[ Science-Technology Page ]
 
  Home » Sci-tech Page
 

Warga Kramat Jati Punya PDAM Sendiri

Belajarlah dari warga kelurahan Kramat Jati RT 11/11 Jakarta Timur. Disana sejak lama terjadi kekeringan. Sumur Dangkal, pompa air pun percuma. Tapi, warga tak kehilangan akal. Di kelurahan tersebut hanya beberapa rumah yang menjadi pelanggan PDAM.

Peter Yan, salah satu warga, melihat di RT 11/11 yang 90 persen warganya tergolong miskin itu hanya dilalui pipa besar PDAM. Namun tak pernah merasakan setetes air dari PDAM. Di musim kering biasanya mereka selalu nestapa harus merogoh kocek untuk membeli air. Tentu untuk keperluan sehari-hari. Sungai Cipinang yang melintas di sana juga tak lagi bisa bersahabat.

Nasib baik kini berpihak pada warga di RT itu. Berkat upaya Peter Yan yang juga ahli hidrologi, alumnus sebuah perguruan tinggi di Jerman, pada 9 September lalu telah berdiri instalasi penjernihan air bersih yang menjadi proyek percontohan di Jakarta.

Gubernur Sutiyoso bahkan sudah meresmikannya. Ia bahkan mencanagkannya sebagai proyek percontohan sistem penjernihan air swadaya masyarakat DKI. Caranya dengan mengambil sumber dari air tanah di kedalaman 80 meter yang merupakan air resapan Sungai Cipinang. Berjarak 20 meter dari bibir sungai dibangun sebuah sumur bor dengan pompa bertegangan 1.800 watt.

Air yang didapat diproses dengan prinsip oksidasi dan penyaringan (filtrasi) sebelum ditampung di tangki-tangki penampungan. Bahan kimia kalium permanganat dilibatkan untuk meluruhkan air dari besi dan mangan. Selain itu juga dari kaporit yang berfungsi sebagai desinfektan agar terbebas bakteri.

Dari tangki itu, air didistribusikan ke 100 rumah disekitarnya. Masyarakat mengganti biaya upah pekerja, tenaga listrik, dan bahan kimia dengan cara menetapkan sendiri harga air per liter lima rupiah. Biaya ini masih tergolong mahal dibanding harga air PDAM yang per liter dua rupiah. "Pelan pelan kita akan jadikan harganya sebesar dua rupiah," jelas Peter.

Menurut Peter, upaya ini hingga saat ini dirasakan sangat membantu masyarakat. Pembangunan instalasi penjernihan air yang menelan biaya Rp 150 juta ini mampu membuat sistem potong kompas bagi warga untuk mendapatkan air bersih tanpa harus membayar mahal dengan menjadi pelanggan PDAM.

Cara ini, menurutnya, tak melanggar prinsip kesetimbangan ketersediaan air tanah. Pompa air ini sehari hanya menyedot 100 m3 air dari dalam tanah. Airnya merupakan resapan dari Sungai Cipinang. Karena kualitas air ini masih buruk, instalasi penjernih itu diadakan untuk menjadikan air tersebut layak dikonsumsi.

© Republika 2002
25 September 2002, Halaman 17
1
Hosted by www.Geocities.ws