MALUKU BERDUKA :
"DARAH UMMAT ISLAM TERTUMPAH KEMBALI DI BULAN RAMADHAN YANG SUCI"
PENGANTAR
Kaum salibis kian brutal sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan kebiadaban mereka. Mereka sudah tidak pandang bulu lagi, wanita dan anak-anak, masjid-masjid dan rumah sakit sekalipun. Jangankan warga sipil, tentara pun diculik dan dibunuhi. Brutal. Rupanya, isu adanya skenario Natal Berdarah benar adanya. Sebab bukti-bukti begitu banyak.
Misalnya : pembantaian 400 muslim pada hari Rabu tanggal 29 Desember 1999 di Desa Togolihua, Kabupaten Tobelo, Halmahera Utara. Kebanyakan mereka adalah wanita dan anak-anak yang mengungsi akibat kaum nasrani di tiga desa muslim.
Juga penyerangan dan pengusiran terhadap dokter, perawat dan pasien Muslim di Rumah Sakit Umum Masohi di Maluku Tengah. Tak ada belas kasihan dan sifat kemanusiaan . Pasien-pasien sekarat dipaksa untuk berlari keluar dengan botol infus masih melekat di badan.
Wilayah konflik pun tak hanya di Ambon saja tapi sudah meluas sampai ke Halmahera. Data terakhir yang masuk (4 Januari 2000), sebagaimana dikutip Kru Pos Keadilan Peduli Ummat dari laporan Departemen Transmigrasi, jumlah kaum muslimin yang terbunuh sudah mencapai 3200 orang (hanya di Halmahera). Layak jika disebut Genocide.
Laporan ini dibuat berkisar tanggal 25 Desember 1999 sampai 3 Januauri 2000, meliputi konflik-konflik di Ambon, Masohi (Maluku Tengah) dan tragedi ummat di kecamatan Tobelo. Sampai saat ini jumlah kader da’wah yang syahid bertambah dua orang yakni Alymudin Mora dan Adhan Bakari, keduanya aktifis Partai Keadilan.
I.LAPORAN DARI AMBON
Ahad,26 Desember 1999
Gema jihad kembali membahana di kota Ambon. Gaung jihad di bulan Ramadhan ini pecah dengan bentrokan antara mujahidin Islam dengan kelompok salibis yang terkonsentrasi di Tugu Trikora dan Jalan Baru kotamadya Ambon. Kejadian ini berawal dari tabrak lari yang dilakukan oleh seorang warga salibis yang mengendarai mobil dari Kudamati pada pukul 17.40 WIT. Warga salib yang tidak bertanggung jawab ini menabrak seorang remaja muslim bersama Fauzan Sarijan, 13 thn yang mengendarai sepeda motor didepan Tugu Trikora. Remaja naas ini tergeletak ditempat dengan luka parah. Seorang aparat dari kesatuan marinir bernama Serda Suhardi yang berada dilokasi kejadian langsung membopong korban tersebut ke Rumah Sakit Tentara ( RST Ambon ). Sementara mobil bernomor polisi DE 694 menghilang.
Sejumlah warga yang ditemui bertutur bahwa orang tua korban berkeinginan untuk mengambil korban. Sementara Serda Suhardi menyatakan bertanggung jawab terhadap pengambilan korban. Serda Suhardi tidak ikut saat orang tua korban ke RST Ambon untuk mengambil korban yang telah meninggal. Begitupun saat korban di cek di Rumah Sakit Umum, mayatnya juga tidak ada.
Akibat tabrakan dan hilangnya mayat ini, warga muslim marah. Mereka menuntut agar mayat korban dikembalikan, massa muslim merangsek maju ke Tugu Trikora dan Jalan Baru. Pada saat yang sama masa salib pun telah siap diwilayah mereka (sepanjang tugu Trikora sampai jalan AM Sangaji) dengan peralatan perang yang cukup lengkap.
Pada pukul 18.00 WIT hingga 18.15 WIT kedua massa saling berhadapan, sementara puluhan aparat memblokade jalan didepan Tugu Trikora, Jalan Antony Reebok dan jalan AM Sangaji. Bunyi tembakan dari aparat keamanan terdengar bersahut – sahutan. Penduduk muslim yang berada disepanjang jalan Sultan Baabullah hingga didepan Masjid Al – Fatah bersikap siaga dan membawa peralatan tajam berupa parang. Menjelang magrib sebagian massa muslim mundur dan menuju Masjid Al – Fatah yang hanya berjarak 300 meter dari lokasi kejadian untuk berbuka puasa dan sholat magrib.
Pukul 19.00 WIT setelah sholat magrib ledakan bom terdengar berkali – kali. Ledakan yang dilepaskan oleh massa salibis dibalas dengan tembakan senjata api marinir. Massa muslim dan mujahidin – mujahidin muda Islam kemudian merangsak maju keperbatasan jalan Baru Pohon Pule. Sebagian massa muslim lainnya terkonsentrasi di depan Toko Simpang dan Masjid Al – Fatah. Suasana malam menjadi amat tegang. Ledakan bom serta tembakan gelap dari beberapa warga kristen yang menggunakan senjata organik menyebabkan sebagian massa muslim berlindung dibalik dinding rumah.
