Ratapan dalam Ratapan

 

 

Berjalanlah ia di koridor sekolah yang berkeramik itu. Dia sengaja menyeok-nyeokkan kakinya saat berjalan, membuat sepanjang koridor bergema dengan bunyi sepatunya. Gemanya begitu terdengar—memang, saat itu sepanjang koridor sedang kososng. Ia mendesah lagi, mengelus dadanya sendiri, dan mencoba menggapai pintu kelasnya.

            Kelas begitu sepi. Hanya ada suara seokan kakinya saja. Ia pelan-pelan masuk, menutup pintu dan menguncinya. Hari sudah sore, nyaris tidak ada cahanya masuk dari ruangan itu. Ia duduk di pojok belakang kelas, menyender kearah dinding, dan menundukkan kepala. Ia mendesah lagi, namun lama-lama terdengar seperti isakan. Ia mencoba untuk menangis, biar dirinya sendiri lega. Namun tak bisa. Ia hanya berisak tanpa air mata. Ia pun tenggelam dalam lamunan dan memorinya yang terdalam.

            Entah, apakah ia menyesal atau sakit hati. Ia benar-benar meratap hari ini. Ia selalu merasa terpojokkan, tersalahkan, terejekkan, dan terabaikan. Ia mengakui dirinya lemot tak bisa bergerak dengan cepat, rada-rada rempong, dan lunglai. Ia juga benar-benar menyadari bahwa dirinya dipenuhi dengan timbunan lemak yang tak terkontrol lagi, membuat ia berjalan menyeok. Ia juga benar-benar mengerti dirinya tak bisa berlari kencang, payah dalam olahraga dan tidak bisa diandalkan dalam pertandingan olahraga apapun. Ia benar-benar sadar akan hal ini sejak bertahun-tahun lalu, yaitu sejak ia bersosialisasi dengan teman se-SD nya.

            Ia sudah benar-benar berusaha, dengan menutupi kelemahannya ini dengan prestasi. Dia pun telah melakukannya. Menulis adalah salah satu keahliannya. Banyak penghargaan dalam bidang menulis dan bidang-bidang sastra yang telah membuat orangtuanya bangga, saat ia SD hingga SMP. Ia pun juga dikenal dengan prestasinya di bidang akademis, seperti pernah ikut dua kali olimpiade biologi hingga tingkat provinsi, saat ia masih sekolah SMP di Jawa. Banyak yang sudah bangga pada dia. Setidaknya, cukup menghibur hatinya yang selalu tidak percaya diri dengan kelemahannnya.

            Ia melanjutkan pendidikan SMA nya ke tempat yang begitu jauh dari tempat asalnya. Ia melanjutkan pendidikannya itu di sekolah berasrama, jauh dari Pulau Jawa. Sekolah itu benar-benar bagus, pendidikannya bagus. Siswanya benar-benar memiliki academic excellence yang tinggi. Ia sudah sadar dan berusaha siap untuk tidak menjadi yang benar-benar terbaik di sekolah itu. Memang benar, ia tidak segemilang dirinya dulu saat ia bersekolah di jawa. Banyak yang mendahului dia dalam berprestasi. Tapi itu bukan merupakan permasalahan yang cukup besar bagi batin dia, karena toh, ia sudah siap sebelumnya akan menjadi tidak segemilang dulu. Ia menyadari—lagi-lagi menyadari—bahwa sekolah itu merupakan sekolah bagi anak-anak yang terbaik

            Lama kelamaan ia mulai merasa bosan, selalu tak-terfamouskan di sekolah itu. Ia mencoba ambil andil di berbagai kegiatan dan organisasi. Ia mulai menyukainya dan aktif pula pada organisasi itu. Ia benar-benar berusaha untuk bisa menunjukkan yang terbaik bagi orang-orang yang berada di dekatnya. Banyak yang telah ia raih, organisasi yang ia pegang pun akhirnya punya nama di sekolah itu. Sudah banyak yang memerhatikan dia, dan membicarakan desas-desus prestasi yang dicapai oleh organisasi itu. Ia merasa bangga dan hidup di sekolah itu.

            Terkadang ia juga bingung sendiri mengapa ia harus selalu berjalan menyeok-nyeok di sekolah itu lagi. Ia terkadang juga bingung mengapa ia harus selalu meratap lagi dalam ratapannya itu. Mengingat-ingat akan kegemilangannya di masa lalu merupakan hal yang segar bagi batinnya. Namun masih saja ada perasaan sakit—dan tak terdefinisikan sebagai hal yang baik—yang membesit hatinya saat ia sednag tersandung konflik internal seperti yang ia alami sekarang.

            Ia melamun lagi. Teringat-ingat lagi kejadian lampau. Sedih ataupun tidak sedih ia ingat lagi semuanya.

