By : Andrew Alexander
Arsenal 4 - 4 Spurs. Apa yang didapat dari pertandingan tersebut ? Bahwa kita tidak memiliki konsistensi dan musim ini kita tidak mungkin menjuarai EPL. Mengapa bisa begitu ? Simpel. Jangan pikirkan hal - hal yang rumit dan kompleks, seperti misalnya skuad masih terlalu muda, keberuntungan, dan lain sebagainya. Jawabannya menurut saya hanya satu : kekurangan skill dan kemampuan. Simpel dan memang itu yang menjadi jawaban atas kekalahan kita selama ini. Lama kelamaan the big four tidak akan ada dan akan diganti dengan the big three jika Arsenal terus menerus tertinggal oleh MU yang ditukangi Malcolm Glazer, Liverpool yang ditukangi oleh George Gillet dan Tom Hicks, dan Chelsea oleh Abramovichnya.
Kita sudah menang 4 - 2 hingga menit 89. Jika anda sebuah tim yang pantas untuk menjuarai EPL. Bermain di kandang dengan keunggulan 2 gol hingga menit 89 haruslah menghasilkan 3 poin pada saat peluit akhir dibunyikan, apalagi jika anda sebagai manajer dan pemain telah mengetahui hasil bahwa di tempat lain Chelsea sudah unggul 3 - 0, MU sudah unggul 2 - 0, dan Liverpool sudah unggul 1 - 0. Namun apa yang terjadi dengan skuad Arsenal kesayangan kita ? Pulang dengan 1 poin. Apa susahnya ketika sudah memasuki menit 89 dan anda sudah unggul 2 - 0, Adebayor pada satu kesempatan berlari ke tiang corner dan berlama - lama di sana ? Seperti yang biasa dilakukan oleh Henry dan Pires bertahun - tahun ? Yang terjadi malahan Arsenal berusaha untuk mencetak gol kelima. Seakan - akan mereka tidak merasa ada bahaya di sana. Bahkan setelah gol Jenas tercipta pun masih tidak ada alarm berbahaya berbunyi dari diri masing - masing pemain Arsenal ! Jika kamu sudah tersusul menjadi 4 - 3. Apa salahnya sih kamu memperlambat tempo dan bermain lebih menghabiskan waktu ?
Apa kesalahan dalam diri Arsenal musim ini ? Saya melihat sebuah tim yang tidak stabil baik mental maupun formasinya, tidak mempunyai pemimpin, bek tengah, kiper kita bukanlah pemain sekelas Seaman, Adams, dan Keown. Dan kita juga tidak memiliki pemain gelandang bertahan. Hleb, Flamini, dan Cesc merupakan spinal Arsenal musim lalu. Jika kamu kehilangan Hleb dan Flamini, maka Arsenal seperti kekurangan kekuatannya 70%. Clearly Arsenal yang sekarang merupakan skuad Arsenal yang terlemah yang pernah saya lihat sepanjang era Wenger. Dahulu sewaktu kita masih di Highbury, kita memiliki stadium yang tidak worldclass, namun skuad yang worldclass. Sepanjang musim selama di Highbury selalu ada saja pemain bintang yang berregenerasi. Namun, semenjak pembangunan Emirates, kita jadi sangat jarang untuk membeli pemain berkualitas dan kesulitan untuk mempertahankan pemain bintang kita. Dahulu sewaktu kita masih di Highbury, Arsenal dihuni oleh pemain kelas dunia semacam Tony Adams, Seaman, Keown, Vieira, Henry, Bergkamp, Pires, Cole, Dixon, Winterburn, Merson, Wright, Overmars, Petit. Namun, lihat skuad Arsenal sekarang ! Siapa yang bisa diaktegorikan pemain world class ? Hanya Cesc ! Dan itupun ia masih berumur 21 tahun ! Ia baru bisa masuk casino tahun ini !
Arsenal yang sekarang selain kurang skill dan kemampuan, juga sangat kurang akan maturity-nya. Seperti yang sudah saya bahas pada pertandingan melawan Spurs kemarin. Mereka tidak berlama - lama dan menghabiskan waktu di corner seperti biasanya yang dilakukan oleh pemain profesional semacam Henry dan Pires. Mereka pun tidak konsisten. Terkadang bisa menang 4 - 0 atas Porto, namun besoknya bisa kalah 0 - 1 dari Fulham. Inkonsistensi itu lah yang akan menjadi hambatan Arsenal untuk menjuarai EPL musim ini. Intinya, saya melihat skuad Arsenal semakin tahun semakin mengalami penurunan, Mayoritas kekuatan Arsenal pada musim - musim sukses sebelum ini bertumpu pada Vieira, Bergkamp, dan Henry. Jika Wenger bisa menemukan pengganti ketiga pemain tersebut maka baru kemungkinan Arsenal bisa merajai EPL kembali. Intinya simpel seperti yang sudah saya bilang. Arsenal kekurangan kualitas dibanding tahun - tahun sebelumnya ketika meraih double dll. That's it.
Jika Arsenal terus menerus seperti ini. Kita tidak akan menjuarai EPL kembali, dan The big Four lama kelamaan bisa menjadi The big Three.
31 Oktober 2008