Ledakan – ledakan bom rakitan dan tembakan senjata rakitan dari kelompok kristen menyebabkan 4 orang warga muslim terluka dan 4 orang aparat dari kesatuan marinir tertembak. Sementara warga kristen yang terluka cukup sulit teridentifikasi.
Keterangan sejumlah saksi mata saat ditemui mengatakan bahwa, aparat yang terluka ini ditembak oleh warga kristen yang berada digedung berlantai 3. Warga sipil ini menggunakan pakaian beridentitas marinir serta beersenjata organik. Indikasi ini cukup kuat karena pada tanggal 16 Desember 1999 disita sejumlah pakaian marinir palsu dan ratusan amunisi dari KM Dobon Solo yang diselundupkan oleh 3 warga Kristen.
Pada pukul 22.00 WIT massa muslim dengan menggunakan bom Molotov dan senjata parang serta bom rakitan kembali merangsek maju. Beberapa mujahidin Islam dengan tekad jihadnya melemparka bom Molotov pada salah satu gedung yang berada disamping gereja Silo. Gedung yang berlokasi didepan Tugu Trikora ini terbakar. Rentetan senjata aparat dan ledakan bom rakitan masih terus terdengar ditengah kegelapan malam Ambon. Massa terus berhadap – hadapan hingga Ahad dini hari ( 27 Desember 1999 ) pukul 03.00 WIT.
Pada pukul 04.00 WIT kobaran api mulai menjalar kebagian samping gereja Silo. Gereja inipun terbakar sampingnya. Suasana tegang ini berlangsung hingga pagi hari. Rentetan tembakan senjata aparat keamanan terdengar setiap menit. Begitupun dengan ledakan bom – bom rakitan.
Senin, 27 Desember 1999
Pukul 10.00 WIT, korban warga muslim yang dadanya telah tertanan semangat jihad melawan kekuatan kelompok salibis berjatuhan. Namun demikian, beberapa toko dan gedung gedung yang berjejeran sepanjang jalan Antony Rebok dan kolonel Pieters milik warga kristen berhasil dibakar. Kepulan asap membuat udara Ambon menghitam. Gema takbir membahana di Masjid Al-Fatah seiring dengan majunya beberapa kelompok mujahidin dari Posko Geser. Suasana kian tegang, tembakan aparat baik yang diarahkan ke kelompok kristen maupun mujahidin-mujahidin Islam kian bersahut-sahutan. Tercatat lebih dati 10 gedung di jalan tersebut terbakar.
Waihaong - Talake
Pukul 10.30 WIT, ketegangan juga terjadi di perbatasan Waihaong-Talake Dalam. Dua warga kristen yang bersenjata organik menyususup ke salah satu gedung bertingkat dan melakukan penembakan kearah warga muslim di Talake- perbatasan Waihaong. Aparat dari kesatuan Marinir yang berjaga-jaga di perbatasan kedua wilayah ini meningkatkan kewaspadaannya dan melakukan tembakan-tembakan secara beruntun ke arah gedung dan tempat-tempat yang dicurigai. Peristiwa tembak-menembak ini terjadi selama 15 menit. Tidak ada korban dalam peristiwa ini. Penyusup menghilang dengan cepat saat 2 anggota Marinir mencoba melalukan penyergapan ke gedung tersebut.
Pukul 13.00 WIT, massa muslim yang sebagian terkonsentrasi didepan Toko Simpang, merangsek maju menuju ke pertokoan dijalan AY Patty milik kaum salib. Dalam hitungan menit beberapa pertokoan tersebut sudah dilalap api. Kobaran api terus membesar.
Pukul 13.30WIT, massa salibis yang bertempat tingga di Kudamati dan sekitarnya melakukan pembakaran terhadap rumah – rumah kosong milik warga muslim didaerah Kramat Jaya. Yayasan dan sekolah yang berada didusun tersebut ikut terbakar, kobaran api tampak jelas terlihat dari kelurahan Waihaong dan Al – Fatah. Lebih dari 15 rumah terbakar. Dusun ini sudah tidak berpenghuni karena warganya telah mengungsi pada peristiwa kerusuhan bulan juli s.d Agustus 1999.
Hingga pukul 16.00 WIT korban yang meninggal dari pihak muslim berjumlah 21 orang. Sedangkan yang terluka ( luka ringan / luka berat ) berjumlah 60 orang. Hampir semua korban meninggal dan terluka karena tembakan aparat keamanan. Semua korban dirawat di Rumah Sakit Al – Fatah yang telah disesaki oleh korban – korban sebelumnya. Puluhan korban terpaksa dirawat apa adanya karena Rumah Sakit ini kekurangan obat – obatan.
Komplek Kampus STAIN Ambon
Pukul 17.00 WIT – 19.00 WIT
Sekelompok massa kristen gabungan desa Galala dan Halong melakukan penyerangan ke komplek kampus STAIN. Terjadi kontak senjata di perbatasan komplek perkampungan tersebut. Dilaporkan aparat keamanan dari kesatuan marinir yang selama ini melakukan penjagaan di Kampus STAIN menghadang kelompok massa yang menyerang. Korban yang meninggal dari pihak kristen berjumlah 5 orang, semuanya kena tembakan. Sementara dari pihak muslim yang bertahan tidak satupun yang terluka. Pertahanan di kampus ini diperkuat oleh muslim yang bertempat tinggal di sekitar kampus. Kontak senjata ini berlangsung hingga pukul 19.00 WIT.
