Amien di kecam persekutuan gereja indonesia (ralat)

Senin,7 februari 2000

Persekutuan Gereja Indonesia Kecam Amien Rais

BBC Bristol--3 Pebruari 2000

Akhir Januari lalu, sebuah surat yang cukup keras diterima oleh Ketua MPR-RI

Prof M Amien Rais (AR). Pengirimnya Persekutuan Gereja-gereja Indonesia yang

diketuai oleh Pendeta Dr Soelarto Sopater dan Sekretaris Umumnya Pendeta Dr

J Pattiasina (naskah lengkap terlampir, dikutip dari milis KAMMI, dikutip

dari milis [email protected]).

Isinya menyoroti orasi AR saat Apel Sejuta Ummat (8/1) untuk solidaritas

Maluku, dan beberapa pernyataan lainnya di media massa. PGI beranggapan

berbagai pernyataan AR lebih merupakan "insinuasi yang didasarkan pada

dramatisasi angka-angka serta warna kepentingan politik yang pekat".

Secara sangat rinci surat itu menerangkan kronologi kejadian di Halmahera

Utara (Propinsi Maluku Utara). Intinya, ummat Islam yang memulai penyerangan

dan pembersihan warga Kristen di Ternate dan Tidore. PGI menyebut AR telah

mengabaikan "fakta-fakta objektif" yang memperpanjang "lingkaran kekerasan

di Maluku secara keseluruhan" itu.

Anehnya, PGI yang berkali-kali menekankan kata "lingkaran kerusuhan di

Maluku" sepertinya lupa, menuliskan juga "pangkal dari lingkaran" itu. Yakni

saat sekitar 1000 preman Kristen Ambon pulang dari Jakarta ke kampungnya dan

mulai melakukan provokasi. Hasilnya Idul Fitri Berdarah Januari 1999 di

Ambon, yang lalu segera menjalar ke seluruh Propinsi. Para preman ini pulang

sesudah mereka dipermalukan dalam pertempuran dengan warga Betawi di Jalan

Ketapang di kawasan Jakarta Kota. Sebelas orang preman tewas dihajar massa,

beberapa tempat maksiat (yang memang ramai di kawasannya itu) hangus dibakar

massa. Rupanya mereka tak terima akan kekalahan itu, lalu melampiaskannya di

kampung halamannya.

Bagi AR sendiri, nampaknya ini bagian dari rangkaian sistematis yang

ditargetkan akan melumpuhkan image politiknya. Poin lain yang sudah

dilemparkan kepadanya ialah issu "Negara Islam" yang juga mencuat sesudah

Apel di Monas. Diperkirakan, klimaks dari rangkaian "character assasination"

ini akan terjadi menjelang Pemilu 2004 nanti. (wpr)

Surat dari PGI untuk Prof Dr HM Amien Rais,MA

===========================================

Nomor: 0055/PGI-XII/2000

20 Januari 2000

Hal: Tanggapan atas Sikap dan Pandangan terhadapKerusuhan Maluku/Maluku

Utara

Yang terhormat Sdr Dr Amien Rais

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI

DiJakarta Dengan hormat,

Kami sampaikan salam sejahtera kepada Saudara dengan harapan kiranya.

Saudara diberi hikmah dan kebijaksanaan oleh Allah Yang Maha Esa

untukmelaksanakan tugas-tugas negara serta kemampuan untuk

mewujudkanharapan-harapan segenap rakyat Indonesia, baik waktu sekarang ini

maupun dimasa datang, sesuai dengan jabatan yang dipercayakan segenap

rakyatIndonesia.

Beberapa waktu lalu, Saudara hadir dan menjadi pembicara pada sebuah  acara

yang menurut informasi dilakukan untuk menyatakan solidaritas kepada warga

masyarakat beragama Islam yang disebut-sebut sebagai korban pembantaian,

perkosaan dan sebagainya di Maluku khususnya di wilayah Halmahera

Utara,Porpinsi Maluku Utara.

