Berubah lakon

Sudah dua minggu terakhir ini Eliysha lebih suka berdiam diri, bertubi-tubi ia mendapatkan keganjalan dari banyak cerita yang menyangkut kejadian yang ia hadapi saat ini.Terhitung dua bulan sudah teman satu kamar yang bernama Shaina tewas secara tragis itu meninggalkannya. Satu persatu kabar burung membuat ia terpaut pada kisah tragis yang dialami oleh temannya tersebut. Bagaimana tidak, Shaina adalah teman satu kamar dengannya dan ia meninggalkan Elysha dengan sebab yang mustahil baginya, nomor urut tiga belas letak kamar mereka tepatnya pada kamar paling ujung, di samping nya sebuah kamar mandi dengan jarak enam ubin dari pintu kamar tersebut, suasana gelap dan sunyi karena tak sering kali orang lewat di depan kamar tersebut  dan lampu koridor  yang terkadang mati sekejap, membuat ruangan tersebut berbau mistik dan menyimpan sejuta cerita misterius di balik itu .

Pagi yang tak begitu cerah Eliysha, Jennie, dan Vira pergi ke sekolah, setelah pelajaran ke-tiga habis bel pun berdering seperti biasa Jennie, Vira, dan Eliysha pergi ke taman sekolah tempat dimana mereka selalu berbagi cerita, terlihat oleh Vira dan Jennie sosok wanita yang ceria dan talkactive itu diam seribu bahasa , Vira dan Jennie yang heran lalu melemparkan banyak pertanyaan kepada temannya tersebut sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya. Tidak ada satu kata yang bisa membuat mereka mengerti apa yang telah terjadi pada temannya tersebut karena Eliysha hanya bisa berkata

“Maaf,aku nggak bisa cerita sekarang !!.”

Selalu ia lontarkan kalimat itu seusai mereka memberikan banyak pertanyaan padanya. pembicaraan mereka di taman pun usai setelah terdengar bel masuk berbunyi. Disaat waktu pelajaran kimia, pak Dhaniel tidak masuk kelas, disini Vira, Jennie, Eliysha yang satu kelas pun membuat lingkaran kecil di sudut kelas dan mulai berbagi cerita.

 “Eh, kalian pernah denger nggak yang namanya rumah tusuk sate ?“. Tanya Vira selagi memulai perbincangan tersebut .

“Perasaan gue pernah deh denger kata-kata itu tapi cerita itu sudah dihapus sama rumus-rumus matematika yang sudah penuh di memori otak gue ,hhaha ..”. Sahut Jennie

 Elysha yang diam tidak dihiraukan oleh Vira untuk melanjutkan ceritanya tersebut.

”Malam tadi, gue nge-search di google bahwa ada tragedi rumah tusuk sate. Rumah tusuk sate itu ialah rumah yang terletak di pertigaan jalan dengan salah satu sisi jalannya berhadapan langsung dengan pintu rumah tersebut, dan gue pikir-pikir letaknya sama dengan letak gedung asrama kita. Dipercaya rumah tersebut akan mempunyai banyak makhlus halus dan mendatangkan kesialan dan dengan kalimat itu juga gue teringat sama almarhuma Shaina “. seru Vira

 “Huaaa.. serem banget  !!”, jerit Jennie .

 Elysha yang diam seribu bahasa langsung merespon dari sedikit cerita yang baru diceritakan oleh Vira.

“Tapi sebenarnya itu juga alasan yang masuk akal karena gue sudah menyangka pasti ada yang aneh dari kematian Shaina yang tragis, kenapasih sekolah kita nggak menyelesaikan masalah ini dengan tuntas! mereka cuma mengira bahwa Shaina meninggal karena stress lalu bunuh diri, padahal kita teman satu kamarnya Shaina tahu banget gimana Shaina tapi kenapa mereka asal membuat keputusan yang seakan menolak atas masalah ini! jujur gue masih kesel banget sama keputusan sekolah yang cuma membuat pernyataan berita bahwa Shaina meninggal karena kesadarannya sendiri”. Kesal Elysha yang seakan meledak dan terlihat seperti alasan mengapa ia diam seribu bahasa akhir-akhir ini.

 “Ya buat apa kita marah dan memendam kekesalan itu, biarlah itu berlalu sha, toh kita juga gak bakal direspon sama mereka, kita kan sudah berusaha dan mereka cuma mengambil keputusan mereka sendiri , tapi benar sih seperti ada yang tersimpan dibalik semua ini”, kata jennie.