Jam 01.30 – 05.00 WIT
Suasana tegang masih terjadi di dua tempat yakni jalan Baru/Pohon Pule dan perbatasan Waihaong – Talake. Rentetan senjata aparat yang dimuntahkan terdenganr beriringan. Pukul 02.00 dini hari, bom rakitan dari bahan TNI dilemparkan oleh beberapa warga Kristen Talake. Bom ini meledak dekat Pos Jaga Kesatuan Marinir. Rentetan senjata yang dimuntahkan di tengah malam oleh aparat marinir ini tidak terhindarkan. Suasana mencekam juga terjadi di Jalan Baru. Hingga pagi ini aksi bom dan tembakan masih terus berlangsung.
II. LAPORAN DARI TERNATE, MALUKU UTARA
Dilaporkan dari Ternate bahwa sejak kemarin, sejak kerusuhan yang terjadi di Tobelo, dimana Ummat Islam diserang dan sebagian rumah mereka dibakar, mengakibatkan sebagian dari warga muslim Ternate berkeinginan membantu warga muslim Tobelo. Saat mereka menuju ke pelabuhan dengan tujuan Tobelo mereka dihadang oleh pasukan Kuning Sultan Ternate. Bentrokan fisik tidak terhindarkan antara kedua pihak, kontak ini mengakibatkan kerusuhan meluas ke Ternate dan bahkan pasukan Kuning Sultan melakukan pembakaran terhadap rumah ummat Islam Ternate Utara termasuk 2 masjid. Hingga hari ini suasana kota Ternate dan sekitarnya masih tegang dan mencekam. Sebagian warga Ternate yang menjadi korban kerusuhan, mengungsi ke Tidore.
Selasa, 28 Desember 1999
Titik kerusuhan yang semula berpusat di kota Ambon kemudian menyebar ke pingiran kota. Pada 10.00 WIT, warga muslim Waiheru melakukan pembakaran terhadap rumah milik warga kristen Durian Patah. Kobaran api nampak jelas dari pusat kota Ambon. Lebih dari 10 buah rumah terbakar dari peristiwa tersebut.
Jam 06.00 WIT, warga kristen Ponegoro mulai melakukan pembakaran-pembakaran rumah muslim Ponegoro. Sebagian warga muslim yang mengungsi dikawal aparat keamanan. Kepulan asapnya hingga Rabu pagi masih kelihatan. Jam 16.00 WIT, massa kristen Galala memancing warga muslim dengan membakar toko kayu milik warga muslim disamping jembatan Galala. Warga muslim Tantui kemudian merangsek maju. Sementara ratusan warga salibis Galala dan Waihaong telah berada di jembatan Galala. Bentrokan fisik tidak sempat terjadi, namun aparat sempat melakukan penembakan terhadap warga kristen yang brutal ini. Tercatat 3 orang tertembak, dalam peristiwa ini warga muslim tidak ada yang terluka.
Pukul 18.00 WIT, tembakan-tembakan gelap dilakukan beberapa warga kristen di dua tempat. Lokasi pertama yang digunakan adalah lantai 3 gedung PLN dan perbatasan Talake dan Waihaong. Penembakan dari gedung PLN dilakukan untuk memecah massa muslim yang berkerumun di depan Toko Simpang. Seorang warga muslim yang mengendarai sepeda motor di depan Dermaga Yosudarso tertembak oleh peluru penembak gelap. Di Talake, penembak gelap juga bereaksi, Ja’far Makatita ketua divisi logistik Pos Keadilan Peduli Ummat hampir terkena peluru sniper di depan Pos Keadilan Peduli Ummat Ambon. Mobil angkutan yang terparkir didepan Pos Keadilan kaca depannya hancur terkena peluru penembak gelap.
Hingga tadi malam, suasana mencekam ini tidak berubah. Rentetan tembakan dan bom masih terus berlangsung. Kepulan asap dari gedung – gedung yang terbakar masih tampak. Sementara itu, mujahidin Islam jumlahnya kian berkurang. Peralatan perang yang digunakanpun sangat tidak seimbang dibanding kelompok salib.
Konsentrasi massa muslim tersebut didepan masjid Al – Falah, jalan Baru dan Soa Bali serta beberapa mujahidin berada diperbatasan Waihaong – Talake.
Kelompok Kristen bertindak makin berutal, mereka tidak segan – segan melakukan tembakan dan peralatan terhadap aparat keamanan. Terbukti dengan penyanderaan yang dilakukan terhadap 10 orang aparat dari kesatuan 733 BS Ambon di OSM Ambon. 2 Orang dibunuh, 1 orang melarikan diri dan 7 lainnya diserahkan ke Kodam XVII Patimura.
