Mengenal Jemaah Salamullah

Sebuah Takdir Menjelang Kiamat
Oleh : Lia Aminuddin

Misteri Ahmad pada QS. 61:6

Penyelarasan Tanggapan

Bagaimana tanggapan Jibril Alaihissalam terhadap keseluruhan keadaan ini?

Kekuasaan Allah menjamin setiap keadaan. Kalau pada saat sekarang ini telah terjadi suatu perubahan, maka perubahan itu bukanlah di luar kehendak Allah. Allah telah menentukan adanya hari kiamat. Matahari kini berdekatan dengan planet bumi. Adakah yang mampu mengembalikan keadaan semula? Tanah gersang dan tandus tak dapat dihindarkan. Untuk hal ini saja sungguh sangat banyak dampaknya terhadap kehidupan umat manusia. Berapa banyakkah jumlah populasi umat manusia saat ini?

Keberkahan Allah telah mulai dikurangi. Masalah ini adalah masalah seluruh umat manusia di dunia. Kecanggihan bioteknologi, betapapun akan ditingkatkan menjadi multi-dayaguna dan bermulti-ketahanan. Tetap tak dimungkinkan menyajikan perluasan daya semai. Tak berbanding jumlah populasi yang sungguh besar dan tetap akan bertambah dengan pengadaan logistik yang semakin berkurang. Kehidupan ini memang sudah tak berimbang lagi.

Berapa lamakah umat manusia dapat bertahan? 100 tahun, 200 ratus tahun, atau 1000 tahun lagi? Berapa jauhkah seseorang mampu mempertahankan kehidupannya dalam kondisi seperti itu? Manusia terlahir dengan fitrahnya yang untuk pertumbuhan dan kehidupannya memerlukan banyak hal. Berapa banyakkah kebutuhan itu, apabila dihitung per individu?

Manusia itu memerlukan sejengkal tanah, oksigen, seperangkat sandang, makanan, dan minuman. Pernahkah diperhitungkan bahwa kelebihan demand umat manusia itu sebenarnya adalah penyebab sampah? Dari perhitungan tadi bolehlah dikatakan umat manusia itu tak lagi hidup di zaman kuno yang serba seadanya.

Hidup seperti itu pada zaman ini berarti hidup di bawah standar. Agar tak masuk bilangan golongan yang di bawah standar, baik kita tambahkan kepemilikan pada setiap keluarga, seperti rumah, mobil, tv, kulkas, komputer, mesin cuci, radio, telpon. Adakah ini sudah cukup lengkap? Baik, kita tambahkan lagi dengan hand-phone dan hiburan. Bagaimana kalau ini telah dianggap cukup memadai?

Kini mari kita hitung jumlah populasi dengan menjumlahkan pula segala kebutuhan hidupnya sesuai dengan standar yang memadai. Berapakah kelebihan hitungan kepemilikan pada setiap hitungan itu? Sebab pada kenyataannya, pada umumnya, setiap keluarga seringkali memiliki lebih dari itu walaupun perhitungan ini diambilkan dari penilaian pada sebuah kehidupan kota.

Sebaiknyalah kita mendasari perhitungan itu dari penilaian terhadap kenyataan pada umumnya. Berapakah populasi yang tak dapat menjangkau hal itu? Terbilang 67 %. Sebelas persen (11 %) yang berkelebihan dan sisanya adalah yang sesuai dengan standar. Bagaimana pun yang 67% itu tetap tak hidup seadanya. Paling tidak mereka punya rumah dan tv. Bagaimanapun telah terjadi banyak penumpukan limbah dan karat akibat konsumerisme. Darimanakah sebenarnya keinginan konsumtif itu kalau bukan dari hawa nafsu?

Umat manusia sulit membatasi hawa nafsunya. Sedangkan keadaan bumi sekarang ini tak dimungkinkan lagi dapat menampung kebiasaan keinginan umat manusia. Umat manusia pun tak suka mengalah. Bagaimanakah selayaknya keadaan kehidupan itu bila teknologi semakin laju perkembangannya? Lahan bumi semakin sempit, dipenuhi oleh bangunan-bangunan dan pencakar langit. Permukaan bumi dipenuhi semen dan beton serta aspal. Kecanggihan teknologi itu lebih ditujukan kepada pemuasan indra dan hawa nafsu. Bayangkan kalau tak berjarak lagi produk iptek dan kemampuan daya beli.