Kami mengikuti dengan cermat seluruh pemberitaanmedia massa dan informasi

mengenai hal-hal yang Saudara kemukakan pada saat itu dan kemudian yang

Saudara sampaikan kepada media massa pada sejumlah kesempatan berikutnya

dalam bentuk wawancara atau pernyataan pandangan dan sikap Saudara.

Berkaitan dengan itu perkenankan kami menyatakan beberapa hal sebagai

berikut:

1) Pernyataan-pernyataan, pandangan dan sikap Saudara mengenai kerusuhan di

Propinsi Maluku umumnya dan di Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara

khususnya, membuat masyarakat terkejut dan gelisah karena Saudara tidak

memposisikan diri sebagai pimpinan lembaga tertinggi negara. Warga

masyarakat yang beragama Kristen khususnya merasa mengalami fait-accompli

oleh pernyataan/pandangan Saudara yang menempatkan umat Kristen di wilayah

Halmahera Utara sebagai penganiaya, pembantai dan sumber kekerasan terhadap

umat Islam.

2) Maafkan kami jika terpaksa menilai bahwa pernyataan/pandangan Saudara

mengenai kerusuhan khususnya yang terjadi berhari-hari sejak 26 Desember

1999 hingga Januari 2000 di kota Tobelo dan sekitarnya dalah hal yang sangat

gegabah karena Saudara lalai mendasarkan diri pada sejumlah fakta objektif. 

Hal objektif pertama yang Saudara lalaikan adalah fakta bahwa apa yang

terjadi di Tobelo dan sekitarnya adalah suatu lingkaran kekerasan yang

menjebak warga masyarakat, baik masyarakat yang beragama Islam, Kristen

maupun yang masih menganut agama-agama suku. Hal objektif kedua yang juga

Saudara lalaikan adalah bahwa kekerasan di Tobelo dan sekitarnya bukan

fenomena independen dan partial. Karena itu sangat naif untuk menilai apa

yang terjadi di Tobelo terlepas dan berbagai konflik lain di pulau Ternate,

pulau Tidore, di semua bagian pulau Halmahera dan bahkan di Propinsi Maluku.

Hal objektif ketiga yang Saudara lalaikan adalah bahwa kerusuhan di Propinsi

Maluku dan Maluku Utara telah melibatkan dan mengorbankan rakyat yang

Saudara pimpin tanpa pandang latar belakang agama mereka. Karena itu maaf

jika kami katakan bahwa Saudara telah keliru bersikap seakan-akan golongan

tertentu saja yang menjadi sasaran aksi-aksi kekerasan yang terjadi. Saudara

nampaknya tidak tahu atau tidak perduli pada fakta bahwa telah terjadi

"pembersihan" desa-desa/pemukiman di pulau Tidore, Ternate, di wilayah

Halmahera Tengah dan ke arah desa/pemukiman di jazirah selatan pulau

Halmahera yang penduduknya beragama Kristen. Hal ini terjadi sejak akhir

September-awal Oktober 1999. Beberapa bulan sebelum itu, golongan tertentu

di Sanana, kepulauan Sula, Maluku Utara, telah terusir keluar dari wilayah

pemukimannya. Apakah mereka yang menjadi korban sia-sia itu bukan rakyat

Indonesia?