 “Tuh lo tau apa maksud gue !”. cetus vira .

 Ditengah pembicaraan mereka datang Dimas  yang dulunya sebagai mantan dari almarhumah Shaina ,

“Heii, gue juga punya informasi buat kalian semua, setelah gue meneliti akhirnya gue mendapatkan hasil dari penelitian gue tentang si tangan merah yang termasuk dalam cerita-cerita tentang kematiannya Shaina. setelah gue ambil sample dan foto, gue cari dan terus mencari informasi tentang si tangan merah tersebut ternyata jejak-jejak darah yang berbentuk mirip sidik jari tersebut ialah jejak pocong yang melompat , tetapi bukan hanya pocong tetapi juga bisa berubah menjadi tangan merah, jin itu hanya berbentuk tangan dengan berlumuran darah dan nanah makanya disebut sitangan merah, dan jin itu akan datang pada saat mati lampu.

“Cuma itu sih yang gue baca”.Cerita Dimas.

 Jennie, Vira, dan Elysha teriak setelah mendengar cerita dari cowok tampan dan berkharisma tersebut.

 “Gue masih ingat, saat Shaina meninggal gue liat seperti ada goresan luka di lehernya dan sepertinya disebabkan ole kuku, mungkin… ???”. kata Vira .

Bel pun berbunyi tanda telah selesainya materi hari itu. Jennie ,Vira ,Elysha dan Dimas pun pergi ke ruang konsultasi untuk menceritakan apa saja yang telah mereka ragukan selama ini. Tetapi guru yang ada di ruangan itu tampak bungkam dan tak mau membahas persoalan tersebut, mereka pun pulang ke asrama mereka.

Malam yang sunyi membuat mereka konsen dengan buku pelajaran mereka masing-masing, tampak seperti tidak ada lagi persoalan didepan mereka.

”Menurut gue cukup  disini aja deh, kita nggak usah lagi mencari tau tentang persoalan-persoalan tentang kematian Shaina, toh Shaina juga sudah tenang di alam sana, dan jika kita terus mencari tau tentang itu mungkin bisa membuat dampak pada keluarganya atau pun keluarga kita yang ada di asrama ini, itu bisa membuat mereka terus mengingat Shaina, jujur gue juga sekarang mulai mengingat kembali masa-masa itu, itu membuat gue sedih sha L !!”. ujar Jennie dengan meneteskan air mata.

“Ia, tapi ..”.Saut Eliysha

 “Stop sha, menurut gue juga lebih baik kita berhenti sampai disini, mungkin guru-guru bungkam karena mereka juga turut sedih karena anak yang berprestasi di sekolah ini meninggal dengan berita yang buruk mengelilinginya, kita tidak bisa mengorbankan perasaan orang lain demi masalah ini, toh ini juga sudah dibuktikan dengan jalur hukum, perasaan orang itu lebih berharga sha, apalagi yang sedang kita hadapi sekarang adalah perasaan dari orang banyak ! , mendingan sekarang kita focus ke ujian semester satu ini ! “. Jelas Vira.

 “Ya sudah kalau emang itu jalan yang terbaik, makasih opininya, mulai sekarang focus ke ujian semester satu !”. Elysha tersenyum. 

Usai sudah ujian semester satu dengan banyak antusias dari peserta-peserta  yang mengikuti, kini sekolah cipta bangsa yang dikelilingi asrama dan gedung-gedung lainnya sepi sunyi seperti layaknya kota mati, warga sekolah tersebut berlibur selama dua minggu.

Waktu-waktu terus berlalu, setelah musim semi tiba tepatnya pada sabtu pagi murid-murid pun masuk kembali ke asrama. Elysha adalah orang yang pertama yang membuka pintu kamar mereka, kamar yang gelap itu sangat bau dan kotor, kecoak mati dimana-mana, debu yang tebal dan sarang laba laba membuat kamar tersebut layaknya kamar yang sudah sangat lama tidak ditempati. Beberapa menit Elysha membersihkan kamar tersebut, tak lama kemudian datang Vira dan Jennie yang langsung membantu membereskan kamar mereka. Setelah mereka membersihkan, merapikan dan menyapu lantai , tak sengaja Elysha yang hendak mengepel lantai melihat bercak-bercak darah yang berbentuk sidik jari, tertunjuk sidik jari tersebut dari depan pintu menuju ke tengah ruangan kamar  lalu bersambung lagi kearah jendela, sidik jari tersebut sangat mengejutkan mereka, dan mereka pun langsung teringat kepada cerita Kevin tentang si tangan merah. Vira yang saat itu juga sangat terkejut mencoba untuk tetap bisa menenangkan Jennie yang hampir pingsan karena terpaku pada ketakutannya, Elysha pun segera membersihkan bercak-bercak darah tersebut dari lantai.