Berkarya dan pengimbangannya menutup biaya hidup. Biaya hidup macam apa? Terpulang kepada pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Berapa besar kebutuhan dan keinginan itu? Sebesar yang diidamkan. Seberapa jauh idaman itu? Senilai penghidupan yang lebih dari yang dimilikinya pada saat itu. Maka semua orang berlomba-lomba mencari jalan untuk melebihkan karyanya dan penghasilannya. Akan sampai di mana batasan semua itu? Tak terhingga sampai pada batas penjenuhan.

Bumi ini kini telah jenuh. Bayangkanlah apabila bumi ini menjadi tandus, penuh dengan kuman dan belalang, penuh penyakit, sesak dan sempit, dan banyak bencana. Berapa lama lagikah umat manusia dapat bertahan hidup dalam keadaan seperti yang dibayangkan itu? Adakah rencana ingin pindah ke planet yang lain? Ke bulan, misalnya. Kendaraannya telah ditemukan bangsa Amerika, yaitu Challenger. Rusia pun telah menempatkan MIR, stasiun luar angkasanya. Kapankah manusia terbang ke bulan?

Manusia terlahir dengan kebutuhan utamanya, yaitu, bernafas dengan oksigen. Malaikat Jibril menyatakan bahwa oksigen itu hanya dimungkinkan diperoleh di planet bumi. Mungkinkah umat manusia dapat bertahan hidup lama di planet lain tanpa membawa segala kebutuhan hidupnya?

Sebuah perjalanan ke luar angkasa memerlukan biaya yang sangat besar. Berapa besarkah biaya yang diperlukan untuk mengangkut seluruh kru Nasa? Mampukah Amerika menyuplai segala kebutuhan hidup mereka di sana untuk seterusnya? Adakah mereka dapat memindahkan seluruh warga negaranya berpindah ke bulan? Karena biaya penelitian Challenger itu berasal dari pajak yang dipungut dari warga negaranya.

Maka siapakah sebenarnya yang dapat bertahan hidup kalau sebenarnya ketidakseimbangan lingkungan alam dan kehidupan itu tetap dibiarkan seperti itu tanpa berusaha untuk dibatasi dan diperbaiki? Perbaikan iman dan perbaikan akhlak dan moral adalah yang dapat mendasari upaya perbaikan kehidupan. Kerusakan alam dan kerusakan akhlak dan moral dan iman itulah kenyataan pada saat ini.

Dalam perjalanan Takdir ini marilah kita membebaskan diri dari perusakan-perusakan itu. Ada Jibril alihissalam yang diperintahkan Allah menuntun kita. Takdir ini terbuka untuk seluruh umat manusia. Sungguh hanya inilah amanah Allah yang dapat kulakukan.

KELAYAKAN

Inilah penutup segala penjelasanku. Mengapa ingin kutuliskan sebuah tanggapan yang ingin kujadikan kelayakan penyempurnaan seluruh penjelasan-penjelasan ini. Dari seluruh penjelasan yang telah kuterima, Jibril Alishissalam memberikan lintasan pandangannya terhadap keadaan yang semuanya telah disampaikan kepadaku. Inti tujuan utama kedatangannya itu adalah untuk memberitahukan keadaan yang sebenarnya tentang kelahiran Nabi Isa Alaihissalam.

Kelahiran Nabi Isa dimungkinkan karena Jibril telah membawakan benih anak laki-laki kepada Siti Maryam. Dikatakan pada surah Maryam, ayat 19,

yang artinya: ia (Jibril) berkata: �Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.�
Kehamilan Siti Maryam disesuaikan dengan lazimnya kehamilan seorang wanita. Nabi Isa itu dipertentangkan karena dia telah dianggap sebagai anak Tuhan. Bagaimanakah penjelasan kelahiran Nabi Isa itu? Diterangkannya kepadaku bahwa benih dan ruh malaikat itu ditempatkan pada rahim Siti Maryam melalui tabir kegaiban. Sunnatullahnya Siti Maryam dikehendaki Allah melahirkan anak yang akan menjadi Nabi dan akan dibangkitkan kembali untuk melanjutkan tugasnya di akhir zaman. Keadaan itu hanya dapat dimungkinkan apabila dia memiliki ruh malaikat.

