Oleh : Ahmad Hidayatullah
Ini adalah cerita pendek pertama yang ku buat. Langsung saja semoga pembaca sekalian dapat kesan dan pesan yang terkandung dalam cerita ini dan inilah ceritanya.
Tujuh hari menjelang hari kelahiran Wildan, merupakan kabar bahagia bagi ayahnya. Hal ini setidaknya dapat mengobati sejenak luka dari pemutusan hubungan kerja. Pikirannya seperti bumi yang keluar dari rotasinya lalu menabrak planet lain di luar angkasa sana. Namun kelahiran akan anak keduanya ini membuat keriwetan pikirannya yang mungkin sudah menjulang kedalam samudera seakan terbawa kembali kepermukaan laut dibawa oleh deruh cerianya ombak.
Ibu Wildan pada saat menjelang hari kelahiran Wildan merasakan sakit yang bukan bukan kepalang pada kandungannya. Kesakitan itu disebabkan sedikit senggolan tangan dan kaki ‘malaikat kecil’ yang siap menantang seluruh tantangan yang duniawi. Sehari sebelum hari kelahiran individu baru dari jenis makhluk homo sapiens. Sakit tak terperih pada kandungannya yang telah dimulai sejak hari sebelumnya seakan ditambah perparah dengan berat massa yang tergantung menempel diperutnya ini. Tetapi semua rasa sakit itu cukup bisa diredam oleh candatawa dari suaminya.
Langit menghantarkan cahaya senja tua yang membuat setiap benda yang membelakanginya membentuk sebuah bayangan indah. Ibu Wildan yang ditemani oleh suaminya mensegerakan pergi ke tempat persalinan terdekat dengan menggunakan becak yang bannya seakan selalu haus untuk ditampal. Belum lagi besi baja yang memberi bentuk terhadap becak itu teregesi oleh karat.
Dengan santainya ayah Wildan mengayuh pedal becak yang telah patah ruas kanan kirinya. Istrinya tergolek lemas dibangku becak. Wajahnya hanya dipercantik oleh sedikit senyum manis yang darinya. Ia ditemani oleh anak perempuan pertamanya yang terlihat polosnya terlihat terus menerus mengoceh tanpa berhenti.
“Ba, maseh jauh dak bidannyo?” Gumam Mila.
“Idaklah bentar lagi pasti nyampe.” Jawab ayahnya.
Mila sangat tidak sabar menantikan akan kelahiran adik perrtmanya. Dia melampiaskan ketidak sabarannya dengan selalu bertanya kepada ayah dan ibunya sepanjang jalan. Mila umurnya sekarang baru menginjak umur lima tahun kembali bertanya dengan lugunya.
“Yah, kiro-kiro ado roda lambung dak di bidan tu?” Polos Mila bertanya pada ayahnya.
“Lah itu tuh bukannyo pasar malam Mila.”
“Kalau wong jual boneka ado dak?”
“Austagfirullah budak ini pinternyo ngomong.” Jawab ayah Mila mengakhiri pertanyaan polos Mila.
Rasa perih yang dirasakan oleh ibunya sedikit terobati oleh celotehan Mila yang tak henti dari anaknya yang alhasil membentuk rona senyum manis yang menghiasi wajahnya.
“Mila pengen punyo adek cowok atau cewek?”
“ Ehm kiro-kiro kalu cewek cantik cak aku dak eh?” Jawab Mila.
“Lah Mila emangnyo cantik?” Tanya balik seorang ibu yang berhati mulia.
“Yo, cantiklah aku kan anak emak.”
“Ehm men cowok nakal dak eh.” Gumam Mila dalam hati.
Sampai akhirnya becak ayah wildan telah berhadapan dengan gerbang hitam aramg yang sedikit termakan oleh karat.
“Yeah, yeah nyampe. Kapan adek lahirnyo bu?” Spontan Mila bertanya.
“Yo sabarlah dululah Mila, kito tunggu belah sambil berdoa.” Sahut ayahnya.
Pagi telah tiba matahari telah memancarkan sinar kilaunya kealam raya dengan sedikit diselimuti oleh kabut asap. Waktu pun tiba, ibu Wildan merasakan puncak dimana dia akan segera melahirkan. Bidan dan asistennya mengupayahkan memberikan pertolongan dan usaha terbaik.