Alimudin Mora, aktivis Pos Keadilan di Talake Syahid pada Peristiwa hari Senin
Rabu, 29 Desember 1999
Titik kerusuhan masih berada dilokasi Jalan Baru - Pohon Pule dan Simpang Trikora. Sejak peristiwa tembakan – tembakan gelap yang dilakukan dari gedung PLN Ambon, Mujahidin – mujahidin yang rata – rata berusia remaja mulai melakukan penyusupan untuk membakar PLN. Gedung ini berhasil dibakar dan beberapa korban jatuh dalam peristiwa pembakaran tersebut.
Penembak –penembak gelap yang dalam setiap bidikan senapannya selalu kena sasaran, kemudian berpindah ke gedung planet 2000. Diperkirakan penembak gelap ini adalah aparat kristen, dan dari jenis peluru dan tepatnya sasaran tembakan. Pukul 14.00 WIT, mujahidin Islam yang telah berkumpul diperempatan jalan Toko Simpang ( Depan Masjid Al – Fatah ), mencoba melakukan penyusupan dengan menyusuri pertokoan dijalan AM Sangaji. Namun upaya ini sedikit terhambat karena tembakan – tembakan dari berbagai arah.
Dalam kondisi tersebut beberapa petugas muslim yang selama ini bekerja dipelabuhan, dengan menggunakan truk penggangkut peti kemas mengangkut empat buah peti kemas besar dan diletakkan dipertigaan jalan Antony Reebok - depan Masjid An – Nuur. Mujahidin – mujahidin muda ini kemudian berlindung dibalik peti kemas ini. Suasana ini bertahan hingga pukul 18.15 WIT.
Pukul 22.00 – 24.00 WIT, bom rakitan meledak dibeberapa lokasi, antara lain diperbatasan Talake ( Kristen ) - Waihong ( Muslim ) di Jalan Baru. Rentetan tembakan senjata aparat keamanan terjadi berulang-ulang dilokasi-lokasi tersebut, sehingga suasana Ambon yang gelap semakin bisng dengan suara tembakan. Pukul 22.00 WIT – Kamis Pukul 06.00 WIT dini hari, tidak ada korban dari pihak Muslim. Saat rentetan tembakan tersebut kebanyakan mujahid-mujahid belia ini berlindung dibalik tembok rumah maupun tempat yang aman.
Kamis 30 Desember 1999
Rentetan pertikaian masih terus berlanjut hingga Kamis 30 Desember 1999. Lokasi kejadiaan masih berkisar didaerah Jalan Baru, Jalan AM Sangaji dan perbatasan Talake – Waihaong dan Kampung Kolam -- Belakang Oriental. Pada pagi hari hingga sore hari, tidak terjadi kontak senjata, hanya saja terdengar beberapa kali ledakan bom diperbatasan Talake Dalam ( Kristen ) dengan Waihaong ( Muslim ) maupun di Pohon Pule ( Pemukiman Kristen ). Ledakan bom ini dibalas dengan tembakan senjata oleh kesatuan Marinir yang berjaga-jaga di dua lokasi tersebut.
Pukul 21.30 WIT, Ba’da Sholat Tarawih warga Jalan Baru dikejutkan oleh kebakaran hebat yang terjadi dipertokoan berlantai 3 (belakang gereja Silo yang sebelumnya telah terbakar ). Menurut sejumlah saksi mata yang ditemui dilokasi kejadian, kebakaran ini terjadi karena keberhasilan beberapa orang salibis ( jumlahnya belum diketahui ) menyusup masuk dan menyiram bahan bakar ke gedung tersebut.
Disamping belakang gedung ini tempat bermukim warga muslim Jalan Baru. Api dengan cepat berkobar. Lebih dari 50 KK yang tinggal di Jalan Baru Menggungsi ke Masjid Al – Fatah. Warga Muslim berupaya memadamkan api tersebut kerumah-rumah disampingnya. Pukul 22.10 WIT mobil pemadam kebakaran tiba. Api dapat dipadamkan pukul 23.00 WIT. Tercatat 4 rumah penduduk terbakar dan 3 gedung berlantai 2 ikut terbakar.
Pukul 23.00 WIT warga kristen berhasil membakar rumah milik warga muslim yang terletak di belakang Hotel Oriental Kampung Kolam. Kobaran api cukup besar, kurang lebih 3 rumah yang ada disampingnya ikut terbakar. Puluhan mujahid-mujahid remaja beserta kru Pos Keadilan melakukan penjagaan di Waihaong (depan Kantor Pos Keadilan Ambon) yang berjarak hanya 300m dari perbatasan Talake dimana bom-bom rakitan ini meledak. Beberapa mujahid-mujahid remaja melakukan penyusupan kedaerah Kampung Kolam (kristen) untuk membakar rumah di daerah tersebut. Rentetan tembakan senjata aparat membuat mujahid-mujahid ini mengurungkan niatnya untuk menyusup masuk. Hingga jam 04.00 dini hari ledakan-ledakan bom masih terdengar dari beberapa tempat. Tidak ada korban dari pihak muslim.