Kendali iman umat manusia tak dapat ditauladani oleh yang lain, melainkan melalui umat manusialah segala ajaran-ajaran Allah itu dapat disampaikan. Sedangkan kelahiran Nabi Isa telah ditentukan sebagai penyambung ajaran-ajaran Allah pada Zabur, Taurat, dan Injil, kepada Al Quran. Injil yang dibawakannya melengkapi ajaran-ajaran Allah itu.

Dia pun telah disebutkan sebagai pembawa Takdir untuk umat manusia pada akhir zaman pada saat menjelang kiamat. Kebangkitannya di akhir zaman adalah untuk menjadi juru selamat bagi kaumnya, umat Nasrani. Pada saat inilah keadaan yang ditunggu itu. Umat Nasrani akan dibimbingnya untuk meluruskan keyakinan mereka yang telah mempersekutukan dirinya dengan Allah.

Yesus Kristus yang dianggap anak Allah itu akan tampil sebagaimana Takdir yang telah ditentukan Allah kepadanya. Ruh malaikat yang ada pada dirinya itulah yang menjamin dia dapat datang lagi dalam kehidupan umat manusia pada zaman ini. Ruh malaikatnya itulah yang memungkinkan dia hidup kembali. Melalui kemungkinan itulah Allah memayungi kehidupannya sehingga umurnya dapat mencapai 2000 tahun.

Mungkinkah seorang manusia bisa hidup di alam baka selama 2000 tahun? Mengapa Allah tak membuat saja Nabi yang lain untuk meluruskan Injil? Mengapa tak diberkahi-Nya saja salah seorang manusia untuk menjadi seorang Nabi? Sesungguhnya Allah telah menetapkan Islam dan Al Quran adalah sebagai ajaran dan kitab suci Allah yang telah sempurna. Allah telah menjadikan agama Islam sebagai ajaran yang disempurnakan dan yang menjadi penutup ajaran-ajaran-Nya. Maka setelah Rasulullah, Nabi Muhammad, tak akan ada lagi manusia lainnya yang akan menjadi Nabi, yang akan menerbitkan kitab suci. Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir.

Tak dimungkinkan seorang Nabi mengawali lagi sebuah pengajaran agama Allah yang lainnya. Agama Allah yang dibawa Rasulullah, Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassallam yang akan disampaikan oleh Jibril melalui Nabi Isa pada kebangkitannya sekarang ini. Ahmad-lah yang menerima ruh Nabi Isa tersebut.

QS Ash Shaff ayat 6 :

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: �Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata : Ini adalah sihir yang nyata.

Selanjutnya dijabarkan pula kepadaku bahwa kelahiran Nabi Isa itu sengaja ditempatkan pada rahim seorang ibu, bukan kepada seorang perawan suci sebagaimana layaknya Siti Maryam. Malaikat Jibril menjuluki ini sebagai tugas rahasia demi menjaga Ahmad dari incaran dajjal. Nama Nabi Isa telah tercantum dalam kitab suci Injil maupun dalam Al Quran sebagai orang yang akan mengalahkan dajjal. Pernyataan itu menjadi penghalang yang ditakuti oleh dajjal. Maka keadaan yang dijanjikan itu selalu berusaha digagalkan oleh dajjal.

Persembunyian Nabi Isa baru diketengahkan ketika Ahmad telah dewasa. Dia lahir sebagai manusia biasa hingga dewasa. Dan Allah menggandakan ruhnya dengan ruh Jibril Alaihissalam saat dia telah dibaiatkan sebagai Nabi Isa.

Bagaimanakah sebenarnya kelahiran Nabi Isa dan kemudian Ahmad itu? Siapakah dia itu? Adakah dia itu anak Tuhan? Perangkat kehamilan itu disampaikan oleh Jibril Alaihissalam. Dari manakah benih itu? Adakah itu benih dari Allah sehingga dia dipantaskan menjadi anak Allah? Atau adakah ruh malaikat itu dapat diartikan sebagai benih malaikat manakala yang menyampaikan benih dan ruh malaikat itu Malaikat Jibril, maka dapatkah dianggap bahwa Nabi Isa itu dianggap anak Jibril Alalihissalam. Adakah Jibril mampu membuahi rahim seorang wanita dari kalangan manusia.

