Tokoh pendidikan Indonesia adalah para tokoh yang dengan semangat juangnya memajukan pendidikan di Indonesia dengan gigih dan tulus yang menjadikan teladan dan dapat ditiru oleh siapa saja baik oleh pendidik maupun yang dididik.

Terdapat banyak tokoh pendidikan yang ada di Indonesia, mulai dari masa perjuangan perjuangan di masa lalu atau tokoh pendidikan ada pada masa kemerdekaan.

Pada pasa perjuangan melawan hambatan terdapat 5 tokoh yang dikenal diantaranya Ki Hadjar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, Raden Adjeng Kartini, Dewi Sartika, dan Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie. Kelima tokoh ini juga mendapat gelar sebagai pahlawan Indonesia.

Selain Biografi Kelima tokoh tersebut, di bagian bawah artikel ini juga kami tampilkan 38 tokoh pendidikan Indonesia lengkap.

Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar DewantaraKi Hajar Dewantara adalah tokoh pahlawan nasional yang lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Sebelum tahun 1922 namanya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat).

Ki Hajar Dewantara atau biasa disingkat "Soewardi" atau "KHD" adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politik, dan pelopor pendidikan baraaksara bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas 20.000 rupiah tahun emisi 1998.

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959). 

KH Ahmad Dahlan

Kiai Haji Ahmad Dahlan adalah Sang Penggagas lahirnya baraaksara Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan 18 November 1912.

Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun, beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

 Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga KH Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan ibu dari KH Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Muhammad Darwisy dilahirkan dari kedua orang tua yang dikenal sangat alim, yaitu KH. Abu Bakar (Imam Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta).

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu baru dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. 

la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Selain aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-11 pada 27 Desember 1961 melalui Keppres No. 657 Tahun 1961. (Baca selengkapnya di: "Biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan - Penggagas Lahirnya Muhammadiyah")

Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Ada pihak yang meragukan kebenaran surat Kartini. Ada dugaan JH Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. 

Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. 

Hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat tidak diketahui keberadaannya. Menurut sejarahah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan JH Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. 

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu,Dewi Sartika dan lain-lain.

RA Kartini diberi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 melalui Keppres No. 108 Tahun 1964. (Baca selengkapnya di : "Biografi Raden Adjeng Kartini - Pelopor Kebangkitan Perempuan Pribumi")

Dewi Sartika

Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di Bandung – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun. Beliau adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, yang diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

Bakat pendidik dan kegigihan untuk mencapai kemajuan. sudah ditunjukkan Dewi Sartika dari kecil. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Saat Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, Cengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena waktu itu belum ada anak (apalagi anak rakyat jelata) yang memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, menjahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi bahan pelajaran saat itu.

 

baraaksara