            Ia teringat saat ia berkali-kali tersandung dalam malu dan masalah dalam kegiatan dan aktivitasnya. Ia banyak menghasilkan masalah di keorganisasiannya saat ia mulau focus ke pelajaran dari pada kegiatan organisasinya. Banyak hal yang disesalkan, dan dipermasalahkan, berlarut-larut, dan dianggap tidak becus dalam memikul tanggung jawab. Semua ia telan habis-habisan. Ia menyadari kembali akan kekurangannya saat ia menghadapi hal-hal yang seperti ini, sehingga ia cukup menerima bahwa dirinya lah yang salah.

            Ia bergerak lagi, mencoba memperbaiki. Ia teringat saat ia masih memiliki semangat yang berapi-api saat ia ingin berubah, dan memperbaiki semuanya. Pada saat itu ia melupakan kelemahannya, dan merevisi ulang apa yang ia perbuat. Ia benar-benar rindu dan kangen akan semangatnya yang dulu itu. Ia bekerja degan sangat keras. Semua perintah dari pihak yang diatasnya ia pahami dan ia laksanakan. Ia mengambil tindakan yang ia revisi dua kali, untuk menghindari kesalahan.

            Ia juga mencoba berhubungan baik dengan guru-guru yang ada di dekatnya. Semuanya bisa dikatakan lancar saat itu, dan ia benar-benar bersyukur atas itu. Ia mencoba bertahan, dan mengoptimalkan waktunya. Banyak hal yang ia pelajari dalam keahlian leadershipnya dari kepala sekolah. Ia cerna dalam-dalam, dan terapkan dengan benar.

            Ia sadar lagi dari lamunannya, dan bingung lagi; mengapa ia harus selalu berjalan menyeok-nyeok di sekolah itu lagi? Mengapa ia harus meratap dalam ratapannya itu lagi?

            Ia melamun lagi. Mengingat-ingat lagi kejadian lampau.

            Ia teringat saat ia terbesit masalah, saat keorganisasiannya runtuk dan nilai pelajaran menjadi imbasnya. Semuanya berjalan tak terduga saat itu. Entah betapa hancurnya ia—mungkin sehancur keadaannya sekarang. Semangatnya pupus dan tak berkobar lagi—jangankan berkobar, menyulutkannya kembali pun susah. Ia mencoba bangkit saat itu, dan mendapat semangat dari orang tuanya lagi. Entah, betapa berharganya dan bahagianya punya orang tua seperti yang ia punya, mendampingi dan mendoakan di manapun anaknya berada.

            Semenjak saat itu, memang ia bisa bangkit lagi. Namun ia tak sepenuhnya bangkit. Ada hal yang teramputasi dari benak batinnya. Ada hal yang teramputasi dari semangatnya yang berkobar dulu. Pada awalnya, ia biasa-biasa saja saat sebagian orang mengolok-oloknya akan kelemahannya. Sudah biasa, pikirnya. Toh, tak ada untungnya bagiku untuk memikirkannya, adanya rugi bagi mereka yang mengolokku di akhirat nanti, pikirnya. Toh, dosaku nanti di tanggung di dosa dia, dan pahala dia di limpahkan Tuhan padaku, prinsipnya. Ia mula-mulanya bisa mengontrol hal itu pada awalnya. Namun entah, bangkit dari sesuatu kegagalan yang menyakitkan membuat prinsip-prinsipnya tadi sedikit demi sedikti teramputasi, lagi dan lagi.

            Sudah tak terhitung sebenarnya, olok-olokan dari banyak orang, ocehan-ocehan dari banyak orang, sindiran, dan ucapan orang yang menyakitkan dari banyak orang, yang semata-mata hanya untuk membuat dirinya minder dan malu akan kelemahannya ia dengarkan. Ia sebenarnya bisa mengacuhkannya dengan prinsip-prinsipnya dulu. Namun saat ini prinsip itu telah teramputasi, bisa dikatakan lenyap dari alam pikirnya. Ia menjadi lebih sensitive tentang apa yang orang-orang olok-olok padanya. Membuat dirinya lebih teramputasi lagi.

            Teringat ia saat masalah yang bisa dikatakan tidak lama sebelum kondisi ia saat ini. Mengingat ini hatinya menjadi memanas, dan sakit.

            Ia menjalankan lagi keorganisasiannya setelah sekian lama vakum, akibat kondisinya yang rapuh itu. Ia mencoba sekuat tenaga untuk berpura-pura semangat, menutup-nutupi kerapuhannya dalam keorganisasiannya itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menjalankannya lagi. Banyak yang telah ia perbuat, dan banyak yang telah ia korbankan. Yang paling ekstrim ialah, ia menjalankan itu semua saat dirinya sedang rapuh—ia masih ingat, saat ia sedang berkobar-kobar pun, ia tak melakukan pengorbanan seberat yang ia lakukan saat ia telah rapuh itu.

