Character bangsa

Sosok Pembangun Negeri
Oleh: Putra Abimayu


Generasi muda merupakan sosok yang akan memimpin dimasa yang akan mendatang. Sosok seorang pemimpin harus mempunyai semangat kebangsaan yang tinggi, maka dari itu, diperlukan prinsip-prinsip patriotisme dan nasionalisme sejak dini. Tujuannya adalah agar nilai-nilai tersebut sungguh-sungguh di aplikasikan ataupun di implikasikan oleh segenap warga negara baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan sosial. Nasionalisme dan Patriotisme merupakan wujud dari semangat kebangsaan. Nasionalisme mengajarkan cara untuk mencintai tanah air, bangsa, dan negara.
Berdasarkan ahli Deutsch, nasionalisme diartikan sebagai pilihan kepentingan yang kompetitif dari bangsa yang bersangkutan dengan segenap warganya diatas kepentingan-kepentingan lain. Nasionalisme dapat menjadi faktor penting untuk membangun dan memperkuat rasa kebangsaan atau kesadaran terhadap nasionalisme, hal inilah yang dapat membangun karakter bangsa. Sedangkan, patriotisme mengajarkan cara untuk rela berkorban kepada negaranya.
Manusia dilahirkan dengan memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu diperlukannya pendidikan pembentukan karakter bangsa sejak dini. Akan tetapi, banyak masalah yang menyebabkan karakter bangsa ini sendiri belum bisa terlaksana di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Di negara maju tidak ada lagi yang namanya tawuran antar pelajar, akan tetapi di indonesia tawuran pelajar masih sangat lazim terjadi. Mengapa hal ini bisa terjadi.? Hal ini terjadi dilatarbelakangi oleh berbagai macam penyebab. Kurangnya sosialisasi atau pendekatan tenaga pengajar kepada para siswanya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tawuran pelajar dapat terjadi. Disamping itu kurangnya penanaman rasa bela negara (Dalam arti singkat: Bagaimana kita menjaga perdamaian, persatuan dan ketentraman di Indonesia) sejak dini. Serta ditambah lagi dengan kurangnya pengimplementasian dari teori yang telah disampaikan tenaga pengajar di dalam kurikulum nasional. Masalah ini sebenarnya dapat terselesaikan apabila tenaga kerja dapat memenuhi empat kompetensi dasar yang penting yaitu, bedagogik, profesionalitas, bersosialisasi, dan berkepribadian yang baik. Akan tetapi kebanyakan guru saat ini hanya memiliki dua kompetensi dasar saja yaitu, bedagogik dimana mereka menjalankan tugas sebagai seorang tenaga pengajar yaitu mengajar, serta profesionalitas dalam melakukan pengurusan administrasi sekolah. Tetapi pada saat ini, pelajar di indonesia lebih membutuhkan pendekatan dari tenaga pengajar, serta patutnya pihak sekolah dari kepala sekolah sampai kepada tukang kebun harus memiliki kepribadian yang baik agar para siswa mempunyai contoh suri tauladan yang baik, sehingga siswa dijauhkan dari tindakan negatif tersebut layaknya tawuran antar pelajar. Dan juga guru harus mengajak para siswa untuk mengimplementasikan materi dan teori yang ada. Tidak hanya dipelajaran Kewarganegaraan, Agama, ataupun Budi Pekerti tetapi seluruh pelajaran, contohnya kerja keras dalam menemukan jawaban Matematika ataupun disiplin saat memasuki ruang laboratorium Biologi, hal kecil itulah yang merupakan awal mula dari pendidikan karakter bangsa. Sehingga tanpa disadari warga negara sudah menerapkan pendidikan ber karakter tersebut.
Disamping itu, tenaga pengajar seharusnya mampu memberikan sosialisasi atau menanamkan nilai-nilai pancasila terhadap pelajar sejak dini. Dan juga harus adanya pendidikan karakter bangsa yang mampu diaplikasikan di kehidupan sehari-hari seperti pengaplikasian pembelajaran terhadap semua jenis mata pelajaran di kelas yaitu membaca doa sebelum memulai pelajaran, menyalami orang yang lebih tua layaknya guru, mampu mengemukakan pendapat di publik dan masih banyak hal lainnya yang mampu diterapkan dikehidupan sehari-hari. Dengan adanya pengaplikasian pembelajaran terhadap semua jenis mata pelajaran, pelajar baru mampu untuk mengikuti pembentukan karakter bangsa pada organisasi khusus seperti, paskibraka. Dengan mengikuti organisasi paskibraka berarti secara tidak langsung warga negara sudah berpartisipasi terhadap pembangunan karakter bangsa.
