Introduction
Menu Cardiovascular
WWW site
Dept
of Cardiology - AU Indonesian
Heart Assoc - Sby Indonesian
Heart Found -East Java
Table
of Contents
Media Kardiovaskuler
--------------------------------------------
PERKI - SURABAYA
Volume 1, Nomer 1, Juli-September 1996
Daftar Isi :
Sambutan Kepala
Laboratorium / UPF Kardiologi FK UNAIR / RSUD Dr.Soetomo Surabaya.
Sambutan Ketua PERKI Cabang
Surabaya.
Pengantar Redaksi.
Penelitian Ekhokardiografi
: Evaluasi morfologi katub mitral pada PTMC. Laporan Pendahuluan.
Tinjauan Pustaka
Hipertensi : Penatalaksanaan Penyakit jantung Iskhemik pada Hipertensi.
Laporan Kasus
Invasif : Valvuloplasti Pulmonal Perkutan dengan Balon Inoue.
Tinjauan Pustaka
Antikoagulan : Penggunaan Warfarin pada Katub Jantung Buatan.
Kalender Kegiatan
Ilmiah Luar Negeri :
Kalender Kegiatan
Ilmiah Dalam Negeri :
Berita Organisasi :
Ruang Santai :
Petunjuk untuk Pengarang :
SAMBUTAN KEPALA
LAB/UPF KARDIOLOGI RSUD Dr. SOETOMO
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME dan atas berkat dan
rahmatNya telah hadir ditengah-tengah kita sebuah majalah kardiovaskuler
yang telah lama kita nantikan. Kemajuan dan perkembangan dibidang kardiovaskuler
berlangsung dengan amat pesat sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan
dan Teknologi disegala bidang termasuk ilmu kardiovaskuler. Hanya dengan
mengikuti dan menyerap seluruh informasi yang ada, kita dapat menyaring
berbagai kemajuan tersebut dan menerapkan secara tepat guna, berhasil guna
dan berdaya guna, sehingga didapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Karena
itu, kehadiran sebuah wahana komunikasi mempunyai peran penting untuk saling
tukar pengetahuan dan pengalaman baik yang berada di pusat pendidikan maupun
sejawat didaerah. Majalah Kardiovaskuler PERKI Surabaya yang terbit pada
edisi perdana ini tentunya harus disambut dengan gembira dengan rasa optimisme
yang tinggi agar fungsi dan peran sebagai wahana komunikasi dapat tercapai
dengan selalu memperhatikan mutu dan mengatasi berbagai kendala agar kelangsungan
penerbitan majalah Kardiovaskuler PERKI Surabaya dapat dipertahankan. Peran
serta seluruh anggota PERKI Surabaya tentunya sangat diperlukan untuk keberadaan
dan kelangsungan Majalah Kardiovaskuler PERKI Surabaya dengan memberikan
secara rutin berbagai informasi ilmiah dan non ilmiah maupun berbagai pengalaman
praktis di lapangan yang berguna bagi anggota PERKI yang lain. Akhir kata,
diucapkan selamat atas penerbitan perdana Majalah Kardiovaskuler PERKI
Surabaya, semoga Tuhan YME melindungi kita semua dan selalu memberkati
serta meridhoi segala usaha dan upaya kita.
Prof. Dr. R. Pramonohadi Prabowo DSJP.
SAMBUTAN KETUA PERKI
CABANG SURABAYA
Puji syukur kehadirat Tuhan YME patut kita panjatkan atas berkat dan rahmatNya
telah terbit edisi perdana Majalah Kardiovaskuler PERKI Surabaya. Era globalalisasi
ditandai dengan derasnya arus informasi dalam segala aspek kehidupan termasuk
didalamnya perkembangan dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tidak
terkecuali bidang ilmu Kardiovaskuler. Perkembangan ilmu Kardiovaskuler
mau atau tak mau , suka atau tak suka memaksa kita untuk mengikuti semua
perubahan yang terjadi agar tak tertinggal zaman. Kehadiran sebuah wahana
komunikasi berupa majalah menjadi penting sebagai pehubung antar anggota
PERKI agar tidak terjadi kesenjangan informasi. PERKI cabang Surabaya mengantisipasi
kondisi tersebut dengan menjadikan penerbitan majalah Kardiovaskuler PERKI
Surabaya sebagai salah satu program prioritas. Setelah melalui proses yang
panjang, majalah yang telah lama kita nantikan ini terbit untuk edisi perdana
dan direncanakan akan hadir ditengah-tengah kita setiap 3 bulan.Penerbitan
Majalah Kardiovaskuler PERKI secara berkala memerlukan perencanaan, pendanaan
dan penanganan yang menjadi tanggung jawab seluruh anggota PERKI cabang
Surabaya dengan memberikan sumbang pikir, sumbang saran dan sumbangsih
yang lain secara maksimal. Majalah Kardiovaskuler PERKI cabang Surabaya
tersusun atas beberapa materi baik yang berupa karangan ilmiah dan non
ilmiah (organisasi, pendidikan, dll) serta beberapa pengalaman praktis
dilapangan. Anggota PERKI cabang Surabaya yang berada di Pusat Pendidikan
maupun yang berada di lapangan sangat diharapkan untuk membagi ilmu dan
pengalaman dengan memberikan secara kontinyu karya tulis sehingga kelancaran
dan kelangsungan Majalah yang kita cintai ini dapat dipertahankan. Akhirul
kata, Selamat atas penerbitan perdana Majalah Kardiovaskuler PERKI cabang
Surabaya. Semoga Tuhan selalu meridhoi usaha kita bersama tersebut.
Dr. Trihariono DSJP.
PENGANTAR REDAKSI
Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa akhirnya terbitlah
Buletin PERKI Surabaya yang kami nanti-nantikan ini yang kami beri nama
MEDIA KARDIOVASKULER. Pada penerbitan perdana ini tentunya masih banyak
kekurangan-kekurangan termasuk penerbitan yang sangat terlambat. Untuk
itu redaksi mohon maaf yang sebesar-besarnya dan segala kritik dan saran
akan selalu kami terima dengan tangan terbuka. Pada penerbitan kali ini
kami ketengahkan pentingnya faktor prediktor untuk memprediksi keberhasilan
suatu tindakan; Dr. Budi Baktijasa dan Dr. Rochmad Romdhoni meneliti morfologi
katub mitral (pemisahan komisura) untuk memprediksi keberhasilan PTMC.
PTMC akan berhasil baik bila terdapat pemisahan komisura katub mitral,
sebaliknya hasil kurang memusakan bila tak terdapat pemisahan komisura
katub mitral. Penelitian ini memang belum sempurna karena kasusnya yang
sedikit, kita tunggu saja hasil akhir dari penelitian tersebut. Adanya
penyakit jantung koroner pada penderita hipertensi merupakan masalah tersendiri
dari segi diagnosisnya maupun penatalaksanaannya Uji beban ekhokardiografi
(dengan dipiridamol) mungkin merupakan cara non-invasif terbaik untuk menilai
ada-tidak penyakit jantung koroner (makrovaskuler) pada penderita hipertensi;
karena uji beban latihan konvensional (EKG) maupun uji beban latihan/dipiridamol
dengan Thallium mungkin tak membedakan iskhemia miokardium oleh karena
penyakit jantung koroner makrovaskuler atau mikrovaskuler. Obat penyekat
beta dan antagonis kalsium mungkin merupakan obat pilihan pada penderita
seperti ini. Dr. Irwan G dan Dr. Iwan N Bosetan melaporkan seorang penderita
dengan Stenosis Pulmonal yang dilakukan valvuloplasti pulmonal perkutan
dengan balon Inoue dengan hasil yang cukup memuaskan sebagai alternatif
dengan cara konvensional memakai balon Mansfield. Dr. Wayan Aryadana dan
Dr. Soenoto membahas konsep-konsep baru pemberian antikoagulan pada penderita
yang mengalami penggantian katub. Adanya bermacam-macam cara pemeriksaan
PPT (Plasma Prothrombin Time) dan standar dari tiap-tiap laboratorium yang
berbeda; mencetuskan ide untuk menyeragamkan pemeriksaan tersebut dengan
sistim INR (International Normalized Ratio) untuk menilai efek obat antikoagulan
yang lebih tepat. Bersama ini kami laporkan pula acara Malam Kekeluargaan
PERKI Surabaya di Batu pada tanggal 16-17 Maret 1996 serta hasil singkat
rapat organisasi PERKI Surabaya. Para sejawat yang ingin mengikuti kegiatan
ilmiah dalam dan luar negeri dapat melihat pada Kalender Ilmiah. Hal-hal
lain yang mungkin belum tercakup pada penerbitan ini ialah Laporan Pendidikan,
Berita Keluarga, Ruang Konsultasi dengan Pakar (sejawat-sejawat terutama
yang didaerah dapat mengirimkan masalah yang ingin dikonsultasikan, redaksi
akan mencari jawabannya dari para pakar dibidangnya masing-masing), Surat
Pembaca (untuk kritik dan saran) serta Ruang Santai (humor, dsb). Kami
harap para pembaca dapat mengirimkan naskah-naskahnya untuk mengisi buletin
kita ini.
Redaksi
EVALUASI
MORFOLOGI KOMISURA KATUP MITRAL PADA PTMC. SUATU STUDI PENDAHULUAN.
Budi Baktijasa dan D. Rochmad Romdhoni Lab / UPF Kardiologi RSUD Dr.Sutomo
/ FK Unair Surabaya.
ABSTRAK : Pemisahan komisura katub Mitral merupakan mekanisme utama
terjadinya peningkatan area katub Mitral pada PTMC. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menunjukkan bahwa pemisahan komisura katup mitral menentukan
hasil PTMC yang optimal serta memperkirakan pemisahan komisura tersebut
berdasarkan morfologinya secara ekokardiografi dua dimensi. Telah dilakukan
pemeriksaan morfologi komisura katup mitral pada 20 orang penderita.Sebanyak
19 penderita diperkirakan mengalami pemisahan salah satu atau kedua komisuranya,
sedangkan 1 penderita diperkirakan tidak mengalami pemisahan komisura.
Dari 19 penderita tersebut 18 diantaranya mengalami pemisahan komisura
sedangkan 1 penderita tidak terjadi pemisahan komisura, 1 penderita yang
diperkirakan tidak mengalami pemisahan komisura terbukti benar. Dengan
demikian maka ketepatan untuk memperkirakan terjadinya pemisahan komisura
katup mitral adalah 94% dan perkiraan tidak terjadinya pemisahan komisura
katup mitral adalah 100%. Pemisahan komisura katup mitral merupakan mekanisme
utama terjadinya peningkatan area katup mitral pasca PTMC. Area katup mitral
pada kelompok yang mengalami pemisahan komisura katup mitral lebih besar
secara bermakna dari pada kelompok yang tidak mengalami pemisahan komisura.
Hasil PTMC yang optimal ( area katup mitral > 1.5cm2 dan atau peningkatan
>25% ) dicapai pada semua penderita kelompok yang mengalami pemisahan
komisura. Sedangkan pada kelompok yang tidak mengalami pemisahan komisura
tidak satupun yang mencapai hasil yang optimal. ABSTRACTS : Percutaneus
Transvenus Mitral Commissurotomy (PTMC) has been used successfully in patients
with rheumatic mitral stenosis. Mitral commissural splitting is the main
mechanism by which mitral valve area is increased with those techniques.
The aim of this study is to determine the predictability of commissural
splitting in assessing the outcome of patients undergoing PTMC on the basis
of 2D echocardiographic assessment of commissural morphology. 2D echocardiographic
assessment of commissural morphology were done on 20 concecutive patients
with method as described by Fatkin etal, 19 of which were predicted to
under go splitting of one or both commissure .Splitting was not predicted
in one patint due to the presence of extensive fibrosis. Of 19 patints
predicted, splitting were actually seen in 18 patients and not seen in
1 patients after PTMC. Commissural splitting was also not seen in single
patient not previously predicted. Thus the occurence of one or both commissure
would split was correctly predicted in 94 % cases and the prediction that
neither commissure would split was correct in all patients. A successful
outcome of PTMC is defined as mitral valve area of more than 1,5 cm2 and
an increase of valve area of more than 25%. All patients showing splitting
of one or both commissure achieved a good outcome (mean MVA 1,77 ±
0,34 cm2) while neither of 2 patients showing no splitting had a good outcome
(mean MVA 1.03 ± 0.43 cm 2, p < 0.05). The conclusion is that
commisural splitting is an important determinant of successful PTMC and
it can be predicted on the basis of echocardiographic evaluation of commissural
morphology.
PENDAHULUAN :
PTMC (Percutaneus Transvenous Mitral Comissurotomy) merupakan suatu metoda
alternatif dari operasi jantung tertutup pada penderita mitral stenosis.(2,3,7).Beberapa
penelitian telah menunjukkan bahwa pemisahan komisura katup mitral (PKM)
merupakan mekanisme utama peningkatan area katup mitral (AKM) pada tindakan
PTMC.(2,4,6).Dengan demiki-an morfologi komisura katup mitral memegang
peranan yang penting dalam menentukan hasil PTMC yang optimal. Telah banyak
penelitian yang berusaha memperkirakan hasil PTMC berdasarkan morfologi
katup mitral dan struktur sub-valvularnya(1,5,7,8), tetapi morfologi komisura
katup mitral belum banyak diteliti.Tujuan penelitian ini adalah : 1. Menunjukkan
bahwa PKM adalah determinan yang menentu-kan hasil yang optimal dari PTMC.
2. Menunjukkan bahwa PKM dapat diperkirakan dari evaluasi morfologi komisura
katup mitral secara ekokardio-grafi dua dimensi. BAHAN DAN CARA KERJA :
Seleksi penderita: Semua penderita yang menjalani PTMC di RSUD Dr Sutomo
pada bulan Desember 1993 sampai Maret 1994 dimasukkan dalam penelitian
ini. Rancang bangun penelitian: Penelitian dirancang secara "one group
pre-post test design" pada 20 orang penderita.Pasca PTMC penderita
dibagi dalam 2kelompok yaitu kelompok yang mengalami pemisahan komisura
(kelompok PKM) dan kelompok yang tidak mengalami pemisahan komi-sura (kelompok
non PKM). Pemeriksaan dan Pengukuran : Semua penderita diperiksa dengan
ekokardiografi transthorakal menggunakan Hitachi EUB 151 dengan transduser
EUP 210- 3.5mHz sebelum dan 48 jam sesudah PTMC. Hasil pemeriksaan direkam
dengan thermal imager Fuji FT 100. Morfologi komisura diperiksa secara
ekokardiografi dua dimensi pada posisi "parasternal short axis".
Adanya fusi, kalsifikasi maupun fibrosis ditentukan secara kwalitatif,
lalu PKM diperkirakan dengan cara sebagai berikut (2) : a. Jika fibrosis,kalsifikasi,
fusi mengenai kedua komisura dan bentuknya simetris maka akan terjadi pemisahan
pada kedua komisuranya. b. Jika perubahan tersebut diatas mengenai kedua
komisura dan bentuknya tidak simetris maka akan terjadi pemisahan pada
satu komisura yang tingkat perubahan-nya lebih ringan. c. Jika hanya satu
komisura yang mengalami perubahan sedangkan yang lain tidak ada perubahan
maka pemisa-han terjadi pada komisura yang mengalami perubahan tersebut.
d. Jika terdapat fibrosis atau kalsifikasi yang luas maka tidak akan terjadi
perubahan komisura tanpa mengindahkan jenis morfologinya. Skoring katup
mitral ditentukan berdasarkan kriteria dari Wilkins dan kawan-kawan.(1,8).
AKM (Area Katub Mitral) ditentukan dengan metode "Pressure half time"
pada pemeriksaan Doppler-kontinyu. PTMC dianggap berhasil secara optimal
jika AKM lebih besar atau sama dengan 1.5 cm2 dan atau peningkatan AKM
lebih besar atau sama dengan 25% dari AKM awal.(1,2). Analisa Statistik
: Perbedaan AKM sebelum dan sesudah PTMC pada seluruh sampel ditentukan
secara" paired t test ". Perbedaan AKM sesudah PTMC antara kelompok
PKM dan non PKM ditentukan secara " non paired t test ". PKM
sebagai determinan hasil PTMC yang optimal diuji secara "fisher exact
test". Perbedaan dianggap bermakna jika p lebih kecil atau sama dengan
0.05.