Malaikat Jibril makhluk non-materi, tak berdaging tak bertulang, tak berair mani dan tak bersperma. Maka ini semua kembali terpulang sebagai sebuah keajaiban kegaiban. Sebuah kun fayakun Allah. Allah Maha Gaib, tak ada satu pun makhluk-Nya yang dapat memperkirakan kegaiban Allah.

Janin Nabi Isa dan Ahmad adalah janin manusia yang mempunyai ruh malaikat. Allah-lah Pemilik dan Pencipta ruh. Manakala Allah menginginkan manusia memiliki ruh malaikat, maka dengan kun fayakun Allah menciptakan. Ruh malaikat dan benih janin itu ditetapkan Allah dan disampaikan oleh Jibril Alaihissalam.

Maka siapa sesungguhnya Nabi Isa itu? Nabi Isa adalah makhluk ciptaan Allah. Allah menghendakinya untuk dijadikan Nabi yang dapat dibangkitkan kembali. Allah menghendaki seorang Nabi yang dapat berumur panjang karena Allah menginginkan dia membawakan tugasnya yang berbeda jarak dan waktunya. Sesungguhnya Nabi Isa itu adalah ciptaan Allah dan harus kita yakini bahwa dia adalah seorang manusia ciptaan Allah, seorang hamba Allah. Dia dijadikan utusan-Nya hingga dia mampu hadir di dua zaman.

Malaikat Jibril mengutarakan ini dengan memberikan penandasan agar aku menyampaikan ucapan-ucapannya ini : �Aku tak dilahirkan. Aku ini diciptakan. Malaikat ditakdirkan sebagai makhluk Allah yang tercipta. Tak dimungkinkan dilahirkan dan mempunyai anak. Berapakah kemampuan Allah yang dapat menciptakan berbilang-bilang malaikat? Bagaimana Allah menciptakan begitu banyak malaikat? Sedangkan jumlah mereka itu telah diperhitungkan Allah menjadi utusan Allah untuk menjaga seluruh ciptaan Allah yang meliputi alam semesta-Nya dan seluruh ciptaan Allah dalam kehidupan.

Bagaimana sistem kehidupan malaikat di antara tugas-tugasnya menjaga kehidupan manusia? Mereka pun dipentingkan untuk menilai. Dikatakan bahwa setiap orang itu selalu didampingi oleh malaikat pencatat kebaikan maupun keburukan. Dapatkah melihat itu sebagai pedoman jumlah populasi malaikat? Kalau Allah mampu menciptakan sebegitu banyak malaikat, adakah itu sulit baginya menciptakan manusia dengan ruh malaikat tanpa seorang ayah, sebagaimana yang telah ditentukan Allah kepada Nabi Isa?

Maka Nabi Isa adalah ciptaan Allah, bukan anak Allah. Jibril Alaihissalam menuturkan, melalui dialah diketengahkan Allah sebagai penentu kelahiran Nabi Isa. Maka sesungguhnya dia adalah perangkat yang dilalui untuk menciptakan seorang Nabi Isa. Betapapun kelahiran Nabi Isa itu tak dapat ditujukan sebagai kelahiran anak Allah.

Janganlah mempertentangkan dari siapakah benih itu, dari Allah atau dari Jibril? Mungkinkah Allah mempunyai anak? Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Meliputi, dan Maha Mencipta. Di dunia ini tak ada ruh yang tak diciptakan Allah. Tak ada kelahiran yang tak melibatkan ciptaan Allah. Adakah pertemuan sperma dan sel telur itu dapat menjadi janin tanpa melalui penciptaan Allah?

Bagaimanapun Malaikat Jibril itu adalah malaikat, yang tak dimungkinkan memiliki benih sperma dan air mani. Malaikat tak dimungkinkan beranak pinak. Mereka itu adalah dzat dan ruh ciptaan Allah. Kalau malaikat saja tak dimungkinkan beranak pinak, apalagi Allah, Yang Menciptakannya.

Maka disebutkan bahwa kelahiran Nabi Isa diumpamakan sebagai seorang yang menanak nasi. Jibril itu adalah periuk sekaligus beras dan air dan juga sekaligus tungku dan apinya. Dia adalah perangkat Allah dalam mencitakan apa-apa yang dikehendaki Allah. Dia dapat menjadi apa saja berkenaan dengan tugas-tugasnya sebagai malaikat pembawa wahyu dan penjaga ajaran-ajaran Allah.