Dilaporkan oleh koresponden Pos Keadilan dari kota Masohi Maluku Tengah, pecah perang antara warga muslim Liang Awaia (Kec. Amahai) dengan warga kristen Waipia (Kec. TNS/ Teuni Laserua). Kedua desa ini berdekatan. Awal kejadian menurut koresponden Pos Keadilan di Masohi tersebut, bahwa warga kristen Waipia pada dua hari yang lalu mengganggu dan memancing komunitas muslim yang tinggal di Liang Awaia. Saat itu warga muslim Liang Awaia hanya bertahan dan meningkatkan kewaspadaan. Lebih dari 80 KK yang kebanyakan berasal dari Buton Sulawesi Tenggara mengungsi. Warga muslim ini mengungsi di desa Afui, Lesane dan sebagian lainnya mengungsi ke Latu Hualoi. Hingga pagi hari, pembakaran masih terus dilakukan oleh kekuatan salibis ini. Pemuda muslim Liang Awaia yang sebelumnya bertahan dengan peralatan yang sangat tidak memadai (hanya parang,tombak, dan panah) kemudian ikut mundur melindungi keluarganya. Lebih dari 4 orang terluka, satu orang diantaranya tertembak oleh senjata rakitan.
Pada hari Rabu, 29 Desember 1999, di lokasi transmigrasi Kilo PHBI yang komunitasnya juga berasal dari Buton warga muslim ini diusir secara paksa oleh salibis Waipia. Masyarakat muslim polos ini tidak dapat berbuat banyak kecuali meninggalkan tempat dan mengungsi ke asrama ABRI Waipo. Hal ini dilakukan karena ancaman keselamatan jiwa. Saat berikutnya, daerah transmigrasi Kilo PHBI telah berasap karena rumah-rumah warga muslim tersebut telah dibakar oleh salibis Waipia. Di pusat kota Masohi, pada hari Jum’at 31 Desember 1999 jam 04.00 WIT warga salibis Litiaru Masohi melakukan penyerangan ke pemukiman warga muslim Lesane. Kedua daerah ini saling berbatasan. Dilaporkan satu orang warga desa Lesane terluka berat. Akibatnya peperangan antara kedua kelompok ini tidak terhindarkan. Ketegangan antara massa Muslim dengan salibis terjadi juga di daerah Sugiarto, Kampung Pahlawan dan Namaole. Ketiga daerah ini merupakan daerah yang komunitasnya bercampur antara kristen dan muslim. Hingga pukul 10.00 WIT massa yang berkonsentrasi di perbatasan daerah-daerah ini telah siaga dengan peralatan perang. Aparat keamanan yang ditempatkan di Masohi, belum melakukan penembakan-penembakan brutal ke massa yang bertikai. Peralatan perang yang digunakan oleh massa kristen cukup lengkap: bom-bom rakitan, bom molotov dan senjata rakitan yang sebelumnya telah disiapkan.
Catatan :
a. Meninggal : 40 orang
b. Luka ringan dan berat : 93 orang
Disamping itu terdapat dua aparat yang menyandera 10 orang terdiri dari :
a. Terbunuh : 2 orang
b. Meloloskan diri : 1 orang
c. Diserahkan ke Pangdam : 7 orang
Jumlah aparat yang kena tembakan 6 orang terdiri dari :
a. Kesatuan Kostrad : 3 orang
b. Kesatuan Marinir : 2 orang
c. Kesatuan Armed : 1 orang
III. KERUSUHAN DI KOTA MASOHI , MALUKU TENGAH
Jum’at, 31 Desember 1999
Dampak terbakarnya gereja Silo Ambon membuat titik kerusuhan meluas hingga kota Masohi. Walaupun pada prinsipnya upaya untuk menyerang daerah-daerah muslim telah dirancang sebelumnya. Kerusuhan yang terjadi di Masohi dan sekitarnya cukup besar dan meluas.
Dilaporkan oleh Pos Kesehatan Masohi dan Pos Jihad Rutah, pasca penyerangan jam 04.00 WIT dini hari oleh warga salibis (kristen) Letuaru, jumlah kelompok penyerang bertambah. Kelompok salibis yang menyerang terdiri atas dua kelompok. Kelompok pertama berasal dari Letuar , Makariki dan desa Waipia Kec.TNS menyerang dari arah Barat Masohi. Kelompok kedua yakni desa kristen dari kec.Amahai menyerang dari arah Timur Masohi. Kota ini benar-benar terkepung dari berbagai penjuru. Sementara ummat Islam yang berada di kota Masohi posisinya cukup terjepit. Namun demikian upaya perlawanan diberikan oleh ummat Islam dibeberapa wilayah antara lain wilayah muslim Namaelu, Kampung Kodok, Afui, dan Sugiarto dan beberapa wilayah lainnya. Sementara itu bantuan pasukan jihad berjumlah 30 orang dikirim dari rute melewati Gunung Masohi. Sementara itu, pasukan jihad Rutah dan pemuda muslim dari Amahai Islam bertahan di kota kecamatan Amahai sekaligus melindungi Masjid Tua di Amahai.
