan pengusiran secara besar-besaran di Ambon agaknya tak pernah terbayangkan oleh Muslim Maluku. Menilik bentuk kerusuhan sasaran penghancuran dan korban yang teraniaya, maka dapat dipastikan bahwa kerusuhan tersebut benar-benar karena masalah SARA, khususnya agama, meskipun bukan itu satu-satunya. Bahkan peristiwa yang memalukan itu bukan sekedar bernuansa SARA, tetapi merupakan potret sebuah kebiadapan yang keji terhadap ummat Islam. Kejadian ini sekaligus menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia bahwa diman Islam minoritas disitu Islam selalu ditindas.

LETAK GEOGRAFIS

Maluku yang juga dikenal dengan daerah seribu pulau ini berada di kawasan Timur Indonesia, tersiri dari 1027 pulau besar dan kecil dikelillingi 85% laut nan luas, terletak antara 3° LU, 82° LS, 124° BT, 135° BTS. Secara geografis propinsi ini dibatasi sebelah Utara oleh lautan Teduh/Pasifik, sebelah Selatan Lautan Maluku atau pulau Sulawesi dan sebelah Timur pulau Irian. Secara keseluruhan daerah ini memiliki luas wilayah 851.000 km2 yang merupakn wilayah kepulauan, yang mencakup luas lautan ± 765.272 km2 dan luas daratan ± 85.728km2, dimana terlihat bahwa perbandingan antara luas lautan dan luas daratan 9:1 terbagi dalam 4 kabupaten dan 1 kotamadya dengan ibukota Ambon.

POTENSI KONFLIK

Sebenarnya dalam masyarakat Ambon tersimpan potensi konflik yang cukup besar, meskipun katanya disana ada budaya PELA GANDONG. Potensi konflik tersebut terlihat pada komposisi Islam ? Kristen yang berimbang dan selama ini terjadi Musabagoh dalam ekonomi, politik dan agama. Potensi tersebut semakin memanas ketika arus reformasi bergulir dan kepemimpinan politik berada di tangan Habibie yang diisukan ingin lebih melancarkan islamisasi , termasuk politik.

SASARAN PENGHANCURAN DAN PEMBANTAIAN

Fakta membuktikan bahwa sasaran penghancuran dan pembantaian adalah ummat Isalam. Orang Islam dikalim sebagai pendatang dan Islam dianggap sebagi agama asing, bukan agama penduduk asli. Padahal kalau kita mau jujur pada sejarah ternyata Islamlah agama yang lebih awal masuk ke Maluku daripada Katholik atau Protestan yang dibawa oleh Portugis dan Belanda. Dan Islam telah berhasil meletakkan pondasi kebudayaan Maluku dengan nuansa Islami. Islam masuk ke Maluku sejak abad ke-7, sedangkan Katholik abad ke-16 dan Protestan abad ke-17.

Nama Maluku sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab yakni Al-Mulk. Penamaan yang bernuansa Arab ini karena yang membuat peta daerah Maluku adalah para sarjana geografi Arab. Tetapi setelah Belanda masuk kata tersebut diubah menjadi Maluku. Sebelum kedatangan Eropa, Islam berkembang sangat pesat, kerajaan Islam berdiri tegar seperti Ternate, Tidore.

Selama masa penjajahan, Belanda menyebarkan agama Kristen dan penduduk Ambon yang mau memeluk agama ini mendapat perlakuan istimewa dari Belanda. Sejak itu beribu-ribu penduduk Maluku yang beragama Kristen disekolahkan oleh Belanda dan mendapat lowongan kerja pada dinas sipil maupun  militer di seluruh nusantara. Mereka digunakan sebagai serdadu kolonial dalam menguasai wilayah- wilayah nusantara yang belum ditaklukan.

Secara ideologis akibat kedudukan istimewa ini banyak orang Nasrani merasa mempunyai hubungan khusus dengan Belanda karena mempunyai kesamaan agama maupun tugas. Bila orang-orang Ambon Nashoro ikut dalam usaha-usaha kolonial, maka ummat Islam Ambon tidak mau ikut dalam usaha itu. Selain karena Belanda tidak merekrut mereka, ummat Islam juga tidak mau bersekongkol dengan penjajah zalim itu. Maka tak aneh, sampai pada th 1920-an didesa-desa Islam  tidak ada fasilitas pendidikan sekuler. Maka wajar jika hasil sensus 1950 menunjukkan bahwa 90% ummat Muslim masih buta huruf. Orang-orang Nashoro dengan bantuan pendidikan Belanda mendominasi masyarakat Ambon sedemikian rupa sehingga banyak orang menyangka bahwa Ambon daerah Kristen semata. Pada tanggal 24 April 1950 Dr. Soumokil memproklamirkan Republik Maluku Selatan (RMS) yang melakukan aksi politiknya secara kekerasan. Dimana para pemimpin sipil maupun militernya semua terdiri dari orang-orang Nashoro.

Era kemerdekaan RI 1945 merupakan angin segar dan nafas baru bagi ummat Islam untuk mulai  berkembang. Jumlah ummat Islam mulai meningkat dari 35% menjadi 49% diawal orde baru. Perkembangan ini dianggap sebagai ancaman bagi Kristen disana. Karena itu ketika kerusuhan terjadi tidak mengherankan jika bendera RMS dinaikkan di berbagai tempat. Secara perlahan ekonomi Islam membaik dan pendidikan semakin meningkat. Pada awal orde baru beberapa sarjana Muslim mulai menduduki jabatan strategis mulai dari tingkat propinsi Maluku hingga Kecamatan secara adil bukan dominatif. Perkembangan Islam yang pesat dalm politik, pendidikan dan ekonomi ini dianggap sebagai ancaman dan ketika era reformasi semakin mengarah kepada penguatan pengaruh Muslim, maka kerusuhan dan pembersihan etnispun tak terelakkan.