Keesokan Harinya, tidak ada lagi jejak-jejak darah itu, tetapi yang anehnya mereka kehilangan barang-barang milik mereka dimulai dari Elysha yang kehilangan buku biologi milik Kevin yang dipinjamnya dua hari yang lalu, Vira yang kehilangan satu sepatu olahraga miliknya dan Jennie yang kehilangan baju seragam sekolah miliknya, mereka bertiga mencari kesana kemari, dan pada waktu bersamaan mereka lelah untuk mencari barang-barang itu, Jennie yang menangis dan disusul Elysha yang juga menangis bingung apa yang harus Ia lakukan saat itu, hari itu ada pelajaran biologi dan ia sudah menghilangkan buku catatan milik Kevin, sungguh bingung dan merasa bersalah Elysha saat itu, Vira yang terlihat menahan tangis menendang cermin yang ada didepanya hingga pecah, Jennie dan Elysha terdiam ketika mendengar pecahan cermin yang ditendang oleh Vira, jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi mereka segera bersiap-siap dan pergi kesekolah, Vira dan Jennie tampak mengikhlaskan atas kehilangannya barang mereka karena mereka mempunyai dua barang yang sama dengan barang yang hilang tersebut tetapi tidak untuk Elysha, Elysha yang kehilangan barang milik Kevin sempat putus asa tak mau sekolah karena rasa bersalahnya dan matanya yang bengkak karena menangis, tetapi ia bepikir bahwa jika ia jujur, Kevin tak akan marah padanya, Elysha pun memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Kevin , dan Kevin yang mendengar berita itu mengerti dengan keadaan Elysha saat itu, Elysha yang terus teringat pada Kevin membawa dampak kepadanya, ketika Dimas lewat didepannya dan saat itu Elsysha ingin menceritakan kejadian itu tak sengaja memanggil Dimas dengn sebutan Kevin, dan Elysha pun tersadar ketika Kevin yang mendekatinya,

 “Ups .. maaf ya Vin, maksud gue mau bilang emm… mau bilang Dimas, maaf  ya salah panggil !”. Ujar Elysha yang menahan malu.

 Mendengar perkataan Elysha, Kevin hanya tersenyum dan pergi ke tempat duduknya, selang beberapa menit kemudian Elysha yang ingin meminjam penggaris miliknya yang dipakai oleh Rey tak sengaja lagi-lagi ia memanggil Kevin dan lagi-lagi Kevin yang datang kepadanya , untuk kedua kali ia menahan rasa malu pada Kevin, sungguh kejadian itu membuat perasaannya campur aduk. Jennie, Vira, dan Elysha yang tak terlalu terpikirkan lagi dengan masalah mereka hari ini tampak dikejutkn lagi dengan barang-barang mereka yang berserakan diluar pintu kamar yang terkunci. Makanan Elysha, novel milik Jennie, dan boneka Vira terletak bergeletakkan di depan pintu kamar, sungguh aneh yang dirasakan oleh mereka. tak terlalu dipikirkan oleh mereka, hari-hari terus berlalu satu persatu barang kembali dengan berbeda tempat dari tempat semula, termasuk buku Kevin yang ditemui di lemari hitam yang berisi setrika dan makanan-makanan yang terletak di sudut kamar mereka, rasa penasaran mereka semakin dalam.

Tak disangka malam ini adalah malam jum’at tepat seminggu terjadi masalah yang besar di kamar itu yang ternyata disebabkan oleh si tangan merah. Matahari tenggelam, suasana menjadi lebih sepi dari sebelumnya, angin malam terasa menusuk melalui tiga jendela kamar, bunyi desir air di kamar mandi, dan lampu koridor yang berkela kelip hendak mati seakan membuat suasana mencengkam dan perasaan yang tak enak takut terjadi apa-apa yang sama dirasakan oleh Vira, dan Elysha, telihat Jennie yang selalu ketakutan dan selalu menangis akhir-akhir ini tidur lelap dengan memeluk album fotonya bersama almarhuma Shaina, berapa jam kemudian, Vira dan Elysha yang sedang membaca buku mendengar desis dari suara Jennie yang mengigau memanggil nama Shaina lalu terlelap kembali, berapa selang kemudian Jennie yang terlelap tiba-tiba teriak

 “aku akan datang”.