3) Kami ingin sampaikan kepada Saudara bahwa aksi-aksi kekerasan di Maluku

Utara dimulai dari peristiwa yang jauh dari nuansa pertentangan antar umat

beragama, pun dari waktu ke waktu alasan-alasan dan warna agama terus

dipaksakan mewarnai kekerasan. Mengenai hal ini Saudara perlu memperhatikan

beberapa fakta sebagai berikut:

a. Bahwa serangan pertama (yang membuka babak kerusuhan di Maluku Utara) ke

desa-desa Kecamatan Kao oleh penyerang yang berasal dari Malifut (beragama

Islam) dilawan juga oleh warga Kao yang beragama Islam. Masalahnya bersumber

pada policy Pemda mengenai pemekaran Kecamatan yang ditolak oleh sebagian

masyarakat yang telah terikat pada kesepakatan Adat.

b. Ketika serangan berikut terjadi sementara warga Kao yang beragama Kristen

melaksanakan kebaktian Minggu, yang menghadapi serangan itu adalah warga Kao

lainnya yang tidak beribadah di hari Minggu dan mereka adalah

Saudara-saudara yang beragama Islam.

c. Serangan balasan terhadap warga asal Makian di Malifut yang mengakibatkan

banjir pengungsi asal Makian ke Ternate dan Tidore misalnya melibatkan warga

Kao, baik yang beragama Kristen maupun Islam.

d. Kekedrasan pertama yang meletus di Tidore dibuka oleh pembantaian seorang

pendeta Gereja Protestan Maluku yang diundang Kapolsek menghadiri sebuah

acara bersama para anggota Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Camat dll.).

e. Ketika penghancuran gedung-gedung gereja (14 buah gedung gerja hancur)

dan kekerasan terhadap warga yang beragama Kristen terjadi di kota Ternate

misalnya, ada cukup banyak warga beragama Muslim di sana yang bangkit

melawan aksi-aksi kekerasan tersebut.

f. Hingga konflik pecah di Tobelo tanggal 26 Desember 1999 (didahului dengan

berbagai isu dan provokasi di hari-hari sebelumnya), 34 gedung gereja telah

hancur terbakar paling kurang di 15 lokasi kerusuhan.Fakta-fakta ini

nampaknya tidak diperhatikan oleh Saudara atau Saudara membiarkan diri

diselubungi oleh informasi-informasi sepihak dan subjektifserta diberati

oleh kepentingan-kepentingan politik golongan yangjelas-jelas berperspektif

sangat sempit. Ini hanya sedikit dari fakta yang dapat kami beberkan untuk

menopang agar Saudara bersikap objektif dan berani terlibat menghentikan

kerusuhan melalui prakarsa dan langkah-langkah strategi dan effektif yang

dimungkinkan oleh posisi dan kewenangan Saudara.

4) Kami harus menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan Saudara mengenai

kerusuhan di Halmahera Utara jelas-jelas telah memojokkan warga negara yang

beragama Kristen dan memberi insinuasi pada pertentangan warga berbeda agama

di negara ini. Karena itu tesis Saudara semula bahwa kerusuhan di Indoensia

disebabkan karena ada banyak "daun-daun atau rumput kering", tidak valid

lagi. Fakta di lapangan membuktikan bahwa akar kerusuhan bukanlah hanya

karena adanya daun-daun atau rumput-rumput kering tapi juga karena ada

tindakan politisasi terhadap "daun-daun atau rumput-rumput kering" itu. Kami

sangat kuatir apa yang Saudara ucapkan sejak pertemuan di Tugu Monas,

Jakarta, adalah salah satu dari sekian tindakan politisasi yang akibatnya

hanya mengorbankan rakyat yang percaya kepada Saudara sebagai Ketua Lembaga

Tertinggi Negara, MPR RI. Kami selalau berbaharap bahwa dari Saudara sebagai

Ketua MPR RI, selalu datang pembelaan terhadap warga negara/rakyat Indonesia

yang mengalami penistaan, penderitaan, fitnah dan kezaliman, tanpa pandang

suku, agama, ras dan golongannya.

5) Lingkaran kekerasan di Maluku dan Maluku Utara akan dapat diputuskan jika

semua terutama Saudara sebagai Ketua MPR RI berusaha dengan wewenang dan

kepercayaan rakyat yang Saudara miliki, mengeliminasi semua fenomena politik

dan dramatisasi angka-angka korban yang hanya akan menjadikan kerusuhan

konflik langgeng dan rakyat - tanpa pandang agama - menjadi korban sia-sia.