Kekuatan dan perlawanan yang tidak seimbang ini menyebabkan kelompok salibis mampu menguasai Rumah sakit Umum Masohi pukul 11.00 WIT dengan mengusir dan menyerang seluruh paramedis muslim (dokter dan perawat / mantri). Serta para pasien muslim yang sementara rawat inap. Dilaporkan bahwa beberapa pasien yang sekarat keluar melarikan diri dari ruangan rumah sakit dengan botol infus yang masih melekat di badan. Rumah sakit tersebut diapit oleh asrama Polres, Kodim dan perumahan / pendopo Bupati Maluku Tengah. Sebagian paramedis yang meloloskan diri saat penyerangan tersebut mengungsi ke salah satu apotik di kelurahan Afui dan Rumah Sakit Islam. Seluruh penduduk muslim di salah satu desa di Kec. Masohi disandera, hingga pukul 20.00 WIT malam ini belum diketahui nasibnya.
Tiga rumah di Kampung Timur- Masohi dibakar oleh kelompok salibis ini termasuk rumah-rumah milik warga muslim di batas kota Kelurahan Namasina Masohi. Ratusan pengungsi yang terdiri dari anak-anak dan wanita meloloskan diri saat rumahnya terbakar mengungsi ke Masjid Nurul Iman Afui (lebih dari 300 jiwa) dan beberapa masjid di kota Masohi.
Data korban sementara :
- Luka bakar : Ali Pawae
- Luka panah : Setty Idris, Jalaludin, Ahmad Yusuf, M. Saleh
- Meninggal : Ali Manuputty, 34 thn asal desa Huwaloi, Junaid Rubin, 18 tahun asal desa Latu dan
Abdul Haji Paliosa ditembak polisi kristen.
Semuanya ditembak ketika berada dalam speed boat.
- 1 buah Masjid Letuaru
- Seorang ibu ditembak aparat kristen dalam speed boat saat keluar dari Masohi.
Ummat Islam bertahan di Perbatasan desa Lesane – Letuaru, Sugiarto dan antar batas kota (wilayah rumah rakyat)
IV. LAPORAN TRAGEDI TOBELO, HALMAHERA UTARA Per 03 Januari 2000
Pendahuluan
Propinsi Maluku Utara baru saja merayakan kemenangan atas disahkan serta diresmikannya oleh Pemerintah menjadi salah satu Propinsi diantara 26 Propinsi di Indonesia, namun seiring dengan suka cita itu ternyata membawa sejumlah persoalan yang dimulai dari konflik masyarakat Malifut – Kao ,yang mencuat kepermukaan dengan dalil perbatasan ternyata sesungguhnya adalah cikal bakal konflik berbau SARA. Kondisi riil di lapangan, Malifut adalah simbol ummat Islam di Halmahera Bagian Utara dan Kao (walaupun ada muslim) tapi mayoritas yang mendiami kaum nasrani. Kejadian demi kejadian beruntun meluas ke Pulau Tidore, Halmahera bagian Tengah dan Selatan sampai ke Pulau Ternate. Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya kerusuhan ini terjadi ada kaitannya dengan tragedi di Ambon, hal ini disebabkan kelompok masyarakat Ambon Nasrani sebagian melarikan diri ke Maluku Utara. Disamping itu dipicu lagi dengan rasa Feodalnya Sultan Ternate yang ingin menunjukkan kebobrokannya dengan memanfaatkan pasukannya menyerang warga muslim yang mendiami kota Ternate terutama suku Makian, Bacan, Tidore, dan Sanana (konon sebagai lawan politiknya) dengan puncaknya pembakaran sekitar 100 buah rumah di kelurahan Kampung Pisang, Tanah Tinggi dan Maliarao oleh pasukan adat kesultanan. Ternyata konspirasi yang dimainkan adalah konspirasi murahan yang dibuktikan dengan pasukan-pasukan tersebut adalah orang-orang nasrani dan berhasil digempur masyarakat muslim (pasukan putih) di Istana Sultan sehingga Sultan Ternate menyerah dihadapan Sultan Tidore dan disaksikan Gubernur Maluku Utara Sulasmin SH.
Tanggal 25 Desember yang selalu diidentikkan dengan hari Natal yang merupakan hari suci Umat Nasrani dimana hari itu Ummat Islam pun dengan landasan toleransi selalu menghormati. Namun di Tobelo, Ibukota kecamatan Tobelo, Kabupaten Maluku Utara Propinsi termuda Maluku Utara lain yang dirasakan, yakni suatu tragedi yang tidak mungkin dilupakan oleh ummat Islam di Jazirah Utara Al-Muluk (nama awal Maluku) ini. Seperti yang diuraikan dalam kronologis berikut :
Kecamatan Tobelo
Minggu, 26 Desember 1999
Pukul 20.15 WIT, terjadi pelemparan rumah milik seorang warga muslim, tak diketahui asal lemparan, tak berapa lama terjadi lemparan balasan yang menurut saksi mata mengenai rumah milik purnawirawan polisi bermarga Maitimu di daerah Gosoma Barat, suasana ini dapat dikendalikan. Lalu ada warga yang melihat purnawirawan Maitimu ini berjalan menuju Gosoma (yang dominasi ditempati warga kristen). Selanjutnya dalam waktu yang tidak terlalu lama, terlihat 5 orang pemuda dari Gosoma mabuk dan berteriak ke arah tempat Pasar Kaget. Kejadian ini berlangsung pada saat Ummat Islam sedang melaksanakan sholat Isya dan Tarawih. Kelakuan pemuda ini membuat masyarakat kaget dan melarikan diri. Ketika itu kelima pemuda itu menuju jalan depan Gereja Pantekosta, dari situlah tiang listrik dan bel gereja dibunyikan.