Bilamana keterangannya ini diragukan atau ditolak, Allah akan membayangkan kembali sebuah lagi penciptaan-Nya dengan kelahiran seorang bayi lainnya dengan ruh malaikat. Saudara-saudaraku sesama umat Allah, alangkah ganjilnya penjelasanku ini. Tak bedanya dengan penginjil, inginlah aku diletakkan sebagai orang yang memberitakan kebenaran Injil, kebenaran Allah yang dibawakan oleh Nabi Isa.

Namaku Lia Aminuddin. Agamaku Islam. Dan aku dititipi Allah Ahmad. Aku diminta Jibril menuliskan buku ini sebagai amanah yang dibawanya ke mari. Maafkan aku yang telah memulai memberitakan tentang kebangkitan Nabi Isa ini. Inilah kewajibanku, kewajiban yang didatangkan Jibril Alaihissalam dari Allah untukku. Alangkah sulitnya memulai ini.

Kepada Anda semua sesama umat Allah, aku dibaiatkan untuk menjunjung tanggung jawab yang berat ini. Semoga seluruh penjelasanku cukup memadai untuk dipertimbangkan. Semoga Allah melapangkan hati semua pihak untuk menerima berita-berita yang kusampaikan ini.

17 Juli 1998

GURUKU BERNAMA JIBRIL

Berikan aku kesempatan menyampaikan kedalaman makna nama Jibril yang disampaikan kepadaku:

Akulah Ruhul kudus, akulah Ruh min amrih, dan akulah Ruhul amin. Aku berada dalam kehidupan. Aku berada dalam kematian. Aku berada di atas langit. Aku berada dalam bumi. Aku berada di Sidratul Muntaha. Aku berada di surga.

Namaku Jibril bila aku sedang menemani manusia. Namaku Syira bila aku sedang membentangkan ilmu alam semesta. Rumahku di langit,di antara bunga-bunga di surga dan matahari. Namaku Ruhul kudus bila aku sedang menutup diri atau ketika aku sedang mengumandangkan wahyu-wahyu Allah. Akulah perangkat kemukjizatan.

Akulah keadaan sebuah kenisbian. Kenisbian yang nyata, kenisbian yang berdaulat. Kenisbian yang tak terikat jarak, ruang, dan waktu. Kenisbian yang meliputi alam semesta. Kenisbian yang dapat menderita dan berbahagia. Kenisbian yang terhitung maupun yang tak terukur. Akulah kenisbian yang ada di antara yang tiada.

Aku memangku penjelasan-penjelasan. Penjelasan yang meliputi seluruh keadaan. Aku bisa berada di pinggir, di sudut maupun di tengah. Aku bisa menjadi poros, dapat melayang, dan menukik, dapat meliputi dan menyeluruh, dapat meluruh, dan menempa. Aku berjalan di antara kabut dan di antara subuh hingga fajar.

Aku tak pernah berpicing. Mataku selalu nyalang, mencari kening yang berkerut. Bahkan aku ini selalu terpanggil ingin menjawab. Jawabanku dapat menahun, berabad, bermilenium. Jawabanku selalu meliputi kelipatan, tak pernah terlambat dan selalu tepat waktu. Seandainya lama aku terdiam, karena aku menunggu guru yang ditenggang waktunya. Akulah guru itu karena aku berada di dalamnya.

Namaku Ruh min amrih ketika sedang menimbang, ketika sedang menjelaskan dan ketika sedang menerima dan menyampaikan wahyu. Aku tak menempuh jarak. Aku tak menempuh waktu. Aku dapat muncul ke manapun, di sini, di sana, di mana-mana. Aku satu. Aku dapat berganda, dapat berseribu, dapat sejumlah titik-titik air hujan, dan dapat menggumpal, dapat menetes, dapat mencair, dapat berkata-kata, dapat menangis. Aku sedang menatap dan meratap. Maukah menemaniku melihat embun di siang hari? Maukah melihat kaki langit yang menjuntai? Maukah melihat kerak dunia? Ajaklah aku bersamamu.