Selain itu jika Saudara berkenan, kualitas dan kedudukan Saudara sebagai

Ketua MPR sangat memungkinkan Saudara untuk berada di luar dan membongkar

fenomena konspirasi politik di kalgan elit, yang berada di balik kerusuhan

dan pelanggengan penderitaan rakyat. Hal ini lebih bermanfaat Saudar lakukan

karena hal ini menjadi harapan rakyat banyak termasuk kami dan Gereja-gereja

di Indonesia.

6) Kami harapkan semua langkah yang dilakukan Pemerintah Pusat/Daerah,

lembaga-lembaga legislative di pusat dan daerah, TNI/POLRI, semua kelompok

masyarakat, pimpinan dan tokoh lembaga-lembaga agama Islam dan

Gereja-gereja, dapat secara sistematis memberi manfaat bagi terhentinya

kekerasan individual dan kolektif serta membuka peluang bagi pemberdayaan

masyarakat serta dialog-dialog ke arah rekonsiliasi dan perdamaian yang

langgeng. Kami juga berharap kerusuhan sejenis tidak lagi meletus di

bagian-bagian lain tanah air kita. Jika di luar kemampuan kita sekalian

kerusuhan masih berlanjut atau meledak di tempat lain, perkenankan kami

menyarankan agar Saudara dalam kedudukan sebagai Ketua MPR RI, bersedia

menghimpun data-data sebanyak mungkin dari berbagai pihak sebelum melakukan

penilaian dan menyatakan pandangan serta sikap Saudara. Saudara tentu paham

bahwa rakyat biasa tidak bisa secara lugas membedakan peran Saudara sebagai

pribadi, tokoh agama Islam, tokoh Muhammadyah atau Ketua MPR RI. Kami yakin

Saudara dapat memahami keadaan objektif rakyat Indoensia sebagai keseluruhan

yang sedang menderita. Mereka semua menggantungkan harapan kepada Saudara

sebagai Ketua MPR RI dan terbantu jika Saudara menjadi lebih arif dan mampu

memberi jalan keluar yang tepat kepada rakyat untuk terbebas dari neraka

kerusuhan di Maluku/Maluku Utara atau di mana saja. Untuk melanjutkan

keinginan baik yang telah kami tunjukkan kepada Saudara, kami selalu

bersedia membantu Saudara dengan sepenuh hati dan pikiran.Terimakasih atas

perhatian Saudara.

Teriring salam dan hormat kami, Atas nama

MAJELIS PEKERJA HARIAN

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA

DI INDONESIA

Pdt Dr Sularso Sopater       Pdt DrJ.M.Pattiasina

Ketua Umum                      Sekretaris Umum

Tembusan disampaikan kepada yang terhormat:

1. Presiden Republik Indonesia di Jakarta

2. Wakil Presiden Republik Indonesia di Jakarta.

3. Ketua DPR RI di Jakarta

4. Para Wakil Ketua MPR RI dan DPR RI di Jakarta

5. Panglima TNI di Jakarta

6. KAPOLRI di Jakarta

7. Pimpinan Panja Maluku

8. Gubernur/KDH Tingkat I Maluku Utara di Ambon

9. Care-taker Gubernur Maluku Utara di Ternate

10. Ketua KWI di Jakarta

11. Pimpinan Gereja-gereja Anggota PGI di tempatnya masing-masing

12. Pimpinan PGI Wilayah di tempatnya masing-masing

13. Pimpinana PGPI, PII, GBI

14. Pimpinan Lembaga-lembaga Keumatan di Jakarta

15. Para Anggota MPH-PGI di tempatnya masing-masing

16. Dirjen Bimas (Kristen) Protestan Departemen Agama RI

17. Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama RI

______________________________________________________

Hosted by www.Geocities.ws

1