Sekitar pukul 21.30 WIT terdengar tanda pemukulan tiang listrik diselingi bunyi lonceng gereja, pada saat yang sama juga terdengar bom. Suasana malam mulai gempar. Masyarakat di Desa Jalan Baru (Islam) dan Gosoma (Kristen) mulai berhadapan dan saling mengkonsentrasikan massa, ketika itu korban yang meninggal awal adalah 2 orang.
Senin, 27 Desember 1999
Sekitar pukul 03.00 WIT merebak informasi bahwa akan ada penyerangan dari kelompok merah ke kaum muslimin yang berada diantara kelompok merah (dikelilingi).
Pukul 05.00 bersamaan dengan tiba sholat subuh terjadi penyerangan ke kaum muslimin (oleh kaum muslimin dinamakan serangan fajar) dengan kejadian ini akhirnya terjadi bentrok antara kedua belah pihak hingga siang hari dan akibatnya banyak korban dipihak muslimin mulai berjatuhan (bertambah). Hal ini diketahui dari banyaknya korban yang dilarikan ke masjid. Pada saat yang sama telah terjadi pembakaran rumah, hingga pagi hari arus pengungsi mulai membludak di instansi militer.
Selasa, 28 Desember 1999
Masih terjadi bentrok antara kedua belah pihak, korban sudah berjumlah 13 orang yang sempat diketahui. Menurut saksi mata kelompok merah yang menyerang dengan menggunakan senjata lengkap berupa parang, tombak, panah-panah, bom molotov, senjata, bahkan granat. Kondisi kaum muslimin saat itu makin parah karena persediaan yang dimiliki sudah tidak ada lagi.
Menurut saksi mata bahwa sebelumnya yaitu hari Jum’at, melihat masyarakat mengangkut panah-panah ke dalam gedung gereja dan mengatakan bahwa natal kali ini adalah natal berdarah.
Rabu, 29 Desember 1999
Sekitar pukul 06.00 WIT di Dese Togolihua diserang dari dua penjuru yakni dari arah utara dan selatan pasukan kelompok merah (Nasrani) yang berjumlah sekitar lebih dari 1000 personil melakukan kontak dengan masyarakat muslimin Desa Togolihua. Bentrokan terjadi hingga pukul 11.30 WIT dengan keterbatasan persiapan yang dimiliki oleh massa muslim Desa Togolihua dan jumlah kelompok penyerangan yang sangat besar sehingga pada pukul 12.00 WIT Desa Muslim Togolihua nyaris ditelan oleh kelompok merah dengan demikian korban di kelompok muslim tidak bisa terhindari.
Di Masjid Al Ikhlas (Komplek PAM) tempat diungsikannya para ibu dan anak-anak menjadi sasaran empuk (terjadi pembantaian yang sangat menyayat hati kaum muslimin) karena disana terdapat sekitar 400 jiwa dibantai habis-habisan tidak ada satupun yang dapat meloloskan diri.
Ada beberapa wanita yang dibawa ke Desa Tobe (sekitar 9 Km) dari Desa Togolihua ,mereka dikembalikan dengan tidak menggunakan busana sehelaipun (telanjang). Pada saat yang sama juga menurut penuturan saksi mata, korban dicincang dan kepala mereka dijejerkan di ruas jalan.
Modus Operasi yang dilakukan oleh kelompok merah mula-mula melakukan pemboman, kemudian dilanjutkan dengan pembakaran, dengan demikian tidak ada satupun yang lolos dari sasaran mereka.
Kamis-Jum’at, 30 Desember 1999
Asrama Kompi C 732 telah dipenuhi oleh sekitar 13 ribu pengungsi yang mayoritas kaum muslimin. Informasi ayng diterima dari para korban, sebelum kejadian di kota Tobelo hampir sebagian besar ibu-ibu dari komplek merah telah diungsikan, hal ini dirasakan masyarakat di kompleks Kampung Jalan Baru dan Kampung Cina.
Arus pengungsi mulai mengalir ke Ternate mulai dari hari Selasa, 28 Desember 1999 sampai dengan 31 Desember 1999 sekitar 10.660 jiwa.
Pada hari yang sama ini di Sidagoli Kec. Jailolo tidak luput dari konflik yang menelan korban jiwa dipihak muslim 10 orang.
Sabtu-Minggu, 1-2 Januari 2000
Enam hari setelah konflik massa dalam suasana Ramadhan 1420 H, Jailolo mengalami imbasnya yakni terjadi bentrokan antara massa Muslim dan massa Nasrani tepatnya di desa Tuada, aparat keamanan yang seharusnya menjadi penengah dan menjunjung tinggi netralitas tanpa harus bertindak sepihak telah melakukan penembakan kearah warga muslim, menurut saksi mata M. Muhidin sejumlah 9 orang oknum. Namun 4 orang yang dapat diidentifikasi yaitu :
Bukti hukum dalam kasus keterlibatan aparat ini yaitu ditemukannya peluru dalam tubuh korban,. Korban luka-luka yang dapat diidentifikasi adalah Saeni dan Rinto (warga muslim).