HASIL : Dari 20 penderita ( 6 pria dan 14 wanita ) sebanyak 18 penderita
mengalami PKM pada salah satu atau kedua komisuranya, 2 penderita tidak
mengalami PKM. 17 penderita mengalami PKM pada satu komisuranya (13 pada
komisura anterior dan 4 pada komisura posterior ) sedangkan pada 1 penderita
mengalami PKM pada dua komisuranya (tabel 1 ). Tabel 1. Data penderita
yang menjalani PTMC di RSUD Dr Sutomo Desember 1993 - Maret 1994. ----------------------------------------------------------------------------
No Umur Seks Skor Mitral PKM perkiraan hasil ---------------------------------------------------------------------------
1 40 L 2-1-2-0 (5) satu satu 2 30 P 1-1-2-0 (4) satu satu 3 33 L 1-1-2-0
(4) satu satu 4 33 P 2-1-1-0 (4) (-) (-) 5 37 P 1-2-1-0 (4) satu (-) 6
21 L 1-2-2-0 (5) satu satu 7 15 P 1-2-2-0 (5) satu satu 8 30 L 1-2-2-0
(5) satu satu 9 34 P 2-2-3-0 (7) satu satu 10 31 L 2-2-2-0 (6) satu satu
11 26 P 1-1-2-1 (5) dua dua 12 41 P 2-1-2-0 (5) satu satu 13 41 P 1-1-2-0
(4) satu satu 14 34 P 1-1-2-2 (6) satu satu 15 48 L 1-2-1-0 (4) satu satu
16 13 P 1-2-1-0 (4) satu satu 17 39 P 2-2-2-0 (6) satu satu 18 18 P 1-2-2-0
(5) satu satu 19 18 P 1-2-2-0 (5) satu satu 20 29 P 1-2-2-0 (5) satu satu
----------------------------------------------------------------------
Terdapat perbedaan AKM yang bermakna. Rerata AKM pada seluruh sampel meningkat
dari 70.88+0.20 cm2 menjadi 1.67 + 0.34 cm2.(p < 0.05 ). Terdapat perbedaan
AKM pasca PTMC antara kelompok PKM (1.77 + 0.34 cm2 ) dan kelompok non
PKM ( 1.03 +0.43 cm2 ) dengan p < 0.05.(tabel 2)
Tabel 2. Perbandingan Area Katup Mitral sebelum dan pasca PTMC. ---------------------------------------------------------------------
Jumlah AKM(cm2) P
Sebelum Pasca ---------------------------------------------------------------------
Seluruh px 20 0.85+0.20 1.67+0.34 <0.01
PKM 18 0.90+0.20 1.77+0.34 <0.05 Non PKM 2 0.64+0.08 1.03+0.43 ---------------------------------------------------------------------
18 penderita kelompok PKM menunjukkan hasil yang optimal pasca PTMC sedangkan
2 penderita dari kelompok non PKM tidak ada yang menunjukkan hasil yang
optimal (p < 0.05 ). Dari evaluasi morfologi komisura katup mitral 19
penderita diperkirakan mengalami PKM sedangkan 1 penderita tak mengalami
PKM karena fibrosis yang luas.Ternyata hanya 18 dari 19 penderita yang
mengalami PKM dan 1 penderita tidak mengalaminya. Sehingga ketepatan memperkirakan
PKM berdasarkan morfologi komisura katup mitral adalah 94%. 1 penderita
yang diperkirakan tidak mengalami PKM ternyata terbukti benar sehingga
perkiraan tidak terjadi PKM ketepatannya 100 %.
DISKUSI : Penelitian terdahulu baik in vitro maupun in vivo menunjukkan
bahwa PKM merupakan determinan utama yang menentukan hasil PTMC yang optimal.Reid
dan kawan-kawan menunjukkan bahwa peningkatan diamater transversa orifisium
katup mitral dan atau peningkatan sudut pembukaan komisura sesuai dengan
PKM.(4). Secara in vitro PKM juga terbukti sebagai mekanisme utama dari
peningkatan AKM pada eksperimental valvotomi dengan menggunakan teknik
balon tunggal maupun balon ganda.(6). Pada penelitian ini ternyata PKM
menentukan hasil PTMC yang optimal , hal ini terbukti dengan adanya perbedaan
AKM yang bermakna antara kelompok PKM dan non PKM pasca PTMC.Selain itu
semua penderita yang termasuk kelompok PKM menunjukkan hasil PTMC yang
optimal, sedangkan pada kelompok non PKM tidak satupun yang menunjukkan
hasil PTMC optimal. Dari penelitian ini sebagian besar penderita mengalami
pemisahan pada 1 komisuranya, hanya 1 penderita yang mengalami pemisahan
pada kedua komisuranya.Pemisahan salah satu komisura diperkirakan terjadi
jika terdapat fibrosis atau kalsifikasi yang tidak simetris,asalkan proses
tersebut tidak meluas.Pemisahan salah satu komisura juga diperkirakan terjadi
jika hanya salah satu komisura yang mengalami fibrosis atau kalsifikasi
sedangkan komisura yang lain tidak mengalaminya. Pemisahan komisura diperkirakan
tidak terjadi jika terdapat proses fibrosis atau kalsifikasi yang luas.
Perkiraan terjadinya PKM tidak terbukti pada 1 penderita.Pada penderita
ini ternyata mengalami penebalan sub valvular yang moderat , sehingga kemungkinan
mengakibatkan tidak terjadi PKM pada penderita ini.Pada 1 penderita lain
yang memang diperkirakan tidak mengalami PKM dan terbukti benar hal ini
disebabkan fibrosis pada salah satu komisuranya dan meluas pada kedua belah
katup mitralnya. Pada penelitian ini ketepatan perkiraan terjadinya pemisahan
pada salah satu atau kedua komisura adalah 94% dan perkiraan tidak terjadinya
pemisahan komisura adalah 100%.
KEPUSTAKAAN :
1. Abascal V et al.. Prediction of successful outcome in130 patients undergoing
Percutaneus Baloon Mitral Valvotomy. Circula-tion 1990;82:448-456.
2. Fatkin D et al.. Percutaneus Balloon Mitral Valvotomy with the Inoue
single balloon catheter : Commissural morfology as a determinant of outcome.
J Am Coll Cardiol 1993;21:390-397
3. Inoue K. Percutaneus Transvenous Mitral Comissurotomy using the Inoue
baloon. Eur Heart J 1991;12( suppl B ): 99-108
4. Reid C L et al.. Mechanism of increase in Mitral valve area and influence
of anatomic features in doubble ballon valvuloplasty in adult with rheumatic
mitralstenosis; a Doppler and two dimensional echocardiographic study.
Circulation 987;76(3): 628-636.
5. Reid C L et al.. Influence of Mitral valve morphology on doubble balloon
catether valvuloplasty in patients with Mitral steno-sis,analysis of factors
predicting immediate outcome and 3months result. Circulation 1989;80:515-524.
6. Reifart N et al. Experimental Balloon valvuloplasty of fibrotic and
calcified Mitral valves. Circulation1990; 81:1005-1011.
7. Vahanian A et al.. Result of Percutaneus Mitral commissurotomy in 200
patients.Am J Cardiol.1989;63:847-852. 8. Wilkins GT et al. Percutaneus
balloon dilatation of the Mitral-valve : ananalysis of echocardiographic
variables related to outcome and the mechanism of dilatation.Br Heart J
1988;299-308.
DIAGNOSIS
DAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT JANTUNG ISKHEMIK PADA HIPERTENSI.
Budi Susetyo Pikir
Laboratorium / UPF Kardiologi
FK Unair / RSUD Dr.Soetomo S U R A B A Y A
RINGKASAN :
Komplikasi Iskhemia Miokardium akibat hipertensi dapat dibuat diagnosis
secara mudah dan kuantitatif pada fase awal dengan Elektrokardiografi,
Ekhokardiografi, Monitoring EKG Holter dan Radionuklir jantung. Yang sukar
ialah membedakan Iskhemia Miokardium oleh karena proses Atherosklerosis
atau Non-Atherosklerosis (Mikrovaskuler). Iskhemia miokardium dapat akibat
dari LVHnya sendiri, adanya proses atherosklerosis koroner, maupun gangguan
fungsi mikrovaskuler koroner. Gagal jantung selain karena iskhemia miokardial,
juga dapat akibat hipertensinya sendiri ataupun akibat LVH; yang dapat
berupa gangguan fungsi sistolik maupun diastolik atau keduanya. Pengobatan
Iskhemia Miokardium akibat Hipertensi memerlukan pendekatan khusus. Obat
Penyekat beta menimbulkan regresi LVH dan mungkin merupakan obat yang baik
untuk iskhemia miokardial. Golongan antiadrenergik sentral menimbulkan
regresi LVH, tapi efek sedikit pada iskhemia miokardial, adanya perbaikan
disritmia ventrikel mungkin oleh karena regresi LVHnya. Golongan antiadrenergik
perifer tidak menyebabkan regresi LVH kecuali prazosin dan doksazosin.
Obat golongan penyekat a-1 mempunyai efek metabolisme lipid yang paling
baik, dan mungkin obat baik pula untuk angina mikrovaskuler. Golongan penyekat
ACE paling besar menurunkan LVH. Obat tak meng-ganggu metabolisme lipid,
sedangkan efek kardioprotektif masih dalam penelitian. Golongan Antagonis
Kalsium menurunkan LVH. Mempunyai efek supresi disritmia ventrikel yang
baik. Obat tak mengganggu metabolisme lipid dan obat pilihan pada iskhemia
miokardial. Tetapi bukti kardioprotektif masih kontroversi. Obat antihipertensi
pada Hipertensi yang disertai Iskhemia Miokardium selain efektif menurunkan
tekanan darah, juga harus dapat mengobati Iskhemia Miokardium. Obat mana
yang baik sampai sekarang masih dalam penelitian.
PENDAHULUAN :
Manifestasi komplikasi kardiovaskuler pada Hipertensi dapat berupa hipertrofi
ventrikel kiri, iskhemia miokardium, aritmia ventrikel dan gagal jantung
kiri (Messerli FH,1990). Karena itu tujuan
umum dari pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah, tetapi
mencegah/merubah kelainan fungsional dan struktural yang terjadi akibat
hipertensinya (komplikasi "target-organ") yaitu : 1. Menurunkan
tekanan darah se-optimal mungkin, tetapi tidak mengganggu perfusi "target
organ", sampai seberapa rendah tekanan diturunkan masih belum ada
kesepakatan, karena bila tekanan darah terlalu rendah morbiditas dan mortalitas
kar-diovaskuler justru meningkat ("J-Curve") (Chobanian
and Gravas 1990; JNV
V 1992). Bahkan pada beberapa penderita, penurunan tekanan darah diastolik
yang terlalu cepat sampai 100-110 mmHg saja sudah menimbulkan gejala iskhemia
serebral dan infark serebri (Berry
1987, Hankey
and Gubbay 1987). Karena itu penurunan tekanan darah terutama pada
hipertensi khronik, harus bertahap. Mengenai seberapa rendah, memerlukan
pendekatan individual. 2. Mencegah komplikasi vaskuler/atherosklerosis
dan kerusakan organ sasaran ("target organ"), - mengontrol faktor
risiko lain, - monitoring efek samping obat terhadap faktor risiko koroner,
3. Bila sudah ada komplikasi diusahakan retardasi/kalau mungkin regresi
komplikasi vaskuler/atherosklerosis dan kerusakan organ sasaran ("target-organ")
(LVH,Nephropati dsb) (Sleight
1988). 4. Monitoring dan mengontrol efek samping obat yang lain (hipokalemia,
impotensi, dsb) yang dapat menambah morbiditas dan mortalitas (Logan
1987).
PATOFISIOLOGI ISKHEMIA MIOKARDIUM PADA HIPERTENSI :
Keluhan Angina Pektoris dapat terjadi pada penderita hipertensi dengan
maupun tanpa Penyakit Jantung Koroner (Penyakit Jantung Koroner / Atherosklerosis
/ Makrovaskuler/Epikardial). Penyakit jantung hipertensi dan penyakit jantung
koroner mungkin mengakibatkan komplikasi klinik yang serupa. Demikian pula
keduanya dapat terjadi pada penderita yang sama (Prisant et al, 1987).
Ada beberapa patofisiologi terjadinya Iskhemia Miokardium pada penderita
Hipertensi, yaitu :
1. Proses Atherosklerosis pada arteri koroner makrovaskuler / epikardial
: Telah diketahui bahwa peningkatan tekanan darah yang progresif terutama
tekanan darah sistolik, meningkatkan risiko terjadinya atherosklerosis
pada arteri sistemik maupun koron-er dengan segala manifestasinya (Kannel
1976). sehingga menghambat aliran darah koroner dan mengurangi pasokan
oksi-gen miokardial. Meskipun hipertensi arteri merupakan faktor risiko
ringan terjadinya penyakit jantung koroner, namun harus diingat bahwa jarang
atherosklerosis ditemukan pada pembuluh darah dengan tekanan darah yang
rendah (sirkulasi paru, segmen arteri pos-stenotik) (Messerli
1990). Efek dislipidemia obat antihipertensi mungkin berperanan pula
terjadinya atherosklerosis tersebut (Weinberger
1985,1987).
2. Kelainan pembuluh arteri koroner mikrovaskuler : Abnormalitas pengisian
diastolik ventrikel kiri yang terlihat dengan pemeriksaan ekho-doppler
mungkin mendahului adanya LVH secara ekhokardiografi (Snider et al 1985)
dan hipertro-fik kardiomiopati hipertensi pada orang tua dengan fungsi
sistolik supranormal (Topol et al 1985; Tarazi 1985). Adanya LVH akan merubah
pasokan darah koroner dan kebutuhan oksigen miokardium yang dapat mengakibatkan
angina pektoris bahkan pada penderita dengan arteria koroner epikardial
yang normal dengan pemeriksaan arteriografi (Frohlich 1978). LVH bukan
pra-syarat terjadinya angina pada penderita hiper-tensi tanpa penyakit
jantung koroner. Laporan terakhir mem-buktikan iskhemia dapat terjadi karena
adanya peningkatan resistensi mikrovaskulatur koroner yang abnormal (angina
mikrovaskuler) (Messerli 1990). Hal ini
mungkin akibat adanya kekurangan bahan tertentu yang berasal dari endotel
yang menyebabkan gangguan relaksasi otot arterial yang dibuktikan terjadi-
nya kegagalan respon vasodilatasi setelah pemberian asetil-kholin, tetapi
vasodilator langsung dapat menimbulkan relaksasi otot arteri tersebut (Panza
et al 1990). Adanya penurunan cadangan koroner (coronary reserve) yang
ditunjukkan dengan penurunan vasodilatasi koroner dengan induksi dipyridamole
mungkin memberikan kontribusi terjadinya angina pektoris pada penderita
dengan LVH (Opherk et al 1984). Pemeriksaan dengan mikroskop biasa maupun
mikroskop elektron biopsi jaringan endomiokardial ventrikel kiri tidak
menunjukkan adanya kelainan pada pembuluh darah kecil koroner (Opherk et
al 1984).
3. Iskhemia Miokardial karena kebutuhan yang meningkat (Demand Ischemia
atau LVH dengan arteri koroner relatif normal: LVH tidak hanya dihubungkan
dengan peningkatan ektopi ventri-kel, tetapi juga predisposisi terjadinya
iskhemia miokardial.
a. Peningkatan tekanan darah menyebabkan peningkatan "stress",
tegangan dan "stroke work" dinding ventrikel kiri sehingga meningkatkan
kebutuhan oksigen miokardial.
b. Peningkatan masa LV yang terjadi sebagai adaptasi peningka-tan beban
tekanan, membutuhkan perfusi jaringan yang lebih banyak.
c. Pertumbuhan pembuluh darah koroner tidak sesuai dengan peningkatan masa
LV. Meskipun aliran koroner per unit otot pada LVH normal waktu istirahat,
ketidak-seimbangan antara proliferasi vaskuler dan pertumbuhan otot merupakan
kondisi predisposisi terjadi iskhemia relatif, sehingga cadangan koroner
menjadi berkurang pada penderita dengan LVH bahkan dengan pembuluh darah
koroner normal dengan pemeriksaan angiografi koroner.Tipe tertentu dari
LVH dihubungkan dengan cadangan koroner yang abnormal. Penelitian dengan
regional xenon-133 washout technique pada penderita hipertensi dan LVH
yang terkontrol baik, meskipun resistensi vaskuler koroner saat istirahat
mening-kat dibanding orang normal, tetapi resistensi menurun dengan nyata
saat pemacuan atrium yang mungkin menunjukkan adanya perbaikan perfusi
(Nichols et al 1980). Adanya EKG-LVH pada hipertensi meningkatkan risiko
infark miokard, mati mendadak dan gagal jantung kongestif (Kannel et al
1969;1970; 1983;1984). Adanya EKG-LVH pada normotensi juga meningkatkan
risiko kejadian-kejadian tersebut diatas meski-pun tidak sebesar penderita
hipertensi. Selanjutnya, perubahan repolarisasi (LVH definit dengan strain)
meningkatkan risiko kematian karena penyakit jantung koroner 6 kali lipat
(Kannel et al
1970). Penelitian akhir-akhir ini juga menun-jukkan bahwa LVH-Ekhokardiografi
merupakan tanda prediksi kematian kardiovaskuler dini (Savage et al 1985).