Bayi mungil dengan massa tigas kilogram dan panjang tiga puluh sentimeter telah tercatat kelahirannya didunia. Balita itu pun segera dibalut denagn lembutny handuk berwarna putih. Ayahnya menucapkan syukur akan hal ini tanpa hentinya. Wildan itulah nama yang sekejap terpikir untuk anak lelaki pertamanya itu.
Ayah wildan telah merasakan rasa kebahagian yang seutuhnya. Tapi disamping itu ia harus merasakan hal yang sulit untuk diterimanya. Istrinya jatuh sakit setelah melahirkan Wildan. Istrinya mengalami gangguan yang menyebabkan syarafnya tidak bekerja seperti seharusnya. Akibatnya ia selalu melamun dan tdak dapat berinteraksi.
Enam tahun berlalu Wildan yang kini telah cukup mengerti selalu bertanya pada ayahnya. Apa yang telah terjadi, mengapa ibunya tidak pernah berbicara dengannya. Tapi walaupun begitu ia tetap selalu menyayangi ibunya dengan sepenuh hati.
Ibunya mangalami puncak kelemahan pada tubuhnya. Ketika saat itu Wildan untuk berkomunikasi dengan ibunya untuk meyakinkan diri bahwa ibunya peduli terhadapnya. Hingga ketika Wildan memegang halus ibunya dan yang terasa hanya rasa dingin pada kulitnya. Terlihat kelopak mataibunya telah tertutup.
Malaikat telah menjemput ibunya yang sedang duduk manis dikursi teras rumahnya. Wildan segera mamanggil ayahnya yang sedangmemperbaiki becak kesayangannya dibelakang.
“Yah ngapo ibu tunah teraso dingin tanganyo?” Tanya Wildan.
“Masya’allah.”
Ayahnya segera berlari kedepan untuk segera mengetahui apa yang telah terjadi. Ini merupakan pukulan yang terberat satu algi yang harus dihadapinya. Ia harus menerima kenyataan bahwa pasangan hidupnya telah pergi meninggalkannya.
Wildan bocah belia tak luput menangisi atas kepergian ibunya. Dipundak Mila ia menangis kecewa atas kepergian ibunya yang belum sama sekali mendengar kata pujian, nasehat, larangan, dan kata-kata manis lain dari ibunya. Ia menangis didepan jenazah yang kaku yang telah terbukus oleh kain kafan yang siap untuk di makamkan.
Pemakaman ibu Wildan telah dilaksanakan. Hari yang terang tiba-tiba menjadi gelap mendung yang mendukung suasana hati Wildan dan tak lama kemudian disusul oleh hujan deras. Wildan terus menangis dinisan ibunya. Mila telah mencoba untuk mengajaknya pulang tetapi ia masih ingin disana dan ingin mendengar suatu ucapan dari ibunya. Akhirnya ketidakkemampuan Wildan menunutun Wildan untuk pulang. Wildan sangat merasakan kelelahannya.
Sesampainya dirumah Wildan mengalami sakit demam akiabt terkena hujan dipemakaman ibunya. Esok harinya Wildan pergi kepemakaman ibunya tanpa sepengatahuan ayah dan kakaknya. Lagi-lagi ia melampiaskan kesedihannya dengan menangis. Kakaknya yang berada dirumah merasa kebingungan akan keberadaan Wildan. Sesegera mungkin ia pergi kepemakaman sebagai tempat tebakannya dan memang benar Wildan berada dipemakaman.
Wildan yang sangat merindukan ibunya dan ingin bertemu dengannya. Esok harinya ia pergi lagi kepemakaman ibunya dan lagi, ia menangis dipemakaman ketika ia merasa benar-benar lelah akibat demamnya yang semakin tinggi dan akhirnya Wildan tergolek lemas diatas tumpukan tanah. Dalam lelahnya ia melihat ibuna dilangit yang menujulurkan tangannya mengajak Wildan. Wildan pun menggapai tangan ibunya dengan rasa penuh kerinduannya. Rohaninya telah melepas diri dari jasmaninya.

