My Articles

Hanya karena orang lain berbuat tidak baik kepada kita, bukan berarti kita harus membalasnya dengan cara yang sama.

 

 

 
HOME


My Profile


My Activities


Gallery


My Articles


Future Dream

Hot News

 

Friend me at :

 

 

CINTA TANPA SEBAB AKIBAT

By: Anis Rifai

          Aku terhenyak mati tak berdaya ketika sebuah video playar bermain lincah dilaptopnya.
       Ini bukan kali pertamanya aku menemukan sebuah file janggal dimemori laptopnyanya.
       “apa maksud dari photo ini?” aku sbertanya penuh dengan kekecewaan.
       “kok kamu selalu mempersoalkan hal kecil seperti ini sih?” jawabnya cemas.
       “Hal kecil! Masalah besar seperti ini kau bilang hal kecil, kamu nggak ngerti perasaan aku
       banget sih!”.

          Dengan mata berhiaskan air mata akupun lamgsung meninggalkan Egi. Gemericik air
       mengiringi langkah kecilku yang tak tahu arah tujuan kemana kan melangkah. Retina
       mataku menerawang jauh mencari celah. Pikiranku kosong. Aku bagai kertas yang
       melayang bebas diterpa angin.

       Tin…tin…tinnnnnnnnnnnnnnnnnn…..

          Nafasku berhenti berhembus, jantungkan berhenti berdetak. Sebuah Jaguar putih
       berhenti tepat dihadapanku yang hanya berjarak sekitar 3 cm saja. Ya, aku hampir mati
       siang hari ini. Tiba-tiba kelopak mataku berhenti berkedip saat sesosok species yang
       ganteng keluar dari dalam mobilnya.
       “ehm, sorry banget ya. Tadi aku menyetir mobil sambil menelpon. Jadi, aku nggak melihat
       kamu ada diseberang jalan. Sorry banget ya”. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya
       berirama merdu.
       “nggak kok. Kamu nggak salah. Aku yang salah, menyebrang tanpa melihat kanan kiri
       terlebih dahulu. Maaf ya”.
       “ya udah, kenalin nama aku Gio. Nama kamu siapa?” lesung pipitnya menyihir setiap
       orang yang melihatnya.
       “nama aku Alice”.

          Suasana berubah menjadi hangat, harmoni irama lagu pandangan pertama membuat
       sempurna pertemuan tanpa sebab akibat ini.

       Kring…kring…kring…

          Nada dering teleponku memecahkan semua lamunan indah bersama Gio. Ternyata oitu
       telepon dari Egi. Dia telah menungguku ditempat kami biasa bertemu. Sebenarnya aku
       malas untuk meliahat tampang Egi lagi. Tapi untuk memperjelas keadaan, akupun
       menerima permintaan Egi tersebut.
       “ehm. Sorry ya Gio. Aku harus pergi sekarang”.
       “ok deh. Nice to meet you”.
       “nice to meet you too”.

          Dengan berat aku melangkah untuk menemui Egi. Aku tahu pasti mengapa hatiku begitu
       sakit saat aku melihat Egi sedang duduk berdua bersama seorang cewek yang tak asing
       lagi abagiku. Ternyata dugaanku benar. Egi sedang duduk manis bersama Elsa mantanya.
       Huhhhh. Ternyata ada udang dibalik batu. Dikhianati oleh pacar plus sahabat sendiri
       ternyata lebih sakit dari tertusuk jarum emas. Mereka terlihat begitu akrab. Bercanda
       tertawa ria. Sementara aku, aku hanya bisa terdiam memendam amarah.

          Tanpa basa-basi aku langsung melabrak mereka berdua.
       “oh! Jadi ini maksud kamu meminta aku untuk datang kesini. Untuk melihat kebusukan
       kalian bedua. Atau untuk memamerkan kalau kalian sekarang sudah menjadi pasangan
       sejati”. Celotehku terbawa amarah.
       “eh. Jangan salah paham gitu donk. Kami nggak ada hubungan apa-apa kok. Aku
       mengajak Elsa kesini untuk membantu menjelaskan bahwa aku benar-benar sayang sama
       kau”.

          Egi berusaha membela diri. Di satu sisi Elsa hanya terpaku bisu melihat percekcokan
       diantara kami berdua.
       “udah deh. Kalian nggak usah nutup-nutupi hal ini dari aku. Sudah cukup sakit yang aku
      

 

 

        rasakan atas kejadian ini. Selamat ya. Mulai sekarang kita udah nggak ada hubungan
        apa-apa dan semoga kalian berdua menjadi pasangan yang bahagia selamanya”.

           Tanpa menunggu lama dan panjang lebar penjelasan Egi ataupun Elsa aku segera
       menyahkan tampangku dari mereka berdua. Mungkin ini yang namanya sudah jatuh
       tertimpa tangga pula
. Hidup memang penuh dengan lika-liku cobaan. Hemb, aku tak
       ingin termakan tipu muslihat perliknya kata cinta.

          Menikmati segarnya udara diperbukitan memang sangat menyenangkan. Apalagi
       ditemani dengan secangkir teh hangat dan biskuit. Jemari tanganku menari lincah diatas
       keyboard axio  kesayanganku. Menemani hari-hariku membuat skripsi yang yang sudah
       kejar tayang. Huhh, tragisnya.

          Orang yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. lesung pipitnya terlihat jelas dikejauhan.
       “hy Gi! Apa kabar?”.
       “baik, kamu sendiri gimana?”.
       “sama, aku juga baik”.

          Ya, inilah kehidupanku yang baru, bersama Gio dan sahabat kecilku Chipo. Kami pun
       pergi mengintari perbukitan. This is my life.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
     
   

Copyright©Andin_Forly.2013

 
Keroppi - Sanrio