DIAGNOSIS PENYAKIT JANTUNG KORONER (ATHEROSKLEROSIS) PADA HIPERTENSI
:
Sangat penting untuk membedakan angina pektoris karena penyakit jantung
koroner (atherosklerosis/makrovaskuler/epikardi-al) atau karena hipertensi
(mikrovaskuler), sebab penatalaksa-naannya mungkin berbeda. Bila adanya
penyakit jantung koroner atheroklerosis (epikardial) dapat dibuktikan dengan
pemeriksaan non-invasif, risiko dan biaya arteriografi koroner yang tinggi
dapat dihindari. Sebaliknya meskipun terdapat obstruksi arteria koroner
(epikardial) secara arteriografi tidak menggambarkan secara tepat efek
fisiologi apakah angina pektoris karena penyem-pitan arteria koroner atau
karena LVHnya (Prisant et al 1987).
1. Pemeriksaan uji beban latihan konvensional (EKG) : Meskipun cukup
rasional untuk melakukan uji beban latihan untuk menilai respon tekanan
darah terhadap latihan dan kapasitas aerobik fungsional, namun penggunaannya
untuk menentukan adanya obstruksi arteri koroner epikardial pada penderita
hipertensi disertai LVH-ekhokardiografi mempunyai sensitifitas dan spesifisitas
yang rendah yaitu 46,7 % dan 37,5 % (Wroblewski
et al 1982). Pada Hipertensi sistemik dengan LVH subklinik tersebut
(EKG normal, tetapi pada ekhokardiografi ditemukan LVH) dan tanpa obstruksi
arteria koroner epikardial, dapat menunjukkan depresi segmen ST bermakna
waktu latihan. Pada penderita LVH-ekhokardiografi nilai prediksi positif
penyakit jantung koroner 41 %, sedang-kan pada penderita hipertensi tanpa
LVH nilai prediksi posi-tif 76 % (Wroblewski
et al 1982). Selain EKG-LVH menimbulkan diagnosis positif palsu obstruksi
arteri koroner epikardial, sensitifitas EKG untuk deteksi LVH rendah, meskipun
spesifitas tinggi bila menggunakan kriteria sistim skor Romhilt-Estes (Romhilt
et al 1969; Carr
et al 1985).
2. Uji beban dipiridamol ekhokardiografi : Pada penderita hipertensi
tanpa keluhan yang disertai LVH-ekhokardiografi dengan pembuluh darah koroner
yang "normal" dapat menunjukkan respon iskhemia (depresi segmen
ST) saat dilakukan uji beban dipiridamol, tapi tanpa disertai gangguan
fungsi ventrikel sistolik atau diastolik secara global maupun segmental.
Hal ini menunjukkan adanya kelainan mikrovaskuler atau "demand ischemia"
(Picano et al 1990). Penelitian pada 43 penderita hipertensi dengan nyeri
dada yang dilakukan uji beban latihan, uji beban dipiridamol-ekhokardiografi
dan pemeriksaan arteriografi koroner menun-jukkan bahwa sensitifitas uji
beban latihan dan uji beban dipiridamol-ekhokardiografi untuk deteksi penyakit
jantung koroner (makrovaskuler) sama yaitu 67 %, tetapi uji beban dipiridamol-ekhokardiografi
mempunyai spesifitas yang lebih tinggi yaitu 92 % dibandingkan uji beban
latihan yang sebesar 46 % (Picano et al 1988).
3. Uji beban latihan/dipiridamol Thallium : Penderita dengan hipertrofi
ventrikel kiri yang merata sering menunjukkan adanya defek menetap pada
dinding ventri-kel lateral yang menyerupai infark miokard. Hal ini dibukti-kan
pada penelitian uji beban SPECT Thallium-201 (70 dengan latihan dan 30
dengan dipiridamol) pada 100 penderita hipertensi khronik disertai gagal
ginjal fase lanjut dan tanpa tanda penyakit jantung koroner menunjukkan
defek dinding ventrikel lateral menetap yang menyerupai infark miokard
pada 35% penderita (DePuey et al 1988). Penelitian uji beban latihan Thallium-201
(27 dengan teknik planar dan 3 dengan SPECT) pada 30 penderita hipertensi
ringan-sedang tanpa keluhan menunjukkan ketepatan diagnosis yang lebih
tinggi dibanding uji beban latihan EKG (86,7 % vs 53,3%). Demikian pula
nilai-nilai diagnostik yang lain (sensitivitas 89,5% vs 78,9%; spesifisitas
81,8% vs 9%; nilai prediksi positif 89,5% vs 60%; nilai prediksi negatif
81,8% vs 20%) (Chin et al 1992). Tetapi penelitian lain pada 92 penderita
hipertensi yang disertai nyeri dada atau iskhemia miokardium pada EKG (55%
Negro, 46% wanita) menunjukkan ketepatan diagnosis, spesifitas dan nilai
prediksi positif uji beban Thallium (latihan + dipiridamol) yang lebih
rendah (69,6%; 63,5% dan 38,6%) meskipun mempunyai sensitifitas yang tinggi
(94,4%). Tes sangat baik untuk menyingkirkan diagnosis adanya penyakit
jantung koroner atherosklerosis/makrovaskuler/epikardial (nilai prediksi
negatif 97,9%) (Prisant et al 1992).
4. Pemeriksaan Pantauan EKG 24 jam (Ambulatory ECG / Holter Monitoring)
:
Hipertensi sistemik telah dikenal merupakan faktor risiko kuat terjadinya
kematian mendadak (Kannel et al 1975). Adanya LVH secara EKG atau Ekhokardiografi
meningkatkan risiko terjadinya kematian jantung mendadak maupun tak mendadak
dan infark miokard nonfatal (Kannel et al 1970; Levy et al 1990; Koren
et al 1991). Adanya aritmia ventrikel yang sering yang terkadang kompleks
pada pemeriksaan pantauan EKG 24 jam penderita dengan LVH, meningkatkan
dugaan adanya interaksi antara cetusan aritmia dan miokardium yang peka
yang mungkin merupakan penyebab kematian mendadak penderita hipertensi
(Messerli et al 1984; McLenachan et al 1987). Pada 55,7 % (34/61) penderita
hipertensi stadium II (dengan LVH-ekhokardiografi) menunjukkan adanya iskhemia
miokard tanpa keluhan (Yurenev et al 1992). Pada penelitian Zehender et
al (1992) selama 3 tahun menunjukkan prevalensi iskhemia miokard lebih
rendah yaitu 33% (47/150), 93% diantaranya tanpa kelu-han; tetapi menunjukkan
adanya prevalensi aritmia ventrikel yang tinggi yaitu 86% (129/150). Pada
penelitian ini LVH-EKG didapatkan pada 9-17 % penderita. Selama evaluasi
3 tahun didapatkan insiden kematian jantung dan infark miokared nonfatal
sebesar 3% pertahun. Faktor paling kuat terjadinya hal ini ialah adanya
LVH dan iskhemia miokard. Aritmia ven-trikel sendiri bukan merupakan faktor
risiko kuat, tetapi mungkin merupakan efek proaritmia iskhemia miokardium,
LVHnya sendiri (Ghali et al 1991), perubahan repolarisasi, pemanjangan
konduksi intraventrikuler maupun fibrosis mio-kardium (Devereux 1992).
Melina et al (1992) mendapatkan 16,6% (13/78) penderita dengan Hipertensi
Perbatasan (Borderline) terdapat LVH secara ekhokardiografi, dan 43,6%
(34/78) terdapat aritmia ventrikel (klas Lown > 1). Pada penelitian
ini Artimia Ventrikel lebih banyak didapatkan pada penderita dengan LVH.
Sayang tidak dilaporkan ada-tidaknya iskhemia miokardial pada penelitian
ini.
PENGOBATAN HIPERTENSI DAN ISKHEMIA MIOKARDIUM :
Dari penelitian "Veteran Administration Cooperative Study Group"
efektifitas pengobatan hipertensi pada penderita dengan hipertensi sedang
dan berat jelas sudah terbukti dan tidak dira-gukan lagi (Stamler and Stamler,1984).
Penurunan morbiditas dan mortalitas terutama karena penurunan komplikasi
akibat tingginya tekanan darah, sedangkan penurunan komplikasi penyakit
jantung koroner tidak terlihat secara nyata (Houston 1991). Efektifitas
pengobatan pada hipertensi ringan didapatkan hasil yang bervariasi. Pada
"Australian National Blood Pressure Study (ANBPS)" (1980) didapatkan
penurunan risiko relatif komplikasi kardiovaskuler yang fatal sebesar 58%
, tetapi komplikasi penyakit jantung koroner yang non-fatal tak berbeda
(Logan,1987). Pada "British Medical Research Council Trial" (1985)
mortalitas total tidak berbeda dengan kontrol. Tetapi terdapat penurunan
komplikasi CVA sebesar 45% dibandingkan kontrol. Yang menarik pada penderita
mendapat propranolol yang merokok tidak terdapat penurunan komplikasi CVA
dan Penyakit Jantung Koroner, namun pada penderita yang tidak merokok terdapat
komplikasi CVA yang lebih sedikit dan kecenderungan komplikasi Penyakit
Jantung Koroner yang lebih sedikit pula (Logan,1987). Yang lebih kontroversi
lagi ialah pada "Oslo Hypertension Study Group" (1986) komplikasi
penyakit jantung koroner justru lebih besar pada penderita yang mendapat
pengobatan. Diduga faktor penyebabnya ialah adanya gangguan metabolisme
lemak dan gula akibat Thiazide dan Beta-Blocker (Propranolol) (Leren and
Helgeland, 1986). Penelitian acak terkontrol di Amerika Serikat yang terkenal
ialah "Veterans Administration Co-operative Study", "USPHS
Hospitals Trial", "Hypertension Detection and Follow-up Program"
dan "Multiple Risk Factor Intervention Trial". Semuanya menunjukkan
adanya kegunaan pengobatan pada semua derajat hipertensi, meski-pun masih
ada beberapa kekurangan bukti efektifitasnya pada wanita kulit putih, penderita
hipertensi muda dan dalam mencegah terjadinya penyakit jantung koroner
dan infark miokard akut (Kannel, 1986). Penelitian lain di Eropa ialah
"WHO Multifactorial Trial" (Wilhelmsen,1984) dan "Goteborg
Multifactor Primary Prevention Trial" (Wilhelmsen et al, 1986) didapatkan
hasil yang bervariasi. Pada "Primary Preventive MAPHY study"
didapatkan penurunan mortalitas total yang bermakna pada penderita yang
mendapat Metoprolol dibandingkan penderita yang mendapat Diuretik (Wikstrand,1987).
Kurangnya bukti kegunaan pengobatan hipertensi untuk pence-gahan penyakit
jantung koroner dapat diterangkan sebagai berikut: · penyebab penyakit
jantung koroner yang multifaktorial dan kegagalan untuk mengobati faktor
risiko yang lain, · jumlah "sample" yang kurang, lama
penelitian yang kurang dan macam populasi yang diteliti kurang sesuai,
· efek metabolik obat antihipertensi yang menambah risiko penyakit
jantung koroner, · penurunan perfusi sirkulasi koroner dibawah titik
kritis pada penderita yang sebelumnya sudah ada penyakit jantung koroner
yang tak terdeteksi, · penelitian dimulai pada fase lanjut dari
hipertensi (Joint National Committee,1988; O’Kelly et al,1989). Walaupun
sampai saat ini belum jelas obat mana yang paling efektif pada penderita
hipertensi dengan iskhemia miokardial, penelitian Zehender et al (1992)
menunjukkan bahwa faktor prediktor kuat komplikasi kematian jantung dan
infark miokard nonfatal ialah LVH dan Iskhemia Miokardial; sehingga pengobatan
seharusnya ditujukan kedua hal tersebut diatas selain menurunkan tekanan
darahnya.
1. Nonfarmakologi : Penelitian pada 40 penderita gemuk selama 5 bulan,
20 penderita diberikan diet hipokalori sedangkan 20 penderita yang lain
diberikan Captopril 2-3 x 50 mg/hari. Ternyata keduanya sama efektifnya
menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik, tetapi penurunan berat
badan lebih efektif menim-bulkan regresi LVH dibandingkan Captopril (Berzizza
et al 1994).
2. Golongan Diuretik : Hydrochlorothiazide menghasilkan efek regresi yang
bervaria-si, biasanya masa LV tak berubah atau regresi sedikit saja (Messerli
1990), dari suatu penelitian bahkan meningkatkan masa LV meskipun terjadi
penurunan tekanan darah (Pringle 1990). Pada analisis meta Regresi LVH
dengan pemberian diure-tik lebih banyak oleh karena penurunan volume akhir
diastolik (Dahlof et al 1992; Novo et al 1994). Indapamide sebaliknya meskipun
termasuk golongan diuretik, efek penurunan tekanan darah lebih banyak karena
efek vasodi-latasi langsung sementara efek diuretik subklinik karena itu
terjadi penurunan nyata dari masa LV (Chapelon-Abric 1991). Diuretik thiazide
menginduksi terjadinya hipokalemia, hipo-magnesia dan hiponatremia yang
dapat mencetuskan terjadinya disritmia ventrikel dan selanjutnya kematian
mendadak. Keadaan akan lebih parah pada penderita dengan katekolamin berlebih
misalnya pada gagal jantung khronik (Messerli 1990).
3. Golongan Penyekat Beta : Puncak tekanan sistolik merupakan rangsangan
terjadinya LVH, sehingga dengan mengurangi puncak-puncak tersebut (mengurangi
denyut jantung) dengan menggunakan obat-obat seperti proprano-lol, atenolol,
metoprolol dan timolol semuanya menyebabkan regresi LVH. Sebaliknya pindolol
yang mempunyai sifat aktifi-tas simpatik intrinsik (ISA) tidak mengurangi
denyut jantung dan tidak menimbulkan regresi LVH. Nampaknya reseptor beta
berperanan terhadap timbulnya LVH. Regresi LVH pada beta blocker tidak
berhubungan erat dengan penurunan tekanan darah (Chapelon-Abric 1991).
Peneliti lain mengatakan penurunan LVH paralel dengan penurunan tekanan
darah (Messerli 1990). Pengaruh pada ektopi ventrikel masih belum jelas,
meskipun ada dugaan penurunan ektopi ventrikel paralel dengan regresi LVH
(Messerli 1990). Penelitian acak tersamar ganda dengan 4 jenis obat antihi-pertensi
(diltiazem 120-240 mg/hari, metoprolol 100-200 mg/hari, enalapril 10-120
mg/hari dan hidrokhlorotiazid 50-100 mg/hari) dengan 3 minggu plasebo dan
3 minggu pengobatan, menunjukkan bahwa diltiazem menurunkan kontraksi ventrikel
prematur (PVC) sebesar 65% (P<0,05), metoprolol menurunkan kontraksi
ventrikel prematur (PVC) sebesar 52% (p<0.07), sedangkan enalapril dan
hidrokhlorotiazid tidak mempunyai efek terhadap aritmia (Papademetriou
et al 1994).
4. Golongan Anti-Adrenergik Sentral : Penurunan masa LV karena Alpha-methyldopa
tak tergantung penurunan tekanan darah, yang paling besar pada penderita
dengan LVH yang besar pula (Chapelon-Abric 1991). Obat yang lain (guanabenz,
guanfacine dan clonidine) juga menurunkan massa LV (Messerli 1990). Karena
obat golongan ini (alpha-methyldopa, guanabenz, guanfacine dan clonidine)
mengurangi LVH, mungkin juga memper-baiki ektopi ventrikel, paling tidak
apabila ektopi ventrikel tersebut akibat LVH yang lama (Messerli 1990).
5. Anti-Adrenergik Perifer : Dari obat-obat golongan ini (prazosin, trimazosin
dan doxaz-osin) mungkin juga memperbaiki disritmia yang berhubungan dengan
regresi LVH (Messerli 1990).
6. Golongan Vasodilator : Vasodilator golongan hydralazine tidak menimbulkan
regresi LVH walaupun tekanan darah dapat terkontrol baik. Hal ini mungkin
akibat timbulnya takhikardia karena peningkatan rang-sang simpatik. Prazosin
mungkin juga kurang efektif terhadap regresi LVH (Chapelon-Abric 1991).
Tetapi penelitian lain melaporkan adanya regresi LVH dengan pemberian prazosine
(Messerli 1990). Minoxidil menginduksi takhikardia dan juga retensi cairan
sehingga terdapat beban volume berlebih, karena itu meningkat-kan LVH meskipun
kontrol tekanan darah baik. Meskipun hal ini diduga oleh karena renin,
penambahan propranolol tidak mence-gah peningkatan LVH (Chapelon-Abric
1991). Obat golongan "a-1 blocker" yang baru doxazosin ternyata
dapat menyebabkan regresi LVH dengan nyata (Corral et al 1991).