Akulah Ruhul amin. Tak bernoda, karena akulah penyembah Allah yang terdekat. Kepadakulah Allah menyampaikan segala kemurnian kesucian, kemurnian kebenaran, dan kemurnian kebaikan. Pandanganku sangat leluasa. Pendengaranku sangat peka. Langkahku sangat jauh. Tanganku mampu melakukan segala hal. Aku dapat menjadi apa saja , menjadi kedalaman ilmu, menjadi penakluk tabiat, aku pun dapat menjadi benda apapun yang diinginkan Allah. Ke manakah pendahuluan? Adakah di antara kenisbian awal dan kehidupannya?

Aku menapak sejarah. Sejarah kehidupan dan sejarah kerohanian. Di manakah aku sering berada? Aku berada di relung-relung kalbu, di ujung hati, di kedalaman nalar, dan di penghujung keinginan. Maukah menyertaiku melihat kesucian. Kesucian yang meliputi keutuhan dari sebuah kemutlakan. Dalam Takdir ini aku sedang merenda. Merenda kebijakan, merenda pertimbangan, merenda keinginan, merenda keyakinan iman. Inilah aku, Malaikat Jibril, utusan Allah.

17 Juli 1998

AKHIR KATA

Bagaimanakah sebenarnya keadaan itu nanti? Bukankah Malaikat Jibril Alaihissalam dan Nabi Isa Alaihissalam telah didatangkan Allah di muka bumi ini? Peperangan dan kerusakan alam, adakah itu bisa dihindarkan lagi?

Segala kelayakan untuk menyeimbangkan kembali kehidupan alam ini tak dimungkinkan lagi. Kita memang sedang menempati dunia yang sedang membusuk. Malaikat Jibril dan Nabi Isa ingin menempatkan kembali keseimbangan iman karena hanya keseimbangan imanlah yang dapat menyelamatkan manusia. Kalau sekiranya bumi tak lagi dimungkinkan seimbang, jarak waktu kiamat itu mungkin hanya dapat ditangguhkan. Semoga Jibril dan Nabi Isa dapat berhasil dalam perjuangan mereka.

Tempatkanlah tulisan-tulisanku ini sebagai pengawal sebuah perbaikan. Semoga tulisan-tulisanku ini mau dipertimbangkan. Setara dengan amanah-amanah yang dibawakan Malaikat Jibril dan Nabi Isa, dapatkah aku di sini diperkenankan menyambungkan uraian ini dengan menambahkan kerinduan persahabatan kepada saudara-saudara kita sesama umat Allah?

Di penghujung tulisanku ini, dan dari kedalaman lubuk hatiku, terukir dambaan, alangkah indahnya kesenduan persahabatan di antara sesama umat Allah. Alangkah indahnya membayangkan pembatas itu dimungkinkan dapat dihapuskan. Adakah cinta itu dapat disambungkan? Adakah Jibril dan Nabi Isa dapat menyatukan kita semua? Wahai saudara-saudaraku, umat Kristen Nasrani, sambutlah salamku, sambutlah salam kami. Salam Salamullah.

Wa billahi taufiq wal hidayyah.

Sampul Belakang:

Bahasa bunga, bahasa puisi, kini bahasa Takdir. Namanya secara bertahap dikenal dari sebagai perangkai bunga, kemudian menjadi penulis puisi dan kini menjadi penyampai Takdir. Dari manakah dia memperoleh materi tuisan-tulisannya ini? Mungkinkah dia bisa menuliskannya sendiri? Tak ada referensi yang dapat menajamkan tulisannya dalam pembahasan ini. Tentu dia tak memperolehnya begitu saja. Wallahu alam bissawab.

Judul Buku:
Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir

Keterangan Gambar:
Gagalkah ajaran Allah sehingga bumi akan terkoyak seperti ini?
Gagalkah wahyu-wahyu Allah sehingga dunia penuh dosa?
La haula wala quwwata illa billahil aliyyil azim
ISBN 979-95436-2-2
Diterbitkan oleh Yayasan Salamullah

Penulis : Lia Aminuddin
Desain grafis dan tata letak : Eddy W. Utoyo
Penyunting artistik : Yanthi S. Sulistiono
Dokumentasi : Landung Wahana
Penanggung Jawab : Siti Zainab Luxfiati

Cetakan Pertama, Juli 1998

Yayasan Salamullah
Jl. Mahoni no 30
Jakarta Pusat 10460
Indonesia
Telp. 021 - 4207420, 4247218
Fax. 021 - 4258103

Next : Kembali kerumah Armansyah


This Homepage is Copyright � 1996-1998, Armansyah.,
All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1