GIRLS DO PLAY DRUMS
By ika [email protected]
Amy RaNae Wilson
Sumpah keren banget! Pinggirannya yang berwarna perak terpantul cahaya langit
sore kelihatan kayak sinar matahari dari surga. Tulisan “Pearl” di atas
permukaan kick drum berwarna merah cherry-nya keliatan kayak tulisan dari tangan
Tuhan. Ini drum set paling keren yang pernah aku lihat dan aku langsung jatuh
cinta. Tiba-tiba sebuah suara berat dari belakang mengganggu lamunan asikku.
“Anak perempuan nggak main drum!”
Aku berbalik dan seorang lelaki
botak pelayan toko musik lagi ngeliatin aku dengan angkuhnya. Otak 14 tahun-ku
nggak bisa mengerti maksud omongannya itu. Aku cewek dan aku main drum. Bapak
ini pasti salah ngomong. “Aku main drum,” kataku mengkoreksi perkataannya
dengan polos.
“Terserah,” jawabnya dengan
nada menolak, sebelum berjalan menuju ujung lain dari tokonya dan membantu
seorang cowok yang sedang mencoba sebuah amplifier gitar. Dan meninggalkan aku
yang bengong bercampur malu.
Bermula dari kejadian sepuluh tahun
lalu itu, dan kunjungan berkali-kali ke toko-toko musik selama itu, membuat aku
sudah berpengalaman merasakan berbagai penolakan gender dari bentuk yang halus
sampai kasar dari para penjaga toko musik itu. Saat para musisi cewek
profesional berjuang mendapatkan penghargaan dari industri musik yang seksis,
aku menemukan diriku, sebagai seorang amatir, berjuang untuk dihargai di
toko-toko musik daerahku. Aku sudah pernah ditarik-tarik untuk menjauh dari
bagian alat-alat musik kencang dan macho (drum dan gitar), jawaban-jawaban
pertanyaan (dari para penjaga toko) yang melecehkan, ditipu mengenai kemampuan
sebuah alat musik, dinilai berdasarkan penampilanku, dan (paling sering)
langsung diacuhkan begitu saja.
Setelah susah payah jungkir balik
mencari gitar akustik selama beberapa bulan, akhirnya aku membeli gitar
listrikku yang pertama tahun lalu. Aku mendapatkannya di sebuah toko musik bekas
kecil milik seorang bapak, anak lelaki dan cucu lelakinya di Backwoods, Kanada.
Aku malah menemukan tiga generasi seksis dalam satu toko (!!). Si bapak
memanggilku dengan "manis”, ”sayang”, dan panggilan sejenis sambil
dengan enggan menunjukkan gitar-gitar di dalam tokonya tersebut. Sementara si
anak lelaki menanyakan apakah tanganku cukup kuat untuk menggenggam sebuah papan
kayu (?!). Dan si cucu hanya tersenyum menyeringai mengejek sambil memainkan
sebuah gitar di pojokan toko. Waktu akhirnya aku berhasil meyakinkan mereka
untuk menyetel sebuah Telecaster tua yang aku suka, tiga orang lelaki itu
langsung merubungi aku dengan tampang geli, berharap banget si imut ini nggak
sanggup melawan setan besar berlistrik ini. Saat aku tekan beberapa kabel power
dan mulai memainkan beberapa solo, alis mereka langsung naik karena kaget. Yup,
aku sebenarnya bahkan bisa menggenggam sebuah kampak. Puas karena bisa
mendapatkan penghargaan dari mereka, aku langsung menuliskan selembar cek. Tapi
saat aku dengan bangganya menenteng Telecaster itu menuju pintu tiba-tiba si
cucu berteriak dari pojokkannya, “Jangan lupa buat ngasi liat celana dalam
kamu saat main ya. Lihat aja Courtney Love!”
Sayangnya pengalamanku di kota yang
lebih besar juga nggak lebih baik. Di New York, penjual alat musik nggak pernah
bener-bener ngomong sama cewek, bahkan sama sekali nggak ngomong malah. Aku
mengalami banyak kefrustrasian saat masuk ke toko-toko musik keren di Manhattan
kayak mencoba buat melambaikan tangan dengan sebuah tempat kartu nama ke depan
penjaga berseragam putih itu. Aku sudah diacuhkan di satu toko dan toko lainnya,
mesti mengejar-ngejar penjaga toko yang (anehnya!) langsung mendatangi setiap
pengunjung cowok yang datang padahal mereka juga cuman melihat sepintas aja ke
alat-alat musik disitu. Suatu kali, setelah sejam lebih nyoba mencari seorang
penjaga toko buat menurunkan sebuah Gibson dari gantungannya, baru aku bisa
betul-betul memegang gitar itu sendiri. Langsung, aku menarik perhatian satu
bahkan dua orang penjaga toko sekaligus (!!).”Eh, kamu nggak seharusnya megang
yang itu,” kata penjaga toko pertama. “Kamu harusnya nanya-nanya dulu,
“kata penjaga toko nomor dua. Sementara itu, seorang cowok tanggung
disampingku enak saja mengambil dan memegang sebuah gitar Jackson tanpa ada
komentar dari para gitar gestapo itu.
Kenyataan dimana cewek jadi pembeli
untuk alat-alat musik rock di toko-toko musik sebenarnya menjadi sebuah tamparan
keras bagi banyak para cowok yang masih memegang tradisi machosisme itu.
Beberapa dari mereka bahkan merasa perlunya untuk membuat batasan bahwa cewek
hanya boleh membeli sebuah gitar atau drum saja (dan bukan alat musik lainnya!),
agar para cewek betul-betul makin terbuang di dunia para cowok ini. Dan sekarang
dimana aku sedang mencari sebuah gitar baru, aku mesti mengantisipasi semua yang
aku bisa lakukan supaya dapat perhatian dari para penjaga toko itu. Apa aku
harus pamer gimana jagonya aku main gitar di depan mereka, memamerkan hancurnya
kulit di ujung-ujung jariku, atau menyombong tentang ribuan jam
latihan-latihanku selama ini?
Hmm…apa aku tunjukkin aja sedikit
celana dalamku?
-Dedicated to all female
underground musicians especially my little slut guitarist. Luv ya dear!-

Drugs free youth!