7. Golongan Penyekat ACE : Meskipun menyebabkan peningkatan aktifitas renin,
ACE inhibitor menimbulkan regresi LVH bahkan dengan sedikit penurun-an
tekanan darah saja. Efek tersebut oleh karena penurunan angiotensin II
yang sudah diketahui merangsang sintesis pro-tein miokardial yang merupakan
penyebab LVH (Chapelon-Abric 1991). Dari analisis-meta Penyekat ACE menurunkan
LVH paling besar yaitu 15%, sedangkan obat-obat yang lain penyekat beta
8%, antagonis kalsium 8,5% dan diuretik 11,3% (Dahlof et al 1992).Obat
penyekat enzim perubah angiotensin (Penyekat EPA = ACE Inhibitor) yang
non-selektif selain menyekat ACE sehingga kadar angiotensin II turun, juga
menyekat kininase II sehingga kadar bradikinin meningkat, yang melalui
prostasiklin dan oksid nitrit menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah.
Contoh obat penyekat ACE semacam ini ialah Ramipril (Timmers 1992). Efek
ACE yang non-selektif tersebut dihubungkan dengan efek samping batuk yang
kurang (Sasaguri et al 1994). Sistim Renin-Angiotensin ternyata tidak hanya
terdapat pada ginjal saja, tetapi juga terdapat dibanyak organ lain. Karena
itu selain terdapat sistim endokrin, juga terdapat sistim otokrin dan parakrin
(Opie 1992). Kelainan pembuluh darah perifer pada hipertensi dapat berupa
gangguan fungsi endotel (Panza et al 1990; Roux 1994), hiper-trofi vaskuler
(Roux 1994) dan peningkatan matriks ekstrase-luler seperti kolagen (Roux
1994). Obat penyekat ACE yang bekerja dijaringan seperti ramipril dan cilazapril
menurunkan hipertrofi vaskuler (Roux 1994), demikian pula quinapril dan
cilazapril menurunkan jumlah kolagen pada dinding pembuluh darah (Roux
1994). Obat penyekat ACE bekerja dijaringan yang telah diteliti saat ini
ialah ramipril, cilazapril, quinapril, benazepril, perindopril (Johnston
et al 1989; Roux 1994; Rangoonwala 1992). Efek terhadap ektopi ventrikel
mungkin karena efek secara tidak langsung regresi LVH (Messerli 1990).
Penelitian acak 4 jenis obat (Atenolol, Enalapril, Verapamil dan Hydrochlor-othiazide)
yang diberikan pada 46 penderita hipertensi dengan LVH selama 6 bulan membuktikan
bahwa regresi LVH menurunkan jumlah aritmia ventrikel sebesar 43% dan episode
iskhemia mio-kardium sebesar 47% yang secara statistik bermakna. Efek tersebut
paling nyata pada penderita dengan regresi LVH yang nyata pula. Pada penelitian
tersebut tak terdapat regresi LVH dengan pemberian Hydrochlorothiazide
(Novo et al 1994).
8. Golongan Antagonis Kalsium : Nifedipine, diltiazem dan verapamil yang
menyebabkan vasodi-latasi perifer tanpa menimbulkan takhikardia refleks,
menurun-kan LVH (Chapelon-Abric 1991). Penurunan LVH nampaknya paralel
dengan penurunan tekanan darah (Messerli 1990). Penurunan LVH pada pemberian
Antagonis Kalsium, dihubungkan dengan penurunan ektopi ventrikel lebih
dari 75%. Berbeda dengan pemberian Thiazide yang tidak menurunkan LVH maupun
supresi ektopi ventrikel, dengan potensi penurunan tekanan darah yang sama.
Patofisiologi terjadinya penurunan ektopi ventrikel tersebut belum jelas,
mungkin karena : 1. penurunan beban hemodinamik dan perbaikan perfusi subendokar-dial,
2. regresi LVH, 3. efek elektrofisiologi langsung Antagonis Kalsium, 4.
Kombinasi faktor-faktor tersebut (Messerli 1990).
KEPUSTAKAAN :
1. Alderman MH,
Ooi WL, Madhavan S, et al. Treatment-induced blood pressure reduction and
the risk of Myocardial Infarc-tion. J.A.M.A. l989;262 : 920-924.
2. Ames
RP, and Hill P. Antihypertensive therapy and risk of Coronary Heart Disease.
J.Cardiovasc.Pharmacol. 1982;4 (Suppl.2) : S206-S212.
3. Berry
G. Strokes and hypertension - the effect of treatment. Med J Aust 1987;
146:406-409.
4. Barzizza
F, Magnani L, Zocchi MT, et al : Weight loss vs Captopril treatment in
Obese Hypertensive patients. J Hyper-tens 1994;12 (Suppl 3):S86.
5. Carr
AA, Prisant LM, and Watkins LO. Detection of hyperten-sive left ventricular
hypertrophy. Hypertension 1985;7:948-954.
6. Chapelon-Abric
C : Left ventricular hypertrophy and Hyperten-sion. Hypertens Let 1990;No
25:3-4.
7. Chobanian
AV and Gavras H. Hypertension. Clin Symposia. 1990; 42:2-32.
8. Corral JL,
Lopez NC, Pecorelli A et al. Doxazosin in the treatment of mild or moderate
essential hypertension : An echocardiographic study. Am Heart J 1991;121:352-356.
9. Cruickshank
JM, Thorp JM, and Zacharias FJ. Benefits and potential harm of lowering
High Blood Pressure. Lancet 1987;1:581-584.
10. Cruicshank
JM. Coronary flow reserve and the J curve relation between diastolic blood
pressure and myocardial infarction. Br Med J 1988;297 : 1227-1230.
11. Dahlof
B, Pennert K, and Hansson L : Reversal of Left Ven-tricular Hypertrophy
inypertensive patients. A metaanalysis of 109 treatment studies. Am J Hypertens
1992;5:95-110.
12. Devereux
RB : Silent Ischemia, Ventricular Arrhythmias, and Complications of Hypertension.
Circulation 1992;85;1948-1950.
13. Frishman WH.
Clinical significance of beta1-selectivity and intrinsic sympathomimetic
activity in a Beta-Adrenergic Blocking drug. Am J Cardiol 1987;59 : 33F-37F.
14. Frishman
WH, Charlap S, Kimmel B et al. Diltiazem, Nifedi-pine, and their combination
in patients with Stable Angina Pectoris: effects on angina, exercise tolerance,
and the ambulatory electrocardiographic ST segment. Circulation 1988;77
: 774-786.
15. Greenberg
G, Brennan PJ, and Miall WE. Effects of Diuretic and Beta-Blocker therapy
in the Medical Research Council Trial. Am J Med 1984;76 (2A) : 45-51.
Intervention Trial : A review. Drugs 1986;31 (Suppl.1) : 13-21.
17. Hankey GJ
and Gubbay SS. Focal cerebral ischaemia and infarc-tion due to antihypertensive
therapy. Med J Aust 1987; 146:412-414.
18. Hansson L.
Assessment of the patient’s response. J Hypert 1985;3(suppl.2) : S65-S69.
19. Houston MC.
Hypertension strategies for therapeutic interven-tion and prevention of
end-organ dfamage. Primary Care 1991;18:713-753.
20. Johnston
CI, Fabris B, Yamada H, et al : Comparative studies of tissue inhibition
by angiotensine converting enzyme in-hibitors. J Hypertension 1989;7(Suppl
5):S11-S16.
21. Joint
National Committee. The 1988 report of the Joint National Committee on
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. Arch Intern
Med 1988;148:1023-1038.
22. Joint
National Committee. The Fifth Report of the Joint National Committee on
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC V). Arch
Intern Med 1993;153:154-183.
prevalence, incidence, and mortality in the Framingham Study. Ann Intern
Med 1969;71:89-101.
24. Kannel
WB, Gordon T, Castelli WP, Margolis JR. Electrocardio-graphic left ventricular
hypertrophy and risk coronary heart disease : the Framingham Study. Ann
Intern Med 1970;72:813-822.
25. Kannel
WB, Doyle JT, McNamara PM, et al : Precursors of sudden coronary death
: Fgactors related to the incidence of sudden death. Circulation 1975;51:606-613.
26. Kannel
WB, McGee D, Gordon T. A generalized risk profile : The Framingham Study.
Am J Cardiol 1976;38:46-51.
27. Kannel
WB. Prevalence and natural history of electrocardio-graphic left ventricular
hypertrophy. Am J Med 1983;75(3A):4-11.
28. Kannel WB, McGee
DL, Schatzkin A. An epidemiological perspec-tive of sudden death : 26-year
follow-up in the Framingham Study. Drug 1984;28(Suppl 1):1-16.
29. Kannel WB,
Dannenberg AL, Abbott RD : Unrecognized myocardial infarction and hypertension
: The Framingham Study. Am Heart J 1985;109:581-585.
30. Kannel
WB : Hypertension. Relationship with other risk factors. Drugs 1986;31
(Suppl.1) : 1-11.
31. Kendall
MJ. Impact of Beta1-selectivity and intrinsic sym-pathomimetic activity
on potential unwanted noncardiovascular effects of Beta-Blockers. Am J
Cardiol 1987;59 : 44F-47F.
32. Langford HG.
Further analysis of the Hypertension Detection and Follow-up Program. Drugs
1986;31 (Suppl.1) : 23-28.
33. Leren
P, and Helgeland A. Oslo Hypertension Study. Drugs 1986;31 (Suppl.1) :
41-45.
34. Logan
AG. Mild Hypertension - Controversies in Management. Ciba-Geigy Limited,
Basle, Switzerland, 1987.
35. Mauersberger
H. Effect of Prazosin on Blood Pressure and Plasma Lipids in patients receiving
a Beta-Blocker and Diuretic regimen. Am J Med 1984;76 (2A) : 101-104.
36. Messerli 1990
37. National
Cholesterol Education Program Expert Panel : Detec-tion, Evaluation, and
Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel II).
Circulation 1994;89:1329-1445.
38. Novo
S, Liquori M, Longo B, et al : Effects of Chronic Anti-hypertensive treatment
on Left Ventricular Mass (LVM), Ven-tricular Arrhythmias (VA) and Transient
Episodes of Myocardi-al Ischemia (TEI) in Hypertensive patients. J Hypertens
1994;12 (Suppl 3): S96).
39. Olsson G. Effect
on atherosclerotic complications in hyper-tensives : results of the Stockholm
Metoprolol (Secondary Prevention) Trial. Hypertension - the tip of Iceberg
! At-tacking the disease, not just the symptoms. Madrid, October 1987,
pp. 34-38.
40. Opie LH
: Angiotensine Converting Enzyme Inhibitors. Scien-tific basis for clinical
use. New York:Wiley-Liss, 1992.
41. O`Rourke RA. Rationale
for Calcium Entry-Blocking Drugs in Systemic Hypertension complicated by
Coronary Artery Disease. Am J Cardiol 1985;56 : 34H-40H.
42. Panza
JA, Quyyumi AA, Brush JE Jr and Epstein SE. Abnormal endothelium-dependent
vascular relaxation in patients with essential hypertension. N Engl J Med
1990;323:2227.
43. Papademetriou
V, Narayan P, Kokkinos P, et al : Antihyperten-sive therapy and cardiac
arrhythmias in hypertensive patients with moderate to severe LVH (Abstract).
J Hypertension 1994;12 (Suppl 3): S-94.
44. Pfeffer and
Pfeffer : Reversing Cardiac Hypertrophy in Hyper-tension. N Engl J Med
1990;322:1388-1390.
45. Prichard
BNC. Beta Blockers. Part II : Current Therapeutic practice reviewed. Drugs
1986;31 (Suppl.1) : 67-70.
46. Prichard BNC. Risk-benefits
of antihypertensive drugs - Beta Blockers. Clin Exp Pharmacol Physiol 1988;15
: 203-213.
47. Pringle
SD : Regression of hypertensive left ventricular hypertriophy. Hypertens
Let 1990;No 25:3-5.
48. Rangoonwala
B : The importance of Tissue Specificity and Vascular Selectivity in the
treatment of Hypertension. Bom-bay:International Congress on Heart and
Hypertension, Decem-ber 3-6 1992:25-30.
49. Romhilt
DW, Bove KE, Norris RJ, et al. A critical appraisal of the electrocardiographic
criteria for the diagnosis of left ventricular. Circulation 1969;40:185-195.
50. Romhilt
DW, Bove KE, Norris RJ, et al. A critical appraisal of the electrocardiographic
criteria for the diagnosis of left ventricular hypertrophy. Circulation
1969;40:185-195.
51. Roux
S : Vascular remodelling in Hypertensive patient. Bandung:KOPERKI VII,
June 25-29 1994.
52. Russel
RP. Side effects of Calcium Channel Blockers. Hyper-tension 1988;11 (Suppl.II)
: II-42 - II-44. Sasaguri 1994.
53. Sleight
P. Prevention coronary heart disease and hyperten-sion. J Cardiovasc Pharmacol
1988; 12(Suppl 7):S3-S10.
54. Stadler P,
Leonardi L, Riesen W, et al. Cardiovascular ef-fects of Verapamil in essential
hypertension. Clin Pharmacol Ther 1987; 42 : 485-492.
55. Timmers
RW : The benefit of ACE-inhibition beyond blood pressure control. Bandung:KOPERKI
VII, June 25-29 1994.
56. Weinberger
MH. Treatment of Hypertension in the 1990s. Am J Med 1987;82 (Suppl.1A)
: 44-49.
57. Wikstrand J.
Primary Prevention with Metoprolol in patients with hypertension (MAPHY
study). Hypertension - the tip of Iceberg ! Attacking the disease, not
just the symptoms. Madrid, October 1987. pp 38-40.
58. Wilhelmsen
L. Risk factor for Coronary Heart Disease in perspective. European Intervention
Trial. Am J Med 1984;76 (2A):37-40.
59. Wilhelmsen
L, Berglund G, Elmfeldt D, Samuelsson O, and Svardsudd K. The Multifactor
Primary Prevention Trial in Gotheborg, Sweden - Comparison with a previously
Untreated Population Sample. Drugs 1986;31 (Suppl.1) : 47-51.
60. Wilhelmsen
L. Factors influencing the choice of first-line therapy in hypertension.
Hypertension - the tip of Iceberg ! Attacking the disease, not just the
symptoms. Madrid, October 1987. pp 41-43.
61. Wroblewski
EM, Pearl FJ, Hammer WJ, et al. False positive stress tests due to undetected
left ventricular hypertrophy. Am J Epidemiol 1982;115:412-417.
62. Yurenev
AP. DeQuattro V, Dubov PB, et al : Silent Myocardial Ischemia in patients
with Essential Hypertension. Am J Hyper-tens 1992;5:169S-174S.
63. Yurenev
AP, Dyakonova HG, Novikov ID, et al : Management of Essential Hypertension
in patients with different degrees of Left Ventricular Hypertrophy. Multicenter
Trial. Am J Hyper-tens 1992;5:182S-189S.
64. Zanchetti
A. Treatment goals in Hypertension. Am J Med 1987;76 (2A) : 1-7.
65. Zehender
M, Meinertz T, Hohnloser S, et al : Prevalence of circadian variations
and spontaneous variability of cardiac disorders and ECG changes suggestive
of Myocardial Ischemia in Systemic Arterial Hypertension. Circulation 1992;85:1808-1815.
VALVULOPLASTI
PULMONAL PERKUTAN DENGAN BALON INOUE
Irwan G. Iwan N. Boestan
Laboratorium / UPF Kardiologi
FK UNAIR / RSUSD Dr.Soetomo S U R A B A Y A
RINGKASAN :
Stenosis pulmonal mempunyai angka kejadian antara 7,5 sampai 9,0% dari
semua kelainan jantung kongenital. Sebelum ditemukannya valvotomi dengan
balon, pengobatan stenosis pulmonal dilakukan secara bedah. Sejak tahun
1982, valvuloplasti balon perkutan dilakukan secara sukses pada penderita
dengan stenosis pulmonal kongenital maupun yang didapat. Penggunaan balon
Inoue untuk komisurotomi mitral sudah dikenal secara luas karena efisien,
aman dan teknis sederhana. Disini kami melaporkan penggunaan balon inoue
pada seorang penderita dengan kelainan stenosis pulmonal kongenital. Tekanan
sistolik ventrikel kanan sebesar 60 mmHg sebelum dilatasi, turun menjadi
24 mmHg setelah dilatasi. Gradient tekanan antara ventrikel kanan dan arteri
pulmonalis sebesar 44 mg sebelum dilatasi, turun menjadi 12 mmHg setelah
dilatasi. Kasus ini menunjukkan bahwa balon inoue merupakan salah satu
alternatif yang baik disamping cara-cara yang konvensional (Ballon Mansfield)
untuk valvuloplasti, pulmonal pada penderita dengan stenosis pulmonalis.
