Mimpi Hitam
Oleh : Ahmad Hidayatullah
Bau basah tanah mengambang seraya derai air hujan di pekarangan. Udara kehidupan terus bersikulasi di ulu hati. Aku baringkan badan ku setelah sebuah peristiwa hitam tergores dalam cerita hidup ini. Kehambaran yang ku rasa mungkin tak akan ada penawarnya. Aku Probo anak tunggal dari pasangan golongan berdarah biru. Aku melanjutkan pendidikan ku disebuah fakultas bisnis ternama di kota Semarang, setelah diriku dinyatakan sebagai siswa lulusan terbaik di SMA.
Tak menyalakan hidupku dan kedua orang tua ku amatlah terjamin. Ayahku seorang pengusaha muda yang hampir bergerak diseluruh bidang. Dari mulai perniagaan yang usahanya telah dikenal banyak negara karena produk dari usaha telah banyak di ekspor. Belum lagi dia juga adalah pemegang sekaligus pemilik mall terbesar di Ibukota. Aku juga memiliki seorang ibu yang menurut orang telah mewariskan kecantikannya untuk kegantengan diriku. Dia adalah seorang perempuan yang berhasil menaklukan ayahku. Sebelum menikah beliau adalah seorang pedagang roti keliling dan setelah beliau menikah dengan ayah, kehidupannya berbalik seratus delapan puluh derajat.
Rumah yang berdiri megah hak milik selalu kosong hampa karena hanya aku dan pembantuku yang menempatinya. Itu pun kalau aku tidak pulang malam bahkan terkadang aku tidak pulang, tugas kuliah adalah penyebabnya. Akhirnya rumah ku hanya ditunggu oleh pembantuku. Profesinya seorang pegusaha membuat ayah juga jarang kembali dari perkelanaannya, bahkan aku seorang anaknya pun tidak tahu posisi ayahku sekarang. Ibu ku yang juga seorang pengusaha tidak terlalu menghiraukan ku, alsannya karena aku sudah besar. Kejadian ini terus berlangsung dan berlalu tanpa kapan tahu kapan mereka bisa bergabung dengan aku lagi. Tapi aku tidak menjadikannya sebuah masalah kecil yang hanya disebabkan oleh waktu. Mereka yang tinggal untuk menjaga rumah seperti bi Tarmi, pak Johan dan adiknya bang Johan. Ketika kedua orang tuaku pergi pak Sulaiman hanya kadang-kadang dia di rumahku, biasanya karena rumahnya dekat jadi dia pulang setelah meneylesaikan pekerjaanya.
Sinar pagi matahari telah menyentuh permukaan bumi. Saatnya menjalankan mobil pribadi ku ke kampus.
“Hai Probo “, sapa Gandie yang telah berdiri menanti kedatanganku.
“Hai Gan, udah selesai tugas akuntansi”, jawab ku.
“Masih dalam proses, tapi tenang sebentar lagi pasti semuanya kelar”, terangnya kepada ku.
Kali ini kedatanganku ke kampus bukan untuk mengikuti pelajaran melainkan untuk mencari refrensi tugas tersebut. Segera ku langkahkan kaki ku menuju library yang berada di ujung koridor utama kampus dan Gandie pun mengiringi ku.
“Setelah ini mau kemana Prob”, tanya gandie.
“Rencananya mau langsung pulang aja buat nyelesain tugas ini”, jawab ku.
“Wih, kalau gitu boleh kan ikut main kerumah mu?”, tanyanya kembali.
“Ehm . . . bolehlah. Aku juga capek merasa kesepian terus dirumah” jawab ku.
Setelah apa yang kucari telah ku dapatkan segera ku tancap gas mobil ku menuju kembali kerumah. Sesampainya di rumah sebuah hal yang tidak dapat di percaya ayah ku telah pulang sejenak melepas penat di ruang keluarga. Ada kegembiraan tersendiri bagi ku yang memang telah menunggu kedatangannya. Namun setelah sedikit berbincang dengan ayah, kenapa ayah lebih tertarik berbicara dengan Gandie dibanding diriku. Ini memang pertemuan pertama bagi mereka.
Tak lama kemudian aku merasa tak di hiraukan. Sehingga kuputuskan untuk melanjutkan tugas ku.
“Hey Probo! Mau kemana?”, teriak ayah ku.
“Ngerjain tugas ku yah”, balas ku.
“Oh, ya udah kerjain gi”, teriak ayah ku kembali.
“Lo, kenapa aku di cuekin ya?”, omel ku dalam hati.
Langkah kecil ku kutujuh arah ujung ruangan yang merupakan ruang belajar ku yang berada di samping ruang keluarga. Ku toleh Gandie dan ayah terlibat cerita menarik. Bahkan Gandie sekarang telah lupa kalau ada aku adalah temannya.