TAK ADA JALAN LAIN KECUALI JIHAD

Ummat Muslim Ambon telah teraniaya sedemikian rupa dan banyak pula yang dibantai. Kalau melihat faktanyua di lapangan, memang tak ada jalan lain bagi ummat Muslim selain melakukan Jihad. Dan itu sudah dilakukan oleh Muslim di Ambon karena itu merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari penghancuran yang lebih dahsyat lagi. Jadi saecara internal, jihad memang harus dilakukan dan secara eksternal seluruh ummat Muslim agar berupaya membantu meringankan beban penderitaan mereka. Disamping dukungan secara moril, yang juga sangat dibutuhkan adalah pasokan berupa bahan makanan dan obat-obatan. Karena daerah-daerah seputar Ambon sudah terkepung oleh laskar merah, menyebabkan bantuan yang hendak diberikan susah untuk sampai ketangan ummat Muslim sehingga dikhawatirkan persediaannya akan semakin menipis.

Seruan jihad dalam agam Islam adalah sesuatu yang paling mulia, sehingga memang  sudah banyak sekali keinginan dari pemuda-pemuda Islam dari berbagai daerah untuk segera dikirimkan ke Ambon. Akan tetapi, Muslim di Ambon sendiri yang lebih mengenal medan, sesungguhnya belum memerlukan bantuan tenaga seperti ini. Mereka lebih membutuhkan bantuan dalam bentuk yang lain seperti bahan makanan dan obat-obatan.

Selama ini bantuan yang masuk untuk kaum Muslimin masih lemah apabila dsibandingkan dengan kaum Nasrani yang terus menerus bantuan. Para ulama dan ummat Islam tidak proaktif berusaha mencari sumber informasi yang sesungguhnya, sehigga ummat Islam menjadi korban dari informasi yang cenderung menyeasatkan. Ummat Muslimin Ambon sangat mengharapkan adanya peran yang lebih aktif dari Ormas dan Parpol Islam. Minimal ialah memberikan pembelaan atau menghimbau kepada pemerintah dan aparat keamanan untuk menyelesaikan masalah ini secara serius karena kondisinya sudah sedemikian mengkhawatirkan.

LAPORAN TERAKHIR DARI AMBON

Culik  menculik,  bantai-membantai sudah menjadi hal yang tak asing lagi di kota seribu pulau ini. Jum?at 5 November 1999, terusik lagi dengan letupan di pulau Passo kecamatan Teluk Ambon Banguala. Insiden di Passo ini bukan merupakan pertikaian antar warga namun pengeroyokan massa merah terhadap sebuah mobil dam truk berwarna kuning dengan nomor polisi DE 80003. Mobil naas itu ditumpangi oleh tiga aparat TNI ZENI KODAM (ZIDAM) XVI Pattimura. Dua anggota TNI masing-masing Serda Yulianto dan Kopda Marsuki, dibunuh kemudian dibakar bersama mobilnya.

Tanggal 8 November 1999 warga merah dari Karang Panjang menyerang Batu Merah dari posisi ketinggian dengan gempuran boom rakitan secara beruntun terus menerus ke arah asrama TNI Batu Merah di samping Mesjid Batu Merah Dalam. Dalam penyerangan itu warga Karang Pangjang berhasil membakar sebuah rumah penduduk Muslim yang berada pada daerah perbatasan. Dalam kejadian itu dua orang warga Muslim meninggal dunia, tiga orang luka berat dan tigabelas orang luka ringan.

Pertempuran berlangsung hingga 9 November 1999, keluarga Muslim Air Kuning di bantai oleh beberapa pemuda Kristen yang berusaha menyerang Air Kuning, perkampungan Muslim yang terletak di dekat STAIN Ambon.

Tanggal 12 November 1999, gerombolan Kristen Rumah Tiga merenvcanakan untuk menyerang Kota Jawa, kecamatan Baguala dan membakar 1 rumah warga Muslim yang kosong. Bersamaan dengan itu bentrokan terjadi juga di pusat kota, saat massa merah melihat warga Muslim yang berada di dalam Bank Danamon, pemuda Muslim itu dihajar massa merah tetapi sempat dilarikan oleh aparat keamanan. Saat itu juga wakil-wakil rakyat yang sedang bekerja di dalam ruangan DPRD Tk I Maluku diserbu massa merah, dan anggota dewan Muslim itu berhasil diselamatkan oleh TNI.

Sampai sekarang masih terjadi peristiwa bantai membantai dan kota Ambon masih dicekam rasa tidak aman. Hari Jum?at, 5 November 1999 sekitar 500 mahasiswa UKIM (Univ. Kristen Indinesia Maluku) mengadakan demonstrasi ke kantor DPRD Tk I, mereka menuntut beberapa point :

Kesatuan YONIF KOSTRAD dan ARMED harus segera ditarik dari Ambon.

Suku Buton, Bugis, Makassar dan semua suku pendatang harus diusir dari Ambon.

Gubernur Maluku Muhammad Saleh Latuconsina harus segera diturunkan dari jabatannya.

Apabila poin 1,2, dan 3 tidak diindahkan, maka kami menyatakan diri sebagai gerakan Maluku Merdeka.

Itulah tuntutan-tuntutan "gila"  yang dilancarkan oleh jahanam-jahanam itu, dan dalam aksi kekerasan itu mereka melempar 5 buah boom yang jaraknya 10 m dari Gubernur, tapi Alhamdilillah Gubernur selamat namun boom itu mencederai salah satu anggota TNI dan sekarang masih dirawat di RS POLISI Ambon.

Hosted by www.Geocities.ws

1