SUMMARY :
The prevalence of pulmonal stenosis was vary between 7.5 to 9.0% of all
Congenital Heart Disease. Surgical approach was the only choice for correction
of pulmonal stenosis before balloon valvotomy was introduced. Since 1982,
percutaneous balloon valvuloplasty has been successfully performed on both
Congenital and acquired Pulmonal Stenosis. Inoue Balloon has been widely
used for Mitral Commissurotomy because of its savety, efficiency and technical
simplicity. a successful of Inoue Percutaneous Balloon Commissurotomy on
Congenital Pumonal Stenosis was reported. The right ventricular pressure
and the gradient between the right ventricular and pulmonic artery was
respectively de-creased from 60 mmHg pre dilatation to 24 mmHg post dilatation
and from 44 mmHg pre dilatation to 12 mmHg post dilatation. Beside the
conventional Mansfield methode this Inoue Balloon Pulmonary Valvuloplasty
is on alternative.
PENDAHULUAN :
Stenosis katup pulmonal merupakan kelainan jantung kon-genital yang sering
didapatkan pada penderita dewasa (5). Angka kejadian stenosis pulmonal
berkisar antara 7,5% sampai 9,0% dari semua kelainan jantung kongenital
(12,20). Pada tahun 1954, Rubio dan Limon Lason menggambarkan tehnik valvotomi
pulmonal perkutan dengan menggunakan kateter ureter (19,20). Perkembangan
selanjutnya oleh Semb dkk (th 1979) serta Kan dkk menggunakan kateter dengan
ujung balon untuk pengobatan stenosis pulmonal sebagai pendekatan secara
non bedah (5,17,19,20). Sejak tahun 1982, valvuloplasti balon perkutan
dilakukan seca-ra sukses pada penderita dengan stenosis pulmonal kongenital
atau didapat, stenosis aorta kongenital atau didapat, stenosis mitral kongenital/rematik
dan stenosis trikuspid yang didapat (4). Penggunaan balon Inoue untuk komisurotomi
mitral perkutan sudah dikenal secara luas, tetapi penggunaan pada penderita
dengan stenosis pulmonal jarang dilaporkan. Kami melaporkan penggunaan
balon Inoue pada seorang penderita dengan stenosis katup pulmonal dengan
hasil yang cukup memuaskan.
KASUS :
Seorang laki-laki, Sdr. M, umur 27 tahun, bangsa Indone-sia, suku Jawa,
pekerjaan hakim, dikirim dari Madiun untuk evaluasi kardiovaskuler karena
ditemukan adanya bising pada jantungnya pada saat dilakukan pemeriksaan
kesehatan untuk pegawai negeri. Penderita selama ini tidak mempunyai keluhan
sesak napas, nyeri dada maupun berdebar-debar. Penderita tidak pernah pingsan
pada saat melakukan aktifitas. Pada pemeriksaan fisik saat masuk RS tanggal
26 Januari 1994 didapatkan seorang lelaki muda dengan kesadaran kompos-mentis,
badan kurus (TB : 170 cm, BB: 56 kg), tidak anemis, tidak ikterus, tidak
sianosis, tidak sesak napas. Tekanan da-rah : 120/80 mmHg, Nadi : 98 x/menit,
teratur, isi cukup, fre-kwensi pernapasan: 20 x/menit, suhu ketiak 37o
C. Pemeriksaan kepala/leher : tidak terdapat bendungan vena leher dan tidak
didapatkan pembesaran kelenjar limfe. Pada pemeriksaan dada, tidak terlihat
"voussure cardiac", iktus kordis teraba setinggi RAI V pada garis
tengah klavikula kiri, tidak teraba thrill, bunyi jantung I tunggal, bunyi
jantung II tunggal dengan intensitas yang menurun. Terdengar bising ejeksi
sistolik, kasar ("Harsh"), derajat III/VI, di RAI II kiri, perjalanan
sepanjang garis para sternal kiri. Tidak terdengar ronkhi maupun wheezing
pada kedua lapangan paru. Pemeriksaan perut, hati dan lien tidak teraba,
tidak terdapat asites. Pada pemeriksaan ekstremitas tidak didapatkan edema
pretibial, tidak didapatkan jari tabuh maupun sianosis. Pemeriksaan laboratorium
pada tanggal 27 Januari 1994 didapat-kan : Hb 12,5 g/dl; LED : 12 mm/jam;
lekosit : 5900/mm3; PCV : 40%; Gula darah puasa : 108 mg/dl; BUN : 8,3
mg/dl; S. kreati-nin : 0.86 mg/dl; NA/K : 140/4.3 mMol/l; Bil. Total/terikat
: 1,01/0.20 mg/dl; SGOT/SGPT : 13/14 U/L; PPT : 13,0 det (12,6 det); APTT
: 29,0 det (27,0 det); HBsAg negatip. Pemeriksaan elektrokardiografi pada
tanggal 26-1-1994 menun-jukkan irama sinus (100 x/menit); hipertropi ventrikel
kanan. Pemeriksaan foto polos dada pada tanggal 28 Januari 1994 menunjukkan
jantung tidak membesar dengan rasio kardio toraks: 50%; konus pulmonalis
menonjol, gambaran vaskularisasi paru normal. Pemeriksaan Ekokardiografi
pada tanggal 26 Januari 1994 menun-jukkan gambaran stenosis pulmonal yang
valvular dengan PG sistolik sebesar 56,7 mmHg. Tidak didapatkan regurgitasi
katup pulmonal. Diameter ventrikel kiri normal (EDD : 44 mm), fungsi ventrikel
kiri baik dengan fraksi ejeksi 68%. Pemeriksaan exercise stress test pada
tanggal 27 Januari 1994 menunjukkan hasil : kapasitas fungsional 10 Mets
dengan lama exercise 12 menit dan test dihentikan karena kelelahan umum
dari penderita. Selama dan sesudah exercise test tidak terda-pat perubahan
gambaran ST-T yang bermakna. Pemeriksaan faal paru pada tanggal 28 Januari
1994 menunjukkan hasil kapasitas vital : 96,96%, FVC : 99,72%, FEV 1,0
: 100,52%, MBC : 87,19%. Kesimpulan: tidak terdapat obstruksi maupun restriksi.
Hasil kateterisasi pada tanggal 29 Januari 1994 -----------------------------------------------------------------------------------
Tempat Tekanan Tekanan rerata Saturasi Keterangan (mmHg) (mmHg) (%) -----------------------------------------------------------------------------------
SVCH - - 73,5 SVCL - - 72,9 RAH - - 74,2 RAM 0-6 3 74,8 RAL - - 75,3 IVCH
- - 77,0 IVCL - - 80,5 RVI - - 72,7 RVA 60/0-6 24 72,1 RVOT 60/3 24 72,0
MPA 16/8 11 70,3 PG sist (RVOT LV 120/0-10 47 97,3 -MPA): 44mmHg Ao 120/80
93 97,1 -----------------------------------------------------------------------------------
Hasil angiografi ventrikel kanan pada posisi AP dan lateral menunjukkan
gambaran penyempitan katup pulmonal dengan diame-ter anulus sebesar 2,5
cm dan tidak tampak gambaran penyempi-tan pada daerah infundibular. Dengan
adanya hasil kateterisasi yang menunjukkan tekanan sistolik ventrikel kanan
yang lebih besar dari 50 mmHg maka diputuskan untuk dilakukan tindakan
valvuloplasti pulmonal dengan menggunakan balon Inoue. Balon Inoue ukuran
24 mm dipilih berdasarkan rekomendasi dari beberapa hasil penelitian untuk
menggunakan ukuran balon sebe-sar 1,2 - 1,4 kali ukuran anulus katup pulmonal.
Balon Inoue ukuran 24 mm dimasukkan secara perlahan melalui vena femoralis
kanan kedalam a. pulmonalis melalui katup pul-monal dengan tuntunan kawat
penuntun ("guide wire") ukuran 0,32 (260 cm) yang berada pada
posisi a pulmonalis kiri.
Hasil evaluasi sebelum dan setelah tindakan valvuloplasti ---------------------------------------------------------------------------
Valvuloplasti perkutan Pre Post ---------------------------------------------------------------------------
Ekokardiografi Stenosis pulmonal valvular + + Regurgitasi pulmonal - -
PG sistolik (RV-MPA) (mmHg) 56,7 12,7 ---------------------------------------------------------------------------
Invasif Cardiac Index (L/menit/m) 3 3,2 RV Pressure (mmHg) 60/3 36/4 Tek
a pulmonalis (MPA) (mmHg) 16/8 24/8 PG sistolik (RV -MPA) (mmHg) 44 12
RV/SA 0,5 0,3 ---------------------------------------------------------------------------
RV : right ventricle; PG : Pressure Gradient MPA : Main pulmonary Artery
SA : Systemic artery
Balon bagian distal mula-mula dikembangkan dan setelah kateter ditarik
sampai pada posisi katup pulmonal yang tepat, balon bagian proksimal dikembangkan
sampai pinggang balon menghilang. Pengembangan balon dilakukan 4x berturut-turut
dengan ukuran pengembangan balon masing-masing sebesar: 21, 22, 23 dan
24 mm. Setiap selesai pengembangan balon dilakukan evaluasi dengan melakukan
pengukuran tekanan dari a pulmonalis dan ventrikel kanan. Pada evaluasi
1 bulan setelah tindakan valvuloplasti pulmonal tidak ada keluhan dari
penderita. Pemeriksaan uji beban latihan menunjukkan kenaikan kapa-sitas
fungsional dari sebelum valvuloplasti (10 Mets) menjadi 12 Mets setelah
valvuloplasti. Pemeriksaan ekokardiografi tidak menunjukkan adanya regurgita-si
pulmonal dan PG sistolik (RV-MPA) sebesar 10 mmHg.
PEMBAHASAN :
Stenosis pulmonal valvular merupakan kelainan jantung kongenital yang sering
didapatkan pada penderita dewasa (5). Penderita dengan stenosis pulmonal
ringan sampai sedang umum-nya tidak didapatkan adanya keluhan/asimptomatik.
Sedangkan stenosis pulmonal yang berat dapat menimbulkan keluhan berupa
sesak napas, kelelahan akibat berkurangnya curah jantung seba-gai respon
terhadap latihan, dan nyeri dada sebagai akibat ketidak seimbangan antara
tersedianya oksigen dan meningkatnya kebutuhan oksigen akibat adanya beban
tekanan dari ventrikel kanan (5,7). Gambaran elektrokardiografi dan foto
polos dada tidak dapat dipakai untuk menentukan derajat beratnya stenosis
pulmonal (5,16). Pada stenosis pulmonal yang ringan sampai sedang dapat
ditemukan gambaran elektrokardiografi yang normal sedangkan stenosis pulmonal
yang berat biasanya gambaran elektrokardiografinya abnormal. Foto polos
dada penderita stenosis pulmonal yang ringan - sedang menunjukkan ukuran
jantung yang normal sedang pada stenosis pulmonal yang berat ukuran jantung
sedikit membesar (7). Pemeriksaan ekokardiografi pada penderita stenosis
pulmo-nal merupakan pemeriksaan non invasif yang dapat dipakai untuk menentukan
beratnya stenosis dengan melihat fungsi ventrikel kanan, hipertropi ventrikel
kanan, derajat mobilitas katup dan "gradient" tekanan sistolik
yang melewati katup pulmonal (5).
Beberapa peneliti membagi beratnya derajat stenosis pulmonal berdasarkan
beberapa parameter (15,20,22). --------------------------------------------------------------------------------------------------
Severity RV systolic pre- PV Pressure Ratio RV/SA Valve area ssure (mmHg)
Gradient(mmHg) (cm2) --------------------------------------------------------------------------------------------------
Mild <50 25-49 < 0,5 >1,0 Moderate 50-100 50-79 0,5-0,75 0,5-1,0
Severe >100 >80 >0,75 <0,5 ---------------------------------------------------------------------------------------------------
Secara patologi ada 2 bentuk gambaran stenosis pulmonal yaitu stenosis
pulmonal kongenital terpisah ("isolated") dan steno-sis pulmonal
displastik. Stenosis pulmonal kongenital terpisah menunjukkan gambaran
daun katup yang menebal dan berbentuk kubah pada saat sistolik, adanya
perlekatan komisura, terjadi-nya kalsifikasi, dan adanya dilatasi pasca
stenosis dari a pulmonalis. Sedangkan pada stenosis pulmonal displastik
menun-jukkan gambaran mobilitas daun katup yang jelek, daun katup terdiri
jaringan "nodular" dan "myxomatous", tidak adanya perlekatan
komisura, anulus hipolastik dan tidak adanya dilat-asi pasca stenosis (2,6,9,21).
Dari pemeriksaan klinis, EKG, foto polos dada, ekokardiografi dan kateterisasi,
penderita kami menunjukkan stenosis pulmonal kongenital terpisah derajat
sedang. Gambaran ekokardiografi dan angiografi ventrikel kanan posisi lateral
tampak daun katup pulmonal yang menebal dan berbentuk kubah pada saat sistolik
dan terlihat adanya dilatasi pasca stenosis. Pengobatan pulmonal stenosis
sebelum tahun 1982 adalah valvotomi pulmonal secara bedah terbuka (2,5,20).
Mortalitas operasi bervariasi antara 3-14% pada beberapa pusat penelitian.
Valvotomi pulmonal secara bedah hampir selalu sukses dilakukan pada penderita
dengan stenosis pulmonal kongenital terpisah, dimana mortalitas operasi
pada saat ini adalah ± 1% (2,16). Indikasi dilakukannya valvotomi
pulmonal secara bedah adalah penderita stenosis pulmonal derajat sedang
sampai berat baik dengan keluhan maupun tanpa keluhan (20). Beberapa problema
yang ditimbulkan akibat valvotomi secara bedah adalah lamanya tinggal di
Rumah Sakit, timbulnya jaring-an parut, trauma psikologis, hubungan dengan
produk darah/-transfusi, dan dilakukannya bedah jantung terbuka (10,20).
Dengan ditemukannya cara alternatif untuk pengobatan ste-nosis pulmonal
dengan menggunakan kateter balon, maka cara bedah sudah banyak ditinggalkan
pada saat ini (2,5,14,18,20). Ada 2 cara valvuloplasti pulmonal dengan
kateter balon yaitu cara mansfield dan Balon Inoue. Penggunaan cara mansfield
sudah banyak dilaporkan oleh banyak peneliti, sedangkan valvu-loplasti
dengan balon Inoue hanya beberapa saja dilaporkan (4,8). Beberapa penelitian
menganjurkan valvuloplasti pulmonal pada keadaan sbb (2,5,11,20,21) : 1.
stenosis pulmonal derajat sedang sampai berat 2. stenosis pulmonal dengan
tekanan sistolik ventrikel kanan lebih besar 50 mmHg pada saat istirahat
3. stenosis pulmonal dengan 'gradient" tekanan katup pulmonal melebihi
40-50 mmHg pada saat istirahat. Sedangkan kontra indikasi relatif valvuloplasti
pulmonal adalah stenosis pulmonal displastik (2,6,17,20,21). Pada penderita
kami indikasi dilakukannya valvuloplasti pulmo-nal adalah adanya stenosis
pulmonal derajat sedang dengan tekanan sistolik ventrikel kanan 60 mmHg
(>50 mmHg). Mekanisme valvuloplasti pulmonal tidak seluruhnya dapat
dimengerti dan keberhasilan valvuloplasti ini dapat diakibat-kan oleh robeknya/deformitas
daun katup, pemisahan komisura yang menyatu, pemecahan kalsifikasi katup,
dilatasi dari anulus atau kombinasi dan faktor-faktor tersebut (5,14,19).