            Memang, aktivitasnya telah dikatakan well done, namun ada saja yang kurang. Pihak atasanyya merasa tidak puas atas kerjanya saat itu. Membernya merasa terberatkan, tidak percaya, dan mengejek-ngejek dia tidak becus. Kondisinya saat itu sedang rapuh, tak ada kaki untuk berdiri, istilahnya. Walaupun awalnya ia kebal dengan hal-hal ini, namun kali ini ia tidak. Ia benar-benar down. Salah dan menyalahi dirinya sendiri. Hatinya panas, dan itu mungkin membuat ia lebih beratmosfirkan pecundang. Paranoid-paranoid berputar-putar di kepalanya. Orang pun melihatnya sebagai pecundang saat ini—mungkin salah satu faktornya ialah ia berjalan menyeok-nyeok tidak kepalang.

            Dalam kondisi yang sedang jatuh tertimpa tangga pun, ia masih disuruh bekerja oleh atasannya, tolong buat fix semua yang telah kamu perbuat. Terhuyung-huyung ia. Berjalan dan bekerja bagai orang yang benar-benar terlemot dan terlotoy sedunia—karena bisa dikatakan semangatnya telah habis, energinya telah habis. Di pertengahan kegiatannya ia mendapat berbagai cemoohan, dan membuat ia lebih paranoid lagi. Ia hanya bisa tertunduk pada orang yang mencemoohnya, dan menelan serta menyembunyika perasaan sakitnya yang bukan kepalang. Guru pun sekarang mulai menyindir ia dan memilih untuk melirik siswa lain, dan mengacuhkan—bahkan mencoba mengolok-olokku seperti teman-teman lainnya.

            Teringat lagi ia saat di Jawa, dimana banyak guru-guru yang menurutnya tidak biasa  mengejek anak didiknya, dirindukannya lah gurunya di jawa itu. Teringatlah ia, saat ia mendengarkan celotehan seorang tamu, yaitu guru dari jawa yang berkunjung ke sekolahnya, yang bercerita bahwa bagaimana guru itu menyemangati siswanya yang memiliki kelemahan yang lebih parah dari dia. Dirindukannyalah tamu dari jawa itu. Ia membandingkan gurunya saat ini, yang mengolok muridnya yang menurutnya lucu untuk objek ejekan, dan merasa terhibur karena telah mengejeknya saat itu.

            Ia tak bisa memungkiri, hal ini karena saat itu ia sedang diselubungi kabut bertuliskan siluet pecundang di dalam dirinya. Namun, ia hanya ingin ada—setidaknya satu saja—orang di sekolah ini yang mengerti kondisinya saat ini, dan mencoba menyemangati dia. Ia capek denga olokan orang—yang mungkin di paradigma orang itu hanya main-main saja. Ia juga tak ingin orang pura-pura menyayangi ia, seperti orang-orang menyayangi Jill di film Jack ‘n Jill—menyayangi dengam maksud mengasihani dan mengejek.

            Itulah energinya habis sekarang. Kata-kata teramputasi mungkin kali ini berganti menjadi kata hilang. Ia benar-benar kehilangan semangatnya, karena ia merasa sakit hati atas ketidak puasan seserang atas pengorbanan berat yang ia lakukan, dan atas olokan orang mengenai kelemahannya yang rempong itu. Ia capek, muak. Ingin sekali menangis, dan tidak bisa. Ingin menyulutkan semangatnya untuk berdiri lagi, namun tak bisa—mungkin belum sekarang. Ia pun menulis. Ia mencari gundukan kertas HVS di meja guru, dan menuliskannya dengan pena, tentang apa yang dirasakannya. Ia membuatnya semerawutan. Pelamunannya tadi membaut ia menulis banyak sekali, tentang apa masalahnya. Ia tak percaya pada orang manapun di sekolah itu untuk diajak bicara. Hanya kertas saja, dan pena saja yang ia andalkan untuk curhat. Ia merencanakan untuk membacanya, dan mencurhatkannya pada Tuhan, dzat yang Maha Mendengar. Dzat yang Maha Menyayangi dia, tidak pernah mengolok-oloknya, tidak pernah membuatnya sakit hati. Di lembaran ke empat ia telah menuliskan semuanya. Ia menuliskan kalimat penutup dari kalimat-kalimat yang—tak tahu jumlahnya—telah ia tulis;

 

            Tuhan, kesimpulan dari ini semua adalah; aku sakit, Ya Tuhan, maafkanlah hamba dan ampunilah dosa orang-orang yang telah mengolok-olok hamba, Ya Tuhan.

 

            Ia melipat kertasnya. Ia melihat lagi ke jendela. Hampir tak ada matahari lagi. Ia mulai berisak lagi. Saat adzan berkumandang, Tuhan mendengarkan doanya; Ia bisa menangis sekarang. Ia berisak tersedu-sedu, dalam rangkulan Tuhan. Ia berharap dan berdoa, tangisannya itu dapat menyulut lagi semangatnya. Berharap suatu hari esok, dirinya akan lebih gemilang dari apa yang ada di memorinya tadi.

___________________