extra-img

Articles

  • Tempayan Retak

    Dahulu ada seorang ibu renta yang rutin memikul air dari sungai dengan dua tempayannya menggunakan sebatang bambu. Salah satu tempayan itu retak sehingga air yang diangkutnya selalu satu setengah tempayan. Tempayan yang utuh merasa bangga akan pencapaiannya. Dua tahun hal ini terus terjadi, tempayan retak menganggap selama dua tahun ini adalah kegagalan baginya.

    Tempayan retak merasa malu karena dia hanya bisa mengangkut separuh air. Hingga suatu hari tempayan retak bertanya pada si ibu, “Aku sangat sedih melihat nasibku, aku hanya bisa mengangkut air setengah dari ukuran tubuhku, hal ini karena retak di tubuhku. Kau hanya akan merasa capek jika membiarkanku membawa air.”

    Sang ibu pun menjawab sambil tersenyum, “Jangan pernah merasa rendah diri. Tidakkah kau lihat bunga-bunga indah di sepanjang jalurmu? Kau tahu, aku sudah menyadari kekuranganmu sejak lama. Untuk itu aku menaburkan benih-benih bunga pada jalurmu. Dengan keretakan di tubuhmu itu, kau bisa menyiram benih-benih bunga itu setiap hari ketika kita lewat. Sekarang bunga-bunga itu tumbuh subur, aku bisa memetiknya untuk menghias meja sehingga rumah kita tampak asri. Itu semua karena air yang merembes dari retakmu.”

    Tempayan retak tersenyum. Semua orang mempunyai kekurangan, namun karena kekurangan inilah hidup kita menjadi menyenangkan dan memuaskan. Untuk itu jalanilah hidup dengan semangat dan selalu rajin bersyukur akan apa yang sudah kita capai.