Pemilihan ukuran balon valvuloplasti yang digunakan didasarkan pada pengukuran
dari diameter anulus katup pulmonal secara ekokardiografi atau angiografi.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, ukuran balon yang efektif
untuk valvuloplasti pulmonal adalah sebesar 20-40% (1,2 - 1,4 x) lebih
besar dan pada diameter anulus katup pulmonal (1,2,3,5,11,13,20). Diameter
anulus katup mitral yang sebenarnya dihitung berdasarkan rumus :
Diameter kateter yang sebenarnya Diameter anulus yang --------------------------------------------------
x diukur (Angiografi) Diameter kateter yang diukur (Angio) Pada penderita
kami pengukuran diameter anulus yang sebenarnya diukur berdasarkan angiografi
dengan memakai tanda ("marker") pada kateter pigtail yang ditempatkan
di ventrikel kanan. Berdasarkan modifikasi rumus diatas diameter anulus
katup pulmonal yang sebenarnya adalah 17 mm. Ukuran balon yang dipilih
adalah antara 20-24 mm (1,2 - 1,4 x 17 mm). Kami memilih valvuloplasti
pulmonal dengan balon Inoue dengan alasan (9) : 1. secara teknis lebih
mudah 2. hasil yang dicapai sebanding dengan penggunaan balon kateter yang
lain (Mansfield) Keberhasilan valvuloplasti pulmonal dapat dilihat dari
menurunnya 'gradient' tekanan pulmonal kurang 30 mmHg dan menurunnya tekanan
ventrikel kanan secara bermakna (2,5). Komplikasi yang terjadi pada valvuloplasti
meliputi perforasi ventrikel kanan, ekstra sistol ventrikel, blok cabang
berkas kanan, regurgitasi pulmonal, trauma pada vena femoralis dan menurunnya
tekanan darah sistemik selama pengembangan balon (2,5). Penderita kami
setelah valvuloplasti menunjukkan menurunnya "gradient" tekanan
pulmonal sebesar 73% (dari 44 mmHg menjadi 12 mmHg) serta menurunnya tekanan
sistolik ventrikel kanan sebesar 40% (dan 60 mmHg menjadi 36 mmHg). Tidak
kami jumpai komplikasi selama ataupun sesudah kateterisasi. Pada evaluasi
ekokardiografi 1 bulan setelah tindakan valvuloplasti tidak ditemukan regurgitasi
pulmonal dan "gradi-ent" tekanan pulmonal rendah (10 mmHg). Hal
ini menunjukkan bahwa balon Inoue juga dapat dipergunakan untuk valvuloplasti
pulmonal dengan hasil yang cukup memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA :
1. Ali Khan, M.A., Yousef, S.A., and Mullins, C.E. Percutaneous transluminal
balloon pulmonary valvuloplasty for the relief of pulmonary valve stenosis
with special reference to double-balloon technique. Am. Heart J. 112(1):158,1986.
2. Beekman, R.H., and Rocchini, A.P. Pulmonary valvuloplasty. In : Textbook
of Interventional Cardiology. Editor: Topol, E.J. W.B. Saunders Company.
Philadelphia, 1990, p. 900.
3. Ben-Shachar, G., Cohen, M.H., Sivakoff, M.C., Portman, M.A., Riemenschneider,
T.A., and Van Heeckeren, D.W. Development of infundibular obstruction after
percutaneous pulmonary balloon valvuloplasty. J.Am.Coll.Cardiol. 5(3):
754,1985.
4. Chen, C.R., Lo, Z.X., Huang, Z.D., and Cheng, T.O. Concurrent percutaneous
balloon valvuloplasty for combined tricuspid and pulmonic stenoses. Cathet.
Cardiovasc. Diag. 15:55,1988.
5. Cooke, J.P., Seward, J.B., and Holmes, D.R. Transluminal balloon Valvotomy
for Pulmonic Stenosis in an adult. Mayo Clin. Proc. 62:306,1987.
6. Disessa, T.G., Alpert, B.S., Chase, N.A., Birnbaum, S.E., and Watson,
D.C. Balloon valvuloplasty in children with dysplastic pulmonary valves.
Am. J. Cardiol. 60:405,1987.
7. Emmanovilides, G.C., and Baylen, B.G. Pulmonary stenosis. In : Moss
heart disease in infants, children, and adoles-cents. Editors : Adams,
F.H., and Emmanovilides, G.C. 3rd ed. Williams & Wilkins. Baltimore,
1983, p. 234.
8. Jiemin, Z., Liu, Y., Ling, Y., Dai, R., and Zhang, L. Percutaneous Inoue
balloon pulmonary valvuloplasty (ab-stract). Cardiovasc. Intervent. Radiol.
1991:237.
9. Kan, J.S., White, R.I., Mitchell, S.E., Anderson, J.H., and Gardner,
T.j. Percutaneous transluminal balloon valvu-loplasty for pulmonary valve
stenosis. Circulation 69(3): 554,1984.
10. Kan, J.S., White, R.I., Mitchell, S.E., and Gardner, T.J> Percutaneous
balloon valvuloplasty : A new method for treating congenital pulmonary
valve stenosis. N. Engl. J. Med. 307(9):540,1982.
11. Kasab, S.A., Ribeiro, P., and Zaibag, M.A. Use of a double balloon
technique for percuatenous balloon pulmonary valvotomy in adult. Br. Heart.
J. 58:136,1987.
12. Krabill, K., Wang, Y., Einzig, S., and Moller, J.H. Rest and exercise
hemodynamics in pulmonary stenosis : Compari-son of children and adults.
Am. J. Cardiol. 56:360,1985.
13. Lababidi, Z. Balloon dilatation for congenital anomalies in adults.
In : Techniques and applications in Interven-tional cardiology. Editors
: Kulick, D., and Rahimtoola, S.H. Mosby-Year book, Inc. St Louis, 1991,
p. 374.
14. Lababidi, Z., and Wu, J.R. Percutaneous balloon pulmonary valvuloplasty.
Am. J. Cardiol. 52:560,1983.
15. Miller, G. Valvar heart disease. In : Invasive investiga-tion of the
heart. Editor : Miller, G. 1st ed. Blackwell scientific publications, Oxford,
1989, p. 269.
16. Nadas, A.S. Pulmonic stenosis - Indications for surgery in children
and adults. N. Engl. J. Med. 287(23):1196,1972.
17. Nihill, M.R., and Mullins, C.E. Interventional catheteri-zation in
the treatment of congenital lesions. In : The practice of Interventional
Cardiology. Editor : Vogel, J.H.K., and King III, S.B. 2nd ed. Mosby-Year
book, Inc. St Louis, 1993,p. 625.
18. Pepine, C.J., Gessner, I.H., and Feldman, R.l. Percutane-ous balloon
valvuloplasty for pulmonic valve stenosis in the adult. Am. J. Cardiol.
50:1442,1982.
19. Robertson, M., Benson, L.N., Smallhorn, J.S., Musewe, N., Freedom,
R.M., Moes, C.A.F., Burrows, P., Johnston, A.E., Burrows, F.A., and Rowe,
R.D. The morphology of the right ventricular outflow tract after percutaneous
pulmonary valvotomy : Long term follow up. Br. Heart. J. 58:239;1987.
20. Syamasundar Rao, P. Percutaneous balloon valvotomy/Angio-plasty in
congenital heart disease. In : Percutaneous balloon valvuloplasty and related
techniques. Editors : Bashore, T.M., and Davidson, C.J. Williams &
Wilkins Baltimore, 1991, p. 251.
21. Tynan, M., Baker, E.J., Rohmer, J., Jones, O.D.H., Reidy J.F., Joseph,
M.C., and Ottenkamp, J. Percutaneous balloon pulmonary valvuloplasty. Br.
Heart. J. 53:520,1985.
22. Yang, S.S., Bentivoglio, L.G., Maranhao, V., and Goldberg, H. Assessment
of ventricular inflow and outflow obstruction. In : From cardiac catheterization
data to hemodynam-ic parameters. Editors : Yang, S.S., Bentivoglio, L.G.,
Maranhao, V., and Goldberg, H. 3rd ed. F.A. Davis Company, Philadelphia,
1988, p. 122.
PENGGUNAAN
WARFARIN PADA PEMAKAIAN KATUP JANTUNG BUATAN.
Wayan Aryadana Sunoto Pratanu
Laboratorium / UPF Kardiologi
FK UNAIR / RSUD Dr. Soetomo S U R A B A Y A
RINGKASAN :
Penggunaan katup jantung buatan baik yang mekanik maupun bioprostesa telah
banyak menolong penderita-penderita dengan kelainan katup jantung yang
memerlukan penggantian katup. Salah satu kelemahan dari penggunaan katup-katup
tersebut adalah timbulnya trombosis dan tromboemboli. Guna menanggulangi
keadaan tersebut pilihannya adalah menggunakan terapi antikoa-gulan oral/warfarin
yang sampai saat ini dinilai sangat efek-tif, cara pemberian yang mudah,
namun memerlukan pengawasan atau kontrol yang ketat dengan menggunakan
sistim INR. Untuk katup mekanik direkomendasikan penggunaan antikoagulan
oral/warfarin terus menerus dengan level INR 2.5-3.5, sedang-kan pada penggunaan
katup bioprostesa yang tidak disertai kelainan lainnya (AF, riwayat emboli,
adanya trombus di atrium kiri) penggunaan antikoagulan oral/warfarin cukup
3 bulan pertama dengan level INR 2.0 - 3.0. Efek samping dari terapi antikoagulan
oral/warfarin adalah timbulnya perdarahan yang segera dapat ditanggulangi
dengan menurunkan/penghentian pemberian warfarin, pemberian vitamin K,
serta bila diperlukan dapat diterapi dengan "vitamin K - dependent
clotting factors" dalam bentuk plasma atau konsen-trat.
SUMMARY :
The use of mechanic or biological prosthetic valves has helped may patients
with valvular heart disease. One of the set-backs in the use of these valves
is the increase incidence of thromboembolic eevents. Until now the use
of oral anticoagulant (warfarin) therapy to prevent these complication
is considered very effectife, it is easy to dispense, but it needs closed
monitoring by using INR system. Continuous oral anticoagulant (warfarin)
treatment is recommended for mechanical valves with INR level 2.5 - 3.5,
while the biological valves without other complications (atrial fibrillation,
history of emboli, the prersence of thrombus in left atrium), needs only
oral anticoagulant (warfarin) in the first 3 months after surgery with
INR level 2.0 - 3.0. The oral anticoagulant (warfarin) side-effect is bleeding
that can be manage with dose adjustment, vitamin K administration or if
necessary with vitamin K dependent clotting factors in plasma or concentrated
form.
PENDAHULUAN :
Katub buatan ada 2 bentuk yaitu "mechanical valves" dan "tissue
valve" Berkembangnya katup jantung buatan menyebabkan secara drastis
meningkatnya harapan hidup penderita yang menderita penyakit katup jantung.
Katup jantung buatan yang tersedia se-karang valves / bioprosthesis valves"
(19). Disamping keuntungan-keuntungan atau manfaat yang diperoleh dari
pemasangan katup jantung buatan terdapat pula masalah-masalah yang timbul,
salah satu diantaranya adalah trombosis yang mengenai katup, tromboemboli
serta perdarahan yang timbul akibat penggunaan antikoagulan (3,17,19).
Insiden tromboemboli pada penderita yang menggunakan katup mekanik pada
aorta disertai dengan antikoagulan yang tepat berkisar antara 0,5%-3% per
tahun dan 0,5% - 5% per tahun pada penderita yang menggunakan katup mekanik
pada mitral. Perda-rahan yang timbul akibat penggunaan antikoagulan 1,3-2,7%
per tahun dan mortalitasnya 0,1% - 0,5% per tahun. Untuk penderita yang
menggunakan katup bioprostesa pada aorta insiden trombo-emboli 0,2%-3,8%
per tahun, sedangkan pada katup mitral insi-den nya 0,3 - 5,1% per tahun
(17,19). Selama ini telah diguna-kan warfarin sebagai antikoagulan oral
yang efektif untuk mencegah terjadinya trombosis atau emboli pada penderita-penderita
yang menggunakan katup jantung buatan, akan tetapi pemberian yang tidak
tepat akan merugikan penderita itu sen-diri yaitu dapat menyebabkan resiko
terkena tromboemboli lebih tinggi maupun terjadinya komplikasi perdarahan
yang bersifat fatal, oleh karena itu pemakaiannya memerlukan pengawasan
yang seksama (2,7,8,10,15). Dalam tinjauan kepustakaan ini akan dibahas
penggunan warfarin sebagai antikoagulan oral pada penderita-penderita yang
meng-gunakan katup jantung buatan.
KATUP JANTUNG BUATAN :
Macam-macam katup jantung buatan. Pada saat sekarang ini ada 2 bentuk utama
katup jantung bua-tan, yaitu (19) : 1. Mechanical valves : - Caged-ball
: Starr - Edawards valves - Tilting disc : - Bjork - Shiley valves - Medtronic
- Hall - Bileaflet valves : St. Jude Medical valve. 2. Tissue valves /
bioprosthesis valves : - Porcine Heterograft tissue valves : . Carpentier
- Edward porcine heterograph valves . Hancock procine heterograph valves
- Pericardial Bioprosthesis valves . Ionescu - shiley pericardial bioprosthesis
. Carpentier - Edwards pericardial bioprosthesis.
RESIKO TROMBOEMBOLI PADA KATUP JANTUNG BUATAN :
Puluhan ribu katup jantung buatan telah terpasang di seluruh dunia dan
lebih dari 30.000 telah terpasang di Ameri-ka, semua ini telah memperbaiki
kwalitas hidup dari penderita-penderita yang mengalami penyakit katup jantung.
Namun demiki-an akibat pemasangan katup jantung buatan baik yang mekanik
maupun bioprostesa dapat menimbulkan komplikasi trombus pada katup serta
emboli yang merupakan konsekwensi dari interaksi antara darah dengan material
sintesis (3,17,19). Untuk penggantian katup mekanik pada aorta dengan tanpa
di-berikan antikoagulan/warfarin insiden tromboemboli akan mening- kat
3-8 kali, sedangkan pada penggantian katup mitral insiden tromboemboli
akan meningkat lebih tinggi lagi. Dikatakan juga bahwa faktor-faktor seperti
atrial fibrilasi, emboli sebelum-nya, trombus di atrium kiri, akan meningkatkan
2-4 kali keja-dian tromboemboli (3,17,19). Sedangkan penderita-penderita
yang menggunakan katup biopros-tesa tanpa mendapat antikoagulan/warfarin
yang tidak disertai fibrilasi atrial insiden tromboemboli 10% pada 36 bulan,
seba-liknya apabila disertai dengan fibrilasi atrial angka kejadian tromboemboli
menjadi 16% pada 36 bulan. Bilamana ada faktor-faktor resiko lainnya seperti
trombus di atrium kiri, ada ri-wayat emboli sebelumnya akan meningkatkan
angka kejadian trom-boemboli (3,17,19).
PATOGENESIS TROMBOEMBOLI PADA KATUP JANTUNG BUATAN :
Bagan mekanisme koagulasi (15)
Sistim Intrinsik Sistim Ekstrinsik
Contact activator ¯ XII XII.a Factor VII XI XI.a Ca++ Faktor Jaringan
Ca++ IX IX.a Factor VIIa
VIII. Ca++ PF3 X Xa V Ca++ PF3 XIII Prothrombin Thrombin
Fibrinogen Fibrin XIIIa
Bekuan Fibrin stabil Pada dasarnya trombosis dapat terjadi apabila terdapat
keadaan abnormal dari dinding pembuluh darah, adanya perubahan aliran darah
dan adanya perubahan komposisi darah, ketiga keadaan ini disebut triad
dari Virchow (16). Ketiga hal terse-but akan saling mengadakan interaksi
dan trombus yang terben-tuk akan berbeda bila interaksinya berbeda, misal
pada pembu-luh darah vena dimana aliran darah vena bersifat statis dan
perlahan maka akan terbentuk trombus yang kaya akan fibrin dan sel-sel
darah merah sehingga trombus yang terbentuk dikenal dengan nama trombus
merah. Sedangkan trombus yang terbentuk dalam arteri dimana aliran darah
relatif lebih cepat, maka di-sini terbentuk trombus putih yaitu trombus
yang terutama terdiri dari trombosit dan sedikit fibrin (16). Pemasangan
katup jantung buatan baik yang jenis mekanik maupun bioprotesa akan menyebabkan
dua hal dari triad virchow, yaitu yang pertama terjadinya abnormalitas
dari dinding pembuluh darah, hal ini berkaitan dengan bahan/material yang
digunakan. Kemudian hal kedua terjadinya perubahan aliran darah yang relatif
staguasi, turbulensi disekitar katup jantung buatan tersebut. Kedua hal
ini akan merangsang sistim hemostasis tubuh baik yang primer maupun sekunder
(3,16). Dalam hal ini yang lebih berperan adalah sistim hemostasis sekunder
atau sistim koagulasi yang dimulai dengan aktivasi melalui jalur intrinsik
maupun ekstrinsik sampai terbentuknya masa trombus yang terdiri dari platelet,
fibrin dan sel darah merah (3,16).
PERAN WARFARIN SEBAGAI ANTIKOAGULAN ORAL :
Salah satu cara untuk mencegah terjadinya trombus dan emboli pada pemakaian
katup jantung buatan (mekanik maupun bioprostesa) adalah dengan pemberian
obat yang menghambat terbentuknya fibrin (antikoagulansia). Obat antikoagulan
yang dipilih sekarang ini adalah obat antikoagulan oral yaitu warfarin
yang termasuk kelompok antikoagulan coumarin (5,6,8,9).
