Tia's Creations

-Being simple but Awesome~Being unpretentious but Admirable-

Aku rindu omelan ayah (Cerpen)

Hoooam baru saja aku bangun dari tidur dan tiba-tiba cek �kakak perempuan dalam bahasa Palembang-  memanggilku, ia mengajakku untuk berbelanja di pasar. Tentu saja aku mau, dan tidak peduli kalau itu masih pagi. Sekitar pukul 08.00 pagi, aku bersiap-siap pergi dan berpamit kepada ibuku. Jujur, aku tidak berani pamit pada ayah karena ayah tidak akan mengizinkanku keluar. Dan aku hanya berpesan kepada ibu agar mengatakan pada ayah bahwa aku keluar bersama cek na.

Matahari semakin meninggi dan cek na masih sibuk memilih sepatu untuk dipakainya minggu depan ke acara pernikahan temannya. Tetapi entah mengapa, aku ingin cepat-cepat pulang seperti takut akan terjadi sesuatu. Dan kringkring, hp cek na berbunyi tanda ada telfon masuk. Segera cekna mengangkat dan �Halo, assalamualaikum ada apa bu?�. Dan ternyata bukan ibu yang menelfon tetapi ayah, ayah menjawab dengan suara keras hingga aku yang jauh dari jangkauan hp pun bisa mendengarnya �Inna dimana kalian? Dimana tya? Dari pagi sampai sekarang belum juga pulang!!�. Cek na menjawab �Yah,, tya bersamaku tenang saja�. Tanpa basa-basi ayah menjawab �Sudah!! Sekarang pulang!!�. Cepat-cepat cek na membayar sepatu yang akan dibelinya dan kemudian mengambil kuda besi di parkiran dan segera pulang. Ketika sampai di rumah bukan main takutnya aku melihat mata Ayah. Langsung ia mengomeliku � DARIMANA SAJA KAU INI!!!! KELUAR SUDAH DARI TADI PAGI DAN BARU PULANG SEKARANG!! ITU PUN KARENA DITELFON!!!!�. Aku menjawab �Yah tadi aku menemani cek na cari sepatu�. Ayah tetap tidak peduli dengan apa yang ku katakan, ia berkata �Sudah masuk!!!!!!!!!!!!!�.

Aku berlari dan menangis, ibu pun melihatku dan kemudian menanyakan mengapa aku menangis. Dengan tersendu-sendu aku menjawab �A..aa..akuu dimarahi ayah bu�, ibu �Kenapa?�, aku menjawab �Aku dimarahi karena aku keluar dari pagi dan baru pulang pukul 11.00 ini bu, padahal ini tidak terlalu siang bu tetapi ayah tetap saja marah dan tidak membolehkanku keluar lagi, aku benci Ayah bu�. Lalu ibu menenangkanku dan berkata �Jangan begitu, mungkin ayah sedang ada masalah� aku pun berkata dengan cukup keras �Tapi bu! Ayah selalu saja tidak membolehkanku keluar! Aku bosan!! Aku hanya keluar sebentar dan itu pun bersama cek na tetapi apa? Tetap saja ayah marah dan selalu marah�. Lalu aku berlari menuju ke kamar.

Aku menangis di kamar dan mengomel-ngomel di depan kaca �Hiks hiks, mengapa ayah selalu tidak membolehkanku keluar?! Selalu saja, aku berharap cepat-cepat pergi dari rumah ini! Agar aku bebas dari omelan ayah!!�. Aku terus menangis hingga tak terasa aku tertidur pulas, tiba-tiba di tengah malam aku terbangun dan mendengar suara tangisan di ruang Tv. Saat itu bulu kudukku merinding dan sangat ketakutan, saat aku berusaha untuk mendengar lebih jelas ternyata itu suara Ayah sedang berdo�a hingga menangis. Lalu aku pun bersembunyi dan mendengar apa yang sedang ia lakukan, di sela-sela do�anya aku mendengar �Ya Allah, bahagiakanlah tya! Berilah ia kecerdasan akhlak emosional dan selalu taat kepadamu. Jadikan ia anak yang sholehah dan patuh kepada orangtua, mudahkanlah jalannya untuk meraih kesuksesan. Jauhkanlah ia dari orang-orang yang akan menghalanginya untukmencapai kesuksesan. Hamba tidak ingin ya Allah anak hamba seperti hamba�. Tak terasa air mataku mengalir deras, memang saat itu aku sedang mengikuti test di SMAN Sumatera Selatan. Aku bertekad bisa masuk ke sekolah itu dan meringankan beban orangtuaku.

Aku sedih mendengar ayahku mendo�akanku seperti itu, bukan apa-apa sedikitnya aku masih kesal dengan ayah. Tapi mesti begitu rasa sayangku ke Ayah jauh lebih besar dibanding rasa kesalku ke ayah. Karena Ayah tetap pahlawan dihatiku. Ayah punya latar belakang yang sangat  hebat yang memotivasiku hingga sekarang.

Ayah adalah anak pertama dari 8 saudara, kakek  adalah orang yang keras dalam mendidik anak-anaknya. Mungkin karena itu pula Ayah juga mendidik kami dengan keras. Kakek selalu menekankan kepada ayah sebagai anak pertama ia harus bertanggung jawab kepada adik-adiknya. Itulah yang membuat ayah sangat keras dalam menjaga adik-adiknya. Hingga beberapa dari adik-adik ayah pun tidak begitu menyukai ayah. Hingga sekarang ayah seperti tidak begitu dianggap sebagai kakak, mereka seakan lupa siapa yang sering merawat mereka waktu kecil. Tetapi ayah selalu menasehatiku agar tidak membenci paman-pamanku (maklum karena aku hanya mempunyai satu bibi), dan tetap menyayangi mereka. Itulah yang membuatku bangga dengan ayah dam bertekad mengangkat derajat hidup orangtuaku.

-Rumah ke-2 ku-

Hari ini pengumuman siapa yang lulus dalam test di SMAN Sum-Sel. Aku dan teman-teman yang ikut juga test di sana juga sibuk saling memberitau berita siapa yang lulus test dan berhak menerima beasiswa. Dan tiba-tiba aku mendapat pesan dari temanku yang mengabarkan bahwa namaku ada di website SMAN Sum-Sel. Aku terkejut dan buru-buru membuktikan kebenaran dari pesan itu. Ku cari namaku dengan jeli dan benar namaku ada. Langsung aku mengucapkan syukur, dan segera memberitau orangtuaku tentang berita bahagia ini. Dan sudah bisa ditebak bagaiman raut wajah mereka , bahagia tak terkira.