 Tiba tiba beberapa detik kemudian .. BLUPP .. Aaaaaw .. Aaaaaw .. teriakan siswa-siswa di asrama yang terkejut ketika tiba-tiba mati lampu, Vira ,dan Elysha segera keluar, lalu guru menasehati murid agar tidak teriak, disaat itu Vira dan Elysha terkejut bahwa tidak adanya Jennie, teriakan murid-murid sangat mengganggu untuk tidur tidak sering orang-orang di asrama itu bisa tidur dengan adanya teriakan-teriakan siswa tapi saat itu anehnya tidak ada sama sekali suara dari mulut Jennie, ya Jennie masih di kamar.

 Saat Vira, dan Elysha menyadari bahwa kamar mereka berbau darah amis dan nanah yang sangat menyengat menjadi penghalang mereka untuk ke dalam kamar, tetapi mereka terus meraba-raba ke tempat tidur Jennie, sudah berulangkali mereka membangunkan Jennie tapi tidak ada respon dari Jennie yang ada hanyalah bunyi nafas dari hidung mancung itu. Vira, dan Elysha berpikir mungkin Jennie memang betul-betul terlelap. Murid-murid pun masuk kembali ke kamar mereka masing-masing tanpa adanya sinar dari lampu, Vira, dan Elysha memaksa diri mereka untuk tidur di tempat yang berbau darah amis, gelap dengan tiga jendela yang sengaja dibuka dan angin malam yang merasuk tulang tak bisa mematahkan rasa kantuk yang dirasakan mereka.

 Keesokan harinya, tampak banyak bercucuran darah di lantai dan barang-barang mereka yang berantakan, dan anehnya darah tersebut mengarah ke tempat tidurnya Jennie, sontak dengan sangat terkejutnya Elysha melihat darah yang memenuhi tempat tidurnya Jennie tapi tidak sama sekali terlihat batang hidung dari Jennie, Elysha berteriak dan lansung mencari keberadaannya Jennie, saat Elysha membuka pintu jejak darah-darah itu masih tersambung menuju arah toilet yang sepi dan berbau amis yang tercium dari depan pintu toilet. Tak kuat Elysha melihatnya hingga terjatuh di depan mayat seorang gadis yang telah dimutilasi, usus yang berantakan, bola mata yang sudah berada di samping kaki dan urat leher yang teputus bergeletakkan di lantai. Gadis itu ialah Vira, anak kepala SMA itu, dan lagi-lagi teman satu kamarnya. Pihak sekolah pun menyelidikinya, namun apadaya usaha mereka pun sia-sia pada hari itu .

*

Malam kelam ditanggal 13 maret 2003 seorang  pemuda mendatangi seorang ibu dengan memberikan kertas kecil yang berisi coretan nilai mata uang rupiah di ruangan dengan situasi yang sepi dilihat oleh seorang bapak yang berprofesi sebagai satpam di sekolah itu, bapak itu mencoba untuk mencegah adanya penyuapan itu namun alhasil satpam itu dimutilasi di toilet tepat dimana Shaina dan Vira tewas mengenaskan .

*

Braaaak .. bunyi pintu sangat kuat seolah menjadi alarm yang berteriak di samping telinga Elysha, Elysha terkejut dan lansung berjalan menuju tempat sumber bunyi yang telah membangunkannya dari mimpi yang penuh rahasia, Elysha turun dari tempat tidur dan melihat pintu kamar yang terbuka, dilihatnya Jennie berdiri dan masuk ke ruangan kepala sekolah, Elysha pun berjalan menitik ke tiang di samping ruangan tersebut untuk mendengar pembicaraan mereka.

“Apa yang kamu lakukan disini Jennie”. Tanya ibu kepala sekolah dengan mata yang bengkak karena kepergian anaknya.

“Pastinya kau ingat dengan tanggal 13 maret 2003 , kisah itu akan terulang kembali dengan lakon yang berbeda yaitu KAU !”.

***