MACAM-MACAM PREPARAT ANTIKOAGULAN KELOMPOK COUMARIN (14) :
- Sodium warfarin (coumadin, pauwarfarin, dll) - Dicumarol - Acenocoumarol
(sintrum) - Phenprocoumon
WARFARIN Kelompok coumarin yang sering dipakai adalah sodium warfarin,
yang merupakan vitamin K antagonis paling populer dan dipakai lebih dari
95% di Amerika Serikat. Warfarin pada umum-nya diberikan dalam bentuk garam
natrium (sodium warfarin). Warfarin diabsorbsi secara cepat dan sempurna,
memerlukan waktu 2-4 jam untuk mencapai efek maksimum dalam darah. Lebih
dari 99% warfarin terikat pada albumin plasma, waktu paruhnya dalam plasma
36 jam dan obat ini dimetabolisme menjadi bentuk tidak aktif oleh hati
dan ginjal, kemudian dikeluarkan melalui urin dan feses (14,18).
CARA KERJA WARFARIN Warfarin bekerja sebagai vitamin K antagonis, dimana
efek antikoagulan dengan mempengaruhi siklus interkonversi dari vi-tamin
K dan 2.3 epoxide (vitamin K epoxide) dengan cara meng-hambat vitamin K
epoxide reductase dan vitamin K reductase. Hambatan/halangan proses tersebut
menyebabkan berkurangnya/me-nipisnya vitamin KH2 (Hydroquinone) yang berakibat
tidak sem-purnanya produksi "vitamin K-dependent coagulant proteins"
(prothrombin, faktor VII, faktor IX, dan faktor X), hal ini mengakibatkan
aktifitas faktor-faktor pembekuan tersebut akan menurun (1,5,6,7,8,9).
Inactive proxymogen Carcoxylated proxymogen Vitamin K-dependent C02 carboxylase
02
Vitamin KH2 (Hydroquinone) Vitamin K epoxide
Vitamin K Vitamin K reductase Epoxide reductase Vitamin K (quinone) Warfarin
inhibits Gambar 1. Siklus vitamin K dan hambatan oleh warfarin (8).
INTERAKSI OBAT :
Obat antikoagulan oral/warfarin dapat berinteraksi dengan obat-obat lain,
yang mana cara kerja dari obat-obat tersebut dengan mempengaruhi farmakokinetik
maupun farmakodinamik dari warfarin sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan
protrom-bin time (9). Disamping obat-obat pada tabel dibawah yang mempengaruhi
pengobatan dengan warfarin, pernah juga dilaporkan adanya resistensi terhadap
warfarin pada tikus-tikus percobaan maupun pada manusia. Penderita-penderita
yang menggunakan warfarin jangka panjang sangat sensitif terhadap fluktuasi
diet vitamin K terutama sayuran-sayuran hijau yang kaya vitamin K sehingga
menurunkan respon antikoagulan, sebaliknya kegagalan absorbsi vitamin K
oleh karena malabsorbsi lemak akan meningkatkan po-tensiasi antikoagulan
(9,17). Disfungsi dari hati juga dapat- meningkatkan efek antikoagulan,
keadaan hipermetabolik yang disebabkan oleh panas atau hipertiroid mungkin
akan menyebab-kan meningkatnya katabolisme dari vitamin K-dependent coagula-tion
factors sehingga akan meningkatkan efek antikoagulan (7,9,17,18). Untuk
praktisnya resiko perdarahan yang serius sebagai akibat dari interaksi
obat-obat dengan warfarin dapat dikurangi dengan menghindarkan obat-obat
yang dapat memperpan-jang waktu perdarahan dan mengantisipasi interaksi
dengan obat-obat lainnya (9).
Obat-obat tersebut seperti pada tabel 1 (9).
Tabel 1. Obat-obat yang merubah Waktu Protrombin karena interaksi dengan
Warfarin, menurut tipe interaksi. =================================================================================
Farmakokinetik Farmakodinamik Mekanisme tak diketahui (Obat yang merubah
(Obat tidak merubah (Efek terhadap kadar kadar warfarin) kadar warfarin)
warfarin tak diketahui)
Memperpanjang waktu protrombin :Menghambat stereoselektif klirens S isomer
:PhenylbutazoneMetronidazoleSulfinpyrazoneTrimethoprim-sulfamethoxazoleDisulfiramMenghambat
stereselektif klirens R isomer :Cimetidine*Omeprazole*Menghambat nonstereoselektif
klirens R dan S isomer :Amiodarone Memperpanjang waktu protrombin :Menghambat
interkonversi siklik vitamin K :Generasi 2 & 3 CephalosporinMekanisme
lain :ClofibrateMenghambat koagulasi darah :HeparinMeningkatkan metabolisme
faktor koagulasi :Thyroxine Memperpanjang waktu protrombin :Bukti interaksi
meyakinkan :ErythromycinSteroid anabolikBukti interaksi kurang meyakinkan
:KetoconazoleFluconazoleIsoniazidPiroxicamTamoxifenQuinidineVitamin E (dosis
tinggi)Phenytoin Menurunkan waktu protrombin :Menurunkan absorpsi :CholestyramineMeningkatkan
klirens metabolik :BarbiturateeRifampicinGriseofulvinCarbamazepine Menghambat
fungsi trombosit :AspirinObat anti-inflamasi non-steroidTiclopidineMoxalactamCarbenicillin
dan Penicillin lain dosis tinggi Menurunkan waktu protrombin :PenicillinGriseofulvin
#
_________________________________________________________________________________________
* Menyebabkan pemanjangan minimal waktu protrombin. # Diduga meningkatkan
klirens metabolik
DOSIS PRAKTIS PADA PENGGUNAAN WARFARIN :
Dosis praktis pada pemakaian antikoagulan oral/warfarin ada pada tabel
2, jika diperlukan efek antikoagulan yang ce-pat, dapat dimulai dengan
dosis 10 mg, pada hari ke 2 10 mg, kemudian dilakukan pemeriksaan INR,
pemberian dosis selanjut-nya tergantung dari hasil pemeriksaan INR. Apabila
tidak di-perlukan pengobatan yang segera/cepat efeknya pemberian dosis
warfarin dapat dimulai dengan 5 mg/hari, dimana efek antikoag-ulan yang
stabil/tetap (steady-state antikoagulan effect) pada hari 5-7. Protrombin
time biasanya dimonitor setiap hari sam-pai mencapai efek terapeutik, kemudian
pemeriksaan 2-3 kali lebih jarang tergantung hasil yang dicapai (8).
Tabel 2. Practical Anticoagulation Schedule (8) -------------------------------------------------------------
Rapid anticoagulation Day 1,10 mg Day 2,10 mg INR Day 3,2.5 - 7.5 mg* INR
until stable and therapeutic Anticoagulation (rapid anticoagulation not
required if there is a bleeding risk) Day 1,5 mg Day 2,5 mg INR Day 3,5
mg INR until stable and therapeutic INR follow-up Three times during first
week Twice during second week Once weekly for 4 weeks Once every 2 weeks
for 2 months Once monthly -------------------------------------------------------------
INR, International Normalized Ratio. * Dosage depends on INR on Day 3.
MONITORING PENGGUNAAN WARFARIN :
Tes yang biasanya digunakan untuk memonitor/memantau terapi oral antikoagulan
yaitu "the Quick one stage prothrom-bin time test". Test ini
sensitif terhadap penurunan faktor II, VII dan X. Prinsip dari waktu protrombin
adalah menentukan waktu pembekuan dari plasma dengan menambahkan ekstrak
jarin-gan/tromboplastin dan calcium. Bila reagen dimasukkan dalam plasma
sitrat, maka reagen ini akan merangsang pembekuan mela-lui jalur ekstrensik.
Cara melaporkan hasil test ini dengan membandingkan kontrol yang didapat
dari orang-orang normal, dimana nilai normalnya 11-13 detik (2,9,16).
STANDARISASI PROTHROMBIN TIME :
Selama ini pelaporan/monitoring yang digunakan untuk mengevaluasi pengobatan
antikoagulan oral adalah hanya dengan "waktu protrombin", padahal
reagen/tromboplastin yang diguna-kan untuk test tersebut tingkat kepekaannya
berbeda satu sama lainnya sehingga akan menyebabkan tidak tepatnya efek
antiko-agulan oral yang kita inginkan. Usaha untuk mengatasi masalah bervariasinya
kepekaan tromboplastin telah dapat ditanggulangi dengan memperkenalkan
sistim standar pelaporan yang dikenal sebagai INR (International normalized
ratio) (1,2,8,9,17). Rumusnya adalah INR = (PTR)ISI
PTR = prothrombin time ratio
PT penderita PTR = ------------------- PT kontrol
ISI (International Sensitivity Index) = adalah ukuran kepekaan dari preparat/reagen
tromboplastin. Makin kecil nilai ISI makin peka/sensitif reagen tromboplastin
yang digunakan. Untuk penggunaan praktisnya WHO membuat dan memperkenalkan
tromboplastin dari otak manusia dengan nilai ISI 1.0 (sangat sensitif),
sedangkan tromboplastin dengan nilai ISI lebih dari 1.0 kurang sensitif
(1,8,9,17). Di Amerika tromboplastin dibuat kebanyakan dari otak kelinci
dengan nilai ISI 1.8 - 2.8, sedangkan di Inggris dibuat dari otak manusia
dan otak kelinci, di Negara Scandinavia dan Belanda dibuat dari otak sapi
yang dikombinasi dengan plasma yang kepekaannya hampir sama dengan yang
diperkenalkan oleh WHO dengan nilai ISI antara 1.0 - 1.1 (1,8,9,17).
Contoh : (1)
Tromboplastin otak kelinci Tromboplastin otak manusia
ISI : 2.5 ISI : 1.0 PT Ratio INR Ratio PT
15.8" 24" 15.8" ----- 1.322.5 2.0 2.01 --- 24" 12"
12"
18.6" 36" 18.6" ----- 1.552.5 1.0 3.01 --- 36" 12"
12"
22.0" 54" 22.0" ----- 1.832.5 4.5 4.51 --- 54" 12"
12"
Dari contoh diatas jelaslah bahwa menggunakan pelaporan dengan sistim INR
akan mempermudah pemantauan antikoagulan oral (1,2,8,9,17).
REKOMENDASI UNTUK KATUP JANTUNG BUATAN (17)
A. Katup jantung buatan mekanik :
1. Warfarin direkomendasikan untuk semua penderita-penderi-ta yang menggunakan
katup jantung mekanik terus menerus atau permanen.
2. Untuk penggunaan jangka panjang terapi warfarin dengan level INR 2.5
- 3.5 3. Jika terjadi komplikasi emboli yang walaupun sudah men- dapat
terapi antikoagulan oral/warfarin adekuat dapat di tambahkan aspirin 160
mg/hari atau dipyridamol 400 mg/hr yang disebutkan bermanfat.
B. Katup jantung bioprostesa :
1. Direkomendasikan untuk semua penderita-penderita dengan katup bioprostesa
pada posisi mitral maupun aorta men-dapat terapi antikoagulan oral/warfarin
pada 3 bulan pertama dengan level INR 2.0 - 3.0.
2. Pada penderita-penderita dengan katup bioprostesa yang disertai dengan
atrial fibrilasi diberifkan antikoagulan oral/warfarin jangka lama dengan
level INR 2.0 - 3.0.
3. Penderita-penderita dengan katup bioprostesa yang dite-mukan adanya
trombus di atrium kiri baik saat operasi maupun dengan ekokardiografi diberikan
terapi antikoagu-lan oral/warfarin jangka lama dengan level INR 2.0-3.0.
4. Demikian juga penderita-penderita dengan katup biopros-tesa yang mempunyai
riwayat emboli sistemik diterapi anti koagulan oral/warparin jangka lama
dengan INR 2.0 - 3.0.
PENYULIT :
Perdarahan Perdarahan merupakan komplikasi utama pada pengobatan dengan
warfarin. Resiko perdarahan dipengaruhi oleh intensitas terapi warfarin,
resiko perdarahan akan menurun dengan menu-runkan level INR 2.0 - 3.0 (4,7,8,11,13).
Warfarin akan menye-babkan komplikasi perdarahan meningkat bila disertai
dengan penggunaan terapi aspirin dosis tinggi yang menyebabkan kega-galan
fungsi platelet dan juga menyebabkan erosi lambung, pen-derita dengan umur
diatas 65 tahun, ada riwayat stroke atau perdarahan saluran pencernaan,
dan adanya keadaan serius se-perti kegagalan ginjal atau anemia yang berat
(8,12,13). Perdarahan yang terjadi dengan INR <3.0 seringkali berhubungan
dengan adanya penyakit dasar lainnya yang menyertainya(8,12,13). Pada penderita-penderita
yang mengalami komplikasi perdarahan dengan INR >3.0 akan membaik dengan
penurunan dosis, sedangkan bila komplikasi perdarahan lebih berat, perdarahan
intrakrani-al, perdarahan retroperitoneal memerlukan pengobatan lebih agresif.
Pemberian vitamin K secara oral, subkutan atau intra-venus pelan-pelan
akan membalik efek warfarin dalam 6-12 jam. Untuk lebih cepat menanggulangi
efek warfarin dapat diberi "vitamin K-dependent clotting factors"
sebagai plasma atau konsentrat (tabel 3) (8).
Nekrosis Kulit Efek samping yang jarang namun perlu diperhatikan, biasa-
nya komplikasi ini terjadi setelah 3-8 hari terapi dengan war-farin, disebabkan
oleh trombosis yang ektensif pada pembuluh darah venula dan kapiler di
jaringan lemak subkutan yang ke-mungkinan berhubungan dengan defisiensi
protein C. Resiko ini dapat dikurangi dengan menghindari pemberian dosis
warfarin yang besar (2,8).
Tabel 3. Methods to Reverse the Anticoagulant Effects of Warfarin (8) --------------------------------------------------------------------
Mild bleeding and INR > 3.0 Reduce dose of warfarin If INR >4.5,
administer vitamin K, 1 mg orally or subcutaneously Severe bleeding Stop
warfarin Administer vitamin K, 5-10 mg subcutaneously Life-threatening
bleeding Stop warfarin Administer vitamin K, 10 mg intravenously Replace
vitamin K-dependent clotting factors by concentrate and plasma -------------------------------------------------------------------
INR, International Normalized Ratio.
DAFTAR PUSTAKA :
1. Ansel JE. Oral anticoagulant therapy - 50 years later. Arch Intern Med
1993;153:586-596.
2. Bussey HI. Therapeutics : How to monitor the dosage of warfarin. Heart
disease and stroke. 1993;2:388-392.
3. Edmunds HL. Thrombotic and bleeding complications of prosthetic heart
valves. Ann Thorac Surg. 1987;44:430-445.
4. Felix JM. Bleeding complications in oral anticoagulant Therapy : An
analysis of risk factors. Arch Intern Med 1993;153:1557-1562.
5. Gersh BJ, Opie LH. Antithrombotic agents. Platelet inhibi-tors, anticoagulants,
and fibrinolytics. In : drugs for the heart, 3rd edition. Edited : Opie
LH. WB. Saunders Company. Philadelphia. 1991:217-246.
6. Handin RI, Loscalzo J. Hemostasis, thrombosis, fibrinoly-sis, and cardiovascular
disease. In : Heart disease, 4th edited : Braunwald E. WB Saunders Company.
Philadelphia, 1992:1767-1789.
7. Hirsh J, Dalen JE, Deykinn D, Poller L. Oral antikoagu-lants : mechanism
of action, clinical effectivenss, and optimal therapeutic range - chest
1992;102(suppl):312S - 326 S.
8. Hirsh J. Therapeutics : use of warfarin (coumarin). Heart disease and
stroke 1993;2:209-216.
9. Hirsh J. Oral anticoagulant drugs. N Engl J Med 1991;324: 1865-1875.
10. Kolansky DM, Cohen LS. Immediate postoperative management. In : valvular
heart disease comprehensive evaluation and treatment. Edited : Frankl WS,
Brest AN. FA Davis Company. Philadelphia, 1993:277-291.
11. Kopf GS, Hammond GL, Geha AS. Long-term performance of the St. Jude
medical valve : low incidence of thromboembolism and hemorrhagic complications
with modest dose of warfa-rin. Circulation 1987;76:supll III: III-32 -
III-36.
12. Landefeld CS, Goldman L. Major bleeding in outpatients treated with
warfarin. Incidence and prediction by factors known at the start of outpatient
therapy. Am J Med 1989;87:144-151.
13. Landefeld CS, Beyth RJ. anticoagulant - related bleeding. Clinical
epidemiology, prediction, and prevention. Am J Med 1993;95:315-328.
