Balon pecah

Kulihat mereka berkumpul di kelas. Aku sampai pertama di ruangan, jadi aku tahu siapa yang datang duluan tadi. Mereka bermuka ceria. Aku tak tahu itu ceria di segi apa. Sejauh ini aku tak melihat muka yang terpaksakan—dan mungkin hanya aku saja yang begitu. Bagus-bagus baju yang mereka pakai, walau terlihat masih keseharian bajunya. Dua kakak kelas membawa kotak berisis kue-kue yang berbau manis. Aku mencoba berbaur—seadanya saja. Entah beberapa waktu aku berekspresi datar. Aku cobalah tegur mereka. Mereka berbalik balas dengan manis. Aku ya senyum saja juga. Aku balik ke meja belakang. Memegang balon yang masih mengerucut. Mereka minta tolong ditiupkan. Ku buat balon yang tidak terlalu mengembung. Kuberi ke kakak sebelahku. Minta diikatkan. Diikatnya dengan erat. Ku tiup satu lagi. Kuberi ke dia lagi. Diikatnya pula. Dia baik, gaya bicaranya juga aku suka. Diletakkanlah balonnya di tengah ruangan.

Yang lain berdatangan. Bagus-bagus pula bajunya. Wajahnya cerah-cerah. Yah, beginilah. Aku tetap saja duduk di belakang ruangan, menyender dinding. Mengetikngetik sambil melihat jam. Tak sadar, sudah banyak dari mereka yang datang. Aku tak senyum lagi. Malas. Tetap aku mengetik-ngetik. Tak terasa sudah lengkaplah mereka di dalam ruangan. Aku menunggu acaranya mulai.

Ada yang memberiku seutas tali, dan ada yang memberiku balon hijau besar. Sesuai ukuran badan kakak, katanya. Aku senyum saja dan merasa sedikit terhibur. Balon itu besar, gelembung seperti perutku. Aku melilit balon itu di pergelangan kaki kanan. Tak terlalu rapat aku menyimpul. Aku berdirir lagi. Yang lain telah bersiap pula. Ada yang satu menyetel suara musik. Semua berjeritan ria. Mencoba memecahkan balon di pergelanga kaki orang, selagi mepertahankan balonnya sendiri di pergelangan kainya.  Berlarianlah mereka. Penuh riang. Aku ikut tertawa pula. Ku coba bergerak sedikit. Namun lelah.

Dor!! Balonku pecah. Kagetlah aku. Balon-balon lain pecah pula. Semakin pening aku. Aku mundur saja. Aku jadi teringat banyak hal yang kulupakan.

Wah pening rasanya. Deadline ku belum selesai! Aku temui lagi meja belakang. Duduk dan mengetik-ngetik. Apa lagi yang kudapat? Waktu tak bersahabat lagi. Orang-orang di ruangan masih lulu-lalang. Berteriak-teriak. Sebenarnya itu suka-cita, kenapa aku memikirkannya gundah-gulana? Aku mengetik-ngetik lagi.  Waduh. Balon-balon pecah lagi. Pening lagi. Dah. Waktu deadline berakhir. Balon-balon pecah lagi. Ada jadwal penting yang terlupakan, teringati  lagi. Aduh! Gawat lagi. Vatal sekali yang kulakukan sepertinya!

Aku tau! Mengapa semua yang berjalan malam ini tidak begitu beres, semua rencana dan daftar kegiatanku sudah seperti di back-up ke tempat lain. Ku mendengar banyak dor dor balon lagi. Pening lagi. Kuputuskan untuk menyusun lagi daftar kegiatanku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Aku harus mengakui. Aku parah, Tuhan! Dan Maafkanlah semua kehilangan ingatan belaka ini—Aku lupa sholat isya’ dulu tadi!