Sampai dengan tanggal 2 Januari 2000 korban telah berjumlah 12.266 jiwa yang berada ditempat-tempat yang telah disediakan oleh masyarakat kota Ternate.
Sampai berita ini diturunkan Hari Senin, Tanggal 3 Januari 2000 pukul 14.00 WIT, arus pengungsi ke Ternate semakin meningkat. Data sementara berjumlah 25.266 jiwa, kebanyakan anak-anak dan wanita yang diangkut oleh KM Lambelu dan KRI 501 milik Angkatan Laut, mereka diungsikan di beberapa gudang dan perumahan masyarakat kota Ternate. Pengungsi juga sementara di tampung di perumahan penduduk di Ibukota kabupaten Halmahera Tengah (belum didata jumlahnya). Daerah konflik semakin melebar ke kecamatan sekitarnya yaitu kecamatan Loloda, Kao, Jailolo, Ibu, dan Malifut. Jumlah korban diperkirakan sekitar 520 jiwa dari berbagai tempat / lokasi yang terisolir oleh aparat keamanan.
3 Januari 2000
Adhan Bakari, Jasadnya Disalib, Kemaluannya Dipotong serta Disumpalkan ke Mulut Jenazah.
Satu lagi kader da’wah syahid mengenaskan, sebuah gambaran kebiadaban tentara kafir di Maluku Utara (Tobelo, Halmahera Utara). Berita ini datangya dari Kru Pos Keadilan Galela, bahwa Adnan Bakri Aktivis Pos Keadilan Simau, gugur sebagai syahid diantara ratusan syuhada di Halmahera Utara. Hal yang sama juga diceritakan oleh pasukan yang baru datang dari pertempuran, ditambah kabar dari pihak Nasrani.
Pada tanggal 29 Desember 1999, terjadi pertempuran dahsyat di Desa Simau antara mujahidin denagn pasukan nasrani dari desa tetangga Ngidiho. Adhan Bakri gugur dalam pertempuran itu. Jasadnya jatuh ketangan pihak nasrani. Kemudian mereka membawanya ke Gereja Ngidiho. Disanalah jasad beliau dipermainkan, disalib, kemaluannya dipotong dan potongannya disumpalkan ke mulutnya.
Terjadi penyerangan oleh kelompok Salibis ke Dusun Rumalat – Liang Awaia PTP 27 orang meninggal dan menurut sumber Pos Keadilan Peduli Ummat terjadi pemerkosaan terhadap 17 wanita muslim oleh kaum salibis. Beberapa wanita dipenggal lehernya dan kepalanya diletakkan di samping pinggang. Beberapa anak menjadi korban tanpa bisa dikenali lagi, antara lain tubuh dan kepala terpisah. Dan masih ada 15 mayat hingga berita ini diturunkan belum ada yang dimakamkan.
1-2 Januari 2000
3 Januari 2000
Pengungsi berjumlah 25.266 jiwa kebanyakan anak-anak dan wanita sementara berjumlah 520 jiwa.
4 Januari 200
Adanya penyerangan dan pengusiran warga muslim dari kelompok merah ke Kec. Ibu dan Sosupu.
5 Januari 2000
7-9 Januari 2000
10 Januari 2000
Pos Keadilan Tobelo melaporkan :
Hingga saat ini jumlah korban pasti akibat perang di Tobelo sejak 26 Desember 1999 s.d 7 Januari 2000 belum ada keseragaman berita. Namun dari kru Pos Keadilan Peduli Ummat di Tobelo melaporkan korban-korban dari ummat Islam :
JUMLAH SEMENTARA HINGGA 10 JANUARI 2000, KORBAN JATUH DI PIHAK MUSLIM SEBANYAK 688 + 1500 = 2188.
Korban lain :
Semuanya dibakar ludes berkeping-keping.
RATUSAN ORANG DIKRISTENKAN SECARA PAKSA DALAM GEREJA. ANAK-ANAK 1-5 TAHUN DIAMBIL PAKSA .
Demikian liputan dan laporan sementara yang dapat kami laporkan dari pusat pertikaian semoga berita ini dapat menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya. Dan hanya kepada Allah SWT saja kita bertawakal dan memohon pertolongan. Ikuti berita-berita selanjutnya dari Kru Pos Keadilan Peduli Ummat.
Tim Investigasi
Pos Keadilan Peduli Ummat
Jakarta, Ternate dan Ambon
Jl Mampang Prapatan XII No. 9 Tegal Parang,
Jakarta Selatan, Telp. 7997220
Rekening Bank
Jakarta, Bank Muamalat Indonesia (BMI) :
a.n Pos Keadilan Peduli Ummat : 301.00354.15
Pos Keadilan Peduli Ummat Ternate
Bank Danamon, a.n Muhdar Hasanat : No. Rek. 044.090-147023
Pos Keadilan Peduli Ummat Ambon, BCA a.n Muhammad Kasuba, 044.0190.456