14. Majerus PW, Broze GJ, Miletich JP, Tollefsen DM. Anticoag-ulant, thrombolytic,
and antiplatelet drugs. In : Goodman and Gilman's the pharmacological basis
of therapeutics, 8th edition. Editors : Gilman AG, Rall TW, Nies AS, Taylor
P. Pergamon Press. New York, 1991: p. 1311-1331.
15. Saour JN, Sieck JO. Trial of different intensities of anticoagulation
in patients with prosthetic heart valves. N Engl J Med 1990;322:428-32.
16. Schumacher HR, Garvin OF, Triplett DA. Introduction hema-tology and
hematopathology. Alam R. Liss Inc. New York 1984:467-483.
17. Stein PD, Alpert JS, Copeland J, Dalen JE, Goldman S, Truple AGG. Antithrombotic
therapy in patients with me-chanical and biological prosthetic heart valves.
Chest 1992;102(suppl):445S-455S.
18. Stein B, Fuster V. Pharmacology of anticoagulants and platelet inhibitor
drugs. In : The heart 8th ed. Edited : Schlant RC, Alexander RW. Mc Graw-Hill,
Inc. New York, 1994: 1309-1326.
19. Wernly JA, Cransford MH. Chossing a prothetic heart valve. Cardiology
clinics 1991;9:329-338. --oo0oo--
BERITA ORGANISASI
Dalam usianya yang ke 38 tahun, PERKI Surabaya menyelengarakan Malam Kekeluargaan
pada tanggal 16 dan 17 Maret 1996 di Hotel Purnama Batu Malang. Acara tersebut
diikuti oleh kurang lebih 50 keluarga atau 256 peserta. Tujuan yang ingin
dicapai dari pelaksanaan Malam Kekeluargaan yang rutin diadakan tiap tahun
tersebut , tidak lain agar tiap anggota PERKI dan keluarganya saling mengenal
satu sama lain sehingga tali persaudaraan akan semakin erat Rangkaian acara
menyambut HUT tersebut meliputi Malam Kekeluargaan, Rapat PERKI Surabaya
pada hari Sabtu, 16 Maret 1996. Acara kekeluargaan lainnya seperti Jalan
sehat, lomba anak dan permainan keluarga diselenggarakan hari Minggu, 17
Maret 1996 dengan membagikan berbagai hadiah menarik. Malam Kekeluargaan
diadakan pada hari Sabtu, 16 Maret 1996. Dalam acara tersebut diperkenalkan
peserta PPDS1 baru dengan syarat tiap angkatan wajib mengisi acara. Peserta
PPDS1 yang diperkenalkan yaitu Dr. Hairudi Sugiyo dan Dr. Fathurrochman
yang mulai menjalani pendidikan sejak Juli 1995, Dr. Siti Handayani, Dr.
Budi Arief Waskito dan Dr. Herry Supriyanto yang mulai menjalani pendidikan
sejak Januari 1996. Acara yang lain cukup menarik adalah ditampilkannya
bakat-bakat baru dalam bidang seni yang dimiliki Dr. Rurus dengan memainkan
gitar bass, Dr. Budi Bakti menggebug drum, Dr. Yudi HO memencet keyboard
dan bintang tamu Dr. Titong memainkan gitar serta lahirnya penyanyi baru
Dr. Evit R, Dr. Triningsih, Dr. Betty dan Dr Angke. Penampilan mereka cukup
memukau dan menghibur seluruh hadirin. Acara Malam Kekeluargaan dilanjutkan
dengan Rapat PERKI yang dihadiri oleh 45 anggota biasa dan anggota muda.
Rapat dipimpin oleh Dr. Trihariono , DSJP dan Dr. M. Yogiarto, DSJP sebagai
sekretaris rapat. Pembahasan meliputi 2 topik yaitu mengenai masalah intern
PERKI Surabaya dan persiapan KONKER PERKI pada bulan Juni 1996. Masalah
intern PERKI yang dibahas adalah evaluasi program yang telah direncanakan
dan sedang berjalan serta rencana program mendatang. Penerbitan majalah
PERKI menjadi pembahasan yang menarik. Majalah PERKI Surabaya diharapkan
menjadi wahana komunikasi antar anggota dalam rangka alih ilmu dan silataturahmi.
Karena itu, kelangsungan dan kesinambungan penerbitan majalah PERKI Surabaya
harus dijaga dan dipertahankan dengan tetap mengusahakan pemecahan tiap
permasalahan menyangkut kesiapan materi, penyediaan pendanaan, tenaga pengelola
dan masalah yang lain. Pembicaraan masalah kesejahteraan anggota diwarnai
dengan beberapa usul. Keseragaman jasa minimal diagnostik dan tindakan
kardiovaskuler, pendirian klinik diagnostik merupakan usulan yang perlu
ditindaklanjuti dengan perencanaan yang matang. Menurut Dr. Trihariono,
PERKI pusat telah menyelenggarakan program asuransi jiwa bagi seluruh anggotanya.
Persiapan untuk menghadapi KONKER PERKI dibahas dalam rapat dengan memperhatikan
beberapa usul perbaikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Rapat
ditutup setelah lewat tengah malam dan diakhiri dengan pembagian doorprize.
Setelah beristirahat semalam, acara dilanjutkan dengan jalan sehat sekeluarga,
lomba anak dan permainan keluarga yang lain. Menjelang siang hari, semua
peserta bersiap untuk kembali ke Surabaya.
KALENDER
ILMIAH LUAR-NEGERI Tahun 1996 - 1998
1. 45th Annual Scientific Session of the American College of Cardiology.
March 24-27, 1996. Orlando, Fl, USA. Information : ACC. American College
of Cardiologi. 9111 Georgetown R. Bethesda, MD 20814, USA.
2. International Conference on Geriatric Medicine. Pattaya, Thailand. April
22-26, 1996. Information : Somwang Danchivijitr MD FRCP. Chairman, Scientific
Committe International Conference on Geriatric Medicine. Departmen of Medicine.
Faculty of Medicine. Faculty of Medicine Siriraj Hospital. Bangkok 10700.
Thailand.
3. Special Symposium. Recent data on the Safety and Efficacy of Newer Therapies
for the Management of Hypertension. May 15, 1996. New York, NY, USA. Information
: American Society of Hypertension Symposium Registration. c/o Current
Medical Directions. 114 East 32nd Street, 14th Floor. New York, NY 10016.
4. 11th Scientific Meeting of the American Society of Hypertension. May
15-18, 1996. New York, NY, USA. Information : ASH. 515 Madison Avenue,
Suite 1212. New York, NY 10022, USA.
5. Nuclear Cardiology today - 1996. Role in Clinical Decision Making. May
23-25, 1996. Cesena, Italy. Information : Viaggi Manuzzi ("Manuzzi
Congress"). Galleria Almerici, 3. 47023 Cesena (FO), Italy. Tel :
+ 39 - (0)547) - 611458 / 21810. Fax : + 39 - (0)547 - 25522. Telex : 550063
6. IInd World Congress of Echocardiography and Vascular Ultrasound. May
24-26, 1996. Beijing, China. Information : Lindy Chapman, Tel : (205) 934-8256.
Fax : (205) 934-6747. UAB Division of Continuing Medical Education and
Division of Cardiology. University of Alabama School of Medicine, Alabama.
Birmingham. USA.
7. Matters of the Heart : Symposium on Nuclear Cardiology (Held at the
time of the 1996 Society of Nuclear Medicine Annual Meeting). June 5, 1996.
Denver, Colorado, USA. Information : American Society of Nuclear Cardiology
9111 Old Georgetown Road, Bethesda, MD 20814-1699, USA.
8. 16th Scientific Meeting of the International Society of hypertension.
June 23-27, 1996. Conference Associates & Services International Ltd.,
4 Cavendish Square, London W1M 0BX, UK.
9. XVIIIth Congress of the European Society of Cardiology. August 25-29,
1996. Birmingham, United Kingdom. Information : ECOR. The European Heart
House. 2035 Route des Colles. Les Templiers - B.P. 179. 06903 Sophia Antipolis
Cedex. France.
10. Joint 3rd World Stroke Congress and 5th European Stroke Conference.
September 1-5,1996. Basel, Switzerland. Information : AKM Congress Service.
PO Box, CH-4005 Basel, Switzerland.
11. 3rd International Diabetes Federation Western Pacific Regional Congress.
September 25-28, 1966. Hong Kong. Information : Meeting Planners (HK) Ltd.
12A Dai Fat Street. Tai Po Industrial Estate. Tai Po, New Territories.
Hong Kong. Tel : +852 2665 0990. Fax : + +852 2667 6927.
12. 20th Congress of the South African Cardiac Society. October 6-10, 1996.
Wild Coast Sun, South Africa. Information : Congress Organizing Committee.
Natal Branch, SA Cardiac Society. PO Box 35461, Durban 4016, South Africa.
13. 3rd International Symposium on Cardiovascular and Interventional Radiology.
October 7-11, 1996. Hyatt Regency Hotel Cambridge, MA, USA. Information
: Harvard Medical School. Brigham and Women’s Hospital. Division of Cardiovascular
and Interventional Radiology. Harvard MED-CME. PO Box 825, Boston, MA 02117-0825.
USA.
14. 69th Scientific Sessions of the American Heart Association. November
10-13, 1996. New Orleans, Louisana ,USA. American Heart Association, 69th
Scientific Sessions Program, 7272 Greenville Avenue, Dallas, TX 75231-4596
or call 214/706-1543; Fax 214/373-3406.
15. 5th Congress of the Polish Society of Hypertension. November 15-16,
1996. Warsaw, Poland. Information : Prof. S.L. Rywik. National Institute
of cardiology. Dept. CVD Epidemiology and Prevention. Alpejska Str. 42.
04-628 Warsaw, Poland.
16. 2nd Pacific RIM Hypertension Conference. May 4-6, 1997. Manila, Philippines.
Information : Unit 33, Second Floor. Facilities Centre Building. 548 Shaw
Boulevard. City of Mandaluyong, Metro Manila. Philippines. Tel No (632)531-1265;531-1204.
Fax No (632)531-1281.
17. 5th International Symposium on ACE Inhibition & Other Inhibitors
of the Renin-Angiotensin System. April 1-5, 1997. Hongkong. Information
: Ms Patricia Cheung 5th International Symmposium on ACE Inhibition and
Other Inhibitors of the Renin-Angiotensin System. c/o Gardiner-Caldwell
Communications Ltd. 2403 Tung Wai Commercial Building. 109-111 Gloucester
Road. Wanchai, Hong Kong. Tel : +852 251 3083. Fax : +852 2519 8072.
18. 3rd International Conference of Nuclear Cardiology. April 6-9, 1997.
Florence, Italy. Information : Secretariat 3 International Conference of
Nuclear Cardiology. 13272 Countryridge Drive. Germantown, MD 20874. USA.
19. XIXth Congress of the European Society of Cardiology. Stockholm, Sweden.
August 24-28, 1997. Information : ECOR The European Heart House. 2035 Route
des Colles. Les Templiers - B.P. 179. 06903 Sophia Antipolis. Cedex, France.
20. 1st Congress of the Asian-Pacific Society of Atherosclerosis and Vascular
Diseases. March 14-18, 1998. Taipei, Taiwan. Information : The 1st Congress
of the Asian-pacific Society of Atherosclerosis and Vascular Diseases.
Rm 230, 2 Fl, Sz-Yuan Bldg. Veterans General Hospital. No 201, Sec 2, Shih-Pai
Road. Taipei 112, Taiwan, R.O.C.K
21. IIIrd Worl Congress of Echocardiography and Vascular Ultrasound. April
23-25, 1998. Rio de.Janeiro, Brazil. Information : Lindy Chapman, Tel :
(205) 934-8256. Fax : (205) 934-6747. UAB Division of Continuing Medical
Education and Division of Cardiology. University of Alabama School of Medicine,
Alabama. Birmingham. USA
KALENDER
ILMIAH DALAM-NEGERI Tahun 1996 - 1998
1. Seminar dan Pelatihan Kardiologi Nuklir. Jakarta (RS Jantung Harapan
Kita), 26-27 Maret 1996. Informasi : RS Jantung Harapan kita. Jl. LetJen
S.Parman Kav 87, Slipi. Jakarta 11420. Tel : 022 5684085 - 5684093. Fax
: 022 5684130.
2. Simposium Penatalaksanaan Angina Pektoris. Surabaya (RSUD Dr.Soetomo),
13 April 1996. Hotel Shangri-La, Surabaya. Informasi : Laboratorium / UPF
Kardiologi FK UNAIR / RSUD Dr.Soetomo. Jl. Prof. Dr.Moestopo 47 Surabaya.
Telpun 031-5501401 / 5501402.
3. Kongres Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam (KOPAPDI ) X . Padang,
23-27 Juni 1996. Informasi : Bagian / SMF Penyakit Dalam FK UNAND / RSUP
Dr. M Jamil. Jl. Perintis Kemerdekaan , Padang 25128. Po Box 134. Telpun
/ Fax 0751 37771.
4. 4th Asian Conference of Clinical Pathology. Yogyakarta July 2-4, 1966.
Information : Secreatariat Fourth Asian Conference of Clinical Pathology.
Jl. Bukit Hijau 2 No 10. Jakarta 12310. Indonesia.
5. Konker PERKI. Medan, 1996. Informasi : Sekretariat PERKI Pusat. Bagian
Kardiologi FK UI / RS Jantung Harapan Kita. Jl. Let Jen S Parman Kav 87.
Kamar . Slipi, Jakarta 11420.
6. Weekend Course on cardiology. Heart Failure : Current Status and Future
Aspects. Jakarta (Horison Resort Hotel). September 20-21, 1996. Information
: Secreatariat, Organizing Committee Continuing Medical Education on Cardiology,
Department of Cardiology, Medical Faculty, University of Indonesia, Rumah
Sakit jantung Harapan Kita. Jl. Let Jen S Parman Kav 87. Room 1154. Slipi,
Jakarta 11420. Indonesia. Tilpun (021) 5684085 - 5684093 ext 1554. Faksa
(021) 5684130.
7. Kongres Perhimpunan Spesialis Kardiovaskuler (KOPERKI) V. Semarang,
Juni 1997. Informasi : Seksi Kardiologi / Bagian Ilmu Penyakit Dalam. FK
UNDIP / RSUD Dr. Kardjadi. Semarang.
INFORMASI UNTUK PENGARANG
Redaksi menerima semua karangan yang bersifat ilmiah (laporan penelitian,
tinjauan pustaka, laporan kasus, dsb) maupun non-ilmiah (berita organisasi,
pendidikan, laporan perjalanan, surat pembaca / komunikasi antar anggota,
humor, dsb). Karangan harap diketik 2 spasi , 3 cm dari tepi kiri dan 3
cm dari tepi kanan serta 4 cm dari tepi atas dan 3 cm dari tepi bawah.
Lebih disukai karangan yang sudah berupa file di disket baik yang diketik
pada program word proccessor yang umum (Word Star, Word Perfect maupun
Microsoft Word) ataupun program desktop yang umum (Page Maker). Sedangkan
gambar-gambar dan tabel ditulis yang jelas (dengan tinta Cina) atau difoto
yang jelas. Untuk makalah ilmiah Abstrak/Ringkasan maksimal 200 kata ditulis
sesudah judul dan pengarang ; mohon dibuat juga Abstrak/Ringkasan dalam
Bahasa Inggris. Bagian-bagian artikel disusun sesuai petunjuk Ad Hoc Working
Group for Critical Appraisal of the Medical Literature (Ann Intern Med
1987;106:114-129). Kepustakaan ditulis sesuai Uniform Requirements for
Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Vancouver Style) (JAMA 1993;269:2282-2286)
dengan singkatan majalah sesuai Cumulated Index Medicus. Bila kepustakaan
berupa abstrak, surat atau editorial ditulis dalam kurung sesudah judul.
1. Untuk artikel dalam Majalah : Oleske J, Minnefor A, Cooper R Jr, et
al. Immune deficiency syndrome in children. JAMA 1983;249:2345-2349.
2. Untuk Buku : Bradley EL. Medical and Surgical Management. 1st ed. Philadelphia
: WB Saunders, 1982:72-95.
3. Untuk Bab dalam Buku : Bohl I, Wallenfang T, Bothe H, et al. The effect
of glucocorticoids in the combined treatment of experimental brain abscess
in cats. In : Schiefer W, Klinger M, Brock M, eds. Brain abscess and meningitis
: subarachnoid hemorrhage - timing problems. 1st ed. Berlin : Springer
Verlag, 1981:125-133.
Introduction
Menu Cardiovascular
WWW site
Dept
of Cardiology - AU Indonesian
Heart Assoc - Sby Indonesian
Heart Found -East Java
Table
of Contents