“Bi Tarmi tolong buatkan aku jus mangga ya”, pinta ku kepada bi Tarmi.
“Sip mas Probo, tunggu bentar ya”, jawab bi tarmi.
Terdengar bunyi geduran pintu ruang belajar ku.
“Treeet (bunyi pintu dibuka) ini mas jus mangganya buruan di minum ya”.
“Okay, bi makasih ya”.
“ Mas ada sesuatu yang bibi mau omongin”.
“Tentang apa bi”, jawab ku.
“Sebenarnya . . . ibunya si mas sering pulang kerumah lo”.
“Ha! yang bener”.
“Beneran mas, ibu sering pulang tanpa pengetahuan mas”. Ujar bibi meyakinkan ku.
Sebenarnya diriku agak tidak percaya dengan hal ini. Tetapi tidak mungkin bibi berbohong kepadaku. Aku membutuhkan sebuah alasan kenapa ibu selalu pulang tanpa sepengatahuanku. Kata bi Tarmi ini telah terjadi lebih dari lima kali.
***
Setiba di kampus aku segera mencari teman baik ku Gandie. Karena akhir-akhir ini aku jarang menemuinya. Namun setelah ku berkeliling kampus mencarinya. Hanya lelah yang kudapat hasilnya nihil. Akhirnya segera ku putuskan untuk pergi menuju ruang kelas karena saya memiliki pertemuan.
Ucapan salam sebagai tanda berakhirnya kelas telah di ucapkan oleh dosenku. Aku beranjak pergi meninggalkan ruang untuk melanjutkan pencarianku terhadap Gandie.
“Gandie . . . !”, teriak ku .
Mungkin Gandie tidak mendengarku karena dia hanya berlalu pergi meniggalkan dengan terburu-buru. Karena rasa penasaran, ku kejar Gandie. Kulihat Gandie langsung masuk ke sebuah mobil sedan mewah. Tanpa berpikir panjang ku susul mobil tersebut dengan mobilku. Mobil tersebut sepertinya tidak mengetahu bahwa mobil mereka telah di ikuti oleh ku. Mobil tersebut mengarah ke sebuah villa dan yang membuatku lebih terkejut vila tersebut adalah villa milik keluarga ku. Sejenak kuhela nafasku, mobil tersebut membawa ayahku dan temanku Gandie. Kecurigaan diperparah oleh ayahku dan Gandie yang berjalan pelan menuju villa dengan saling merangkul bahu, sebuah hal yang lumrah. Sepuluh menit berlalu aku tak sabar menuggu ku terobos villa penginapan untuk mengetahui ap yang mereka lakukan.
Sebuah hal yang mengejutkan ayahku dan Gandie saling memadu cinta di ruang tamu.
“Probo!”, teriak mereka.
Gandie segera membenarkan bajunya dan berlari kabur meniggalkan kami. Ayahku berusaha menerangkan apa yang terjadi. Aku tidak bisa menerima hal tersebut kuberlari menuju dapur ayahku mencoba untuk mengikuti ku. Gelap mata aku mengambil sebuah pisau mengkilap yang terletak di ujung dapur. Tidak terhelakan lagi hal tersebut, pisau tersebut ku tancapkan kebagian tubuh ayah ku. Tidak hanya sekali kutancapkan pisau tersebut hingga mengakibatkan luka pendarahan yang hebat.
Aku kembali kerumah dalam keadaan gemetar ketakutan. Hal mengejutkan kembali ku terjadi kepadaku setelah sampai di rumah. Kulihat mobil ibuku terparkir didepan pintu garasi. Aku mecoba menghampiri ibuku untuk menceritakan apa yang terjadi. Namun semua tidak seperti yang kupikirkan terlihat dari jendala kamar bang johan yang berada disamping garasi sesosok ibuku berada didalamnya. Ku dobrak pintu kamar tersebut dan ternyata ibuku sedang berselingkuh dengan bang johan. Pisau yang tidak sengaja terbawa dari villa tadi ku lemparkan kebadan bang johan. Ibuku menjerit ketakutan, ku cabut pisau tersebut dan ku tancapkan kembali ke tubuh ibuku. Apa yang tidak kuharapkan telah terjadi yang paling tidakaku pernah percaya aku membunuh kedua orang tua kandungku. Aku tancapkan gas mobil ku menuju sebuah desa kecil di pedalaman Kota Semarang. Ku temui sebuah pondok kecil di pinggir sebuah hutan lalu kubaringkan badan ku melepas penat. Hal yang tidak pernah aku percayai terus menghantui diriku membuat tubuh ku semakin lemas, sesak dan tak berdaya. Tidak terasa tubuhku terbawa melayang terbang bersama sepoyan angin.