Bukan hanya tawuran pelajar yang membuat pudarnya rasa patriotisme dan nasionalisme terhadap generasi muda ini. Ternyata di kawasan remaja pun bisa terjadi peristiwa yang cukup mengagetkan yaitu pelajar yang menjadi terorisme. Berdasarkan sumber yang ada mengatakan bahwa “Densus Anti Teror Mabes Polri juga menangkap dua orang lainnya di tempat terpisah,salah satunya disebut-sebut bernama Fajar, dan berstatus pelajar kelas II SMA. Satu orang lagi bernama Barkah, yang mengontrak di kawasan Kentingan, Jebres.” Hal ini menunjukan bahwa adanya tidak keseimbangnya IQ, EQ, dan SQ yang dimiliki oleh pelajar. Hal ini menunjukan bahwasannya karakter yang dimiliki oleh pelajar masih sangat lemah. Hal ini akan terus menerus terjadi jika masih ada terjadinya kasus teroris dari masyarakat yang mempengaruhi generasi muda untuk meniru hal yang sangat tidak baik ini, karena hal ini sangat menentang dengan peraturan yang telah di buat oleh negara Indonesia seperti halnya, masih adanya kasus teroris di solo yang berdasarkan sumbernya mengatakan bahwa: “Dua orang terduga teroris di tangkap di Solo, Sabtu (22/9/2012). Informasi yang dihimpunSolopos.com di lapangan, dua terduga teroris yang ditangkap yakni Rudi Kurnia Putra,45, dan Baderi Hartono,45.” Hal inilah yang memicu dapat terjadinya pembentukan karakter terorisme di kalangan generasi muda, dan hal ini sangatlah tidak baik.
Hal ini tidak seharusnya terjadi pada negara kesatuan seperti, NKRI ini. Maka dari itu harus diadakanya penyelesaian dari kasus ini melalui, penanaman karakter bangsa sejak dini untuk mencegah terorisme dengan cara memberikan pelajaran ataupun pelatihan terhadap antiteror. Warga negara harus  melakukan penyeimbangan antara IQ, EQ, SQ. Itulah pentingnya peran keluarga serta generasi muda untuk mencari akar permasalahan dari terorisme tersebut. Bukan menambah hukumannya.
Pendidikan ataupun pelatihan tersebut sebaiknya diadakan sebaik-baiknya untuk menarik simpati masyarakat agar ikut serta dalam pembentukan karakter bangsa tersebut yaitu: Video, karena masyarakat indonesia cenderung lebih ke arah visual sehingga tidak cocok membaca informasi-informasi di surat kabar ataupun yang lainnya. Banyak anak-anak yang senang untuk bermain game, maka dari itu kegemaran itu harus dimanfaatkan untuk menarik perhatian anak-anak dengan cara pahlawanlah sebagai tokohnya. Penyebaran lewat twitter ataupun facebook karena dua situs ini yang paling sering di akses pelajar,dengan tampilan yang menarik itu akan mudah untuk mempengaruhi pembaca. Serta hal penting terhadap karakter anak muda yaitu keluarga. Akan tetapi sekolah adalah peran yang paling penting dalam pendidikan karakter bangsa, masalah yang dihadapi yaitu banyaknya teori dan kurangnya pengaplikasian dari teori tersebut sehingga, hal ini hanya membebani anak dengan berbagai macam hapalan. Hal ini sangatlah tidak efektif, yang dibutuhkan sekarang yaitu pengaplikasian yang baik dan benar.
Perilaku Ber-karakter hendaknya dilandasi oleh pandangan hidup Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Karakter bangsa indonesia hendak nya memiliki nilai-nilai luhur seperti: Olah Pikir yang cerdas dan kritis. Sikap jujur dan berjiwa patriotik merupakan bagian dari nilai luhur olah hati. Olah Rasa seperti sikap peduli, nasionalis, dan gotong royong sangatlah penting. Hal-hal diatas akan sangat lebih baik jika adanya perilaku dari nilai-nilai luhur ini yang merupakan nilai olah raga yaitu ketangguhan, daya tahan tubuh, ataupun power dari setiap insan. Hal ini mampu ditopang dengan seperangkat nilai-nilai utama karakter yaitu sikap jujur, cerdas, tangguh, dan peduli kepada sesama warga negara suatu bangsa. Masyarakat, bangsa dan negara, terutama pelajar, hendaknya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan, karena hal tersebut yang melandasi karakter bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia.